敘利亞的黑煙 Asap Hitam di Suriah

優選 Choice Award

📜 敘利亞的黑煙 Asap Hitam di Suriah

👤 Sri Yanti

 

Entah apa yang aku pikirkan sebelum memutuskan untuk menjadi BMI di Timur Tengah. Bekerja, mendapatkan gaji besar, proses gampang, dan tanpa persyaratan yang ribet tentunya. Sebenarnya, tujuan awalku adalah di Timur Tengah, tapi tak pernah terbayang jika akhirnya aku ditempatkan di sini, negara Suriah.

Namaku Sartini, tapi majikan biasa memanggilku dengan nama ‘Syen’. Aku berasal dari Subang, Jawa Barat. Aku seorang ibu dari satu putra dan suamiku hanyalah seorang petani biasa, seperti halnya diriku sebelum menjadi BMI.

Di awal kedatanganku, tahun 2011 yang lalu, situasi negara ini masih baik-baik saja, tapi menginjak bulan ke tiga semua berubah, konflik pecah, pertempuran mulai terjadi di mana-mana. Konflik antara Tentara Pembebasan Suriah dengan Pasukan Pemerintah (pendukung Presiden Bashar al-Assad) telah menjadikan negara ini begitu mencekam. Rakyat Suriah dilanda kecemasan dan ketakutan yang teramat sangat. Takut pada hujan mesiu dan bom yang bersahutan. Setiap saat kematian seoalah mengancam, menjemput siapapun tanpa peringatan.

Dua kubu saling serang, mereka menembaki siapa pun tanpa memandang usia, tua, muda, anak-anak, wanita, ataupun pria. Dan, aku serupa ayam dalam kandang, terkungkung dalam ketidakberdayaan. Bertahan, walau dengan nasib yang tak pasti.

Suara dentuman bom di sana-sini seperti nyanyian pilu yang menyayat hati, nyanyian ancaman atau bahkan panggilan kematian. Suara-suara yang memecahkan keheningan, lalu diikuti kepulan asap membumbung tinggi ke angkasa seolah menjadi simbol kepuasan lawan akan sebuah keberhasilan. Asap yang mencerminkan kecongkakan dengan mengorbankan hilangnya ratusan bahkan ribuan nyawa. Sedang bagi jiwa-jiwa pemberani, suara ledakan dan letupan peluru bukanlah gertakan, tapi menjadi kobaran semangat juang.

Tapi tidak bagiku, bagi kami, para BMI. Tujuan kami ke sini adalah untuk bekerja, membawa mimpi untuk masa depan keluarga, bukan menghantar nyawa. Kami tak ingin mati sia-sia

***

Damaskus, ibu kota Surih sudah menjadi bagian kehidupanku untuk setahun terakhir ini. Dulu aku sering menyusuri jalanan kota, berbelanja dengan Madam (panggilan untuk Nyonya), atau sekedar jalan-jalan bersama dengan anaknya. Banyak toko yang berderet di sepanjang jalan di sekitar rumah majikanku, karena memang lokasi daerah kami begitu strategis dan berada di tengah kota. Beberapa kali madam mengajakku mengelilingi kota tua yang sangat eksotik ini. Menikmati keindahan Jalan Lurus yang penuh dengan history, Jalan Bab Sharqi yang dipenuhi oleh toko-toko kecil, dan tak ketinggalan di Souq Medhat Pasha yang menjadi pasar utama di Damaskus.

Madam hanyalah seorang ibu rumah tangga dan suaminya seorang pekerja swasta, aku sendiri kurang faham. Mereka sangat baik padaku.

***

Sudah sepuluh hari ini situasi di beberapa distrik begitu menakutkan, banyak orang-orang yang siaga dengan senjata mereka. Orang-orang itu, lelaki, selalu menatap dengan sorot mata penuh kecurigaan. Jangankan keluar, di dalam rumah saja sering kali kami merasakan ketakutan yang luar biasa.

