福爾摩沙的災難 Katastrofa Formosa

 Babak penyisihan 印尼文初選  

📜 福爾摩沙的災難 Katastrofa Formosa

👤 Kaka Clearny

Aku membuka pagar, melepas kepergian Tuan dan Nyonya Ma kembali ke negeri Paman Sam. Sementara di balik pagar, dengan takzim sebuah taxi telah menanti kedua majikanku itu.
“Sementara tak perlu memasak dulu hingga luka di tanganmu benar-benar kering,” ungkap nyonya sambil mengelus bahu kananku.
Aku mengangguk, “Terima kasih, Nyonya.”
“Jangan mengerjakan pekerjaan berat, cukup kau perhatikan saja ayahku,” tambah tuan, “jangan lupa jadwal check up lukamu itu!”
“Baik, Tuan,” aku kembali mengangguk.

Angin musim gugur berhembus meniup reranting juga dedaunan, seolah ikut mengamini keberangkatan majikanku ke Amerika. Seakan-akan berbisik bahwa aku dan Kakek Ma akan baik-baik saja di Taiwan. Bayang-bayang taxi yang memboyong kedua majikanku ke Bandara Kaohsiung menghilang di ujung jalan Taman Anping, Tainan. Selanjutnya hari-hariku akan kembali seperti empat tahun yang sudah berjalan, hanya berdua dengan Kakek Ma, yang biasa aku panggil akong.

Aku adalah pekerja rumah tangga yang direkrut Keluarga Ma sejak 48 purnama yang lalu. Tugasku cukup ringan jika dibanding teman seperjuangan yang lain. Aku menjaga seorang kakek berumur 72 tahun, masih sangat sehat dan gesit. Tak perlu perawatan khusus untuk menjaganya, akong bisa melakukan aktivitas sendiri. Akong sebatang kara semenjak ditinggal sang istri berkalang tanah. Dan anak semata wayangnya, Tuan Ma yang notabene majikanku menetap di negeri yang dipimpin Donald Trump itu.

Karena kesibukan bisnisnya, dalam setahun hanya pulang dua kali saja menjenguk akong. Ketika Tahun Baru Cina tiba dan hari ulang tahun akong. Tak tega melihat akong sendirian, majikan mempekerjakan seorang pembantu rumah tangga asing untuk menemaninya. Jadi di keluarga mereka aku adalah pembantu pertama. Orang bilang pertama selalu teristimewa, semua yang serba pertama selalu memberi kesan yang manis.

Tuan dan nyonya sangat baik, sesekali saja menelepon untuk menanyakan kabar. Aku telah dianggap seperti keluarga sendiri oleh akong, tuan, dan nyonya. Sepanjang bekerja sama dengan mereka tak pernah sekalipun perkataan kasar mendarat di telingaku. Kami makan bersama dalam satu meja. Jika akong bepergian ke luar negeri aku pun ikut serta. Uang belanja kebutuhan dapur dipercayakan sepenuhnya kepadaku.

Adakalanya aku merasa sungkan kepada majikan, karena waktuku lebih banyak goyang kaki. Aku merasa seperti makan gaji buta. Namun tuan dan nyonya bilang, asal akong bahagia dan sehat bagi mereka itu tidak masalah. Bahkan dua tahun belakangan ini aku meminta izin sholat, mengaji. Perasaan tak ada sekat antara pembantu dan majikan membuatku semakin kerasan, serasa di rumah sendiri. Harapanku mendapat majikan yang baik benar-benar telah tercapai.

****

Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit, peribahasa ini berlaku padaku. Dalam selang waktu dua tahun aku sudah bisa membeli sepetak sawah untuk keluarga di kampung. Gaji tiap bulan utuh, kebutuhan pribadiku seperti sabun, shampo bahkan bedak sudah dicukupi oleh majikan. Karena bekerja menjaga akong waktu luangku cukup panjang, akhirnya aku berpikir untuk menambah penghasilan. Dengan memproduksi nasi kotak yang kutitipkan di beberapa toko Indonesia di sekitar taman Anping. Akong pun mendukung sepenuhnya. Aku tak peduli apakah bekerja tidak sesuai kontrak kerja melanggar hukum ketenagakerjaan Taiwan. Usahaku ini pun berjalan lancar. Jumlah uang yang kukirim ke kampung bertambah setiap bulannya.

