Sekarang tuh Selamanya

Monica 黃秀華 / Sekarang tuh Selamanya / 燦爛時光:東南亞主題書店 Brilliant Time bookstore / mahasiswa 

Beberapa tahun berlalu, ribuan hari berganti, ratusan ribu menit menanti. Akhirnya semua harus berakhir sampai di sini. Haruskah kisah cinta kita kandas seiring tercapainya mimpi.
Perkenalkan namaku Almara, anak desa yang bercita-cita menjadi anak kota. Dibesarkan di keluarga keturunan Tiohua yang sederhana nan hangat membuatku menjadi pribadi yang riang. Sejak kecil aku melihat setiap perjuangan bapak dan ibu menyambung hidup keluarga kami. Wajah lelah Bapak ketika larut akan disambut oleh senyum lembut Ibu yang setia menunggu Bapak. Sejak saat ini cita-citaku hanya satu, membahagiakan kedua orang tuaku. Aku ingin setiap peluh mereka menyekolahkanku akan terbayar kelak. Aku, Almara berjanji akan menjadi seorang yang berguna dan bisa membahagiakan orang tua.
Setiap orang pasti memiliki mimpi masing-masing. Setiap pribadi dewasa akan dengan gagah berani menentukan jalan hidup mereka terlepas dengan segala resiko di belakang keputusan tersebut. Aku pun sudah tumbuh menjadi satu diantara mereka.
Selembar kertas yang kuterima di awal Februari mengantar kisah hidup ini menjadi berliku. Kesempatan ini seolah menawarkan pengalaman baru yang menantang dan memberikan tangis berkepanjangan. Selembar kertas yang menoreh namaku sebagai salah satu penerima beasiswa S1 dari pemerintah daerah tempatku berdomisili. Selembar kertas yang menghantarkan rentetan kisah di baris paragraf di bawah ini.
Taiwan, sebuah nama negara yang begitu asing. Sejak kecil cita-citaku hanyalah satu, yaitu memberikan senyum di wajah dua orang orangtuaku. Iseng-iseng kumasukkan berkas mendaftar beasiswa yang diberitahu pacarku.
“Masukin aja, aku juga ada masukin kok.” Ujar Deddy semangat.
“Kamu pengen kita pergi bareng ya?” Tanyaku menyelidik.
“Iya dong sayang, aku mana bisa jauh-jauh dari kamu.” Ucapnya sembari mengecup lembut pipiku.
“Iya iya iya!” Seruku sebelum membalas pelukkannya.
Percayakah kamu dengan takdir? Sebenarnya semua yang sudah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi semua sudah diatur. Bertemu siapa, berteman dengan siapa, berpasangan dan menua pun sudah ada yang menata. Aku percaya takdir, bertemu Deddy ketika SMA dan menjalin kisah asmara selama tiga tahun ini kurasa juga sebuah takdir. Jika tidak bagaimana mungkin di antara ratusan orang Deddy bisa memilihku dan akupun demikian. Ini semua takdir bukan?
Di suatu pagi biasa, kuterima sebuah berita besar yang akan merangkai masa depan. Kami berdua sama-sama mendaftar beasiswa yang sama, tujuan negara yang sama, universitas yang juga sama, hanya dua jurusan yang berbeda. Belajar berdua di luar negeri adalah rencana kami. Namun takdir sedang bercanda.
Kuletakkan amplop yang diantar Deddy pagi ini.
“Aku tahu ini semua begitu…” Kataku sebelum semua kata teredam isa tangis.
“Gak papa Almara, anggap saja ini kuasa takdir.” Ucap Deddy sembari mengencangkan pelukkan.
Tangisku tak mampu lagi dibendung. Kami akan terpisah 2,825 km jauhnya. Biarpun aku mengenal Deddy sejak kami duduk dibangku kelas satu SMA, namun cinta jarak jauh. Sering kudengar kisah-kisah yang berakhir karena dipisahkan kota. Apalagi cinta kami akan dipisahkan negara kelak.
***
Hari ke 1159
28 November 2013
Muzha district, Taipei
Sebuah daun kekuningan jatuh di atas buku akuntasi. Seakan membangunkan aku dari lamunan sejenak. Tak terasa tiga bulan sudah aku berada di negara yang bernama Taiwan. Masih teringat jelas wajah Bapak, Ibu, Deddy dan beberapa sahabat SMA-ku menghantar raga ini ke bandara dan menyisakan jiwaku bersama mereka. Berkali-kali kulihat Ibu mengusap matanya. Pelukkan hangat dari mereka mengiring langkahku meninggalkan Indonesia.
