誠懇的心聲 Suara Hati Yang Tulus

 2014 Babak penyisihan 印尼文初選 

📜 誠懇的心聲 Suara Hati Yang Tulus

👤 JURAGAN CINTA KASIH

Kisah hidup saya sewaktu kerja di Taiwan

Suatu hari cerah, saya membuka mata saya, yang saya lihat adalah langit cerah dan suara burung berkicau menghibur hati saya yang telah tersakiti karena meninggalkan keluarga saya yang jauh di kampung halaman saya. Tetapi saya tetap teguh dan berani menghadapi masa depan karena saya telah berhasil diterima Visa kerja saya untuk kerja di Taiwan. Saya berdoa kepada Tuhan, semoga ini jalan yang terbaik bagi saya, semoga keberanian saya tidak sia-sia.

Dengan hati yang penuh semangat kerja saya berangkat dari Agensi Indonesia menuju ke bandara Jakarta, Saya percaya saya punya kemampuan untuk membantu kesulitan keuangan keluarga saya sekarang yang bekerja sebagai petani yang kerap dilanda musim kemarau dan juga bisa mencari nafkah untuk membantu ayah saya yang telah terdiagnosa penyakit hati ringan 2 bulan yang lalu. Air mata menyelimuti muka saya dan keluarga sewaktu berpisah.

Sesampainya di bandara Jakarta saya terkesima atas megahnya gedung bandara dan ribuan manusia yang lalu lalang dengan gerakan yang sangat tergesa gesa tetapi sangatlah teratur. Tidaklah heran itu adalah demikian karena ini adalah bandara ibukota negri tercinta saya Indonesia. Setelah proses selesai di bandara maka saya naiklah ke pesawat terbang untuk pertama kali di dalam hidup saya, rasa gugup, takut bercampur bahagia menyelimuti hati saya sepanjang perjalanan. Beruntung saya mendapati tempat duduk di samping jendela, Jakarta, kota yang kerap dengan kemacetannya terlihat tertata rapi dan cukup asri dari mata seekor burung tinggi diatas langit.
Masa “Bulan Madu”

Sampailah saya di bandara negara Taiwan, Pilot sudah memberikan sambutan selamat datang tetapi sekarang bahasa yang dipakai telah dirubah menjadi bahasa Mandarin dan Inggris, saya mengerti karena saya belajar serius sewaktu di bangku SMA. Kesan pertama melihat bandara di Taiwan, saya tidak bisa menutup mulut saya karena terkesima atas kemodrenan desain dan kecanggihan fasilitas bandara, saya tanya petugas bandara pakai mandarin dasar yang saya pelajari di Indonesia, zhe ge shi shen me? Menanyakan apakah nama alat yang seperti eskalator tetapi datar, Travellator ujarnya.

Bukan hanya fasilitas di dalam bandara saja yang yang luar biasa, sistim transportasi sangatlah tertata dan terencana, seperti skyway (kereta listrik) yang menghubungi ke dua terminal bandara dan juga terkoneksi dengan kereta api peluru dan jalan tol, sangatlah mudah untuk kemana-mana, belum lagi papan petunjuk jalan ada di setiap sudut bandara.

Petugas imigrasi sewaktu di Jakarta bertampang sangar, sapaan saya juga tidak berkenan dijawab, lain cerita dengan petugas imigrasi bandara Taiwan, kata pertama yang saya dengar adalah Ni Hao ! dengan raut wajah yang ramah dan menyenangkan hati saya yang sangat gugup di negara asing yang tulisannya tidak saya mengerti sama sekali.

Karena tujuan saya untuk bekerja, maka saya juga tidak berbuang-buang waktu lagi untuk jalan-jalan di sekitar bandara yang bersih nan megah ini, saya langsung diantarkan oleh supir agensi saya ke kantor imigrasi untuk menekan sidik jari dan urus ARC. Seperti yang diprediksikan, kantor imigrasi menyelesaikan tugas dengan penuh efisiensi dan juga muka ramah, sewaktu ibu petugas sidik jari (orang Taiwan) menyatakan “duduk, dua jempol, empat jari kiri dan kanan“ saya langsung tersenyum dan bahagia, bahkan Bahasa Indonesia juga dipakai di kantor imigrasi, sebagai WNI saya merasa terhormat.

