WIN

🏅青少年評審獎 Teen Choice Award

📜 WIN

👤 Keyzia Chan

 

“Hitam ya, hitam. Putih ya, putih. Semua begitu jelas. Dalam duniaku tidak ada istilah abu-abu. Berani melawan …? DORRR!!!” Ia membentuk jemarinya menyerupai pistol. Mendekatkan kepelipis kirinya. Tak ada senyum di wajah lelaki itu. Sorot matanya tajam layaknya binatang buas yang sedang membidik mangsa. Aku bergidik. Beringsut seketika. Keringat dingin merembes dari pori-pori. Kututup rapat pintu yang kubuka sedikit tadi, nyaris tak menimbulkan suara. Segera kuurungkan niatku. Pelan aku melangkah. Kembali ke kamar.

***
Seperti biasa sesudah mandi, sebelum istirahat terlebih dulu kutengok keadaannya sebentar. Tidurnya nampak damai meskipun kecemasan enggan pergi dari benakknya. Terpancar dari sorot matanya. Kegelisahan itu. Ya, aku dapat merasakannya. Bagaimana tidak? Di usinya yang sudah senja—orang-orang yang harusnya menjaganya, justru tidak sabar menunggu Malaikat Maut menjemput sesosok yang sudah tidak berdaya itu. Ada saja usaha yang dilakukan oleh menantunya demi menghilangkan nyawa nenek.

Setelah memastikan tidurnya pulas, aku rabahan di ranjang.Tak ada yang menarik untuk dibahas malam ini. Semuanya masih sama seperti beberapa waktu lalu.

Sebuah kesepakatan yang diputuskan berdasarkan satu pemahaman, tanpa meminta pendapat orang lain, kesepakatan yang terjadi bukan atas dua buah pikiran itu beda tipis dengan pemaksaan, ‘kan? Dan hei! Beraninya kamu meninggalkanku seorang diri dengan tanggung jawab yang begitu besar. Dalam hati, aku menyumpah-nyumpah. Ah! Bukankah manusia merupakan budak-budak alam yang terkadang seperti binatang dungu. Manakala dilecut bagian tubuhnya lantas bergerak menuruti perintah tuannya. Meski sambil melenguh, sesekali merintih. Meski terseok-seok ia terus berjalan. Entah sampai kapan? Baginya, tak ada kata berhenti, sebab bukankah itu artinya mati! Lagi pula, demi perut-perut yang butuh makan, yang berada di suatu tempat nan jauh di sana, apa pun wujud dari kesulitan ini tak ada kata menyerah. Bukankah seharusnya begitu?

***
“”Semalam, Mama pulang dalam keadaan mabuk lagi?”” Pemuda itu berdiri di tengah pintu kamar yang ditempati olehku dan nenek. Aku yang membelakanginya, hanya mengangguk tanpa menoleh ke arah sumber suara. Fokus menyuapi nenek.

“”Apa laki-laki itu pulang bersamanya?”” Aku menoleh. Mengangguk dua kali.

Selang beberapa detik kemudian ….  BRAKKK! Tuan muda menendang pintu kamar. Aku dan nenek terlonjak bersamaan. Seketika, aku mencoba menenangkan nenek. Mengusap lembut punggung tangannya yang keriput.

“”BERENGSEK! JANGAN BERISIK!””

Dari kamar, seorang wanita paruh baya berteriak gusar sebelum akhirnya, sebuah benda dibantingnya sehingga menimbulkan suara tak kalah gaduh dari sebelumnya. Untunglah ini bukan apartement sehingga tak ada tetangga yang mendengar keributan. Hunian ini jauh dari keramaian, tepatnya di sekitar kawasan pemandian air panas, Beitou.

Suasana seperti ini sudah tidak asing lagi. Penghuni rumah tersebut tidak pernah akur satu sama lain, kecuali Huang Hau Yun dan neneknya. Setiap hari adalah senam jantung bagiku yang didaulat merawat nenek yang dua tahun belakangan ini mengalami stroke, berusia 78 tahun. Bagaimana tidak? Ancaman bukan hanya datang dari nyonya, tetapi juga dari laki-laki genit yang merupakan kekasih dari majikanku itu. Setiap aku lengah, David begitu laki-laki berusia 30 tahun tersebut biasa disapa, mencoba menggerayangi tubuhku. Dan jika nyonya melihat kejadian itu, sekonyong ia menghujaniku dengan hadiah berupa pukulan, cubitan, yang merupakan bagian penyempurna ulah David yang sialan tersebut.

Harusnya, aku tidak boleh mendiamkan hal itu. Waspada dan berhati-hati saja tidak cukup. Segera lapor pada pihak yang terkait supaya kejadian buruk dapat dihindari. Namun, bukankah manusia selalu memiliki pertimbangan lain yang menurutnya itu adalah langkah terbaik? Setidaknya untuk saat ini, aku bertahan dengan caraku.

“”Tumben belum tidur?”” tanya Huang Hau Yun mengagetkanku. Aku mendongak lalu kembali mengarahkan pandanganku lurus. Kedua tanganku saling mengait memegangi lutut yang berdempetan.

Malam di musim panas, adalah perkara yang tepat menghabiskan waktu di luar rumah. Sayangnya, saat itu angin seolah enggan berhembus sehingga akhirnya memaksa keringatku ke luar sempurna. Ditambah keberadaanya di sebelahku, tak ayal membuat napas ini memburu. Tidak seperti layaknya tuan muda dengan pekerja rumah tangga, aku dan Huang Hau Yun bisa dibilang akrab bagaikan dua sahabat baik yang sudah saling mengenal sejak kecil.