Di sinilah aku sekarang, di sebuah universitas negeri Taiwan yang dekat dengan kebun binatang. Langit Taipei yang mendung, semilir angin musim gugur juga seolah mengerti betul perasaan hatiku. Gundah dan gulana tak bermuara.
Masih teringat jelas kelas pertamaku.
Kelas pertamaku di negera antah berantah akan segera dimulai. Jantungku berdegup tak karuan, kuedarkan pandangan ke sekitar. Wajah-wajah murid lokal, ada sekelompok murid tertawa berbincang begitu bersemangat, ada wajah bosan yang menatap layar telpon genggam, ada pula wajah-wajah rajin yang mulai membalik buku pelajaran. Sedangkah aku?
Tak berapa lama seorang pria paruh baya memasuki kelas, kutebak dia pasti guru akutansi. Berbalut kemeja dan celana kain, rambutnya yang dihiasi berhelai-helai rambut putih. Laoshi yang namanya tertulis dalam aksara yang sulit sekali untuk dibaca tak membuang waktu dengan langsung memperkenalkan diri, menjelaskan materi kelas selama satu semester ke depan, lalu tanpa memperhatikan wajah-wajah yang berteriak ingin pulang. Laoshi akutansi membawa kita kedunia angka-angka memabukkan.
Jujur hari ini pikiranku melayang. Kemampuan berbahasa mandarinku tidak cukup untuk membuat otak ini mampu mengerti materi kuliah. Aku, Almara yang terkenal bintang kelas menjadi begitu redup hari ini. Boro-boro menjawab pertanyaan guru, menjelaskan materi ke teman yang tak mengerti. Kurasa sekarang akulah yang butuh dijelaskan. Untungnya buku paket hampir semua pelajaran menggunakan Bahasa Inggris. Kubulatkan tekad untuk mengulang pelajaran sebelum dan sesudah kelas. Mengenyam pendidikan hingga ke negeri ke sebrang, bukanlah kesempatan setiap orang. Kesempatan ini sudah kugenggam, maka tak sudi aku menyia-nyiakannya.
Selepas kelas, kuarahkan kaki gontai menuju kantin sekolah. Restoran prasmanan menjadi pilihanku. Selain menunya yang beragam, harganya pun relatif murah. Setiap pembeli akan memilih sendiri lauk yang mereka inginkan, lalu seorang tante akan menimbang makanan kita dan menambahkan nasi. Harga makanan yang kita bayar dihitung berdasarkan berat dari makanan yang diambil.
Hari ini budget makanku hanya tersisa 40 NT atau setara dengan enam belas ribu rupiah. Dengan was-was aku menatap timbangan di meja kasir. Semoga aku tidak mengambil terlalu banyak.
Selama ini dan empat tahun kedepan biaya hidupku akan disokong oleh uang beasiswa sebesar enam ribu dolar Taiwan perbulan. Namun uang tersebut harus dipotong uang asrama yang akan dibayar persemester. Untuk menyangkan makan setiap harinya, diriku hanya memiliki 100NT.sedangkan makan disekitar sekolah tidak kurang menghabiskan 60NT-85NT per kalinya.
Tak jarang aku membeli roti tawar, dua lembar roti adalah menu makan siang yang lumrah. Pernah juga aku hanya mampu menelan ludah saat kulihat orang berseliweran dengan makanan di tangan mereka.
Angin musim gugur berganti menjadi angin musim dingin. Tak terasa sudah hampir empat bulan aku berada di Taiwan. Dengan uang saku seadanya aku memutuskan tak membeli baju musim dingin. Dengan tiga lapis baju dari Indonesia aku akan melawan dinginnya Taiwan. Uang beasiswa setiap bulannya kusisihkan untuk membayar biaya asrama semester depan.
Roti tawar tanpa selai dan air putih masih menjadi sahabat setiaku. Namun di kala tak banyak uang tersisa sedangkah lidah Indonesiaku menuntut semangkuk nasi. Aku membeli dua mangkuk nasi dan sepotong tahu.
Di bulan keempatku di Taiwan, satu-satunya teman Taiwanku Liu-Ting menawariku bekerja paruh waktu di kantin sekolah. Dengan mandarin pas-pasan akhirnya hanya pekerjaan mencuci piring yang bisa kudapatkan.
