逃跑!不是個好辦法 Kabur! Bukanlah Jalan Keluar

 2014 Babak penyisihan 印尼文初選 

📜 逃跑!不是個好辦法 Kabur! Bukanlah Jalan Keluar

👤 Evi Agustika

Tak ada seorang pun yang mau berpisah dengan keluarga dan orang-orang terkasih. Namun apalah daya ketika takdir berkata lain. Seperti diriku yang terpaksa harus meninggalkan suami dan anak semata wayang kami jauh pergi ke negeri seberang yang tak pernah terbayangkan olehku sebelumnya.

Ini semua terjadi setelah bisnis yang kami jalankan gulung tikar dengan meninggalkan hutang pada bank. Dalam kondisi yang serba terdesak itu, aku mendapat tawaran dari seorang sponsor di kampungku untuk bekerja ke luar negeri.

Awalnya suami dan seluruh keluarga besarku tak mengizinkan. Tapi, berkat kegigihan dan alasan yang tepat aku nyatakan kepada mereka, akhirnya mereka pun menyetujuinya. Mulailah aku menjalani proses persiapan untuk bekerja ke luar negeri. Taiwan, menjadi negara tujuanku.

Aku harus mengurus segala dokumen kerja. Melalui PPTKIS ( Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta) yang merekrutku, di sini menjadi awal proses keberangkatanku.

Dua bulan menunggu, akhirnya aku mendapatkan tawaran job. Pimpinan PPTKIS tempatku bernaung, menyatakan aku akan dipekerjakan di sebuah pabrik produksi atau sektor formal. Namun karena aku tidak membayar uang beli job, maka masa potongan gajiku pun semakin lama.
(Sebagai pengetahuan, untuk job pabrik/formal PPTKIS tempatku mematok biaya penempatan sebesar 40 juta rupiah jika tanpa potongan, atau berkisar antara 25-30 juta rupiah jika masih berhutang pada bank dan harus dicicil dengan memotong gaji kami selama 10 bulan).

Tapi pimpinan PPTKIS yang merekrutku, mampu memberi pinjaman kepada kami yang tidak mempunyai biaya untuk membayar job pabrik dengan rincian potongan gaji kami selama satu tahun awal masa kerja. Namun itu tidak berlaku untuk pekerja non formal atau perawat jompo.

Akhirnya aku menyetujui dan menandatangani kesepakatan kontrak kerja formal dengan masa potongan satu tahun, dan inilah awal kehidupan baruku di negeri Taiwan.

***

Akhir februari 2013, pertama kali aku menginjakkan kaki di Taiwan. Setelah menjalani pengecekan imigrasi di bandara Touyen Internasional Taiwan, aku dan banyak rekan-rekan se-tanah air bahkan lain negara dibawa ke penampungan sementara untuk beristirahat sebelum keesokan paginya kami semua harus melakukan medikal check up.

Pagi hari setelah medikal check up, aku dan beberapa teman satu agensi dijemput, kemudian pihak agensi membawa kami untuk mengurus dokumen ARC, ASKES dan dokumen penunjang lainnya. Sore hari itu juga aku diantarkan ke rumah majikanku.

“Rumah?” aku menggumam dalam hati.
“Bukankah jobku bekerja di pabrik? tapi mengapa aku diantar ke rumah majikan?” aku bertanya-tanya dalam hati.

Aku curiga jangan-jangan ada manipulasi job atasku. Kecurigaanku makin menguat ketika aku benar-benar sampai di rumah majikan.
Seorang pria menyambut kedatanganku bersama dengan satu penerjemah yang mengantarku.

Di ruang tamu ada dua orang lainnya. Mereka adalah istri dan ibu dari pria tadi yang tak lain adalah majikanku.
Nenek mengalami lumpuh pada sebagian tubuhnya, sehingga untuk melakukan segala aktifitas ia harus dibantu. Dari itulah aku ditugaskan untuk merawat nenek.