“Kelak jika pendidikanku sudah selesai, bersediakah kamu menikah denganku, Win?”

PLAK! Kupukul pelan lengan kekar pemilik hidup lancip itu.

“Kamu pikir, aku anak kecil apa? Berhenti menggodaku,” ujarku memerintah sambil melebarkan kedua mataku yang bulat.

“Apa kamu tak melihat aku ini tidak sedang bercanda?” ucapnya sambil menunjuk hidungnya sendiri. Mimik wajah pemuda berahang tegas itu, tiba-tiba nampak serius.

Huang Hau Yun seperti manusia berkepribadin ganda. Saat berhadapan dengan ibunya, ia bagaikan sedang menghadapi musuh bebuyutan. Di luar itu, ia adalah pemuda ramah dan suka bercanda.

“Kenapa mesti memilihku? Bukankah gadis-gadis Taiwan lebih cantik? Hei! Apa kamu takut mereka menolakmu, ha?” ujarku menggoda sambil menyikutnya.

“Orang Taiwan, atau orang Indonesia itu sama saja. Cantik. Yang terpenting ia baik. Itu saja.””

“Tunggu dulu. Apa kamu tidak mengikuti berita perkembangan para TKI yang berada di Negara ini? Orang Indonesia memiliki citra buruk, kamu tahu?”

“Kamu harus tahu ini, Win. Menurutku, orang Indonesia, Vietnam, PIilipina, pada dasarnya mereka baik. Bukan lantaran satu atau dua orang yang melakukan kesalahan, lantas satu negara harus menanggungnya. Dicap buruk. Lagi pula, bukankah setiap hal yang terjadi selalu disertai alasan? Ibu pertiwi pasti menangis mendengar anak-anaknya berbuat onar di negara orang, Win. Tawuran atau apalah? Padahal, selama ini selalu diajarkannya bahwa dimana pun berada kita bersaudara. Anak-anak yang tumbuh besar dipangkuan ibu pertiwi adalah saudara. Dengan berperilaku baik, artinya ikut menjaga nama baik bangsa di mata dunia.””

Aku mengetuk-ngetuk bibir dengan ujung jari. Mencoba mencerna kalimat panjang tersebut. Tuan muda yang bijak adalah salah satu alasan kenapa aku masih bertahan, selain kebaikan yang nenek lakukan padaku. Tunggu! Meskipun ia rupawan dan baik, rasanya tak layak bagiku bermimpi bisa bersanding dengan pangeran. Ah, lupakan.

Dulu ketika aku baru sampai di Taiwan, kira-kira dua minggu—kabar buruk datang dari keluarga. Bapak masuk rumah sakit. Kesehatannya memburuk. Paru-paru basah yang dideritanya kambuh. Dirawat di rumah sakit, tentu butuh biaya yang besar. Dan waktu itu nenek yang masih sehat, berbaik hati meminjamkan sejumlah uang untuk kukirim demi pengobatan bapak. Nenek, sedikit pun tidak menaruh perasaan curiga bahwa bisa saja aku kabur sebelum bisa melunasi hutangku.

Hidup adalah perkara menabur dan menuai, bukan? Kebaikan nenek mengingatkanku akan kebaikan Alexander Fleming Si Penemu Penisilin. Kisah itu berawal dari perjalanannya ke suatu tempat dan harus melewati tengah hutan. Tiba-tiba ia mendengar jeritan minta tolong. Ternyata ia melihat seorang pemuda sebaya dengan dirinya sedang bergumul dengan lumpur yang mengambang. Semakin bergerak malah semakin terperosok. Tanpa berpikir panjang, Alexander menolong pemuda itu dan memapahnya pulang ke rumah. Ternyata pemuda itu adalah anak orang kaya raya. Orangtua pemuda tersebut hendak memberikan imbalan pada Alexander, namun ia menolaknya seraya berkata, “Selayaknya sesama manusia menolong orang lain dalam kesusahan.” Sejak kejadian itu mereka bersahahabat.

Alexander adalah pemuda miskin, cerdas, yang memiliki cita-cita menjadi seorang dokter. Impiannya terwujud oleh beasiswa yang diterimanya. Ternyata, beasiswa itu berasal dari oranguta pemuda yang ditolongnya beberapa waktu lalu. Kemudian, Alexander Fleming menemukan obat bernama penisilin. Sedangkan pemuda bangsawan kaya raya tersebut masuk dinasmiliter. Dan dalam tugas ke medan perang ia terluka parah sehingga menyebabkan demam tinggi  karena infeksi. Para dokter mendengar tentang penisilin penemuan dr. Fleming lalu menyuntikkan pada pemuda bangsawan. Pemuda itu berangsur sembuh.

Tahukah kalian, siapa pemuda bangsawan itu? Ya, ia tidak lain adalah Winston Churcill, perdana mentri Inggris yang termasyur itu. Dalam kisah ini, dapat kita lihat hukum menabur dan menui. Sesederhana itu. Yang jelas, hidup adalah perkara yang terus berkesinambungan.