Aku masih tidak puas sampai disitu, aku mengepakkan sayap terjun sebagai reseller barang-barang secara online. Aku berpikir menjadi reseller jauh lebih menguntungkan. Aku tak perlu repot-repot memproduksi sendiri. Dengan memanfaatkan kuota internet yang melimpah karena majikan memberiku fasilitas free Wi-Fi. Dari sini jalanku pun cukup mulus, teman-temanku di dunia maya semakin banyak dan beragam.

Hingga aku berkenalan lewat inbok dengan seseorang bernama Ce Lina. Walau belum pernah ketemu, saat itu aku merasa dekat. Kedekatan ini yang membuatku percaya apa yang dikatakan Ce Lina adalah suatu hal yg luar biasa. Rayuan mautnya meluluh-lantahkan hatiku.

Yang ada pada tempurung kepalaku saat itu hanya untung dan untung, aku ingin lebih dan lebih. Hingga aku dengan berani bergabung pada bisnis investasi yang mengiming-imingi keuntungan besar tanpa harus bekerja besar. Ya, bisnis MLM atau Multi Level Marketing sebuah bisnis berbasis marketing. Jaminan kaya dan komisi besar menjadi faktor mengapa aku kepincut bergabung. Aku diwajibkan membawa dua anggota dan dengan harapan bonus besar. Akhirnya aku menyetor sejumlah uang sebagai modal investasi dengan ragam keuntungannya. Semakin besar modal yang disetor maka akan semakin besar keuntungan yang didapat.

Minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Bonus yang dijanjikan tak jua cair. Anggota yang telah aku rekrut pun menagih janji. Ce Lina yang notabene aku kenal sebatas dunia maya pun menghilang bak ditelan bumi, raib bersama jutaan uang yang telah kutransfer padanya. Pikiranku kalut, mimpiku ingin kaya instan dari bisnis piramida itu hanya fatamorgana belaka.

******

Dingin Formosa seakan membekukan hati dan logikaku, rencana-rencana buruk menggelayut di kepala. Aku secara sadar sering mencatut uang belanja, barang seratus dua ratus NT sehari. Uang itu aku kumpulkan untuk mengganti rugi uang anggota yang telah aku rekrut saat bergabung dengan bisnis investasi yang ternyata abal-abal.

Masih belum puas lagi, suatu hari saat mencuci celana akong. Aku menemukan 15 lembar pecahan 1000 NT. Aku kegirangan saat itu. Aku berpikir dengan uang tersebut aku bisa segera mengganti rugi uang anggota. Namun hatiku bimbang antara mengembalikan uang tersebut atau kugunakan saja. Tega sekali diriku kepada akong yang selama ini sudah sangat baik, tapi bagaimana dengan desakan-desakan dari anggota yang uangnya telah muspra oleh ulah Ce Lina. Antara perasaan bersalah pada akong dan ketakutan oleh utang yang belum kubayar.

Tetiba dalam keputusasaan yang mendera, aku merindukan emak.
Drttt… Drttt… Drttt… . Ponselku bergetar. Selayang SMS dari adik di kampung mendarat di layar.
Kak, beberapa hari ini kau tak memberi kabar.
Apa kakak disana baik-baik saja?
Ibu menanyakanmu.

