偷竊 MENCURI

 Babak penyisihan 印尼文初選  

📜 偷竊 MENCURI

👤 Sri Retno Yulianti

Thai-thai, majikan wanita berusia 45 tahun itu masih berteriak dengan suara keras memarahi Alung, anak bungsunya yang masih kelas 2 SMP. Sementara Aking, anak sulung nyonya, duduk diam di sebelah adiknya. Beberapa menit lalu, saat membereskan meja makan, sayup kudengar Alung mengatakan jika dia telah kehilangan uangnya sebesar 36 nt, yang diletakkannya di atas meja belajar ketika dia pulang sekolah tadi. Aku menahan nafas, seluruh sendiku lemas. Dengan tangan gemetar kubawa piring dan mangkok masih berisi sisa makanan ke dapur, lalu membereskan meja secepat kilat. Sungguh aku tak ingin ada yang melihat pucat wajahku.

Aku mengerakan tanganku cepat, mengelap lemari dapur setelah semua piring dan mangkok kumasukan ke dalam mesin pengering piring. Hal yang paling ingin kulakukan adalah secepatnya meninggalkan rumah majikanku ini. Gagang pel kuayunkan buru-buru sebelum akhirnya aku benar-benar meninggalkan ruang penuh pekakas makan sambil membawa sisa sayur yang akan kupanasi besok untuk makan siang aku dan akong.

Kulewati mereka di ruang tamu. Thai-thai masih mengomel dengan suara yang sudah sedikit lebih kecil, tak seperti tadi. Sementara siensen duduk menikmati potongan apel dari piring buah di depannya. Kedua sioyek, anak-anak nyonya duduk berdampingan, mematung tanpa ada yang bersuara.

“Aku pulang, wan an,” kataku ketika melewati ruang tamu, berjalan cepat, berharap tak ada seorangpun yang memperhatikan kegugupanku. Menembus udara musim dingin sejauh 200 meter menuju sebuah rumah berlantai satu di ujung jalan. Rumah tua yang kuhuni berdua dengan akong yang kujaga.

Segera sesampai di rumah yang kutinggali dengan akong, setelah memasukan makanan yang kubawa dari rumah majikan ke dalam kulkas, kuhempaskan tubuh di atas kasur lantai di sebelah ranjang pasienku. Akong telah mendengkur keras, menandakan dia sudah tertidur pulas. Ada gemuruh di seluruh tubuhku. Di telingaku terngiang-ngiang suara thai-thai yang berteriak marah tadi kepada Alung. Sementara kedua mataku berembun, dan otakku penuh dengan banyak bayangan yang terus berkelebat bergonta-ganti.

Kemarin siang ketika sedang mengajak kakek berjalan-jalan di depan rumah, tak biasanya aku bertemu dengan seorang rekan sesama penjaga orang tua dari Indonesia. Usianya jauh lebih muda dariku, dia mengenalkan dirinya bernama Asih. Aku telah tinggal di desa ini dari hari pertama sampai di Taiwan, enam bulan yang lalu, namun kemarin adalah hari pertama bertemu dengan seorang teman senegara. Asih menjaga seorang ama di desa tetangga. Cukup jauh jarak yang ditempuhnya. Menurutku dia beruntung karena bisa membawa pasien keluar sekehendaknya, tak sepertiku yang hanya bisa menemani kakek berjalan-jalan di sekitar rumah, itupun waktunya sangat terbatas. Aku sangat takut thai-thai akan memarahiku jika tahu aku dan kakek berjalan-jalan terlalu lama. Asih memberitahuku jika aku berjalan lurus ke balik kebun jeruk yang membentang di depanku sekitar 2 kilometer akan menemukan sebuah kota kecil yang menjual berbagai macam barang, termasuk kartu telefon. Katanya di dekat toko itu ada sebuah telefon umum yang bisa digunakan untuk menelfon ke Indonesia. Asih juga memberiku sebuah kartu telefon yang sudah tak dipakai. Kartu itu bisa kutunjukan kepada laopan jika ingin membeli kartu yang sama bila aku tak bisa bicara pada laopan.

