斐的寧靜眼神 Tatapan Teduh Mata Fei

 Babak penyisihan 印尼文初選  

📜 斐的寧靜眼神 Tatapan Teduh Mata Fei

👤 Yoan Chandra

Sudah tahun ketujuh aku datang ke tempat ini. Sebuah tempat yang disebut dengan Taiwan. Merawat ama yang sudah terbaring lemah di ranjangnya. Dulu awal kedatanganku ke sini adalah merawat suaminya. Semenjak beliau meninggal dunia, keadaan ama berangsur memburuk.

Aku tidak pernah merasa bosan. Hari-hariku diliputi dengan keindahan. Dari balik kaca jendela, aku bisa melihat awan putih yang seolah selalu tersenyum, memberiku ketenangan serta naungan keteduhan. Sepoi angin yang berdesir lembut, selalu membuaikan anganku. Aku adalah pengagum kerlip bintang-bintang di langit, juga warna indah pelangi. Apapun musimnya, bagiku langit selalu memberiku keindahan warnanya tersendiri.

Wajah-wajah bahagia seluruh anggota keluarga ama adalah pandangan sehari-hari yang tak kalah eloknya. Mereka sangat menyayangiku, menghormatiku seperti layaknya keluarga mereka sendiri. Tuan, Nyonya, anak-anak mereka, juga anak bungsu ama yang hingga sekarang ini belum menikah.

Setiap hari aku selalu bahagia. Tempat ini selalu memberikan aura semangat keceriaan. Gelak tawa bersama saat di momen-momen keluarga, seperti tak ada jarak di antara diriku dengan mereka. Sungguh beruntungnya aku.

Fei adalah anak bungsu ama. Dialah yang mengantarkan ama setiap pergi ke rumah sakit. Tentu saja aku juga ikut. Semua anggota keluarga ini sangat mencintai ama. Tapi Fei yang lebih memiliki banyak waktu menemani ama. Tak jarang ia menggoda diriku, yang terkadang hanyut oleh lamunan ketika sedang menatap langit dari jendela kamar. Dia sangat periang. Jika ada dirinya, suasana rumah menjadi lebih semarak.

Belakangan ini, suasana semacam itu tidak lagi aku jumpai dalam keluarga ini. Wajah-wajah keluarga yang kesehariannya tampak begitu bahagia, kini beraroma duka. Mungkin mereka takut, khawatir, dan cemas. Mungkin saja mereka juga sering meneteskan airmata di belakang Fei. Semua terasa dirundung duka, semenjak dokter memvonis sakit kanker limpa pada Fei. Siapa sangka, Fei yang selama ini tampak begitu sehat, tiba-tiba divonis demikian.

Rumah menjadi terasa lebih sepi. Hampir keceriaan terenggut oleh kabar itu. Fei yang dulu kukenal sangat periang, kini berubah murung. Sepertinya dia telah mati lebih dulu, ketika dokter memvonisnya, bahwa umurnya tinggal tersisa enam bulan lagi. Mungkin perasaannya begitu hampa, harapan-harapan kesembuhan untuk dirinya masih digumamkan, walau tidak seratus persen yakin untuk bisa sembuh.

Aku tahu. Dari raut wajahnya yang sekarang, dia sudah bosan meminum banyak jenis obat setiap hari. Jenuh dengan semua perawatan-perawatan yang dijalani. Apalah daya. Semua demi kesembuhannya. Tak jarang ia berbicara padaku. Dia sangat merasa bersalah atas semua ini. Semua anggota keluarganya menjadi tidak ceria lagi seperti dulu. Padahal, andai saja mereka tahu, bahwa senyum, tawa, dan keceriaan wajah merekalah yang ingin Fei lihat, supaya dirinya tidak ikut terlarut dalam kesedihan yang lebih mendalam.
***

“Aku ingin menikah dengan kamu, Judy,” ucap Fei di malam itu. Wajahku memucat, kaget. Mengapa tiba-tiba saja Fei berucap demikian. “Aku ingin pesta pernikahan yang sangat sederhana tapi indah, itu pun andai kau mau menikah denganku,” tambahnya lagi. Aku masih terpaku. Bibirku kelu.

“Kau sedang bercanda, kan, Fei?” tanyaku sembari membetulkan selimut ama yang sedang tertidur pulas.

“Apa aku terlihat bercanda?”

“Yah, biasanya kan memang begitu. Kamu sering menggodaku dalam hal apapun,” terangku sedikit mencairkan suasana hatiku sendiri. “Bahkan, sudah sering kamu menggodaku, dengan lamaran-lamaran konyolmu itu,” tambahku. Fei mengernyitkan dahinya.

“Mana wanita-wanita cantik yang sering kau bilang sedang mengejar-ngejar cintamu itu? Mana …? Rasanya tidak mungkinlah, kamu memilih diriku yang seperti ini!” ujar tegasku.

Apalah Fei ini. Dalam keadaannya yang seperti saat ini masih saja bisa bercanda. Dia bilang, sebelum bertemu dengan diriku, rumah ini terasa tiada warna dan membosankan. Tapi semenjak kedatanganku, dia seolah menemukan seorang sahabat, dan ada tempat untuknya berbagi.

“Aku serius, Judy …,” ucapnya lirih. Aku masih terdiam walau sebenarnya kaget dengan pernyataannya barusan. “Jika benar umurku hanya tersisa enam bulan lagi, aku hanya ingin menghabiskan sisa waktuku itu bersamamu.”

Lagi lagi bibirku kelu. Perasaan ini menjadi bercampur aduk. Tak tahu lagi, apa yang harus aku katakan.

“Anggap saja ini permintaan terakhirku,” terang lirih Fei.

“Fei, ini terlalu mengejutkan buatku,” terangku menegaskan.