Ah, naluri seorang ibu begitu peka, meski jauh dari buah hatinya. Ia tetap merasa telah terjadi sesuatu yang tidak beres pada anaknya. Segera kutekan nomor Indonesia menelepon emak.
“Halo, Assalamuallaikum Mak?”
“Waalaikumsalam, Nduk!” jawab emak di ujung telepon, “Oalah, beberapa hari ini tak arep-arep.”
Dari nada bicara emak, beliau sangat kegirangan. Rindu wanita 55 tahun itu seolah terbayar sudah setelah mendengar suaraku. Tiga ramadan, dan tiga lebaran aku tak sambang pulang. Tentu saja dalam obrolan telepon itu emak menanyakan kapan aku akan pulang. Hatiku seperti diiris sembilu, aku pun sangat merindukan emak. Setengah jam yang begitu singkat untuk melepas rindu.
“Nduk, jujurlah dalam bekerja,” tukas emak di akhir percakapan kami,”Karena jujur akan menolongmu.”
Kristal bening di kelopak mata terasa penuh, dan siap membanjiri seluruh pipiku.
Lamat-lamat terdengar shalawat badar di ujung telepon, “…shalatullah, salamullah, ‘ala thaha rasulillah….” Senandung shalawat yang terputar dari radio. Aku menutup telepone selepas melepas salam kepada emak.

Ada hawa panas berdecak-decak di dada, tubuhku terasa lemas. Lantas kubiarkan tubuhku terjerembab di lantai dapur, dalam posisi sujud aku menangis sejadi-jadinya. Wejangan emak terngiang-ngiang di telinga dan berulang.
Nduk, jujurlah dalam bekerja. Karena jujur akan menolongmu.
Nduk, jujurlah dalam bekerja. Karena jujur akan menolongmu.
Ada perang batin di dadaku. Aku merasa aku telah keblinger, telah mengotori kepercayaan emak dan keluarga majikan. Aku berani ngutil uang belanja. Aku telah tidak jujur.

Aku tak tahu sudah berapa lama menangis. Aku mulai kelelahan, boleh jadi aku sudah berada di alam mimpi dan di sana kulihat sebuah terowongan begitu gelap dan lembab. Aku menelusuri jalan setapak menyuak terowongan. Aku telusuri sekitar seratus meter, dan di ujung terowongan mataku terbelalak. Kulihat hamparan lautan api menyala-nyala, langitnya gelap berjelaga, bau pekat tulang-belulang yang dibakar. Ah, ini persis seperti dalam video siksa api neraka. Tapi tak ada satu makhluk pun disini.

Ah, tidak mungkin, apa aku sudah mati? Apakah aku berada di neraka? Hatiku bertanya-tanya sendiri. Tetiba dari permukaan lautan api, aku melihat tubuhku yang telanjang ditarik ke atas. Entah kekuatan apa yang menarik tubuhku. Aku melihat tubuh itu menjerit, meronta meminta tolong, menangis kencang. Tubuh itu setelah ditarik ke ketinggian tertentu, kemudian dihempaskan kembali ke lautan. Dan kejadian itu berulang-ulang. Tubuh itu penuh darah.

Lantas aku melihat jari-jari tangan dari tubuh itu, dipotong oleh sebilah pisau tajam. Lagi-lagi tubuh itu menjerit, dan kejadian berulang-ulang. Jari-jari itu tumbuh lagi, dipotong lagi. Tanpa terlihat kekuatan apa yang menggerakkan pisau tersebut. Aku masih berdiri di ujung terowongan begidik ngeri melihat tubuhku sendiri diperlakukan sesadis itu.

Tubuh yang berlumuran darah itu seolah mendekat kepadaku hendak minta tolong. Aku ketakutan sendiri, aku berjalan mundur perlahan. Tubuh itu semakin dekat.
“Tolong!”
“Tolong aku!” jeritannya mengiris sembilu.
“Tidak!”
“Jangan mendekat!”
“Tidak!” ungkapku.

Lantas dari belakang aku merasa ada yang meraih tubuhku. Menggoyang-goyangkan pundakku, menekan jari-jariku. Aku masih berteriak-teriak menolak tubuh yang serupa diriku itu. Lamat-lamat kudengar suara lelaki tua memanggil namaku.
“Nana,,, Nana,,, Nana!”
“Kenapa tertidur disini?” akong membangunkanku, “Kau sakit?”
Aku bergegas bangun, kemudian terduduk lemas. Berusaha mengembalikan ingatan. Belum lagi menjawab pertanyaan akong. Mengusap sisa-sisa air mata dan ingus yang membasahi pipi.
“Akong maafkan aku,” ucapku terbata-bata, “Aku ketiduran.”
Aku kemudian tersenyum nyinyir sambil menggaruk-garuk kepala.
“Kau terlalu capek. Malam ini tidak usah masak, kita makan Shu Shi Mi di luar.”
“Horee,,,!” Aku bersorak kegirangan, “Terima kasih Akong.”
“Tapi Akong izinkan saya keluar sebentar ke toko Indonesia dekat pasar?”
“Saya mau mengirim uang ke kampung.”
“Kau tidak melanjutkan tidurmu dulu?” saran akong.
“Tidak Akong, terima kasih.”
“Apa perlu kubikinkan kopi dulu sebelum aku keluar, Akong?”
“Tidak perlu, Nana. Sudah kau boleh keluar!”

