業豐和CARLOS的故事 KISAH YE FENG DAN CARLOS

【2014年得獎作品】業豐和CARLOS的故事 KISAH YE FENG DAN CARLOS

Cerpen oleh: Erin Cipta

Ye Feng kegirangan bercanda dengan Carlos, seekor anjing peranakan Akita yang berbulu lebat berwarna putih dan coklat keemasan. Ye Feng yang pendek gempal tampak lucu bergelut dengan Carlos yang besarnya hampir sama. Tawanya riang, disela oleh salak Carlos yang nyaring. Mereka berkejaran, bergulingan, dan berpelukan seperti sepasang bocah kecil.

Aku pekerja rumah tangga keluarga Wu yang tinggal di dekat pelabuhan, daerah Yilan. Perkerjaan utamaku mengurus seorang lansia, Ibu Tuan Wu, yang sebenarnya sehat, namun karena usianya hampir 100 tahun, maka apapun yang dilakukannya selalu butuh dibantu. Tugaskulah membantu segala keperluan Ama, begitu kami memanggilnya. Namun aku tetap harus melakukan pekerjaan bersih-bersih dan mamasak.
Keluarga Wu sangat baik. Tuan dan Nyonya bekerja setiap hari.  Ye Feng-anak sulung mereka, pemuda usia 26 tahun ini adalah seorang lelaki dewasa yang terjebak dalam alam pikir anak kecil. Badannya gemuk gempal, dan wajahnya bulat kekanakan. Lidahnya seolah selalu tergigit, hingga bicaranya kurang jelas dan selalu berliur. Ye Feng menyandang Down Syndrome. Meski begitu, dia tidak tergantung pada orang lain. Dia bisa melayani dirinya sendiri dan tidak merepotkan. Sedangkan adiknya, Zhi Chen, tengah menjalani wajib militer.
Keluarga ini memelihara dua ekor anjing. Seekor yang berjenis Akita bernama Carlos. Inilah anjing kesayangan Ye Feng. Menurut cerita Ama, Ye Feng memiliki Carlos sejak usia 12 tahun. Jadi saat ini Carlos sudah sangat tua untuk ukuran anjing Akita, yaitu 14 tahun. Selama itu pula Ye Feng dan Carlos menjadi sahabat tak terpisahkan. Kulihat banyak foto keluarga, hampir seluruhnya terdapat Carlos di dalamnya. Dari ketika masih bisa digendong Ye Feng, sampai hampir sama besar dengan badan tuannya.