Cerita Asih tentang telefon umum di balik kebun jeruk membuatku berbunga-bunga dan membuatku ingin sekali segera berlari mencarinya. Banyangan akan kerinduan kepada anak-anak yang kupendam sekian lama akan segera sirna. Hampir setahun aku tak bertemu mereka sejak keberangkatanku ke PJTKI. Hanya beberapa kali menelefon dari wartel saja dahulu saat aku masih tinggal di penampungan. Dan setelah aku terbang ke bumi berbentuk seperti daun ini tak sekalipun aku pernah mendengar kabar tentang kedua anakku. Surat yang kukirimkan kepada suamiku sewaktu aku baru seminggu sampai di Taiwan tak pernah ada balasan. Entah surat itu sampai ke suamiku atau bahkan majikanku tak pernah mengeposkannya.

Namun, ada gundah disini. Asih mengatakan harga kartu telefon itu 100 nt sementara aku tak punya uang sebesar itu. Uang berwarna merah yang bertuliskan angka 100 itu saja belum pernah kumiliki semenjak tinggal disini. Aku hanya melihatnya 2 kali saja yaitu ketika agenci datang lalu majikan membayar gajiku. Iya agenciku mendatangi tempat kerjak setiap 3 bulan sekali. Tapi itupun hanya kulihat menumpuk di atas lembaran kertas bersama beberapa lembaran berwarna biru bertuliskan 1.000. Uang tersebut selanjutnya diambil oleh agenci dan kemudian dia mengajakku pergi ke bank untuk membuka rekening. Uang itu semuanya dimasukan ke bank tanpa menyisakan sedikitpun. Penerjemah mengatakan kepadaku kalau majikan akan membelikan semua keperluanku jadi aku tak perlu memegang uang. Biar uangnya ditabung saja katanya. Ah, mengapa aku pasrah saja menerma semua keputusan agen dan majikan. Mengapa aku tak menolak dan meminta hak atas harta milikku. Bukan hanya karena keterbatasan bahasaku namun juga karena rasa takut dan sungkan yang kumiliki.

Dua minggu lalu, ketika sedang memilih-milih sampah daur ulang di halaman yang rencananya akan kubuang di mobil sampah yang lewat, seorang wanita pemulung menghampiriku. Entah apa yang dikatakannya, aku tak mengerti karena dia menggunakan bahasa Taiwan. Dari gerak tangan dan air mukanya aku paham jika wanita itu meminta sampah-sampah itu. Dan kepadanya akhirnya kuberikan dua kantong besar sampah daur ulang. Sebelum pergi wanita itu memberiku 1 keping logam berwarna kuning bertuliskan angka 50 dan 2 keping bertuliskan angka 10. 70 nt itu menjadi uang pertama yang kupegang setelah 6 bulan bekerja. Setelah bertemu dengan Asih kemarin 3 keping logam itu menjadi sangat berharga tapi bagaimana aku mendapatkan kekurangannya agar aku bisa membeli selembar kartu telefon.

Aku bangkit, mengambil air wudhu di kamar mandi. Setelah membasuh muka kutatap wajah di balik kaca. Wajah kusam milikku sendiri. “Kamu harus kuat dan berdiri di atas jalan yang benar, jangan pernah gadaikan imanmu,” kata hatiku.

Kemudian kuambil kain untuk penutup kepala, lalu kugelar selimut di atas kasur lantai tempat tidurku kujadikan sebagai sajadah, alas sholatku. Mukena dan sajadahku telah disita agen pada hari sebelum aku diantar kerumah majikan. “Di Taiwan tidak boleh sholat, sholatnya nanti saja jika sudah pulang ke Indonesia, “ kata penerjemah hari itu. Beruntung aku masih memiliki sebuah kain jarit sehingga bisa kupakai menutup kepalaku jika aku sholat.

Aku sholat lebih khusyu dari kemarin, juga berdo’a lebih panjang dari biasanya. Istighfar telah ratusan kali kubaca, namun hatiku tetap gundah. Air mata mengalir deras membasahi pipi yang diikuti oleh air bening yang mengalir dari kedua lobang hidungku. Aku terus menangis, tersedu-sedu meminta ampunan dari sang penciptaku.