“Syen, cepat sembunyi! Allahu Akbar …Allahu Akbar …Allahu Akbar.” Madam mengumandangkan takbir sambil berlari menggendong Thariq, anaknya yang nomer dua.

Aku sendiri mendekap erat Zahwa, putri pertamanya. Kami berdua bersembunyi di bawah tangga di ruang tengah. Zahwa memelukku erat, sangat erat. Gadis berusia 7 tahun itu sama takutnya dengan diriku. Tak jauh dari rumah kami terdengar baku tembak yang sangat panjang, entah berapa puluh orang yang terlibat, mungkin dua puluh, tiga puluh, atau entah.

“Syeeeen ….” Zahwa semakin ketakutan tatkala beberapa peluru menerjang masuk ke dalam rumah kami. Dekapannya makin erat hingga membuatku hampir tak dapat bernafas.

“Jangan takut! Aku bersamamu, aku akan melindungimu, jangan takut!” Aku mencoba menenangkan Zahwa, meski keadaanku sendiri tak jauh beda dengan dia. Kami sama-sama menangis, sama-sama gemetar, sama-sama mendekap, sangat erat.

“Syen, apakah kita akan mati? tanya Zahwa tanpa sedikitpun melepaskan dekapannya.

“Tentu tidak, Sayang.”

“Tapi, Syen, kenapa mereka berdarah setelah tertembak? Mama bilang mereka mati, mereka pergi ke Syurga. Apakah itu benar, Syen? Kita akan ke Surga?”

Ah, mengapa anak ini bertanya demikian. Kematian, Syurga? Tidak! Aku harus tetap hidup, aku masih ingin melihat anak semata wayangku, merawat, dan juga membesarkannya.

“Allahu Akbar … Allahu Akbar … Allahu Akbar ….” Entah berapa ratus kali Takbir telah aku kumandangkan dan Istigfar kulantunkan. Aku benar-benar ketakutan. Di bawah tangga itu kami berdua tak berani berkutik, tetap di tempat dan menunggu hingga situasi benar-benar aman.

Keadaan di luar terdengar sangat kacau, suara letupan peluru bersahut-sahutan, dan ada beberapa ledakan terdengar begitu jelas, suara alarm mobil pun tak kalah riuhnya dengan kekacauan yang tengah terjadi. Suara teriakan dan hentakan sepatu yang berat juga terdengar dari dalam rumah. Aku sangat panik, sangat ngeri.

Setelah beberapa jam dan situasi sedikit tenang, aku beranikan diri keluar dari tempat persembunyian. Aku mengintip jalanan lewat tirai jendela yang sedikit kusingkapkan. Kulihat beberapa orang terkapar di jalanan dengan beberapa luka di tubuhnya, dan darah merah membasahi baju mereka. Beberapa yang lain tetap waspada dan yang lainnya mulai mengangkati tubuh-tubuh bersimbah darah itu. Sungguh pemandangan yang sangat mengiris hati, nyawa seolah tiada harganya di tempat ini. Jalanan menjadi saksi dicabutnya beberapa nyawa, aspal memerah, darah.

Aku kembali ke tengah ruangan, kudapati beberapa perabot pecah dan berserakan di lantai. Kudapati beberapa selongsongan peluru di antara pecahan kaca-kaca itu.

Andai gelas-gelas ini adalah aku, sudah pasti keluargaku sangat sedih bahkan merasa begitu kehilangan diriku. Anakku, suamiku, keluarga, dan teman-temanku. Tak terasa air mata kembali meleleh di pipiku. “Aku ingin pulang.” ratapku pilu.

“Syen, aku mau ke kamar kecil.” Suara lirih Zahwa segera mengalihkan pikiranku, secepatnya aku berlari dan menggedong gadis kecil itu menuju kamar mandi.

Setelah situasi kuyakini benar-benar aman, cepat-cepat aku membereskan serpihan kaca dan beling di ruang tengah. Madam yang sedari tadi sembunyi di kamarku pun sudah berani keluar. Thariq tidak ada bersamanya, ternyata dia tadi menangis sampai tertidur di kamarku.

“Sudah aman, Syen?” tanya Madam dari balik pintu.