“Apa! aku merawat Ama? bukankah job ku adalah bekerja di pabrik produksi bukan sebagai perawat?” tanyaku terkejut setelah penerjemah menjelaskan pekerjaanku sesungguhnya.

Memang majikanku mempunyai pabrik produksi spring bed dan perlengkapan tidur lainnya yany berada tak jauh dari rumah ini. Bisa dibilang masih dalam satu lingkungan. Tapi karena itu hanya pabrik kecil, sehingga tidak mendapatkan izin untuk mengambil pekerja dari luar negeri.

Ini yang membuatku semakin heran, mengapa ini semua bisa terjadi.

“Ya Allah cobaan apa yang Engkau ujikan padaku saat ini? beri aku kesabaran untuk menjalani ujian-Mu ini Ya Rabb”, do’aku penuh harap.

Benar saja, hari-hariku adalah menjaga dan merawat nenek yang lumpuh, dengan segala pekerjaan rumah lainnya. Malangnya lagi aku hanya tinggal berdua bersama nenek di bangunan 4 lantai itu. Sedangkan majikanku tinggal di rumah yang berbeda. Mereka hanya akan datang 3 kali dalam seminggu, dan itu pun hanya beberapa jam tanpa pernah menginap.

Dengan keterbatasan bahasa yang aku miliki, di tambah pekerjaan yang seakan tiada habisnya, belum lagi nenek yang super cerewet dan perhitungan membuatku sangat tertekan. Jam kerja yang hampir sehari semalam tidaklah dihitung lembur sebagaimana perincian gaji di sektor formal.
Dengan kondisi ini akulah pihak yang sangat dirugikan. Job nyata sehari-hari adalah sebagai perawat nenek, sedangkan perjanjian kontrak kerja yang tertera resmi adalah sektor formal, yang mana gajiku tiap bulan harus dipotong untuk biaya pajak dan uang makan. Namun jam lembur dihitung menurut gaji sektor non-formal. Hitungan lembur per hari bukan per jam, sangat tidak adil bukan?

Tak berhenti di situ, aku berusaha meminta keadilan dengan menghubungi PPTKIS yang memberangkatkanku. Nihil, PPTKIS seakan lepas tangan dengan masalahku. Aku mencoba bersabar dan mencari informas, sekiranya ada pihak yang dapat membantuku mencari jalan keluar.

Dalam keadaan serba terdesak, aku bertemu seseorang di taman ketika aku membawa nenek jalan-jalan ke taman. Ternyata ia adalah BMI kaburan. Aku menceritakan semua masalahku padanya. Ia kemudian menyarankanku untuk mengikuti jejaknya.

Gaji besar, tanpa beban potongan ini itu, bebas tanpa ikatan kontrak dan fasilitas menggiurkan lainnya yang ia tawarkan padaku. Bahkan ia pun mengenalkanku pada agensi ilegalnya.
Dengan iming-iming yang sangat menggiurkan itu membuatku gamang dengan pendirianku selama ini.

“Yah, mungkin ini adalah jalan terbaik untukku”, gumamku dalam hati.

Bukankah PPTKIS dan agensi tak lagi peduli dan tak bisa membantuku? belum lagi celoteh nenek yang sering menuduhku mencuri barang dan makanan miliknya, membuatku makin yakin dengan keputusan ini.

Setiap majikan datang ke rumah nenek selalu mengadu hal yang bukan-bukan, ada saja tuduhannya padaku. Bahkan mereka sampai menggeledah seluruh isi lemariku untuk memastikan bahwa aku tidak mencuri barang-barang nenek.

Meskipun mereka tak menemukan apapun di dalam lemariku, tak lantas membuat mereka puas. Selalu saja majikan membela nenek dan mendampratku semau mereka tanpa mempedulikan perasaanku. Mereka berpendapat, bahwa mereka menggajiku tiap bulan. Sehingga mereka berhak berlaku apa saja yang mereka mau terhadapku.