Sesampainya saya di agensi di Taiwan, sudah berbulan-bulan saya penasaran seperti apakah agensi saya yang di Taiwan? , sebelum datang Taiwan saya pernah beberapa kali interview dengan majikan dan agensi lewat telepon internet (skype) tetapi belum pernah terbaca seperti apakah ruangan kantor disana? Seperti apakah sien shen dan siao cie di kantor? . Akhirnya terjawab juga pertanyaan yang dibenak saya, mari saya bagi sedikit tentang agensi saya, lokasinya di Taipei, kantornya di sebelah 7-eleven dan berada di lantai 9. “Siao cie ni hao !” kata saya sewaktu dijemput di lantai bawah, jawabnya “nihao!” kata siao cie yang putih langsing nan tinggi ini, sebelum saya masuk ke pintu kantor , terpampang plakat nama agensi yang besar, lalu hal pertama yang saya lihat di dinding agensi saya, penuh dengan sertifikat-sertifikat yang ada bendera Taiwan diatasnya dan pasfoto dibawahnya, mungkin sertifikat dari agen/karyawan agensi. Menambahkan kepercayaan diri saya kepada agensi saya.

Setelah menandatangani dokumen-dokumen, lause (guru penerjemah) juga menjelaskan tentang biaya dan cara gajian dan hal hal yang perlu diperhatikan di Taiwan. Kesannya jelas, simpel dan transparan. Beruntung deh saya mendapat agensi yang kesannya bagus, jujur dan ramah, saya juga dikasih satu buku bahasa cukup tebal dan di dalamnya cukup mendetail untuk mengajari saya tentang bahasa mandarin. “Kalau ada apa-apa, masalah dan pertanyaan tentang apa saja, silahkan telepon ke nomor HP saya ya!” pesan lause penerjemah. Kartu nama ejen dan juga lause penerjemah juga dikasihkan ke saya, memberikan rasa dan kesan dilindungi dan dijaga oleh agensi Taiwan.

Sesampainya ke rumah majikan saya di Taiwan saya disambut dengan penuh ramah tamah dan dengan sikap yang sangat segan, ditawari tempat duduk dan juga bahkan ditawari air minum, perasaan saya yang penuh gugup awal mulanya telah berganti dengan hati yang senang. Saya menjaga nenek/ama yang terkena penyakit pikun seperti yang dikatakan dokter sewaktu medikal, di rumah ada sien sen,tai tai dan juga kedua anaknya yang sudah duduk di bangku sekolah SMP. Sangat senang bahwa ejensi dan penerjemah tidak tergesa-gesa untuk pergi setelah mengantari saya ke rumah majikan. Penerjemah pun juga ikut menjelaskan semua apa yang perlu saya ketahui mengenai jadwal kehidupan ama, obat-obatan dan makanan sehari-hari. Saya senantiasa dengan inisiatif mencatat semua. Kerjaan ini sama persis dengan perincian job yang saya pilih sewaktu di Indo sebulan yang lalu. Sangat jujur, jelas dan transparan, oleh karena itu, saya sangat berterima kasih oleh orang-orang yang telah bekerja keras memberikan saya kesempatan kerja di Taiwan. Dan saya bertekan akan selesai kontrak 3 tahun saya, semoga lancar.

Jia yo ! saya utarakan dengan lantang sebelum ejen pulang dari rumah majikan yang telah menjadi rumah kedua saya di Taiwan.
Jalan berbatu-batu

“wa thia bo ah!” ama sahut ke saya sewaktu saya mencoba komunikasi, rupanya ama ini berasal dari desa di Nantou dan tai tai bilang ama tidak ngerti bahasa mandarin. Untung saja ada buku panduan bahasa yang dikasihkan ejen dan juga tai tai pelan-pelan mengajari bahasa Tai Yi, tentunya saya juga harus semangat belajar dan rajin bertanya. Komunikasi dengan tai tai dan anggota keluarga yang lain juga tidak begitu lancar soalnya kosa kata mandarin saya sangat terbatas, menjadikan komunikasi saya dengan majikan terkesan lucu karena memakai tunjuk-tunjuk dan gerakan badan/ bahasa isyarat ( haha, seperti orang bisu saja). Untunglah taitai sabar dalam mendidik dan mengajari saya.