Kembali pada ceritaku. Nenek sangat baik. Aku tidak boleh menyia-nyiakan jasanya. Merawat  serta melindunginya dari ulah jahat nyonya saat Huang Hau Yun tidak di rumah, sepenuhnya adalah tanggung jawabku. Aku heran dengan orng-orang yang hidupnya dipenuhi dendam seperti nyonya. Apa untungngnya coba?  Meskipun dulu, ia sempat tidak diakui sebagai menantu dikeluarga ini, dan akhirnya lantaran dalam rahim nyonya tumbuh janin yaitu Huang Hau Yun, tanpa memikirkan latar belakangnya yang seorang wanita penghibur, nenek begitu saja menerimanya menjadi menantu. Padahal, belum tentu bayi itu hasil hubungannya dengan putra nenek semata wayang yang sudah meninggal beberapa tahun silam. Anehnya, kebencian nyonya tak pernah padam—seumur hidupnya digunakan untuk mendendam.

Seperti yang sudah kusampaikan bahwa manusia sering dihadapkan pada persoalan pelik yang sangat dihindarinya. Namun seperti yang kita tahu, bahwa takdir tetap mendominasi lakon apa yang mesti dijalani oleh cucu-cucu Adam.

Sepeninggalan tuan muda untuk menyelesaikan pendidikannya, keselamatan nenek sepenuhnya berada dalam pengawasanku. Aku tidak boleh lengah, kamu tahu? Ternyata, nyonya mengalami gangguan jiwa. Bukan hanya dendam kesumat yang membuatnya berniat menghabisi nyawa nenek. Melainkan ketidakstabilan jiwanya itu menimbulkan tindakan berbahaya bagi orang lain, terutama yang tidak disukai olehnya.

Waktu itu obat nenek habis. Sialnya tuan muda belum juga kembali, sekadar melihat keadaan neneknya atau hanya mengantar obat saja. Padahal obat tersebut merupakan penyambung nyawa bagi nenek, sehingga keberadaannya tidak boleh nihil. Tetapi, jika nekat mengambil obat ke rumah sakit seorang diri, aku khawatir akan keselamatannya. Dilema.

Siang memberentang ketika suara gaduh itu melintas di balik pintu kamar, lalu lesap sesaat bunyi pintu dibanting dengan sekuat tenaga. Aku berjingkat dari posisi dudukku. Pelan kubuka pintu. Kepalaku menyembul. Bak radar, mataku mengawasi sekitar ruang tamu sampai kamar yang terletak paling ujung. Pintu kamar itu terbuka pertanda nyonya dan kekasihnya sedang tak di sana. Aku menggelinjang senang. Pucuk dicinta ulampun tiba. Batinku.

“”Istirahatlah, Nek. Tidur yang nyenyak. Aku pergi ke Rong Zong sebentar,”” ujarku sambil mengelus keningnya. Matanya menutup rapat. Napasnya landai. Aku sedikit tenang saat meninggalkannya yang tertidur pulas.

Seperti anak panah yang terlepas dari busurnya, secepatnya aku melesat menelusuri jalan menuju Stasiun Xinbeitou. Napasku terengah. Keringat membasahi sekujur tubuhku. Setelah lima belas menit, sampailah aku di tempat itu. Papan monitor pengumuman tertulis kereta menuju Stasiun Shibai 30 detik lagi segera sampai. Aku menyeka keringat, lalu mengipasi wajahku yang terasa basah.

Xinbetou menuju Shibai memakan waktu 20 menit saja, namun bagiku sangat lama. Tiba-tiba rasa gelisah menyeruak memenuhi rongga dada. Nenek. Panggilku dalam hati. Setelah turun dari kereta, untuk sampai ke Rumah sakit Rong Zong aku mesti berjalan kaki kurang lebih 10 menit. Saat itu kegelisahanku semakin menggila.

Ketika obat sudah berada di tangan, senja yang mempesona menyertai perjalananku pulang. Aku tidak sabar untuk segera sampai di rumah. Kugigit bibirku menahan rasa gelisah yang semakin membuat degub jantungku bertalu-talu.

Setibanya di rumah, tepatnya di ruang tamu, kulihat David dengan santainya menghisap rokok sambil menopangkan kedua kakinya ke atas meja. Sementara itu, kudapati nyonya tengah sibuk berbicara di telpon. Aku mengerutkan dahi mendengar nyonya terisak-isak di sela obralannya. Ada yang ganjil. Aku berlari kecil menuju kamar. Mataku terbelalak, hampir saja kedua bijinya lepas ketika penglihatanku mendapati sebuah bantal bertengger di atas wajah nenek.
***

Sepertinya, langit pun turut berduka atas kepergian wanita baik seperti nenek. Malam itu langit menumpahkan seluruh kandungan air yang ditahannya. Guntur menggelegar dan kilat membelah tampak semakin mengancam. Persis seperti kemurkaan nyonya ketika menyaksikan David laki-laki pujaannya, memeluk tubuhku yang menelungkup mendekap tubuh kaku nenek.

Bukannya menyalahkan si bedabah itu, sekonyong nyonya menjambak rambut panjang yang biasa kukuncir ekor kuda tersebut. Suasana paling sengit seumur hidup, baru aku alami saat ini dimana kesedihan luar biasa menghadapi kenyataan bahwa nenek telah meregang nyawa saat aku tidak ada, dan di saat itu pula nyonya memukulku dengan membabi buta lantaran cemburu.

Meninggalnya nenek sungguh tidak wajar. Dan kecurigaan itu tentu saja mengarah pada kedua pasangan bangsat yang tidak punya nurani tersebut. Aku meronta. Berusaha melepaskan cengkeraman itu tanpa menyadari, bahwa tangan kanan nyonya menyambar sesuatu entah apa? Yang jelas ketika benda tersebut dihantamkan berkali-kali ke tubuhku, rasanya luar biasa ngilu.

