江子翠的勇士 LELAKI PEMBERANI DI JIANGZICUI

優選 Choice Award

📜 江子翠的勇士 LELAKI PEMBERANI DI JIANGZICUI

👤  Erin Cipta

 

Kulongok jendela melihat langit untuk memeriksa cuaca. Gerumbul awan kelabu berarak ditiup angin pelan. Cuaca mungkin tidak begitu bagus hari ini untuk bepergian bersama pasienku.

Kakek Wang, pasien yang kurawat, menderita kanker darah yang menyebabkan tubuhnya cepat lelah dan lemah. Meski begitu, Kakek tak pernah kehilangan semangat dan kegembiraan menjalani hari-harinya. Meski geraknya pelan dan terbatas, Kakek tak pernah dengan sengaja bermanja minta kubantu bila ia mampu melakukannya sendiri. Mengambil air minum, atau mencuci tangan misalnya. Namun aku sebagai perawatnya tentu akan berusaha membuat Kakek nyaman dan mudah melakukan semuanya.

“”Hari ini mungkin akan hujan, Kek. Apakah Kakek tetap akan pergi?”” tanyaku.

“”Tentu saja. Aku perlu ke kantor menemui tamu. Siapkan semua keperluan, Lili,”” pinta Kakek.

Tidak setiap hari Kakek ke kantor perusahaannya. Karena kebanyakan urusan pekerjaan telah ditangani oleh anak lelakinya, yaitu Tuan majikanku. Namun sesekali Kakek perlu datang menemui tamu dan mengambil keputusan.

Dengan sigap kusiapkan segala benda yang perlu dibawa bepergian. Kumasukan sebuah tas punggung yang nyaman kusandang. Kursi roda kubiarkan dalam keadaan terlipat ringkas, karena Kakek pasti tidak hendak menggunakannya segera.

Di kabinet dekat pintu keluar, Kakek membuka laci, mengambil bungkusan, dan menyodorkannya padaku. Kumasukan bungkusan itu ke kantong di sandaran kursi roda. Sementara Kakek memilih payung panjang yang hendak dipakainya untuk tongkat, aku segera membuka pintu rumah lebar-lebar agar Kakek mudah melintasinya. Setelah itu, pintu kututup kembali dan kunci kukantongi.

Keluar dari gang, kami segera bertemu dengan lalu lalang orang yang berjalan cepat bahkan berlari menuju dan keluar dari stasiun kereta metro Banqiao. Nanti kami juga akan menggunakan transportasi yang nyaman dan tepat waktu itu. Sebenarnya bisa saja supir kantor menjemput, namun kami tidak sedang terburu-buru. Maka alih-alih bergabung dengan arus manusia yang masuk stasiun, kami malah berbelok menuju sebuah taman di sampingnya.

Ini adalah kebiasaan Kakek hampir tiap hari. Pada sebuah bangku kayu di bawah pohon flamboyan, Kakek mengetuk-ngetuk sandarannya dengan ujung payung. Sedangkan aku segera mengeluarkan bungkusan yang tadi kulesakkan di kantong kursi roda.

Setelah sesaat menunggu, dari balik gerumbul perdu muncul dua ekor anjing hitam. Mereka menyalak gembira mendekati kami. Kakek tersenyum lebar.

“”Hai, Kawan. Apa kabar? Cuaca kurang bagus hari ini. Apa kalian gembira?””

Kakek berucap riang sambil mengelus leher anjing-anjing itu. Aku segera membuka bungkusan yang kami bawa tadi. Isinya adalah makanan anjing. Kuletakan makanan itu di piring kertas dan kusodorkan pada dua anjing yang langsung menyambutnya dengan sangat gembira.

“”Kakek suka sekali dengan anjing. Mengapa tidak memelihara di rumah?”” Tanyaku sambil membereskan sisa makanan anjing di dalam kantong.

“”Sebenarnya ingin, tapi tidak bisa. Istriku alergi bulu anjing. Setelah istriku meninggal, ternyata tetap tidak bisa,”” jawab Kakek.

“”Mengapa?””

“”Tenagaku tidak kuat lagi. Merawat anjing perlu kesabaran dan tenaga ekstra. Dengan begini saja aku masih tetap bisa mencintai anjing yang tak punya rumah,””

Aku tersenyum. Kakek benar, dengan tidak memelihara anjing sendiri, Kakek malah bisa membantu anjing-anjing telantar yang tak punya rumah. Mereka tidak punya nama, dan Kakek selalu memanggilnya dengan ‘Kawan’.