Satu lagi anjing Dobberman bernama Champion yang terlihat garang, namun ternyata sangat bersahabat dan sopan. Champion tidak pernah mengganggu ketika aku membersihkan kandangnya. Begitu pula ketika Tuan memberinya makan, Champion akan menunggu dengan tenang.

~~~~~~~

Pagi yang sepi, aku sudah terbangun untuk menyiapkan sarapan bagi keluarga Wu. Aku bekerja di dapur dalam suasana hening. Semua masih terlelap. Pagi sejuk memang sangat nyaman untuk tidur, bahkan untuk anjing sekalipun.

Namun dari arah kandang anjing aku mendengar erangan seperti suara anjing yang kesakitan. Karena penasaran, kuintip kandang yang berbentuk rumah kecil. Aku melihat Champion melingkar tenang. Ketika kulongok kandang Carlos, aku terkejut sekali …

”Carlos! Kamu kenapa?” Tanpa sadar aku memekik.

Kulihat darah bececeran di alas kain tempat Carlos berbaring. Posisi Carlos miring dengan kaki lurus. Matanya terbuka sayu. Aku panik tapi tak berani menyentuhnya. Maka aku berlari menuju kamar Tuan dan Nyonya.
Kuketuk pelan pintu kamar. Aku gugup sekali. Mungkin wajahku pucat. Entahlah, aku hanya merasakan bibirku kaku dan lidahku kelu. Nyonya membuka pintu pelan.

”Ada apa?” tanya Nyonya.
”Carlos … Carlos … Berdarah,” terbata-bata aku berusaha menjelaskan.

Nyonya sigap beranjak ke kandang Carlos. Setelah melihat dan menyentuh badan Carlos, Nyonya berteriak memanggil suaminya. Karena teriakan itu, bukan hanya Tuan yang tergopoh-gopoh keluar kamar, Ye Feng juga terlihat berlari terburu-buru mendekat. Dan demi melihat keadaan Carlos, Ye Feng langsung berteriak menubruk tubuh Carlos yang terbaring lemas di atas ceceran darah. Dia menangis sejadi-jadinya.
Aku segera teringat Ama yang pasti terbangun oleh kegaduhan ini. Kuhampiri kamar yang kami tempati berdua. Belum sempat kubuka pintu, Ama sudah tertatih-tatih keluar dari kamar. Kuraih tangan Ama dan kutuntun. Aku jelaskan bahwa Carlos berdarah, tapi aku tak tahu kenapa. Ama tampak sangat cemas dan berusaha ikut melihat Carlos di kandangnya.

Kulihat Tuan dan Ye Feng mengangkat tubuh besar Carlos dan membaringkannya di sofa panjang yang telah dilapisi kain tebal oleh Nyonya. Mereka semua terlihat cemas. Bahkan Ye Feng terus menangis dan menyebut-nyebut nama Carlos tanpa henti. Champion ikut bangun dan hilir mudik sambil sesekali menyalak seakan bertanya apa yang terjadi.

Veterinarian, atau dokter hewan datang karena ditelepon oleh Tuan.
”Mungkin distemper,” kata sang dokter setelah memeriksa Carlos.
Carlos buang kotoran berupa darah segar. Dokter menganjurkan untuk membawa Carlos ke klinik hewan dan menjalani pengobatan. Ye Feng melarang dokter maupun Tuan membantunya mengangkat Carlos ke dalam mobil. Pemuda gempal itu berusaha sendiri susah payah membopong anjing besarnya. Kulihat Nyonya dan Ama menyusut butir bening yang mengalir di ujung mata.

 

~~~~~~~

Sudah dua bulan sejak kejadian itu, suasana rumah berubah. Keceriaan berkurang karena Ye Feng dan Carlos yang terbiasa membuat gaduh dengan bermain-main bersama, kini lebih banyak diam. Carlos memang sudah sehat, namun tidak sepenuhnya kembali seperti semula. Kini Carlos menjadi lamban. Dia tidak lagi senang berkejaran dan bergulingan seperti dulu. Ajakan Ye Feng bermain lempar tongkat atau bola kerap diabaikannya. Dia lebih banyak duduk atau berbaring saja melihat Ye Feng bermain dengan Champion.

Dokter hewan pun masih kerap berkunjung untuk memeriksa Carlos. Terkadang aku mencuri dengar obrolan dokter dengan Tuan tentang keadaan anjing itu.

”Carlos sudah sangat tua. Dia sudah melewati rata-rata usia hidup anjing Akita. Jantung Carlos bermasalah, pencernaannya juga. Jadi beri dia makanan sesuai yang saya rekomendasikan,” ucap sang dokter.
Ye Feng yang selalu ikut mendengarkan benar-benar menuruti nasehat dokter. Dia membuat sendiri catatan jadwal minum obat dan pemberian makan untuk Carlos dengan tulisan tangannya yang seperti cakar ayam. Hanya dia sendiri yang mengerti tulisan itu, Tuan dan Nyonya selalu mengernyitkan dahi saat berusaha membaca catatan Ye Feng.

Hingga suatu sore, wajah dokter teramat sedih sehabis memeriksa Carlos yang kini semakin kurus. Dia berbicara pada Tuan Wu dengan suara pelan.

”Euthanasia bisa menjadi pilihan untuk mengakhiri penderitaan Carlos,” bisik sang dokter.

Aku yang habis menghidangkan teh dan kue melihat Ye Feng mengendap-endap mengintip dan menguping di balik pintu. Ketika kutepuk pundaknya, Ye Feng terlonjak kaget. Dia menempelkan telunjuk di bibirnya menyuruhku diam. Lalu tangannya mengibas-ibas menyuruhku pergi.

