寶島框架背後的肖像 Potret di Balik Bingkai Kasa Formosa

首獎 First Prize

📜 寶島框架背後的肖像 Potret di Balik Bingkai Kasa Formosa

👤 Dwiita Vita

 

Pagi yang cerah, aku berjalan bersama Han Yi Le bocah 2,5 tahun yang aku jaga. Rutinitas kami berdua antara jam 10 hingga jam 11 siang. Meishu Guan, jalanan hari ini sedikit lenggang karena masa liburan baru saja usai. Angin musim semi berhembus menyejukkan. Musim semi dan musim gugur selalu menjadi musim favorit kebanyakan pendatang yang berasal dari negeri tropis, termasuk aku. Karena di kedua musim ini iklimnya lebih bersahabat. Musim semi, dimana bunga- bunga di setiap sudut kota mulai bermekaran kembali dan tumbuhan mulai memunculkan daun yang baru. Hijau, berwarna warni. Membuat dunia terlihat lebih indah dan kembali hidup, setelah pohon- pohon telanjang meranggas di musim dingin.

Di taman aku biasa menghabiskan 1 jam waktuku, berjalan menyusuri setiap sudutnya, melihat bebek, angsa dan tupai yang berkeliaran bebas. Yi Le sangat suka berdiri di tepian sungai, sambil melemparkan potongan roti yang kami bawa dari rumah untuk ikan- ikan yang tak terhitung banyaknya dalam danau Meishu. Memandang berbagai burung yang bersayap indah, bebas beterbangan dari dahan yang satu ke dahan yang lain tanpa rasa takut. Beda dengan di Indonesia, yang ada hanya burung gereja yang bebas berkeliaran. Burung- burung yang indah sudah kehilangan haknya untuk bereksplorasi di alam bebas, ditangkap, dijual, dijadikan komoditas bisnis yang mahal.
Bertemu dan mengenal kawan- kawan dari Indonesia adalah berkah dari setiap kunjunganku ke taman. Bagi kami BMI bertemu sesama orang Indonesia bagaikan bertemu saudara lama, terjalin keakraban seketika. Terkadang ada satu dua yang cuek dan tak mau menyapa atau sekedar menyimpulkan senyum. Bertukar nomer HP, saling bercerita tentang kehidupan masing- masing, bersama membesarkan hati, seolah menegaskan bahwa kita tidak sendiri, selalu ada kawan untuk berbagi.

Pagi itu aku bertemu dengan Lani, seprofesi denganku, menjaga anak. Kami berjalan beriringan sambil bercerita tentang masing- masing. Tiba- tiba, Lani menampar mulut balita perempuan yang dijaganya, hanya karena balita tersebut menangis dan tak mau diam. Sontak aku terkaget dengan sikapnya.

“” Lan, kenapa kamu sekeras itu? Kasihan, dia hanya menangis. Mungkin kepanasan atau haus ingin minum,”” spontan aku bertanya.

“” Dia bandel, kalau nggak digitukan, tangisnya semakin menjadi.”” timpalnya dengan nada tinggi.
“”Tapi tak harus begitu Lan, dia hanya anak kecil yang memang hanya bisa menangis untuk merajuk atau ketika marah”” jawabku tegas.

Tiba- tiba wajah Lani tertunduk, gadis manis asal Jawa Barat dari perkenalan singkat kami. Berumur 25 tahun, tapi beban hidup membuatnya tampak lebih tua dari usia sebenarnya. Dia sudah berkali- kali melanglang buana di negeri Timur Tengah hingga akhirnya memutuskan ke negeri formosa karena iming- iming gaji yang lebih besar dan pekerjaan yang tidak seberat di Timur Tengah.
“”Mbak nggak tau, bagaimana keluarga mereka memperlakukanku.”” Lani terdiam.

“”Aku kerja hingga larut dan baru istirahat sekitar 11:30 hingga 12 malam, dan jam 03 pagi aku harus bangun membantu mereka membuat roti. Hati kecil tak pernah  berniat berbuat demikian, tapi perlakuan mereka yang tak berperikemanusiaan membuatku melampiaskan pada balita itu.”” Lanjutnya dalam isak.

Kulihat matanya semakin berkaca, ada gurat kesedihan yang mendalam dalam hatinya. Kelelahan terpancar jelas dari redup cahaya matanya. Aku memahami, hanya beristirahat 2 jam saja. “”Innalillahi… sedemikian parahkah.”” Bathinku dalam hati.

Kulihat Yi Le bermain dengan balita perempuan tersebut, berdiri disampingku. Balita itu sudah diam dari tangisnya, tersenyum sambil sesekali tertawa lepas ketika Yi Le mengajaknya bermain. Han Yi Le hari ini sedikit tenang, biasanya selalu merajuk ingin pulang ketika aku sibuk berbicara dengan orang lain yang kutemui di taman. Ada balita tersebut yang bisa di ajaknya bermain hingga dia merasa punya kawan yang menemaninya.

“”Lan, sudah berapa lama kamu di sini?””

“”Baru 6 bulan mbak, aku berkali- kali sakit tapi tak pernah mereka sedikitpun mengantarku berobat. Ingin rasanya aku kabur mbak, tapi aku takut akhirnya harus berhadapan hukum dan menanggung denda yang begitu besar. Dari mana aku mendapatkan uang sebanyak itu.””

Tangisnya pecah, kupeluk dia untuk sedikit menenangkannya.