“Tapi aku takut, waktuku tidak lama lagi, Judy. Bagaimana jika waktuku kurang dari enam bulan?”

“Sssstttt …!” ujung jariku spontan mengatup bibir Fei. “Kamu tidak boleh menyerah seperti ini, Fei. Seperti keluargamu yang selalu berharap besar dengan kesembuhanmu!” tegas lirihku.

“Judy, tatap mataku. Jujurlah padaku, jika kau tidak menaruh sedikit pun perasaan terhadapku?” Fei menatapku serius. Sungguh, aku selalu tak sanggup menatap tatapan matanya yang teduh, yang selalu membuat jantungku terasa meletup-letup. “Maaf,” ucapnya lirihnya.

Apa yang harus aku katakan padanya. Ya, jika selama ini aku menaruh hati padanya. Ya, jika aku selalu merasa nyaman di dekatnya. Tapi, aku tidak tahu akan perasaanku sendiri. Apakah ini benar-benar perasaan cinta, atau hanya sekadar rasa kesepianku saja selama ini? Secara, Fei yang dulu selalu menghiburku, memberiku semangat, motivasi, agar aku selalu optimis dan banyak berdoa. Sekarang keadaan berbalik, dialah yang lebih membutuhkan semua itu.

“Fei, apa kau benar-benar mencintaiku? Atau hanya karena kau sedang sakit dan membutuhkan jasa diriku, sehingga kau melakukan semua ini?” tanyaku meyakinkannya.

“Aku tidak serendah itu, Judy. Sudah sejak lama aku menyukaimu, bahkan seluruh keluarga ini tahu, kamu saja yang tidak peka dengan diriku selama ini,” jawab lirihnya.

“Apa?” aku terkejut.

“Judy, aku tidak ingin kau menerimaku karena rasa kasihan. Mungkin kau menganggap aku sangat egois. Mengertilah, aku akan merasa menyesal, jika tidak bisa mengatakan semua ini padamu, sebelum Tuhan mengambil nyawaku. Aku tidak ingin memaksamu.”

Fei, bukan aku tidak peka selama ini. Hanya saja, aku selalu menepis setiap ada perasaan yang hadir terhadapmu singgah di hatiku. Aku sadar, siapa diriku ini. Kamu, keluarga kamu, sudah terlalu baik padaku. Aku tidak ingin merusaknya.
***

Perasaan orangtua mana yang tidak terkejut, manakala anak perempuannya meminta izin untuk menikah dengan seorang lelaki, yang telah divonis dokter dengan penyakit kankernya. Banyaklah kecemasan yang terbesit dalam dada mereka. Bagaimana lelaki tersebut bisa menjaga putrinya, sementara sisa usianya secara perlahan tergerus oleh penyakit kanker yang menggerogoti badannya.

Tak mudah bagiku mendapatkan restu tulus dari orangtuaku. Aku dan Fei akan saling menjaga, sebatas yang kami mampu.

Pernikahan kami pun dihelat. Ada kedua orangtuaku dan segenap keluarga, kerabat, serta teman-teman yang turut hadir memberi restu pada kami berdua. Fei sungguh tampan dan gagah, dengan balutan busana jas pengantin berwarna hitam, berpadu dengan dasi kupu-kupu yang melingkar di lehernya. Menurut Fei, aku juga cantik mengenakan busana kebaya putih modern berekor panjang menjuntai, dengan sanggul jawa dan roncean kembang melati, juga hiasan-hiasan kepala lainnya. Berulangkali Fei mencuri pandang dan melemparkan senyum padaku, sambil mengerlingkan matanya. Aku pun membalasnya dengan cubitan kecil pada lengan tangan Fei, agar segera menghentikan tingkahnya yang membuatku tersipu malu di hadapan para tamu yang hadir. Wajahnya terlihat lucu tapi tetap manis setiap menahan tawa.

“Fei, apakah engkau bahagia?” bisikku lirih ke telinga kiri Fei.

“Iya, aku sungguh bahagia, Judy,” jawab Fei dengan senyumnya yang manis, serta tatapan sinar matanya yang teduh. Aku pun membalas senyumnya dengan tatapan penuh kasih. Sungguh tiada terelakan rasa bahagia ini, manakala tatapan mata kami saling beradu. Senyum kami berdua pun merekah, seindah rekah bunga-bunga mawar putih penghias ruangan acara pernikahan kami yang sedang dihelat. Aromanya menambah kesyahduan hati kami berdua, yang sedang dimabuk kasih dan sayang.

Tak banyak yang hadir dalam pernikahan Fei dan aku. Tapi kami yakin, dalam hati mereka terbesit do’a-do’a yang tulus untuk rumah tangga kami ke depannya.

“Semoga Tuhan mengabulkan do’a yang mereka panjatkan untuk kita,” bisik lirih Fei di telinga kananku.

“Amin, semoga saja,” terangku dengan penuh keyakinan.

Menghabiskan sisa hidupnya bersamaku, adalah permintaan Fei pada keluarganya. Demikian halnya dengan diriku. Sebagai istri, aku akan setia mendampinginya. Setelah menikah kami menempati sebuah apartemen berkamar 3.

Waktu yang tersisa, tidak akan aku sia-siakan bersama Fei. Hari-hariku selalu aku habiskan berdua bersamanya. Tentunya, dengan saling mendukung, saling pengertian dan saling percaya pada pasangan. Seperti yang Fei pernah katakan, dia akan tetap melakukan pengobatan. Dengan semangat, dukungan, dan cinta kasihku, akan lebih menguatkan rasa kepercayaan pada dirinya.

