回家的路 Jalan Pulang

 Babak penyisihan 印尼文初選  

📜 回家的路 Jalan Pulang

👤 Tsalatsa Anna

Entah sudah berapa lama Kinanti menatap pohon sakura yang mulai ditinggalkan bunga-bunganya meluruhkan diri berganti kuncup-kuncup kecil warna hijau pupus, matanya memang menatap lekat namun pikirannya sedang berkelindap kesana-kemari. Sesekali diembuskan desah napas yang berat seakan ribuan kilo beban menindih dadanya. Dibaca lagi bunyi SMS yang semalam sampai di ponselnya, SMS dari Ratna, sang adik, singkat saja isi pesan itu, bahwa ibunya sakit dan memintanya untuk pulang. Kinanti sudah terlalu lama menghindari pulang ke rumah. Ia hanya berusaha membuang satu masa paling kelam di jejak hidupnya, meski itu teramat mustahil. Kenangan serupa prasasti, akan tetap tegak berdiri meski telah dilaluinya bertahun masa berganti. Meski Kinanti sadar jika kenangan silam sudah semestinya telah terlupakan. Namun entah mengapa justeru ia membiarkannya mengeras dan berkarat dalam hati. Kinanti tidak mengerti, mengapa kisah silam itu serupa hantu yang salalu menguntit dan seolah siap menerkam. Namun, isi pesan singkat dalam ponselnya membuat ia bimbang dan berpikir ulang untuk memgambil keputusan. Mungkin juga ia merasa sudah waktunya untuk kembali mengunjungi keluarga, terutama ibunya.

“Mbak, Ibu sakit. Ibu kangen sama Mbak, Ibu ingin ketemu sama Mbak, pulanglah Mbak.”

Ia baca pelan pesan itu untuk yang kesekian kali, dieja huruf per huruf seolah sedang membisikan pada semilir angin awal musim semi yang masih terasa gigil yang membelai pipi. Ia mendesah lagi, pelan dan lemah.

Dihitungnya lagi, sudah hampir dua belas tahun lalu, dia pergi meninggalkan keluarganya tanpa pernah pulang. Selepas SMA dia nekad merantau ke Jakarta bersama teman sekelasnya. Di rimba Jakarta dia menjadi salah satu dari sekian juta orang yang setiap hari berkejaran dengan waktu demi sesuap nasi. Menjadi satu dari ribuan buruh pabrik textile ia jalani hampir tiga tahun sampai suatu waktu pabrik di mana dia menggantungkan hidup harus gulung tikar. Hanya dengan pesangon yang tak seberapa itulah ia akhirnya memberanikan diri menuju salah satu PJTKI di pinggiran Jakarta. Ia menghabiskan waktunya dengan belajar mandarin di balai latihan kerja, hingga akhirnya ia pun terbang dengan sayap mimpi ke pulau Formosa. Bekerja baginya adalah obat untuk sekedar melupakan sakit di hati. Bekerja seakan bisa menggerus lara yang mendera. Di pabrik pemintalan benang daerah pinggiran Hsinchu City ia kini tinggal, tiga tahun sekali ia pulang ke Indonesia namun ia tak pernah pulang ke rumah, ia hanya singgah di Jakarta lalu mengurus visa di TETO dan kembali lagi ke Taiwan. Bagi Kinanti pulang hanya akan membuat luka dalam hatinya terkoyak lagi. Di pabrik itulah ia berkenalan dengan Alan, atasannya yang merupan warga Taiwan namun dia ber-ibu-kan asal Indonesia. Wajah manis Kinanti dengan mata besar dan kulit cokelat sawo matang itu yang pertama kali membuat Alan jatuh cinta, namun semakin lama entah mengapa perasaannya terhadap Alan juga mulai bersemi. Kebaikan yang selalu Alan limpahkan akhirnya ia sambut baik. Tak ia ingkari pesona lelaki itu telah membiusnya. Bahkan Alan pernah mengajaknya menemui orangtuanya.

Kinanti berdiri perlahan, meninggalkan rasa hangat di bangku taman yang ia duduki sedari tadi, kopi dalam gelas kertas yang ia beli di Seven Eleven depan pintu masak taman sudah tak panas lagi namun ia tetap menuntaskannya sampai teguk terakhir, ia mungkin berharap rasa kopi itu bisa menghilangkan sedikit gundah di hati. Ia sedikit tergesa sampai ke asrama pabriknya. Sapaan Angel, salah satu temannya yang berasal dari Filipina hanya ia balas dengan anggukan kepala. Ia hanya ingin segera cepat sampai lalu mandi dan berbaring di kamar. Hari liburnya kali ini hanya dia nikmati dengan sia-sia, duduk seharian di taman dengan melamun.

“Pulanglah, Nan. Kontrak kerjamu yang sekarang kan bulan depan berakhir. Ambilah waktumu itu. Dua minggu atau sebulan, tidak terlalu pendek dan juga tidak terlalu lama, lalu kembalilah lagi jika rindu Ibumu telah terobati” Alan memberi saran, ketika mereka tengah menikmati nasi kotak jatah makan siang.

“Tidak!” Kinanti menjawab spontan. Alan menatapnya heran.

“Kau kan punya hak untuk itu, pikirkan juga Ibumu, pasti beliau teramat merinduimu” Alan melanjutkan kalimatnya sementara tangannya sibuk dengan sumpit untuk mengambil sayur kapri lalu dimasukan ke mulutnya, sayur kapri kesukaan Alan.

“Tapi Ge, sebenarnya aku ingin menambah kontrak tanpa perlu pulang, selain lebih praktis juga bisa menghemat uangku, lagi pula kau tahu sendiri akhir-akhir ini pabrik begitu banyak pekerjaan” Kinanti memanggil Alan dengan sebutan Gege, yang berarti Kakak laki-laki.