Nyonya benar-benar kalap saat itu. Aku tersungkur di lantai. Kulihat wanita itu berlari ke arah dapur. Jeda beberapa detik kemudian, ia kembali dengan pisau pemotong daging berada dalam genggamannya. Tanpa berpikir panjang aku bangkit kemudian menghambur ke luar rumah tak peduli hujan deras sekalipun.

Pepohonan di pinggir jalan bergoyang. Dedaunan saling menggesek, berisik. Seperti orang kesetanan, aku terus berlari tanpa alas kaki. Pontang-panting sesekali menoleh memastikan bahwa wanita itu tidak mengekor di belakangku. Pada sebuah bangunan yang nampak tidak berpenghuni, aku berteduh di sana. Mengatur napas sambil menahan gigil yang luar biasa.

“”Hei!”” Aku terlonjak saat seseorang menyapaku. Samar-samar kulihat laki-laki paruh baya berbadan tambun berdiri sejajar denganku. Entah dari mana datangnya?

“”Apa yang kaulakukan di sini?”” Pertanyaan macam apa ini? Batinku. Apa tidak melihat bahwa aku sedang berteduh?

“”Di sini dingin. Mari ikut aku masuk.””

Aku tetap pada posisi semula. Tak sepatah kata pun keluar dari bibirku. Kupegangi kedua lenganku yang terasa ngilu.

“”Jangan takut. Istriku ada di dalam.””

Akhirnya kuikuti langkahnya. Bangunan yang kukira tak berpenghuni itu, ternyata sepasangan suami istri tinggal di sana.

Mula-mula aku sedikit lega, paling tidak ada tempat berteduh malam ini. Paman dan bibi penghuni rumah itu memperlakulanku dengan baik. Tanpa bertanya bagaimana bisa aku berada di depan rumahnya di malam hujan deras seperti ini.

“”Ganti pakaianmu. Dan kau boleh tidur di kamar itu,”” ujar bibi sambil menyodorkan baju ke arahku. Aku mengangguk sambil mengucapkan terimakasih berkali-kali.

Keesokan pagi, ketika cahaya matahari masuk melalui celah-celah jendela kamar, aku terbangun dengan perasaan tidak karuan. Sekujur tubuhku terasa sakit. Nenek. Tuan muda. Bagaimana aku menjelaskan semua ini?

Seseorang mengetuk pintu kamar. Aku bergegas membukanya. Menghambur keluar. Selain paman dan bibi pemilik rumah, ada dua laki-laki berpenampilan perlente di ruang tamu. Aku hanya mematung di depan kamar. Dua laki-laki itu mengamatiku dari ujung kaki sampai kepala. Aku kikuk dibuatnya.

“”Barang bagus,”” salah satu laki-laki itu berujar sambil menghisap cerutu.

“”Kapan kami bisa membawanya?”” ucap yang satunya bertanya.

“”Sekarang juga bisa. Asal ….”” Paman itu tidak melanjutkan kalimatnya. Ia hanya mengangkat tangannya, menggesekkan ibu jari dan jari telunjuk, berkali-kali. Aku semakin tidak mengerti.

Setelah melemparkan amplop cokelat di atas meja, salah satu laki-laki itu menggelandang tanganku. Aku menepisnya.

“”Turuti saja. Kau aman bersamanya,””

“”Kenapa aku harus menurutinya? Aku mau pulang saat ini juga!”” pekikku lantang.

“”Tanpa menunggu lebih lama, salah satu laki-laki itu kembali menggelandangku. Dan sampailah aku di tempat ini, Fit.””

Aku menyeka sudut mataku sebelum bulir bening tersebut berhamburan. Di sini, di ruangan yang dua tahun belakangan menjadi tempatku serta pekerja yang lainnya merias, mematut diri sebelum menghambur memenuhi menghibur para tamu, kusampaikan keluh kesahku pada Fitri.

“”Yang sabar ya, Win. Kamu sudah menang, Win. Menang melawan serentetan ujian. Jangan menyerah. Saat ini, posisi kita sama-sama sebagai kaburan dan terjebak di dunia prostitusi yang tengik ini.””

Aku memeluk Fitri. Ia satu-satunya sahabat yang kumiliki beberapa bulan belakangan ini. Baru saja kuceritakan padanya seluruh perjalanan hidupku di Formosa. Tentang cinta yang tak pernah terungkap. Tentang ajakan tuan muda untuk menikah waktu itu, keluarga tercinta, sampai kasus pembunuhan nenek, semuanya.

Pada sahabatku itu, tak lupa kuceritakan bagaimana rasanya dipaksa melayani para lelaki hidung belang. Aku bukan penulis. Tak mahir menceritakan apa yang kualami. Aku seperti berjalan seorang diri di hutan. Dan tanpa kusadari, langkahku sampai pada kubangan lumpur hidup. Semakin aku berontak, lumpur itu kian ganas menyedotku. Menenggelamkan sebagian tubuhku. Maka dari itu, aku putuskan untuk diam. Diam sambil menunggu waktu dimana seseorang menyelamatkanku.

Berkali-kali kucoba untuk melarikan diri. Namun urung kulakukan. Pemilik tempat hiburan malam ini adalah orang keji. Dari percakapan yang tak sengaja kudengar tempo hari, membuat nyaliku menciut.

“Hitam ya, hitam. Putih ya, putih. Semua begitu jelas. Di duniaku tidak ada istilah abu-abu. Berani melawan …? DORRR!!!”

“Win, ada tamu untukmu.”” Seseorang berteriak memanggilku.

