上帝的畫像 MELUKIS WAJAH TUHAN

 Babak penyisihan 印尼文初選  

📜 上帝的畫像 MELUKIS WAJAH TUHAN

👤 Tetsuyaeni

“ Kamu masih saja menghabiskan waktumu untuk sampah-sampah ini? Mau jadi apa kamu nanti?” kudengar suara tuan yang sangat keras dari ruangan seberang, tepat di kamar mei mei.

“ Papa, kumohon. Jangan katakan semua hasil Karyaku ini sampah.”

“ Aku menyekolahkanmu hinga sejauh ini, agar kelak kamu bisa melanjutkan sekolah kedokteran, ,menjadi dokter. Harusnya kamu paham itu, bukan malah menghabiskan uang saku yang papa berikan untuk membeli sampah.”

“ Papa, sudah kukatakan berkali-kali bukan, aku ingin jadi pelukis, Bukan dokter. Dan aku tidak akan pernah berhenti melukis.”

Perdebatan antara anak dan ayah itupun semakin menjadi, aku dan Akong yang sejak tadi menonton tv di ruang keluarga merasa sangat kurang nyaman mendengarnya.
Ini adalah tahun kedua aku bekerja sebagai perawat Akong berusia 90 tahun yang masih sehat di keluarga Tuan Chen. Selama dua tahun ini, aku sudah sering kali mendengar tuan dan mei mei adu mulut. Watak mereka sama-sama keras, jadi wajar saja jika tidak ada yang mau mengalah. Topik permasalahan pun selalu sama. Tuan ingin mei mei melanjutkan sekolah kedokteran, sedangkan Mei Mei ingin masuk sekolah seni.
Pernah aku berniat ingin melerai mereka, namun Akong menahanku. Beliau berpesan, untuk tidak ikut campur urusan mereka.

Prak…. Terdengar suara bantingan yang sangat keras. Mataku dan mata Akong saling menatap, sebelum akhirnya kami memutuskan untuk menghampiri mereka. Tuan keluar dari kamar Mei Mei dengan wajah penuh amarah, kulongok Mei Mei yang menangis tersedu sambil mengumpulkan cat air yang berceceran di tanah.

“ Achen, janganlah kamu terlalu keras pada Mei Mei. Ingat, dia itu putri semata wayangmu.” Kata Akong kepada Tuan yang tengah melangkah ke ruang keluarga.

Tuan tak menjawab apa pun, seketika laki-laki yang usianya menginjak kepala 6 itu pun membanting tubuhnya di sofa tempat aku dan Akong duduk 5 menit lalu. Raut wajah penuh amarah masih terlukis jelas pada beliau, tangannya meraih remot tv, ibu jarinya memencet tombol ganti chanel berulang. Remot yang tak bersalah itupun dilempar ke meja hingga batrainya terlempar ke lantai. Aku hanya mampu terdiam menyaksikan pemandangan yang sangat menguras emosi ini.

“ Nisa, kamu tolong hibur Mei Mei. Aku akan menasehati tuan.” Belum sempat akong menghampiri, Tuan sudah melangkah kearah kamar, menutup pintu dengan sangan keras.

“ Sebaiknya besok saja, daripada nanti aku ikut dimakan dia.” Timpal Akong dengan senyum.

Akhirnya kami memutuskan untuk masuk ke kamar mei mei yang memang sejak tadi pintunya terbuka lebar. Akong duduk diatas ranjang Mei Mei, Sedangkan aku mulai membantu memunguti cat peralatan lukis Mei Mei yang tercecer.

“ Mei, kemarilah. Duduk disamping Akong. Akong tahu, kamu sedang sangat membutuhkan bahu untuk bersandar.” Panggil Akong lembut.
Tanpa pikir panjang lagi, Mei Mei langsung berlari kearah Akong, kemudian memeluk beliau sambil sesenggukan. Akong mengusap lembut rambut gadis yang tahun depan akan menamatkan SMA itu

“ Sekarang Akong ingin bertanya, kenapa kamu ingin jadi pelukis dan kenapa pula kamu menolak menjadi dokter?” Tanya Akong pada Mei Mei.