Rumah yang kami tinggali tidaklah terlalu besar, namun kami sangat nyaman tinggal di dalamnya. Kami menata isi rumah secara bersama-sama. Fei sangat memahamiku. Dia tahu kalau diriku menyukai pernak-pernik bermotif bunga warna-warni. Foto pernikahan kami, terpasang rapi di dinding kamar tidur kami. Meski tidak luas, ada balkon yang menghubungkan ruang kamar tidur kami. Kami menanaminya dengan bunga-bunga dalam pot-pot kecil aneka warna-warni. Kami juga menaruh sepasang kursi dan sebuah meja kecil di sana.

Jika suasana sedang cerah, kami menghabiskan waktu berdua di sana sembari meminum teh dan makan makanan kecil kesukaan kami. Meski tidak banyak, bunga-bunga kecil dalam pot itu, seolah selalu ikut tersenyum bersama kami. Warna-warninya yang elok, serasa tiada bosannya untuk menghibur kami. Di saat seperti itulah, rasa optimis dan semangat kami terukir indah di senyum mereka.

Jika malam terasa dingin, kami menghabiskan waktu berdua di depan televisi, di sebuah sofa lebar bermotif bunga warna-warni. Menikmati kebersamaan sambil berpelukan, bersenandung cinta, bercerita yang indah-indah, mengungkapkan harapan-harapan kami berdua. Kami sangat bahagia. Tiada rasa cemas, tiada rasa takut. Hanya ada wajah-wajah ceria yang menghias.

Sedikit pun tiada pernah membicarakan tentang kematian. Aku selalu berbicara pada Fei, agar melukiskan segala harapan yang baik dan indah saja. Tak usah risau akan penyakitnya. Anggap sajalah seolah-olah akan hidup seratus tahun lamanya.

Ya, di saat seperti inilah, kami sering membicarakan tentang, berapa kelak anak yang ingin kami miliki nanti. Siapa nama yang akan kami berikan pada anak-anak kami nanti. Dengan senang bahagia aku mengatakan pada Fei, aku selalu siap untuk melahirkan 5 orang anak, baik laki-laki maupun perempuan. Akan lebih baik jika melahirkan anak-anak kembar. Betapa lucunya mereka ketika memanggil kami dengan sebutan, papa-mama. Kami pun sepakat, jika kelak yang terlahir anak perempuan, Fei-lah yang memberikan nama untuknya, begitu juga sebaliknya.

Kami juga sering berlibur di berbagai tempat wisata di Taiwan. Fei merasa lebih baik jika sedang berlibur. Bagi dirinya, vonis kanker dari dokter bukanlah sebuah waktu untuk menunggu sebuah kematian. Justru sebaliknya. Hidup adalah hidup, hidup untuk menikmati hidup, meski hidup juga menuju arah kematian. Saat berlibur Fei tidaklah tampak seperti orang sakit yang akan menghadapi sebuah kematian. Walau demikian, aku juga harus mengingatkan dirinya, agar tidak terlalu kecapekan.

Fei juga mengajakku untuk menikmati wisata di pulau dewata Bali, Indonesia. Seperti biasa, Fei sangat menikmatinya. Dia sungguh menyukai suasana pantai. Seiring kebersamaanku bersamanya, rasa fobiaku terhadap pantai atau hamparan lautan berangsur menghilang. Memang sangat aneh, jika biasanya aku yang selalu memberinya semangat untuk tidak takut, namun ketika berhadapan dengan pantai, Feilah yang memberiku semangat agar tidak takut pada hamparan air laut. Dia selalu bilang, jadilah seperti lautan, meski di permukaan terlihat tenang, namun jika engkau menyelami dalamnya, banyak tekanan-tekanan arus kuat yang akan ditemui.

Saat di pantai, kami seolah kembali menjadi dua orang anak kecil yang sedang bermain. Kami bermain pasir, membuat istana-istana dari pasir, berbasah-basahan dengan air laut, saling berkejar-kejaran di pinggiran pantai. Panas terik matahari yang membakar kulit, tidak kami pedulikan lagi. Kami sangat bahagia. Saat matahari mulai tenggelam, kami menikmatinya dengan penuh kemesraan. Mata kami saling menatap, dengan tatapan penuh cinta dan kasih. Ya, tatapan mata teduh Fei itulah, yang selalu membuat hatiku bergetar dari dulu hingga sekarang. Desir lirih angin pantai, seolah menyatu bersama tatapan matanya hingga menembus relung hatiku. Rasa ini begitu tenang dan damai. Oh, Tuhan, jika Engkau mengizinkan, jangan pisahkan aku dengan dirinya.

“Aku pun juga tidak ingin berpisah denganmu, Judy,” ucap Fei yang membuatku terkejut, seolah ia bisa membaca isi hatiku walau tanpa aku utarakan.

Sungguh, pelukan hangat serta tatapan teduh matanya, mengisyaratkan rasa kedamaian dalam jiwa, mengukuhkan perasaan cintaku padanya. Harapan-harapan indah kecilku selalu bergema di hati, semoga Fei hidup seratus tahun lagi.

Fei juga seorang menantu yang baik. Ketika sedang berkunjung ke Bali, ia memaksaku agar mampir ke rumah orangtuaku di kampung. Bukannya aku tidak mau, tapi aku takut jika Fei kecapekan. Saat di sana, ia cepat beradaptasi dengan keluarga dan lingkungan sekitar. Wajah-wajah cemas dan takut, terpancar jelas dari raut muka mereka, terutama keluarga serta ayah-ibuku. Mereka tidak pernah tahu, jika rasa takut dan cemas itu tidaklah perlu. Aku dan Fei, sangat menikmati kebahagiaan rumah tangga kami dengan penuh rasa suka cita. Karena cinta telah menguatkan kami berdua.
***

Seperti biasa, malam itu aku menyiapkan makan malam. Tidak istimewa, namun aku menyiapkan makanan-makanan kesukaan Fei; chou tofu, tao ya chai, luo po kau, hung sau yi, dan sup rumput laut campur baso ikan. Sejauh yang kukenal, meski ia terlahir dari keluarga yang berada, dia tetap menyukai kesederhanaan. Kadang jika aku masak masakan dari Indonesia; gado-gado, tempe goreng, telur puyuh balado, urap sayur, sambal terasi, Fei tidak pernah menolak. Dia sangat bisa menjaga perasaanku.