“”Kenapa kau tak melapor pada agency Lan, aa..tau..”” belum selesai aku bicara Lani sudah menimpaliku.

“”Agency, tau apa mereka. Mereka hanya tau uang mbak. Tidak ada keadilan agency yang aku rasakan. Tidak ada pembelaan untukku, apalagi perlindungan yang dijanjikan. Tulisan hanya sekedar tulisan. Mereka seolah mafia formal bagiku.””

“”Dan 1955, aku berkali- kali menghubungi. Tapi mereka juga tak datang melihatku, memberi perlindungan sebagaimana yang di janjikan.””

Lani mengusap airmatanya. Menarik nafas dalam- dalam seolah menegaskan bahwa dia kuat untuk menghadapi itu. Ketidakadilan agency, itu juga yang kurasakan. Mengeruk keuntungan dari keringat kami tanpa memberikan perlindungan yang seharusnya. Entah berapa lama kami sanggup bertahan, 9 bulan masa transisi potongan ataukah hingga 3 tahun masa berakhir. Aah… tapi aku tak yakin.

“”Mbak, aku pamit dulu. Aku tak tahu sampai kapan bertahan merajut mimpi ini, mimpi  yang dinanti keluargaku di tanah air meskipun semua ini harus ku bayar mahal.””

“”Sabarlah Lan, teruslah merongrong agencymu untuk mendapatkan hak perlindungan. Jangan putus asa untuk terus berusaha, kita saling berdo’a. Aku juga sama denganmu hanya aku sedikit lebih baik tak harus bangun jam 3 pagi. Mimpi ini begitu mahal Lan, setangkup rasa menyesakkan bahkan mungkin lebih harus rela kita jejalkan dalam hati kita. Semoga Allah selalu menjaga kita.”” Ucapku meyakinkan, bahwa kita tidak menderita sendiri.

“”Aamiin.”” Ucap kami serentak, seolah ada segenggam penuh pengharapan dari do’a yang terpanjat.
“”Assalamu’alaikum.”” Pamitnya

“” Wa’alaikumsalam.”” Lambaian tanganku mengiringi langkah kakinya yang berlalu meninggalkanku.

“”Andaikan negara ada untuk kita.”” Lirihku.

Aku berbalik arah bersama Yi Le, berjalan menuju peraduan. 15 menit lagi tepat jam 11, satu jam sebelum waktu makan siang, saatnya aku berkutat di dapur sambil menggendong Yi Le untuk menyiapkan semeja penuh hidangan makan siang.

*****

“”Ting…tung.. ting.”” Nada inbox Line-ku berbunyi.

Kulirik pesan di layar datar yang sehari- hari menjadi hiburanku untuk mengusir sepi, pengobat rindu pada keluarga dan menilik kabar tentang tanah air. Dari Mbak Darmi, kawan BMI di flat sebelah. Meskipun usia Mbak Darmi hampir kepala empat, tapi soal kecantikan jangan ditanya, perawatan wajah yang tak bisa dibilang murah. Aku pribadi, tak ada waktu untuk itu. Kesibukan pekerjaan, dan salah satunya tidak ingin menghamburkan uang untuk hal- hal yang memang aku tak mampu menjangkaunya disini.

“”Wit, nanti waktu kamu buang sampah. Kita ketemu sebentar, PENTING !!!.””

“”OK mbak, nanti jam 09:00 ketika semua pekerjaanku selesai.”” Balasku.

Tepat pukul 20:45 aku sudah menyelesaikan semua tugas rumahku, membersihkan meja makan, mencuci piring, membersihkan dapur serta memandikan Yi Le. Aku minta ijin pada majikanku untuk pergi ke Seven Eleven (Toko 24 jam) sebentar, alasan yang tak mungkin tidak di ijinkan. Karena sulitnya untuk bisa keluar rumah selain membawa Yi Le bermain dan membuang sampah, itupun hanya beberapa menit saja. Dan untuk bertemu dengan Mbak Darmi tidak mungkin hanya sebentar, maka dari itu aku membuat alasan untuk bisa menemuinya. Kulihat Mbak Darmi menungguku di lobby bawah. Setelah membuang sampah, ku menghampirinya, duduk berhadapan dengannya di ruangan lobby.

“”Ada apa Mbak, tumben mencariku?”” tanyaku membuka pembicaraan.

“”Wit, tolong pinjami aku uang 10.000. Awal bulan depan aku kembalikan,”” jawabnya.

“”Maaf Mbak, aku nggak punya uang sebanyak itu. Semua gaji selalu aku transfer ke Indonesia. Aku hanya menyisakan seribu- duaribu untuk keperluan disini,”” jawabku.

Bukannya tidak mau menolong, tapi sepak terjang Mbak Darmi masalah hutang-menghutang sudah tidak asing lagi di lingkup BMI apartemen Mingcheng. Sulitnya kembali dan kadang hanya kembali setengah, itupun setelah melalui rongrongan dan ancaman dari sang pemilik uang. Gaya hidup hedonis yang tak wajar bagi ukuran sekelas BMI, sehingga memaksanya berhutang sana- sini. Aku tak mau terlibat ataupun menjadi korban itu saja, dan ini pertama kali Mbak Darmi meminjam padaku.