Dengan suara yang masih terisak, mei mei menjawab,
“ Aku ingin menjadi pelukis, karena bagiku ketika kau melukis aku bisa menangkp kebahagiaan dalam hati yang seolah terampas paksa sejak kepergian mama. Aku merasa ketika aku menggerakkan kuas-kuas itu diatas kanvas, aku menjadi semakin dekat dengan mama dan Tuhan. Melukis adalah kehidupanku. Dan aku tidak mau menukar hidupku dengan gelar dokter yang selalu dihantui kematian pasien-pasiennya. Aku ingin membebaskan hatiku dadri jeruji beban kehidupan. Dan salah satu cara yang bisa kulakukan adalah dengan melukis.”

Akong menarik nafas panjang,kedua tangan beliau memengan bahu mei mei.

“ Berarti maksudmu, setap 3 bualn sekali Akong pergi ke dokter itu, sebenarnya Akong sedang menghantui mereka dengan kematian Akong yang bisa kapan saja bisa tiba-tiba terjadi, begitu?”

“ Akong, bukan begitu maksudku. Aku hanya…”
Belum selesai mei mei berkata, kakek memotonng kata-katanya.

“ Coba kamu lihat Nisa, tanyakam padanya apakah bekerja ke luar negeri adalah pilihannya,?kehidupannya? mimpinya? Tidak. Dia tidak pernah menginginkannya, hanya saja dia ingin merubah kehidupan keluarganya dirumah, tanpa harus menanggalkan mimpinya.”

“ Maksudnya?” Tanya Mei Mei penuh keheranan.

Sambil terus merapikan peralatan lukis Mei Mei, aku angkat bicara.

“ Mei, mau kuceritakan sedikit tentan hidupku?” tanyaku pada Mei Mei yang kemudian balas dengan anggukan.

“ karena kamu jarang berkumpul bersama di ruang keluarga, wajar jika kamu tidk mengetahuinya. Aku adalah sulung dari dua bersaudara. Sebenarnya tiga bersaudara. Tapi, Tuhan sangat saying pada adik perempuanku. Sehingga Dia memilih untuk memanggilnya pulang 6 tahun lalu. Disusul pula kepergian ayahku 3 tahun kemudian. Posisiku saat itu masih seusia kamu. Aku harus mengubur dalam-dalam keinginanku untuk kuliah. Sebenarnya aku ingin sekali meraih gelah sarjana ilmu komunikasi, bekerja di bagian penerbitan, dikelilingi buku-buku yang berkualias dan langsung dari tangan penulisnya, adalah mimpiku. Namun, keadaan membuatku harus memutar otak kembali. Menyusun masa depan adikku yang tidak sedikit pula biaya pendidikannya hingga dia meluluskan SMA. Waktu itu dia baru menginjak bangku kelas 3 SD. Aku bertekad untuk bekerja ke luar negeri agar aku bisa membiayai sekolah adikku, mencukupi biaya hidup keluarga, serta memiliki tabungan pribadi jika suatu saat Tuhan mengijinkanku untuk menggapai mimpiku. Ada satu penulis Indonesia yang sangat memotivasiku, Andrea Hirata. Dalam bukunya yang berjudul Laskar pelangi, ada satu kalimat yang membuatku bangkit untuk membangun mimpi dengan jalan yang baru. Kau tahu kalimat apa itu Mei?’

Mei mei menggelengkan kepala sambal menyeka air mata yang masih saja membahasahi pipinya. Kulanjutkan ceritaku.

“ Bermimpilah setinggi lamgit, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu itu. Dan, jadilah aku sekarang seorang perawat akong berbadan bugar berwajah sangat tampan yang kini sedang duduk disampingmu.” Kamipun tertawa bersama.