“Mau tambah nasinya, Fei?” langsung saja ia sodorkan mangkuk nasi yang sudah tidak berisi lagi. Bahkan di dalam mulutnya masih penuh dengan makanan. Tak seperti biasanya, Fei makan sampai sebegitunya. “Pelan-pelan makannya, Fei.” Dia hanya membalas dengan senyuman bibir. Sesekali aku membantu mengelap sisa makanan yang masih menempel di bibirnya.

“Judy, apakah kamu menikmati makan malamnya?” tanyanya santai.

“Tentu saja, selama ada kau, makan malamku selalu spesial,” jawabku sambil menyeruput sup rumput laut.

“Seandainya aku sudah tidak ada di sisimu, tetaplah seperti ini. Menikmati makan malam dengan spesial.” Sup rumput laut yang mulai mengalir di kerongkongan, serasa berhenti. Aku letakan mangkuk sup itu, meski masih tersisa dua helai rumput laut dan sabutir baso ikan di dalamnya.

“Sudah berulang kali, aku katakan padamu, Fei. Agar melupakan semua penyakit itu, biarkan hari berganti dengan sendirinya, anggap saja kita sudah lupa hari.”

Malam ini adalah malam ke-180, sejak vonis itu diterima Fei. Malam-malam sebelumnya kami menikmatinya dengan penuh bahagia. Aku selalu berusaha menghibur Fei, agar melupakan vonis dokter untuknya. Apalah daya, Fei hanyalah manusia biasa, tentunya memiliki rasa takut dan cemas. Tidak mudah baginya setelah semua yang terjadi. Hal yang paling tidak kusukai, tentunya juga oleh Fei. Telah tiba hari, dimana batas akhir sejak dokter memvonisnya. Bukanlah soal kematian yang menyedihkan, sebab orang yang hidup pastilah akan mati juga. Tinggal menunggu kapan, dan bagaimana nyawa itu terpisah dari raga manusia.

“Aku masih ingin bersamamu, Judy. Membangun keluarga kecil bahagia, dengan anak-anak kita nanti,” ucap Fei.

Bulir-bulir bening yang mengintip dari balik kelopak mataku, berusaha aku tahan agar tidak jatuh terlihat oleh Fei.

“Aku pun sama, Fei. Sudahlah, semua pasti akan baik-baik saja.”

Fei terdiam. Dia letakan mangkuknya yang sudah kosong. Perlahan melangkah ke kamar. Bulir-bulir bening itu tak kuasa lagi untuk terus mengintip di balik kelopak mataku. Siapa yang bisa menolak takdir Tuhan. Sebesar apapun usahaku agar, Fei mengabaikan vonis dokter, di detik-detik akhir batas waktunya.

Kulihat Fei berbaring di atas tempat tidur dengan lampu menyala. Dia terlihat pasrah tidak berdaya. Telepon dari keluarga dan teman, Fei abaikan. Dia tidak ingin mereka mengunjunginya hari ini. Kurebahkan tubuhku di sampingnya. Kupegang erat jemari tangannya. Fei memandangiku dengan tatapan penuh cinta, aku pun membalasnya. Rasa haru menyeruak di antara kami.

“Aku belum siap berpisah denganmu, Judy,” ucap lembutnya. Untuk pertama kalinya aku melihat Fei menangis. “Aku sangat mencintaimu,” ujarnya yang begitu mesra.

“Aku juga, Fei,” jawabku lirih sambil mengusap airmatanya.

“Jangan pernah lupakan aku, bila aku sudah pergi ke dunia yang baru.”

“Mana mungkin dirimu aku lupakan, Fei. Kau selamanya akan tetap di hatiku,” bisik lirihku.

Malam itu, aku tidak meninggalkan Fei walau sedetik pun. Aku terus berbaring di sampingnya. Tak kan kulepaskan tangannya walau sekejap. Kulantunkan do’a-do’a terbaik untuknya. Malam yang dingin akan menjadi saksi semua ini. Aku pun tak kuasa, bila takdir itu telah tertulis demikian untuk Fei.
***

Kubuka mataku. Hawa dingin menusuk hingga ke pori-pori kulit. Kulihat langit redup, kaca jendela berembun. Badanku terasa berat untuk bangun dari tempat tidur. Suara lalu-lalang kendaraan terdengar seperti hari-hari biasa. Sesekali juga terdengar suara sirine ambulan, sirine mobil pemadam kebakaran, dan suara-suara klakson mobil truk besar. Tiba-tiba saja tercium aroma roti bakar dan harumnya kopi, oleh indera penciumanku.

“Fei …!?” Aku beranjak dari tempat tidur. Langkahku terhenti, manakala Fei sudah berdiri di hadapanku, dengan membawa nampan berisi dua roti bakar isi keju parut bercampur cokelat, dan dua cangkir kopi hitam.

“Selamat pagi, Judy sayang,” ucap mesra Fei, sambil mengecup keningku. Aku termangu melihat Fei yang begitu cerianya pagi ini. “Duduk, dan makanlah. Kali ini kamu jangan protes, kita sarapan di dalam kamar saja, sesekali biarlah semut-semut itu singgah di kamar kita,” ucap candanya.

“Fei ….”

“Seleseikan dulu sarapanmu, baru nanti kita bicara,” terangnya sambil menyeruput kopi hangatnya. Alangkah bahagianya aku pagi ini, bisa melihat Fei kembali tersenyum setelah kejadian semalam. “Judy ….”