“Pekerjaan kalau dituruti tak akan pernah habis. Pabrik kita memang ramai, exportnya meningkat, semua orang tahu itu. Kita kerja, kerja dan kerja. Semua demi perusahaan dan bisa-bisa pernikahan kita juga akan tertunda karena kamu lebih mementingkan pekerjaan”

Glek! Kinanti hampir tersedak asinan lobak kering yang lumayan pedas ketika mendengar apa yang Alan bicarakan dan melihat wajah Alan, bibirnya manyun dan tersungut-sungut.

“Kok malah jadi ngomongin masalah pernikahan, sih?” Kinanti ber-hushh karena merasa pedas tanpa sengaja menggigit sepotong cabai, di raihnya botol air mineral di samping kotak nasi dan diteguk dengan tergesa untuk membasahi tenggorokannya yang sedikit terasa perih.

“Nan, aku boleh nanya gak?” Kinanti masih sibuk dengan nasi yang tersisa.

“Nan, jika kamu jadi pulang, bolehkah aku ingin ikut bersamamu ke Indonesia? Aku ingin bertemu keluargamu untuk meminta restu dan melamarmu” Kinanti terdiam, dipandanginya mata sipit Alan, bening dan tulus. Ia tersenyum.

“Tapi aku belum bisa memberimu jawaban, beri aku sedikit waktu sampai aku bisa memutuskan, aku janji, setelah semuanya selesai, aku pasti akan mengajakmu menemui Ibuku” Kinanti tahu kalimat itu adalah kalimat yang terbaik untuk Alan. Pembicaraan itu terhenti ketika bel tanda mulai bekerja telah diperdengarkan di sepanjang koridor pabrik. Alan tahu jika ada sesuatu yang sengaja disembunyikan oleh kekasihnya. Entah apa, ia tak akan memaksa Kinanti untuk mengatakan. Ia hanya ingin kelak Kinanti akan berterusterang tanpa ia paksa. Bagi Alan, Kinanti tahu bahwa ia mencintainya dan Kinanti pun membalas cintanya itu sudah merupakan anugerah. Alan hanya yakin niat tulus untuk mempersuntingnya adalah modal awal dari hubungan selanjutnya.

Atas bujukan Alan, akhirnya Kinanti memutuskan untuk mudik ke kampungnya, sebuah kampung kecil di kaki gunung Slamet. Di dalam pesawat yang membawanya kembali ke Indonesia ia gelisah, perasaannya tak karuan. Ia merasa terasing. Ia bimbang dengan keputusannya kali ini, apakah tepat ataukah salah. Siang itu China Airlines telah membawanya menginjakan kaki di Jakarta, bergegas setelah urusan imigrasi selesai ia melangkahkan kaki ke luar bandara. Jakarta masih saja sama, terasa panas dan semerawut. Ia mencegat taxi dan memberitahu supir agar membawanya ke stasiun. Dibelinya tiket jurusan Purwokerto. Hanya stasiun itu merupakan stasiun terdekat yang bisa dijangkau dari kota kecilnya di kaki gunung Slamet. Menjelang tengah malam kereta bergerak pelan meninggalkan peron. Kinanti makin gelisah, dicobanya ia memejamkan mata lalu memasang earphone di kedua telinganya untuk mendengarkan lagu dari ponsel. Sebuah lagu yang melangutkan perasaan, tanpa terasa ia menangis. Lagu kesukaannya, Titip Rindu Buat Ayah mengalun tenang, sendu dan seolah mengiris pedih hatinya.

“Ayah dalam hening sepi kurindu Untuk menuai padi milik kita Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan Anakmu sekarang banyak menanggung beban”

Sepenggal bait lagu Ebiet G. Ade masih terngiang di telinga, Kinanti menyusut air mata yang menetes di pipi dengan tisue. Betapa ia merindukan sosok Bapak, sosok yang begitu ia cintai. Cahaya fajar menyemburat dari balik kaca kereta, pagi menjelang menyapa dunia. Kinanti terbangun dari tidur yang tak nyenyak karena pikirannya yang sungguh tak bisa bersahabat. Ia duduk di salah satu bangku panjang di peron stasiun Purwokerto, pandangannya berkeliling, didapatinya suasana begitu berbeda setelah lebih dari sepuluh tahun ia tinggalkan. Dengan sedikit sisa tenaga ia menyeret koper, ransel biru ia kenakan di belakang punggung. Ia celingukan di pintu keluar, sapaan bapak-bapak menawarkan jasa tumpangan, ia hanya membalasnya dengan senyuman. Di dekatinya sebuah taxi berwarna abu-abu. Ia mengatakan suatu tempat, bapak supir taxi yang mungkin sekitar seumuran bapaknya jika beliau masih hidup, membantunya menaikan koper ke bagasi. Kinanti lantas naik di jok belakang. Ia sengaja memejamkan mata meski tidak tidur.

Purwokerto telah banyak berubah, kota itu semakin maju, sebenarnya ia jarang ke Purwokerto, selain karena jauh, keluarganya dulu tak punya cukup uang untuk sekedar pergi jalan-jalan. Bagi keluarganya, jalan-jalan ke Purwokerto adalah sebuah kemewahan. Bahkan ketika Paman Hari, adik sepupu jauh ibu yang membiayai sekolahnya di Semarang pun ia tak pernah berhura-hura. Keinginannya dulu hanya sesegera mungkin lulus sekolah lalu merantau dan bekerja di Jakarta.

Perjalanan dari stasiun Purwokerto ke kampungnya bisa ditempuh sekitar tiga jam lebih. Meski masih pagi suasana kota sudah lumayan ramai. Alun-alun semakin cantik, sebuah mall baru tampak berdiri megah di salah satu sisinya, betapa sudah banyak berubah kota itu. Kinanti terdiam mengamati semua dari balik kaca jendela mobil. Ia ingat kembali pada Bapaknya. Samar-samar ia seperti melihat Bapaknya sedang tersenyum memandang dirinya, tatapan yang teduh dan damai. Tatapan yang membawanya ke masa lalu.