Setiap Selasa, Rabu, Jumat aku akan bekerja empat jam sehabis kelas. Biarpun aku sudah mendapat sedikit suntikan dana tambahan, namun roti tanpa selai, dua mangkuk nasi dengan sepotong tahu tetap jadi menu andalan.
Hari ini sepulang kerja kuarahkan kaki letih menuju kamar. Tak lama kurasa telpon genggamku bergetar. Lima belas panggilan tak terjawab dari Deddy.
“Sorry sayang, aku baru pulang dari kerja nih.” Sahutku lemah setelah menekan tombol jawab.
“Kamu kemana aja sih, aku kan udah bilang malem ini mau telpon.”
“Hm….” Malas sudah aku bertengkar.
“Kenapa, kamu malas ngomong sama aku? Ya sudah aku gak ganggu kamu lagi.” Ucap Deddy semakin meninggi.
“Bukan gitu, aku cuman capek aja habis kerja. Kok kamu jadi pemarah sih.”
“Abisnya kamu sih, kamu kira aku gak capek nunggu kamu angkat telpon aku.”
“Yah, maaf. Aku kan bukan sengaja Ded.” Ucapku setengah menangis.
Empat bulan penuh air mata dan teriakkan. Awalnya kugenggam erat tanganmu, kutahan setiap rindu yang memenuhi kalbu. Aku sungguh mencintaimu Deddy, menyelesaikan pendidikan dan kembali ke peluk hangat itu adalah misi hidupku. Namun mengapa semua menjadi begitu rumit sekarang.
Malam ini kuhabiskan sejam menangis di bawah keran air, masih kuingat jelas pelukan terakhir di bandara.
“Aku tunggu kamu kembali, Al.”
Mungkinkah itu akan menjadi pelukan hangat terakhir darimu?
Tak ada waktu aku berlarut dalam sedih merindukan Deddy, tugas-tugas sudah berteriak untuk dikerjakan. Tak lama lagi ujian akhir semester, sedangkan aku masih belum benar-benar siap. Kututup malam setelah kedua mata begitu berat dan otak berteriak memberontak.
Pelajaranku menjadi semakin berantakan setelah aku bekerja paruh waktu. Nilai ulangan yang awalnya hanya mencapai batas tuntas menjadi dibawah garis kemiskinan. Aku pun tak dapat meminta keringanan dan perlakuan khusus hanya semata karena aku murid asing.
Minggu-minggu menjelang ujian membuat lingkar bawah mataku menghitam. Demi sebuah mimpi aku bertekad terus berjuang. Kuhabiskan setidaknya empat jam setelah bekerja di perpustakaan. Untungnya ada salah satu bagian perpustakaan yang buka 24 jam. Pukul dua pagi aku akan kembali ke kamar, menahan rasa lapar aku pun bergegas mandi dan beristirahat.
Desember akhir
Puncak segala dingin tubuh dan jiwa
Musim dingin mencapai suhu yang sangat rendah, apalagi bagiku yang besar dan terbiasa di udara hangat negara tropis.
Dikejar berbagai deadline tugas dan tumpukan ujian. Berbekal roti tawar tanpa selai dan dua mangkuk nasi sepotong tahu, aku menaklukan dunia.
Hubunganku dengan Deddy kian hari kian memburuk, pertengkaran panjang dan krisis kepercayaan. Namun tak sedikitpun aku ingin melepaskannya. Hingga di satu titik aku berkata,
“Ded, dua orang yang berkomitmen dan bersama akan saling membahagiakan bukan terus melukai.”
“Aku hanya ingin kamu bahagia Ded.” Lanjutku parau.
Desember dari negeri sebrang membawa rasa dingin bagi tubuhku dan jiwa yang menangis menahan segala beban. Tak sedikitpun aku berani mengadu pada Ibu dan Bapak bahwa aku dan Deddy sering bertengkar. Tak juga aku mengeluh pelajaran-pelajaran yang berat atau kerja paruh waktu yang melelahkan.
Almara, gadis dewasa bermimpi besar. Aku akan berdiri teguh dan gagah berani mengarungi hidup. Datanglah segala rintangan dan siap-siap menyesal karena aku tak akan pernah menyerah.
***
Kakiku gemetar menatap bangku-bangku depan panggung yang terisi penuh. Sesekali kuremas tanganku gugup. Sekarang atau tidak selamanya Almara, ucapku parau dalam hati.
Sebuah tangan besar meremas pundakku dan mendorongku keluar dari tirai di belakang panggung. Rupanya pembawa acara sudah menerikkan namaku. Gugup-gugup aku menatap pasang-pasang mata penasaran.