Aku beringsut menuju ke kamar. Rupanya bunga tidur singkat yang baru saja aku alami tak berpengaruh apapaun. Aku tak menghiraukan mimpi itu. Tak peka bahwa itu adalah firasat. Aku membohongi akong. Aku tetap mengambil uang 15.000 NT yang kutemukan di saku celana akong. Aku bermaksud mengirim uang tersebut kepada dua anggota yang aku rekrut beberapa waktu lalu. Aku ingin segera melunasi utangku kepada mereka.

Aku berjalan cepat menyeberangi jalan raya. Sepuluh menit saja aku telah sampai di area pasar. Saking gembiranya, tanpa kusadari tak memperhatikan sekeliling. Dari arah kanan sebuah truk melaju kencang sambil membunyikan klakson. Dari arah berlawanan pengendara sepede motor, tampak oleng mengendalikan motornya. Entah mabuk atau remnya blong. Aku berusaha menghindari pengendara motor itu, dengan berlari kecil ke tepi jalan. Aku yang kaget pun membeku di tempat, sedangkan motor itu semakin dekat. Motor itu sudah ada di hadapan mata.

Tubuhku melayang, terjerembab di serambi sebuah toko. Cairan merah terciprat keluar dari hidungku. Tangan kananku seperti tergencet sesuatu. Uang, dan KTP-ku berhamburan di aspal jalan. Lantas kaki, kepala, aku tak bisa merasakannya.

****

Kurasakan seseorang meraba lembut jari-jemariku. Suara mesin detak jantung lamat-lamat sampai di telingaku. Aroma pekat obat membuatku tersadar aku berada dimana. Aku dapat merasakan alat-alat medis menempel di badan. Perlahan aku membuka mata, ternyata nyonya yang mengelus jemariku. Sedangkan tuan dan akong berdiri disampingnya. Tapi jari-jari tangan kananku diperban. Ya, Allah apa yang telah terjadi? Batinku nelangsa, air mata pun perlahan mengalir.
“Nana, kau siuman?” tanya nyonya.
Aku berusaha bangun, namun nyonya menahanku.
“Akong, Tuan, Nyonya,” sapaku.
“Maafkan aku!”
Aku tersadar korelasi antara mimpi, uang yang kucuri, juga kecelakaan ini. Allah SWT telah menegurku, mengingatkanku, bahwa jalan yang kutempuh untuk keluar dari masalah itu menyesatkanku. Aku menutup utang dengan uang hasil curian. Aku mengkhianati kepercayaan emak dan majikan. Aku telah tidak jujur. Aku telah korupsi.

Syukurlah peringatan ini datang ketika aku masih menghirup oksigen di dunia, jadi aku masih memiliki waktu untuk bertobat memohon ampun kepada Allah SWT. Aku pun menyadari untuk hal kecil barang se-NT dua NT yang kita korupsi, azab Allah SWT akan tetap datang, cepat ataupun lambat, azab di dunia maupun di akhirat nanti. Astagfirullah hal adzim.
“Kau tak sadarkan diri selama dua hari,” ungkap nyonya, “Ini musibah Nana tak perlu meminta maaf.”
“Tapi, Nyonya!”
“Uang itu?”
Baik akong, tuan, dan nyonya hanya menggeleng dan kemudian melukis senyum seringai.