“Kinanti dengar Ibu bicara dulu. Jadi anak jangan suka melawan. Kau tahu sendiri kan kalau Pak Junaidi sudah menanyakanmu terus, Ibu bingung harus jawab apa?” Suara Ibu terdengar samar namun jelas dalam lamunannya.

“Aku ga mau kawin, apalagi sama orang tua itu, Bu. Pak Junaidi sudah tua, usianya saja lebih tua daripada Bapak”

“Hush! Pamali kamu bilang begitu! Kamu harusnya beruntung sudah ada yang melamar kamu. Tak baik menolak hal baik.”

“Kinan mau sekolah, Bu! Biar jadi orang pinter lalu kerja di kota!”

“Perempuan itu tak perlu sekolah tinggi-tinggi. Perempuan itu cukup nurut sama suami, tak perlu kebanyakan tuntutan. Kamu mau jadi perawan tua? Umurmu sudah cukup untuk berumah tangga. Kawin dengan Pak Junaidi akan membuatmu kaya, Dia juragan, tanahnya luas, rumahnya besar, tak perlu susah payah cari kerja, toh nyari kerja jaman sekarang paling mentok jadi buruh atau pembantu. Jadi istrinya Pak Junaidi akan membuat keluarga kita terangkat derajat dan terpandang!”

“Aku tak mau kawin sama Pak Junaidi, si bandot tua itu, Bu! Tidak akan! Apalagi cuma jadi istri ke empatnya”

“Diam kamu Kinan! Tak sopan kamu bilang seperti itu. Kamu pikir selama ini siapa yang memberi keluarga kita pinjaman? Siapa yang membantu keluarga kita kalau bukan Pak Junaidi.” Ibu muntab. Tangan Ibu hampir menamparnya ketika Bapak datang.

“Sudah, Bu! Jangan terbawa emosi.” tegur Bapak, Ibu menurunkan tangannya, lalu bergegas menyingkir ke dapur. Kinanti terdiam lalu masuk ke kamarnya, di atas ranjang reyot ia menangis dengan air mata berlinang. Bapak lalu masuk ke kamar Kinanti, sebenarnya bukan kamar, hanya sepetak sekat kecil di antara dapur dan gudang. Bapak hanya bilang jika ingin sekolah maka Bapak akan menitipkanya pada Paman Hari, adik sepupu jauh Ibu yang bertugas di Semarang. Setelah lulus, ia harus tetap menikah dengan Pak Junaidi. Kinanti sebenarnya tak mengharapkan itu namun setidaknya ia bisa mengulur waktu.

Dua tahun berlalu ia pulang ke rumah. Kinanti mengatakan hendak berhenti sekolah. Jelas Ibu marah besar, dibilangnya Kinanti tak tahu diri. “Pikirkan dulu masak-masak. Kamu sendiri yang ngotot mau sekolah. Jangan jadi orang yang tidak tahu balas budi seperti itu. Selesaikan sekolahmu. Kalau sudah lulus baru boleh pulang kemari. Dasar anak tidak tahu diri. Malu ibu punya anak sepertimu”

“Tapi, Bu…” Suara Kinanti sendu menggantung.

“Paman Hari itu orang baik, terpandang di daerahnya, pangkatnya tinggi. Dia berbaik hati menyekolahkanmu, karena bapakmu tak ada cukup uang walau hanya sekedar untuk biaya makan sehari-hari” Kinanti terdiam, ia hanya menekuri lantai tanah dengan ujung sandal jepitnya.

“Sudah tak usah lagi dibahas. Pokoknya kamu baru boleh pulang setelah lulus. Jangan bikin malu orang tua. Jangan sia-siakan kesempatan.” Kinanti hanya bisa terisak, menangis di pangkuan Bapak tanpa bisa berkata banyak. Bapak mengelus rambutnya dengan tangannya yang kasar.

“Mengapa kamu berubah pikiran untuk berhenti sekolah? Apa ada masalah di sekolahmu? Biar nanti Bapak yang akan bicara sama Paman Hari, apa kamu tak menyesal dikemudian hari. Pikirkan dulu masak-masak.” Kinanti terdiam, bibirnya seolah terkunci rapat. Bapak melanjutkan perkataannya,

“Apa kamu memikirkan masalah Pak Junaidi? Nanti Bapak yang akan mengurusnya. Maafkan Bapakmu ini, Nak. Bapak gagal menjadi orangtua yang baik untuk anak-anaknya. Sungguh Bapak sangat menyesal, maukah kau memafkan Bapak, Nak”

“Bukan masalah itu, Pak …,” bisik Kinanti di antara tangisnya. Ia menatap wajah tua Bapak. Kulitnya legam, tangannya kaku dan kasar membuatnya nampak lebih tua. Namun mata Bapak begitu teduh, serupa bintang yang memancarkan kedamaian. Kinanti hanya mampu terdiam. Ia menunduk, lalu kembali merebahkan kepalanya di pangkuan Bapak, lelaki yang sangat dikasihinya. Sebelum fajar menyingsing dilihatnya Bapak sudah bersiap menuju pasar sayur untuk bekerja sebagai kuli angkut, mengangkut sayur berkarung-karung dari ladang para juragan ke truk-truk besar yang nantinya akan dikirim ke kota dan luar kota. Salah satu juragan adalah Pak Junaidi, pemilik berhektar-hektar tanah di lereng gunung Slamet, gunung tertinggi kedua di pulau Jawa.

Subuh itu Ibu sudah menyiapkan air wedang jahe panas untuk bekal Bapak bekerja, beberapa potong pisang rebus dibungkus dengan plastik dan diikat dengan karet gelang. Bapak kemudian berpamitan, Kinanti mencium tangan kasar Bapak, Bapak mengelus ubun-ubunnya serupa sedang memberinya pemberkatan doa, Kinanti bisa merasakan elusan tangan Bapak yang kasar pada kepala dan dahinya. Dan siapa sangka jika subuh yang sendu itu menjadi subuh terakhir kali ia merasakannya tangan kasar itu. Bapak tidak pernah pulang ke rumah lagi, Truk pengangkut sayur itu masuk ke jurang dan semua penumpangnya tewas. Jurang yang menganga menyambutnya, dan bapak kembali hanya dengan raga tanpa jiwa.