“Iya,” jawabku.

“Pagi ini ketika mataku terbuka, badanku terasa ringan. Dan aku bertanya, entah kepada siapa, sudah di surgakah aku? Lalu pandangan mataku terus berputar melihat sekeliling, tapi tubuhku masih belum juga bergerak. Belum habis rasa penasaranku, tangan kananku terasa ada yang menekan kuat.”

“Hhhh ….”

“Setelah aku menoleh, di samping kananku ada seorang wanita manis sedang memegang erat tanganku. Bidadari surgakah dia? Kucubit pipiku, terasa sakit sekali. Ternyata ….”

“Fei ….” Aku menangis memeluknya. “Syukurlah, Fei, pagi ini aku masih bisa menikmati sarapan pagi bersamamu.”

Fei menatapku seakan tidak percaya. Benarkah aku ini, Judy-nya? Dia tersenyum hingga ke ujung bibir, seolah ingin mempersembahkan semua senyumnya untukku.

“Sayang, aku sangat mencintaimu …,” suara Fei terdengar begitu merdunya di telingaku.

“Aku juga sangat mencintaimu, Fei,” jawabku.

Kami mengobral banyak kata cinta dan mesra, saking bahagianya. Maklum, setelah peristiwa semalam yang telah kami lalui. Fei yang merasa lolos dari lorong kematian. Serta diriku yang begitu takut jika harus kehilangan dirinya. Setelah semua ini, tidak perlu takut lagi melukiskan harapan-harapan yang indah kami. Fei tidak perlu takut lagi dengan vonis dokter, dan aku tidak takut lagi menghadapi hari-hari esok. Tetap optimis dan menjauhi rasa pesimis. Tak usah bersedih, yang telah ditakdirkan Tuhan pasti terjadi, sebab pena-pena telah kering, dan lembaran-lembaran telah dilipat. Ajal pastilah tiba. Entah kapan itu datangnya … Hanya Tuhanlah yang tahu.

“Tetaplah seperti ini, Fei. Optimis dengan hal-hal yang baik, karena Tuhanlah yang menentukan takdir manusia, bukan manusia,” terangku.

“Iya, aku tahu Judy, keajaiban Tuhan itu ada. Terima kasih, Tuhan ….”

Rasa syukur tak henti-hentinya kami panjatkan pada Tuhan. Fei berteriak bahagia, dan langsung membopongku sambil berputar-putar setelah aku membisikan, tak lama lagi ia akan menjadi seorang ayah. Rona bahagianya, terlukis jelas di wajahnya.

“Terima kasih, Judy ….” Fei menatapku dengan tatapan matanya yang teduh. Aku berharap anak ini nanti memiliki mata yang sama, seperti mata Fei. Tatapan mata teduh, yang selalu memancarkan ketenangan dan kedamaian hati pada siapa saja yang melihatnya, khususnya diriku.

Tamat


📝 Komentar juri|Jesus S. Anam

Cerpen ini digarap dengan serius. Struktur tulisannya cukup bagus. Alurnya terbentuk. Penyuguhan tokoh, latar dan gaya bahasanya cukup kuat. Penahapan plotnya tertata. Penyajian dimensi fisiologis-psikologis-sosiologis tokoh terpampang jelas. Pengembangan temanya sudah lumayan kompleks. Dan kaidah bahasanya sudah memenuhi kriteria. Beberapa kesalahan kecil menyangkut kaidah bahasa tidak terlalu mengganggu, kesalahannya hanya sedikit, dan beberapa kesalahan lain yang terjadi bersifat teknikal. Cerpen ini saya tempatkan di urutan pertama dari sepuluh karya terbaik, dengan skor akumulatif 95, skor tertinggi yang saya berikan. Cerpen ini sudah layak dipublikasikan sebagai sebuah karya sastra.
Tapi, tentu, karya ini belum sempurna, masih perlu pengembangan; penulisnya masih perlu mengembangkan kapasitas imajinasinya, mengolah kualitas pengetahuannya, sehingga cerpen yang ditulisnya memiliki bobot makna yang tinggi, kompleks, filosofis, dialektis, dan mampu mengubah pemikiran pembacanya.


 

📜 斐的寧靜眼神 Tatapan Teduh Mata Fei

👤 Yoan Chandra

 

這是我第七年來到這個地方,一個被稱為台灣的地方。照顧虛弱躺在床上的阿嬤。最先開始我來到這裡是為了照顧她的丈夫。之從他去世了以後,阿嬤的情況逐漸惡化。

我從沒感到無聊。我的日子充滿了美妙。從窗戶的玻璃背面,我可以看到彷彿一直在微笑的白雲,給了我平靜和庇護的空間。微風窸窣作響,總是懷抱著我的想像。我是天上閃爍星星的崇拜者,還有色彩美麗的彩虹。不管任何季節,天空一直給我它自己獨有的美感色彩。

阿嬤家裡所有成員的幸福臉孔是每天不失雅致的風景。他們非常疼惜我,尊重我好比自家人一般。先生、太太和他們的小孩,還有阿嬤至今尚未結婚的小兒子。

我每天都很快樂。這個地方總是給人快樂精神的光環。而家人在一起歡笑的時刻,彷彿我們之間沒有距離。我真的很幸運。

斐是阿嬤最小的兒子。也是他每次載阿嬤去醫院,當然我也跟著。這個家的每一個成員都很愛阿嬤,但斐有更多的時間陪伴阿嬤。當我透過窗戶看著天空沉迷在自己的想像時,他常常會捉弄我。他人很活潑,如果有他在,家裡的氣氛會變得比較熱鬧。