“”Please…Wit, aku butuh banget. Kamu tau kan Rafli pacarku, yang beberapa bulan waktu kita liburan bersama aku kenalkan padamu. Keluarganya dalam kesulitan dan gajinya baru tanggal 25 dibayar oleh pabrik tempatnya bekerja.”” Rajuknya sambil memelas padaku.

“”Kalau aku tak mau meminjaminya, dia akan meninggalkanku. Aku mencintainya, aku tak bisa jauh darinya,”” lanjutnya mempertegas, menghiba padaku.

“”Maafkan aku Mbak, aku tak bisa membantu. Aku sendiri setiap bulan kekurangan karena harus menghidupi ke dua putriku, Ibuku, serta membantu biaya kuliah adikku.”” Jawabku pelan.

“”Maaf sebelumnya, aku hanya berusaha membuka diri pada Mbak Darmi untuk tak menuruti keinginan Rafli. Sudah sangat jelas terlihat, tipe lelaki macam apa dari ancamannya kepada Mbak jika tak meminjamkan uang. Mbak Darmi, masih banyak lelaki yang benar- benar tulus tanpa mengharapkan balasan apalagi mengancam. Fikirkan itu Mbak, hatimu pasti bisa menjawab.”” Perkataan itu muncul dari hati terdalam, kejujuran untuk seorang kawan yang senasib sebagai sesama BMI. Kalau Mbak Darmi tersinggung, aku sudah siap. Kejujuran memang kadang menyakitkan.
Terengah nafasnya, menahan berbagai rasa dalam diri. Paduan rasa takut kehilangan, kebingungan dan diatas semua itu adalah kesedihan yang tak terjelaskan. Air matanya pun tumpah tak terbendung. Ku biarkan dia larut dalam hening dan ku yakin hatinya pasti hidup untuk bisa merasakan kebenaran, meski akhir keputusan nafsu lebih berbicara ketimbang hati.

Masih ku ingat wajah Rafli, pacar Mbak Darmi yang dikenalnya melalui dunia maya seperti di ceritakannya padaku. Wajah yang memang tampan, berkulit kuning langsat. Usia Rafli sepantaranku, antara 29-30 tahun. Tak bisa dipungkiri kalau Mbak Darmi jatuh cinta sekonyong- konyong, hingga rela menjadi permainan laki- laki berwajah buaya.

Kala itu di stasiun MRT, stasiun persinggahan sebelum menuju tempat liburan masing- masing. Mbak Darmi mengenalkanku pada Rafli, kami duduk bertiga di bangku ruang tunggu. Ketika Mbak Darmi pergi ke toilet, Rafli meluncurkan rayuan buayanya padaku. Tak sedikitpun aku tanggapi, dari itu aku paham lelaki macam apa Rafli. Sepandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga, dan aku yakin itupun akan berlaku buat seorang Rafli yang menjadikan cinta sebagai kedok bajing loncat.

Maraknya jaringan media sosial membuka kesempatan menjadikan asmara sebagai instrumen penipuan untuk menguras dana pasangannya. Faktanya, buruh migran sering menjadi korban Cybercrime karena 80% interaksi berada di dunia maya. Semoga seiring waktu Mbak Darmi bisa terbuka tentang siapa sosok lelaki maya yang dicintainya. Bukan terlambat setelah harta, jiwa, raga menjadi korban dan menyisakan penyesalan yang tiada berujung.

Aku berpamitan padanya, beberapa menit sudah lebih dari cukup. Melangkah pulang dengan setumpuk alasan untuk menjawab pertanyaan majikan “”kenapa dari seven tak membawa barang?””. Tapi, aku berharap mereka sibuk dengan urusan masing- masing hingga tak usah menyempatkan untuk melihatku apalagi bertanya.

*****

Pukul 11:00 , aku bersiap pergi Medical Checkup yang dilaksanakan 6 bulan sekali. Harusnya di jadwalkan besok tapi karena besok diberitakan akan terjadi taifung (angin topan) maka jadwal di majukan. Pihak Agency sudah memberitahu majikan, sehingga siang ini aku tidak perlu memasak untuk makan siang. Dan Yi Le pun dibawa orang tuanya ke tempat kerja. Aku menyelesaikan pekerjaan rumah secepat mungkin, setelah sholat Dhuhur aku beranjak meninggalkan apartemen. Agency akan menjemput sekitar pukul 12:45 di lobby bawah. Kulihat seorang wanita paruh baya duduk di kursi ruangan lobby, wajah tropis yang tak asing. Mbak- mbak yang pernah memanggilku dari jendela lantai 4 flat blok B, seblok dengan Mbak Rossa kawanku yang menjaga Bing Yi teman bermain Yi Le.

“”Hai Mbak ?,”” sapaku.

“”Ha..a..i,”” jawabnya terbata, tersentak dari lamunannya.

Mbak Marni namanya, usianya 46 tahun. Baru kali pertama ke Taiwan. Hari ini mau test kesehatan juga sepertiku. Dan ternyata kami satu agency, hanya beda beberapa hari kedatanganku dengannya. Dan selama hampir 2 tahun, dua kali aku melihatnya, beberapa hari yang lalu dan hari ini.

Tepat 12:50, Mr. Tham sudah tiba untuk mengantar kami menuju Kaohsiung General Hospital, tempat pelaksanaan Medical Checkup.