Pada kepulangannya setelah dia lulus sekolah, Kinanti hampir tak percaya ketika mendapati Ratna, adik tertuanya, telah menikah dengan Pak Junaidi. Pak Junaidi meminta Ratna menjadi istrinya dengan imbalan dia akan memenuhi semua kebutuhan keluarganya juga biaya rumah sakit ketika Ibu berkali-kali masuk rumah sakit semenjak Bapak pergi. Pak Junaidi sudah tak sabar harus menunggu Kinanti, karenanya ia meminta Ratna yang kala itu baru lulus SMP. “Jika diberinya aku pilihan antara menikah dengan Pak Junaidi atau dengan Mas Untung tentulah aku memilih pilihan yang kedua, namun mereka terus memaksaku, aku bingung sekali saat itu. Ini semua bukan kehendakku” Ratna terisak dalam pelukan Kinanti.

“ Mbak minta maaf, sungguh ini semua salahku, kamu jadi berkorban dan menjadi tumbal untuk Mbak.” Kedua kakak beradik itu berpelukan dalam isak, saling menguatkan satu sama lain. Retna memang type gadis penurut, sederhana dan tak pernah menjadi pemberontak seperti dirinya, seperti gadis-gadis desa kebanyakan. Ratna tidak ingin sekolah tinggi. Ia memahami betul kondisi ekonomi keluarganya. Impiannya juga sederhana, hanya ingin membina rumah tangga dengan Untung, sang kekasih di desa tetangga. Tetapi, keinginan Ibu tak ada yang bisa mengalahkan, Ibu ingin sekali lepas dari kemiskinan yang bertahun-tahun membelenggu kehidupan keluarda. Ibu muak dengan kemiskinan.

“Pak Junaidi marah pada Ibu, Marah karena terlalu lama menunggu kamu, dasar anak keras kepala. Ini sudah menjadi garis takdir Ratna, adikmu. Ia anak yang tahu balas budi, sederhana dan nerimo, dialah yang akhirnya mengangkat derajat dan keluarga kita dari jerat kemiskinan.” ujar Ibu dingin dan kaku. Selepas kejadian itu, Kinanti tak pernah pulang, ia memutuskan merantau ke Jakarta dengan Ayu, teman sekelasnya dulu tanpa pernah berniat kembali. Ratna sudah mempunyai tiga orang anak dalam waktu duabelas tahun. Satu anak dari pernikahannya dengan Pak Junaidi, namun ketika anak pertama Ratna baru dua tahun, Pak Junaidi meninggal karena serangan jantung. Dan dua tahun kemudian Ratna akhirnya menikah dengan Untung. Ibu menyetujui pernikahan mereka karena Untung sudah diterima menjadi PNS. Ratna mempunyai dua orang anak lagi dari pernikahannya yang kedua. Ibu sudah tidak lagi menjadi buruh di ladang sayurnya para juragan, melainkan tinggal di rumah Ratna dan mengasuh cucu-cucunya. Sedang Kinanti kini masih melajang di usia di awal tiga puluhan, sudah menjadi perawan tua seperti gunjingan orang. Dan tinggal jauh di negeri yang terpisah lautan, Alan hanya bisa mengisi separuh hatinya. Kebahagiaan pernikahan, bayangan berumah tangga dan cinta suci sama sekali tidak ada dalam pikirannya. Kinanti mendesah pelan, remuk redam hatinya mengingat kenangan lalu. Ah, Ibu. Seterjal inikah jalan hidup yang harus dia tempuh., bisiknya dalam hati. Jalanan semakin ke utara semakin menanjak dan berliku.Hamparan hutan pinus di kanan kiri jalan menunjukkan makin dekat ia pada rumah yang hendak ia tuju, setiap melewati hutan pinus itu hatinya menangis, membayangkan tubuh tua Bapak yang jatuh ke dalam jurangnya. Betapa perih kerinduan pada Bapak, pada mata teduh yang menentramkan. Rindu yang berkarat hingga menyisakan ngilu dalam dada. Kemarahannya pada Ibu yang egois demi kekayaan yang telah mengorbankan dirinya dan adiknya telah ia kikis, ia bertahun telah belajar melupakan, belajar memaafkan, belajar nerimo, legowo dan ikhlas. Bagaimanapun juga beliau adalah Ibu yang telah melahirkannya ke dunia, kebenciannya pada Ibu telah menguap, seperti embun yang tersapu mentari pagi. Hanya rasa rindu dan kasih yang membuat matanya tiba-tiba hangat dan basah. Kinanti membayangkan Ratna yang telah hidup bahagia bersama Untung dan ketiga buah hatinya, ia iri dan itu membuat hatinya perih. Lalu, selintas terbayang wajah Paman Hari yang membiayai sekolahnya dulu.

Lalu sampailah ia pada suatu halaman rumah yang penuh dengan kenangan, rumah yang belasan tahun telah ia tinggalkan. Rumah yang di langit-langitnya begitu banyak terdapat sisa kasih sayang dari Bapak. Rumah itu kini terpampang di hadapan. Kinanti nyaris tak mengenalinya. Dulu, rumah itu hampir roboh, berdinding kayu yang telah lapuk di bagian bawah dan anyaman bambu di bagian atas. Rumah yang tak mampu menghalau dingin jika malam dan hujan tiba. Rumah itu telah berubah, rumah itu kini berdiri dengan tembok yang kokoh, teras yang asri dengan dua buah bangku kayu jati. Tapi pohon kelengkeng besar di bagian kanan halaman depan rumah yang membuat Kinanti yakin itulah rumahnya, Pohon kelengkeng yang ditanam bapak dua puluhan tahun lalu. Kinanti turun dari taxi, dilihatnya seorang gadis kecil yang sedang bermain boneka di teras, ia menyapa gadis kecil ity, hangat senyumnya. Ia yakin bocah itu pastilah anaknya Ratna. Gadis kecil itu memandanginya heran, kemudian ia berlari menuju ke dalam rumah dan memanggil ibunya. Mata Kinanti berembun, jadi benarlah ia keponakanku? Bisiknya lirih. Seorang perempuan menghambur dari pintu. Jilbabnya yang lebar melambai, ia menyongsong Kakak yang begitu lama telah dirindukan, ia hampir menjerit lalu menutup mulutnya, disekanya air mata yang menganak sungai di kedua pipinya.