Setelah keluar dari rumah sakit aku pun harus ikhlas menerima kecacatan tangan kananku. Jari kelingking dan jari manis terpaksa diamputasi karena remuk terlindas roda sepeda motor. Seluruh biaya rumah sakit dilunasi oleh majikan dan aku pun masih mendapat kompensasi akibat kecelakaan kerja tersebut. Aku berterus terang kepada akong dan majikanku dan meminta maaf atas kecurangan yang pernah kulakukan.

Aku mengira mereka akan marah dan menjebloskanku ke hotel prodeo, namun ternyata mereka memaafkan dan tetap mengharapkanku bekerja. Bahkan akong meminjamiku uang untuk melunasi utang-utangku. Ini bukti teguran Allah SWT yang masih menyayangi hamba-NYA. Menghendaki hamba-NYA bertobat.

“Nana!” Tiba-tiba seseorang berseru memecahkan lamunanku.
Rupanya itu Menik tetangga sebelah.
“Majikanmu kembali ke Amerika ya?” tanyanya, “Nenekku bilang jari tanganmu diamputasi?”
Aku tersenyum sambil memperlihatkan tanganku yang masih terbalut perban tipis.
“Kau tambah kontrak lagi, Na?”
“Aku sudah berjanji pada emak kontrak ini selesai akan pulang menjaganya.”
“Kau kerja yang betul.”
“Kau kerja yang jujur, jangan sampai seperti diriku.” Gurau dan nasihatku pada Menik sambil mencubit pinggulnya.
“Maksudmu, Na?”
“Ah sudahlah Nik, aku harus masuk ke dalam, saatnya diriku mengganti perban.” Kami berdua berpisah dan melanjutkan tugas masing-masing.

Hongkong, 12 Maret 2017

*nduk : panggilan untuk anak perempuan
*tak angen-angen : tak tunggu-tunggu


📜 福爾摩沙的災難 Katastrofa Formosa

👤 Kaka Clearny

我打開了柵欄,送走了馬先生和馬太太回到山姆叔叔的國度。此時柵欄的外面,計程車有序地等候這兩位雇主。

「妳暫時就先不用煮了。直到妳手上的傷口完全乾了為止。」太太邊說邊撫摸著我的右肩。

我點點頭,「謝謝太太。」

「不要做太粗重的工作,你只需要好好看我爸。」先生繼續說:「不要忘了檢查妳的傷口!」
「好的,先生。」我再次點點頭。

秋天的風吹著樹枝和葉子,彷彿也跟我一樣,祝福雇主前往美國,好像在耳邊細細的說:我和馬爺爺在台灣會好好的。載著兩位雇主前往高雄機場的計程車影子已消失在台南安平路的盡頭。接下來我的日子就回到這四年以來一直在過的日子,只有我和馬爺爺兩個人。我平時叫他阿公。

我是48個滿月前被馬家雇用的家務工。我的工作跟其他正在努力奮鬥的朋友比起來還算輕鬆。我照顧一位72歲的老爺爺,他還很健康很敏捷,不需要特別照顧,阿公可以自己活動。自從他的太太走了之後阿公獨自生活。而他親愛的兒子,也就是馬先生真正的雇主,定居在唐納‧川普所領導的國家。

由於業務繁忙,每一年只回來兩次探訪阿公,在農曆過年和阿公生日的時候。不忍心看阿公只有一個人,雇主請了一位家務移工給他做伴。我是他們家第一位看護,人家說第一個總是最特別的,第一個永遠會給人最甜蜜的印象。

先生和太太非常好,偶爾會打電話來問候。我已經被阿公、先生和太太當成自己的家人了。與他們合作的這段期間從沒聽到粗魯的話語在我耳邊降落。我們在同一個桌上一起用餐。如果阿公出國旅行,我也會跟著去。買菜的錢也完全託付於我。

有時候我對雇主感到不好意思,因為我大部份的時間都沒事做。我感覺好像在領盲目的薪水。但是先生和太太說,只要阿公快樂和健康,對他們來說都沒有關係。甚至這兩年來我請求了朝拜和背誦經文也得到允許。雇主和看護之間沒有感情上的隔閡,使我待得很習慣,有賓至如歸的感覺。我遇到好雇主的期望真的實現了。

