堅持 PENDIRIAN

 Babak penyisihan 印尼文初選  

📜 堅持 PENDIRIAN

👤 Irnelya Sari

Pukul 06:25.

Ketiga anak lelaki nenek sudah berkumpul di rumah pagi itu. Aku memang menelepon anak tertua karena suhu badan Ama (panggilan untuk nenek) mencapai 39 ℃ semalam.

Bīng zhěn atau bantal es masih terpasang di kepala nenek berusia 91 tahun itu. Bersyukur panas tubuhnya turun saat ketiga anaknya berkumpul keesokan harinya. Aku paham kesibukan mereka sehingga kurang tanggap ketika ibunya membutuhkan pertolongan. Apalagi saat tengah malam. Karena alasan itu pula aku berada di sini.

“Ya sudah, karena nenek tidak ada masalah. Aku harus segera ke kantor karena masih banyak yang harus aku selesaikan,“ ujar anak kedua.

“Hǎo, xièxiè,” ucapku singkat.

“Kalau ada apa-apa hubungi kakak tertua saja,” tambahnya pula. Aku hanya mengangguk mengiyakan sambil melirik ke arah anak tertua yang terlihat aneh hari ini. Lǎo ér berlalu meninggalkan Lǎo Tà dan Lǎo Sān.

“Ali! Kenapa kamu berdandan aneh seperti itu?” tanya anak tertua yang aku panggil Dàgē.

Aku menatap ke arahnya dan Lǎo Sān bergantian dengan tatapan bingung. Dari sekembalinya aku cuti seminggu yang lalu, aku memang memutuskan berhijab. Dan selama seminggu itu pula aku tak pernah bertemu dengan Dàgē , karena gilirannya mengurus nenek masih seminggu lagi. Ketiga bersaudara ini memang bergiliran mengurus nenek, berurutan seminggu sekali dari anak pertama sampai ketiga.

“Apakah Lǎo Sān belum memberitahukannya padamu?” tanyaku sekaligus meminta pembelaan dari adiknya yang sudah aku mintai ijin sebelumnya.

“Sudahlah Dàgē, hanya pakaian saja kok dipermasalahkan!” kata Lǎo Sān mencoba memberi pengertian.

“Masalah pakaian saja apanya? Jika sudah memakai pakaian seperti ini dia sudah merupakan bagian dari Islam yang ekstrem! Toh dia bisa memilih untuk berpakaian seperti dulu tapi tetap melakukan ibadah. Iya kan?” tanyanya.

“Kamu juga tentu tahu kan sikap pembantu Tuan Wong tetangga kita dan teroris yang membunuh banyak orang di mana-mana?” ujarnya kepada adiknya dengan sedikit menekankan suaranya.

Aku yang tadinya duduk di ranjang di samping Ama, beringsut memepet tembok. Ada perasaan takut tiba-tiba menyusup dalam hatiku mengingat betapa teroris telah membuat nama Islam bukan saja tercoreng, tapi seperti kehilangan kemuliaannya.

Sewaktu di PJTKI saja kita sebagai calon TKI tidak diperbolehkan membawa mukena dan implik-impliknya sebagai penunjang kegiatan ibadah.

“Ini peringatan untuk kalian semua yang akan berangkat, ya. Kalau masih bandel penerbangan kalian akan kami cancel!”

Dulu, mukena seperti barang haram ketika kita memutuskan menjadi TKI di Taiwan. Alasannya takut Akong-Ama jantungan lah, apalah. Entahlah!

“Tapi ini kan kontrak keduaku. Mungkinkah aku akan dipulangkan hanya gara-gara hijab?”

Berbagai pertanyaan berseliweran di benakku saat itu. Antara takut, bingung, dan ingin berontak menjadi satu.

Teringat juga janji kepada seseorang yang ingin aku jaga perasaannya, yang harus aku dengar segala ucapannya, dan menjalankan ijin yang telah diberikan sebaik-baiknya. Dia adalah suamiku.

Ya Allah!

