早晨之前 Sebelum Pagi

【2015年得獎作品】優選Choice Award

Sebelum Pagi / Oleh Arumi Olive

“”Ama, aku rela tidak tidur malam ini asalkan masih bisa melihatmu pada pagi-pagi yang akan datang. Ama, berjanjilah padaku?””

Ratih menggenggam erat jemari Amanya yang hangat. Kepalanya bersandar di bahu ranjang menatap sesosok perempuan yang terbaring di hadapannya. Ada cairan bening yang tertahan di kelopak mata Ratih, perlahan membasahi pipinya. Sebisa mungkin Ratih meredam isak tangisnya agar tak mengganggu pasien yang lain.

Sementara perempuan yang terbaring di ranjang tampak begitu lelah dengan alat bantu pernafasan yang terus memompa oksigen ke dalam paru-parunya. Selang dan kabel-kabel bertebaran di atas selimutnya. Alat monitor mengeluarkan bunyi yang nyaring ketika angka di layarnya berwarna merah. Lalu suster akan datang menghampiri sembari menepuk-nepuk lengannya, “”Ama… Jangan lupa bernafas, Ama!””

Dada Ratih terasa semakin sesak jika mengingat kata-kata dokter sore tadi, “”Kami tidak bisa menjamin berapa lama Ama mampu bertahan. Kalau tidak malam ini mungkin besok pagi.””

Ucapan dokter seolah harga mati yang tidak bisa ditawar lagi. Meski begitu, Ratih tidak kehilangan harapan bahwa Amanya mampu melewati masa kritis. Dalam diam  Ratih tak henti berdoa. Tatapannya tak sedetik pun beralih dari wajah Ama dan layar monitor. Jantungnya bagai pacuan kuda yang siap dihentak kapan saja manakala angka yang tertera di sana berubah tak beraturan. Baris pertama pada layar menunjukkan detak jantung Ama, baris kedua menunjukkan tekanan darah dan baris ketiga menunjukkan jumlah oksigen yang masuk ke paru-parunya.

Jarum jam dinding di samping pintu masuk sepertinya diberi pemberat. Hingga sedetik berlalu terasa sangat lama bagi Ratih. Pukul 02.00 dini hari, kantuk yang biasa menggelayuti Ratih sama sekali tak mampir. Mungkin si kantuk sedang berjalan-jalan menyusuri lorong-lorong yang tadinya hiruk-pikuk kini perlahan hening. Sebagian pasien yang masih terjaga hanya mampu membolak-balikkan badannya di atas tempat tidur. Suster terlihat mondar-mandir mengecek selang infus pasien-pasiennya. Sesekali terdengar suara orang mengaduh kesakitan. Ingatan-ingatan dalam kepala Ratih sedang membentuk serangkaian pertunjukkan. Bising dalam kepala membuat matanya terpejam erat.

Sirene ambulance berhenti di depan pintu rumah sakit. Empat orang berlarian mendorong sebuah ranjang dengan seorang perempuan yang terbaring lemah di atasnya. Lelaki berseragam putih menghadang mereka, dengan cekatan ia memasang alat pengukur tensi darah, meletakkan termometer di telinga, dan mencatat jumlah oksigen yang dihirup.

Banyak orang yang lalu-lalang tapi di hadapan Ratih yang tampak hanyalah seorang perempuan yang dikerubuti tangan-tangan liar. Tangan-tangan itu mulai mengambil darah dari pergelangan tangan, jika tidak ada darah yang keluar, tangan-tangan itu kembali menusukkan jarum di bagian lain. Ratih sudah terbiasa dengan pemandangan seperti itu sejak sebelas bulan yang lalu. Berulangkali hingga ia lupa bagaimana rasanya nyeri.

“”Kamu sudah menghubungi keluarganya?”” tanya dokter.

“”Mereka sedang dalam perjalanan ke sini,”” jawab Ratih yang berdiri diujung memegangi telapak kaki Ama.