Mbak Marni, bekerja menjaga Akong (panggilan untuk kakek) yang sudah lumpuh, dan pekerjaan rumah sehari- hari. Majikannya, perempuan single yang sudah berumur, workaholic yang setiap langkah kakinya selalu berlomba dengan detak jarum besi seperti kebanyakan penduduk Taiwan lainnya. Selama hampir 2 tahun ini Mbak Marni tak boleh keluar rumah, bahkan untuk membuang sampah sekalipun. Membawa HP juga tak boleh, berkomunikasi dengan keluarga hanya melalui surat yang dikirimkan majikannya melalui kantor pos. Tapi surat- surat itupun juga tiada berbalas, entah sang majikan mengirimkannya atau hanya membuangnya. Kesepian selalu menjadi kesehariannya ditambah majikan yang hampir tak pernah bicara. Hanya dengan Akong, dia mengutarakan segala isi hati, meskipun tak sedikitpun Akong mengerti. Dia juga tidak bisa berkomunikasi dalam bahasa mandarin, hanya sedikit kosakata yang dia ingat. Semua dokumen di tahan pihak majikan termasuk buku tabungan, jadi berapa nominal gaji yang tertera di rekeningnya, dia juga tak tahu. Hanya setiap 6 bulan sekali, majikan memanggil agency untuk mengantar Mbak Marni pergi ke Bank mengirim uang ke Indonesia dan pada waktu itu juga majikan memberinya kesempatan menelpon keluarganya untuk memberi kabar bahwa uang sudah dikirim. Agency pun tak bisa berbuat apa- apa, selain selalu menyemangati untuk sabar dan sabar. Mbak Marni bersyukur meskipun hidupnya terkurung dalam penjara tapi majikan bukanlah orang yang tempramental. Dia juga menyadari mungkin tak di ijinkan keluar karena kesibukan majikan yang padat sehingga jika dia keluar, tak ada yang menjaga Akong. Terlintas tanda tanya besar dalam hatinya, sebenarnya Akong hanya lumpuh dan tak bisa bicara, tapi badan masih sehat, kenapa tidak pernah di ijinkan untuk menghirup udara segar diluar sebagaimana Ama (panggilan untuk Nenek) dan Akong yang lain. Padahal Mbak Marni juga yakin bahwa Akong pun bosan setiap hari terkurung dalam rumah. Tapi baik Akong dan Mbak Marni tak bisa berbuat apapun selain pasrah pada keadaan.

Selama perjalanan aku mendengarkan suka duka Mbak Marni, begitupun sebaliknya. Beruntung hari ini hanya kami berdua yang test kesehatan dalam satu mobil, sehingga kami bisa leluasa untuk saling bercerita. Penanda waktu menunjukkan beberapa saat melewati tengah hari. Masih sore, tapi musim gugur membuat matahari tak terlalu lama bersinar sehingga langit sore hari bercahaya redup. Dan kami pun berpisah setelah melewati pintu lobby apartemen Mingcheng. Ada rasa syukur yang tertinggal dalam hatiku, bahwa aku masih lebih baik dari Mbak Marni, masih bisa melihat dunia di luar sana.

*****

Pagi ini suhu di Kaohsiung berkisar antara 20 derajat celcius. Pagi yang dingin, seolah memaksaku untuk tetap bertahan di bawah hangatnya selimut tebal. Ku lirik jam beker di sebelahku. Pukul 05:30, langit masih terlihat seperti pukul 4 pagi. Aku melangkah pelan menuju kamar mandi. Kubasuh mukaku dengan air wudhu, mengharap energi baru hadir dalam diri, bersiap menyongsong hari. Ku melangkah kembali menuju kamarku, mengunci pintu, ku tunaikan sholat Fajar 2 rokaat dan di sambung dengan sholat Subuh. Sambil menunggu jam bekerja, ku isi waktuku untuk tilawah dan muraja’ah Al-Qur’an.

Ibadah bagiku adalah urusan yang primer. Dengan mengingat Tuhan dan menjalankan perintah-Nya, aku merasa punya benteng kokoh yang melindungiku dari pengaruh negatif  di negeri yang menjunjung tinggi kebebasan ini. Dan agama adalah cahaya untuk melangkah di gelapnya kehidupan dunia. Jadi meskipun pihak majikan melarangku untuk beribadah aku tetap melakukannya dengan sembunyi. Pernah suatu ketika aku protes pada agency tentang kebebasan hak beragama bagi BMI, sebagaimana tertera di surat perjanjian kerja. Agency tak bisa mengusahakannya karena itu mutlak keputusan pihak majikan. Bahkan mereka juga dengan tegas melarangku sebagaimana majikanku. Aku berharap pihak KDEI suatu saat benar- benar menjadikan poin ‘Kebebasan Beragama’ sebagai agenda utama yang juga wajib diperjuangkan sebagaimana agenda yang lain.

Minggu pagi, hari ini mutlak menjadi hari bagiku. Tiga hari lalu aku sudah meminta ijin pada majikanku untuk mengambil libur. Setelah membereskan segala urusan rumah, tanpa usah menyiapkan sarapan, aku melangkah pergi meninggalkan apartemen lantai 14 Mingcheng Rd. Hari ini aku janji dengan Mbak Ana, teman sesama BMI di komplek flat tempatku tinggal untuk pergi berlibur bersama. Tepat pukul 06:30 janji kami untuk bertemu di halte bus yang tak jauh dari apartemen Mingcheng. Mbak Ana sangat beruntung, mempunyai majikan yang baik, pekerjaan yang tidak terlalu berat dengan istirahat yang cukup dan yang terpenting terjaminnya hak beribadah. Kadang aku iri terhadap Mbak Ana, tetapi aku yakin Tuhanku menempatkanku disini untuk menjadikanku lebih baik ketika aku bisa melewatinya dengan tanpa melupakan-Nya.