Masih bertudung kain jarit kubuka laci teratas dari lemari besi yang kugunakan untuk menyimpan pakaianku. Pelan kuambil dompet kecil berwarna hitam dengan sebuah resleting. Tanganku gemetar ketika menuang isi dompet itu. Gemerincing logam tumpah ke atas kasur. Aku menahan nafas, berat sekali beban yang menghimpit dada. Kupandangi uang receh itu dengan mata berkaca-kaca. Lalu aku memisahkannya menjadi dua bagian. Yang 3 keping kumasukan kembali ke dompet usang hitam milikku sementara sisanya kuambil pelan-pelan dan kugenggam erat erat sambil terus berucap astaghfirullah. Malam serasa menjadi sangat panjang. Setiap detik yang kulewati adalah sebuah penantian akan pagi yang sangat kurindukan. Rumah majikan menjadi tujuan pertama dari hari yang ingin kulewati besok.

***
“Thai-thai, ada amplop merah berisi uang 7.000 nt di laci ruang tamu rumah akong,” kataku kepada nyonya ketika aku melihat thai-thai masuk ke dapur saat aku sedang menyiapkan makan malam di rumahnya. Kubeikan amplop merah itu kepadanya. “Aku tak tahu itu ada sejak kapan, kubersihkan meja setiap hari namun baru hari ini aku melihatnya,” lanjutku.

“Oh, itu mungkin punya akong, dahulu ketika dia belum sakit, kakak no 1 dan nomer 2 sering memberinya uang.” Thai-thai mengambil amplop itu dari tanganku.

Kutemukan amplop itu tadi siang. Sudah 6 bulan bekerja dan tinggal di rumah akong tentu saja hampir setiap hari kubereskan rumah itu, kuelap dan kusapu setiap sudutnya. Namun baru kali ini aku melihat ada uang begitu banyak terserak di laci, padahal laci itu sudah puluhan kali kubuka untuk menyimpan barang-barang milik akong. Aku yakin keluarga majikanku sengaja menaruhnya disana untuk mengetes kejujuranku. Pasti mereka mencurigaiku yang telah mengambil uang milik Alung seminggu yang lalu. Memang aku telah mengembalikannya diam-diam dengan menaruhnya di atas meja di kamar Alung bukan di atas meja di kamar belajarnya, aku berharap mereka menganggap Alung yang telah lupa dimana menaruhnya.

Menemukan uang sebesar 7.000 nt dalam amplop merah di rumah akong kembali membuatku gelisah sepanjang hari ini. Waktu seolah berjalan sangat lambat ketika kutunggu jam 3 sore, dimana aku biasa membersihkan rumah majikan dan menyiapkan makan malam mereka. Harus kukatakan kepada thai-thai tentang uang di amplop merah itu, agar mereka tak mengaggapku ringan mengambil milik orang lain. Kepercayaan kepadaku harus kukembalikan. aku tidak ingin bekerja namun tanpa mandapatkan kepercayaan.

Dua hari lalu pun ketika aku menjemur pakaian di rumah majikan, di dalam mesin cuci juga kutemukan 2 lembar uang berwarna biru. Beruntung ketika menjemur baju aku dibantu oleh Aking sehingga langsung ku bilang kepadanya bahwa ada uang yang ikut tercuci. Setelah ku renungkan, uang itu pasti sengaja di masukan sebab jika bukan kesengajaan, maka lembaran uang itu akan basah dan menempel di saku celana. Ini pasti disengaja karena uang itu ada di luar saku diantara baju-baju. Kemarin itu aku sudah mulai merasa aneh, terlebih dengan ditemukannya amplop merah pagi ini.

Aku terus berfikir bagaimana cara mengembaikan kepercayaan mereka. Apakah aku harus mengakui dan mengatakan kepada mereka atau aku diam dan membiarkannya saja, yang penting aku tak mengambil apapun. Sepanjang hari aku terus gelisah sampai aku memberikan amplop merah kepada thai-thai. Namun aku hanya bisa pasrah pada keadaan tanpa berusaha mengembalikan nama baikku.

“Ami, berapa anakmu?” tanya thai-thai ketika dia sedang mengeluarkan sayuran dari kulkas.