“”Kalau bisa suruh cepat sedikit, kondisinya sudah tidak memungkinkan.””

Ratih hanya diam tak bergeming, raut mukanya sama sekali tidak menunjukkan kepanikan. Sebentar lagi Ama pasti akan kembali normal, pikirnya. Sejak paru-paru Ama mengalami infeksi, Ratih biasa dikejutkan Ama yang tiba-tiba sulit untuk bernafas. Kadang bibir Ama hampir membiru karena darah yang tersebar kekurangan oksigen.

Tapi kali ini lain dari biasanya, sudah hampir 30 menit kondisi Ama belum stabil. Kadar oksigen yang masuk ke dalam paru-parunya hanya 60-75 %. Foto rontgen di layar monitor itu adalah paru-paru Ama yang sebagian besar telah berwarna putih, hanya sedikit celah hitam yang tampak. Nafas Ratih mendadak tercekat di tenggorokan ketika ia tahu bahwa celah hitam itu adalah udara yang masuk ke dalam paru-paru Ama.

Ratih menyodorkan selembar kartu berwarna merah muda pada dokter. Kartu itu berisi wasiat dari Ama yang apabila suatu saat ia sakit, Ama tidak ingin menjalani operasi besar.

“”Jika itu yang diminta Ama maka kami hanya bisa melakukan semampu yang kami sanggup,”” ucap dokter sembari menepuk bahu Tuan Han, putra Ama.

***

Ratih terperanjat dari kursi tempatnya duduk, rupanya ia tidur-tidur ayam untuk memulihkan tenaga. Tiba-tiba bibir Ratih tersenyum sinis, seolah-olah dia telah memenangkan sesuatu. Ratih bersyukur karena tidak mempercayai ucapan dokter sore tadi yang mengatakan bahwa Amanya tidak mampu bertahan lama. Pukul 05.00 pagi dilihatnya Ama mulai bernafas tanpa tersengal-sengal meskipun belum berada dalam kondisi aman. Dengan tenang Ratih beranjak ke kamar mandi, ia membasuh wajahnya. Di depan cermin ia melihat seseorang tengah tersenyum kepadanya.

“”Kamu tidak lelah?”” tanya suster.

Ratih menggelengkan kepala, “”Aku hanya menemani satu orang, sementara Suster harus merawat begitu banyak pasien.””

Keluar-masuk dan tinggal di rumah sakit membuat Ratih belajar tentang banyak hal. Bahwa ternyata pikiran yang selalu positif mampu membantu membentuk kekebalan tubuh. Ia merasakan sendiri perbedaan itu. Walau waktu istirahatnya dibawah normal dan pola makannya yang kadang tidak teratur jika diimbangi dengan pikiran tenang mampu menahannya dari kelelahan. Namun justru berbeda terbalik meskipun waktu istirahatnya cukup dan pola makan sehat tapi ketika pikirannya kacau membuat Ratih mudah kelelahan dan tidak bersemangat.

Sebuah rahasia yang Ratih pelajari saat kesembuhan pasien tidak hanya tergantung dari tangan dokter tapi dari keyakinan pasien itu sendiri untuk sembuh. Maka rajin-rajinlah Ratih membisikkan sepatah dua patah kata ke telinga Ama.

“”Ama, musim semi akan segera datang. Cepatlah sembuh!”” bisik Ratih. ‘Cepatlah sembuh, sebelum bunga-bunga itu layu karena terlalu lama menunggumu’, lanjut Ratih dalam hatinya.

Tangan Ratih mengeluarkan sebuah amplop coklat dari dalam tasnya. Ia membuka bingkisan itu dengan sangat hati-hati. Buku kecil dengan sampul warna hijau. Ratih mulai membukanya lembar demi lembar, hatinya turut gemetar. Ia berdiri lalu memeluk erat Ama, dikecupnya kening perempuan itu.