最近,我在這個家沒有再看到這樣的氣氛了。每天看起來很幸福的臉孔如今充滿悲痛的氣息。可能他們害怕、擔心和焦慮。可能他們也會常常在斐的背後掉眼淚。整個家被悲傷的氣氛壟罩,自從醫生判決斐得了脾臟癌。誰會想到,一直看起來很健康的斐,竟突然接到這個惡耗。

家裡明顯變得比從前安靜。所有的歡樂幾乎被這個消息奪走。我之前所認識的斐很活潑,現在變得悶悶不樂。彷彿當醫生下了判決之後他就已經先死去了。醫生說他的生命只剩六個月。也許他的心情就是空虛,治療的每個希望還在討論中,即使沒有百分之百會治癒。

我了解,從他目前的表情來看,他對每天服用多種藥物感到厭倦了。對目前一切的治療已經感到疲憊。但也很無奈,這一切都是為了讓他恢復。他經常對我說,他對這一切感到內疚。因為整個家庭成員變得不像以前那樣歡樂了。其實,若是他們知道,他們臉上的微笑、笑容和喜悅才是斐所希望看到的,好讓他不要過於沉溺於更深的傷心之中。

***

「我想跟你結婚,朱迪。」斐在當晚告訴我。我臉色變得蒼白,感到震驚。為什麼斐突然會這樣說。「我想要一個很簡單但是美麗的婚禮,那也是如果你願意嫁給我,」他補充。我被震住了,嘴唇發麻。
「你在開玩笑吧,斐?」我邊問邊調整阿嬤熟睡中的棉被。
「我看起來像在開玩笑嗎?」
「是呀,你經常都這樣,你常常在任何情況下捉弄我,」我邊解釋邊調解自己的內心。「甚至,你常常捉弄我有關你那些無聊的求婚,」我補充說明。斐皺起了眉頭。
「你經常說的那些正在追求你的美女們都在那裡呀?在那裡……? 感覺你不可能會選擇像我這樣的人!」我嚴厲的說。

斐是什麼東西呀。在這樣的情況下還能開玩笑。他說,在見到我之前,這個家感覺沒任何色彩和無聊。但之從我來了之後,他似乎找到了一個朋友,一個可以讓他分享的對象。

「我是認真的,朱迪……」他輕聲的說。我還是沒說話,雖然實際上對他的話感到驚訝。「如果我的生命真的只剩下六個月,我只想把剩下的時間跟妳在一起。」

我的嘴唇再次發麻。我的心情整個亂成一團。不知道該說些什麼。

「就把它當成是我最後的請求吧,」斐輕聲的解釋。
「斐,這個對我來說太震驚了。」我嚴厲的解說。
「但是我怕,我的時間不多了,朱迪。如果我的時間少於六個月怎麼辦?」
「噓……!」我的指尖立刻堵住斐的嘴唇。「你不可以就這樣放棄。就像你的家人對於你的康復抱有很大的希望!」我輕聲的說道。
「朱迪,請看看我的眼睛。跟我說實話,如果你對我沒有絲毫的感覺?」斐認真的看著我。說真的,我一直無法直視他那雙寧靜的眼神,總是讓我心臟蹦蹦跳。「對不起。」他小聲的說。

我該跟他說什麼呢。是的,這一段時間我都把心思給他了。是的,我在他身邊感到很舒服。但是我不知道自己的感受。那真的是愛情嗎?還是只是這一段時間感到寂寞?斐之前常常安撫我,給我鼓勵、激勵,要我抱持樂觀並多多祈禱。如今情況相反,他更需要這些。

「斐,你是真的愛我嗎? 還是因為你生病而需要我的幫忙才讓你做這一切?」我向他確認。
「我沒那麼低級,朱迪。從很久以前我就喜歡你了,甚至我們全家人都知道,只有你一直對我都不敏感。」他輕聲的回。
「什麼?」我嚇了一跳。
「朱迪,我不希望妳接受我是因為可憐我。妳可能會認為我非常自私。請妳理解,如果在神將我的性命取走之前沒有把這一切都說出來的話,我會非常後悔。我不想強迫妳。」

斐,不是我在這段時間不敏感。只是,我總是對於你降落在我心裡這件事置之不理。我知道我的身份。你和你的家人都對我太好了。我不想破壞它。

***

沒有一個父母不會感到震驚,當他的女兒請求充許嫁給一個男人,一個被醫生判決得了癌症的人。他們的胸口出現許多的焦慮感。這個男人要如何照顧他們的女兒,在他那剩下的歲月,身體將慢慢的被癌症給吞噬。

對我來說不容易得到父母誠懇的祝福。我和斐在我們能力之內互相照顧。

我們舉行了婚禮。我的雙親和整個家族、親戚和朋友都前來祝賀我們。斐真是英俊瀟灑,身上裹著黑色的西裝禮服,搭配圍在脖子上的蝴蝶領結。斐也認為,我很美麗,穿著長尾現代版白色卡巴雅(kebaya),搭配垂吊著茉莉花的爪哇髮髻和其他髮飾。斐好幾次偷瞄對我微笑,還對我擠眉弄眼的。我也以在他手臂上小捏做為回應,想停止他使我在客人面前感到害羞的這些舉動。他的臉看起來很滑稽,但在忍住笑時仍然好看。

「斐,你幸福嗎?」我輕聲細語的在斐的左耳說。

「是啊,我真的很幸福,朱迪。」斐帶著甜蜜的微笑回答,還有他那寧靜的目光。我以充滿愛的微笑回報。對眼前的幸福感真的很不捨,當我們的眼神交錯時,我們兩人會心一笑,媲美於禮堂內裝飾的白玫瑰。那個香味增加了目前陶醉在愛情中的我們內心的和諧。

