Lir Ilir

【2016年得獎作品】評審獎|LIR ILIR

abdul mubarok / Lir Ilir / tidak ada / tenaga kerja asing 

LIR ILIR
KARYA: ABDUL MUBAROK

Lir ilir lir ilir tandure wes sumilir tak ijo royo-royo tak senggo pengantin anyar ….
Kala kesejukan itu berhembus tak lain tak bukan itu adalah kalam-kalam Tuhan yang menelisik masuk ke gendang telinga terdalam. Rindu yang tersekam akan gema panggilan membuatku tersiksa. Sudah akan menginjak tahun kedua dan masih akan ada dua belas purnama lagi sampai bisa aku mengumandangkan dan mendengar merdu azan.
Rasa kantukku masih menggelayut saat alarm jam weker meraung nyaring, jam dua dini hari waktunya mengumpulkan potongan kemalasan dan menggantinya dengan sepiring keberkahan. Ramadhan keduaku di Taiwan dengan perasaan carut-marut tak karuan. Bayangan emak yang akan menyuguhkan nasi hangat dan lauk ala kadarnya melintas berulang-ulang. Di hadapanku kini hanya ada sepiring nasi dan sedikit abon ikan. Bismillah … menu saurku yang pertama kusantap juga.
“Puasa to, Bang Doel?” tanya temanku satu bagian di pabrik.
“Insyallah.”
“Panasnya aja kayak gini Bang, belum lagi kerjaan kita yang lembur saja sampai jam sepuluh malam. Gak kuatlah Bang kalau aku puasa.”
Aku hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Hakim. Bayangan Emak yang duduk di hadapanku dengan muka cemberut kembali melintas, itu kejadian bertahun yang lalu.
“Kamu batal puasa to, Le?” tanya emak lembut tapi dengan suara yang dalam.
Aku hanya mengangguk kecil dan tak berani menatap mata tajamnya, kupandangi lantai tanah yang retak-retak mengalurkan rekahan tak beraturan karena kemarau panjang.
Emak tak memarahiku tapi menyuruhku melanjutkan puasaku, dengan terheran sebagai bocah umur tujuh tahunan aku lanjutkan berpuasa setelah tadi minum segelas es teh manis yang menyegarkan.
Taiwan sedang musim panas yang terhebat. Rasanya langit sudah seperti atap oven panggangan kue yang panas membakar. Udara juga pengap meninggalkan rasa kering di kulit dan tenggorokan. Jam makan siang yang menggoda saat semua melahap pientang dengan rakus kuambil air kran membasuh muka untuk bersiap berdialog dengan-Nya.
“Kuatkan aku melewati beberapa purnama lagi. Demi dia ….”
Melewati hari pertama Ramadhan rasanya seperti melewati Sahara berpasir tanpa alas kaki dan disengat langsung matahari. Panas ini sudah demikian hebatnya sampai teman-temanku mengisi lambung mereka laksana onta. Semua takut menderita dan bergalon-galon air pun mengisi rongga-rongga tubuh mereka.
“Buka Bang … sudah jam tujuh lho!” suara Hakim mengagetkanku.
“Makasih, Kim.” Tak ada nasi hangat dan segelas es teh bikinan Emak, hanya sepotong roti dan air putih untuk membatalkan puasa pertamaku. Tak apalah … bayangkan saja roti ini adalah tempe mendoan emak yang enak. Sejenak berbuka di antara deru mesin dan pengapnya udara.
Hari-hari berikutnya bertambah panas. Siang hari muka rasanya terbakar dan tubuh lemas tak bertenaga. Sungguh godaan terberat tahun ini untuk kuli pabrik dengan pekerjaan yang membutuhkan banyak keluar tenaga. Bertahan Doel, bertahan seperti dulu saat emak menyemangatiku!
“Sebentar lagi berbuka kok Le. Ayo jangan sampai kalah ma setan.” Jam tiga sore emak mneyemangatiku saat aku sudah laksana buntalan kain tak bernyawa, hanya teronggok di atas kasur.
“Jangan kalah ma setan, Le!” Rasanya suara emak membisikiku dan senyumku merekah detik itu. Itulah yang dinamakan penyemangat saat bayangan emak hadir aku laksana pelari marathon yang sanggup keliling dunia. Wanita hebat itulah adalah obor api abadi yang selalu menyulut api semangat.