Nama-Nya-lah akhirnya yang aku sebut dalam hatiku. Terus dan terus tiada henti, agar aku diberi kekuatan untuk menghadapi semua ini.

“Benarkah seperti itu Ali?” tanya Lǎo Sān menyadarkanku dari lamunan. Dari nada bicaranya, sepertinya ia termakan omongan kakaknya.

“Tidak, Sān Gè! Seperti yang sebelumnya sudah aku ceritakan padamu, menutup aurat bagi perempuan Islam yang sudah dewasa adalah wajib hukumnya. Bukankah Anda juga tahu kepulanganku kemarin untuk menikah? Dulu, sewaktu aku belum bersuami tak ada yang mengingatkan aku karena orang tuaku sudah tiada. Kini, jika aku menunda menutup aurat, akan ada 2 lelaki yang menanggung dosa-dosaku. Yaitu ayah dan suamiku. Aku tak mau melakukannya untuk ayahku yang sudah tiada. Karena dalam ajaran agamaku, jika ada perempuan dewasa dan tidak menutup aurat maka dosa-dosanya akan terus dialirkan ke ayahnya sampai ia menutupnya.”

Dengan terbata-bata aku mencoba menjelaskan apa yang aku mengerti. Kerongkongan ini terasa tercekat karena perasaan takut dan tangis yang menyesaki tenggorokan. Tapi aku harus berusaha. Walaupun nantinya mereka memulangkan aku, paling tidak aku sudah berjuang untuk sebuah keyakinan. Itulah akhirnya keputusan yang aku ambil.

Entah karena memahami ucapanku, atau karena jam kerja sudah menunggunya, anak tertua nenek pamit dengan muka masih cemberut. Adiknya yang masih berada di kamarku hanya bisa menahan kekecewaan dengan senyum yang dipaksakan ke arahku.

“Jangan pedulikan dia. Jalankan saja apa yang menjadi keyakinanmu,” katanya menenangkan.

“Maafkan aku,” ucapku sambil tertunduk lesu.

“Sudah jangan dipikirkan. Nanti malam aku balik lagi ke sini. Sekarang masih ada urusan yang harus aku selesaikan,” pamitnya sambil menepuk bahuku menenangkan. Aku hanya menjawab dengan anggukan.

“Alhamdulillah!” ucap syukurku dalam hati.

Aku menarik napas dalam-dalam untuk meregangkan kembali syaraf-syaraf otakku. Setelah keduanya menghilang dari pandangan aku kembali beraktifitas seperti biasa. Mengurus nenek dan beres-beres rumah. Aku mencoba tidak memikirkan masalah itu, mengingat dulu Dàgē adalah orang yang sangat baik padaku. Cukup dengan aku membuktikan saja padanya, bahwa ekstrem tidak ekstrem seseorang bukan terletak pada hijabnya.

***

Stroke telah membuat separuh tubuh sebelah kanan dan pita suara Ama terganggu. Meski hanya bisa berjalan dan berbicara sepatah dua patah kata, tetapi Ama adalah orang yang semangat sembuhnya sangat luar biasa. Dia mengharuskan tubuh rentanya memutari halaman sebanyak 10 kali. Meski dihitungan ke delapan sudah sangat kesusahan tapi Ama pantang menyerah hingga hitungan terakhir. Sering aku yang malah terengah-engah karena menahan beban tubuhnya.

Tak jauh dari rumah majikanku, ada Mbak Rita dan Nani yang bekerja merawat sepasang suami istri. Seperti halnya aku, pasien mereka hidup terpisah dari anak-anaknya. Pertemuanku dengan mereka menjadi hiburan tersendiri. Meski jadwal kami bertemu mengikuti jadwal mobil sampah tiba, tapi tak apalah yang penting kami bisa berbagi informasi. Sering aku meminta tolong kirim uang kepada mereka setiap kali majikan sangat lelet ketika dimintai bantuan. Sedangkan bapakku sakit-sakitan.