Ama pikun kadang sewaktu kambuh bisa lebih repot, sering bertanya hal hal yang sama lebih dari 5 kali dan juga kelupaan sudah minum obat atau bahkan sebaliknya, kelupaan belum minum obat. Kasihan si ama dulunya guru SD yang gemar menulis dan membaca buku, sekarang termakan oleh kejamnya waktu.

Kiranya saya makanan di Taiwan seperti makanan oriental di Indonesia, rupanya jauh berbeda. Pernah saya diajak keluarga jalan jalan ke pasar malam untuk makan malam. Jajanan di pasar malam sangatlah enak, apalagi saya sendiri penggemar kue dan gorengan tetapi satu saja makanan yang membuat saya terkejut, Chou Tou Fu atau Tahu Busuk, namanya menjelaskan segalanya, busuknya itu boleh dibilang luar biasa, aromanya mengingatkan saya dengan aroma sampah busuk yang dibakar dan juga bau badan yang berkeringat, majikan memesan sepiring besar untuk dibagi-bagi, karena saya sudah jauh-jauh kerja di Taiwan dan juga saya penggemar makanan dan suka mencoba-coba rasa yang unik, saya coba-in deh tahu busuk ini, saya mencoba untuk menahan nafas saya dan mencerna tahu beserta kol yang sudah difermentasikan, rupanya lumayan enak, sangat garing dan kolnya juga mengurangi aroma busuknya, tak heran juga mengapa ini salah satu makanan favorit orang Taiwan, coba majikan mencoba petai atau jengkol, apakah mereka bisa suka ya?.

Saya telah jatuh sakit, kepala pusing beserta demam bertepatan pada pergantian musim dari musim panas menjadi musim dingin kira-kira bln 10, sebentar panas sebentar dingin dan hujan, mungkin karena cuaca saya jatuh sakit. Tai tai bawa saya ke dokter dan diperbolehkan untuk istirahat tidur siang lebih lama dari biasanya sampai kesehatan saya pulih kembali. Untunglah ada kartu Askes, bayar berobat murah, saya takut banget kalau berobat mahal seperti di kampung, rupanya jauh berbeda berkat pemerintah Taiwan ada program Askes.

Pernah sehari sewaktu dipesan majikan untuk beli sayur saya tersasar tidak bisa pulang karena saya tidak bisa membaca bahasa mandarin, karena alamat jalan semua ditulis dengan bahasa mandarin, saya mondar-mandir cari jalan tetapi tidak ketemu, untung saya diperbolehkan majikan memakai handphone maka saya langsung menelepon taitai dan saya memberikan handphone ke pejalan kaki untuk menjelaskan lokasi saya dan tai tai langsung naik motor untuk mencari dan menjemput saya. Saya terus minta maaf dan takut saya akan dikenakan sangsi tetapi tai tai saya yang sabaran dan lemah lembut bilang ke saya “meikuansi” tidak apa apa “sia ci yao cu yi o” lain kali harus perhatikan jalan ya, “hao !” jawab saya.
Isi Hati Saya

Saya sangat berterima kasih ke Tuhan diberikan majikan yang seperti keluarga sendiri di Taiwan tetapi perasaaan rindu akan keluarga sendiri dirumah tidak bisa dihapus sepenuhnya hanya dengan SMS atau teleponan. Terkadang saya kirim uang dan barang ke keluarga saya ongkos kirim dibantu tai tai, walaupun keluarga tai tai bukan orang yang sangat punya, sien sen hanya seorang tukang jual dan reparasi ban mobil, tetapi mereka sangat disenangi tetangga sekitar dan sesekali saya juga ikut bantu bantu jadi relawan daur ulang dengan di sebuah tempat daur ulang yang mereka jalani selama lebih dari 15 tahun, ama juga ikut berkerja dengan senang hati.