“Mbak Kinan!”

“Ratna!” Diam, sunyi, tidak ada tanya, tak ada suara hanya bahasa air mata yang bicara. Isak tangis yang lama tertahan, tumpah ruah di pagi yang masih dingin, di arah barat, gunung Slamet terlihat biru, gagah. “Bagaimana keadaan Ibu, Rat?” Kinanti membantu Ratna menghapus air mata yang belum berhenti mengalir. Kemudian Ratna tersenyum lalu beriringan dua kakak beradik itu masuk ke rumah. Ratna menuntun tangan Kinanti membawanya pada sebuah kamar yang pada sisi ranjangnya, di atas meja kecil terbingkai gambar dirinya sedang tersenyum. Ibu terbaring lemah, pandangannya kosong memandang entah. Kinanti terdiam dan tergugu di tempatnya berdiri, lalu sejurus kemudian ia menghambur ke dada perempuan itu, ia ciumi tangannya berkali-kali. Ia menangis dan meminta maaf, ia rasakan betapa Ibunya hanya tinggal tulang terbungkus kulit.

“Ibu, Kinan pulang, Kinan sudah datang seperti mau Ibu, maaf jika Ibu telah lama menungguku. Maafkan Kinan, Bu.” Ratna kembali menyeka air mata dengan ujung jilbab kaosnya, ia pun merasakan pedih di hati. Perasaan Kinanti kosong dan hampa. Entah keajaiban dari mana tiba-tiba saja ia merasakan ketika tangan Ibu mengusap kepalanya. Setengah mati ia terlalu angkuh untuk mengakui rasa rindu pada Ibu selama bertahun-tahun. Selama itu ia menyembunyikan letupan kangen di dasar jiwa, memenggal setiap rasa rindu muncul, menyebabkan jiwanya mati, lalu gersang. Kinanti lalu paham sekarang, memelihara kemarahan, menyimpan dendam hanya akan membuat jiwanya kering kerontang, dan itu menyakitkan. Telah dua minggu Kinanti kembali ke rumah, ia gunakan waktu untuk merawat Ibu, untuk membayar tunai hutang waktu yang telah hilang dulu, Ibu kini sudah mulai tersenyum, dunia yang dulu sempat hilang kini ia temui lagi, kebahagiaan itu akan Kinanti bayar lunas demi Ibu. Sebagai tanda maaf dan rasa bersalah. Sore itu Kinanti memasak bubur ayam khusus buat Ibu, lalu disuapinya Ibu sesendok demi sesendok. Sesekali Ibu mengelus rambut panjang Kinanti, dipandanginya Kinanti seolah tiada pernah puas

. “Kamu tambah cantik, Kamu bertambah dewasa dan pintar. Kalau boleh Ibu tahu, siapa laki-laki yang beruntung bisa mendapatkanmu, Nak?” Kinanti hanya tersenyum, bayangan wajah Alan berkelindap di ujung mata.

“Ah Ibu bicara apa si?” Kinan mengambil tisue dan mengelap bibir Ibu yang terkena ujung sendok sehingga meninggalkan sedikit noda putih.

“Ibu hanya khawatir jika Ibu tak ada waktu lagi untuk melihat pernikahanmu, Nak.” Suara Ibu parau

” Ibu minta maaf atas kejadian dulu, jika waktu bisa diulang…”Ibu tersedu.

“Sudahlah, Bu. Yang lalu biarkan saja. Insyaallah Ibu akan kembali sehat sehingga bisa melihatku duduk di pelaminan” Kinanti berusaha tersenyum. Digenggamnya tangan Ibu yang mulai keriput. Tiba-tiba Ratna masuk ke kamar, Ibu dan Kinanti menengok bebarengan.

“Mbak Kinan, ada tamu. Katanya teman Mbak Kinan” Kinan mengernyitkan dahi, Ia penasaran. Dilungsurkannya mangkok yang masih berisi setengah bubur ayam ke tangan Ratna. Kinanti beranjak ke ruang tamu, matanya tak percaya ketika melihat sesosok manusia yang begitu ia kenal telah berdiri di hadapannya. Manusia bermata sipit yang teduh, Alan! Alan Zhao.

“Itu hanya sepenggal masa lalu Nan, masa yang seharusnya menjadi bagian yang harus kamu lupakan. Aku paham keadaanmu pada saat itu, kamu masih terlalu kecil, kamu tidak berdaya menghadapinya. Aku memakluminya, justeru aku bangga padamu, aku bahkan salut padamu. Kamu perempuan hebat, luar biasa. Kamu bisa melangkah sampai sejauh ini, menjadi perempuan mandiri dan pintar. Aku mencintaimu, Nan. Wo ai ni. Kamu tahu kan arti kalimat itu?” Alan menggenggam tangannya erat mengalirkan rasa nyaman dan hangat hingga ke sekat paling dalam di jantungnya. Kinanti tidak berani memandang wajahnya, tapi ia tahu, mata Alan seteduh mata lelaki yang sangat dia cintai, mata Bapaknya. Akhirnya Kinanti jujur pada Alan, tentang ketakutannya selama ini, tentang masa lalunya yang kelam dan membuatnya terpuruk.