沒有很多人來參加我和斐的婚禮。但我們相信,他們在感動的心裡為我們未來的生活給予最真誠的祈禱。

「阿門,但願。」我有信心的解讀。

與我度過餘生,這是斐對他家人的要求。我也是如此。作為妻子,我將忠誠的陪伴他。婚後我們住在一間三房的公寓。

剩下的日子,我與斐都不想浪費。我每天的日子都跟他相處在一起。當然,我們相互扶持、相互理解和信任。斐曾經說過,他會繼續做治療。有我的鼓勵、支持和愛,會增加他的自信心。

我們住的房子不算大,但是我們住得很舒適。我們一起擺設家裡空間,斐非常了解我。他知道我喜歡多彩花樣的小飾品。我們的婚照,整齊的掛在我們的臥室。雖然不是很大,有一個連接我們臥室的小陽台。我們在各種顏色的小花盆栽種花草。我們還放了一對椅子和一張小桌子在那兒。

如果是睛天,我們會將時間花在一起喝茶,吃我們喜愛的零食。即使不多,花盆裡的小花也彷彿跟著我們一起笑。他們漂亮的色彩似乎對於取悅我們從未厭倦過。在那樣的情況下,我們的樂觀和熱情全刻在它們的笑容當中。

如果感到夜晚的冷,我們將時間花在電視機前面,在一個五顏六色的大沙發上。享受抱在一起,哼著情歌,訴說美好的事物,講講我們兩個人的期望。我們非常幸福。沒有擔憂,沒有害怕。只有快樂的臉蛋裝飾人生。

一點都沒有提過死亡的事。我一直告訴斐,要只畫下美好的期望就好。不用擔心疾病。把他當作還會活一百年。

是的,在這樣的情況下,我們常常討論,未來我們希望有幾個孩子。我們會給我們的孩子們取什麼樣的名字。幸福快樂的我告訴斐,我準備生五個小孩,無論是男生還是女生。最好可以生幾個雙胞胎。當他們叫我們「爸爸」、「媽媽」時是會多麼的可愛。我們已經講好,如果生的是女生,斐會給他取名字,反之亦然。

我們也經常到台灣各地旅遊。旅遊時,斐的感覺比較好。對他來說,醫生的癌症判決不是等待死亡的時間。恰恰相反,活著就是生活,生活就要享受活著的感覺,即使生命會走向死亡。旅遊時,斐看起來不像正在面對死亡的病人。即便如此,我也不得不提醒他不要過於勞累。

斐也邀我享受印尼神明之島、巴厘島的旅遊。像往常一樣,斐很享受其中。他很喜歡海灘上的氛圍。陪伴他的這段時間,我對海灘或無邊大海的害怕逐漸消失。真的很神奇,平時是我給予斐鼓勵要他不要害怕,但面對海灘時,反而是斐給我不懼怕無邊大海的勇氣。他常常說,要像大海那樣,雖然表面上看起來很平靜,但如果你潛入深處,會遇到很多很強的伏流。

在沙灘上,我們彷彿兩個在玩耍的小孩子。我們玩沙,建造沙子城堡,潑海水,在海邊玩追逐賽。炎熱的太陽燒燙了我們的肌膚,但我們都不在乎了。我們非常的幸福。太陽下山時,我們享受它。我們雙眼對看,充滿愛的互視對方。是的,斐那寧靜的眼神,從以前到現在一直使我動心。海風輕輕的吹,好像跟他的凝視合而為一的穿透我的內心。那個感覺是多麼的平靜與和諧。神呀,如果祢允許,請不要將我和他分開。

「我也不想和妳分開,朱迪。」斐的話嚇我一跳,他彷彿會讀我的心聲,即便我沒有說出來。

說真的,他溫暖的擁抱和寧靜的眼神,流落心靈上的和諧,鞏固了我對他的愛。小小美麗的期望一直在心中迴盪著,希望斐可以活一百年。

斐也是一位好的女婿。來巴厘島旅遊時,他會逼著我回到家鄉父母家去。不是我不想,但我擔心斐會太過疲勞。在那裡,他很快的適應我家鄉的家人和環境。一張張擔心和害怕的臉明顯的掛在他們的臉上,特別是我的家人和父母。他們從不知道那些恐懼和擔憂是多餘的。我和斐,喜悅地享受我們幸福家庭。因為我們的愛使我們堅強。

***

像往常一樣,那一晚我準備了晚餐。沒什麼特別的,但是我準備的是斐愛吃的東西:臭豆腐、豆芽菜、蘿蔔糕、紅燒魚和海帶魚丸湯。據我所知,儘管他出生在一個富裕的家庭,他還是喜歡簡樸的生活。有時如果我煮印尼菜:加多加多(gado-gado),煎天貝(goreng tempe),鵪鶉蛋巴拉多(telur puyuh balado),蔬菜沙拉(urap sayur),辣蝦醬(sambal terasi)的時候,斐從來沒有拒絕過。他很照顧我的感受。

「要加飯嗎,斐?」他立刻將已空的飯碗傳遞給我。他的嘴裡滿是食物。跟平時不太一樣,斐吃成那個樣子。「慢慢吃,斐。」他只以微笑做答。我不時幫他擦拭黏在他嘴唇上的剩飯。
「朱迪,你有享受晚餐嗎?」他輕鬆的問。
「當然,只要有你在,我的晚餐都是特別的。」我邊回答邊喝海帶湯。
「如果我不在你身邊,你要仍然像現在這樣,享受特別的晚餐。」流在喉嚨的海帶湯似乎止住了。我將湯碗放下,雖然碗裡還留有兩片海帶和一顆魚丸。
「已經好多次了,我告訴你,斐。忘掉所有的疾病,讓日子走下去,就當作我們已經把日子給忘掉了。」