Beberapa bulan lalu Ratih mengikuti perlombaan menulis cerpen yang diadakan oleh Dinas Tenaga Kerja Asing pemerintah Taipei. Meskipun ia bukan juara pertamanya tapi kisahnya menjadi bagian dari buku itu. Seandainya Ama masih sehat mungkin belaian lembut tangan Ama akan mendarat di kepalanya. Tapi kini Ratih tak punya banyak waktu untuk berandai-andai. Itu hanya akan membuat air matanya berlinangan.

Sebelas bulan bukanlah waktu yang sebentar untuk terbaring 24 jam di atas tempat tidur. Sejak sebelas bulan itu pula Ratih tak lagi mengenal musim. Hari-harinya dihabiskan untuk menemani Ama yang tidak sadarkan diri. Saraf otak Ama mengalami kerusakan sejak kali pertama ia masuk rumah sakit karena pneuomonia atau biasa dikenal dengan radang paru-paru. Paru-paru Ama mengalami infeksi saat ia tersedak makanan.

Ratih bisa saja meminta libur jika ia mau, tapi ia tidak tega meninggalkan Ama terlalu lama. Pernah suatu ketika Tuan Han menyewa perawat dari China ketika Ama berada di rumah sakit. Namun pikiran Ratih justru tidak tenang saat sampai di rumah ia ingin segera kembali ke rumah sakit menemani Ama. Rasa sayang Ratih itu bermula ketika awal pertamanya berjumpa dengan Ama. Ratih seperti menatap mata ibu di wajah Ama. Ratih memperkenalkan diri sebagai sebagai seorang anak yang ingin menemani hari-hari Ama. Saat itu Ama masih mampu tersenyum ketika berbicara denganya. Ratih merindukan senyum itu dari wajah yang kini terbaring lelah.

Tak terasa hampir seminggu sudah Ama menginap di kamar itu. Ada yang berbeda dari malam-malam biasanya, Ratih merasakan kedamaian dalam hatinya. Melihat kondisi Ama yang tidak juga stabil membuat Ratih perlahan-lahan membuka cara berpikirnya.

“”Tiiit… tiit… tiit.”” Alarm Ama melengking nyaring. Ratih menekan tombol darurat untuk memanggil dokter.

Serombongan dokter dan suster berlarian menuju ruangan sementara Ratih menunggu di luar pintu. Kakinya mendadak seperti kehilangan tulang, ia tak mampu berdiri dengan tegak. Namun ketegangan itu tidak berlangsung lama. Ratih bisa kembali duduk dengan tenang di samping Ama.

Di tengah keheningan malam Ratih membisikkan kalimat pada Ama.

“”Ama, jika memang tubuhmu sudah letih maka izinkan aku untuk mengantarmu pulang dengan damai.””

***

Ratih terbangun dari tidur ketika ia merasakan ada seseorang membelai kepalanya. Hari pemakaman telah usai, kini Ratih tak lagi dikagetkan dengan bunyi alarm yang melengking nyaring. Tapi jantungnya tetap berdetak kencang ketika sekelebat senyum itu hadir dalam mimpinya.

‘Amaku tersayang, jika aku bisa mengirimkan surat ini ke surga maka aku hanya akan mengirimkan selembar kertas kosong untukmu. Tak ada yang perlu dituliskan di sana. Kisahmu telah tinggal dalam ingatan kami, rasa sakitmu telah kami rasakan juga. Menyisakan luka yang harus kami pelihara entah sampai kapan. Tapi musim semi akan tetap berganti.’

Ratih menghanyutkan gulungan kertas itu di tepi pantai. Tepat tak jauh dari tempatnya berdiri, bunga sakura menyembulkan kuncupnya.

In Memory of Ama.
Januari 2015.