“Mbak, nanti siang jangan masak, ya. Aku bikin gado-gado. Aku buatkan satu piring buat kamu,” beritahu Mbak Rita ketika kami sama-sama menunggu mobil sampah.

“Aduh merepotkan, nggak?” ucapku basa-basi. Padahal dalam hati aku bersorak gembira karena sudah lama tidak makan masakan Indonesia.

“Nggak lah, kami masak banyak,” katanya pula sambil pamit pulang, karena mobil sampah sudah berlalu.

Tidak seperti aku, Mbak Rita dan Nani bisa memilih sendiri makanan apa yang mereka inginkan. Mbak Rita sudah berpengalaman kerja di banyak tempat, sehingga majikan sangat percaya padanya. Janda beranak dua itu sudah 12 tahun melanglang-buana ke seluruh penjuru Taiwan sehingga penguasaan bahasanya sangat bagus baik Mandarin maupun Hokkian.

Melihat kebebasan mereka berdua, kadang terbersit rasa iri. Mereka bebas beribadah, berpakaian, dan memasak apapun sesuka hati tanpa ada yang mengatur.

Majikanku juga tidak bisa dibilang jahat, tetapi ketika kita selalu bergantung dengan makanan dan cara berpakaian seperti di kampung halaman sana, mereka merasa seperti tidak dihargai.

“Makanlah yang kami beli saja, itu baik untukmu. Berhematlah selagi di sini agar bisa segera membangun impian di kampung halaman,” katanya.

Akhirnya, meskipun hanya sekali-kali memakan masakan dari tetangga cukuplah sebagai pengobat rindu kepada kampung halaman tercinta.

Buah dari kesabaranku merawat orangtuanya, memasuki bulan ke enam mereka mengijinkan aku shalat dan beribadah ke Masjid setiap Hari Raya Idul Fitri.

Meskipun kehilangan sosok ayah, kontrak pertama aku lalui dengan selamat.

***

Di kontrak kedua yang baru seumur jagung ini kondisi Ama sudah jauh menurun. Badannya semakin kurus. Untuk mencerna makanan saja harus melalui bantuan selang.

Sepertinya, nasib baik belum sepenuhnya berpihak padaku. Keadaan ini mencuat sekembalinya aku dari cuti dan memutuskan berhijab. Lǎo Tà atau Kakak Tertua memprotes keputusanku itu. Bagaimanapun aku menjelaskan, dia sepertinya bersikeras menentang perubahan cara berpakaianku.

“Kamu terlihat aneh dengan berdandan seperti itu, aku tidak suka!” serunya keras.

Aku diam.

Kata-kata itu sudah bosan aku dengar, tak ada bahasan lain selain meminta aku melepasnya.

Teringat lagi kepada suami yang memintaku berhijab. Sedih iya pasti. Karena demi mematuhi perintahnya, dalam rentang waktu yang begitu singkat masalah mendatangiku silih berganti. Aku tidak pernah menganggap suamiku pembawa kesialan. Karena aku percaya Tuhanlah yang membolak-balik hati hambanya. Dari yang jahat menjadi baik dan sebaliknya. Semoga Tuhan pula lah nantinya yang akan membalikkan hati majikan dari yang takut menjadi ‘manut’.

Suara lembut penuh kesabaran dari seberang sana, aku ibaratkan sebagai dongeng pengantar tidur yang sangat menentramkan. Aku masih meyakini itu sebuah berkah meski datangnya beriringan dengan ujian yang mematahkan semangat. Ya, dia datang saat bapak dipanggil oleh Yang Maha Pemberi Hidup.

“Assalamu’alaikum, Mas. Apa kabarnya?”

“Alhamdulillah sehat. Sudah makan?” suara di seberang sana.

“Alhamdulillah sudah,” jawabku.

“Syukurlah! Sabar dan ikhlaslah atas apapun yang Allah berikan. Termasuk cobaan,” nasihatnya.