Anjing telantar ini sering pula kulihat berkeliaran di pasar. Mereka akan mencari makan dari sisa-sisa sampah. Ketika di pasar, anjing ini selalu menghindar bersentuhan dengan orang. Mereka anjing bebas dan liar. Namun beda sekali dengan sekarang. Kulihat mereka begitu jinak dan akrab dengan Kakek.

Setelah menghabiskan makanannya, kedua ‘kawan’ berbulu ini mendekati Kakek yang duduk menunggu. Mereka mengendus dan mengusapkan sisi kepala ke kaki Kakek seolah berucap terima kasih.

“”Pergilah. Aku juga mau pergi,”” ucap Kakek pada mereka sambil mengangkat payung.

Dua anjing itu menyalak lalu berlari menghilang di balik gerumbul perdu tempat mereka muncul tadi.

Pelan aku dan Kakek berjalan beriringan masuk stasiun Banqiao. Stasiun yang bersih dan jalur-jalur yang rapi membuat kami nyaman menggunakan kereta.

Setelah sekitar empat menit berlalu, kereta yang kami tunggu datang tepat waktu. Kereta aman dan nyaman ini akan membawa kami ke Taipei Main Station.

*******

Perusahaan Kakek adalah sebuah bisnis export spare part sepeda. Kakeklah yang merintis dari awal hingga menjadi besar seperti ini. Meski memiliki perusahaan besar, Kakek tetap hidup sederhana. Ia memiliki rumah besar dan villa, namun tetap memilih tinggal di rumah kecil tempatnya menghabiskan hidup dengan istrinya dulu. Kakek adalah pencinta kenangan.

Kesederhanaan Kakek tidak membuatnya menjadi hina. Di perusahaan ini semua orang akan menunduk hormat meski Kakek tidak menegakkan badan dengan gagah. Kakek ramah dan lembut dengan siapa saja. Dan itulah yang membuat setiap orang mencintainya.

Ah, benar perkiraanku. Cuaca memang tidak bagus hari ini. Tepat tengah hari, hujan laksana ditumpahkan dari langit. Turun deras sekali. Sebentar lagi jadwal Kakek makan, minum obat, dan tidur siang. Aku segera menyiapkan semuanya, termasuk sofa panjang untuk tidur Kakek di ruangan milik Tuan.

“”Kita pulang kalau hujan reda, Lili,”” pinta Kakek di sela-sela makannya.

Aku mengangguk saja, karena mulutku juga sedang penuh makanan. Aku makan cepat-cepat karena harus mengurusi keperluan Kakek.

“”Papa, biar nanti supir yang mengantar kalian pulang,”” Ucap Tuan yang tiba-tiba saja masuk ruangan.

“”Tidak perlu. Kalau hujan sudah reda, naik kereta saja juga bisa. Saya sudah terbiasa,”” sergah Kakek sambil pelan-pelan bangkit.

Tuan hanya mengangkat bahu dan tersenyum pada kami. Memang tak ada yang perlu dikhawatirkan tentang Kakek. Kereta metro sangat nyaman dan aman bahkan untuk lansia dan bayi. Jadi nanti kami akan pulang sendiri.

**********

Hujan yang tadi telah reda kembali turun rintik-rintik ketika kami masuk stasiun besar ini. Kakek duduk di kursi roda dan kudorong pelan mengikuti jalur menuju bawah tanah. Arus penumpang mulai padat karena sudah mulai jam pulang kantor.

Kereta kami datang segera. Antrian tidak panjang, namun sampai di dalam kereta kami tak kebagian kursi. Ah, tak mengapa. Kakek sudah duduk di kursi roda, dan aku bisa berdiri saja.

Satu stasiun lewat, seorang penumpang bangkit dari kursi di seberang bangku prioritas dekat pintu. Ingin kududuki, namun seorang ibu tampak bergerak menuju kursi yang sama. Ibu berbaju setelan hitam putih itu tampak lelah. Jadi kupersilakan ia mengambil kursi itu.

”Silakan duduk,” ucapku sambil tesenyum.

”Terima kasih banyak. Maaf saya lelah sekali,” sahut sang ibu dengan senyum ramahnya.

Aku kembali ke belakang kursi roda Kakek dan berdiri tenang sambil mengamati orang-orang dalam kereta. Hampir semua penumpang sibuk dengan telepon selularnya. Orang-orang menunduk dalam diam menatap layar kecil di telapak tangannya. Hampir tak ada obrolan dan tegur sapa di kereta yang sibuk ini.

Aku agak mengantuk sebenarnya. Tapi posisiku yang berdiri tidak memungkinkanku untuk tidur. Maka dengan tangan kutelekan di pegangan kursi roda, mataku sayup-sayup meredup.