“Sudah, Madam.”

“Kalian tidak apa-apa kan?”

“Alhamdulillah, tidak, Madam.” Dan malam ini kami memutuskan untuk tidur ramai-ramai di kamarku.

Sebenarnya sudah beberapa kali ku utarakan niatku untuk pulang ke Indonesia, dan majikan pun mengijinkan tapi dia tak mau mengantarku, dia meminta KBRI untuk menjemputku. Awalnya KBRI memintaku bersabar, tapi akhir-akhir ini mereka menyuruhku menunggu hingga situasi agak kondusif. Apalagi beberapa waktu yang lalu ada seorang pegawai KBRI yang tewas tertembak di salah satu bagian distrik di kota ini, jelas keadaan ini semakin tidak memungkinkan bagi KBRI untuk melakukan proses evakuasi.

Aku tak mungkin lagi bertahan dalam keadaan ini, keinginanku untuk segera pulang makin menjadi tatkala kudengar kabar bahwa Sari, temanku, ikut menjadi korban pengeboman. Sari meninggal di dalam rumah majikannya, di kota Homs, salah satu kota yang menjadi pusat pertempuran di Suriah. Bom jatuh di rumah itu dan menewaskan seluruh penghuninya, temasuk Sari. Sebelumnya Sari sering sms aku tentang keinginannya untuk cepat kembali ke kampung halaman. Dia benar-benar tidak kuat berada di sini. Semenjak itu, siang malam tangisku pecah, aku rindu keluargaku, rindu kampungku, rindu negeriku. Aku merindukan perdamainan di bumi ini.

***

Damaskus kembali bergejolak. Hari ini banyak terdengar suara tembakan dan dentuman bom, bahkan pesawat berseliweran di atas atap rumah kami, lalu terdengar beberapa kali suara ledakan di luar sana. Sepertinya pertempuran terjadi di sekitar Lapangan Sabaa Bahrat. Rumah kami tak terlalu jauh dari lapangan itu, persisnya pas di belakang jalan Bagdad, jalan utama menuju Lapangan Sabaa Bahrat. Kami kembali bersembunyi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Kamarku yang berada di lantai satu dan letaknya paling ujung dinilai lebih aman, untuk itu dijadikan sebagai tempat persembunyian kami. Dapur ada di sebelah barat kamarku, dan sebelah timur adalah kamar mandi sekaligus toilet bagi para tamu. Tak salah jika majikan lebih memilih mengamankan diri di sini.

“Besok atau lusa kami akan mengungsi, Syen.” Suara Madam terdengar berat.

“Bagaimana dengan saya, Madam?” Pikiranku jadi tak karuan, aku sendiri pun panik, bukan hanya mereka.

“Tadi saya sudah telfon ke kedutaan, mungkin besok mereka akan datang menjemputmu, mungkin ….”

“Kalau tidak?”

“Kau ikut bersama kami. Kami tak mungkin mengantarmu, Syen …atau meninggalkanmu di sini, tak mungkin!”

Setelah mengemasi semua barang-barang, aku segera menghubungi kantor KBRI di Damaskus. Jawaban kurang memuaskan kudapatkan, “Mbak yang sabar ya, kalau situasi memungkinkan secepatnya utusan kami akan menjemput anda.”

Aku semakin was-was, pikiranku saat itu hanya satu, ‘pulang’.

Dua hari aku telah menunggu tapi tak ada tanda-tanda kalau utusan dari KBRI akan datang. Dengan hati yang berat terpaksa aku ikut bersama majikan. Tujuan kami adalah ke Lebanon. Negara tetangga Suriah ini memang menjadi jujukan ribuan pengungsi seperti kami. Kata Madam, perjalanan dari Damascus ke Beirut, ibukota Lebanon, ditempuh dengan perjalanan darat sekitar 150 km. Seharusnya waktu dua jam cukup bagi kami untuk mencapai Negara itu, tapi karena konflik ini, ada beberapa pos penjagaan yang harus kami lewati.