“Dua,” jawabku singkat. Tak biasanya thai-thai menanyakan hal-hal pribadiku. Aku ingat sejak bekerja hanya sekali aku ditanya tentang diriku dan keluargaku, yaitu ketika aku baru sampai di rumah ini. Itupun agen yang menanyaiku di hadapan majikan, bukan majikan yang bertanya. Ketika itu juga agen menyuruhku menulis surat untuk keluarga di Indonesia dan menyuruhku memberikan kepada majikan, nanti majikan yang akan mengeposkan katanya.

“Kamu rindu kepada mereka?” tanya thai-thai lagi.

Aku bukannya menjawab tapi malah sibuk membuang muka, membelakanginya dan berpura mencuci sayuran, menyembunyikan air mukaku agar nyonya tak melihat aku menangis. Mungkin karena kerinduan yang sudah membuncah, maka tangisku langsung pecah ketika ditanya tentang anak-anakku. Namun aku masih berusaha menyembunyikan tangisku karena ingat betul sewaktu di PT dulu, louse selalu mengatakan kalau orang Taiwan itu benci dengan orang yang menangis, maka jangan sekali-kali menangis dihadapan siapapun di Taiwan. Kata-kata louse seakan terpatri kuat di ulu hati. Dan selama ini aku telah berusaha sekuat daya untuk tak menjatuhkan air mata kecuali di atas bantal dan di tas sajadah jika aku sholat.

“Ami, kenapa kamu, kok kamu menangis?”

Rupanya dia mendengar suara isak yang berusaha kusembunyikan. Aku tetap membelakanginya, tidak mungkin kubiarkan dia melihat anak sungai di pipiku. Aku bisa dipulangkan karena aku menangis jika dia melihat air mataku. Aku harus menyembunyikannya.
Tapi tiba-tiba thai-thai sudah berdiri disampingku, sejajar, hanya berjarak satu jengkal saja.

“Aku bertanya tentang anakmu, dan tiba-tiba kamu menangis. Apakah kamu rindu mereka?”

Kuanggukan kepala tanpa bisa mengeluarkan kata sepatahpun. Perjuanganku menyembunyikan tangis sia-sia sudah. Bayangan kalimat yang diucapkan oleh louse di depan kelas menjadi batu basar yang menghimpit dadaku,juga menjadi pendorong derasnya air mata yang turun. Selesai sudah semuanya. Aku mungkin akan segera dipulangkan karena kelemahanku.

“Mengapa kamu tidak mengirim surat atau menelefon mereka?” Thai-thai kembali bertanya. Pertanyaan yang aneh sekali, bukankah dia tahu kalau semua uangku sudah agen masukan ke bank tanpa disisakan sedikitpun. Aku hanya menggeleng. Lagi pula seandainya aku punya uang pun, bagaimana aku bisa menelefon kalau setiap hari aku hanya berada di rumah ini tanpa pergi kemanapun.

“Apa kalau setelah gajian kamu pergi ke bank bersama agency, kamu tidak menelfon keluargamu?”

Mendengar pertanyaan itu aku mengalihkan pandanganku dari sayuran yang sedang kucuci, kuberanikan diri menatap nyonyaku. Lalu dengan terbata kukatakan bahwa agency tak memberiku uang, semua uangku ditabungnya. Agen bilang semua kebutuhanku akan dibelikan oleh majikan jadi aku tak perlu memegang uang. Kulihat nyonya mengernyitkan kening seakan dia sedang mengingat sesuatu.

“Kapan kamu akan menelefon ke Indonesia? Aku antarkan kamu ke telefon umum.”

“Thai-thai, benarkah?” Aku terperanjat seakan tak percaya mendengar apa yang baru saja thai-thai katakan.

“Iya. Kuantar kamu menelfon ke Indonesia.”
“Nanti malam saja, setelah makan malam. Terima Kasih, Thai-thai.” Hampir saja kupeluk wanita paruh baya di hadapanku itu karena aku gembira, namun niat itu kuurungkan karena sungkan.
***