【2015年得獎作品】優選Choice Award

早晨之前 / Arumi Olive

「阿嬤,我願意今晚不睡,只要我還能在往後的早晨見到妳,答應我好嗎?」

拉蒂握緊阿嬤那溫暖的手。她的頭靠躺在床上女人的肩膀上。透明的淚水卡在拉蒂的眼睛,慢慢地滑落雙頰。為了不影響其他病人,拉蒂盡可能低聲的哭。

躺在床上的女人看起來很無力,呼吸器不斷的抽氧氣進入她的肺裡。管子與導線散落在她被子上。監控工具亮起紅色時發出很大的聲音,然後護士會過來拍拍阿嬤的手臂,「阿嬤……不要忘了呼吸,阿嬤!」

當拉蒂想起醫生中午時說的話,她的胸口感到更悶。「我們無法保證阿嬤能維持多久。若不是今晚,很有可能明天早上。」

醫生的話沒得商量,像被訂死的價錢。雖然這樣,拉蒂沒失去希望,但願阿嬤能度過關鍵時期。沉默中拉蒂不斷的祈禱,她的注視沒有一秒離開阿嬤的臉與監視螢幕。她的心臟如賽馬一樣,當螢幕的數字有了變動隨時都被鞭打。螢幕上的第一排顯示阿嬤的心跳,第二排顯示血壓,而第三排顯示進入肺部的氧氣量。

入口旁的時鐘彷彿有了重量。一秒都能讓拉蒂感到很長的時間,凌晨兩點,再平常不過的睡意,如今完全沒有找上拉蒂。可能那睡意正在方才熱鬧現在轉趨寂靜的走廊上遊蕩。有一部分病人還醒著,僅僅能夠在床上翻翻身體。看見護士走來走去檢查病人的點滴,偶而聽到痛苦的呻吟聲音。拉蒂的腦海裡正在編排一連串的表演。腦裡的吵鬧聲讓她閉起她的眼睛。

救護車的鳴笛聲停在醫院門口。四個人推著擔架,上面躺著一位看起來無力的女人。穿白色衣服男生在他們面前,靈巧的幫她量血壓,在耳朵放一個溫度計以及寫下被吸入的氧氣數量。

很多人走來走去,但拉蒂只看見女人身上很多手飄來飄去。那些手開始從手腕抽血,如果抽不出血,那些手就把針插在別的地方。拉蒂已經習慣看見那種情節,從11個月前已經數不清,直到她忘了什麼叫疼痛的感覺。

「你連絡她的家人了嗎?」醫生問。 

「他們已經在路上了。」握住阿嬤腳底板的拉蒂回答醫生。

「盡可能的快一點,她的狀況很不樂觀。」

拉蒂只有沉默不為所動,臉上的表情完全沒有恐慌,心想阿嬤一會兒就會好。自從阿嬤得到肺部感染,拉蒂時常被阿嬤嚇到,因為阿嬤會突然呼吸困難。阿嬤的嘴唇發藍,因為血氧不足。

但這次與往常不同,已經快30分鐘了,阿嬤的狀況還沒有穩定。進入肺部的氧含量只有60-75%。在螢幕上的X光就是阿嬤的肺部,大部分已經變白色,只看見黑色小縫隙。拉蒂的氣卡到喉嚨,當她知道那黑色小縫隙是進入阿嬤肺部的空氣。

 拉蒂給醫生一張粉紅色卡片。那張卡寫著阿嬤的遺書,若哪天她生病,她不想動重大手術。

 「如果這是阿嬤的要求,我們也只能竭盡我們所能。」醫生邊說邊拍阿嬤的兒子,韓先生的肩膀。

***

拉蒂在她的座椅驚醒,原來為了恢復力氣,她閉目養神。突然拉蒂的嘴唇勝利地笑,感覺她贏得了某些東西。拉蒂心存感激,因為沒有相信醫生中午時說的,阿嬤無法撐多久。05:00早上,她看見阿嬤能很順暢的呼吸,雖然還沒脫離危險期。拉蒂安心的去洗手間洗臉,在鏡子前她看到一個人正對著她微笑。