Suamiku, lelaki yang kukenal 3,5 tahun itu bukan orang yang punya segalanya. Dia yatim-piatu sepertiku. Tapi dia punya segudang kesabaran untuk selalu berusaha membesarkan hatiku. Dia pengganti bapak yang dikirim Tuhan untukku. Berbicara dengannya, apapun masalah yang aku hadapi terasa ringan karenanya.

***

Ketidaksukaan Dàgē dengan hijab yang aku kenakan berlanjut hingga tahun keempat aku di sini. Seminggu yang lalu Dàgē mengambil alih tugas mengurus Ama karena ketidaksukaannya itu. Apa yang aku lakukan selalu salah di matanya. Tanpa sepengetahuan kedua adiknya, Dàgē sering tak memberiku makan.

“Ali, selama seminggu ini biar aku yang mengurus sendiri Ama,” katanya sepulangnya dari kantor.

“Terus aku bagaimana?” tanyaku mencari kejelasan.

“Ya, diam!” jawabnya dingin.

“Anda akan tidur di sini juga?” tanyaku memastikan.

Rumah yang aku tempati dengan Ama hanya memiliki satu kamar tidur, satu ruang tamu, satu kamar mandi, dan dapur kecil saja. Keempat anak Ama tinggal terpisah dengan keluarga masing-masing.

“Iya,” katanya pula.

“Apa tugas aku selama tidak merawat Ama?” tanyaku masih belum mengerti.

“Tidak ada. Karena aku tidak akan menggaji kamu selama Ama dalam perawatanku.”

“Termasuk kebutuhanmu silakan kamu pikirkan sendiri,” tambahnya pula.

Aku tertegun sejenak. Bingung memikirkan bagaimana aku memenuhi kebutuhan hidup dalam seminggu yang sebelumnya ditanggung majikan. Sementara aku tak pernah keluar ke pasar. Tapi aku berusaha tenang.

“Apakah aku masih boleh tidur dan mandi di sini?” tanyaku lagi.

“Boleh,” jawabnya singkat.

“Apakah aku akan diperbolehkan merawat Ama lagi saat sudah berganti giliran?”

“Itu perlu kamu tanyakan ke adik-adikku,” jelasnya.

Tidur dan makan di manapun tak jadi masalah bagiku. Tapi kejelasan statusku jika tak merawat nenek, sebagai majikan dia harus memberiku kepastian. Harus ada hitam di atas putih atau apalah bentuknya supaya tidak ada masalah di depan.

“Kecuali kalau kamu melepas hijabmu,” tambahnya memojokanku.

“Apakah Dàgē melihat perubahan sikapku setelah memakai hijab? Tidak bukan? Jika sekarang aku bersikeras tidak menuruti, karena aku ingin membuktikan bahwa aku tetap Ali yang Anda kenal empat tahun lalu.”

Aku merasa perlu menjelaskan jika hijab tak akan mengubah apapun dari perilakuku. Aku mau orang awam tak perlu takut dan selalu menyandingkan teroris dengan Islam. Mereka harus tahu: Islam tak pernah mengajarkan kekerasan!

“Ya tidak juga. Hanya saja hijab selalu mengingatkanku kepada sebuah prinsip hidup yang keras. Kamu tahu pembantunya Tuan Wong? Dia sangat keras kepada orangtua yang dirawatnya,” jelasnya.

“Benarkah? Kalau begitu ijinkan aku pelan-pelan mengubah pandangan tentang ‘keras’ yang Anda maksud,” tegasku.

Semenjak itu Dàgē tak lagi mau berdebat denganku.

***

Di hari ke tiga semenjak perdebatan itu, Ama dilarikan ke rumah sakit. Badan Ama biru-biru karena sesak napasnya kambuh.

Kedua anak lainnya memprotes kakaknya saat mengetahui Dàgē tak mempekerjakanku. Dan dari kemurahan hati keduanyalah aku bisa menyusul Ama ke rumah sakit.

Kuang Tien General Hospital.