Ku lihat sosok Mbak Ana berdiri bersandar di sudut halte sambil memainkan HPnya, headset terpasang di telinganya. Ku berjalan sambil berlari pelan menghampirinya. Tak lama kami menunggu, bus no.36 yang akan mengantarkan kami menuju stasiun MRT sudah terlihat mendekati kami. Kami melangkah memasuki bus sebagai penumpang pertama, disambut dengan sapaan hangat di pagi yang dingin dari sang sopir. Aku dan Mbak Ana mengambil tempat duduk di bagian belakang. Jalanan masih lenggang, belum banyak mobil yang lalu lalang. Waktu sepagi ini, dalam suasana bekunya musim dingin, penduduk Taiwan masih terlelap dalam balutan selimut dan baru beraktifitas menyongsong liburan pada pukul 9. Bus yang kami tumpangi meluncur membelah jalanan Kaohsiung, sambil sesekali berhenti di halte untuk mengangkut ataupun menurunkan penumpang.

Di sepanjang jalan kami habiskan dengan mengobrol tentang banyak hal. Mbak Ana adalah kawan terbaikku, darinya aku mengenal tentang seluk beluk negeri Formosa yang 6 tahun ini menjadi pijakannya mencari nafkah. Mbak ana juga yang selalu membagi masakan Indonesia kapadaku, cukup untuk mengobati kerinduan pada Nusantara. Mbak Ana adalah satu dari sekian potret BMI yang beruntung. Aku yakin setiap suka dan duka yang menghampiri adalah sebuah proses panjang dan akan selalu berputar. Proses yang membawa kita untuk bersyukur atau kufur. Dan itulah yang kutemukan dari sosok Mbak Ana, loyal, tak ada sedikitpun rasa pongah, suka membantu sesama yang tidak seberuntung dirinya. Dia selalu memberiku semangat untuk tetap sabar menjalani setiap hal tak enak yang menghampiri, karena dia pernah ada di masa itu sebelum masa ini.

Tiga jam lebih perjalanan tiada terasa, pukul 09:45 kami sampai di pelataran masjid. Sudah banyak kawan BMI yang berkumpul, suasana riuh bergumul disana. Rona kebahagiaan terpancar jelas dari setiap wajah kami. Saling menyapa meskipun tak mengenal, perbedaan suku tak menjadikan kita untuk bersikap cuek. Aku merasakan Nusantara kecil berpindah di Kaohsiung.

Empat musim yang berulang di setiap tahunnya, selang- seling mengiringi kehidupanku 2 tahun belakangan. Beberapa bulan lagi masa kontrakku berakhir. Wajah orang- orang tercinta yang menanti kepulanganku menari di pelupuk mata, dua putri kecilku yang sudah mulai beranjak besar, wajah sayu Ibu yang selalu menjadi orang pertama menangis ketika beban hidup menimpa anak- anaknya. Aku ingin menghadiahkan berbuncah rasa bahagia dan bangga, keberhasilan mewujudkan sekotak kecil impian.

*****

Lani dan Mbak Marni adalah dua dari ribuan potret buruh migran yang kehilangan sebagian haknya, memerlukan uluran tangan negara dan pihak terkait yang sudah meraup keuntungan dari adanya kaum kami. Dari Mbak Darmi kita belajar untuk selalu berhati- hati dengan dunia maya yang sudah menjadi bagian hidup kita di negeri Formosa ini. Mengingatkan tujuan awal datang bukan untuk berfoya- foya, tapi untuk menabung masa depan. Potret Mbak Ana meyakinkan kita, bahwa di balik cerita jahatnya majikan yang selalu menjadi momok masih ada majikan yang baik yang benar- benar menghargai buruh migran.

Kaohsiung, 20 Maret 2015



首獎 First Prize

📜 寶島框架背後的肖像 Potret di Balik Bingkai Kasa Formosa

👤 Dwiita Vita

 

陽光普照的早晨,我跟著我照顧的兩歲半小孩韓益樂一起散步,例行在上午十到十一點的時候。假期剛結束,今天美術館附近的街道只有少數人走來走去。春風涼爽。春季和秋季向來是來自熱帶國家的新移民最愛的季節,包括我在內。因為這個季節的氣候最友善。春天,城市每一個角落的花開始綻放,植物開始帶回了新的一頁,綠色的,彩色的。讓世界看起來更美好,在冬季裸露的落葉樹也重生了。

在公園裡我曾經花了一小時的時間,走過每一個角落,看鴨、鵝、和自由走動的松鼠。益樂很喜歡站在水邊,扔我們從家裡帶來的麵包塊來餵魚,一個數不清有多少魚的美術湖。看著各種美麗的翅膀飛來飛去,從一個分枝到另一個分枝毫無恐懼地跳躍的小鳥。與印尼的不同,印尼只有麻雀自由地漫遊。在野外的美麗鳥兒已經消失了,被捕捉,被出售,被當作昂貴的商品。

