PAMAN WANG DAN SECANGKIR TEH

Andi Herianto / PAMAN WANG DAN SECANGKIR TEH / Tidak Ada / tenaga kerja asing 

PAMAN WANG DAN SECANGKIR TEH

“Sudah makan, And?”

Selalu pertanyaan itu yang terlontar dari mulut lelaki paruh baya ini setiap bertemu denganku. Paman Wang, begitu beliau memperkenalkan dirinya kepadaku.

Satu kata sapaan yang begitu indah bagiku. Entah. Dari sapaan itu aku merasa mendapatkan perhatian, walau sebatas ditanyai makan apa belum. Bagaimana tidak? Pertanyaan sekaligus sapaan kudapat dari orang yang baru aku kenal. Pun selalu terlontar padaku setiap kali bertemu.
Dan, di sini ternyata sapaan yang umum menanyai perihal makan atau belum daripada sekadar tanya kabar.

Pertemuan tidak sengaja terjadi saat aku pulang dari pabrik tempat kerjaku menuju mess. Musim dingin yang menusuk-nusuk sekujurku pun hujan deras yang mengguyur kuyub bajuku dari lelahnya kayuhan sepeda yang kunaiki, sangat begitu menyebalkan perjalanan pulang kerjaku.

“Hallo…, kamu pemuda Indonesia?” sapanya sopan memberhentikanku saat mengayuh sepeda.

“Iya, Paman. Saya tinggal di itu…,” tanganku menunjuk ke bangunan berlantai tiga tak jauh dari Paman ini tinggal.

“Aku tahu. Sudah lima tahun rumah itu untuk mess pabrik tempat kerjamu,” ucapnya ramah. “Oh, ya, kamu anak baru?” lanjut tanyanya padaku.

“Iya, Paman.” jawabku sopan.

Ada getaran aneh yang menyerupai heran sedikit takut. Aneh saja, sudah sebulan ini saya baru pertama kali di sapa penduduk Taiwan yang ramah. Terbesit pula, apakah aku akan ditodong? Ah, nyatanya prasangkaku tak ada benarnya. Beliau sekadar menyapa.

“Kamu pemuda yang tampan. Berapa usiamu?” lanjut ucap tanyanya padaku.

“Wah, terima kasih. 25 tahun, Paman.”

“Salut. Masih muda sudah berani bekerja sejauh ini meninggalkan tanah air…” ucapnya bangga menepuk pundakku.

“Demi masa depan dan demi satu tujuan saya datang ke negeri ini, Paman.”

“Hebat!” Beliau kembali menepuk punggungku, “Wajahmu mengingatkanku pada seseorang…,”

“Apa, Paman? Siapa?” selidik tanyaku mendadak penuh ingin tahu.

“Ah, lupakan. Cepat pulang, istirahatlah. pasti kamu lelah.”

Ah, Paman itu menggangguku. Membuatku penasaran. Gerutuku tak habis-habis sampai larut malam di mess mengingat lelaki paruh baya itu.
Ada hal aneh yang kurasa. Tapi entahlah.

Kenapa pula aku tak tadi tak bertanya paman ini kok bisa berbahasa indonesia? Walau diputus-putus dan dicampur dengan Bahasa Mandarin dan Bahasa Indonesia, setidaknya dari obrolan aku paham apa yang dia katakan. Dan paman itu juga paham dengan apa yang aku ucapkan.

Ah, mungkin dia emang mahir banyak bahasa. Setidaknya aku bisa ramah dengan orang yang aku jumpai kali ini dengan bisa menjawab sapa-tanyanya tanpa malu dengan bahasaku Mandarin yang amburadul. Maklum, aku baru sebulan merantau di negeri ini.
Dan, semoga dia orang baik dan bisa aku jadikan teman untuk bisa membantu dalam misiku datang ke negeri ini selain merantau.

***

Hari berlalu sebegitu cepatnya. 2,5 tahun. Ya, 6 bulan lagi finish masa kerjaku di negeri ini.