****

「一點一滴,積沙成塔」這個諺語適用於我。在兩年內我已經可以為家鄉的家人買了一塊田地。每個月領完整的薪水,我的私人用品如肥皂、洗髮水,甚至粉餅都由雇主提供。因為照顧阿公的工作讓我有很長的空閒時間,所以我想要增加收入。我製做便當,寄放在幾家安平公園附近的印尼店賣。阿公也完全支持。我不在乎這樣工作有沒有違反工作合約或台灣的勞基法。我的生意很平順。我寄回家鄉的錢也逐月增加。

到這裡我還沒感到滿足,我敞開雙翅投入線上買賣商品。我想說買賣東西更有利可圖,也不需要自己生產。只要好好利用雇主提供的wi-fi無限上網。從這裡,我一路走上來都很平順,我在虛擬世界裡的朋友也越來越複雜。

直到我透過信箱認識了一位叫麗娜姐的人。即使沒有見過面,我當時仍然感到很親切。這種親近的感覺使我相信麗娜姐所說的是一件了不起的事。她的致命誘惑擊垮了我的內心。

在我當時的頭殼裡只有利益和利益,我想要更多再更多。導致我大膽的加入投資無需辛苦工作就承諾可以得到極大利益的生意。對,MLM(Multi Level Marketing)生意或多層次營銷,是一個以行銷方式為基礎的生意。致富和高回饋的保證成為吸引我加入的原因。我被要求帶兩位成員以得到巨大的獎賞。所以我付了一筆錢做為利益投資的本金。付越多的本金會得到更多的利益。

週換月,月換年。承諾中的獎金還是沒有下來。我帶的兩位成員也不斷要求我實現諾言。事實上我在虛擬世界認識的麗娜姐已經如同被地球吞沒般消失了,連同我匯給她的好幾百萬。我很懊惱,我想從金字塔生意快速致富的夢原來只是海市蜃樓而已。

******

福爾摩沙的冷彷彿凍結了我的理智,腦袋裡出現了幾個壞主意。我有意的常常挪用買菜錢,一天一兩百塊台幣。我收集那些錢,是用來賠償我帶領加入投資生意的成員的損失,一場騙局的生意投資。

這樣還不夠,有一天我在洗阿公褲子的時候,發現了十五張一千元台幣。我當時非常開心。我想用那些錢來賠償會員的損失。但是我的內心很掙扎,是要將錢還回去?還是直接挪用?我竟然這樣忍心這樣子對待一直對我很好的阿公。但對於因為麗娜姐的過錯導致錢不見的會員不斷催促我還錢,我又能怎麼辦。夾在對阿公的內疚和害怕未償還的債務之間。

在絕望的混亂中,我想念了母親。

嘟… 嘟… 嘟… .我的手機震動了。一封由鄉下弟弟發來的簡訊降落在螢幕上。

姐,這幾天你都沒給消息。

姐你在那邊好嗎?

媽媽找你

啊,一個母親的本能就是如此的敏感,雖然遠離她的寶貝,她仍然感受到她的小孩有些不對勁。我立刻撥打印尼的電話號碼給母親。

「妳好,媽,祝妳平安 (Assalamuallaikum)。」
「女兒,也祝妳平安(Walaikumsalam)!」在電話另一端的媽媽回。「唉唷,這幾天在等妳的消息。」

從母親的音調聽起來,她非常愉快。這位55歲女士的思念彷彿在聽到我聲音的剎那間全部付清了。我連續三個齋戒月和開齋節沒有回印尼,母親在談話中必然會問到我何時回家。我的心宛如刀割,我也非常想念母親。在這短短的半個小時內,我釋放了一切思念。

「女兒,工作中要誠實,」母親在我們最後的談話中再次強調「因為誠實會幫助你。」

我的眼皮內佈滿了透明的晶體,準備淹沒我整個臉頰。

微微弱弱的聽到電話另一邊的祈禱文:「…shalatullah, salamullah, ‘ala thaha rasulillah….」那是收音機傳出來的祈禱文。我給媽媽最後的問候之後就掛了電話。