Lir ilir lir ilir tandure wes sumilr tak ijo royo-royo tak senggo pengantin anyar …. Ponselku Bergema ….
“Assalamualikum emak ….” Rindu itu menghadirkan deraian air mata saat ponselku bergema dan itu adalah panggilan dari wanita yang paling kucinta.
“Puasa kan Le?”
“Insyallah puasa Mak.”
“Ojo kalah ma setan ya?” Aku tertawa mendengar pesan Emak yang itu. Sungguh pesan yang menguatkan. Aku kuat kok Mak! Tidak seperti bocah kecilmu dulu. Kuatku kini membaja karenamu tapi rinduku padamu adalah titik terlemahku. Emak … aku kangen ….
Separuh jalan Ramadhan di terik Formosa telah terlampaui. Kerja berat yang kadang meninggalkan bekas luka di badan. Ini perjuangan, tak ada kerja yang enak kan? Semua perlu proses dan usaha, yang pasti seperti pesan emak jangan kalah sama setan. Toh hanya menahan lapar pada setengah hari saja selama sebulan sedangkan sebelas bulan lamanya kita bebas makan apa saja yang dihalalkan.
Saat di Indonesia semua gempita menyambut Idul Fitri aku meringkuk di atas pembaringan seorang diri. Ponsel emak tidak bisa dihubungi beberapa hari ini, saat bertanya pada saudara mereka hanya mengabarkan ponsel emak sedang rusak. Padahal ingin sekali aku merasakan detik-detik menuju hari raya yang biasanya gempita. Ingin kecipratan sedikit saja rasa yang sudah dua tahun ini hilang berganti bau dupa. Emak dan hari raya … aku kangen kalian ….
“Doel … emak kangen ….” suara itu lirih dan seakan terucap begitu dekat di telinga.
“Doel juga kangen Mak. Setahun lagi Doel balik Indo.”
Seketika aku terbangun oleh bunyi alarm yang keras berulang-ulang, jam dua dini hari saat mengisi perut kecilku dengan sesuatu untuk bekalku melawan setan esok hari. Tetap sepiring nasi tapi kali ini hanya dengan bawang goreng dan kecap. Ini adalah menu favorit emak kalau sudah tidak ada uang membeli tempe. Rasanya bawang goreng dan kecap ini begitu sedap walau berpadu nasi dingin, karena rasanya bayangan emak menemani. Entah kenapa malam ini rasanya begitu dekat dengan wanita kesayanganku itu. Sampai ponselku berdering mengalunkan lagu Lir Ilir Kyai Kanjeng ….
“Doel … emak meninggal ….”
Rasanya bumi perputar laksana gansing kayu. Tak kudengar lagi apa kata Lik Sutris, aku terisak pilu …. pilu sekali sampai rasanya kiamat datang pagi ini ….
Di atas pusaramu setahun kemudian aku tetap terisak pilu, bayangan wanita kurus yang selalu menyemangatiku itu terkelebatan. Rasanya tetap tak percaya emakku sudah berbaring tak tenang di gundukan tanah di hadapanku. Padahal tiga tahun lalu aku berjanji akan membawakannya lantai keramik putih untuk mengganti ubin tanah yang telah retak merekah. Hanya itu yang kau pinta saat pamitku ke Taiwan dulu.
“Doel … nanti kalau sudah pulang dari Taiwan ganti lantai dengan keramik ya agar emak lebih nyaman waktu sembahyang,” katanya sambil tersenyum simpul.
“Emak gak minta naik haji?” godaku.
“Ganti lantai keramik wae. Agar emak sembahyange khusyuk gak takut ada kecoak lewat.” Sedetik kemudian kami terkekeh bersama. Keinginan yang begitu sederhana tapi karena himpitan keadaan aku terpaksa ke Taiwan untuk memenuhinya. Untukmu emak … untuk wanita yang kucinta selamanya ….
Lagu Lir Ilir berkumandang dari radio dua band tetangga saat azan Dzuhur terdengar, kalam-kalam Illahi yang telah lama hilang dan begitu kerindukan sembari mengingat senyum emak yang membias.