Ama terkulai lemas di atas ranjang. Selang yang terpasang di hidungnya dibiarkan menjuntai dalam keadaan terbuka dengan ujung diikatkan ke sebuah kantong keresek. Nenek tua itu muntah-muntah. Susu yang sempat masuk ke lambung dikeluarkan lagi melalui hidung dan mulutnya. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Suhu badannya naik hingga 39℃.

Dari obrolan Dàgē dan dokter aku mendengar bahwa Ama didiagnosa terkena Gastroenteritis atau flu lambung yang disebabkan oleh bakteri dari penggunaan antibiotik yang salah.

Beberapa jam ditangani di UGD Ama kemudian dipindahkan ke ruang resusitasi karena kesulitan bernapasnya. Masih belum membaik, Ama disterilkan di ruang ICU untuk menyelamatkan nyawanya.

“Aku tidak menyangka Dàgē setega itu terhadap Ali. Sekarang kalau sudah begini mau bagaimana lagi?” protes adik ketiga.

Dàgē perlahan menghampiriku.

“Maafkan aku. Karena keegoisanku kemungkinan aku akan kehilangan ibu untuk selamanya,” ucapnya sambil membungkuk 90°.

Dua hari setelah masuk ruang ICU, Ama dinyatakan meninggal akibat komplikasi dan gagal jantung. Aku memilih tidak melanjutkan sisa kontrak kerja atas permintaan suami.

Keras pendirian tidak berarti harus dengan kekerasan. Bila itu terjadi akan ada pihak yang memanfaatkan sebagai ladang adu domba. Mbak Rita seorang muslim yang santun, sehingga majikannya yang sibuk dan tinggal di lain kota mempercayakan orangtuanya padanya. Bukan seperti yang disangkakan majikanku.

Ada banyak jalan menuju Roma, kata peribahasa. Dan dengan cara yang tak disangka-sangka inilah jalan Tuhan mengembalikanku ke pertiwi.

Taichung, 30-Mei-2017


📜 堅持 PENDIRIAN

👤 Irnelya Sari

時鐘 06:25

那天早上奶奶的三個兒子全都在家裡集合。我打電話給奶奶的大兒子,通知他阿嬤(奶奶的稱呼)昨晚體溫上升為39 ℃。

冰枕還在這位91歲的奶奶頭上放著。但很慶幸的,因三個兒子的到來奶奶隔天就退燒了。我了解他們的忙碌導致母親出狀況時不能第一時間到來。尤其在半夜。這就是我必需在這裡的原因。

「先這樣,奶奶狀況好多了。我得馬上去辦公室因為還有很多事情要處理。」第二兒子說道。
「好,謝謝。」我簡單回覆。
「若有什麼事情再通知大哥。」他補上一句。我點點頭並看著今天看起來有點怪的大兒子。老二就這樣離開老大跟老三。
「阿里!妳為什麼要妝扮成這樣?」我稱他為大哥的大兒子問道。

我疑惑地看著他與老三。上禮拜請完假回來,我的確下定決心包頭巾。而在那禮拜完全沒見到大哥,因為輪到他照顧奶奶的時間是下禮拜。他們三兄弟會輪流照顧奶奶,每個禮拜會輪流一次,從老大到老三。

「老三還沒告訴你嗎?」我問著順便以有他允許的權力來幫忙解釋。
「算了啦大哥,只是穿著而已沒必要當一回事!」老三試圖給他解釋。
「什麼只是穿著而已?像她這樣的穿著就已經是極端的伊斯蘭份子了!她可以選擇像以前一樣的穿著同時仍進行膜拜,不是嗎?」他問著。
「你也知道我們鄰居王先生的看護和那些到處殺人的恐怖份子的行為如何?」他語氣強硬的對他弟弟說道。

我從坐在阿嬤床邊漸漸移到靠近牆壁。我心裡感到害怕,沒想到恐怖份子不僅把伊斯蘭的名義破壞掉,同時也把他的莊嚴毀滅掉。

我記得在印尼人力資源公司(PJTKI)的時候,我們也不被允許攜帶膜拜需要的一些設備。

「這是提醒你們出發前的警告。如果還是這麼固執,你們航班就直接被取消不飛了!」

以前,在我們決定到台灣當印尼勞工(TKI)的時候膜拜設備是一種禁止物品。理由是怕阿公阿嬤嚇一跳。或其他我不懂的理由!