Tekadku sudah bulat akan mengikuti saran teman yang kaburan tersebut. Semua barang-barang milikku telah aku packing rapi. Sore ini aku akan menemui agensi ilegal itu, dan meminta bantuan padanya.
Namun, pertolongan Allah datang di waktu yang tepat, sebelum aku jauh melangkah dan tersesat.

Pagi hari …

Pada hari yang sama sebelum aku kabur dari rumah majikanku, aku mengantarkan nenek ke rumah sakit untuk terapi. Di sana aku bertemu dengan sahabatku satu PPTKIS dulu. Aku sangat bersyukur bertemu dengannya. Aku ceritakan perihal masalahku dan niatku sore itu yang akan kabur dari rumah majikan.

Dia, sahabatku sangat keras melarang tindakan bodoh yang hanya akan merugikan diri sendiri bahkan mencoreng nama baik bangsa. Berbagai nasehat akan semua keburukan jika aku menjadi BMI ilegal ia sampaikan padaku. Bahkan ia mrmberi solusi dan berjanji akan membantuku, asal aku bersabar dan tidak pernah kabur untuk menjadi BMI ilegal.

Aku disarankannya agar menghubungi layanan pengaduan bantuan hukum KDEI melalui telepon 1955. Dia juga membantuku meminta bantuan Satgas KDEI yang membantu mendampingi BMI bermasalah sepertiku. Semua memang butuh proses dan kesabaran.

Agensi sejatinya hanya berpihak kepada majikan, mengetahui usahaku meminta bantuan lembaga hukum terkait semakin keras memarahi bahkan mengancam akan memulangkanku ke Indonesia jika aku tidak segera mencabut laporanku. Namun aku tidak takut dan tetap pada pendirianku.

Di tambah aku mendapatkan bantuan dari petugas Satgas yang mendampingiku. Kasusku dilaporkan kepada Depnaker setempat. Sehari sebelum aku dijemput pihak Berwenang untuk di tampung di Shelter House, aku mengetahui alasan mengapa majikanku mengambilku melalui jalur formal.

Itu karena ia sudah sangat bermasalah dan tidak di izinkan lagi untuk mengambil tenaga kerja asing.
3 hari aku berada di Shelter House, agensi datang mengajakku bernegoisasi. Dengan bantuan lembaga hukum ini, akhirnya aku mendapatkan hak-hakku.

Agensi mendapatkan peringatan keras bahkan diancam akan dicabut izin usahanya jika sampai hal seperti ini masih terjadi di kemudian hari. Majikanku mendapat denda sesuai Undang-undang hukum yang berlaku.

Alhamdulillah, puji syukur tak henti-hentinya aku panjatkan Kepada Allah atas segala nikmat dan karunia-Nya.
Saat ini aku sudah bekerja sesuai kontrak kerja dan mendapatkan hak-hakku.

Maha Besar Allah dengan segala Fiman-Nya.

“Maka sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. (QS. Al- Insyiraah : 5)

Pertolongan Allah datang tepat pada waktunya. Melalui perantara sahabatku, yang membantuku menemukan jalan keluar untuk masalahku ini.
Aku semakin yakin akan kuasa-Nya bahwa Dia mengetahui apa yang terbaik bagi setiap hamba-Nya. Seperti Firman-Nya

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui”. (QS. Al-baqarah : 216)

Semoga kisahku dapat menjadi pelajaran, bahwa kita harus tetap tegar dan sabar dalam menghadapi segala ujian. Percayalah pasti ada jalan keluar dari setiap masalah. Patuhi hukum dan jangan pernah melanggarnya. Agar tiada penyesalan dan merugikan diri sendiri bahkan mencoreng nama baik bangsa.