Setiap pulang kerja semenjak saat itu Paman Wang memberhentikanku untuk mampir di teras rumahnya. Untuk sekadar ngobrol dan berbagi banyak hal dengan paman paruh baya ini.
Di situ, aku tahu banyak hal tentang Taiwan dan segala adat-adatnya. Juga kami bisa memperdalam belajar bahasa di antara kami. Aku semakin pandai bercakap Mandarin pun Paman Wang semakin lancar berbahasa Indonesia.

“Andi, ayo minum tehmu. Biar hangat badanmu. Cuaca semakin buruk di musim dingin kali ini, And.” ucapnya sembari menuang teh ke arah cangkirku.

“Terima kasih, Paman. Teh pahit ini begitu menghangatkan…,” balasku padanya.

“Begitulah, kenapa teh hangat bagus untuk tubuh kita di musim dingin.”

“Paman suka minum teh pahit setiap hari, apa tidak bosan tanpa tambah sedikit gula?” tanyaku padanya.

“Pahit ini menyehatkan, Ndi. Daripada kepahitan-kepahitan dalam hidup ini.”

“Ah, Paman…,” jawabku sembari menghabisan teh dalam cangkirku.

“Kamu juga suka teh pahit, kan?” tanyanya ingin tahu.

“Pahitnya hidup saya juga sedari kecil sudah meraskan, Paman. Kalau pahitnya teh di Taiwan ini saya mulai suka, Paman.”

“Ah, masa?” tanyanya heran.

“Di kampungku teh selalu terseduh dengangula, Paman.”

“Oh, ya. Aku tahu.”

“Iya, Ibuku setiap pagi selalu membutkankan teh manis buatku.”

“Teh manis? Aku tahu, seseorng dari Indonesia pernah membuatanku.”

Wajah paman Wang tiba-tiba berubah hampa. Selebihny aku tak berani bertany paeanya.

Kebisaan ngeteh Paman Wang dimulai 20 tahun yang lalu. Ada satu rahasia juga impiananya yang dia ceritatakan.

‘Dia ingin minum teh manis kembali dari seduhan perempuan yang dia cintai suatu hari’.

***

Sebulan berlalu kujalani dengan sedikit membosankan karena padatnya jam kerja di pabrik karena penuhnya jam lembur.

Minggu ini aku sengaja datang ke tempat Paman Wang. Sudah sebulan lebih aku tidak bertemu dengannya. Selain itu aku juga perlu bantuan padanya untuk misiku. Paman Wanglah satu-satunya orang yang aku yakini bisa membantuku..

“Permisi…, Paman Wang ada?” tanyaku pada teman paman wang di kontraknnya.

“Dia, ke luar negeri, Nak.”

“Kemana beliau pergi, Paman?”

“Tiga hari ini dia ke Indonesia yang entah kapan akan kembali.”

Huh, gugur sudah harapanku untuk bisa mendapat bantuannya perihal misiku.

Aku masih duduk lemas di teras rumahnya. Tempat dimana kami biasa ngeteh bareng. Ada perasaan aneh setelah sebulan tak bertemu dengannya. Mendadak rindu.

“Duduklah dulu…,” ucap teman Paman Wang.

“Iya, Paman.”

“Dia pergi ke Indonesia mencari anak dan istrinya yang terpisah.”

“Apa?” tanyaku heran.

“Iya, dia mencari mimpinya. Dia dan istriny terpisah semenjak 20-30 tahunan. Kapan persisnya aku kurang paham. Yang aku tahu, istrinya balik ke Indonesia pas dia hamil. Karena tanpa restu keluarga besarnya.”

Aku hanya diam, kemudian pamit.
Pupus sudah harapanku bisa menjalankan misiku dengan kepergian Paman Wang mencari Perempuan penyeduh teh manis untuknya.

Dia pergi mencari bahagianya. Dan, misi bahagiaku yang tak segera terwujud di bulan-bulan terkhirku di negeri ini.
Ya, mencari ayah kandungku.

TAMAT.

NTC, 20-05-2016
note: Cerita ini hanya fiktif belaka

發表迴響

你的電子郵件位址並不會被公開。 必要欄位標記為 *