胸口有一股熱熱的時鐘聲,身體發軟。所以我讓身體癱軟在廚房的地板上,以朝拜的姿勢哭到忘我。母親的教導在耳朵內不停的迴盪。

女兒,工作要誠實。因為誠實會幫助你。
女兒,工作要誠實。因為誠實會幫助你。

在我內心有一場戰爭。我想我被帶壞了,玷汙了母親和雇主家族的信任。我敢挪用買菜錢。我已經不誠實了。

不知道哭了多久,我開始感到疲憊,也許已經在夢境裡,在那我看到一個陰暗又潮濕的隧道。我沿著小路探索隧道。搜索了大約一百米,在隧道的盡頭,我的眼睛張到不能再大了。我看見熾烈的火在燃燒,天空被滿滿煙霧附著得烏漆麻黑,空氣充滿著白骨被燃燒的味道。哇,這正是像影片中的地獄懲罰之火。但這裡什麼生物也沒有。

啊,不可能,我死了嗎?我是不是在地獄了?我不斷問自己。當我到火海的表面上,看到光著身體的我被往上拉。不知道是什麼力量拉著那個我。我看到那個身體在尖叫,掙扎求救,哭的很大聲。那個身體被拉到一定的高度之後,被扔回到火海,這件事一直重複。那個身體滿是鮮血。

然後,我看到那個身體的手指被鋒利的刀切斷。那個身體再次的尖叫,就這樣一直重複。那些手指又長回來,又被切斷。看不到是什麼力量移動了那些刀。站在隧道盡頭的我看到自己身體被那樣殘暴的對待不禁感到毛骨悚然。

沾滿鮮血的身體彷彿想靠近我尋求幫助。我自己嚇到緩緩倒退。那個身體越來越近。

「救命!」
「救救我!」她的尖叫如刀割。
「不!」
「別靠近!」
「不!」我說。

然後我感覺到背後有人在拉我、搖搖我的肩膀,按壓我的手指。我還在尖叫推開那個像我的身體的人。我聽見一個老男人微弱的叫著我的名字。

「娜娜…娜娜…娜娜!」
「為什麼在這裡睡覺?」阿公喚醒了我,「你生病了嗎?」

我趕緊醒來,癱軟的坐下。試圖恢復記憶。先不回答阿公的問題。擦拭殘餘在臉頰的淚水和鼻涕。

「阿公,請原諒我,」我結結巴巴地說,「我睡著了。」

然後我抓抓頭笑得很尷尬。

「妳太累了。今天晚上不用煮,我們在外面吃生魚片。」
「太棒了…..!」我開心的歡呼,「謝謝阿公。」
「可是阿公,請讓我先到市場附近的印尼店一下。」
「我要寄錢回鄉下。」
「妳不想先繼續睡覺嗎?」阿公建議我。
「不了阿公,謝謝。」
「我出去之前需要我泡杯咖啡給你嗎阿公?」
「不用了娜娜。妳可以先出去了!」

我緩緩向房間移動。剛剛在夢中短暫的結局對我完全起不了任何影響。我無視了那個夢。對預感太遲鈍。我騙了阿公,照樣拿走阿公口袋裡的15000元台幣,打算將那筆錢匯給兩個我之前帶的會員。我想盡快將欠他們的債務還清。

我迅速穿過馬路,十分鐘內就到了市場。我太激動了,沒意識到我的周圍,右邊一台卡車開得很快還鳴著喇叭,從另一個反方向又有一輛機車,騎士看上去騎得很搖晃,不知道是不是喝醉酒還是煞車失靈。我試圖小跑步到路邊閃避那輛機車。但受到驚嚇的我凍結在原地,那個機車越靠近。機車就在眼前了。

我的身體飛起來,掉落在一家商店的騎樓上。紅色液體由鼻子濺出。我的右手好像被東西壓扁了。金錢和身份證件散落在柏油路上。然而腿、頭,我感覺不到了。

*****

我感覺到有人輕輕的撫摸著我的手指。測量心跳的機器聲音微微弱弱傳到耳邊。濃濃的藥味使我察覺到此刻所在的地方。我能感覺到貼在身上的醫療設備。慢慢的張開眼睛,原來是太太在撫摸我的手指。先生和阿公站在旁邊。但是我右手手指纏著繃帶。天呀,發生了什麼事?我心想慘了,眼淚也慢慢的落下。