“Aku kerja dulu, Fit. Terima kasih sudah bersedia mendengarkan seluruh kisahku.”

Fitri mengangguk, dalam.

Aku segera bangkit. Setelah mematut diri sejenak, aku melangkah lesu menuju ruang di mana biasa terjadi interaksi antara penghibur dan pelanggannya. Cahaya temaram memenuhi kamar berukuran 2×3 meter. Seorang laki-laki terduduk di sofa. Menunduk memelototi layar HP. Ia seolah tidak peduli dengan kehadiranku.

Setelah aku menyapanya, laki-laki itu mengangkat wajahnya. Mataku mengerjab berkali-kali. Seolah tak percaya dengan apa yang kulihat.

“Huang Hau Yun,” lirihku sambil membekap mulut sendiri. Sama sepertiku, laki-laki itu nampak terkejut. Aku yang merasa kikuk, tak sadar menarik-narik kebawah—rok pendek yang kukenakan, karena selama ini belum pernah berpenampilan seksi di depannya. Aku tidak percaya, orang yang selama ini paling kurindukan, hadir di depanku. Aku menghela napas berat.

Kamu harus tahu bahwa hidup ini merupakan serentetan kejadian yang serba tak terduga, Teman.  Kuberanikan diri mendekat ke arahnya. Menganggukkan kepala. Mataku tak berani menatap pemilik rahang tegas itu. Beberapa saat kemudian, setelah berbasi-basi sejenak, ia menghujaniku dengan pertanyaan-pertanyaan. Dan aku, tak satupun ada hal yang kututupi. Dari dulu, kami seperti itu.

“”Bagaimana pendidikanmu? Apakah kamu masih berniat mempersuntingku?”” ujarku menggoda mencoba mencairkan suasana.

Tuan muda terdiam. Wajahnya pias. Sejenak ia menunduk dalam-dalam. Tiba-tiba ia menarikku dalam dekapannya. Tentu saja aku tidak berontak.

“”Selama ini, aku terus mencari keberadaanmu, Win. Aku merasa, hal buruk telah menimpamu. Dan itu salahku. Maukah kamu memaafkanku?” ucapnya panjang lebar.

“Apa kamu tidak ingin pulang?”” lanjutnya.

“”Pulang …. Aku ….” kuulangi pertanyaannya. Aku membeku. Bukan tidak ingin, melainkan belum punya kesempatan saja keluar dari tempat jahanam ini. Tentu saja aku ingin berkumpul kembali dengan keluarga. Tetapi, aku tidak boleh egois. Di tempat nan jauh di sana, ada beberapa perut yang harus kuberi makan. Tahu apalah orang lain tentang halal atau haram uang yang kudapatkan? Yang jelas, aku tidak mau keluargaku sengsara. Apalagi, bapak praktis tidak lagi bekerja. Sementara ibu, dengan keahlian ala wanita kampung yang tidak mengenyam bangku pendidikan, hanya bisa menjadi buruh cuci baju milik tetangga. Sungguh. Biarlah aku yang menggantikan orangtuaku menjadi tulang punggung keluarga. Aku tidak mau pulang. Paling tidak, sampai keempat adikku lulus sekolah.

“”Ini semua bukan salahmu. Ini takdirku. Inilah jalan hidup kita. Awalnya, aku tidak berhenti merutuki nasib ini. Namun semakin kutentang, hanya rasa sakit yang kudapati. Jika hidup ini adalah sebuah perjalanan, aku percaya suatu saat langkahku akan sampai pada tempat dan waktu yang menghadirkan kebahagiaan. Aku memilih berdamai dengan keadaan.”” Air mataku berjatuhan. Pelukan itu dilepasnya pelan.

***
Tak ada kesepakatan antara aku dengan Huang Hau Yun waktu itu. Seminggu telah berlalu. Ia seolah lenyap. Padahal, benih-benih cinta kembali bersemi di hatiku. Entah dengan dirinya?

“Wiiin!” Fitri menjerit tak biasa malam itu. “POLISI. POLISI DIMANA-MANA.”

“Apa maksudmu?”

Fitri belum sempat menjawab pertanyaanku. Suara ledakan pistol serta gaduh yang terdengar di luar sana, membuatku mengerti bahwa tempat ini digerebek polisi. Aku dan Fitri berpelukan. Semua yang berada di tempat ini, diperintah untuk berkumpul di hall. Terbersit pikiran, melarikan diri. Melompat lewat jendela yang terdapat di ruang rias ini. Tiba-tiba pintu ruangan ini didobrak. Aku menoleh cepat. Seorang aparat polisi berdiri gagah. Seragam serta aktribut lengkap. Mengacungkan pistolnya ke arah kami.
“Huang Hau Yun,” lirih aku menyebut polisi itu.