「你不累嗎?」護士問她。

拉蒂搖搖頭,「我陪一個人而已,護士還要照顧更多人。」

進進出出醫院讓拉蒂學到很多東西,往正面想能幫助身體增強免疫力,她自己感受到那差別。儘管她的休息時間不足,吃飯時間不穩定,但如果配合平靜的心,就能抵擋疲憊感。反而當休息時間足夠、飲食習慣健康時,沉浸在煩惱中,亦能使拉蒂感到容易疲倦沒精神。

拉蒂學到一個祕密,病人的康復不是靠醫生的手,而是病人對自己康復的信心。所以拉蒂很勤勞的在阿嬤耳朵旁說一兩句話。

「阿嬤,春天快到了,趕快好起來!」拉蒂小聲的說。「趁那些花還沒枯掉之前趕快好起來」拉蒂接著在心裡說。

拉蒂從她包包裡拿起巧克力色信封。她小心翼翼的打開,一本綠色的小冊子。拉蒂開始一頁一頁的翻開,她的心跟著發抖。她站起然後抱住阿嬤,親吻她的額頭。

幾個月過後,拉蒂參加台北市勞動局舉辦的文學獎。雖然她沒有拿到第一名,但她的故事成了冊子裡的一部份。假如阿嬤還健康,可能阿嬤那溫柔的手會停在她頭上。但現在拉蒂沒有太多時間來想這些假設,因為只會讓她掉眼淚。

十一個月不是很短的時間,因為24小時都躺在床上。也是從那十一個月後,拉蒂不再知道季節。她的每日作息都陪著昏迷的阿嬤。從第一次進醫院,阿嬤的大腦神經就損壞了,因為罹患肺結核。阿嬤噎到食物時,肺部發炎。

其實如果拉蒂想要,她可以要求放假,但她捨不得離開阿嬤太久。有一次阿嬤進醫院時韓先生請了大陸籍看護,拉蒂反而無法安心的回到家裡,她很想盡快去醫院陪阿嬤。拉蒂對阿嬤的親情從第一眼見到阿嬤就產生了,當時拉蒂感覺在阿嬤臉上看到母親的眼睛。拉蒂介紹自己是女兒,每日陪著阿嬤。當阿嬤跟她講話時,那時候阿嬤還能微笑。阿嬤雖然無力地躺在床上,但是她的笑容還是讓拉蒂懷念。

阿嬤住在這房間,不知不覺快要一星期。與前幾晚的夜晚有所不同,在拉蒂心裡感到安寧。看到阿嬤的狀況到如今還不穩定,讓拉蒂慢慢打開重新思考的方式。

「鈴… 鈴… 鈴」阿嬤的警報鈴響了。拉蒂按緊急按鈕叫醫生。

一群護士與醫生跑到病房,而拉蒂在門外等候。她的腳突然感覺好像沒有骨頭撐住,她無法站直。那些緊張時段沒有很久,拉蒂可以再度安心的坐阿嬤旁邊。

在寧靜的夜晚,拉蒂對阿嬤嘀咕幾句話。

「阿嬤,如果妳真的很累了,請允許我安寧地送妳回祂的身邊。」

***

當拉蒂感到有人摸她的頭時,她從睡眠中醒來。葬禮儀式已經結束了,現在拉蒂再也不會被大聲的警報鈴嚇到。但當那笑容出現在她夢裡時,她的心臟還是跳得很快。

「我親愛的阿嬤,如果我能寄這封信到天堂,那我會寄一張空白紙給你。不用寫任何字,你的故事停在我們的腦海裡,你的疼痛我們也能感受得到。留下了不知道我們要休養到何時的傷口。不過春天還是會被取代。」

拉蒂把捲起來的紙丟在她站的海邊,櫻花冒出花蕾。

In Memory of Ama.(對阿嬤的追思)

Januari 2015.        

 

 

發表迴響

你的電子郵件位址並不會被公開。 必要欄位標記為 *