 2014 Babak penyisihan 印尼文初選 

📜 逃跑!不是個好辦法 Kabur! Bukanlah Jalan Keluar

👤 Evi Agustika

 

沒有人願意與家人及親人分開。但造物的權柄、命運的撥弄讓人無能為力。像我,只能被迫離鄉背井,離開我的老公和唯一的小孩,飄揚過海到了一個我難以想像的國家。

這一切都源自於我們做的生意失敗,欠了銀行很多的債務。在求助無門的情況下,我接到一個訊息,我們村裡有一位仲介,他介紹我到國外工作。

最初,我的丈夫和家人都極力反對。但因為我不厭其煩的勸說與堅持,他們終於同意了。我開始著手辦理到國外工作的程序。台灣,是我的目的地。

我必須準備所有的看護工作文件。透過私人仲介,從這裡開始我出國的流程。

經過兩個月的等待,終於我得到一份工作機會。協助我的那位仲介主管,表示我會在工廠或商店上班,但因為我沒錢支付仲介費,所以會有很長的時間必須從我的薪資扣除。

(提供相關資訊,在工廠工作,如果不想被扣薪資,那麼以我的仲介費來說,定價是4,000萬印尼盾,或大概2,500~3,000萬不等,假設從銀行貸款,那麼還會被扣10個月薪資。)

但簽下我的那家仲介公司,能借錢給我們這些沒能力支付仲介費的人,等於我們的薪資會在第一年工作時按月扣除來償還。不過這不適用於家庭幫傭或看護工。

終於我同意簽下這份薪資扣除一年的勞動契約,開啟我在台灣的新生活。

***

2013年2月底,我第一次踏上台灣。經過桃園機場的出入境檢查之後,在隔天早上做健康檢查之前,我和我的同鄉還有其他國家的外勞,全部被帶去臨時收容所休息。

第二天做完健康檢查後,我和同一家仲介公司的朋友一起被接走,後來仲介公司帶我們去辦居留證、健保卡、以及其他證明文件。那天下午,我被送到雇主家。

「家?」我自言自語。
「我的工作不是在工廠嗎?為什麼我要被帶去雇主家?」我打從心裡疑惑。

我懷疑我的工作被設計了。等真的到了雇主家,我的猜疑更明確。
一名男子出來招呼我和開車送我去的翻譯員。

在客廳有兩個人。她們是這位男子的妻子與母親,這男子當然也就是我老闆了。
阿嬤的身體癱瘓,半身不遂,因此所有的動作都需要依靠幫助,從此我的工作就是照顧阿嬤。

「什麼?我的工作是照顧阿嬤?說好不是在工廠嗎?怎麼是看護工?」翻譯員解說我真正的工作內容後,我震驚地問。

雖然我的老闆事實上是有一間離家不遠、在同一個社區的寢具製造廠,但也因為規模很小,所以無法申請外勞許可。

這讓我越來越納悶,為什麼會發生這種事情。

「神吶,這就是你要給我的考驗嗎?請阿拉賜給我耐心毅力,來渡過祢的考驗。」我祈禱著。

果真,我每日的工作就是照顧癱瘓的阿嬤,還有其他家事。不幸的是,只有我跟阿嬤單獨住在大房子的四樓,而我的雇主住在不同地方。他們一個星期只回家三次,每次也只待短短幾個小時而已,從來沒留下來過夜。

我有語言溝通上的障礙,還有永遠做不完的工作,加上愛嘮叨又很會計算的阿嬤,使我感到非常緊張有壓力。沒日沒夜的工作,不像正規的工廠那樣計算薪資,也沒有加班費。

這樣的狀況,我是很受委屈的一方。我的實際工作是阿嬤的看護工,而在勞動契約上明明是廠工,除此之外,我每個月的薪資被扣稅還要被扣伙食費。但我的加班費也非正規的方式計算,是以天數計而不是以小時計,這樣很不公平,不是嗎?