“Ge, aku telah jujur padamu dan sekarang kau pun telah tahu semuanya, aku tidak terlalu berharap kau menerimaku. Tidak menjanjikan kita akan hidup bersama. Aku akan menghormati keputusanmu atas aku. Aku akan tetap dengan kehidupanku, mungkin aku tidak akan kembali ke Taiwan” bisiknya perih.

“Apa? Bagaimana kamu bisa hidup tanpa aku jika aku teramat tahu bahwa kamu mencintaiku. Jujurlah pada hatimu Nan, aku ada untukmu, akulah selama ini orang yang selalu kamu cari dan kamu butuhkan.” Alan sengaja menggoda Kinanti. Kinanti tertawa namun juga menangis, betapa bahagia telah melingkupi seluruh penjuru semestanya.

“Lamar aku, Ge….” “Kinanti, maukah kau menikah denganku?” Ni jia gei wo ma? Will you merry me?” Alan berlutut di hadapannya, mencium lembut jemarinya , Kinanti tergugu bahagia. Karat-karat dalam hati dan kenangannya mengikis, larut digerus air mata. Air mata bahagia. Lalu hatinya berbisik, untuk memaafkan Paman Hari yang telah membiayai sekolahnya namun juga sekaligus orang yang telah merampas kegadisannya.

Hsinchu, 7 Mei 2017


📜 回家的路 Jalan Pulang

👤 Tsalatsa Anna

Kinanti望著櫻花樹掉落的花朵,換了青澀的新芽,她的眼神似乎黏住了,但腦海卻游來游去。有時嘆一口氣,彷彿胸口被數千公斤的重量給壓住。又讀了一次昨晚手機收到的簡訊,妹妹Ratna寄來的簡訊,訊息內容很簡短,媽媽生病並且要求她回家。Kinanti很久沒回家了。她試著要扔掉生平最黑暗的一段人生。儘管歲月以輪換,如同石頭題字的回憶仍然深深烙印。她知道過去的回憶應該被遺忘,她不懂,為什麼那舊故事如鬼魂般跟隨著並準備撲倒她。但是,她手機裡的簡訊讓她疑惑。或許是該回去、看母親的時候了。

「Kinan姐,媽媽生病。媽媽想見面。」

她緩慢地讀著那篇訊息,一個字一個字拼,好像在向春天初期吹來的微風、令臉頰顫抖的風,說悄悄話。她又嘆了口氣,慢、弱。

離開家裡超過十年前了。高中畢業後,她和同班同學去雅加達打拼。在雅加達的她成為百萬人中之一、活在每天與時間賽跑的生活,她成為一家紡織工廠的員工,做了三年,直到有一天她工作的工廠必須關閉。收到微薄的遣散理賠後,她鼓起勇氣去一家西雅加達的移工訓練中心,在技術訓練中心認真學習中文,最後她展開夢想的翅膀,飛向寶島。

對她而言,工作是忘記心中傷口的逃離,刮掉重打著心靈的悲傷。現在她居住在一家新竹市的零食工廠,三年一次要回印尼,但她從未回家,她只停在雅加達,去駐印尼台北經濟與貿易代表處處理完簽證就接著回台灣。對Kinanti來說,回家會撕開她心裡的傷。在那間工廠她認識了阿藍,她台灣籍的上司,但有著來自印尼的母親。Kinanti甜美的臉孔與大大的眼睛還有棕色的皮膚,是第一件讓阿藍愛上的原因。阿藍對她溢出的好意她接受,無可否認那男人的魅力麻醉了她,阿藍甚至還邀請過她與他的家人見面。

Kinanti起身留下溫度,留在她從剛才一直坐的公園椅子上,她在7-11買的紙杯裝熱可可已經不熱了,但她還是把她喝到最後一滴,希望甜甜的滋味可以消除一點在她心裡的擔心。她的假日被浪費地享受掉了,整天坐在公園發呆。

***

「回家吧,Nan。妳的合約下個月結束。回去兩個月或一個月,不會太短也不會太長,若妳媽媽的想念已經療癒了就再回來吧。」享用午餐便當時,阿藍這麼說。
「妳有那個權力,想想妳媽,她一定非常想念妳。」阿藍繼續他的句子,而他的手急忙夾住豌豆並放入自己的口裡,阿藍最喜歡的豌豆。
「但是哥,我想在不需要回去的情況下將合約延期,除了方便也可以省錢,而且最近工廠又很多工作。」Kinanti稱呼阿藍哥哥。
「我們工廠的確很多工作,出口量增加。我們工作、工作、又工作。或許我們會忙著工作而沒有空結婚。」

咳!Kinanti聽到阿藍講的事情被辣醃蘿蔔嗆到,看著阿藍的臉,嘴巴嘟著。

「誰要結婚啊?」Kinanti噓著,被不小心咬到的辣椒辣到,伸手拿了飯盒旁邊的礦泉水潤濕疼痛的喉嚨。
「如果妳回家,我可不可以跟妳一起回印尼?我想跟妳的家人見面,請求他們的祝福並娶妳。」Kinanti沉默,她看著阿藍的小眼睛,明朗又真誠。
「我還沒辦法給你答案,給我一些時間讓我決定,若一切結束了,我一定帶你去見我母親。」那句話是給阿藍最好的回答。貫穿走廊的工作鈴聲打斷了這段對話,阿藍知道Kinanti故意隱藏某件事情。不知是什麼,他不會強迫Kinanti說出來。

在阿藍的說服下,Kinanti最後決定回家鄉,一個在士拉末(Slamet)山腳下的鄉村。回印尼的飛機上她感到著急,心情混亂,對於這次的決定感到焦慮。那天中午中華航空帶著她踏上雅加達,移民署的事宜處理完畢後她踏出機場。雅加達還是一樣,覺得熱。她坐上載她去車站的計程車。買了往普禾加多(Purwokerto)的車票。那是唯一離她家鄉那座小城市最近的車站,臨近半夜,火車漸漸離開月台。Kinanti越來越著急,她閉上眼睛將耳機戴上。一首唱著她心聲的歌,她最喜歡的歌——「告訴爸爸我的思念」安穩地播放著,傷心,像在割著她的心。

爸爸
在安靜中我思念
豐收我們的稻米
但思念只剩下思念
你的孩子現在背負著許多債務…..