“ Lalu, bagaimana dengan mimpimu, Jie?” Tanya Mei Mei penasaran.

“ Mimpi? Hmmm… aku merubahnya. Dari ingin menjadi seorang editor, aku sekarang sedang berjuang menjadi penulis. Disela kesibukanku di rumah ini, ketika da sedikit waktu senggang aku selalu mencurahkan apa yang ada dalam pikiranku lewat tulisan-tulisan. Tulisan pertamaku, iseng saja kukirimkan ke alamat redaksi majalah Indonesia di Taiwan, dan ternyata dimuat pada edisi bulan berikutnya. Perasaan bahagia menyelimuti hatiku saat itu. Tuhan sedang memeluk mimpiku dengan cara yang baru. Sejak saat itu, aku tak pernah berhenti menulis, akupun bisa melukis senyuman diwajah ibu dan adikku secara bersamaan. Kenapa kita harus memilih, jika keduanya bisa kita lakukan secara bersamaan, meski dengan jalur yang berbeda. Bukankah tersenyum ditengah kebahagiaan orang-orang terdekat jauh lebih indah, ketimbang kita mekukannya sendirian?”
Aku pun mendekat kearah mei mei dan akong. Mataku mulai meraba isi ruangan berdinding putih itu. Aku menangkap poster seorang lelaki dengan kepala setengah botak.

“ Mei, bukankah itu poster Pablo Picasso?” tanyaku pada Mei Mei.

“ kau tahu dia Jie? Dia adalah seniman yang paling ku idolakan. Aku sangat terkesan dengan karyanya yang berjudul ‘the Sweeping Woman’. Dia sangatlah genius dalam memainkan kuasnya, gaya pelikisannya sangat imajinatif dan sangat sensitive terhadap dunia luar. Dia benar-benar pelukis terbaik.” Terang Mei Mei dengan penuh antusias.

“ Dengar, Aku tidak begitu tertarik pada lukisan, namun aku pernah membaca biografi tentang Pablo Picasso. Ada satu hal yang membuatku kagum padanya. Kalimat yang diucapkannya. ‘bila kumau melukis cangkir, akan kutunjukan padamu bahwa bentuknya bundar. Tapi itu suatu irama umum, dan konstruksi lukisan memaksa aku menunjukkan bahwa yang namanya bundar itu sebagai sesuatu yang persegi’. Kamu pun bisa menjadi seperti Picasso. Kamu bisa merubah pandangan kamu terhadap profesi dokter. Seorang dokter mampu menyelamatkan nyawa orang lain, memberikan harapan baru pada orang-orang yang terganggu kesehatannya bahkan yang sudah sangat parah sekalipun. Mereka selaku meyakinkan pada pasien, bahwa harapan itu selalu ada, jangan putus asa. Hindari pantangan serta rutin konsumsi obat akan memberikan harapan baru. Tinggal menunggu waktu Tuhan untuk memeluk harapan itu. Kamu bisa menjadi seorang dokter sekaligus pelukis. Kanu bisa melakukan keduanya, tapi demhan jalur yang sedikit berbeda.”

“ Bagaimana bisa itu kulakukan, Jie? Saat aku menjadi dokter, aku pasti sangat kekurangan waktu untuk beristirahat, jadi saat aku ada waktu luang pasti akan kugunakan untuk beristirahat. Bagaimana bisa aku melakukan keduanya secara bersamaan?”

“ Tentu saja bisa. Ketika kamu kelak menjadi seorang dokter, lukiskanlah sebuah lukisan wajah Tuhan untuk pasien-pasienmu. Tapi, bukan diatas kanvas, melainkan diatas harapan mereka. Yakinkan bahwa mereka kan sembuh total dari penyakitnya asal tak pernah putus untuk berharap pada Tuhan. Sudah kukatakan sebelumnya, bukan, bahwa tersenyum ditengah kebahhagiaan lain serta menjadi alasan orang lain tersenyum adalah jauh lebih indah, ketimbang kamu tersennyum seorang diri memeluk mimpimu.”