Tiba-tiba …

”Aaaa …!”

”Ya, Tuhan!”

”Awas menyingkir!”

Orang-orang berteriak panik di dalam gerbong kereta ini. Aku tergeragap melompat tersadar dari kantuk dan kebingungan melihat kekacauan yang terjadi.

Apakah terjadi gempa bumi?

Aku masih tertegun saat Kakek menggerakan kursi rodanya mundur dan mendorong tubuhku. Spontan kutarik kursi roda itu mengikuti gerakan mundurnya.

”Lili … Lili … Cepat berlindung!” Kakek menyeru panik.

Ya Tuhan. Aku baru sadar dengan apa yang terjadi ketika mataku tertumbuk pada sosok berlumuran darah terkapar di lantai kereta. Seorang lelaki muda di dekat kursi prioritas dan seorang ibu berpakaian setelan hitam putih di dekat pintu tampak meregang nyawa.

Ibu itu? Ibu yang tadi kupersilakan mengambil kursi yang hampir saja kududuki!

Ya Tuhan … Ya Tuhan …

Kulihat pemuda berbaju merah membabi buta mengayunkan pisau dan menusuki siapa saja yang ada dalam jangkauannya. Orang-orang yang terkena amukannya berjatuhan. Yang masih bisa berlari segera menyingkir sambil melemparkan apa saja pada pemuda itu. Aku dan Kakek bergerombol dengan beberapa lansia di ujung gerbong, yang sialnya buntu! Gawat sekali.

Entah berapa orang yang bergelimpangan berdarah-darah di lantai kereta metro itu. Aku gemetar hebat. Maut serasa mengintaiku. Kurundukan badan merendah di belakang kursi roda. Ah, sebuah usaha sembunyi yang sia-sia. Tapi sungguh aku takut sekali. Tak terbayangkan akan mengalami tragedi ketika jauh dari tanah air dan keluarga sendiri.

Dan aku terkencing-kencing ketika pemuda gila itu mulai mendekati gerombolan kami di ujung gerbong. Orang-orang di sekitarku surut ketakutan. Seorang bapak berbaju kotak-kotak dengan setengah ragu mengangkat payung.

”Kumohon jangan sakiti kami,” ucapnya penuh nada putus asa.

Lalu Kakek serta merta berdiri gagah dari kursi roda dan mengacungkan payung panjang yang dipakainya sebagai tongkat. Ia menghardik pemuda gila itu dengan sangat galak.

”Jangan coba-coba mendekat! Tenaga kami jauh lebih besar. Senjata kami lebih panjang!” Kakek berseru dengan suara menggelegar.

Berkat gelegar suara Kakek, kami yang dari tadi bergerombol ragu dan gemetar tiba-tiba jadi berani. Kami berlomba-lomba menghardik dan membentaknya dengan galak. Aku yang gemetaran juga terpancing ikut membentak dalam bahasaku sendiri.

”Awas kalau mendekat, aku jotos, nanti!” teriakku.

Aku bahkan tak peduli meski pemuda gila itu pasti tak mengerti bahasa Indonesia.

Entah karena takut atau kelelahan, pemuda berkaos merah itu memang tidak mendekat pada kami lagi.

Kereta sampai di stasiun Jiangzicui tak lama kemudian. Begitu kereta berhenti dan pintu terbuka, orang-orang berhamburan keluar dengan sangat panik. Pemuda itu juga keluar dan melanjutkan amukannya di stasiun. Entah apa yang terjadi selanjutnya aku tak tahu. Yang terpikir olehku hanya menyingkir sejauh-jauhnya dari tragedi ini. Kudorong kursi roda dengan terburu-buru sampai Kakek menegurku untuk berhati-hati.

Korban-korban yang bergelimpangan segera ditolong. Tenaga medis datang sangat cepat. Kepanikan masih menyelimuti stasiun Jiangzicui, sementara hujan turun makin deras di luar. Aku gemetaran meraih telepon selular dan menekan nomor Tuan.

”Tuan … Kami ada masalah di stasiun Jiangzicui. Mohon segeralah kemari. Kami …,”

Aku tak sanggup melanjutkan bicara ketika sebuah tandu digotong sambil berlari melewatiku. Di atas tandu itu tergeletak seorang ibu berpakaian hitam putih dan berlumuran darah di dadanya. Ibu yang kuberi kursi di kereta tadi. Tiba-tiba aku membayangkan seandainya saja aku yang akhirnya duduk di kursi dekat pintu kereta.