Taiwan, 31 Mei 2016

Note:
Le : panggilan anak lelaki dalam bahasa Jawa
Ojo : jangan
Wae : saja


 

Hallo apa kabar….Perkenalkan nama saya ABDUL MUBAROK,  temen temen biasa manggil saya Doel. Saya berasal dari Kabupaten Batang Jawa Tengah, saya bekerja di pabrik daerah Tainan rende, di pabrik ini kedua kalinya saya bekerja di Taiwan,  dulu pertama saya datang di Taiwan, saya bekerja di pabrik didaerah Kaohsung renwu. Dengan mengikuti TLAM ini saya ingin membangkitkan jiwa literatur saya yang sudah lama terkubur.

Ngluruk tanpa bala
Menang tanpa ngasorake
Sekti tanpa aji
Artinya
Berjuang tanpa perlu massa, menang tanpa merendahkan orang lain dan berwibawa tanpa mengandalkan kekuatan/kekuasaan. Ilmu itu bukan untuk dipamerkan, selayaknya mempunyai ilmu ikutilah filosofi padi, yang semakin berisi semakin merunduk tawaduk bukan semakin mendongak congkak

Lir ilir adalah cerpen sederhana ttg seorang anak yang rindu emak/ibunya di indonesia. Pesan-pesan emak untuk mempertahankan iman dan mimpi kecil mereka akan sebuah lantai keramik yang menggantikan lantai tanah yang retak karena kemarau. Ini adalah sebuah cerpen hasil kenekatan juga karena saya hanya menulis apa yg ada di kepala saja.

Kalau ditanya perasaan saat tau saya Menang sudah tak terbayangkan senangnya. Pertengahan bulan agustus saya pulang ke indonesia karena telah habis kontrak dan berencana menyunting wanita idaman saya. Saya akan menikah tgl 29 Agustus dan sekaligus ini adalah kado terindah sepanjang masa untuk saya kenang dan ceritakan pada anak cucu kelak. 

Untuk TLAM terima kasih bnyk sudah memberi saya sebuah kebanggaan yang luar biasa. Mungkin dulu tak ada yg mengenal saya, sejak menang TLAM setidaknya Taiwan tau ada seorang anak kampung yg sedang belajar menguraikan arti kehidupan lewat sebuah tulisan.


 

【2016年得獎作品】評審獎|LIR ILIR

LIR ILIR

Lir ilir lir ilir tandure wes sumilir tak ijo royo-royo tak senggo pengantin anyar (歌詞:大意是當你想到了就可以得到活化美麗樹木的效益)

樂音乘著清涼的微風吹來,神的旨意隨著樂音鑽進耳膜深處祈禱召喚的心意如此強烈,故鄉的思念使我苦不堪言。來到台灣,已經進入第二年,還需要等待十二個滿月,我才能返鄉,播放和聆聽悅耳的祈禱召喚聲。響亮的鬧鐘聲響起,睡意還纏著我不放。凌晨兩點,是利用一天瑣碎的時間,換取一盤祝福的時間。我的第二年齋戒月,可以說過得一塌糊塗,母親親手煮的香噴米飯和簡單配菜,不斷在我心中浮現可是,現在我的眼前只有一盤白飯撒上一點魚鬆。神哪…還是讓我吃下我的第一頓封齋飯吧。

「多兒哥,你在齋戒嗎?」同一個工廠的同事問道。
「感謝主。」
「哥,最近很熱耶!加上我們每天加班到晚上十點,我沒有力齋戒呢。」對於哈基姆的話,我只能微笑回應不過他的話,讓母親繃緊的嚴肅神情,再次閃過我的眼,那已經是好幾年前的事。
「你又取消齋戒了?」母親雖然輕聲的問,但聲線卻很低沉。我點點頭,低頭看著因為長夏天而破裂的地板,不敢直視她尖銳的眼神。

母親並沒有罵我,只希望我能繼續齋戒。當時,七歲的我很訝異,母親怎麼不責怪我?於是喝完清涼的冰甜茶後,繼續齋戒。只是,現在台灣正炎熱的夏天,天空就像運轉中的烤箱一樣,悶熱的空氣使皮膚和咽喉更加乾燥。午餐時間,同事貪婪吞噬便當的樣子,對正在齋戒的我也很擾人。為了保持冷靜,我立刻開水龍頭,臉,準備跟祂對話。