「娜娜,妳醒了?」太太問。

我想要起來,但太太擋了我。

「阿公,先生,太太」我說
「請原諒我!」

我意識到夢跟現實的關係了,我所偷的錢和這起事故。全能的真主警告我,提醒我目前所使用擺脫困境的方式使我迷失了。利用偷來的錢來填補債務,背叛了母親和雇主的信任。我已經不誠實,已經貪汙了。

所幸這個警告是在我還可以在這個世界上呼吸氧氣時得到,所以我還有時間悔改,請求全能的真主原諒。我也知道就算我們所貪汙的是小小一兩塊錢,真主的懲罰一樣會來,不管是早還是晚,會在這個世界上、或是死後的死界受到懲罰。Astagfirullah hal adzim (我乞求全能的真主寬恕)

「妳昏迷已經兩天了。」太太說。
「這是意外,娜娜妳不用道歉。」
「可是,太太!」
「那個錢?」

無論是阿公、先生或太太只是搖搖頭,臉上露出微笑。

離開醫院後我不得不接受我右手的殘疾。我的小指和無名指必須被截肢,因為已經被機車壓碎了。全部醫療費由雇主支付,我仍然拿到工作意外的賠償金。我向阿公和雇主坦承我做過的欺詐行為並道歉。

我以為他們會生氣並將我關進布魯日飯店(牢房)裡,但事實上他們原諒了我,希望我能繼續工作。阿公甚至還借我錢還清我的債務。這證明了全能的真主警告他疼惜的僕人。希望他的僕人悔改。

「娜娜!」突然有一個人喊我的名字,打散了我的想像。

原來是隔壁鄰居瑪妮可。

「妳的雇主回美國了嗎?」她問說,「我的奶奶說妳的手指被截肢?」

我微笑的露出繃帶包紮的手。

「妳續約了嗎,娜娜?」
「我已經承諾我媽媽這份合約結束就回去照顧她。」
「妳工作的很好。」
「妳工作要誠實,不要像我這樣。」在跟瑪妮可開玩笑和建議的同時也拍拍她的臀部。
「妳什麼意思?娜娜」
「啊算了妮可,我得進去了,是該換繃帶的時間了。」我們兩個分開後繼續忙各自的工作。

香港,3月12日2017年


📝 評審評語 Komentar juri|Jesus S. Anam

Ide dalam cerpen ini sangat bagus. Ia bercerita tentang gejolak jiwa dan pengalaman pahit sebagai pekerja migran. Namun, pengeplotan dalam cerpen ini terasa bias dan sedikit bertele-tele, dengan konstruksi gagasan yang belum rapi. Kesalahan tata bahasa di beberapa titik sangat signifikan, dan menjadi sebuah pertimbangan dalam memposisikannya. Cerpen ini terpaksa saya tempatkan di urutan kesembilan.

這篇短篇散文的點子很好。他帶到了移工心靈上的動盪和痛苦的經驗。但是,故事的情節有些分散和有點囉嗦,思考的定位不整齊。幾個文法上的錯誤非常顯著,也成為了排名上的一個考量。我只能將這篇短文排在第九

📝 評審評語 Komentar juri|Dédé Oetomo

Alur yang runtut dan menawan. Detail yang kaya. Ada pergumulan batin.

故事情節連貫和迷人。豐富的細節。有內心的掙扎。

 

 

One thought on “福爾摩沙的災難 Katastrofa Formosa

  1. Terima kasih dewan juri yang terhormat. Yang ingin penulis sampaikan dalam cerita tersebut sebisa mungkin sebagai pekerja migran kita tidak mengkhianati kepercayaan majikan. Beruntung jika berjodoh dengan majikan yang baik, jika sebaliknya habislah kita. Dan imbas panjangnya kepada pekerja-pekerja migran yang lain.

發表迴響

你的電子郵件位址並不會被公開。 必要欄位標記為 *