Membayangkan itu kepalaku jadi pusing sekali. Sendi-sendi tulangku lemas, dan aku tak sanggup lagi berdiri. Gelap seketika …

**********

Sejak tragedi itu, aku dan Kakek tidak pernah lagi naik kereta metro. Tuan juga tidak mengijinkan kami. Bila hendak bepergian jauh, Tuan menyuruhku untuk menelpon kantor. Lalu mobil dan seorang supir akan dikirim untuk mengantar kami.

Sebenarnya aku tidak berani lagi naik kereta metro meski tahu sekarang pasti sudah aman. Kakek juga bilang bahwa sekarang petugas keamanan diterjunkan untuk berjaga di dalam gerbong. Ah, aku terlalu takut dengan kereta metro gara-gara pemuda gila berkaos merah itu. Jangankan naik kereta, melewati stasiun dan melihat kereta melintas saja dadaku mendadak berdegup tak keruan. Aku trauma.

Kebiasaan Kakek mengunjungi ’kawan-kawan’ berbulu di taman dekat stasiun masih dilakukan. Bukan hanya anjing, Kakek juga kadang memberi makan tupai dengan biji-bijian kering. Ia sengaja menebar biji-biji itu di pokok flamboyan. Dan sebentar kemudian beberapa tupai akan meluncur turun berebut makan.

Hingga pada suatu pagi, aku merasa keheranan mendapati kakek terlambat bangun. Kuketuk pintu kamarnya pelan.

”Kakek, sudah siang. Waktu sarapan sudah lewat,” ucapku pelan dari depan pintu.

Karena tak ada jawaban, kubuka pelan pintu kamar. Apa yang kulihat benar-benar bukan hal yang kuharapkan terjadi. Tubuh Kakek terjatuh tengkurap di lantai. Pingsan.

**********

Kugenggam tangan Kakek yang sedingin es. Sejak kutemukan pingsan pagi tadi, Kakek belum siuman sampai siang. Tadi pagi Tuan langsung datang ke rumah dan membantuku mengangkat Kakek setelah kutelpon. Ambulance datang tak berselang lama kemudian.

Di rumah sakit, Kakek segera ditangani oleh dokternya. Meski belum siuman, namun dokter meyakinkan keadaan Kakek sementara ini tidak begitu gawat. Laporan hasil pemeriksaan akan keluar segera.

Tuan juga tak pergi dari sisi Kakek. Kulihat kekhawatiran yang teramat sangat di wajahnya. Ia gelisah dan hampir saja tidak makan seandainya aku tidak menyiapkannya. Aku pun khawatir akan kondisi Kakek. Namun aku sadar harus tetap menjaga kesehatan sendiri agar bisa merawat Kakek dengan baik. Maka aku berusaha makan meski tak ingin. Kupesan nasi kotak untukku dan Tuan.

Kakek siuman menjelang sore. Wajahnya menghangat dan napasnya teratur. Ia tersenyum padaku dan Tuan yang menungguinya.

”Aku baik-baik saja, jangan khawatir,” Kakek berucap seolah tahu apa yang kami batin.

Bagaimana bisa kami tidak khawatir? Ah, tapi Kakek memang orang yang selalu optimis. Seharusnya kami yang menenangkan Kakek, sekarang yang terjadi sebaliknya. Ia bahkan meminta dokter untuk menjelaskan kondisinya. Awalnya dokter ragu dan mengajak Tuan ke ruangannya untuk bicara, namun Kakek meyakinkan bahwa ia tidak apa-apa mendengar hasil pemeriksaan.

”Kanker darah Kakek tidak meningkat stadiumnya, namun kami mendeteksi ada penyakit lain yang menyerang. Sayang sekali, Kakek mengidap Multiple Sclerosis. Kakek akan kesulitan bergerak. Bahkan mungkin akan lumpuh,” jelas dokter dengan sangat hati-hati.

Tuan sesenggukan menangis mendengarnya. Hatiku pun tersayat mengetahui kenyataan kondisi Kakek yang demikian. Sedangkan Kakek yang seumpama pesakitan tervonis hakim, justru amat tenang menerima berita itu.

”Sudahlah, Anakku. Aku baik-baik saja. Jangan bersedih seperti itu,” ucap kakek sambil menepuk pundak Tuan.

Bagai tersulut sumbunya, tangis Tuan meledak. Dipeluknya tubuh Kakek erat-erat. Aku tertular menangis pula. Kususut air mata dengan ujung lengan.