 


 

🏅青少年評審獎 Teen Choice Award

📜 WIN

👤 Keyzia Chan

 

「黑就是黑,白就是白,一切都那麼瞭然。在我的世界裡沒有灰色。敢反抗?碰!」

他把手指比成手槍,抵住左額。那男人臉上沒有笑容,他的眼神凶狠銳利,看似猛獸在瞄準獵物。我瞬間打了個寒顫邊往後退,從毛細孔冒出冷汗。我把打開的門慢慢並不敢出聲音地關緊。我立刻取消我的念頭,往自己房間走去……                                                               

***

往常一樣,洗完澡睡覺前,我會先去看她的情況。儘管臉上現出憂愁但她睡得很熟。從她的眼神我常看出她的不安,對,我能感受到。從何說起呢?在年邁的歲月,她的監護人對死神來收這無奈老人的命顯得迫不急待。她的媳婦用各種方式想要殺死阿嬤。

確認她已經睡著後,我躺在床上。今晚沒什麼特別,如往常一樣。

一個協議需要決定在互相理解的基礎上,無需別人的意見,協議的結果若不是兩個想法共同達成的話,與強制沒有什麼差別,不是嗎?唉,你膽敢放我一個人扛起這重責大任,在我心裡,我不斷謾罵。唉,人類是大自然的奴隸,有時就像蠢笨的動物,身體被鞭打,聽主人的命令。雖然偶爾啜泣,雖然一拐一瘸,也要繼續往前走。要到幾時呢?停下腳步是否意味著死亡?更何況,為了填飽肚子,在這離家遙遠的地方,再怎麼困難都沒有回頭路可走,不這樣還能怎樣?                                                               

***

「昨晚媽媽回家的時候是不是又喝醉了?」那個男生站在我和阿嬤睡的房門口。我背對著他,只是點點頭,也不回頭朝著聲音的來源,認真地餵阿嬤吃飯。

「那個男人跟她一起回來嗎?」我轉身點了兩次頭。

幾秒之後……砰!少爺突然踹房門,我和阿嬤都嚇到。我試著安撫阿嬤,輕輕地來回撫摸她皺紋的手。

「王八蛋!不要吵!」

房間裡,一個中年婦女的聲音大罵,然後聽到摔東西的聲音,不輸給剛剛的踹門聲。還好這裡不是公寓,因此不會有鄰居聽到這些噪音。這間房子遠離都市人群,位於北投的溫泉區。

這種氣氛並不陌生,住在這裡面的人從來沒有好好的相處過,除了黃豪雲與他的阿嬤。對我來說每天都膽顫心驚,因為要照顧兩年前罹患中風的七十八歲阿嬤。為何會心驚?不僅來自雇主太太與她那輕浮男朋友的各種威脅,一旦我掉以輕心,那個大約三十歲被稱為大衛的男人時常會試圖摸我身體。如果被太太看見,他就會假裝洗完澡出來在打我或捏我來掩飾自己的行為。真是狗屎運。

我不應該沉默了,謹慎地提高警覺是不夠的。為了避免壞事發生,應當立刻提報給相關單位。但人類總會有其他的考慮,這是最好的舉動嗎?至少現在,我堅持我的方法。

「難得還沒睡?」黃豪雲的問好突然嚇到我,我抬起頭然後繼續往前看,雙手抱住膝蓋。

夏天的夜晚是把時間花在外面的好時機,可惜,當時的風感覺都不願意吹起,造成我滿身大汗。再加上他在一旁的存在,讓我呼吸加快。不像一般的少爺與幫傭,我和黃豪雲像是從小認識的好朋友。

「Win,如果我完成了我的學業,你會願意嫁給我嗎?」

「你以為我是小朋友嗎?不要再鬧我了」我打了一下他肌肉逐漸發達的手臂,睜大雙眼警告他。

「你以為我看起來像是在開玩笑嗎?」他用手指著自己。那個年輕男孩下巴收緊的臉突然變得很嚴肅。

黃豪雲好像有雙重性格,當他面對他的母親,感覺就像對付仇人似的,但除此之外,在外面他是一個友善又愛開玩笑的年輕男孩。

「為什麼一定要選我?外面不是有很多漂亮的台灣女孩嗎?欸,你該不會怕被她們拒絕吧?哈!」我用肘逗他。

「台灣或印尼人都一樣漂亮,最重要是人要好,這樣而已。」

「等一下,你都沒看電視新聞嗎?印尼籍勞工的形象都不好,你不知道嗎?」

「Win,妳要知道,對我來說印尼、越南、菲律賓人基本上都是好人。不能因為一、兩個犯錯,就變成整國家必須承擔、被污名化,更何況,事出必有因。Win,母國聽到人民在國外出事是一定會很難過,鬥毆或什麼的。而我們從前一直被教導,不管在哪裡,四海一家。在你們祖國長大的小孩彼此都是同胞,都希望在異國有好的形象來維持國家在世界的好形象。」

我用手指頭抵著嘴唇,試圖消化那一連串的長句。除了阿嬤對我很好,明智的少爺就是為什麼我仍然屹立不倒的原因之一。等一下!雖然他很帥又很好,但我連做夢都不敢想像自己能配得上王子。啊,算了吧。

我剛到台灣大約兩個星期,家裡就傳來壞消息,父親進了醫院,健康亮起紅燈。他的老毛病肺炎又犯了,在醫院治療當然需要龐大費用,當時還很健康的阿嬤好心借一筆錢讓我寄回家鄉。阿嬤一點都不擔心我會跑掉。

生命是播種和收穫的事,不是嗎?阿嬤對我的好心讓我想起發明青黴素的亞歷山大弗萊明。故事開始於他穿越森林的旅程,突然他聽到有人喊救命。後來他看見跟他同年齡的男子因為被流沙淹沒正在不停掙扎,越掙扎越下沉。亞歷山大想也不想,就立刻救那年輕人並扶他回家。原來那名男子是有錢人的兒子,他的父母想要給予亞歷山大謝禮,不過他拒絕了,並說:「遇到困難的時候,人本來就該互相幫忙。」從那時起,他們就變成好朋友。