Ebiet G. Ade的歌還在耳中響著,Kinanti擦掉留下臉頰的眼淚。她多麼想念父親,她多麼愛的一個人。早晨的光芒射穿火車的窗戶,早晨向全世界打招呼,Kinanti從她不安的睡眠中清醒,她的腦袋亂成一團。到了普禾加多,放眼望去,與十年前離開時完全不一樣的景色,用盡剩下的力氣拖著行李箱,藍色背包掛在背上。她靠近一台灰色的計程車,說了目的地,司機先生幫她把行李箱放在後車廂,Kinanti在後座等待。

普禾加多已經變了許多,這座城市變得更先進。從車站到她家鄉的路程花了兩個多小時。雖然還很早,但城市已經很熱鬧了,廣場變得更美,一家新的百貨公司在一旁站立著。Kinanti安靜地透過車窗關注所有事情,又想起爸爸,模糊中好像看到他父親望著她笑著,陰涼又平靜的眼神。帶她回到過往的眼神。

「Kinanti聽媽媽說話。當孩子不要老是反抗。妳自己也知道Junaidi先生一直在問妳的事情。」母親的聲音聽起來遙遠,但在發呆中顯得清楚。
「我不要結婚,尤其是跟那個老頭子,媽。Junaidi先生已經老了,他的年紀都已經比爸爸還要大了。」
「呸!妳應該要覺得幸運,有人要娶妳。拒絕好事真的不應該。」「Kinan要上學,媽!我要變成聰明的人然後去城市工作!」
「女人不用有高學歷。女人只要聽從丈夫,不用有太多要求。妳想當老處女嗎?Junaidi先生是有錢人,他是老闆,他的土地寬、房子大,不用辛苦找工作,現在這個時代找工作頂多當勞工或幫傭。」
「我不要跟Junaidi先生結婚,那個老頭子!尤其還是要做他第四個老婆!」
「妳安靜Kinan!妳這麼說太不尊敬了。妳以為這段日子是誰借我們錢的?如果不是Junaidi先生,誰會幫我們家人?」母親說到。
「好了,媽媽!不要被情緒帶動。」父親提醒,母親避到廚房去。Kinanti進去她的房間,在舊老的床上哭泣。父親走進Kinanti的房間,其實不是房間,只是一片廚房與倉庫之間的隔間。父親告訴她如果要念書的話,父親將會把她託給Hari叔叔、母親在三寶瓏工作的的遠房親戚。三個月後她回家了,Kinanti說要暫停上學。母親當然非常氣。

「妳瘋了嗎?妳自己堅持要去念書的。不要成為不懂感恩的人。妳這不知足的孩子,我有妳這個孩子真是失望。」
「Hari叔叔是個好人,被別人尊敬、高階級。他好心要出錢讓妳上學,妳爸爸就算只是支付日常飯菜的錢都不夠。」Kinanti沉默,母親接著說。
「妳畢業後才能回來。不要讓父母親丟臉。」Kinanti在父親的懷抱中大哭,父親用他粗造的手摸著她的頭。
「為什麼妳改變主意要退學呢?學校有什麼問題嗎?爸爸再跟Hari叔叔談。」爸爸接著說。「妳是不是想著Junaidi先生的事?爸爸會處理。原諒妳的父親,孩子。爸爸失敗了,無法成為這個家庭的好家長,爸爸非常慚愧,妳能不能原諒爸爸?」他望著爸爸的臉龐。他的皮膚烏黑,他僵硬又粗造的手讓他看起來更加的老,但父親的眼神卻陰涼,像是最閃亮的星光。Kinanti低著頭,把頭躺在父親的懷裡,她深愛的男人。

在早晨來臨前,她看到爸爸已經開始準備去菜市場工作,當搬運工,從老闆的田搬運許多袋青菜到將被寄去大城市的卡車上。其中一位老闆就是Junaidi先生,士拉末山腰數公頃大的地主,爪哇島的第二高山。

母親把黃薑水、包著香蕉葉的水煮香蕉交給父親當工作的便當。父親告辭,Kinanti親吻他粗造的手,父親摸著她的前額,如同為她祈禱,Kinanti感受到他粗造的手在她頭上。誰知道那淒涼的早晨是她最後感受到那粗造的觸感,當天清晨,父親乘坐的載菜卡車掉入懸崖,所有的乘客都死去,父親只有身子歸來,沒有命。

畢業後的歸來,Kinanti驚嚇的發現Ratna,她最大的妹妹,已經嫁給Junaidi先生。Junaidi先生要求Ratna成為她妻子,回饋就是他會支付所有的家庭開銷,以及母親自從父親過世後經常去醫院的醫療費用。Junaidi先生等不到Kinanti,所以要了當時才剛國中畢業的Ratna。

「如果我可以選擇要跟Junaidi先生或Faiz哥哥結婚,我當然選擇第二個,但他們一直逼我。」Ratna在Kinanti的懷裡哭泣。
「姊姊向妳道歉,這都是我的錯,害妳扛下這些。」Ratna本來就是聽話的女孩,從未像她這麼反骨。

Ratna不想要高學歷。她非常了解她的家庭經濟狀況。她的夢想很簡單,就是和隔壁村的愛人Faiz成家。但是母親的願望沒人可以打敗,母親非常想要逃離一直以來囚禁她生活的貧困。

「Junaidi先生對媽媽生氣,因為等妳等太久而生氣,妳是個固執的孩子。這已經是Ratna的命運,她是個簡單又認命的女孩,是她讓我們從貧困中解脫。」母親冰冷的說道。