*******

Hampir seminggu Kakek di rumah sakit. Dan mungkin masih akan lebih lama. Rangkaian pengobatan dan terapi yang diterima Kakek tampak sangat menyakitkan. Kerap kulihat kakek menggigit bibir menahan sakit. Multiple sclerosis telah membuat tubuh Kakek kehilangan kemampuan gerak. Sedikit saja tubuhnya digerakan, sakit yang luar biasa akan menyerang. Kakek selalu menjalani setiap proses pengobatan dengan penuh senyum dan optimis, meski sebetulnya ia juga tahu belum ditemukan obat untuk menyembuhkan penyakit langka itu.

”Lili, pulanglah. Beri makan kawan-kawanku di taman itu,” ucap Kakek setelah pengobatan.

Aku tertegun. Kakek masih teringat akan anjing-anjing di taman yang bahkan mungkin tidak peduli dengannya. Namun aku harus menuruti apa kata Kakek. Maka setelah Tuan datang menggantikanku menunggui Kakek, aku segera pulang.

Sesuai pesan Kakek, kusiapkan makanan untuk anjing-anjing telantar itu. Kulakukan ritual seperti yang Kakek biasa lakukan; mengetuk sandaran bangku taman dengan payung besar.

Dua ekor anjing hitam muncul mendengar ketukanku. Anjing-anjing itu mendekat, tapi terlihat tidak bersemangat. Makanan di piring kertas diendusnya, namun tak langsung dimakan. Aku menunggui sambil duduk di bangku.

Tidak ada salak anjing yang gembira seperti sebelumnya. Kawan-kawan berbulu itu makan dalam diam. Dua anjing hitam menatapku di sela-sela makan seolah bertanya; di mana Kakek?

Tak tahu entah mengapa, aku ingin sekali mengadu pada anjing-anjing ini.

”Kakek sakit, Kawan. Ia tak bisa berjalan sendiri sekarang. Aku sedih dan kehilangan,” ucapku pelan.

Rasanya aneh bicara pada hewan. Tapi sungguh aku merasa punya kawan sependeritaan. Dan itu melegakan.

Anjing-anjing ini menyalak pelan, lalu menguik sedih. Makanan yang kuberikan tak dihabiskannya. Aku yakin anjing-anjing ini tahu apa yang baru saja kukatakan. Ya, mereka juga kehilangan Kakek, kawan manusia mereka.

Dadaku sesak dan ingin menangis lagi. Kuberesi sisa-sisa makanan anjing dan segera beranjak dari taman. Kawan-kawan berbulu itu juga berlalu dengan langkah pelan dan sedih, bukan lari kencang dan gembira seperti ketika bertemu Kakek.

Aku ingin segera kembali ke rumah sakit dan menyampaikan pada Kakek bahwa kawan-kawan berbulu itu merindukannya. Aku ingin segera menjumpai lelaki yang telah dengan gagah berani melindungiku dulu di stasiun Jiangzicui, yang dengan gagah berani pula menjalani semua proses pengobatan yang menyakitkan. Aku ingin menemui lelaki lembut hati yang menguatkan anaknya saat menangisi penderitaannya, dan selalu mengingat kawan-kawannya meski hanya beberapa anjing liar. Lelaki yang dihormati dan dicintai orang-orang karena kesahajaannya. Lelaki yang memiliki hati seorang raja sebagaimana namanya; Wang.

****TAMAT****

Taipei, April, 16, 2015

Note:
~kisah dalam cerita ini fiktif, namun terinspirasi dari kejadian nyata tragedi pembunuhan di kereta metro pada tanggal 21 Mei 2014.  



優選 Choice Award

📜 江子翠的勇士 LELAKI PEMBERANI DI JIANGZICUI

👤  Erin Cipta

 

我從窗戶望著天空查看天色,烏雲慢慢地被風吹聚集。今天天氣可能不太好,不適合與我的病人出遊。

王爺爺,我照顧的病人,罹患血癌導致身體疲弱無力。儘管這樣,爺爺從來不會失去對日常生活的熱情,每天開心地過日子。雖然他的行動力緩慢有限,爺爺從來不會因此跟我撒嬌。他覺得他可以自己來,他就不會要我幫忙,例如倒水或洗手。但我身為他的看護,當然要努力讓爺爺舒服和方便。

「爺爺,今天可能會下雨,你還決定要去嗎?」我問爺爺。
「當然,我需要去公司見客人,去準備吧,莉莉」爺爺說。

爺爺不是每天都去他的辦公室,因為大部分的業務已交給他的兒子處理,也就是我的雇主。但偶爾爺爺必須去見客人以及做出決策。我儘快地準備了所有出門要帶的東西。放在揹起來舒服的背包裡,故意把輪椅只是簡單的折疊,因為爺爺一定不會馬上使用它。爺爺打開靠近門的櫃子,拿了包裹然後交給我。我把包裹放在輪椅背後的口袋,而爺爺堅持選用要拿來當拐杖的長傘。我立即把大門敞開,讓爺爺能輕鬆的走出去,之後,我關上門,把鑰匙放進口袋裡。