亞歷山大是聰明的窮小子,渴望成為一名醫生。透過獎學金,他達成他的夢想,原來獎學金是從之前在森林獲救的那名男生而來的。後來亞歷山大弗萊明發明了青黴素,而那位有錢的貴族男生前往服兵役。在戰場上他受重傷因受感染而發高燒。醫生團隊聽到弗萊明發明了新的藥物青黴素,就使用它注入了貴族男生,那位男生逐漸恢復。

你們知道那位貴族男生是誰嗎?對,他不是別人,正是溫斯頓邱吉爾,很有名的英國總理。在這故事裡,我們能看見播種和收穫的道理,就怎麼簡單。很顯然的,人生是持續行進的一連串事件的總和。

回到我的故事,阿嬤人很好,我不能辜負她,當黃豪雲不在家,我要照顧以及保護她不受太太的欺負,這完全是我的責任。我覺得奇怪,像太太這樣活在仇恨中,到底有什麼好處?雖然她以前從來沒有被承認是這個家的媳婦,最後因為肚子裡懷了黃豪雲,阿嬤仍然接受她當媳婦,完全步去考慮她的背景是特種行業的風塵女子。儘管肚子裡的胎兒不見得是她前幾年已過世的獨生子的血脈。怪的是太太的憎恨從來沒有減少過,終其一生都用來記仇的女人。

正如我說過的人類經常面對非常複雜又無法避免的問題,但如我們了解的,是命運繼續主導著亞當子孫該扮演的角色。

少爺回學校去完成他的學業後,阿嬤的安危完全被控制。我不能鬆懈,你知道嗎?原來,太太有精神障礙,不只有仇恨,她還想殺死阿嬤,因為心理不正常想加害他人,尤其是她不喜歡的人。

那時候阿嬤的藥已經沒了,倒楣的是少爺還沒回來,不然即便是幫我看著阿嬤,或幫我送藥過來也好。那些藥是阿嬤的命,因此不可以斷。可是如果我決心單獨跑去醫院拿藥,我會擔心阿嬤的安危。真是進退兩難。

中午太陽高照,聽到吵鬧聲從臥室門後面經過,不久後接著聽到門關上的聲音。我躡手躡腳地從我的座位爬起,慢慢打開門,伸出頭往前看,像雷達一樣,我的眼睛掃描整間客廳周圍直到最後面的房間。房門沒關,表示太太與她的男友都不在。我很高興,心想:「該來的,跑不掉。」

「先休息吧,阿嬤,好好睡,我去一下榮總。」我摸摸她的額頭邊跟她說。她眼睛閉起,呼吸穩定,看她睡得很熟,離開的時候我很放心。

像被射出的箭,我立即加緊前往新北投站,氣喘吁吁,汗流浹背。十五分鐘後,我到了捷運站,看板顯示器公告三十秒後往石牌的車會到站,我抹了一把汗然後搧我已覺得潮濕的臉。

新北投往石牌車程只需要20分鐘,但對我來說是漫長的時間,突如其來的焦慮不安塞滿胸腔,心裡喊著阿嬤。從車站到榮總醫院我還須要走十分鐘,當時,我更加憂慮了。

拿到藥後,繽紛繚亂的黃昏天色陪著我回家。我迫不急待要儘快到家,我咬著嘴唇來承受心臟砰砰亂跳的不安。

到家後,我看見客廳裡的大衛把腳擱在桌上還邊抽菸,而太太忙著講電話。我皺起眉頭聽到太太抽泣,有不對勁,我小跑到房間,瞪大了眼睛,看到一個枕頭在阿媽的臉上,我的眼球差點掉下來。

***

彷彿天也在哀號像阿嬤怎麼好的女人離世,那一晚,天空像倒扣一般下起傾盆大雨,電閃雷劈看上去更具威脅,像臉上暴怒的太太看見她心愛的男人大衛抱住我,而我擁抱阿嬤已僵硬的身體。

不是指責那個王八蛋,相反的,太太抓住我的馬尾。我感受到我人生中最激烈的氣氛,在這體驗阿嬤斷氣時我不在她身邊的悲傷時刻,同一時間太太因為吃醋而盲目地打我。

阿嬤的死很離奇,我的懷疑當然指向那對沒心沒肺的王八蛋。我掙扎著試圖撥開她的手,卻沒發現太太的右手不知抓到什麼東西,很明顯的當那東西往我身體砸的時候,我感覺很痛。

太太完全抓狂了,我摔在地板上,看見她跑去廚房,幾秒後手上拿著一把菜刀。我毫不猶豫地馬上爬起來然後衝出屋子往外跑,不管雨下得多大。

路邊的樹在搖晃,葉子互相摩擦,發出嘈雜的聲音,相似瘋子一樣,沒有穿拖鞋的我赤腳狂奔,還頻頻慌張地回頭看,確認那女人是否追了上來。我躲在一個似乎無人居住的建築旁,調整我的呼吸,同時忍住渾身的雞皮疙瘩。

「欸!」聽到有人叫我,我跳了起來,隱約看見不知道哪來的胖大叔跟我並排站著。

「你在這裡幹嘛?」我心想這是什麼爛問題?你沒看到我在躲雨嗎?

「這裡很冷,跟我進來吧。」我維持原來姿勢,抓著我疼痛的胳膊,不發一語。

「不用怕,我的老婆在裡面。」最後,我跟著他的腳步。我以為沒人住的建築,原來有一對夫妻住在裡面。

我這才鬆了口氣,最起碼今晚我有住處可以過夜。這位叔叔和阿姨對我很好,沒有過問為何我會在大雨之中站在他們家門口。

「把衣服換了,然後你可以睡在那個房間。」阿姨遞給我衣服時說。我點點頭邊說了好幾遍的謝謝。

隔天早上,當陽光從穿過房間的窗戶縫隙,我醒來時感覺茫然,全身疼痛難當。阿嬤,少爺,我要如何解釋這一切?