「但這是我第二份的合約。難道因為包頭巾的關係而將被遣返回去?」當時我腦海出現好多問號。害怕、疑惑及想反抗的念頭全混在一起。

記得我和我最在乎的人之約定,我最聽他話的那個人,以及信任我能做好任何事情的人。那個人是我老公。

阿拉啊!

我在心裡一直默念祂。連續不斷地默念,讓我可以得到能量來面對這一切。

「真的是這樣嗎,阿里?」老三對我說著。從他的語氣似乎逐漸相信他哥哥了。

「不是,三哥!」
「就如我之前對你說過的,把特定部位遮住對成年的穆斯林女士來說是必須的。你也知道我前陣子回去是因為結婚,以前,在我結婚之前沒有任何人提醒我這件事,畢竟我父母也不在了。如今若我不遮住,將會有2個男人得承擔罪過,我父親和我老公。我不希望已離去的父親承擔這罪。因為在我的宗教教育裡,成年女士若不遮住特定部位的話,其罪過將授於其父親一直到她遮住為止。」

我以斷斷續續的話語試著解釋我所知道的。喉嚨因害怕與傷心而哽咽。但是我必須堅強。就算最後他們把我遷返回去,至少我已經為我信仰所堅持。因此我這麼堅定地下定決心遮住身體。

不知因為聽懂我的解釋或因為工作時間到了,奶奶的大兒子皺眉苦臉地離開了。他弟弟還在我房間只能露出失望和勉強的笑容看著我。

「不用理他。就堅持你的信仰。」他安慰地說著。
「對不起」我低著頭說道。
「算了不用想太多。我晚上回再過來這裡。現在得先離開處理事情。」他邊拍著我肩膀安慰著。我點點頭。
「Alhamdulillah!」在心裡感恩地默念著。

我深呼吸讓腦部神經放鬆。兩兄弟離開後我便開始做我的工作。照顧奶奶、整理房子。我試著不想那些事了,因為我知道大哥人以前對我蠻好的。我只要證明給他看伊斯蘭的極端或不極端不是從遮住身體這行為來判斷。

***

中風已經把阿嬤右邊的身體和聲音改變了。雖然走路慢慢地、說話結結巴巴,但阿嬤對於自己的好轉卻是信心滿滿。她每天都將自己的全身動起來,例如在操場上繞十圈。有時看她繞到第八圈的時候已經覺得不行了,但阿嬤不會輕易放棄,她還是會繼續將它跑完。反而是我偶爾因撐不住她身體的重量而感到很喘。

離我主人家不遠之處,Rita和Nani小姐照顧一對夫妻。跟我一樣,那對夫妻的孩子都與他們倆分開住。與她們見面的時刻成為在這的娛樂。就算見面時間是在等待垃圾車來的時候,但沒關係,最重要的是我們可以互相交換訊息。有時我也常常託她們幫我把錢寄回家,因為有時我主人的動作比較慢,而我在家鄉的父親常常生病,不得不委托她們幫忙。

「小姐,待會兒中午不用煮菜喔。我有做gado gado(加多加多,印尼傳統沙拉)。我有用一盤給妳。」Rita小姐在我們等垃圾車的時候說道。

「哎呀,這樣會不會麻煩妳們啊?」我對她說,但其實我心裡已經開心的不得了,因為好久沒吃印尼料理了。
「不會,我們都會煮很多。」她邊說邊離開回去,垃圾車也逐漸駛離了。

不像我,Rita和Nani小姐可以選擇她們想要吃什麼。Rita小姐在很多地方工作過,經驗十分豐富,所以主人都非常信任她。那位兩個孩子的寡婦已經在台灣流浪12年之久了,所以她中文和台語講得非常流利。

