紅色 MERAH

🏅青少年評審獎 Teen Choice Award

📜 MERAH

👤 ETIK NURHALIMAH

Merah. Di mana-mana merah. Lantai kamar mandi berisi ceceran darah merah, pandangan mataku sendiri penuh dengan warna merah. Kepalaku berkunang-kunang sebelum aku jatuh.
***
Namaku Arini. Usiaku 27 tahun saat aku akhirnya memutuskan bekerja di Taiwan. Meninggalkan seorang putri yang berusia empat tahun dan juga suami yang baik. Suami yang soleh, rajin mengaji serta berkepribadian sangat baik. Satu kurangnya, kedua kakinya cacat semenjak kecelakaan beruntun di simpang Semarang, Waktu itu ia sedang berdiri di pinggir jalan menunggu tukang jual bensin mengisikan bahan bakar itu ke motornya dan siap pergi mengajar di sebuah SMA Swasta. Sebuah bus mendadak berdecit-decit dari kejauhan, berjalan oleng dengan kecepatan tinggi dan menyisir trotoar dengan badannya sebelum ambruk terguling. Pedagang kaki lima, motor yang sedang parkir, becak, serta pengguna jalan yang ada di trotoar tunggang-langgang tersapu badan bus. Termasuk suamiku. Ia bersama tiga orang lain tergencet di bawah bus dan kaki suamiku remuk.

Kedua kakinya harus diamputasi hingga lutut, dan tulang punggungnya mengalami cedera. Harta benda kami habis terjual untuk pengobatan. Sawah bapak dan mamak satu-satunya ikut terjual. Sementara dari pihak keluarganya tak ada bantuan mengingat tinggal ibu dan adiknya saja yang ia punya, yang bahkan selama ini hidup mereka bergantung pada kami. Keadaan berubah. Kami yang semula hidup terbilang mapan, harus jatuh miskin. Tak ada lagi rumah kami berdua karena itu sudah terjual juga. Kami lalu mengontrak bulanan di sebuah kamar sempit, berbagi dengan ibu mertua dan adik iparku. Sementara suamiku masih terus di rumah sakit. Semakin hari keadaan semakin payah. Tak ada pemasukan karena selama ini dialah yang bekerja dan mencari nafkah.

Ketika keadaan sudah sangat darurat, kami memutuskan kembali ke kampung orang tuaku. Namun ibu mertua dan adik iparku tidak mau ikut. Mereka tetap bertahan di kota dan menyambung hidup dengan mengamen. Aku tak mau mengikuti mereka, terutama karena tak ingin anakku semata wayang terjebak kehidupan jalanan. Suamiku yang sudah mulai membaik mau ikut denganku. Kedua kakinya sudah sembuh meski harus duduk di kursi roda dan sekarang sudah tidak bisa mengajar lagi di sekolah yang sama karena kondisinya. Juga masih tersisa cedera di punggung yang membutuhkan terapi lanjutan. Ia kemudian menyibukkan diri memberikan pelajaran mengaji di langgar dekat rumah, yang tentu saja … tak menghasilkan uang.

Lalu di sinilah aku akhirnya –Negeri Formosa–. Setelah mengikuti pelatihan di PJTKI dan berkat bantuan seorang teman, aku bisa mendapatkan majikan yang sangat baik. Tuan dan Nyonya Wo dengan dua anak yang sudah beranjak remaja serta kakek. Tugasku utamaku adalah merawat kakek, lelaki dengan postur tinggi dan mantan angkatan militer. Sebenarnya ia belum bisa dikategorikan sebagai kakek lanjut usia yang renta atau jompo karena semua hal bisa dilakukannya sendiri. Namun Tuan dan Nyonya Wo tidak mau jika ia tinggal sendirian ketika mereka jauh, karena kebetulan mereka tidak tinggal serumah dengan kakek, melainkan tiga puluh kilometer jauhnya. Akulah yang ditugaskan mempersiapkan makanannya, mengingatkan untuk meminum obat dan vitamin serta menemaninya jika ingin berjalan-jalan keluar. Tentu saja selain urusan membersihkan rumah, mencuci baju dan sebagainya layaknya pembantu rumah tangga.