請再給我堅持的力量吧,為了她…」齋戒月的第一天,猶如赤腳橫過撒哈拉沙漠,渾身曝曬在太陽底下般刺痛天氣如此炎熱,朋友各個忙著像駱駝般,因口渴難耐痛苦的將幾加侖的水死命灌滿整個身體。
「哥,開齋了,已經七點了喔!」哈基姆突然開口,嚇了我一大跳。
「謝謝你,基姆」現在的我,身邊沒有母親親手做的熱飯和冰茶,只有一塊麵包和白開水結束第一個齋戒天。沒關係,只要把麵包想像成母親做的好吃「門多安天貝」就好就這樣,我在吵鬧的機器旁與悶熱的空氣內開齋。接下來的幾天,天氣更加炎熱。中午,臉龐彷彿就要燃燒起來,身體一點力氣也沒有。今年真的很難熬,作為工廠的苦力,需要大量體力應付工作。堅持住,多兒,我在心中告訴自己,就像母親以前常鼓勵我堅持住!一樣。

「等一下就開齋了,別向撒旦底頭。」以前在故鄉,每到下午三點,我就快像一團沒有生命的布,只能坐在床上一動也不動這時,母親就會鼓勵我千萬不要放棄
「不要輸給撒旦呀,兒!」我感覺到,母親就在耳邊對我說悄悄話,那一剎那,我忍不住微笑。那就是母親對我如影隨形的激勵。聽見這句話,就能讓我宛如化身為馬拉松選手,可以跑過整個地球。這位偉大的女人對我而言,就是永恆的火焰,點亮精神的火焰。

「Lir ilir lir ilir tandure wes sumilr tak ijo royo-royo tak senggo pengantin anyar …. 」這時,我的手機響了…
「祝你平安,媽…」 突如其來的思念,迎來我成串的淚水。當我的手機鈴聲響起,也是我最心愛的女性對我的呼應。
「你齋戒了嗎?」
「感謝主,齋戒了,媽。」
「別輸給撒旦喔!」我聽著媽媽的囑咐笑了這句話真的是我力量的泉源,我很強的,媽!已經不像是以前那個小朋友了。如今的我,因為妳更加茁壯,但是對妳的想念,始終是我的弱點。媽,我想妳…

齋戒月已在炎熱的寶島度過一半時間。繁重的工作有時會在身體上留下傷疤,但是這就是奮鬥的證明天底下沒有輕鬆的工作,不是嗎?所有的工作都需要實踐付出努力,最重要的是遵循母親的囑咐─別輸給撒旦。只要在一個月內忍受半天的飢餓感,剩下的十一個月,可以盡情吃任何清真佳美的食物。當印尼歡慶開齋節,我只能獨自一人窩在床上。奇怪的是,這幾天媽媽的手機都打不通,我問其他家人,他們只回我說媽媽的手機壞掉了。其實我打回去,只是非常想要感受一下故鄉歡慶佳節的歡樂氣氛,很想要沾上些許兩年不見的氣味,被圍繞的味道。母親與佳節… 我好想你們…。

「多兒,媽媽想你… 」媽媽的話輕聲細語,彷彿貼在我的耳畔訴說。
「多兒也想妳呀,媽,再過一年多兒就回印尼了。」

然,我被響亮的鬧鐘聲驚醒。每天的凌晨兩點,是填些食物到小肚子的時間起床吃點食物,好對抗明日的撒旦。食物跟往常一樣,一盤白飯只配紅蔥頭酥和醬油。這是我母親沒錢買天貝時最喜歡的菜。對我來說,紅蔥頭酥和醬油配飯的味道不僅絕配,加上浮起媽媽的陪伴,心中更是溫暖極了。不知道怎麼了,今晚,我感覺離我最喜歡的女性是如此的親近。直到我的手機響起Lir Ilir Kyai Kanjeng的歌…

「多兒,媽媽死了…」忽然之間,我感覺地球如木陀螺般天旋地轉。我再也聽不清楚立可詩讀利(人名)所說的話,我只能傷心地啜泣,非常傷心的哭著,宛如世界末日就要到來…

一年後,在妳的墓前,我仍然痛苦地啜泣。記憶中,那抹瘦弱女性的身影一直鼓勵我前進。真不敢相信,我的母親已經躺在眼前的土堆裡。三年前,我曾承諾她帶白色磁磚,更換家裡破裂的土地板。是的,當我道別到台灣,她只對我求這個。