Setelah itu keadaan jadi serba kikuk dan canggung. Tuan dan Nyonya jadi sering melamun. Ye Feng juga seperti orang bingung.
Suasana membingungkan ini mencair dengan kepulangan Zhi Chen, adik Ye Feng. Mereka berempat berpeluk-pelukan dan saling berebut cerita. Ama juga tergopoh-gopoh menghampiri cucunya yang berperawakan tinggi besar itu. Tak ketinggalan Champion ikut melonjak-lonjak gembira menyambut tuan mudanya. Aku kebagian sapaan hangat dan permintaan untuk membuatkan mi kuah dari Zhi Chen yang kelaparan.

Ketika mi kuah sudah siap, aku melihat Ye Feng dan Zhi Chen sedang bersimpuh berpelukan di samping Carlos yang terbaring lemah di sofa panjang. Zhi Chen menangis. Tiba-tiba mataku memanas lalu berembun. Apalagi ketika kusaksikan Ye Feng yang seharusnya paling sedih karena anjing kesayangannya sakit, malah menepuk-nepuk pundak menenangkan Zhi Chen.

”Carlos pasti sembuh. Aku selalu memberinya obat,” ucap Ye Feng terbata-bata.

”Kakak, mi kuah sudah siap. Silakan dinikmati,” ucapku sopan.
”Terima kasih, Aling,” sahut Zhi Chen.

Pemuda gagah itu makan dengan mata masih terus berair. Aku jadi terharu. Apalagi ketika kulihat Ye Feng bersimpuh mengelus-elus Carlos sambil bernyanyi pelan seperti ingin menina-bobokan anjing kesayangannya itu.
~~~~~~~

Setiap hari akulah yang pertama bangun tidur, lalu membuka semua jendela dan pintu. Tapi pagi ini aku sangat terkejut karena pintu depan dan gerbang sudah terbuka. Tidak mungkin Tuan lupa mengunci. Hilir mudik kuperiksa pintu dan jendela yang lain. Semua masih terkunci kecuali dua pintu itu. Pencuri? Ah, mustahil. Aku tak mendengar salak anjing semalam.

Oh ya, anjing! Segera kuperiksa kandang mereka. Champion masih mendengkur tapi Carlos tidak ada di kandangnya, juga di atas sofa panjang. Kemana anjing itu? Mungkinkah dibawa Ye Feng tidur di kamarnya?
Ketika kulongok kamar Ye Feng, aku benar-benar panik dan kuatir. Ternyata dia tidak ada. Lemari pakaiannya berantakan, dan air masih mengucur dari kran wastafel. Ye Feng dan Carlos hilang!
”Tuan … Nyonya … Kakak Ye Feng dan Carlos hilang!” Dengan panik kuketuk kamar Tuan sambil berseru.
Setelah itu rumah menjadi gaduh. Tuan dan Nyonya hilir mudik memeriksa seluruh bagian rumah. Zhi Chen membawa Champion keluar berkeliling di jalan sekitar sampai ke pelabuhan mencari Ye Feng. Nenek yang gemetar ikut melongok-longok sambil memanggil nama Ye Feng berkali-kali. Semua panik.
Seharian penuh kami sibuk mencari Ye Feng dan Carlos. Kuceritakan semua yang kulihat di pagi hari pada polisi yang dipanggil Tuan. Aku tetap bekerja menyiapkan makanan, namun tak disentuh sedikitpun oleh mereka, kecuali Ama yang kupaksa dengan kusuapi pelan-pelan. Zhi Chen sibuk menelepon dan menghubungi kawan-kawannya. Dia menyebar foto Ye Feng dan Carlos lewat media sosial.

”Aling, kamu punya banyak kawan di Taiwan, bukan? Bantu aku menyebar foto kakakku, siapa tahu kawanmu ada yang melihat,” pinta Zhi Chen.

Aku melakukannya dengan dada bergemuruh. Sungguh, aku merasakan kekalutan keluarga Wu.
~~~~~~~

 

Lima hari sudah Ye Feng dan Carlos menghilang. Beberapa kali kami mendapat informasi yang samar-samar dan tidak pasti, lalu Tuan dan Zhi Chen pasti akan segera menuju tempat itu meski jauh di luar kota. Namun semuanya masih nihil.