“Lili cantik.”
Begitu selalu Kakek Wan memanggilku. Ia orang baik. Sungguh … ia baik. Jika aku sedang berjalan-jalan keluar, ia sering menyuruhku membeli apa yang kumau. Dan selalu … es krim. Sambil ia berjemur di taman dan membaca buku, biasanya aku akan menjilati es krim yang kubeli sembari aku membelikan koran pagi untuk kakek di 7-11 dekat taman. Hingga suatu kali tanpa sengaja pipiku tercoreng noda es krim.
“Lili, kemarilah.”
“Ya, Kek?”
Tangannya menjangkau pipiku, lalu mengusapnya lembut. Aku terkesiap. Tangannya yang keriput terasa hangat di kulitku.
“Kotor. Ada es krim.”
Aku tertawa. Kukira apa. Takutnya ia kurang ajar atau hendak berbuat mesum. Hatiku tertawa geli setiap mengingat dugaanku waktu itu. Maklum, banyak di antara teman-teman kami di sini yang sering mendapat perlakuan tak senonoh dari majikan laki-laki, dan pasien yang dirawat. Takutnya aku juga mendapat nasib yang sama.
“Lili rindu suamikah?” tanya kakek suatu waktu.
Aku menggumam tak jelas. Tentu saja rindu. Bagaimanapun juga aku mencintainya, sebagai seorang suami dan juga ayah dari putriku. Lelaki yang hangat dan sangat lembut memperlakukanku. Aku juga rindu pada malam-malam ketika dia belum terkena musibah dan menjadi introvet. Sejak itu—

Plek. Telapak tangan kakek Wan mendadak menepuk pundakku. Sepertinya ia menangkap roman muka sedihku.
“Kemarilah, biar kupeluk kamu. Berbagilah akan kegundahan hatimu padaku.”
Mataku membelalak. Apa maksudnya? Namun melihat tangannya mengambang dengan senyum kebapakan, aku mengerti. Ia mungkin menganggap aku sudah menjadi bagian keluarganya dan pada saat seperti ini yang kubutuhkan adalah dukungan. Kakek Wan memelukku dengan lembut. Membiarkan aku terisak di dadanya. Berhamburanlah segala keluh kesahku, penderitaan yang kualami selama beberapa waktu terakhir, bagaimana letihku menanggung beban pikiran dan juga beban akan kebutuhan hidup, hutang yang menumpuk dan juga tak adanya lagi kehangatan di antara aku dan suamiku. Yang kupikirkan hanyalah apa yang akan dilakukan untuk menyambung hidup esok hari agar keluargaku tak kelaparan.

Kakek Wan menepuk-nepuk punggungku. Ia lalu menyenandungkan lagu dalam bahasa Thai yang tak kumengerti artinya. Suaranya serak. Aku larut meski tak paham.
“Itu lagu kami dulu jika sedang tugas militer dan jauh dari keluarga, Lili. A hope, harapan. Cinta. Selalu ada cinta untuk kita di suatu tempat, dan cinta yang harus dijaga di lain tempat.”
Dan itu menjadi hari pertamaku terbuka padanya. Orang asing, majikan sekaligus juga temanku satu-satunya di tempat ini. Aku emang tak pernah ke mana-mana selain jika mengantarnya berjalan-jalan sekali sepekan. Tak pernah berbelanja karena semua bahan makanan akan dikirimkan ke rumah pada akhir minggu. Lalu sejak itu, ia menjadi seperti bapak bagiku, atau kakekku sendiri. Memasak bersama-sama, menyiram bunga dan saling menyemprotkan air dari selang, lalu tertawa terbahak-bahak. Kadang duduk berdua berjam-jam untuk membaca. Kakek sibuk dengan korannya, dan aku dengan majalah yang kubeli dari toko Indonesia. Tak jarang, ia duduk menungguiku belajar menulis Mandarin sambil menjelaskan ini dan itu. Sekat kami pun menghilang. Kami seperti keluarga yang sudah bertahun-tahun bersama, padahal baru menginjak tahun pertama.