走出巷子,我們看見很多人快步走甚至用跑的進出板橋捷運站。待會我們也會搭那舒服又準時的交通工具。其實我們也可以叫公司車來載,但我們並不趕時間,因此沒有加入進站的人群,反而轉彎到車站旁的一座公園。這是爺爺每天的習慣,坐在鳳凰樹下的木椅,爺爺用雨傘尖敲一敲椅背,我立刻拿出剛才放進輪椅後面口袋裡的包裹。

等待片刻後,灌木群後方出現了兩隻黑狗。開心地吠叫並靠近我們,爺爺笑容滿面。

「嗨,朋友,你好嗎?今天天氣不太好,你們開心嗎?」爺爺笑呵呵地說,邊說邊摸狗狗的脖子,我趕緊打開帶來的包裹。裡面裝著狗飼料,我把飼料放在紙盤上然後給那兩隻狗狗,受到牠們熱烈歡迎。

「爺爺那麼喜歡狗狗,為什麼家裡不養呢?」我問他邊清理剩下的狗食,然後放進袋子裡。

「其實很想,但沒辦法。因為我老婆對狗毛過敏,老婆過世後,仍然還是沒辦法。」爺爺回答。

「為什麼?」

「我沒有體力了,照顧狗狗需要格外的耐心跟體力。像現在這樣我還是可以愛這些沒有家的流浪狗。」

我微笑,爺爺說的沒錯,沒有能耐在家養自己的狗,他還是可以幫助那些流浪狗。他們沒有名字,爺爺總是以「朋友」來稱呼他們。我時常看到這些流浪狗在市場徘徊,牠們在垃圾堆裡找廚餘。市場裡,這些狗總會避免與人接觸,牠們是野生野長的狗和無家的狗。不過與現在情況差別很大,我看見牠們如此的溫順,跟爺爺很親密。食物吃完後,這兩隻「毛朋友」靠近正在等待的爺爺。牠們嗅探並用頭磨蹭爺爺的腳,彷彿在跟爺爺說聲謝謝。

「走吧,我也該走了。」拿起雨傘,爺爺跟牠們說。那兩隻狗吠叫然後一溜煙消失在灌木群後面。

我緩慢地跟爺爺並肩走進板橋車站,乾淨、整齊、能讓我們能舒適搭車的車站。四分鐘過後,我們等待的車準時抵達。安全舒適列車將載我們到台北車站。

***

爺爺的公司做的是自行車零配件出口業務。從爺爺開始營運變成現在的大公司,雖然擁有大公司,爺爺仍然過著簡單的生活。他有一棟大房子還有別墅,但他選擇住在以前與他的妻子住的小房子。他是一個很珍惜回憶的人。爺爺簡約並沒有讓他變得卑微。雖然爺爺走路沒有很挺,但在公司每個人都會對他鞠躬點頭表示尊敬。爺爺對任何人都表現出溫和友善,這就是每個人愛他的理由。

啊,我猜的沒錯。今天天氣真的不好,正中午,雨從天上傾盆而來,大雨滂沱。不久,爺爺用餐、吃藥、以及睡午覺的時間快到了。我立刻去準備,包括準備先生辦公室裡的長沙發給爺爺睡。

「如果雨停了,我們就回家,莉莉。」吃飯時爺爺對我說。我只有點頭,因為我嘴裡塞滿了食物,我吃很快,因為我還要照料爺爺。

「爸爸,待會讓司機送你們回家吧?」先生突然走進房內對我們說。

「不用,如果雨停了,搭捷運就好,我已經習慣了。」爺爺說著,一邊緩慢的站起來。

先生只是聳聳肩,對著我們微笑。爺爺的確沒什麼令人可擔心的,捷運舒適又安全,即使對老人和嬰幼兒來說,所以待會我們會自己回家。

***

雨勢已經變成濛濛細雨,在我們進了火車站之後。爺爺坐在輪椅上,我慢慢地推往地鐵,乘客開始變多,因為已經快要下班時間。我們的列車即將到來,沒有排很長的隊,但在車裡我們找不到座位。啊,沒關係,爺爺已經坐在輪椅上了,我站著就好。車廂裡,靠近門邊的一個乘客從他的座位站起。我想坐下,但看見一名婦女往同樣的椅子走去。穿黑白色套裝的這位大嬸看起來好像很累,所以我就請她坐那椅子。