Di hari keenam, aku mendapat informasi dari seorang kawan. Dia mengirimiku sebuah foto kecil yang tidak begitu jelas. Dalam foto itu tampak seorang lelaki gemuk pendek sedang tidur melingkar memeluk anjing di antara tumpukan patung, boneka dan topeng naga untuk pertunjukan. Kutunjukan pada Zhi Chen dan kuberitahu lokasinya, yaitu di sebuah kuil kecil dekat pasar di daerah Wen Shan, Taipei.

”Hubungi temanmu itu, pastikan Ye Feng masih ada di sana. Ayo, kamu ikut kami ke sana!” pinta Tuan.
”Tapi, bagaimana dengan Ama?” aku bertanya ragu. Bagaimanapun Ama tetap menjadi tanggung jawabku.
”Aku ikut menjemput Ye Feng,” kata Ama.
Perjalanan ke Wen Shan makan waktu hampir dua jam. Ketika akhirnya kami sampai di dekat pasar, hari sudah sore. Pasar kecil ini sudah sepi sehingga mobil kami bisa masuk lebih dekat ke kuil. Kami hanya bertemu orang yang sedang menyapu di jalan dekat gerbang kuil.

 

”Maaf, Tuan, apakah anda melihat orang ini dan anjingnya?” tanya Zhi Chen sopan sambil mengulurkan selembar foto.

Orang itu berhenti menyapu dan meraih foto itu.
”Oh, dia ada di dalam kuil sedang berdoa. Sudah empat hari dia numpang tidur di gudang tempat pertunjukan itu. Setiap pagi, siang, sore, malam, dia selalu sembahyang dan menitipkan anjingnya padaku. Kadang dia gendong anjing besarnya masuk kuil untuk berdoa bersama. Itu, sekarang dia bersama anjingnya di dalam.” Si Tukang Sapu bercerita dengan wajah sedih.
Lalu kami beriringan masuk ke komplek kuil. Di altar sembahyang kami melihat Ye Feng berlutut sambil membungkuk dan memegang hio berasap yang ditempelkan ke dahinya. Di sampingnya terbaring Carlos yang semakin kurus.

 

 

Seperti tak menyadari kehadiran kami, Ye Feng terus berdoa dengan suara agak keras namun tersendat-sendat.

”Dewa, aku tidak tahu yang terjadi, tapi aku merasa ada yang hendak mengambil Carlos dariku. Bila itu Engkau, maka tinggalkan jiwanya untuk terus menemaniku. Aku tidak suka dengan dokter yang dulu itu,”

 

Doa polos Ye Feng menguak semua misteri. Nyonya terisak tanpa bisa ditahan. Mendengar isakan itu, Ye Feng berhenti berdoa dan menoleh.
”Mau apa kalian? Jangan ambil Carlos!” seru Ye Feng sambil merengkuh Carlos yang terbaring lemas.

”Tidak, Nak. Tidak. Kami tidak akan mengambil Carlos darimu. Ayo kita pulang, kita obati Carlos sampai sembuh,” ucap Tuan.

Perlu beberapa waktu untuk benar-benar membuat Ye Feng mau menurut ikut pulang bersama kami. Zhi Chen membantu Ye Feng mengangkat Carlos ke dalam mobil. Zhi Chen yang mengemudi dan Tuan duduk di sampingnya. Bangku tengah ditempati Nyonya, Ye Feng dan Carlos. Di bangku belakang aku duduk bersama Ama, memangku tas kain bawaan Ye Feng. Beberapa helai baju Ye Feng tergulung bersama obat-obatan Carlos dan lembaran kertas berisi tulisan tangannya yang berantakan.
Baru saja kami hendak masuk jalan bebas hambatan, Ye Feng berkata dengan sangat tenang pada Nyonya,
”Mama, Carlos tidak bernapas,”

Kami semua terperanjat kaget. Zhi Chen langsung menepikan mobil ke bahu jalan dan membalik badannya berusaha menyentuh Carlos. Nyonya menangis tergugu membuat kami semua merasa pilu. Dan sebuah ironi kusaksikan di mobil yang terhenti di tepi jalan ramai.