與朋友相聚和認識新的印尼朋友是造訪公園的恩賜。對我們印尼移工來講,遇見同是印尼來的同胞就如遇見老朋友,一瞬間就能水乳交融變得好親密。有時會有一個或兩個很酷,不想打招呼或露個微笑。交換手機號碼,互相告訴對方各自的生活,伴隨著互相鼓勵的心,來證實我們並不孤單,永遠都有朋友可以彼此分享。

這天上午我會見了拉妮,和我同一個職業,都是照顧小朋友。我們攜手邊走邊聊各自的故事。突然,拉妮摑掌他照顧的那個小小朋友,就只是因為他哭鬧不停。對她處理事情的態度我感到好驚嚇。

「拉妮,你為什麼這麼大聲?好可憐,他只是在哭而已。可能太熱了或口渴想喝點什麼吧?」我很自然地問。

「他很調皮,不這樣的話他會哭得更大聲。」她高聲回答。

「但是,沒必要這樣啊!拉妮,他只是一個小小孩,只能用哭來表達不舒服或生氣。」我堅定的對她說。

拉妮臉色突然變了,她是我剛認識的朋友,從印尼西爪哇來的甜美女孩。年齡二十五歲,但生活的重擔使得她看起來比實際年齡多許多。她曾多次越過地球到中東國家,直到最後決定降落在這座寶島,只因為能得到更高的薪水,而且工作沒有中東繁重。

「姐姐不知道,這個家庭是如何對待我的。」說完拉妮沉默。

「我工作到很晚,只有在晚上十一點半到十二點可以休息,凌晨三點要起來幫他們做麵包。我對幼小的心靈從來沒有打算這麼做,但他們非人道的待遇讓我發洩在這個孩子身上。」她邊講邊抽泣地說。

我看到淚水在她的眼裡打轉,在她的心裡有一道深深的、沉痛的劃痕,她的眼睛散發著昏暗的疲勞過度的眼神。我明白了,她一天只能休息兩小時。「我的天啊,這麼會這麼嚴重?」我心裡嘆息著。

我看到益樂和那個小小孩玩了起來,小小孩沒再哭了,益樂跟他玩時偶爾還會開懷大笑。 韓益樂今天比較乖,平時每次我在公園跟別人說話時他總是吵著要回家。有個小小孩可以一起玩,所以他覺得有同伴。

「拉妮,你來這裡多久了?」

「才六個月,我反覆生病,但他們從來沒有想要帶我去治療。我很想逃跑,但又怕最終還是需要面對法律制裁,和承擔龐大的罰款。我哪兒來那麼多錢?」

她終於哭出聲了,我抱著她讓她平靜下來。

「妳為什麼沒有向仲介公司反應,或者……」 我話還沒說完就被拉妮打斷 。

「仲介公司知道什麼?他們只知道要錢。我感覺不到仲介公司給的公平。他們不會維護我,更不用說他們合約所承諾的保護,那都只是表面寫上去而已。對我來說他們就是正式的黑手黨。」

「而1955專線,我曾多次聯繫。但他們從來都沒來看望我,給予承諾中的保護。」

拉妮擦去眼淚後深呼吸,好像在肯定她會堅強地面對一切。我也有感受到仲介公司的不公平待遇。從我們的汗水得到利益,卻不給我們應該有的保護。天知道我還能堅持多久, 九個月的過渡期,或三年直到合約屆滿的那一天。唉……我不確定。

「姐,我先走了。我不知道編織這個夢能維持多長的時間,一個被印尼家人期待已久的夢。儘管這一切我必須支付昂貴的代價。」

「耐心點拉妮,要不斷向你的仲介公司要求保護權。別放棄,要繼續努力,我們互相祈禱。我也跟妳一樣,只是好一點點,我不必凌晨三點起床。這個夢很貴,令人窒息的感覺甚至可能得永遠藏在心裡。願真主始終保持我們。」我說服她說,我們並不單獨受苦。

「Aamiin。」我們同時說,猶如有一道曙光出現在我們的禱文中。

「Assalamu’alaikum。」她道別了。

「Wa’alaikumsalam。」我向她的背影揮揮手。

「要是我們的國家能為我們做點什麼……」我嘆息著。

我調頭將益樂帶回戰場去。再十五分鐘就十一點了,午飯前一小時,是我揹著益樂在廚房裡準備一桌完整的菜餚當作午飯的時間。

***

「叮……咚……叮」我的line 響了。

我瞄了一眼螢幕。這個我平時用來趕走孤單,也是用來療癒我對家人的思念和得到家鄉訊息的娛樂器材。是達爾米傳的,隔壁棟的印尼移工。雖然達爾米快四十歲了,但有關美容、護膚都用很貴的。我個人沒那個時間理那種事。因為工作繁忙,另一方面我不想在上面浪費我能力不可及的金錢。

「微,等等妳倒垃圾時候我們見一下面,非常重要!」

「好啊,等等九點我把全部工作做完哦。」我回答說。

正式在八點四十五分,我已經完成了所有的工作,收拾桌子、洗碗、打掃廚房、和幫益樂洗澡。我跟僱主說想要去7-11(二十四小時商店)一下下,一個不得不准的原因。因為平時很難被容許出門,除了帶益樂去玩和倒垃圾,那也只有幾分鐘。跟達爾米見面絕對不只幾分鐘,所以我編一些藉口來跟她見面。我看到達爾米在大廳等我。倒完垃圾,我走過去,跟她一起坐在大廳。