看到她們倆的自由有時候會覺得羨慕。她們有膜拜自由、穿著和煮什麼菜色的自由,完全不會有人管。

我主人稱不上壞,可是每當我煮的菜或穿著都像在家鄉的時候,他們會覺得不被尊重。

「就吃我們買給妳的就好了,這對妳好。妳在這就要省點錢,以後回家鄉才能實現妳的夢想。」他說道。

所以,偶爾一兩次吃鄰居煮的印尼料理,勉強可以讓我回味對我親愛的家鄉之思念。我照顧他們母親的忍耐終於有好結果,進入第六月,他們允許我每年開齋節過年到清真寺祈禱和敬拜。就算失去了父親的角色,我第一份合約還是順利度過了。

***

剛進入沒多久的第二份合約,阿嬤狀況越來越差。身體越來越瘦。連消化食物,無法只好利用管子來協助。看來,好運未完全向我這邊來。在過年結束到我回來的期間,狀況逐漸緊繃,尤其在我決定遮住身體。老大反對我這決定。就算我怎麼解釋,他還是堅持反對我的穿著方式。

「妳這樣的穿著很奇怪,我很不喜歡!」他再次強調。

我沈默。

那句話我聽到膩了,除了叫我把它拖下來,沒有任何其他的話了。

想起叫我遮住身體的老公,有時候會覺得難過。為了不違背和他的承諾,這期間遇到了種種的挫折。我沒有怪我老公。因為我相信老天爺能把一切安排到最好,也只有祂能改變人類的心,如由不好到變成好等。希望老天爺也一樣可以把我主人的心由害怕變成欣然接受。

有一絲柔軟的聲音從遠方飄到我這,我把它當成床邊故事,非常令人安心。我相信那就是所謂的祝福,就算來的時機與挫折的同時,甚至會有令人想要放棄的念頭。但那就是它的祝福,它也是在父親離開時一樣出現在我人生裡。

「Assalamu’alaikum 先生。你好?」
「Alhamdulillah 很好。妳吃了嗎?」 從遠處傳來的聲音回應。
「Alhamdulillah 吃了。」 我回答。
「那就好!一定要對阿拉所給予的事情忍耐和真誠面對,包括挫折。記得祂的忠告。」

我老公,我認識他三年半。他不是擁有一切或特別富有的人。他跟我一樣是孤兒。但他擁有豐富的耐心來支持和鼓勵我。他是老天爺寄給我來替代父親照顧我的人。跟他講話,可以讓我所面臨的事情變得如此簡單。

***

大哥對我遮住身體的行為保持不愉快,直到我在這裡進入了第四年之久。一個禮拜前大哥把所有照顧阿嬤的工作全自己做,因為他對我的反感,導致在他眼裡我做的任何事情都是錯的。在二哥不知道的情況下,大哥常常不給我飯吃。

「阿里,這禮拜就讓我來照顧阿嬤。」他從公司回來時對我說道。
「那我呢?」我追問道。
「就安靜!」他冷淡回答。
「你也會睡在這裡嗎?」我確保地問道。

我和阿嬤住的地方只有一間房間,一個客廳、浴室和小廚房。阿嬤的四個孩子與她分開住,他們都與自己的家人住。

「對。」 他回答。
「難道我這麼多年來沒有在照顧阿嬤嗎?」我不懂地問著他。
「不是。因為在我照顧阿嬤這期間我不會付妳薪水。」
「包含一切妳自己想辦法自己處理。」他補這一句。

我愣住了。開始想著我要怎麼在沒有主人的協助下處理這禮拜所有事情,包含我自己的生活需求。然而我也完全沒去過市場。但我試著冷靜。

「那我還可以在這裡睡覺和洗澡嗎?」我再問道。
「可以。」他簡略地回應。
「那我還可以繼續照顧阿嬤嗎?如果輪到別的孩子來照顧的時候?」
「那需要再問我弟弟們。」他說道。