Namun sesuatu terjadi antara kami. Malam itu hujan teramat lebat dan angin kencang bertiup. Kata kakek pada musim transisi antara musim dingin ke musim panas, akan sering angin besar dan gempa datang. Dan malam itu, daun dan dahan pohon di samping rumah memukul-mukul atap. Suaranya mengerikan menyambar kaca jendela. Bahkan berita di TV yang terakhir mengabarkan, seorang pekerja Indonesia meninggal karena tertimpa papan reklame saat ia hendak memberi makanan. Aku meringkuk kedinginan di depan televisi sambil membungkus diri dengan selimut tebal, sementara kakek ada di ujung sofa sambil membaca.

Peeettt!
Mendadak lampu mati. Sepertinya aliran listrik terputus. Aku meraba-raba dalam gelap mencari senter dan kemudian meletakkannya di meja depan kami duduk. Tak bertahan lama, baterainya habis. Kakek menyalakan lilin dan kembali duduk. Heran. Kenapa ia tidak terlihat kedinginan? Tetap santai dengan kemeja lengan pendek dan juga celana selutut. Sementara aku seperti nyaris membeku.
“Lili kedinginan?”
Aku mengangguk. Ia menepuk pundaknya.
“Kemarilah. Sepertinya cuaca akan terus memburuk sepanjang malam.”
Aku tak bergerak. Kakeklah yang kemudian bergeser mendekat. Dirangkulnya bahuku yang terbungkus selimut tebal, lalu memelukku hangat. Benar. Ia sangat hangat. Aku meringkuk diam-diam. Namun karena suasana sangat hening, terdengar hembusan napas kami beradu. Aku mendongak dan tertawa. Kakek juga sedang melihatku dan tertawa.
“Beginilah dulu ketika aku pernah dikirimkan untuk bertugas militer, Lili. Malam yang dingin dan hening. Sementara kerinduan akan rumah membuncah. Seperti juga mungkin rindumu pada rumahmu.”
Lalu entah apa yang terjadi, kami berdua menjadi berbeda. Kulit keriput kakek bergesekan dengan kulit pipiku. Aroma wanginya tercium hidungku. Dan ketika angin menggila, kami masing-masing mencari kehangatan. Aku tak ingat … sama sekali tak ingat. Yang terasa aku begitu nyaman dalam kehangatan. Kami pun tersadar, ketika hari sudah pagi dan sinar matahari menerobos masuk dari jendela samping. Ya Allah …! Apa yang terjadi dengan kami?! Kenapa …. oh ya Tuhan, kenapa kami dalam keadaan—maaf—bugil, tanpa sehelai benang?!
Pipiku memanas. Aku bukan anak kecil dan dengan cepat kepalaku merangkaikan peristiwa. Peristiwa memalukan di sepanjang sisa hidupku. Aku, istri dari Amirullah yang baik, ibu dari Lidya Pertiwi yang polos, telah jatuh dalam peristiwa tak terduga. Di mana iblis dan setan berser-seru senang. Aku dan kakek … oh, Ya Tuhan ….! Ini tidak layak terjadi antara kami!

Sejak itu kami pun canggung. Kakek berkali-kali meminta maaf dan memohon agar aku tak marah. Aku sendiri, penuh rasa malu dan sedih mendiamkannya selama berminggu-minggu tanpa mengurangi tanggung jawabku merawatnya. Ia tidak bosan-bosan bersikap baik padaku dan meminta aku tidak terus menerus mendiamkannya. Bahkan, dengan terang-terangan ia mengatakan bahwa jatuh cinta kepadaku. Keterbukaannya inilah yang membuatku luluh. Lambat laun kami kembali dekat. Tentu saja tanpa sepengetahuan majikan mudaku, karena aku yakin mereka akan sangat murka jika mengetahuinya. Aku dan kakek Wan terlibat hubungan terlarang. Hubungan penuh dosa yang terjadi karena keadaan. Ia yang membutuhkanku karena kesepian, dan aku yang menerima kebaikannya. Uang tak berhenti mengalir dari tangannya ke rekeningku, yang tentu saja menjadi harapan besar keluargaku di kampung. Bapak dan mamak bisa membeli beberapa hektar sawah kembali untuk pencaharian mereka, membangun rumah kecil untuk suamiku dan Lidya di samping rumah mereka dan mengisinya dengan berbagai kebutuhan sehari-hari. Ya, suamiku kubuatkan warung sembako. Juga sepeda motor yang dimodifikasi dengan roda tambahan agar ia bisa bepergian tanpa merepotkan orang lain terutama untuk mengantarkan anakku ke sekolah. Aku ingin mengangkat ekonomi keluargaku. Agar kembali mapan sehingga jika habis waktuku bekerja di sini, ada kehidupan lain di sana. Sementara itu, benih cinta tumbuh di dalam hatiku. Kepada Kakek Wan. Ia sangat lembut. Juga sangat perhatian kepadaku. Segala kemauanku dituruti tanpa pernah menuntut agar aku tidak memikirkan mereka yang di Indonesia.