2 tahun 10 bulan telah berlalu, saya menerima kabar dari ibu dikampung mengatakan dengan suara sedih dan sembari nangis “ayah sudah sakit parah nak, pulang ya nak !” ,sebulan yang lalu Ayah dibawa ke rumah sakit di Jakarta untuk di diagnosis hatinya, Ayah rupanya terkena kanker hati stadium menengah dan perlu perawatan lebih lanjut di rumah sakit. Majikan juga meneteskan air mata sewaktu saya mengabari bahwa ayah sudah sakit parah dan perlu pulang lebih awal untuk menjaga ayah.

“sie sie ni, sing ku ni le” Terima kasih atas jasa kamu, kata siensen sewaktu mengantari saya ke bandara berbarengan dengan ama dan taitai. Keluarga di Taiwan telah saya anggap sebagai keluarga saya sendiri maka dari itu, hati saya juga sakit dan sedih untuk meninggalkan mereka dan tai tai juga menunjukkan kesedihannya dari air mata dia. Foto terakhir dijepret 2 kali oleh petugas bandara dengan kamera Polaroid (kamera instan), 1 fotonya untuk saya, 1 lagi fotonya untuk majikan untuk kenang kenangan.

“Jaga diri baik baik, kamu punya masa depan yang baik, karena kamu punya hati yang tulus yang selalu membantu tanpa pamrih dan tetap kirim salam ke kita ya, kalau kita ke Indonesia kita akan berkunjung, jangan lupa kabari kita juga kalau ada kembali ke Taiwan ya, pintu rumah kita selalu terbuka untukmu” kata tai tai sembari memberikan bingkisan amplop merah, “ Ini semoga bisa membantu ayahmu, semoga dia cepat sembuh” , Biasanya saya segan menerima bingkisan uang tetapi teringat ayah yang sangat membutuhkan sekarang, saya hanya bisa berkata “xie xie tai tai, xie xie sien sen”, mata air berlinang saya memeluk ama untuk terakhir kalinya, memeluk tai tai dan menyalami siensen. Setelah itu mulailah saya berjalan ke gerbang imigrasi bandara….

Cinta…, itu tidak terbatas oleh ras, agama, budaya, hubungan sosial dan bahkan bahasa, terbukti dari kisah hidup saya. Cinta adalah bahasa yang tidak kasat mata antar sesama makhluk hidup. Rejeki/uang selalu bisa dicari tetapi kalau kita kehilangan cinta terhadap seseorang, itu akan hilang selamanya, teruslah menebar cinta kasih kepada sesama, memberi tanpa berharap menerima, maka hidup kita tidak akan sia sia yang hanya diperbudak oleh rejeki.


 2014 Babak penyisihan 印尼文初選 

📜 誠懇的心聲 Suara Hati Yang Tulus

👤 JURAGAN CINTA KASIH

我在台灣工作的生活故事

一個陽光燦爛的日子,我睜開眼睛,看見晴朗的天空,以及鳥叫聲,這安慰了我受傷的心,因為我離開家鄉的親人。但我還是堅強勇敢的面對未來,因為我已經成功拿到台灣工作簽證。我向神禱告,希望這對我是最好的方式,也希望我的勇氣沒有白費。

心懷著滿滿的鬥志,我從印尼仲介公司到雅加達機場。我家務農,稻田時常遭受乾旱,而我的爸爸兩個月前又被診斷出罹患輕度肝病,我相信我有能力幫忙解決家裡的經濟困境。當我即將離開家人的那一刻,淚水籠罩了我的臉。

到了雅加達機場,我愣住了,因為看到機場宏偉的高樓大廈,和上千上萬人匆匆地走來走去,不過很整齊。也難怪,因為這就是我親愛的祖國印尼的首都。通過機場的手續,這是我生命中第一次搭飛機,緊張、害怕,夾雜著興奮,一路上淹沒了我,讓我不知所措。很幸運的,我得到靠窗的位子。雅加達,時常塞車的城市,透過像天空的鳥兒一樣高高在上的眼睛,它看起來是如此整齊而美麗。