Aku tak tau jelas mengapa majikanku memilih mengungsi sebelum matahari terbit. Saat itu aku baru selesai menunaikan sholat Tahajud dan majikan memintaku segera menggendong Zahwa yang masih tidur. Semua bekal dan baju sengaja kami masukkan sejak kemarin. Suasana kota Damaskus malam itu sangat lengang, dalam kegelapan malam tak banyak yang dapat aku tangkap selain beberapa bangunan yang hancur.

Aku sangat takut, bukankah dalam kegelapan ini justru malah membahayakan keselamatan kami? Tahlil,Tasbih, Tahmid, dan Taqbir tak henti-hentinya kuucapkan. Majikan laki-laki sangat fokus di belakang kemudi, madam berada di sampingnya sambil memangku Thariq, aku berada di belakang bersama Zahwa.

Pagi mulai datang dan matahari muncul dari ufuk timur menyambut awal hari. Dari kejauhan aku melihat ada kamp juga beberapa tank. Mataku seolah terhipnotis oleh pemandangan yang biasa kulihat di TV itu. Di atas gurun yang membentang itu hanya ada beberapa tenda, mobil-mobil perang, dan pos penjagaan.

Mataku masih fokus ke arah itu sampai sayup-sayup kudengar suara desingan yang menuju ke arah kami, dan …’duuuueeeeeeer ….’ Aku tak tau apa yang barusan kualami, tapi aku merasakan tubuhku begitu ringan dan terbang ke atas bersama kepulan asap hitam. Aku makin terbang tinggi dan sangat tinggi. Kutinggalkan impianku bersamaan dengan bom yang meledakkan mobil majikanku.



優選 Choice Award

📜 敘利亞的黑煙 Asap Hitam di Suriah

👤 Sri Yanti

 

在決定去中東當外勞之前,我也不知道我在想什麼。上班當然是為了得到更高的待遇,過程簡單且不用複雜的手續。其實我最初的目標是中東地區,但我萬萬沒想到,最後我會被派到敘利亞。

我的名字叫莎蒂妮(Sartini),但雇主時常叫我 Syen。我來自梳邦,西爪哇。我是一個小孩的媽媽,我老公只是普通農夫,在沒成為外勞之前,我也跟老公一樣。

剛到這裡時,也就是 2011 年,這個國家的情況還好好的,但在第三個月後,整個就變了調,衝突爆發,動亂四起。自由敘利亞軍與政府部隊(總統巴沙爾•阿薩德的支持者)之間的衝突,使得這個國家變得很緊張。敘利亞人民極度焦慮和恐懼,害怕如雨的砲彈和子彈。對任何人來說,死亡毫於預警,隨時都會發生。

雙方互相攻擊,他們無差別攻擊,沒看到人都會開槍,男女老少,不分年紀。而我就像被困在籠子裡的雞,無奈,雖然生存著,但不確定自己的命運。

到處聽得到炸彈噗通噗通,像心臟痛苦憂鬱的歌聲;吟詠著死亡的威脅,甚至死神的招喚。一陣聲響,打破沉默,然後一團黑色煙霧騰空而起,撲飛上天,做為戰勝對方的滿意象徵。囂張的驕傲的黑煙,代表著犧牲了數百、甚至數千勇敢的靈魂做為代價。而對那些勇敢的人來說,爆炸和槍聲並不是一個威脅,反而燃燒出熊熊鬥志。

但這不適合我。對我而言,我們是外勞,我們的目的只是努力賺錢,把夢想寄託在家庭的未來,我們不是來送命的,我們不想白白受死。

~~~~~~~

敘利亞的首都大馬士革,在過去一年已經成了我生活的一部分。以前我常常走在城市街道上,陪太太一起購物,或與她的孩子一起散步。雇主家周圍商店林立,那是因為我們住在城區裡的關係。有幾次太太帶我遊逛這古老城市,享受一路上充滿了歷史之美的異國情調。巴布沙奇路滿滿都是小店,更難忘大馬士革最重要的米德哈特帕夏(Medhat Pasha)集市。

太太是一位家庭主婦,她的先生是私營企業的部門員工,我不太清楚他的工作內容。他們都對我很好。