Mei Mei tersenyum lebar, aku menemukan semangat yang menggebu dalam sorotan matanya. Perlahan mei mei membangunkan kakek dari duduknya kemudian dia menuntun beliau melangkah kearahku.

“ Akong, Nisa Jie Jie, aku sudah tahu sekarang jalan yang akan kuambil untuk masa depanku. Sekarang kalian keluar dulu, besok pagi aku akan memberikan pengumuman di meja makan. Jangan sampai telat untuk sarapan, bangunkan Papa jika jam 7 belum bangun, ok! Selamat malam, selamat beristirahat, bye bye.”

Aku dan Akong keheranan tentang sikap mei mei yang tiba-berubah 180 derajat dalam sekejap. Pikiranku diselimuti pertanyaan-pertanyaan yang membuatku takut sendiri. Besok jam 7, sarapan bersama di meja makan dengan Tuan dan Mei Mei yang 2 jam lalu beradu mulut? Oh Tuhan, semoga bukan hal buruk yang terjadi.

##
Roti bakar, aneka selai serta 4 gelas susu telah selesai ku tat rapi dimeja, Tuan pun telah duduk menikmati sarapannya ditemani koran minggu pagi ini.
Mei Mei keluar dari kamarnya dengan wajah berseri dan penuh senyuman.

“ Cauan Papa, cauan Akong, cauan Jie Jie.” Sapa Mei Mei seraya duduk menghadap sarapannya.

Tuan Nampak heran melihat perilaku mei mei yang mendadak berubah. Dari yang biasanya setiap hari minggu selalu bangun diatas jam 10, bisa bangun sepagi ini.

“ Mau kemana kamu, sepagi ini sudah bangun?” tanyaa Tuan kepada Mei Mei.

“ Papa, aku minta maaf jika selama ini terlalu keras kepala. Nisa Jie Jie telah membuka lebar mata dan pikiranku. Sekarang aku tahu dan sudah benar-benar yakin langkah yang akan kuambil setelah lulus nanti. Aku ingin sekolah kedokteran, menjadi seorang dokter agar aku bisa melukiskan wajah Tuhan diatas harapan mereka. Dan satu lagi, Nisa Jie Jie, kumohon selamanya jadilah seorang kakak untukku sekalipun nanti cece telah kembali ke Indonesia, memiliki keluarga sendiri, jangan pernah lupakan kami, jie jie adalah bagian dari keluarga ini. Aku tahu kita tidak memiliki ikatan darah apapun, tapi aku yakin bahwa Jie Jie adalah seseorang yang dikirimkan Tuhan untuk membantu keluarga kami melukis wajahNya.”
Buliran bening membasahi pipiku, aku tak kuasa menahan haru kata-kata Mei Mei.

“ Nisa, terimakasih telah hadir di keluarga kami.” Kata Tuan

“ Terimakasih telah mengembalikan kepada kami cinta dan kerukunan yang telah lama hilang.” Ucap Akong menambah haru suasa pagi ini.

“ Eh, hampir saja lupa.” Kata Mei Mei sambil berlari menuju kamarnya.

Lima menit kemudian Ia membawa sebuah lukisan keluar, menggantungkannya pada dinding yang ada diruang makan. Sebuah karya perpaduan warna orange, hijau, biru langit dan putih awan. Penampakan lukisan tangan menangkup do’a diatas rumput hijau serta bunga tulip menghadap matahari yang hampir tenggelam. Dengan bangga ia berkata.

“ Aku sering melihat cie-cie berpakaian serba putih, duduk diatas lantai yang bearalaskan kain sambil menangkupkan tangannya. Dan Ini adalah wajah Tuhan yang berhasil kulukis dalam semalam.”