Namun dosa tetaplah dosa. Aib tetaplah berakibat buruk. Beberapa minggu lalu aku tersadar ada yang berubah. Dadaku sedikit padat dan pinggangku menebal. Aku mendadak panik. Kenapa aku baru ingat kalau sudah beberapa kali tidak menstruasi? Satu dua, empat … empat kali? Aku terhenyak. Kilat berkali-kali serasa menampar wajahku. Jangaaaaannn …! Ya, jangan sampai aku hamil!
Hendak kukatakan pada Kakek Wan, aku takut. Bagaimana kalau ia menjadi berubah, lalu memulangkan aku misalnya? Bagaimana kehidupan keluargaku nanti? Aku kalut. Pikiranku bergerak mencari cara agar aku bisa mengetahui apakah hamil atau tidak. Kuhubungi salah seorang teman di media sosial dan menyuruhnya mengirimkan beberapa lembar alat pendeteksi kehamilan. Dan benar. Aku hamil. Eantah sudah bulan keberapa, yang jelas kemajuannya pesat. Beberapa waktu lalu Nyonya Wo bahkan meledekku, “Lili gemuk ya sekarang. Rupanya ia kerasan bekerja di Taiwan.”

Oh, andai mereka tahu … pasti aku akan dituntut melakukan perzinahan, dan menyeretku ke pengadilan. Lalu bagaimana mukaku di depan semua orang termasuk suamiku? Bagaimana hancurnya mereka jika tahu aku melacurkan sebagian diriku demi tambahan uang meskipun juga ada perasaan cintaku pada Kakek Wan? Aku kalut. Berhari-hari tak bersemangat memikirkan ini. Pikiran berputar bagaimana aku bisa terus bertahan di sini, karena masih ada satu tahun lagi jatahku bekerja di sini. Sementara aku tahu perutku akan semakin membesar. Kuselancari internet. Mencari tahu apa yang bisa kulakukan untuk mengatasinya. Hingga dari seorang teman Indonesia yang tinggal di daerah lain, aku memperoleh bantuan. Ia mengirimkan obat yang didapatnya secara ilegal. Kupelajari cara memakainya. Tidak, kurasa aku butuh dosis dobel atau tripel karena sepertinya kehamilanku sudah lima bulan.

Aku melakukannya. Kupakai obat itu dalam takaran tiga kali lipat dan beberapa jam kemudian bereaksi. Kloset duduk memerah ketika perutku serasa ambyar dan sesuatu keluar dengan cepat ke bawah, lalu cepat kusiram hingga bersih sambil menggigit bibir. Ya Allah … dosa apa lagi yang kulakukan ini?! Namun inilah yang terjadi. Merah. Semua merah. Mataku merah, hatiku memerah. Aku menukar masa depan dengan warna merah yang mungkin harus kupertanggungjawabkan kepada Tuhan di akhirat kelak.

Aku menangis. Menyadari betapa nistanya karena kesempitan yang kurasakan. Demi uang, demi hidup, aku berkali-kali melakukan dosa. Sementara mereka yang di luar sana hanya tahu bahwa menjadi TKW mendapatkan banyak uang. Bisa membangun rumah di kampung dan uang bulanan yang cukup besar ketimbang gaji pegawai di Indonesia. Mereka melihat senyuman yang cantik dan ceria dari kami yang ada di sini. Terutama saat TKW berselancar di dunia maya. Tapi tak ada yang tahu … bahwa banyak hal kelam yang terjadi di sini. Dalam perantauan yang kami pilih sendiri. Tak ada yang tahu bahwa hati remuk redam, lelah dan tekanan bercampur menjadi satu. Seperti juga … merahku ini.