Menelfon keluarga di Indonesia membuatku begitu bahagia. Seperti kemarau bertahun-tahun yang telah terhapus oleh hujan sehari. Walaupun aku hanya bisa mendengar suara suamiku beberapa menit dan suara anak-anak beberapa patah saja tapi itu sudah mampu membunuh ratusan malam yang telah kulewati dengan air mata kerinduan. Sebenarnya aku masih sangat ingin menyambungnya lagi. Tapi bicara sekitar 10 menit saja sudah menghabiskan uang 200 nt untuk membeli 2 lembar kartu telfon. Mungkin karena ini pengalaman pertama menelfon ke Indonesia makanya tadi juga banyak menghabiskan uang tanpa tersambung dengan telfon suami.
Bahagia sekali mendengar kedua anakku sehat dan pintar. Ada begitu banyak yang ingin kami ceritakan tapi ternyata begitu mahal biayanya. Namun pada suami tadi sempat kutanyakan tentang surat yang kukirimkan sewaktu aku baru sampai di Taiwan. Kata suami surat itu telah diterimanya namun alamat pengirim menggunakan huruf-huruf yang tidak dimengertinya sehingga dia tidak bisa menuliskan alamat ketika akan membuat surat balasan terlebih kemudian amplop itu rusak tercebur ke air ketika dibuat mainan oleh si bungsu sehingga tak bisa digunting untuk ditempelkan. Suami menunggu surat berikutnya dariku namun ternyata aku tak pernah mengirimkannya lagi. Andai saja aku menulis surat lagi tentu hatiku tak tercabik menahan kerinduan yang menggunung berbuan-bulan. Dan aku tak perlu mencurigai majikan telah tidak mengirimkan suratku.
Di dalam mobil yang dikemudikan oleh Thai-thai, dalam perjalanan pulang aku mengucapkan terima kasih telah mengantarkanku menelfon juga mengirimkan suratku dulu. Dia tersenyum melihat kebahagiaanku dan menyuruhku menulis surat lagi agar bisa berkomunikasi dengan keluarga lebih sering dan murah. Thai-thai juga menyuruhku menuliskan nomer telfon rumahnya agar suamiku bisa menghubungiku jika memang sangat mendesak.
“Pasti akan kubantu kamu mengeposkan suratmu, Ami,” katanya meyakinkanku.
“Xie-xie, Thai-thai,” Kukatakan kalimat terima kassih itu entah berapa puluh kali.
Melihat kebaikan majikan wanita kepadaku, serasa ada yang memberiku keberanian untuk mengembalikan citra buruk yang telah kuperbuat. Dengan bibir gemetar kuakui kesalahanku yang telah mengambil uang di meja belajar Alung. Aku juga mengatakan alasanku mengambil uang itu, semata-mata adalah karena kerinduan kepada keluarga sementara aku tak tahu harus berbuat bagaimana untuk mengatasinya. Juga tentang kegelisahan dan ketakutanku sepanjang malam setelah mengambil uang tersebut sehingga kemudian mengembalikan pada hari berikutnya.

Air mataku meleleh ketika menyusun kalimat dan mengatakan terbata-bata kepada thai-thai. Tak bisa kukuasai kesedihan dan kegembiraan yang bercampur baur di dalam dadaku. Dan puji syukurku kepada Nya karena kemudian thai-thai mengatakan jika dia sudah tahu kalau aku telah mengembalikan uang tersebut dan dia juga telah memaafkanku.

Kutatap lampu merkuri di pinggir jalan dalam perjalanan pulang. Lampu-lampu itu memberikan cahaya terang di kebun jeruk yang di belah oleh jalan beraspal, jalan yang tak ramai dilalui kendaraan. Mataku masih merah, juga sisa ingus tangisan masih tersisa di hidungku namun tak lagi menyumbat dadaku. Thai-thai sambil mengemudikan mobilnya mengajakku mengobrol dengan bahasa dan kosa kata sesederhana mungkin agar aku mampu memahaminya.

Selesai


📜 偷竊 MENCURI

👤 Sri Retno Yulianti

太太,這位45歲的雇主還在大聲責罵阿隆,她那位讀國二的小兒子。夫人的長子安靜地坐在他弟弟旁邊。幾分鐘前,我整理飯桌時隱約聽到阿隆說他放學回家把36元放在書桌上卻不見了。我憋著氣,整個關節軟了起來。以發抖的雙手拿起裝滿廚餘的盤和碗前往廚房,然後快速的整理飯桌。我真的不想讓任何人看到我發白的臉。