Kita tidak akan pernah tahu apa yang Tuhan persiapkan di hari esok. Jangan pernah berhenti berjuang, jangan tergesa-gesa untuk memilih. Karena, bisa saja Tuhan bukan memintamu untuk memilih, melainkan Ia sedang mengujimu untuk menemukan jalur baru agar bisa melakukan sesuatu tanpa harus mengorbankan salah satu pilihan hidupmu. Tetaplah berharap, dan lukislah Wajah Tuhan diatas harapanmu, tunggu saat yang tepat dimana Ia mengabulkan harapanmu.

Kaohsiung city, 27280517


📜 上帝的畫像 MELUKIS WAJAH TUHAN

👤 Tetsuyaeni

「妳還在把時間浪費在這些垃圾嗎? 妳以後能做什麼啊?」我聽到從對面房間傳來先生明亮的聲音,從妹妹的房間。
「爸爸,請不要說我的每個作品都是垃圾。」
「我讓妳到這麼遠的地方是讓妳繼續念醫科,當醫生。妳應該要明白,不是把爸爸給妳的零用錢花在這些垃圾上。」
「爸爸,我不是說了好多次了嗎,我想當畫家,不是醫生。而且我永遠都不會停止畫畫。」

這對父女之間的爭吵更加激烈,從剛才到現在,在客廳看電視的我和阿公聽了都不是很舒服。這是我在陳先生家工作的第二年,成為這位90歲、仍然健康的阿公的看護。這兩年來,我已經很常聽到先生與妹妹的爭吵。兩個人都固執,所以沒人退讓也是不稀奇。問題的根源也依然一樣,先生想要妹妹繼續念醫科,但妹妹想上藝術學校。

有次我想和解他們,但阿公把我攔住。他說,不要插手他們之間的問題。

啪…. 傳來了很大聲東西被摔的聲音。我與阿公四目相交,並決定起身關心。先生一臉憤怒地離開妹妹的坊間,我望著淚流滿面、收拾滿地地水彩的妹妹。

「阿陳,不要對妹妹這麼硬。記得,他是妳唯一的女兒呀。」阿公向走進客廳的先生說道。

先生不發一語,這位即將邁入六字頭的男人將他的身子摔在我與阿公五分鐘前坐著的沙發上。一絲絲的憤怒在他臉上仍然明顯的掛著,手拿著遙控器,大拇指不停地按著切換頻道。無辜的遙控器也被摔到桌上,電池噴到地上。我只能在安靜中觀看這消耗情感的景象。

「Nisa,請妳去安慰妹妹。我要去叮嚀先生。」阿公都還沒靠近,先生已走向房間,非常大力地摔了門。
「還是明天吧,不然我也跟著被他吃掉。」阿公微笑地接著。

後來我們決定走入從剛剛門都還是開著的妹妹房間。阿公坐在妹妹的床上。而我開始幫忙撿妹妹滿地的畫具。

「妹,過來吧。坐在阿公旁邊。阿公知道,妳正需要依靠的肩膀。」阿公溫柔的呼喚。二話不說,妹妹直奔向阿公,抱著他哭泣。阿公溫柔的摸著那明年將畢業的高中生。

「現在阿公想問妳,為什麼你要當畫家、為什麼反對做醫生呢?」阿公問妹妹。

妹妹在哭泣間回答著:「我想當畫家,因為對我來說,畫畫時我可以抓到心中在媽媽離開時被奪走的快樂。我感覺到當刷子刷在帆布上時,我離媽媽還有上帝更近。畫畫是我的生命。還有我不想拿我的生命換來一張總會遺憾著病人逝去的執照。我想要將我的心從這個生命的監牢釋放出來。而我唯一可以做的方法就是畫畫。」