蜜月期

到了台灣的桃園機場,機長改用中文和英文致歡迎辭,我聽得懂,因為在高中時期我有很認真的學習。看到台灣的第一個印象,我目瞪口呆,嘴合不攏,因為機場完善的設計以及精緻的現代感。我用在印尼學的簡單中文和機場人員對話:「這個是什麼?」詢問電動手扶梯的名稱。「Travellator。」他回答。

不只機場的設備令人難以置信,交通運輸系統很有規劃,例如像捷運連接兩個登機航廈,還與高鐵以及高速公路相連,四通八達去哪裡都很方便,加上在機場的每個角落都看得到指示路標。

在雅加達的移民署官員臉色都很嚴厲陰沉,也不會回應我的問候,和台灣機場的移民署官員不一樣,我聽到的第一句話是「你好!」一張友善的臉龐,在我完全不識字的異國裡,沖走我緊張的心情。

因為我的目的是來打工賺錢的,因此我不能浪費我的時間逛大又乾淨的機場,仲介公司司機送我去移民署辦居留證和按捺指紋。如預測,移民署人員也很有效率並友善地完成他們的工作,負責指紋的移民署人員(女性)說:「坐下,兩個大拇指,四個左右手指。」我高興地笑了,移民署辦公室甚至還用印尼文,做為一個外勞很榮幸,我感覺被尊重。

到了台灣仲介公司,我很好奇,已經好幾個月了,我依然好奇。台灣仲介公司到底長怎樣?來台灣之前,我已經透過網路電話(skype)與雇主和仲介訪談過多次,但還是無法想像,像是待在辦公司的會是小姐?還是先生?終於我腦海裡的疑問有了答案。我來介紹一下我的仲介公司,位於台北,旁邊有一家7-eleven,辦公室在9樓。在樓下時,我打招呼:「小姐妳好!」皮膚白白身材窈窕的小姐回答:「你好!」還沒進公司大門,我看見很大的仲介公司招牌,然後辦公室牆上,我第一個看到的是印有台灣國旗的證書以及照片,可能是仲介公司的證書或代理雇工的證書。這樣的仲介公司,增加我的信心。

簽完證件,Lause(翻譯老師)也解釋相關費用以及薪資計算方式。簡單明瞭透明化,誠信友好,讓我有很好印象。我也收到一本很厚的語言學習書,裡面寫著詳細的中文教材。「如果有事,或有任何疑問,請你打我的手機哦!」翻譯老師交代。並給我仲介、與他的名片,讓我有種被台灣的仲介呵護與照顧的感覺。

到了雇主家,我的老闆十分熱心腸,隨和地叫我坐下,倒水給我喝,原本剛開始神經緊繃的感覺,立刻被愉快的心情替代。我負責照顧阿嬤,如醫生說她患有阿茲海默症。家裡其他成員還有先生、太太、與兩個目前就讀國中的小孩。很高興仲介和翻譯人員送我到雇主家之後沒有急著走,翻譯人員幫忙解釋一切我所需要知道的阿嬤的日常作息、藥物、與飲食。我一一把交待的事都記了下來。這工作和一個月前還在印尼時選的工作,完全一樣。很誠實、清楚、透明,因此,我非常感謝那些給我機會到台灣工作的人。而且我會做滿三年,直到我的工作合約到期為止,希望一切順利。

加油!在仲介還沒從雇主家大門離開前,我大聲地喊。

坎坷的道路

「挖聽某啦!」(台語:我聽不懂啦)當我努力溝通時,阿嬤這樣回答。原來阿嬤是南投人,太太也說阿嬤聽不懂國語。很慶幸的有仲介給我的語言學習書,太太不斷的教我台語,當然我自己也要努力學習,還要敢於發問。與太太和其他家庭成員的溝通也沒那麼順利,因為我所知道的中文詞彙很有限,造成我和雇主的溝通變的很搞笑,用肢體語言比手畫腳(哈哈,好像啞巴似的)。幸好太太很有耐心地教導我。