“Selamat malam Almara, santai saja kami tidak gigit kok.” Gurau salah satu pembawa acara menggoda.
“Selamat malam semua.” Jawabku terbata.
“Nah untuk teman-teman yang belum tahu, Almara adalah salah satu penerima beasiswa S1 dari pemerintah Pekanbaru. Hidupnya berliku dan perjuangnya begitu keras demi meraih sebuah mimpi, yaitu belajar di luar negeri.”
“Almara lulus dari salah satu universitas unggulan di Taiwan dan langsung pulang ke Indonesia untuk merintis karir.”
Pembaca acara menutup perkenalan singkat mengenai diriku. Keringat dingin membasahi tengkuk dan kedua tanganku.
“Kok memilih Taiwan sih sebagai negara tujuan Almara?”
“Iya, dulu seorang teman mengenalkan Almara pada beasiswa ini, sampai diakhir rupanya Almara yang dapat dan dia malah tak dapat. Awalnya Almara sungguh merasa tak enak hati. Namun mungkin ini yang disebut takdir ya.”
Tiga puluh menit berikutnya aku bercerita dengan lancar pengalamanku menyelesaikan S1 di Taiwan. Mulai dari beratnya ujian berbahasa mandarin, membagi waktu belajar dan berkerja, juga tak lupa kisah Deddy.
“Di musim dingin pertama, Almara tak ada cukup uang untuk membeli jaket musim dingin alhasil Almara memakai tiga lapis baju yang dibawa dari Indonesia. Lalu selama liburan empat tahun Almara tidak pernah pulang. Harga tiketnya mahal, jadi rasa rindu Almara simpan dulu.” Ucapku sembari mengenang masa-masa pahit itu.
Di sebuah sudut terpencil Taiwan kuhabiskan liburan musim panas dan dinginku sebagai seorang pekerja kasar di pabrik. Mulai dari pabrik roti, pabrik plastik hingga pabrik yang memproduksi barang elektronik. Bekerja 12 jam dalam sehari mengantarkan aku lulus S1.
“Lantas bagaimana kelanjutan hubungan Almara dan Deddy?”
“Hubungan jarak jauh sungguh bukan hubungan yang mudah, saat itu kami masih sangat muda dan hanya berbekal rasa sayang semata. Saat semua masalah seolah bertubi-tubi datang Almara hanya bisa pasrah, akhirnya Almara dan Deddy memutuskan berhenti.”
“Sayang sekali, padahal kalian sudah berpacaran lama bukan?”
“Almara selalu percaya takdir, hubungan Almara dan Deddy….”
“Kita simpan dulu kisah cinta kalian ya. Jangan kemana-mana tetap di acara ABC bersama Almara, bermodal nekad taklukan dunia.” Potong salah satu pengisi acara.
***
Roti tawar tanpa selai dan dua mangkuk nasi sepotong tahu. Lambang segala perjuangan pengalaman diriku mengenyam pendidikan di negeri orang. Setelah menyelesaikan S1 aku kembali ke Indonesia merintis usaha telur asin milik Ibu dan Bapak.
Percayakah kalian pada takdir?
Setiap langkah, setiap detik, menit, hari semuanya susah ada yang mengatur. Aku berlari begitu jauh dan kembali menemukan diri. Hubunganku dan Deddy yang kantas ditengah jalan menemukan jalan terang setelah aku kembali. Kami bersama merintis usaha telur asin milik Ibu dan Bapak.
Peluh, tangis dan tawa hanya segelindir kisah yang mampu aku tuliskan hari ini.
Pergi berkelana, tertempa ombak besar, lalu gagah berani kembali tanpa kekurangan apapun. Jangan pernah takut untuk terjatuh sekali, sepuluh kali, bahkan lima ratus kali. Tanpa terjatuh, aku tak akan pernah merasa betapa puasnya setelah bangkit.
Ada awal yang memulai semuanya, lalu ada akhir yang menjadikan semua tak ada. Tapi ada satu hal yang akan selalu ada, kenangan. Kenangan putih ataupun hitam, kenangan manis ataupun pahit. Kenangan itu selamanya terpahat tak kemana.
Di sini aku sekarang, di pelukan seorang kawan dan pasangan.
Sekarang dan selamanya.
Untuk setiap perjuangan kita berdua.
Terima Kasih suamiku, Deddy.
Jalan masih begitu panjang, mari taklukkan.

發表迴響

你的電子郵件位址並不會被公開。 必要欄位標記為 *