我快速把盤和碗放入餐具烘乾機後把廚櫃擦一擦。我現在最想做的就是趕快離開雇主的家,快速將拖把搖擺幾下,我趕緊拿起剩下將成為我和阿公午餐的菜,離開那擺滿餐具的空間。

我經過客廳,太太的聲音有比剛剛稍微小了一些。先生在坐著享受他前方的蘋果,夫人的兩個孩子並肩坐在一起,沒有聲音。

「我先回去,晚安。」我經過客廳的時候說,腳步加快,希望沒有任何人發現我的緊張。穿過冬天寒冷的天氣,大約走200米才到達位於路盡頭的一棟一層樓房子。那是我和我照顧的阿公居住的老房子。

回到我和阿公住的地方,把剛剛從雇主家帶回來的食物放進冰箱後,我便躺在阿公旁邊的床,阿公已經在大聲打鼾了,代表他已經熟睡。我感覺到周圍轟轟作響,耳邊振盪著剛剛太太罵阿隆的聲音。我的眼眶開始泛淚,腦海不斷出現許多畫面。

昨天中午在我和爺爺在附近散步時,遇到了同樣來自印尼的看護。她年紀比我小,名叫Asih,我住在這個小鎮大概有六個月之久,從第一天抵達台灣到現在,昨天是第一次遇到來自同一個國家的同胞。Asih在另一個鎮照顧阿嬤,到我這邊有一段距離,我覺得她還滿幸運的,可以隨心所欲地帶她照顧的阿嬤到她想去的地方,不像我只能帶阿公在家附近繞一繞,時間也被限制。

我擔心太太知道我帶阿公晃太久會責罵我,Asih告訴我一直直走往柑橘園大約2公里,會看到一個賣許多東西的小商店,包含電話卡。她說那家店附近有個電話可以打通到印尼,Asih把她已經沒有用的電話卡給我,萬一購買時我不能流利的和老闆溝通,可以指那張卡給老闆看。

Asih分享給我關於公共電話的訊息,讓我歡天喜地的想趕快奔跑前往那裡。我對孩子們的思念終於得以宣洩。自從我來到印尼人力資源服務公司(PJTKI),已經快接近一年的時間沒見到他們了,還在人力資源公司的時候可以通幾次電話,直到我飛往在地圖上如葉子形狀的地方後,便沒聽過我兩個孩子的消息了。我在台灣的第一個禮拜寄給老公的信從未收到回覆,不知那封信已經到我老公手上,還是雇主從來沒把它寄出去。

但是我心裡還是很不安。Asih告訴我電話卡要100元,但我身上沒有那麼多錢。那張紅色寫著數字100的鈔票,我在這裡這段期間從來沒有擁有過。我只看過兩次,就是當仲介來時,雇主付我薪資的時候。沒錯,我的仲介每三個月來一次,可是那時候也是把紅色鈔票與幾張藍色寫著1000元的錢疊在一起,後來仲介帶我去銀行開帳戶,把那筆錢存起來,通通都存進帳戶裡,完全沒有留幾張現鈔給我。

翻譯員說雇主會提供給我所有的生活必需品,所以我不需要持有現金,那筆錢就存著。哎,我怎麼就這樣接受仲介和雇主的決定,為何不拒絕並要求我該有財產的權利呢?我想可能不僅是語言上的限制,或許也是因為我心裡的害怕與客氣。

兩週前,我正在分類垃圾要把它丟進經過的垃圾車時,回收阿姨突然靠近我。我聽不懂她在講什麼,因為她用台語跟我說話,但從她的手勢姿態和臉上的表情,我大概了解她正在對我要回收垃圾,後來我拿給她兩大袋,離開之前她給我一個黃色寫著50,以及兩個寫著10的銅板。那70元是我在台灣工作六個月後第一次拿到真實的「錢」。在遇到Asih之後,這三個銅板變得非常寶貴,但我該怎麼補尚缺的錢,才讓我可以買下那張電話卡呢?