「多兒…等你從台灣回來,我們把地板全都換成磁磚吧,這樣媽媽拜時,膝蓋會比較舒服」媽媽開心笑著說。
「媽媽不跟我一起朝聖嗎?」我逗著她說。
「先換成磁磚地板吧,讓媽媽朝拜時可以專心一點,不用擔心蟑螂從上面經過。」媽媽這麼說,下一秒我們笑成一團。其實,她的要求很簡單,但我們的經濟狀況,逼得我只能到台灣達成願望一切都是為了母親…我永遠最愛的女性…

中午的艾贊響起,鄰​​居的收音機播放著Lir Ilir我在 神的旨意當中,找回思念已久,母親陽光般的溫暖笑容

台灣,2016 5/31


你好,我的名字是Abdul Mubarok,我朋友都叫我Doel。我來自中爪哇巴糖(Batang)省,在台南仁德區的一家工廠工作,而這家工廠是我待的第二家。第一次來台灣時,我在高雄仁武區工作。參加移民工文學獎喚醒了我已被埋了很久的文學精神。

Ngluruk tanpa bala
Menang tanpa ngasorake
Sekti tanpa aji
意思是不須群眾而戰鬥,不貶低別人的勝利,不須使出權力而獲得的權威。知識不是拿來炫耀,有著知識就應該向稻草學習,越有內涵越低沉,而不是抬起頭越驕傲。

Lir Ilir 是描述著一個孩子,想念著遠在印尼的母親。母親說著磁磚取代了因乾季而裂的土壤地,提醒著孩子要加持信仰以及小夢想。這是一個把頭裡所想像的東西寫成一篇短文的衝動。當我知道我獲獎的時候,心情是無比的開心。八月中我準備回印尼因為簽約已經到期了,也計畫向我最愛的女人求婚。8月29日將進行婚禮,也是讓我終生難忘、向孫女分享的人生最大的禮物。我想感謝移民工文學獎給了我這麼大的榮譽感。之前可能沒有人知道我,但移民工文學獎之後,至少台灣知道有個鄉下孩子正透過文學分析著人生。

 

自我介紹、創作動機及得獎感言

你好...我的名字是Abdul Mubarok,我朋友都叫我Doel。
我來自中爪哇巴糖(Batang)省,在台南仁德區的一家工廠工作,而這家工廠是我待的第二家。第一次來台灣時,我在高雄仁武區工作。
參加移民工文學獎喚醒了我已被埋了很久的文學精神。

Ngluruk tanpa bala
Menang tanpa ngasorake
Sekti tanpa aji
意思是
不須群眾而戰鬥,不貶低別人的勝利,不須使出權力而獲得的權威。
知識不是拿來炫耀,有著知識就應該向稻草學習,越有內涵越低沉,而不是抬起頭越驕傲。

Lir Ilir 是描述著一個孩子,想念著遠在印尼的母親。母親說著磁磚取代了因乾季而裂的土壤地,提醒著孩子要加持信仰以及小夢想。
這是一個把頭裡所想像的東西寫成一篇短文的衝動。


當我知道我獲獎的時候,心情是無比的開心。八月中我準備回印尼因為簽約已經到期了,也計畫向我最愛的女人求婚。8月29日將進行婚禮,也是讓我終生難忘、向孫女分享的人生最大的禮物。

我想感謝移民工文學獎給了我這麼大的榮譽感。之前可能沒有人知道我,但移民工文學獎之後,至少台灣知道有個鄉下孩子正透過文學分析著人生。

 

 

Comment  Bahasa Indonesia baik. Tema sangat menarik. Cara penceritaan juga cukup menarik. 主題非常有趣,故事也挺有意思的。

3 thoughts on “Lir Ilir

  1. Cerita yg membuat bulu kudukq berdiri saat membacany, saat jauh di negri orang mndngr org tua qt yg tiada….

  2. syi’ir “Lir-Ilir dst” tuh kalam tuhan? bukanya tembangnya salah satu wali songo ya…

  3. Cerita yang sederhana tapi bagus. Jempol buat mas doel. Kalimat “Rasanya tetap tak percaya emakku sudah berbaring tak tenang di gundukan tanah di hadapanku.” Mungkin maksudnya berbaring dengan tenang.
    Tapi keren…

發表迴響

你的電子郵件位址並不會被公開。 必要欄位標記為 *