有人敲房門,我急忙打開,走了出去。除了叔叔和阿姨,客廳多了兩位穿著很台的男人。我只是愣在房門外不動,那兩位男生從我頭觀察到我的腳,不知所措。

「好貨色。」其中一位男人邊說邊抽雪茄。

「我們什麼時候可以帶她走?」另一個問。

「現在也可以,只要…」大叔沒把話講完,他只舉起手搓搓姆指與食指好幾次,我越來越不懂。

在桌子上扔了褐色信封後,其中一個男人牽了我的手,我撥開。

「你跟著他們很安全,你就聽從吧。」

「為什麼我要聽他的話?我現在就要回家!」我大聲喊叫。

「不久過後,另一個男生又牽我的手,結果我就到了這個地方,菲。」我擦著眼角,趁眼淚還沒流下來。在這裡,這個房間,近兩年成了我化妝的地方,在還沒精心打扮自己,出去招待客人之前,我向菲訴苦。

「Win你要忍耐,你已經贏了,戰勝一系列考驗,不要放棄。現在,我們一樣處在逃跑,被困在這該死賣淫的世界。」

我抱住菲,她是我最近幾個月交的唯一朋友。剛才我跟她說起我在台灣的人生經歷,關於從來沒有透露過的愛情,關於少爺當時對我的求婚,我最愛的家人,直到阿嬤被謀殺,全部。

我也不忘告訴我朋友,被迫陪那些色男睡是怎麼樣的感覺。我不是作家,不擅長說出我曾經歷的故事,我像是一個很孤單的人走在森林裡。在無意識中,我踩到流沙,越掙扎越被吸入,我部分的身體被淹沒。因此我決定不動,倒持沉默,直到有人來救我。

我試圖逃跑很多次,但後來都沒逃。這裡的夜店老闆是一個壞人,前天我不小心聽到的對話,讓我撤消我的念頭。

「黑就是黑,白就是白,一切都那麼瞭然。在我的世界裡沒有灰色。敢反抗?碰!」

「Win,有你的客人」有人叫我。

「我先上班,菲,謝謝妳願意聽我的故事。」菲點了點頭。

我迅速起身,打扮完後,我無精打采地走去接客的房間。昏暗的燈光照亮六平方米的房間,一位男人坐在沙發,低頭看手機,他並沒有注意到我的出現。

直到我跟他打招呼,那個男人抬頭,我眨了幾次眼,彷彿不敢相信我所看到的。

「黃豪雲!」我捂住我的嘴巴,小聲叫出他的名字。那個男子也跟我一樣嚇到,我感到尷尬,不自覺地拉下我的短裙,因為在他面前,我從來都沒有穿得那麼性感。我不敢相信,我一直想念的人出現在我面前,我嘆了很大的氣。

朋友,你必須知道,人生就是會發生一連串的突發事件。我鼓起勇氣靠近他,對他點頭,我的眼睛不敢看他。過不久,大概聊了幾句後,他開始不斷問我問題,而我對他沒有任何的隱瞞,從以前我都是這樣。

「你的學業如何?你還想要娶我嗎?」我故意逗他,試圖打破僵局。

少爺沉默,他的臉色蒼白,有那麼一刻,他低下頭。突然他拉我到他的懷裡,我沒有掙扎。

「我一直在找你的下落,Win。我感覺到有壞事發生在你身上,這是我的錯,你能原諒我嗎?」他講了一大串。

「難道妳不想回家嗎?」他追問。

「回家……我……」我重複他的問題,渾身僵硬。不是不想,而是沒機會逃出這該死的地方。我當然很想跟我的家人重聚,但我不能自私,在那遙遠的地方,有好幾個肚子需要我來填飽。他們又怎會知道我是合法或非法賺到這些錢?明確來說,我不願意我的家人過得苦不堪言。更何況,父親幾乎起不了作用,而母親只是沒受過教育的村婦,沒有坐辦公桌的專業知識,只能受雇鄰居當個洗衣工。真的,讓我代替我的父母成了家裡的支柱,我不要回家,最少要等到我四個弟妹完成學業為止。

「這些不是你的錯,這是我的命運,是我們自己的生活方式。最初,我不斷責怪命運,但我越反抗,發現得到的只有越痛苦。如果人生是一場旅程,相信總有一天我的腳步會到達能讓我幸福的時空。我選擇與現在的處境共存。」我的眼淚流下,他緩慢放開他的擁抱。

***

我與黃豪雲沒有達到任何共識。一個星期過後,他似乎消失了。儘管愛的種子又回來在我內心開花,卻不知他自己的又如何?

「Wiiin!」那一晚,菲不尋常地尖叫:「警察!到處都有警察!」

「什麼意思?」

菲還來不及回答我的問題,外面已經響起槍聲與噪音,我明白了,這地方已被警察包圍突擊。我和菲互相擁抱,所有的人被下令在大廳集合。我出現念頭,逃跑!從化妝室窗戶跳下去。突然,房門被踹開,我迅速轉身,一個壯碩穿著制服的警察站在我們面前,拿槍對著我們。

「黃豪雲。」我默默叫了那警察的名字。

 

發表迴響

你的電子郵件位址並不會被公開。 必要欄位標記為 *