我站起來,準備清洗做膜拜。洗臉後我對著鏡子看見自己枯燥的臉。「妳一定要堅強走在正確的道路,千萬不要抵押自己的信仰。」我心裡說著。

我拿起布包住我的頭,把棉被墊在我睡的床上,當作膜拜的毯子。我的膜拜設備在我被送到雇主家之前全被仲介沒收。「在台灣不可以膜拜,等回去印尼之後再進行膜拜。」 翻譯員在當天就這麼說,幸好我還擁有一塊布在我膜拜時可做為頭巾。

今天的膜拜比昨天更深入一些,也比平常長了一些。念了幾百遍的Istighfar(向阿拉求助或求饒的詞)但心裡還是很不安。泣如雨下,加上一直流鼻涕。我一直哭,向造物主懇求饒恕。

穿著齊全的膜拜設備,我打開鐵衣櫃裡最上方的抽屜,拿起黑色小錢包,以發抖的雙手倒出裡面的東西。閃亮的銅板。我深呼吸,胸口感到喘不過氣。我含著眼淚,凝視那些銅板,把它分成兩部分。三個銅板我把它放回已老舊的黑色錢包,剩下的我緊緊握住邊不斷念著astaghfirullah(向阿拉求助或求饒的詞)。似乎是一個漫長的夜晚,每一秒鐘都是我期待著的早晨,但去雇主家是我明天最想跳過的事。

***

「太太,有個裡面裝7000元的紅色信封在阿公家的客廳抽屜。」當我看到太太前往廚房而我在準備晚餐的時候,趕緊對夫人說。我把紅色信封拿給她:「我不知道那是什麼時候開始有的,我每天清理桌子,只有今天看到。」 我繼續說。

「喔,那可能是阿公的,之前他還沒生病的時候,兩個孩子常給他錢。」太太從我手上拿起那信封。

我是中午發現信封的。在這工作六個月,幾乎每天都會打掃家裡,擦抹及打掃每個角落。但這是我第一次看到在抽屜放這麼多的錢,明明那個抽屜我每天都會打開存放阿公的東西。我相信我家雇主不會故意把那筆錢放那來測試我的誠實,他們一定在懷疑我上禮拜偷走阿隆不見的錢,的確,我把錢放回阿隆房間桌子,而不是放到他自習室桌子,我希望他們認為是阿隆自己忘記把錢放在哪裡。

在阿公家發現裝在紅色信封的7000元,讓我一整天坐立不安。我都會先打掃雇主的家,準備完他們的晚餐後才回阿公家。時間過得如此的慢,我希望下午3點趕快到來。我一定要跟太太說關於信封的事,讓他們不要誤會說我是輕易拿別人家東西的人,我一定要還原他們對我的信任,我不希望在這裡工作卻沒得到他們的信任。

兩天前我在雇主家曬衣服的時候,在洗衣機裡也發現兩張藍色的鈔票,幸好那時候阿欽正幫我曬衣服,所以我直接跟他說我發現了錢。現在回想起來,那個錢一定故意把它塞進去的,若不是故意拿,這兩張鈔票一定會濕掉並且黏在褲子口袋裡。這一定是故意的。從昨天我就已經覺得很奇怪,加上今天早上紅色信封這件事。

我一直想該如何還原他們對我的信任。難道我必須承認、跟他們說實話,或著默默地讓它過去呢?因為我完全沒有拿任何的東西。我整天坐立不安,一直到我把紅色信封拿給太太。但我只能認命,沒有做任何恢復我名譽的行動。

「Ami,妳有幾個小孩?」太太從冰箱把菜拿出來後突然問我。

「兩個。」我簡單回答。太太通常不會問我私事,我記得在工作期間,她只有問過我一次關於我和我家人,那是第一次來到這家的時候,那也是仲介在我雇主面前問的,而非雇主自己問的。當時也是仲介叫我寫信給印尼的家人,並且叫我把它拿給雇主,由雇主幫忙寄出去。

「妳想念他們嗎?」她繼續問。

我不回答,轉身背對她假裝洗菜隱藏我的臉,好讓夫人看不到我在哭的表情。可能因為思念情緒太濃烈,所以當我被問起關於孩子的事,我的眼淚經常直接流出來。但我努力不讓她看見我在哭,因為我記得以前在公司的時候,老師常跟我說台灣人很不喜歡哭泣的人,所以千萬不要在他們面前落淚,老師的話烙印在我心裡。而我一直努力不掉眼淚除,非在枕頭或膜拜時候。