Taiwan, 26 Mei, 2017



📜 紅色

👤 ETIK NURHALIMAH

紅色,整片的紅色。整個浴室的地板被一層血給淹沒了,我的視野被紅色覆蓋。我的頭好暈,也隨即倒下。

*****

我叫Arini。決定到台灣工作時,正值27歲,離開一個四歲大的女兒及善良的丈夫。丈夫為人正直,勤念可蘭經,擁有高尚品格。只有一個缺憾,他的一雙腳,因為一場發生在三寶瓏某段路的不幸事故而殘廢了。當時他站在路旁,等待加油站人員幫他的摩托車加油,準備前往一所私立高中教書。突然,遠方傳來巴士輪胎與柏油路間的摩擦巨響,巴士不斷地高速往前衝,車身翻滾之前,掃上了人行道。路邊的攤販、機車、三輪車,以及人行道上的行人,都紛紛被車身捲走,包括我的丈夫。他和其他三人受困於車身下,雙腳因此被壓碎。

他的雙腳從膝蓋以下都需要截肢,脊椎也受傷了。我們的財產全都投入醫療費,把爸爸與媽媽唯一的田也變賣了。但先生的家人卻無法提供任何幫助,因為他的媽媽與妹妹都依靠他維持生活。生活每況愈下,我們原本經濟狀況還算小康,現在卻陷入貧困。我們已沒有房子,因為也變賣了。後來租了一個小房間,與我婆婆和小姑一起住。我的丈夫仍一直在醫院。情況一天比一天糟糕,因為沒有收入,一直以來都是他在工作維持我們的生活。

當時狀況已經非常糟,我們決定回到我父母的家鄉。但我婆婆與小姑不願意,她們堅持留在城市,在路邊唱歌來賺取收入。我不想跟著她們,尤其我不希望我們唯一的女兒就這樣困守路邊討生活。逐漸康復的丈夫也願意跟著我,雖然仍然需要坐輪椅,他的狀況也不能在原本的學校教書了。丈夫還需要做脊椎復健,後來他在家裡附近教可蘭經,但畢竟是……無法賺錢的工作。

所以我來到福爾摩沙,這個寶島。接受仲介公司的訓練以及一位朋友的幫助,得到了很好的雇主。吳先生與太太有兩位正值青少年的孩子,還有一位爺爺。我最主要的責任是照顧爺爺,一位體格高大的退休軍人。其實他還不能算是脆弱的老年人,因為他都能自行完成每件事。

但吳先生與太太不想讓他一個人住,因為他們家和爺爺住的地方有段距離,大約30公里。我的工作是準備食物,提醒他吃藥和維他命,如果爺爺出門則要陪伴他。當然除了這些以外,還要整理房子、洗衣服,做家庭幫傭該做的事。

「漂亮Lili。」

萬爺爺總是這麼叫我。他是個好人。真的,他人很好。每次出門時,他總要我買自己想要的東西,每一次我都會買冰淇淋,而他在公園裡曬太陽和看書。通常我會幫爺爺在公園附近的7-11買當天的報紙,然後舔著買來的冰淇淋。有一次,我的臉頰不小心弄到了冰淇淋。

「Lili,過來一點。」
「是,爺爺?」

他把手伸過來,在我的臉頰上輕輕地擦。我嚇到了。他皺皺的手觸摸我的肌膚,感覺很溫暖。

「髒髒的,有冰淇淋。」

我笑了,還以為發生什麼事。怕他做了不應該或不妥當的事。每次回想那一段,我的心都會偷偷地笑著。這不奇怪,我的許多朋友都受到男雇主或是被照顧病人不恰當的對待。我也怕遇到類似的遭遇。