Seharusnya Ye Feng menjadi orang yang paling bersedih karena kematian Carlos. Namun yang kulihat sungguh kebalikannya. Ye Feng adalah satu-satunya yang tersenyum tenang. Dia bahkan mengusap tangan keluarganya bergantian untuk menenangkan mereka. Akupun menangis kini, meski tak tahu alasan tepatnya untuk apa.

Rona jingga langit senja menjadi latar tumpahnya air mata keluarga Wu. Ratusan mil jauhnya dari tanah kelahiranku, Indonesia, aku menjalani peran dan saksi dari drama kehidupan yang mengharu biru. Aku belajar tentang persahabatan, kesetiaan, pengorbanan, doa, harapan, dan keikhlasan melepas kecintaan dari seorang pemuda istimewa dan anjingnya yang setia, Ye Feng dan Carlos.

~~~~~Tamat~~~~~~

Taipei, 16 April 2014

Keterangan:

Down Syndrome: Kelainan genetik yang menyebabkan terhambatnya perkembangan fisik dan mental (keterbelakangan)
Distemper: Penyakit pada hewan karena virus yang menyerang saluran pernapasan, pencernaan dan syaraf pusat. Dapat menyebabkan kematian.
Euthanasia: Menyuntikkan obat mematikan dengan tujuan membunuh tanpa menyiksa.


【2014年得獎作品】業豐和CARLOS的故事 KISAH YE FENG DAN CARLOS

作者:Erin Sumarsini

業豐開心地和Carlos玩著。Carlos是一隻毛茸茸的秋田犬,金黃摻白。業豐矮矮敦實的身材看起來很滑稽,他開懷地笑,Carlos響亮地狂吠,互相追逐、翻滾、擁抱、依偎,就像一對小男孩。

我是個看護工,住在宜蘭漁港附近的吳家,工作主要是照顧一位老人家,吳先生的媽媽。其實她還很健康,但因為快要一百歲了,所以生活大小事都需要別人幫忙。我的任務就是協助「阿嬤」所有的需求,對,我們都叫她「阿嬤」。不過除此之外,我也要打掃家裡和煮飯。

吳家人很好。吳先生和吳太太每天上班。業豐,他們的長子,這26歲的大男孩是個成年男子,卻依然被困在孩童階段的心智年齡。他的身材胖嘟嘟的,有一張圓圓像小孩的臉蛋,似乎老是咬到自己的舌頭,因此講話不清楚,也總是流口水。業豐罹患唐氏症,不過即使如此,他總是自理生活,不依賴別人。而他弟弟志成,正在當兵。

吳家養兩隻狗。一隻秋田犬叫Carlos,牠是業豐的愛犬。根據阿嬤的說法,業豐12歲時就養了Carlos,因此現年14歲的Carlos,已經是上了年紀的老狗。在這段時間裡,業豐和Carlos形影不離。我看了很多吳家的照片,裡面幾乎全部都有Carlos。從還可以被業豐抱在懷裡的小狗,到現在幾乎跟主人一般大小的身材。

另一隻是杜賓狗,名字叫Champion,看起來很兇,但其實非常溫馴有禮。當我清理Champion的籠子時,牠從來不會搗蛋。當主人準備餵牠吃東西的時候,Champion也會靜靜的等待。