「姐怎麼了嗎,好難得會找我?」我開口問道。

「微,請借給我一萬塊。我下月初會還給妳。」她說。

「對不起,姐,我沒有那麼多錢。所有薪水我總是匯到印尼。我自己只留了一、兩千塊的生活費。」我回答。

我不是不幫忙,但是達爾米債務問題在明誠公寓的印尼移工圈眾所皆知。很難討得回來或者只還一半,那也是一直被催還外加點債主的恐嚇。享樂主義的生活方式,自然也不適合印尼移工,才迫使她到處負債。我不希望涉入或成為她的受害人,這是達爾米第一次向我借錢。

「拜託啦……微,我真急用。你知道我的男朋友達菲力,幾個月前我們一起去玩時介紹給妳的,他的家人陷入困境,他的工廠薪資要等二十五號才會支付。」她說道,同時懇求我。

「如果我不借給他,他就會離開我。我愛他,我離不開他。」她繼續強調並懇求。

「姐,不好意思,我也沒有辦法。我自己每個月都不太夠,因為要支付兩個女兒、我的母親,還有妹妹的大學學費。」我輕聲說。

「我先說聲不好意思,我只是試圖開導達爾米姐不要再服從達菲力的意願。他到底是個什麼樣的男人,已經是非常清楚了,不借錢就威脅妳。達爾米姐,還是有很多真誠的男人不期待回報更不會用言語威脅。姐妳好好想想看,妳的心會告訴妳的。」這些是打從心裡的話,作為同樣命運的印尼移工朋友真誠給的話,如果得罪了達爾米姐,我也認了。誠實有時是痛苦的。

她喘著氣,忍著五味雜陳的情緒。由害怕失去,極度的混亂,成為她無法解釋的悲傷。她的眼淚不可抑止。我讓她耽於沉默,我敢肯定,她的心感受得到真相,儘管最後的決定是慾望得勝。

我還記得那張通過網絡認識的臉蛋,達爾米自己告訴我的 。臉蛋是長得帥,淺黃色的皮膚。達菲力大約跟我同年,約三十歲上下。不可否認的是,達爾米姐真的墜入愛河,也甘於被鱷魚臉皮的男人玩弄。

當時在捷運站,前往各個想去玩的地方時,達爾米姐把我介紹給達菲力,我們三個人在候車時同坐一排。當達爾米去上廁所,達菲力就露出鱷魚本性來誘惑我。我一點都不想理他,從那時候起我就知道他是什麼樣的男人。 再會跳的松鼠總有一天一定會跌倒,而我相信這個定律也會發生在利用愛情當騙子的達菲力身上。

網絡社交媒體的氾濫,促成了利用愛情當欺騙工具來掏空對芳金錢的機會也升高。事實上,移工往往是網絡犯罪的最高受害者,因為有80%都在虛擬世界上互動。希望隨著時間的推移達爾米姐會想開,認清她從虛擬世界喜歡上的人的真面目。如果你的財產、靈魂都變成受害者時,會留下為時已晚的悔恨。

我向她說了聲再見,幾分鐘已經綽綽有餘。回去還得想一堆理由來回答僱主,「為什麼從超商回來沒帶東西?」不過,我希望他們都在忙於各自的事務,完全沒注意我,更別問任何東西。

***

早上十一點,我正準備出門去做六個月一次的健康檢查。本來安排明天,但因為明天被報導會發生颱風所以提前。仲介公司已經告訴僱主,因此今天中午我不用做午飯。益樂也被帶到父母的工作場所。我盡快做完家裡的工作,祈禱後我離開了公寓。仲介公司大約十二點四十五在大廳等我 。我看到另一個中年婦女坐在大廳椅子上,熟悉的熱帶面孔。她是在四樓B區跟我打過招呼的姐姐,跟益樂朋友冰玉的照顧者羅薩姐是同一區的。

「嗨,姐姐?」我說。

「嗨……」她結結巴巴地回,從發呆情景醒過來。

馬爾妮姐,四十六歲,第一次來台灣。今天也跟我一樣要去做健康檢查。原來我們是同一個仲介公司的,來的時間跟我差幾天而已。而近兩年來,我只看過她兩次,前幾天和今天。

十二點五十分,譚先生到了,來接我們去高雄總醫院,實施健康檢查的地方。

馬爾妮姐,來這裡的工作是照顧癱瘓的阿公(祖父的稱呼)和每天的家庭工作。她的雇主是一位單身熟女,是個工作狂,她的每一個腳步如台灣大多數人,總是跟時間賽跑一樣,滴答個不停。近兩年來馬爾妮姐不能離開家裡,甚至不能倒垃圾。連手機也不許帶,與家人的溝通只能通過請雇主到郵局寄信。即使如此她從來都沒得到回信,不知僱主有沒有寄出還是把它扔掉。

孤獨籠罩著她的每一天,再加上僱主幾乎沒跟她講過話。只有阿公,她會把所有的心事告訴阿公,就算阿公完全聽不懂,她也不會講中文,只記得很少的詞彙。她的文件全部被僱主收起來,包括銀行存摺,所以銀行賬戶裡面有多少錢都不知道。只有一件事,每六個月,雇主會請仲介公司帶馬爾妮姐到銀行匯款給她的家人,也只有那個時候她被容許打電話給家人說錢已經匯出了。仲介公司什麼也沒做,只會一直鼓勵並告訴她要耐心點。