今晚是第180晚,從斐接受那個判決開始。先前的夜晚我們都過得充滿幸福。我一直設法安慰斐,讓他忘掉醫生的判決。但也無可奈何,斐只是普通人類,一定會有恐懼和不安。這一切對他來說不容易。我最不喜歡的事情,當然,斐也是。那一天的到來,醫生所判決的最後一天。不是關於死亡的悲傷,因為活的人終究也會死去。只是在等待的時候,和靈魂如何脫離人體的軀殼。

「我還想和你在一起,朱迪。在未來建立一個幸福的小家庭,跟我們的孩子們在一起。」斐說。

眼皮背後正在偷看的透明淚珠,被我試圖的忍住不被斐看到。

「我也是,斐。好了啦,一切會好起來的。」

斐沉默了。他放下空碗。緩緩的走進房間。那些透明淚珠已無法在我的眼皮後面偷看了。誰有辦法抗拒神的旨意。無論我多麼努力讓斐無視醫生的判決,在最後幾秒還是會有它的期限。

我看著斐亮著燈躺在床上。他看起來無奈和無力可施。家人與朋友的電話,斐都不接。他不想讓他們今天來拜訪。我躺在他的身邊。我緊緊的握住他的手指。斐很親切的看著我,我也看著他。感動的心散發在我們之間。

「我還沒準備好和你分開,朱迪。」他輕輕的說。這是頭一次我看到斐哭了。「我很愛你。」他溫柔的說。
「我也是,斐。」我輕聲的回並擦拭他的眼淚。
「永遠不要忘記我,如果我到一個新的世界。」
「我怎麼能忘記你,斐。你將永遠留在我心裡。」我低聲的說。

當天晚上,我一秒鐘也沒離開過斐。我一直躺在他的身邊。我一刻也沒放過他的手。我哼著最好的祈禱文給他。冰冷的夜晚見證了這一切。我卻無能為力,如果斐的命運就是如此。

***

我睜開眼睛。寒冷的空氣滲透到皮膚毛細孔裡。只見昏暗的天空,玻璃窗上的露水。我想下床但身體感到很沉重。像平時一樣聽到來來往往的車聲,偶爾還會聽到救護車、消防車和大卡車的笛聲。突然間我的嗅覺聞到烤土司和咖啡香的味道。

「斐…..!?」我從床上爬起來。我的步伐停下,斐已經站在我面前,拿著托盤,上面有兩片起司加巧克力的烤土司和兩杯黑咖啡。
「早安,親愛的朱迪。」斐溫柔的說,他吻了我的額頭。我茫然的看著今早這麼開朗的斐。「坐下來吃吧。這次你就不要抗議了,我們在房間吃早餐吧,偶爾讓螞蟻來我們房間走走吧。」他開玩笑說。
「斐……」
「你先吃完早餐,我們等一下再談。」他一邊啜飲熱咖啡一邊說。今天早上我是多麼的幸福,過了昨天的事件之後還可以再次看到斐的笑容。 「朱迪……」
「是。」我回答。
「今天早上我睜開眼睛時,我的身體感到很輕。然後我就發問,不知道向誰問,我到天堂了嗎?然後我的眼睛環繞周圍,但我的身體還不能動。我正在好奇的時候,我感覺我的右手有東西重重的壓著。」
「哎呀……」
「當我看過去,在我的右邊有一位可愛的女生正緊緊地握著我的手。她是仙女嗎?我捏了一下我的臉頰,好痛喔。原來……」
「斐…」我抱著他哭了。「感謝神,斐,今日早上我還可以跟你在一起享用早餐。」

斐簡直不敢相信的望著我。這真的是我嗎,他的朱迪? 他的微笑開到嘴唇的盡端,彷彿想將他所有的微笑獻給我。

「親愛的,我真的很愛你……」斐的聲音在我耳裡聽起來特別的甜美。
「我也很愛你,斐。」我回答。

我們開心的釋出了許許多多的愛和情感的話語。這是可以被理解的呀,經過我們昨天所發生的事件之後。斐逃過了死亡隧道。而我是如此害怕失去他。經過這一切,我們不需要害怕建立幸福生活的藍圖。斐不需要擔心醫生的判決,我也不用害怕面對明天。抱持樂觀和遠離悲觀。不用傷心,神注定好的事情一定會發生,因為筆都乾了,一張張的頁面被折疊。死亡必然會到,也不知何時會到……只有神才知道。

「斐,請保持這個樣子。對美好的事物感到樂觀,因為是神決定人的命運,而不是人。」我解釋。
「是的朱迪,我知道,神的奇蹟是存在的。感謝神……」

我們不斷的向神祈禱感恩。當我在他耳邊細細的說再過不久他要當爸爸了,斐高興地喊了一聲,直接把我抱起來旋轉。快樂的色彩全畫在臉上。

「謝謝你,朱迪……」斐用他那雙寧靜的眼神凝視我。我希望將來這個孩子可以有同樣的眼神,跟斐一樣。寧靜的眼神,總是給任何看到的人散發著寧靜和和諧的心情,特別是我。

結束


評審評論語|Jesus S. Anam

這篇短篇散文有被認真的處理。寫作的結構很不錯。故事結構有建立起來。人物擺設、背景和語氣都相當的強。故事情節安排得意。展現生理學、心理學和社會學的各各面向的很清楚。主題發展已經相當複雜。語言規則已是合格的,只有一些小錯誤但影響不大,只有小錯誤和幾個技術性的錯誤。

這篇短篇散文我從十篇裡面排在第一,累計分數為95,我給了很高分。這篇短篇散文已經可以出版成文學作品。

但是,當然,這篇作品還不完善,還有發展的空間; 作者還需要發展想像的能力,培養他的知識水平,使寫出來的短篇散文可以有更高的意境,複雜,哲學,辯證的重量,並且能夠改變讀者的想法。

發佈留言