一個寧靜的早晨,我起床準備吳家的早餐。我默默地在廚房裡忙,所有的人都還在睡夢中,涼爽的早晨難免讓人想繼續賴床,連狗狗也一樣。

但是,我似乎聽到狗屋那邊傳來狗的哀嚎呻吟。出於好奇,我瞄向小房子形狀的狗屋。我看到Champion安穩地蜷縮著,但是當我看向Carlos的狗屋時,嚇了一大跳……

「Carlos!你怎麼了?」我不由自主地大喊。

鋪在Carlos身下的布,滿滿地染了鮮血。Carlos姿勢歪斜,四肢伸直,張開的雙眼無神呆滯。我慌了,但不敢碰牠。趕緊跑到先生和太太的房間。我輕輕地敲房門,緊張得要命,八成也臉色蒼白。不知道怎麼搞得,我只覺得嘴唇僵硬、舌頭都麻掉了。太太慢慢地把門打開。

「怎麼了?」太太問。
「 Carlos … Carlos … 流血了」我結結巴巴地試圖解釋。

太太快步走到Carlos的狗屋,摸了摸Carlos的身體,然後大喊她老公。因為太太大喊,不只先生衝出房間,業豐也急忙趕來。為了要急著查看Carlos的狀況,業豐匆忙中跌撞到癱軟在血泊中的Carlos,然後痛哭失聲。

我想起阿嬤,她一定會被吵醒。我回到我們倆一起睡的房間,還沒開門,阿嬤就已經一拐一拐地走出房間。我握住阿嬤的手,扶著她,向她解釋Carlos流血,但我不知道原因。阿嬤看起來很擔心,也想一起看看在狗屋裡的Carlos。

先生和業豐扛起Carlos龐大的身體,把牠放置在已經被太太用厚布蓋住的長沙發上。所有人都很著急,業豐甚至不斷地哭喊著Carlos的名字。Champion也跟著醒來,一直走來走去,不時吠叫,彷彿在問「發生了什麼事?」

先生請獸醫來到家裡。
獸醫檢查過Carlos之後說:「也許是犬瘟熱。」

Carlos的糞便中有鮮血,獸醫建議把Carlos帶到診所接受治療。業豐不准獸醫或先生抬Carlos進車內,這矮胖的小伙子一個人吃力地把大狗抱上車。我看見太太和阿嬤擦拭著眼角的淚水。

事情發生之後,已經兩個月了,家裡的氣氛變得不一樣,不再那麼熱鬧,因為時常打打鬧鬧的業豐和Carlos,現在比較沈默。Carlos恢復了健康,但並沒有完全回到從前。牠的動作變得緩慢,不再像以前喜歡追逐和滾來滾去。牠常常不理業豐丟給牠的棍子或皮球,只是或坐或躺著,看著業豐和Champion玩。

獸醫經常到家裡檢查Carlos,有時候,我會在無意間聽到獸醫和先生談論狗的狀況。「Carlos很老了,牠已經超過秋田犬的平均年齡。牠的心臟有問題,消化系統也是,所以要給牠吃我建議的食品。」獸醫說。

業豐總是認真地聆聽,並且確實遵照獸醫的建議。他用他潦草的字跡製作Carlos服藥與吃飯的時間表,只有他自己才看得懂,每當先生和太太試圖閱讀業豐的字跡時,總是眉頭深鎖。

一天下午,獸醫檢查完Carlos之後,臉色看來起很難過。Carlos日益消瘦,獸醫低聲對吳先生說:「安樂死,可能是結束Carlos痛苦的最好選擇。」

我端上茶水和蛋糕後離開,看見業豐躲在門後偷聽獸醫和吳先生講話。我拍了拍他的肩膀,業豐嚇了一跳,他把食指放在唇邊,要我安靜別作聲,然後揮了揮手叫我離開。

在那天之後,家裡氣氛更是徹底的僵硬又尷尬了。先生和太太常常發呆,業豐也常常若有所思。

僵硬又尷尬的家庭氣氛,總算因為業豐的弟弟志成回家而稍有化解。他們四個人依偎著,相互搶著講話。阿嬤也趕過來看高大的孫子。不要忘了,Champion興奮地跳來跳去歡迎他的少爺。我得到一個溫暖的問候,以及替志成煮一碗湯麵的請求。

當湯麵煮好,我看見業豐和志成屈膝跪在Carlos躺著的沙發旁,擁抱牠。志成哭了,頓時我的視線也變得模糊,眼眶泛淚。業豐應該是最傷心的人,因為他的狗生病了,但我卻看到業豐拍著志成的肩膀安慰他。

「Carlos一定會好起來,我時常給牠吃藥。」業豐結結巴巴地說道。

「哥哥,麵已經煮好了,請用。」我禮貌的說。
「謝謝,阿玲。」志成回應。

高大的年輕人吃了麵,眼睛還是水汪汪的。我感動不已,尤其是當我看到業豐跪著撫摸Carlos,同時輕聲哼唱搖籃曲給他心愛的狗。