馬爾妮姐還是很感激,雖然她的人生猶如被監禁起來,但是僱主不是情緒有問題的人。她也意識到不准出門的可能原因是雇主非常繁忙,如果她出門了,就沒人能照顧阿公。只是她心裡還有個大大的疑問,阿公只是癱瘓和無法說話,但身體依然很健康,為什麼不被允許到外面呼吸新鮮空氣猶如其他的阿嬤(奶奶的稱呼)和阿公一樣?馬爾妮姐也認為, 阿公應該很無聊,整天關在家裡。但不管是阿公或馬爾妮姐,都不能做任何事情,除非辭職(是好人命?)。

一路上我傾聽馬爾妮姐的酸甜苦辣、人生起伏,她也聽我的。幸好今天只有我們兩個人同車去做健康檢查,讓我們可以輕鬆地自由交談。時針標示著中午過沒多久。但是秋天的日照沒有很長,才下午,天空看起來已經有點暗淡。我們穿過明誠公寓大廳後分開。有種感恩的感覺留在我內心,我比馬爾妮姐的狀況好,仍然可以看到外面的世界。

***

今早清晨高雄的氣溫大約在攝氏二十度之間。寒冷的早晨,彷彿想迫使我繼續躲在溫暖的厚厚毛毯裡。我瞄一下旁邊的鬧鐘,五點三十分,天空看起來仍然像凌晨四點鐘。我緩緩的走到浴室。用清水洗把臉,希望新的能源進入身體,準備迎接新的一天。我走回房間,鎖上了門,我完成晨禮前的朝拜,接著又完成晨禮。等待工作時間到來前,我用來朗誦可蘭經。

朝拜對我來說是首要的關注。通過記住真主,執行他的命令,我感受到有堅實的堡壘在保護我,讓我不受這個自由國度的負面影響。宗教是我在這黑暗地球上的曙光。就算僱主不准我朝拜,我還是會偷偷地完成它。有一次我向仲介公司反應印尼移工有宗教信仰的權利,就如合約上所記載,但仲介公司完全無能為力,因為那是僱主的決定。我真的很希望印尼辦事處有一天把宗教信仰這一點列入必須爭取的重要議題。

星期天早上,這一天完全是屬於我自己的一天。三天前,我已經向僱主請假。打理好家中所有的事務後,不需要準備早餐,我跨步離開明誠路十四樓公寓。今天,我跟阿娜姐約好一起放假,她住我們這一區,跟我同樣是印尼移工。我們約六點半在離明誠公寓不遠的公車站碰面。阿娜姐很幸運,有一個很好的雇主,工作不會太重且有足夠的休息時間,更最重要的是,崇拜的權利受到保障。有時候,我很羨慕阿娜姐,但我肯定,真主把我放在這裡,是想讓我變更好且沒有將祂給忘記。

我看到阿娜姐的身影靠在車站角落玩著她的手機,耳機戴在她耳邊。我慢慢地跑向她。不久,我們等待的公車,即將帶領我們到捷運站的三十六號公車已駛近,我們是第一批上車的乘客,在寒冷的早晨,司機用溫暖的問候與我們打招呼。我和阿娜姐坐在車子的後面。街道上仍然冷清,車也還不多。這麼早的時間,加上寒冷的冬天氣氛,台灣人民還裹在棉被裡睡大頭覺,直到九點才出來活動迎接到來的假日。我們乘坐的公車切開高雄的道路,偶爾停靠站牌接客或讓旅客下車。

一路上我們聊了很多事情。阿娜姐是我最要好的朋友, 從她那裡我了解到她六年前就踏進來討生活的寶島的一切。阿娜姐常常跟我分享她的印尼菜,足以療癒我在台灣的思鄉之情。阿娜姐是印尼移工幸運群像的其中之一。我相信每個快樂和悲傷都是一段漫長的過程,並會一直迴旋不已。這過程會使我們心懷感激或背叛教義。這就是我從阿娜姐身上發現的。她專一,毫不自大,喜歡幫助比自己不幸的人。她總是給我的精神上的鼓勵,要我在每件不好的事降臨時保持耐心,因為之前她也走過同樣的路。

不知不覺三個多小時的路程到了,九點四十五分我們到達清真寺的庭院。 已經有很多印尼移工朋友聚集在一起,氣氛很熱鬧。幸福的氣息從我們的臉孔散發出來,就算不認識也會互相問候,不同的種族不再使我們對彼此漠不關心。我感覺就像一個小印尼搬到高雄來了。

四個季節每年都在重複,輪流陪伴著我兩年的生活。在過幾個月我的合約就要結束了。等待我回去的親人的臉孔在我眼皮上跳著舞,我兩個小女兒也漸漸長大,母親悲傷的臉總是在她每個小孩遇到生活上的難題時第一個哭泣。我想送她一大盒的幸福快樂,也讓她因為我成功實現了一小盒的夢想而感到自豪。

***

拉妮和馬爾妮姐是兩個同成千上萬喪失大部分權益的移工的肖像,需要國家或從我們身上得到利益的單位的援手。從達爾米姐身上我們學會要時時小心在台灣已經成為我們生活一部分的虛擬世界。要記得我們剛來時的目的不是為享受現在,而是要拯救未來。阿娜姐的肖像向我們保證,有邪惡的、不斷迫害的雇主,也仍然有不錯的雇主,會真正體恤移工。

高雄,2015年3月20日

發表迴響

你的電子郵件位址並不會被公開。 必要欄位標記為 *