不僅如此,我試著連絡仲介公司,想請他們幫我討回公道。很徒勞,仲介公司似乎不想插手管我的事情。我一直耐心等待,到處尋找管道,但願有人可以幫我找到解決方法。

在接近絕望的情況下,我帶阿嬤去公園散步時遇到一個人。原來他是逃跑外勞。我將我的難題一五一時地講給他聽,然後,他就建議我跟隨他的腳步。

他說薪資不但高,且免被扣這扣那,不用被勞動契約束縛,而且還提供許多誘人的福利設施。他甚至介紹他簽的那家地下仲介公司給我。
聽了這些敘述,真的對我十分誘惑,讓我內心很掙扎動搖。

我心想:「好吧,也許這對我來說是最好的辦法。」

我的仲介公司不是已經懶得理會我,而且也沒辦法幫我了嗎?再加上阿嬤的碎碎念,還誣賴我偷竊與吃她的東西,導致我越來越想做這樣的決定。

每當雇主回到家裡,阿嬤總是怨東怨西,每次誣賴我,不問事實真相,我都只有被指責的份。事實上,他們甚至搜我的衣櫃,來確認我是否真的偷了阿嬤的東西。

儘管沒有搜出任何東西,這樣也不能使他們滿意。雇主總是偏袒阿嬤,不顧我的感受,臭罵我一頓。他們認為,他們每個月付我薪水,因此他們有權利對我做任何事。

我的決心已定,想要聽從逃跑外勞給我的建議。我打包我所有的東西。當天下午我就會見地下仲介的人,尋求他的幫助。
但,阿拉來得正是時候,趁我還沒走更遠,沒辦法再回頭的前一刻。

上午……

就在同一天,我還沒從雇主家逃跑之前,我送阿嬤去醫院做復健。在那裡,我見到了以前跟我同一家人力仲介的朋友。我非常感激能再見到他,我告訴他我的遭遇,以及我意圖要從雇主家逃跑的事情。

他,我的朋友,極力反對我做這件只會傷害自己和國家聲譽的傻事。他奉勸我並告訴我當違法外勞的壞處。他甚至提供我解決的方式,也答應願意幫助我,讓我忍了下來,沒去當一個違法外勞。

他建議我撥外勞專線1955投訴,也幫我連絡印尼辦事處的專案小組,專門協助像我一樣遇到問題的外勞。這一切過程都需要耐心。

仲介只站在雇主那一方,他們知道我尋求法律援助後,嚴厲地責罵我,甚至揚言如果我不立即撤告,就要把我遣送回印尼。但我不怕,我的立場沒有改變。

加上我得到專案小組的幫助,我的案子已被呈報到勞工局。在我還沒被相關單位帶去收容所的前一天,我才終於知道為什麼我的雇主會假借廠工的管道來雇用我。

原來他們本來就有問題,而不被允許再申請外勞。
我在收容所待了三天,仲介來跟我談判。透過法律制度,我終於得到應得的權益。

仲介則被嚴厲警告,未來如果再有同樣的狀況發生,他們將被吊銷執照。另外,按照法律雇主被處易科罰金。

感謝神,我不懈地向阿拉表達我的讚美感恩,祂賜給我恩惠與祝福。
現在我已經獲得一個符合勞動契約上的合適工作,並且擁有我的權利。

阿拉最偉大。

「與艱難相伴的,確是容易。」(QS. Al- Insyiraah : 5)
因此每遇到困境都能順利解決。

阿拉的幫助即時來到。透過我的朋友,幫我的困境找到解決的出路。
我越來越相信祂的力量,像聖經裡的話語,祂知道什麼對祂的信徒是最好的。。

「或許你厭惡某件事,而它對你有益的,你也可能喜愛某件事,而它對你是有害的,阿拉知道你所不知道的事。」(QS. Al-baqarah : 216)

我的遭遇讓我上了一門課,我們一定要堅強忍耐面對所有的試煉。相信每件事情都會有解決方式。遵守法律而不要違規。那樣才不會弄巧成拙、悔不當初,甚至玷汙了國家的顏面。

發表迴響

你的電子郵件位址並不會被公開。 必要欄位標記為 *