每天我都是第一個起床的人,然後打開所有的窗戶和門。但是今天早上我覺得很奇怪,因為大門和前門都已經打開了。先生不可能忘了鎖,我來回檢查其他門窗,除了那兩扇門以外,其他門窗依然緊鎖著。小偷?啊,不可能的,昨天晚上我沒有聽見狗叫聲。

噢~對了,狗!我立刻去檢查狗屋。Champion還在打呼,但Carlos不在牠的狗屋裡,也不在長沙發上。那隻狗跑去哪裡了?莫非業豐把牠帶到他房間睡嗎?

當我看了業豐的房間後,我真的開始緊張了。業豐不在,衣櫃凌亂,水龍頭的水也沒關。業豐和Carlos都不見了!

「先生!太太!哥哥!業豐和Carlos不見了!」我大喊,驚慌地敲先生房門。

在這之後,家裡變得很吵鬧。先生和太太來來回回檢查家中所有角落,志成帶Champion圍繞著海港周遭的街道尋找業豐。發抖的阿嬤,也跟著反覆呼喊業豐的名字,全家陷入一片驚慌。

我們一整天都忙著找業豐和Carlos,先生請警察到家裡,我把早上所有看見的事告訴他。我照樣準備飯菜,但他們一點都沒吃,除了我勉強餵阿嬤慢慢吃了一點。志成忙著打電話聯絡他的朋友,上傳業豐和Carlos的照片到社群網站。

「阿玲,你在台灣不是有很多朋友嗎?幫我上傳我哥哥的照片,搞不好你朋友有看到。」志成懇求。
我又心慌又激動地上傳照片。真的,我感受得到吳家的恐懼。

業豐和Carlos已經失蹤五天了。好幾次,我們收到模糊不確定的訊息,然後先生和志成就立刻衝到通報的地點,即使遠在外縣市。但是都沒有結果。

第六天,我從朋友那裡得到消息。他傳來一張不怎麼清楚的小照片。照片裡,看上去有點胖的男人正抱著狗,窩在一堆廟會用的玩偶、面具之間睡覺。我拿給志成看,告訴他地址。那是台北文山區靠近市場的一間小寺廟。

「打電話給你的朋友,確認業豐還在那裡。來吧!你跟我們去。」先生請求。
「但阿嬤怎麼辦?」我疑慮地問。再怎麼說,照顧阿嬤仍然是我的職責所在。
「我跟著去接業豐。」阿嬤說。

去台北市文山區的路程花了將近兩個小時。當我們快要到市場時,已經下午了。市場冷冷清清,因此我們的車可以停得離廟更近一些。只見到在廟門附近掃地的人。

「先生不好意思,請問您有沒有看到這個人和狗?」志成拿著照片禮貌地詢問。
那個人停下掃地的動作,拿起照片端詳。

「喔,他在廟裡拜拜,已經睡在道具倉庫四天了。每天早上、中午、下午、晚上,一直在拜,然後把狗狗交給我照顧。有時候,他還帶著那隻大狗一起到廟裡祈禱。他現在正他跟他的狗在裡面。」掃地男人一臉愁容地告訴我們。

我們一起進到廟裡,看見業豐跪在拜拜的祭壇上,彎著腰,持香的手貼在額頭上,一旁躺著日益消瘦的Carlos。

渾然不覺我們的到來,業豐持續用響亮而結巴的聲音向神明禱告。

「神呀,我不知道發生什麼事,但我覺得,有人想要從我身邊帶走Carlos。如果這個人是你,那,請你把牠的靈魂留下來繼續陪我。我不喜歡以前那個獸醫。」

業豐簡單的禱告揭開所有的謎團。太太忍不住哭了。聽到啜泣聲,業豐停下動作回頭看。

「你們要幹什麼?不要帶走Carlos!」業豐大喊,同時抱住癱軟躺在一旁的Carlos。

「沒有,兒子,沒有。我們不會把Carlos從你身邊帶走。我們回家吧,好好治療Carlos,治好為止。」先生說。

費了一點時間,我們才把業豐哄上車。志成幫業豐把Carlos抬進車裡。志成開車,先生坐在他旁邊,太太、業豐與Carlos坐中間位子。我和阿嬤坐在後座,抱著業豐的背包。幾件業豐的衣服裹住Carlos的藥,以及有凌亂筆跡的紙張。

我們剛剛開上高速公路,業豐很平靜地對太太說:「媽媽,Carlos沒有呼吸了。」

我們大家都嚇了一跳,志成馬上把車停到路肩,轉過身試圖觸摸Carlos。太太哭了,每個人都很難過。一件大家都不願意看到的事情發生了,發生在停在高速公路路肩的車上。

Carlos死了,業豐應該是最難過的人。但是正好相反,業豐是唯一平靜微笑的人。他甚至揉了揉家人的手,輪流安撫大家。我也哭了,雖然不知道到底為了什麼。

黃昏的天空,成了吳家眼淚的背景。來自數百英里外的印尼的我,扮演了見證生命戲劇的抒情角色。我了解了友情、忠誠、犧牲、祈禱、希望,一位真誠去愛的特殊少年,以及一隻忠實的狗,業豐和Carlos。