阿公深呼吸,兩手摸著妹妹的肩膀。

「所以妳的意思是,阿公每三個月去看的醫生,是在用阿公隨時會死去的可能性讓他們不安,是嗎?」
「阿公,我不是那個意思,我只是……」妹妹還沒結束她的句子,阿公接著說。
「看看Nisa吧,問她去國外念書是她的選擇嗎?她的生命?夢想?不是。她從來沒有想要過,但她想要不離開她的夢想,改變家人的生活。」
「什麼意思?」妹妹好奇的問道。

一邊收拾著妹妹的畫具,我開始了話題。

「妹,想聽我說一下我的生活嗎?」我問著妹妹,而她點點頭為了知道答案。

「因為妳比較少在客廳聚,妳不知道並不奇怪。我是兩個兄弟姊妹的長女。其實是三個。但上帝很愛我的妹妹。所以她在六年前被叫回去。三年後,我爸爸跟著她。那時的我跟妳一樣大。我必須把我念大學的夢想埋起來。我非常想念傳播的學士,在出版社工作,被第一手的高品質書籍圍繞著,那就是我的夢想。但是,現實狀況讓我需要再重新想。規劃我妹妹的未來,需要不少的學費讓她念完高中。那時她才小學三年級。我下定決心去國外工作讓我能負擔得起妹妹和弟弟的學費、家庭的生活費、還有能夠自己存錢,希望將來上帝允許我實現夢想。有一位印尼作家深深的影響我,Andrea Hirata(安卓亞.西拉塔)。在她“Laskar Pelangi”(《天虹戰隊小學》)一書中,有一句讓我醒來、建立新的路實現夢想。妳知道是什麼嗎,妹妹?」

妹妹搖著頭,擦著仍流下來的眼淚。我繼續我的故事。

「要有如天高的夢想,因為上帝會抱著妳這些夢想。然後,我現在就是這位健康又帥氣阿公、坐在妳隔壁的看護。」我們一起笑了。

「那妳的夢想呢,姊?」妹妹好奇的問。

「夢想?恩….. 我改了它。從想要當編輯,我現在努力成為作家。在這個家庭的忙碌中,若有空的話我都會將我腦中的想法寫下來。我的第一個作品,憑著試試看的想法寄給在台灣的印尼雜誌,結果在下一集就刊登了。我的心充滿了喜樂。上帝正在用新的方式擁抱著我的夢想。從此以後,我從未停止寫作,我也能夠將我的媽媽以及妹妹、弟弟的笑容畫下。為什麼我們需要選擇,如果兩個能同時進行,雖然是不同的方式。在親人的快樂當中微笑,不是比自己做還要快樂嗎?」

我靠近妹妹還有阿公。我的眼睛摸索著那被白牆圍著的房間。我抓到了一張半禿頭男人的海報。

「妹,那不是Pablo Picasso(畢卡索)的海報嗎?」我問著妹妹。

「姐姐知道他嗎?他是我最崇拜的藝術家。我非常欣賞他的作品「哭泣的女人」。他作品的每一刷都如此的聰明,有著充滿想像力的畫風和對外界的敏感度。他真的是最棒的畫家。」妹妹充滿活力的解釋。

「聽我說。我對於畫沒那麼有興趣,但我讀過畢卡索的故事。有一件事讓我對他很佩服。他說的:「如果我要畫一個杯子,我會讓你看到它是圓的。但是那是多麼的平凡,而我的結構顯示出圓形是一種正方形。」妳也可以像畢卡索。你可以改變妳對於醫生的看法。一位醫生可以拯救別人,給那些有健康問題的人們希望,不管多嚴重。他們讓病人相信,希望是存在的,永不放棄。戒掉不該做的,準時吃藥,可以給予新的希望。等著上帝抱著那個希望。你可以同時成為醫生又成為畫家。妳兩個都可以做,只是方式有點不同。」