「請坐。」我對她微笑說。

「多謝,不好意思,我真的很累。」大嬸也微笑地親切回答。

我又站回爺爺的輪椅後面,靜靜地看著車廂裡的人。幾乎每個乘客都在忙於自己的手機,人們低頭不語看著手掌上的小螢幕,在這個繁忙的車廂,沒有招呼與問候聲。我其實有點睏,但站著的狀況,不可能讓我睡著。因此我把手放在輪椅的握把上,眼睛慢慢闔上。

赫然間……

「啊啊啊啊啊啊!」

「我的天啊!」

「小心!快走!」

車廂裡乘客驚恐尖叫,我從睡意中被嚇到驚醒過來,對發生什麼事渾然不知。

「發生地震嗎?」當爺爺把輪椅往後退以及我的身體自然跟著把輪椅往後拉時,我還呆愣在那裡。

「莉莉……莉莉!快逃!快躲!」爺爺恐慌地叫。

喔,我的天啊!當我看見眼前車地板上到處都是血的時候,我才意識到發生了什麼事。一位坐在靠近博愛座的年輕男生以及門邊方才那位穿黑白套裝的大嬸正在跟死神搏鬥。

那位大嬸?是我剛剛讓座給她並請她坐下的那位大嬸?喔喔!我的上帝!我的天啊……

我看見年輕的紅衣男盲目揮舞著手上的刀子,想要刺殺所有在他可及範圍裡的所有人。被他的狂暴刺傷的人紛紛倒下,還能跑的儘快閃開,邊拿東西往紅衣男身上扔。我和爺爺以及一群老人家在車廂底端,不幸的是沒路可逃了!完蛋了!

不知道有多少人躺在捷運車廂上流著血。我渾身發抖,彷彿死神已經町上我。在輪椅後面我把身體縮起來,啊,一個徒勞的躲藏。但我真的很害怕,沒想到會在離家人與家鄉這麼遙遠的地方經歷這難以想像的悲劇。

當瘋狂的變態男開始靠近我們車廂後面這群人時,我尿出來了 。我周圍的人恐懼退縮,一位穿格子衣服的大叔有點猶豫地拿起傘。

「我求你,不要傷害我們。」他走投無路地求饒。然後爺爺從輪椅直挺挺地站起來,他拿當拐杖的傘指向變態男嚴厲斥喝。

「不要靠近!我們的力量比你大很多,我的武器比較長!」爺爺大聲地對他喊。

多虧爺爺洪亮的聲音,我們一群人突然從害怕戰兢變得勇敢。我們爭相指責,激烈地對他大叫,發抖的我也跟著用我的母語罵他。

「你敢過來,我會給你一拳!」我喊叫,不管變態男是否聽得懂印尼文。不知是因為害怕還是體力耗盡,紅衣男真的沒有再靠近我們。

不久後,列車到了江子翠站。當車停下,門一打開,乘客立刻一擁而出驚慌奔逃。變態男也跟著走出,繼續在月台揮舞著刀。我不知道接下來會發生什麼事,腦子裡只想要遠遠地離開這個地方。我急呼呼地推著輪椅,於是爺爺叮嚀我要小心。

受害者立刻被急救,救護人員很快就來到現場。驚恐的氣氛仍籠罩著江子翠站,而外面雨越下越大。我顫抖著手抓起手機打給先生。

「先生……我們在江子翠站出事了,求你趕快過來,我們……」

我舌頭打結了。當我看到擔架從我前面抬過去,上面是那位黑白套裝的大嬸,她的胸口佈滿鮮血,那位被我讓座的婦女。我突然想像若是我坐上那張靠近門的位子。

這一想,我的頭便天旋地轉,全身骨頭軟弱無力,我再也支撐不住,緊接著眼前一黑…..

***

這件悲慘事故之後,我和爺爺再也沒有搭過捷運。先生也不允許我們坐了。如果要出遠門,先生叫我打電話到公司,然後會派車跟司機來載我們去。

其實我再也不敢坐捷運了,儘管知道它現在一定會很安全。爺爺也說,現在也會派保全人員守護每個車廂。唉,我實在太害怕了,因為變態紅衣男害我從此對捷運有恐懼感。不要說搭車了,連經過車站或是看到捷運經過,我的心臟都會狂跳不已。我深受創傷。

爺爺習慣探訪車站附近公園裡的「毛同志」依然不變。不只狗,爺爺有時候也給松鼠吃乾果。他故意在鳳凰樹上撒乾果,不久後好幾隻松鼠就會下來搶食。直到某個早上,我覺得奇怪,爺爺還沒起床,我悄然前去敲他的門。