「Ami,妳怎麼了,怎麼哭了?」

原來她聽到我隱藏的啜泣聲。我依然背對她,我不可能讓她看見我淚流滿面,我可能會因為這樣而被遣返,所以我必須把情緒隱藏起來。

但太太突然站在我旁邊,很靠近,只差一張手的距離。

「我問妳的孩子們,妳卻突然哭了。妳想念他們嗎?」

我點點頭無法說出話來。努力隱藏的眼淚還是被發現了,我想起老師所講的話,這加重我心裡那塊大石頭的重量,也是加速我落淚的動力。這一切都完蛋了。我可能因為自己的脆弱隨時被雇主遣返回去。

「妳為什麼不寄信或打電話給他們呢?」太太回問。很奇怪的問題,她不是一直都知道仲介把所有的錢存到銀行裡,完全不留一點給我嗎?我只是搖頭。其實就算我有錢,我每天都待在家裡沒有去任何地方,我要怎麼打電話。

「妳每次領薪水去銀行的時候,都不順便打電話給家人嗎?」

聽到那問題我從正在切的菜轉移視線,鼓起勇氣凝視夫人。我結巴的對她說,仲介沒有把錢給我,所有的錢都存在銀行。仲介說我所有的必需品或其他東西,雇主會幫我提供,所以我不用持有現金。我看著夫人皺著眉頭正想著某事情似的。

「妳什麼時候要打電話回印尼?我送妳到公共電話打。」
「太太妳認真的嗎?」 我不敢相信太太剛剛所說的話。
「對呀。我送妳過去讓妳可以打電話回印尼。」
「好,今天晚上,吃完晚餐再去。謝謝,太太。」我差點想把我前面的這位中年婦女緊抱住,因為太高興,但我還是克制了,因為不太好意思。

***

打電話給印尼的家人讓我十分興奮。就如多年的乾旱終於被一天的雨水沖洗一般。雖然我只能與老公講幾分鐘、與孩子們講一兩句的話,但那已經足夠我療癒幾百天夜晚思念的痛苦。其實我想繼續聊,但電話費大約打10分鐘就已經用掉兩張電話卡,花了200元。可能是因為我第一次打回去,導致花了不少錢,剛剛有好幾通打給老公的電話都打不通。

聽到我兩個孩子的聲音健康又開心讓我十分欣慰。有很多事情想要跟他們分享,但發現電話費實在太貴了。剛剛有跟老公稍微提到關於書信的事情,但因為發件人的地址是他看不懂的字,導致他沒辦法傳回那封信,再加上後來那信封被最小的孩子玩一玩不小心掉水裡,於是無法再看清楚了。

我老公一直期待我另一封信,但我後來都沒在寄了。假如我再繼續寫的話,我的心裡就不會因為思念而這麼難受,我也不用懷疑雇主有沒有把我的信送出去。在太太載我回去的車上,我感謝她帶我來打電話且把我之前的信送出去。她微笑地看我並叫我再寫信給家人,除了可以保持聯繫,費用也較便宜。太太也叫我抄她家裡的電話號碼,這樣我老公有急事的時候可以聯絡到我。

「我一定把妳的信寄出去的,Ami。」她保證。
「謝謝,太太。」我說那句說了好幾十遍。

看到雇主對我這麼好,讓我有信心可以恢復我的壞形象。我以發抖的嘴唇承認偷拿阿隆放在桌上的錢。我也解釋拿那筆錢的原因,因為我真的非常想念家人,但卻找不到什麼好辦法,我也有說拿了那筆錢後整夜心裡的不安,導致我隔天就直接放回去。

當我結巴的對太太解釋每一字每一句時,我眼淚便流了下來。難過及開心在胸口混在一起。我也感謝阿拉,因為太太突然跟我說她知道我已經把錢還回去,而且她也原諒我了。

我凝視著沿回程路上的路燈。那些燈照亮被柏油路切割的柑橘園,一條少數車輛會經過的路。我的眼眶泛紅,鼻子塞著鼻涕,但我心胸輕鬆多了。太太邊開車邊用簡單的詞與我聊天,可能讓我可以聽得懂吧。

結束

One thought on “偷竊 MENCURI

  1. Bahasa nya mudah dimengerti,ada nilai positif yang bisa diambil dari cerita tentang sebuah kejujuran

發表迴響

你的電子郵件位址並不會被公開。 必要欄位標記為 *