~~~~~~~

已經十幾天,各區里的氣氛都很緊張,很多人都準備好他們的槍。男士們用可疑的眼神瞪大眼睛。不要說出門,連在房子裡我們都感到莫大的恐慌。

「Syen,快躲起來!真主偉大……真主偉大……真主偉大。」太太邊喊邊跑地趕去抱住 Thariq,她的二兒子。

我自己則是緊緊抱住 Zahwa,她的大女兒。我們躲在客廳的樓梯底下。Zahwa 抱我抱得很緊,那七歲的小女孩和我一樣慌張。距我們家不遠處,聽到很久的一陣駁火槍聲,不知道有多少人參與其中,可能 20 人、30 人,或許更多。

「Syeeeen……」幾顆子彈擊中我們的房子,Zahwa 越來越害怕,她的雙臂勒緊我,越抱越緊讓我無法呼吸。

「不要怕!有我在,我會保護你,不用怕!」我試著安撫 Zahwa,雖然我自己也很害怕,和她沒兩樣。我們一起哭、一起發抖,互相緊握、互相擁抱,很緊很緊。

「Syen,我們會死嗎?」Zahwa 問。絲毫沒有鬆開她的手臂。
「當然不會啊,親愛的。」
「但是 Syen,他們為什麼會被槍殺?媽媽說他們流血,他們死了,他們去了天堂。Syen,是嗎?我們正要去天堂?」

啊,這孩子為什麼這樣問。死亡?天堂?不!我一定要活下去,我還想看到我唯一的孩子,照顧他、給他幸福,讓他受教育,扶養他長大。
「真主偉大……真主偉大……真主偉大。」我不知道念了幾百次。我真的很害怕,在樓梯底下,我們兩個動都不敢動,留在原地等待情勢完全安全為止。

外面聽起來真的很混亂,子彈咻砰咻砰的爆裂聲不斷傳出,甚至好幾次聽到爆炸聲是那樣的清晰,汽車防盜器的警報聲也在混亂嘈雜中不停長嘯。從家裡都聽得到外面的吶喊以及厚重靴子頓地的撞擊聲。我嚇壞了,心裡十分驚駭。

經過好幾個小時之後,情況終於平靜了一些,我鼓起勇氣從藏匿處走出來。掀起小窗的窗簾偷窺,不意撞見好幾個受傷的人倒在馬路上,紅色的鮮血浸透了他們的衣服。其他一些人高度警戒地開始抬起渾身是血的屍體。這真是令人心痛到難以置信的景像,在這裡,生命好像分文不值,街道見證了生命被奪走,柏油路被滿地的鮮血染紅。

我回到客廳,看見破碎的家具灑滿一地,還有在玻璃碎屑中的一些彈殼。

如果那些破裂的玻璃是我,我的家人肯定會心碎,覺得莫名其妙就失去了我。我的丈夫、我的家人、我的朋友。不知不覺,我淚流滿面。「我想回家」,我心悲傷地吶喊。

「Syen,我想上廁所。」Zahwa 的聲音把我的心緒喚回,我立即跑過去,把小女孩抱去洗手間。

等確認情況真的安全之後,我很快地清理客廳的碎片和玻璃。一直躲在我房間的太太也大膽走了出來。Thariq 沒有跟她一起,原來他哭到在我房裡睡著了。

「安全了嗎?Syen」太太從房門那裡問。
「是的,太太。」
「你們沒事?對吧?」
「感謝神,沒事,太太。」今晚開始,我們決定在我房間一起睡。

其實我有好幾次說過我想返回印尼,我的雇主也答應了,但他不願意送我去,他要求印尼辦事處過來接我。剛開始印辦要我耐心等待,但最近他們叫我等情況更好一點再說。況且前一陣子,這城市的另個小區,有一位印辦員工被槍殺了,顯然在這個當下,印尼辦事處更沒有能力做疏散的動作。