阿嬤老年健忘,發作的時候很令人頭痛,同樣的事情常常問超過五遍,也時常忘記已經吃過藥,或反過來,忘記吃藥。阿嬤很可憐,以前她是一位國小老師,喜歡書寫和閱讀,而現在輸給殘酷的歲月。

在我的想像中,台灣食物就像在印尼看到的東方食品,但顯然差別很大。雇主一家人曾帶我逛夜市吃晚餐。夜市的小吃很不錯,更何況我喜歡吃蛋糕及油炸的食物,但仍有一種食物令我震驚。臭豆腐,它的名字說明了一切,它的臭我無法形容,味道令我想起被燒過的垃圾和汗臭味。雇主叫了一份大的,我們一起分著吃,因為我從遠地來到台灣工作,而且喜歡吃也勇於嘗試特別的風味,我就試吃了這臭豆腐,我憋著氣吃進豆腐和泡菜,似乎還不錯,難怪這是台灣最受歡迎的食物之一,如果給雇主試吃臭豆和jengkol(註:印尼食品),他們也會喜歡嗎?

從夏天到冬天,10月季節變化,忽熱忽冷加上下雨,我生病了,頭暈加發燒,可能是天氣讓我生病。太太帶我去看醫生,也允許我午休時間比平常久,直到我恢復健康。好在有健保卡,看病比較便宜,我真的很害怕會像家鄉一樣貴,原來差別很大,感謝台灣政府有健保方案。

有一天雇主叫我去買菜,結果我迷路了,因為看不懂中文字所以回不了家。路上所有的標誌門牌都是中文字,我在街頭來回找了好久都找不到路,幸好我的雇主允許我用手機,我立刻打給太太,然後我把手機拿給一位路人,請他幫忙說明我目前的位置,太太立刻騎著摩托車來找我,接我回去。我不停地向太太道歉,因為擔心會被處罰,但溫柔又有耐心的太太對我說:「沒關係,下次要注意喔!」我立即回答:「好」。

我的心聲

我很感謝神給我那麼好、像家人一樣的雇主,但是對自己家人的思念沒辦法用簡訊以及電話來彌補。有時我匯錢或寄物品回印尼,太太都會幫我付手續費,雖然太太也不是真的很有錢,先生只是汽車輪胎的維修經銷商,但鄰居都很喜歡他們,偶而我也跟著幫忙在一個資源回收場當志工,他們已經做回收15年了,阿嬤也做得很開心。

兩年十個月已過去了,我收到家鄉媽媽的訊息,用哀傷的聲音邊哭邊說:「爸爸生重病,女兒,回家吧!」一個月前,爸爸被送去雅加達的醫院檢查,原來爸爸罹患中度肝癌,需要進一步住院治療。聽到我因為需要照顧爸爸必須提早回國,我的雇主也難過得熱淚盈眶。

「謝謝妳,辛苦妳了。」在送我去機場時,太太、阿嬤和先生說。台灣的雇主家人把我當成自己家人,因此我也很難過,捨不得離開他們,太太流下眼淚露出哀傷的表情。最後一張照片,是機場人員用拍立得拍了兩次,一張給我,另一張給雇主留作紀念。

「照顧好自己,妳一定會有很好的前途,因為你有一顆真誠無私的心,保持聯絡哦!如果我們去印尼一定會去拜訪妳,如果妳回台灣,不要忘了通知我們哦!我們家永遠歡迎妳!」太太邊說,邊塞紅包給我:「希望這能幫你爸爸,祝他早日康復。」通常我會不好意思拿紅包,但想到爸爸現在迫切需要用錢,我只能回答:「謝謝太太,謝謝先生。」我流著眼淚擁抱阿嬤、太太最後一次,與先生握手。之後我開始走進機場出境的大門。

愛,不分種族、宗教、文化、社會關係、甚至語言限制,這都從我的生活故事裡見證了。愛,是人類之間一種透明的語言。金銀財寶隨時都可以追求,但一旦我們失去了愛,那就永遠失去。要繼續散播愛給他人,不求回報,這樣我們的生活才不會被財富給奴役、控制。

發表迴響

你的電子郵件位址並不會被公開。 必要欄位標記為 *