~~~~~結束~~~~~~

台北,2014-04-16


母語評審 _Agung Sepande:很有啟發性的故事,提醒我們身為人類要時常愛護動物及所有老天爺賜的生活。一位唐氏症小孩(業豐)能那麼親與尊重動物生命(Carlos/他養的愛犬)我們身為健康的人該能做的比業豐來得多。

母語評審 _Leonhard Bartolomeus:我選擇這則故事的理由,是因為她從第三者的角度,描繪了移工與雇主家庭的關係。讀者可以透過男子與狗之間比喻,發現業豐與 Carlos 的這一層關係有多麼強烈。 透過簡單的文字與清晰的概念,這篇故事很簡單卻蘊含深沉的情感,而且行文相當流暢。如果需修訂,作者不妨加入角色間的對話,使角色的連結更清楚。

決選評審 _陳芳明:這篇寫得很傳神,尤其寫到那隻狗,感情很真實,業豐跟狗非常非常深厚的感情,逃家跑到文山區,看到那裡,讓我覺得這個故事是真的,因為很有畫面,所以我一開始看到這篇就覺得真是寫得很好。

決選評審 _顧玉玲:我自己也很喜歡這篇,可能它是唯一一篇沒有把焦點放在自己身上,她敘述在這個家庭裡她所看到的一個故事,可是我們又能很清楚看到她的腳色,與她跟雇主的關係。

決選評審 _丁名慶:她把自己的腳色退到比較後面,很難得的一點是,她透過她的眼睛去看她經歷的生活,細節也很生動豐富。

得獎感言 _Erin Sumarsini:從臉書上的朋友以及寫作協會 FLP 得知第一屆移民工文學獎。我寫的故事是一個虛構的故事,靈感來自身邊的真實事件。我寫作只是在工作之餘打發時間,因為被限制的空間感到無聊而寫。得獎當然讓我期待,不過除此之外,我為代表印尼國家的名義獲獎而感到榮耀。

Recommendation1(評審評語1):
Sangat  menginspirasi, mengingatkan dan menyadarkan  kita sebagai manusia untuk selalu menyayangi makhluk dan kehidupan dari ciptaan tuhan.  Seorang anak penderita Down Syndrome (YE FENG)  saja bisa sangat dekat dan menghargai kehidupan  binatang (Carlos/anjing peliharaannya) harusnya kita yang sehat bisa melakukan lebih dari apa yang dilakukan YE FENG.Recommendation2(評審評語2):
I choose this story because she could represent the relation between migrant workers and their family host from a third person perspective. Readers can feel how strong the relation from the metaphor of man and dog that being manifested on Ye Feng and Carlos. The story is also really simple but have a strong feeling inside it. She also use a simple words, with a clear idea of each paragraphs. The flow of the story is very fluid. For the revisions, maybe she can put some dialogue in it, to emphasize the connection between each character more clearer.

 

 

 

 

 

 

 

 

發表迴響

你的電子郵件位址並不會被公開。 必要欄位標記為 *