「Lili,想念老公嗎?」爺爺當時問道。

我發出了不清楚的聲音。當然想念,再怎麼說我還是愛他,他是我女兒的爸爸,也是溫柔對待我的男人。我也想念他還未遭受車禍前,那些讓我害羞的夜晚。但自此之後……

啪,萬爺爺突然拍著我的肩膀,好像發現我落寞的表情。

「過來,讓我抱抱妳。跟我分享妳的困擾吧。」

我的眼睛睜大。什麼意思?但看著他的雙手還有如父親般的笑容,我了解了。他可能認為我是他家庭的一份子,在這種時刻,我需要的是心理支持。萬爺爺溫柔地抱著我,讓我在他胸膛哭泣。在那刻,我最近的痛苦、心理的壓力、生活的疲累、疊高的債務,還有我跟丈夫間失去的溫存,所有的煩惱都煙消雲散了。一直以來我所想到的,只有該做些什麼事,才能讓我的家人不會挨餓。

萬爺爺拍拍我的背。他又唱起一首我不懂的泰語歌。他的聲音沙啞。雖然不懂,我卻陶醉其中。

「那是我們當兵時,離開家人時會唱的歌,Lili。A hope,希望,愛。愛總是存在於我們的某個地方,在其他方面愛也需要守護。」

那是我第一次對他敞開心胸。我在這裡,雇主是唯一的朋友,我除了每個禮拜跟他散步一次,哪裡也沒去。我從來沒有出去買過菜,因為食物都會在周末送來。我們一起煮菜、一起澆水,又互相用水管噴水,然後一起大笑。有時兩人一起坐著看書,爺爺看他的報紙,而我看從印尼專賣店買來的雜誌。時常,他坐著看我學習寫中文並解釋給我聽。我們之間的距離消失了,如同一起生活數年的家人,但其實才剛開始第一年。

但我們之間發生了一件事。那一晚雨下得很大、風吹得很強。爺爺說在冬天到夏天的轉換期間,會有颱風還有地震。那天晚上,樹枝、葉子打著屋頂,可怕的聲音敲著窗戶。電視上最新的新聞報導說,一位印尼移工在買食物時被廣告招牌砸到而身亡。我在電視前窩著,試著用厚棉被取暖,爺爺在沙發的另一端坐著看書。

啪!

燈光突然熄滅,好像停電了。我在黑暗中找著手電筒,把它放在我們前方的桌子上。過沒多久,電池也沒了。爺爺只好點了蠟燭,再坐回原位。奇怪。為什麼他看起來絲毫不覺得冷?輕鬆的穿著短袖襯衫還有及膝褲,我卻差不多要結冰了。

「Lili,你會冷嗎?」

我點頭。他拍著自己的肩膀。

「過來吧。今晚的天氣可能會越來越糟。」

我動也不動。爺爺後來就移過來。他摟著我用被子包覆的肩膀,溫柔地抱著我。對,他的身體非常溫暖。我靜靜的窩著,因為很安靜,我們的呼吸聲像在一搭一唱。我抬起頭笑著,爺爺看到我也笑了。

「我以前當兵時被外派時,就是這樣的,Lili。寒冷又安靜的夜晚。而對於家鄉的思念卻是熱騰騰的。就像妳在想念妳的家一樣。」

然後不知發生什麼事,我們兩個人都變了。爺爺佈滿皺紋的皮膚與我的臉頰摩擦著。我聞到他的香氣。窗外的風吹得更加狂烈,我們互相取暖。我記不起來……完全記不起來。我只感受到舒服與溫暖。等我們醒來時已是早晨,陽光從側窗鑽入房裡。上帝啊……!我們之間發生了什麼事!為什麼……喔上帝呀,為什麼我們都是光著身子,什麼都沒有穿?!

我的臉頰發燙。我已經不是小孩子了,我的腦袋開始思索事情是怎麼發生的。這是我一生中最恥辱的一件事。我,Amirullah的好妻子,Lidya Pertiwi的單純媽媽,卻陷入一個無法預料的事件中。惡魔與幽魂都開心的歡呼著,我和爺爺……喔,上帝呀……!這不應該發生在我們之間!