「我要怎麼辦的到,姊?在我成為醫生時,我一定會缺乏休息時間,所以一有空一定會拿來休息。我怎麼可能兩件事情都做?」

「當然可以。當你成為醫生後,將上帝的畫像畫在妳的病人上。但,不是在帆布上,而是在他們的希望上。讓他們相信他們會痊癒,只要不放棄向上帝祈禱。我之前說過了不是嗎,在人群的快樂中的笑容並且成為別人微笑的原因,是件美麗的事情,比起在妳自己的夢想中微笑著。」

妹妹笑得很開心,我在她的眼神中找到了一股衝勁。妹妹漸漸地幫助阿公從站起來並帶領著他走向我。

「阿公,Nisa姊姊,我已經知道我未來要走的路了。現在你們先出去吧,明天早上我會在飯桌上宣布。早餐不要遲到喔,如果7點爸爸還沒起床要記得叫醒他,好好休息吧,掰掰。」

我和阿公被妹妹180度的瞬間態度轉換感到稀奇。我的腦海被一堆讓我自己害怕的問題纏繞著。明天7點,跟剛剛兩小時前吵架的先生還有妹妹?天啊,希望沒有壞事發生。

##

烤麵包,各種果醬以及4杯牛奶已被我安頓在餐桌上,先生也在周日早報的陪伴下享用著早餐。妹妹從她的房間帶著晴天般的臉蛋充滿微笑地走出來。

「早安爸爸,早安阿公,早安姐姐。」妹妹一邊向著她的早餐坐著一邊說道。

先生看起來很好奇妹妹突然改變的行為。通常禮拜天10點以後才起來的她,會這麼早起床。

「妳要去哪,這麼早起床?」先生問妹妹。

「爸爸,我要跟你道歉我一直以來的固執。Nisa姐姐讓我大開眼界。現在我知道也已經很確定畢業後要走的路了。我要念醫科,成為一位醫生,讓我能夠把上帝的畫像畫在他們的希望上。還有一個,Nisa姊姊,我拜託妳永遠成為我的姊姊,就算妳未來回印尼、有自己的家庭,請妳不要忘記我們,姐姐是這個家庭的一份子。我知道我們沒有任何血緣關係,但是我相信姐姐是上帝派來的人,幫助我們畫上他的畫像。」

清晰的水珠濕潤了我的臉頰,我沒辦法控制聽到妹妹那番話的感動。

「Nisa,謝謝妳出現在我們的家庭。」先生說到。
「感謝你歸還了我們之間已經遺失很久的的愛與和平。」阿公的話讓這一幕更感動。
「啊,差點忘記了。」妹妹說完跑回她的房間。

五分鐘後她帶著一幅畫出來,將它掛在飯廳的牆上。一幅橙色、綠色、天藍色、以及雲白色的作品。是個在草皮上,有著鬱金香,向著將落日的太陽祈禱的手。她得意地說:

「我常常看到姊姊穿全身白,坐在鋪著一層布的地上祈禱。這是我昨天晚上畫的上帝畫像。」

我們從來不知道明天上帝準備給我們什麼。永不放棄,不要衝動地做選擇。因為,有可能上帝沒有要你選擇,而是要考驗你找到新的一條路來做一件事,同時不用犧牲人生其他的選擇。繼續抱著希望,也將上帝的畫像畫在希望上,等對的時間讓上帝圓夢。

高雄市,27280517


📝 Komentar juriDédé Oetomo

Melibatkan berbagai perasaan dari tokoh2nya. Didaktis. Melibatkan simbolisme yang kaya. 牽涉腳色的感情。教導性。牽涉許多豐富的象徵。

📝 Komentar juriJoy

Cerita ini sangat menginspirasi kehidupan pendatang baru di iwan mau dia buruh migrant atau pun pasangan asing cukup buat menyemangati org asing di taiwan 這個故事非常有啟發性,描述著剛來的移民不管是移工或外籍配偶能夠鼓勵在台外國人

 

發表迴響

你的電子郵件位址並不會被公開。 必要欄位標記為 *