事後,她決定去雅加達打拼,不打算回來了。現在Ratna有三個小孩。第一個小孩是與Junaidi先生結婚留下的孩子,但在她孩子兩歲大時,Junaidi先生就因為心臟病而去世。兩年後Ratna與Faiz結婚,母親同意他們的婚姻是因為Faiz已升為公務人員。Ratna的第二個婚姻有了兩個小孩,母親也已不是老闆田裡的勞工了。

Kinanti超過三十歲,尚未成家,已是別人口中的老處女。住在被海洋隔離的遙遠國家,阿藍只能滿足她心靈的一半。婚姻、共組家庭、還有純白愛情的想像,在她的腦海出現過。Kinanti嘆氣,想起過去的回憶就心碎。啊,母親。我要過的人生是如此坎坷嗎,她自言自語。舖在馬路左右邊的松林暗示著離家的距離越來越近,每次經過松林她的心就會哭泣,想像父親的老身子掉入這裡的懸崖。對父親的思念多麼的疼痛,思念他那讓人安心的眼神。生鏽又疼痛的想念。

她已慢慢磨平對自私母親的憤怒,多年來她學著原諒,學著接受並祝福。再怎麼說,她是把自己生下來的母親,她對母親的怨恨已消失。只有思念讓她的眼睛突然變得溫熱濕潤。Kinanti想像Ratna已經與她的小家庭快樂地生活在一起,接著突然腦中突然閃過支付她學費的Hari叔叔的臉孔。

接著她到達了一個充滿回憶的庭院,她離開了十多年的家。昔日這裡的牆壁和腳下有許多快要爛掉的木頭支撐,天花板鋪竹織,儘管無法擋住夜晚的冷鋒還有下雨時流下的雨水。那間房子現在有著強固的牆壁,美麗的花園以及兩張柚木椅。是房子右手邊的庭園裡的大龍眼樹讓Kinanti確定那是她家,那是二十年前父親種下的龍眼樹。

Kinanti從計程車下車,看到有一個小女孩在陽台看書,Kinanti向她微笑。她確定那是Ratna的孩子。那女孩看見她,接著跑進屋子裡。Kinanti的眼睛起霧,所以那是她的姪女?她自問自答。一位女人撲上前,寬寬的頭巾揮舞著,迎接許久想念的姐姐,緊緊地擁抱著。

「Kinan姐!」
「Ratna!」

無聲,安靜,沒有問候,沒有聲音,只有眼淚在發聲。壓抑的的眼淚,在微冷的早晨溢出。兩姊妹走在對方身旁走進屋裡。Ratna拉著Kinanti的手,帶她走進房間,床邊有一張Kinanti微笑照片。母親在床上躺著,閉著眼睛。Kinanti如被釘在原地,撲向那位老女人的胸口,大聲哭泣,感受她母親只剩下骨包皮的身子。

「媽,Kinan回來了,如母親所願回來,對不起,讓母親等很久。原諒Kinan,媽。」Ratna用她頭巾的角落擦掉眼淚。Kinanti太驕傲地否認數年來對母親的想念,Kinanti現在明白,養著憤怒,留存仇恨,只會讓心靈乾燥。

Kinanti已經回家兩個禮拜,她利用時間照顧母親,償還失去的時間負債。母親現在開始微笑,曾經消失的世界現在又重現,Kinanti會為了母親的快樂而努力,彌補她的歉意以及虧欠。某天下午Kinanti為母親煮雞粥,一口又一口的餵她。母親摸著Kinanti的長髮,看著Kinanti,好像永不滿足似的。

「妳變漂亮了,成熟又聰明。哪個幸運的男人可以獲得妳呢,孩子?」Kinanti微笑,阿藍的臉龐在腦海浮現。
「哎呀,媽媽說什麼啦!」Kinan拿衛生紙擦了母親的嘴角,因為被湯匙的邊邊沾到而黏著白污。
「媽媽擔心沒有時間看妳的婚禮。」母親沙啞地說。
「媽媽為以前的事道歉,如果時間能倒轉…」母親開始哭泣。
「好了吧,媽。過去的就讓它過去吧。媽媽會康復的,一定可以來看我出嫁。」她握著母親已開始長皺紋的手。突然間,Ratna走進房間,母親與Kinanti同時轉頭。
「Kinan姐,有客人。她說是Kinan姐的朋友。」

她把剩一半的雞粥碗放在桌上,起身去客廳,眼睛沒辦法相信一位認識的男人在她面前站著。有著小眼睛卻令人安心的眼神,阿藍。趙阿藍。

***

「那只是一段過去,妳該遺忘的過去。我可以理解妳當時的狀況,妳太小也對生命無奈,我以妳為榮,也真心佩服妳。妳是勇敢的女人,可以走這麼遠,成為獨立的女人。我愛妳。」阿藍握著她的手,把舒服與溫暖傳遞到她最內側的心房。

Kinanti不敢看他的臉,但她知道,阿藍的眼睛就像她深愛的男人一樣令人安心,像她爸爸的眼睛。後來Kinanti向阿藍坦白她以往的害怕,關於讓她破碎的黑暗過去。

「哥,我已經對你坦白了,你現在也都知道一切了,我對於你接受我沒有抱太大的希望。我尊重你的決定,或許我不會再回台灣。」她小聲地說。
「沒有我你怎麼活?我非常了解妳愛我,我是妳一直以來在找的人,需要的人。」Kinanti笑著但也哭著,快樂充滿她整個宇宙。
「向我求婚,哥…」 「Kinanti,妳要嫁給我嗎?」

阿藍在她面前跪著,輕柔的吻她的手指,

Kinanti在口吃中充滿著快樂。

她內心的生鏽漸漸被磨去,被快樂的眼淚洗去。她在心裡小聲地說著,要原諒支付她學費卻奪走了她的童貞的Hari叔叔。

新竹,2017年5月7日