當我聽說我的朋友莎莉也成了炸彈受害者,這讓我再也撐不下去,回家的渴望越來越強烈。莎莉在她的雇主家裡過世,霍姆斯市,敘利亞內戰的中心之一。炸彈落在他們中間,所有的人都沒能逃過,包含莎莉。在那之前,莎莉時常傳簡訊給我,講述她的心願,說她很想趕快回家鄉,說她沒辦法繼續待在這裡。這件事發生後,不管白天黑夜,我不斷哭泣,我想念我的家人,想念我的村莊,想念祖國,想念世界和平。

大馬士革再掀烽火,今天密集聽見槍聲和砲彈的爆炸聲,甚至飛機在我們的屋頂上盤旋,然後聽到外面好幾次的轟炸。戰爭好像發生在離我們家不遠的阿巴哈拉特區(Sabaa Bahrat),就在廣場附近的巴格達街上。為了避免不幸的事發生,我們又躲了起來。我的房間在一樓的最後面,被視為是比較安全的地方,用來當作藏身之處。廚房在我房間的西邊,而東邊是浴室兼客人的洗手間。雇主挑我的房間來躲,是正確的選擇。

「明天或後天我們要撤離,Syen。」太太聲音聽起來很沉重。
「那我呢,太太?」我頭腦很亂,我自己也很慌,不只他們。
「我已經連絡過印辦,也許明天他們會來接你,也許……」
「如果沒有呢?」
「你可以跟著我們,但我們不可能開車送你走。Syen……叫我把你一個人丟在這裡,我做不到!」

收拾好所有行李,我立即連絡在大馬士革的印辦。得到的答覆並沒有讓我很滿意,「是的,小姐,請妳忍耐一下,如果情況允許,我們會派人去接妳。」心存疑慮的我,腦海裡只有一個念頭,「回家」。

我已經等了兩天,但都沒有印辦會派人來的跡象。懷著沉重的心,我逼不得已跟著雇主。我們的目的地是黎巴嫩,這個敘利亞的鄰國,是成千上萬像我們這樣的難民的落腳處。太太說,從大馬士革到黎巴嫩首都貝魯特,路程約 150 公里,由陸路開車,我們應該兩小時內能到達那個國家。但因為有衝突,我們必須經過幾個檢查站。

我不清楚為何雇主選擇在日出前逃難。那時的我才剛結束夜間祈禱 Tahajud,雇主要我立刻抱起還在睡夢中的 Zahwa,以及昨天就打包好的所有用品和衣服。大馬士革那夜的氣氛很寧靜,在漆黑的夜色中,除了毀壞的建築物,我無法辨識其他東西。

我很害怕,擔心在黑暗中,我們的處境是不是更不安全?我不斷發出”Tahlil,Tasbih,Tahmid,dan Taqbir ”(回教徒的禱告)。先生專注地開車,太太抱著 Thariq 坐在一旁,我和 Zahwa在後座。

破曉時分,太陽從東邊出來迎接一天的開始。我在遠處看見一些軍營與坦克,我的眼睛彷彿被催眠了,這不尋常的景像我只在電視裡看過。綿延的沙漠,零星散布著幾個軍用帳篷、軍車以及檢查站。

我的眼睛一直被這一幕給吸引,直到我微微聽見模糊的聲音傳來,uuuueeeeeeer……,我不知道剛剛到底發生了什麼事,但我覺得我的身體變輕,輕到跟著那黑煙飛上了天。我高飛,越飛越高,越飛越高,隨著雇主被轟炸的汽車,我離開了我的幻夢。


決選評審 _駱以軍:這篇我選它的意義是,有種眼睛的葉片被換了一下。他確實也暗示了我,不被困限在台灣,而且故事也很真實地正在發生,雇傭關係被捲入戰爭裡,她等待回鄉的過程,是入圍文章中少數的文學感,有點像等待果陀,層次寫得滿好的,控制得也很好。

得獎感言 _Sri Yanti:我第一次到台灣是 2007 年。我第一個雇主在斗六,我照顧罹患中風的阿嬤。雇主家人對我很好,但我只在這裡待兩個月,因為阿公時常找我講話,阿嬤吃醋。