「爺爺,很晚了。吃早餐時間都已經過了。」我從門前輕聲地說。

因為都沒有回應,我慢慢打開臥室的門。眼前所見,我不希望的事發生了。爺爺身體俯伏在地,他昏倒了。

***

我雙手握住爺爺冰涼的手。從被發現昏倒到中午時分,爺爺都還沒清醒過來。早上我打電話給先生,請他協助我抬爺爺後,他立刻回到家。不多久救護車也抵達。

在醫院,爺爺迅速由醫生接手。雖然還未甦醒,但醫生說爺爺現在的狀況已脫離危險。檢驗報告結果馬上就會出來。

先生一直在爺爺身旁。我看見他臉上極度擔憂,他很焦慮,如果我不準備的話,他幾乎連飯都不吃。我也很擔心爺爺的病情,但為了照顧好爺爺,我必須先顧好自己的身體。因此雖然吃不下,我還是勉強的吃。所以我叫了先生和我的便當。午後爺爺醒過來了,臉已沒那麼冰,呼吸也正常,他對著我和先生微笑。

「我沒事,不用擔心。」爺爺說得好像知道我們心裡在想什麼。

我們怎麼可能不擔心?唉,但爺爺本來就是很樂觀的人。我們應該要說一些話來安慰爺爺,現在情況正好相反。他甚至要求醫生講解他的病情,剛開始醫生很猶豫,邀先生進他的診療室談,但爺爺說服他,表示他可以聽檢查結果。

「爺爺的血癌穩定,但我們發現另一種疾病。不幸的是,爺爺罹患的是多發性硬化症,移動會有困難,甚至有可能會癱瘓。」醫生小心翼翼的解釋。

先生聽到痛哭失聲。聽到爺爺的情況我的心都碎了。而爺爺感覺像被法院判刑反而很鎮靜。

「好了,兒子,我沒事,不要如此難過。」爺爺拍拍先生肩膀。

像被燃起的燈芯,先生哭得更大聲。他抱緊爺爺身體,我也跟著哭,我用衣袖拭淚。

***

爺爺住院快一星期了,有可能必須住更久。接受一連串護理治療讓爺爺看起來很痛苦。我常看到爺爺痛到咬自己嘴唇。多發性硬化症讓爺爺失去行動力。一點小小的身體移動,就會讓他全身被劇痛攻擊。在進行每一段治療,爺爺都以微笑與樂觀去面對,事實上他也知道還未找到特效藥可治療這種罕見疾病。

「莉莉,回家去吧,去公園餵我的朋友們吃飯。」接受治療後爺爺對我說。

我愣住,爺爺還是記得公園裡的那些可能已經不記得他的狗狗。但我還是聽從爺爺的話,因而先生來代替我照顧爺爺的時候,我趕快回家。按照爺爺的話,我準備食物給那些流浪狗。我行禮如儀,同爺爺的方式:用長傘敲椅背。

聽到我的敲聲,兩隻黑狗靠近,但看起來沒精神。聞聞紙盤上的食物,但沒有馬上吃,我坐在椅子上等牠們吃。沒有從前開心的吠聲,這些毛茸茸的傢伙默默吃著。兩隻黑狗看著我,彷彿在問:爺爺在哪裡?不知道為什麼,我很想向這些狗訴苦。

「爺爺生病了,朋友。他現在無法自己走了,我很難過又感到失落。」我小聲的說。

跟動物講話,感覺很奇怪。但我真的覺得我有共患難的朋友,讓我獲得釋放。

這些狗狗輕輕的吠,然後傷心地尖叫。我剛給的食物牠們沒吃完,我相信這些狗聽得懂我說的話。對,牠們也失去了爺爺,牠們的人類朋友。

我的胸口很悶,再度想哭。我清理狗食殘渣後離開公園,毛毛朋友也緩步黯然地離開,不像從前見到爺爺時快樂地奔跑。

我想盡快趕去醫院,跟爺爺說他的毛毛朋友想念他。我很想趕快見到在江子翠站曾英勇保護我的那位男性,他現在也勇敢地接受一切痛苦的治療。我很想見那溫柔的男人,當他安撫他兒子為他的健康哭泣,以及永遠記得他的朋友,雖然只是幾隻流浪狗。以他的簡樸被尊敬與愛慕的男人。就像他姓「王」一樣,他擁有一顆王的心。

****TAMAT****

結束

Taipei, April, 16, 2015

Note:

這是個虛擬故事,但靈感來自於2014/05/21捷運站的真實瘋狂砍殺乘客事件

發表迴響

你的電子郵件位址並不會被公開。 必要欄位標記為 *