那件事過後,我們變得尷尬了。爺爺不停的道歉,要求我不要生氣。我感到充滿羞愧與悲傷,每天只是閉口不談的過日子,同時不忘我應該履行照顧他的責任。他絲毫不厭倦地對我好,請求我不要忽略他。甚至,他還光明正大的說他愛上了我。他的真誠融化了我,漸漸地,我們變得越來越熟悉。當然,我的年輕雇主並不知道這件事,我相信他們若知道了,會非常生氣。

我與萬爺爺被困在一個不應該的關係裡,一個突發而充滿罪惡的關係。他因為寂寞而需要我,而我接受了他對我的好。錢不停地從他手中流到我的戶頭,變成了我在鄉下家人的希望。爸爸媽媽可以買回數公頃的土地,成為他們的經濟來源,為了我的丈夫還有Lidya,他們還在房子旁邊建了一間屋子,讓他們擺放日常用品。我也幫我先生蓋了一間雜貨店,買一台加了輔助輪的摩托車,讓他可以自由地走動、送女兒去上學。我想要重振家庭的經濟狀況,讓我們能夠回到什麼都不缺的人生。

就算我耗費了時間在此地工作,但在家鄉仍有另一種生活。然而,愛的種子在我心中開始萌芽,那是對於萬爺爺的愛。他非常的溫柔,也對我很體貼。我的所有要求他都會滿足,這讓我經常忘記在印尼的家人。

但惡行還是惡行,惡會有惡報。幾個禮拜前,我發現身體有些變化,我的胸部變得豐滿、腰圍變厚。我感到驚訝。我這才發覺,月經已經多久沒來?一、二、三……四次?我無法發出任何聲音。有如電擊般多次打中自己。不……!我不能懷孕啊!

我想要跟萬爺爺說,但我怕。萬一他變了,要把我送回家呢?我家人的生活呢?我慌張起來。我的腦袋不停轉動,思考如何確定是否懷孕。我透過社群媒體連絡一位朋友,請她把幾個驗孕棒寄給我。

對,我懷孕了。不知道是第幾個月,但長的很快。沒多久前,吳太太還笑我:「Lili變胖了喔。原來在台灣工作很幸福。」

喔,如果他們知道的話……我一定會被告引誘罪,把我告上法庭。我要怎麼面對我的丈夫?他們如果知道,我為了多賺些錢,把自己的身體賣了,會多麼的心碎,即使我對萬爺爺也是有愛?我無法發出任何聲音,好多天很沒有精神的想著這件事。腦中不斷盤算著,究竟該如何繼續待在這裡,因為我還有一年的工作期限。

我感覺到肚子變得越來越大。我不斷在網上搜詢,尋找克服的方法。最後我從一位在其他地方工作的印尼朋友那裡獲得了幫助。他把非法取得的藥物寄給我,我詳讀了使用方式,但我認為我需要兩倍或三倍的用量,因為我已懷孕五個月了。

所以我就這樣做了,我嚥下了正常藥量的三倍,數小時內就發作。馬桶變紅,我的肚子感覺空了,有東西在快速的墜落,我迅速的撈起,咬著嘴唇。上帝啊……我又犯了什麼罪?但事情就這麼發生了。紅,一切都是紅色的。我的眼睛是紅的,我的心也是紅的。我把自己的未來以紅色來交換,這是我在未來、在後世需要付出的代價。

我哭了。我發覺自己窄小的心胸是多麼的骯髒。為了錢,為了生活,我數次犯了罪。外面的人看待我們,只知道當台灣移工可以賺很多錢,能在鄉下建房子,月薪高於一般在印尼的員工。他們只看到我們在這裡有美麗、開朗的笑容,尤其是那些網路上的台灣印尼移工的面貌。但沒有人知道……在這裡發生了許多黑暗的事,在我們自己選擇的旅程中。

沒有人知道,破碎的心、疲倦與壓力都混在一起,就像……我的紅色。

台灣,2017年5月26日


📝 Komentar juri|Dédé Oetomo

Alur yang runtut dan menawan, mengandung insiden yang tak terduga. Melibatkan berbagai perasaan yang kompleks.

有秩序的迷人情節,含沒有預測的事件。牽涉複雜的情緒。

📝 Komentar juri|Joy

Memaparkan kenyataan dgn cara yg positif berpotensi menyemangati sebagian org yg memerlukan nya.

用正向的方式表達事實並鼓勵有些需要的人。

 

發表迴響

你的電子郵件位址並不會被公開。 必要欄位標記為 *