斗六之後,我的工作是照顧雇主兒子(25 歲男生,因為車禍癱瘓)。這雇主兒子的故事(通常我叫他弟弟)曾參加徵文比賽而被提名。這是在我回印尼前,第一次也是最後一次參加比賽。

第二年,雇主問我是否要到工廠幫忙,當然有額外薪資。雖然沒有增加很多,不過我還是接受,因為想起在家鄉三女兒需要費費很高。一切順利,雇主很疼我,甚至太太給我好幾個手機。結束工作合約前,我拒絕了再次來台灣工作的邀請,但當雇主提供工作給我老公,我心融化。終於 2010 年我再次來台,與老公在同雇主上班。

真不幸的,我老公到台灣兩個月就生病了。神經緊縮,我的工作量增加,老公無法工作,因為沒辦法走路,甚至吃飯要餵,洗澡也是我幫他洗。我沒體力,煩惱增加。每天的家事,工廠,照顧弟弟,加上照顧老公。有一天,太太帶弟弟去台中做復健時,我老公也跟著做復健,一切都是雇主的好意。帶兩個不會走路的人當然很辛苦,不過我也不知道從哪裡來的力量,我能輪流扛他們,感謝真主。因為阿拉給了我很多恩典與方便。一個月過了,沒有什麼變化,終於雇主的好意,2010 年 8 月 1 日我老公在嘉義基督教醫院開刀。我很感謝黃大煒醫生,做了很成功的手術。能渡過 20%殘廢的風險。感謝真主,我與老公能完成三年的合約。

給我的雇主,楊秀博太太,對妳們全家的好意,我說聲謝謝。

薪資的誘惑讓我打算找香港的工作,但老闆一樣是台灣人。其中一個理由,我喜歡台灣人當雇主,是因為他們的友善,其他理由是我不需要辛苦學廣東語。我的雇主與我同年齡,差別是我的小孩已經三個(分別是國三、國一、小三),而雇主的小孩才 1 歲 8 個月。雇主是一名被派去香港的台灣政府公務人員。他們在香港才一年,有可能還有四年的機會我能與他們工作。在家只我們四個人:太太,先生,嬰兒與我。太太與先生都是上班族,因此白天只有我和嬰兒在家。偶而星期日我們一起出遊,購物,看香港的美麗景點。雇主也體諒我,我可以舉行穆斯林的義務。也可以參加齋戒月,甚至他們不忘了提醒,開齋吃飯時間到了。我很感動,他們不只體諒我,也很關心我的健康。跟他們,我們彷彿沒有距離,互相分享家裡的故事,或香港、台灣、甚至印尼的熱門話題。在他鄉雇主是我的第二個家人。只要有愛,工作上溫暖能製造出來,而身分不再是雇主與員工的障礙。

我寫這篇小說時還在台灣,在 2012 年。當時的敘利亞狀況不安,自由派與政府兵發生內戰。很多印尼外勞同胞在那裡,並沒有全部都被印尼外交部記載。人口販賣是其中一個原因,印尼外勞被派去敘利亞以及其他中東國家。我對這主題感到興趣,是因為我看過一名印尼外勞(化名莎麗)在雇主家被炸彈轟炸而過世。一名印辦在一間修車廠過世,也是真實故事。〈敘利亞的黑煙〉是代表我關心人口販賣與不斷發生的戰爭。

我從臉書上的朋友得知,我在百名印尼參賽者中入圍決賽。感覺驕傲與感動,因為我成為其中的印尼代表。我沒有任何野心,贏或輸我一樣感恩。但我有誓約,如果我贏,我會把一部分的錢捐出幫助在台困難的朋友。希望阿拉能允許,阿門。我感謝主辦單位以及任何有關移民工文學獎的人,感謝你們關心我們外籍勞工。我們很感激你們的付出以及同理心。致上滿滿的愛與溫暖問候。

發表迴響

你的電子郵件位址並不會被公開。 必要欄位標記為 *