我在哪裡睡和吃都無所謂。但至少給我一個明確的身份,若不照顧奶奶,身為主人也應該給予一個明確的回答。一定要有白紙黑字或其他類似的東西避免日後發生問題。

「除非妳把頭巾拿下來。」他補上更傷我的這句。
「難道大哥有看到我在包頭巾後的行為有任何的變化嗎?沒有不是嗎?我現在很堅持不拖下,因為我要證明我還是那位四年前您認識的阿里。」

我覺得有必要對他解釋說遮住身體不會將我的人和行為有所改變。「你們不需要害怕也不要總是把恐怖份子和伊斯蘭相提並論。」他們必須知道:伊斯蘭從沒教暴力行為!

「是沒錯。只是遮住身體這個規範總讓我想到僵硬或暴力的生活原則。妳知道王先生的看護嗎?她對所照顧的父母非常暴力。」他解釋道。
「真的嗎?那讓我慢慢改變你對於的 ‘暴力’ 的看法。」我堅定地說道。

自從那以後大哥再也沒有跟我爭論了。

***

與大哥討論完的三天後,阿嬤緊急被送往醫院。阿嬤因氣喘復發全身全出現藍色現象。

其他兩個孩子得知大哥不聘用我的那件事都感到不滿。也是因為其他兩個孩子的好心,讓我可以到醫院去看阿嬤。

光田綜合醫院

阿嬤躺在床上全身無力。軟管連到她鼻子並綁著塑膠袋。奶奶一直嘔吐。已吞下的牛奶進入胃裡後卻從鼻子和嘴巴流出來。她全身冷汗。體溫上升到39℃。

從大哥和醫生的討論中,我聽到阿嬤是因為抗生素使用錯誤細菌感染引起胃腸炎。

經過在急診室幾個小時後,阿嬤因為呼吸困難而被移到復甦室。狀況未好轉,為了拯救阿嬤生命她又被移至加護病房(ICU)。

「我沒想到大哥這麼狠心對待阿里。現在已經到這地步了還能怎麼樣呢?」三哥抱怨說道。

大哥慢慢走近我這裡。

「原諒我。因為我的自私讓我有可能將永遠失去我母親。」邊說邊90度彎曲身體。

進入加護病房(ICU)兩天後,阿嬤因心臟衰竭而離開了。我因為老公的要求,決定不繼續做到合約結束。

堅持原則不一定透過暴力。因為這樣其中一方會將把它當作引起衝突的根源。事實上並不如此,如Rita小姐她也是穆斯林,態度彬彬有禮,她主人住在別城市而把他們父母託付給她照顧。與我主人對穆斯林想像的全然不同。

俗話說條條大路通羅馬。這也是為什麼老天爺透過出乎我意料的方式把我帶回了祖國。

台中,2017年5月30日

編輯註:alhamdulillah為阿拉伯語,意同「一切讚頌,全歸真主」


📝 Komentar juri|Dédé Oetomo

Penokohan yang kaya. Penggambaran berbagai perasaan yang berkecamuk. Alur yang runtut.

豐富的人物。描述許多洶湧的心情。故事性連貫。

📝 Komentar juriJesus S. Anam

Pendirian teguh atas suatu keyakinan layak untuk dipertahankan, inilah pesan utama dari cerpen ini. Si penulis terlihat sedang mencoba untuk membangun serentetan argumentasi rasional guna mengukuhkan pendiriannya. Pesan ideologisnya terasa kuat di sini, dan hal itu menghasilkan poin tersendiri. Ya, mengesankan. Tapi ia harus rela ditempatkan di urutan kelima, karena beberapa kekurangan yang signifikan: kesalahan tata bahasa di 11 titik, pengeplotan yang belum teratur, adanya bias-bias kecil yang cukup mengganggu. Cerpen ini harus diedit ulang ketika akan dipublikasikan.

對信仰的堅持值得保持,這就是該故事要傳遞的主要訊息。筆者努力打造連串理性的論點來加強其堅持。其思想濃烈可以感覺得到,這也是其獨特的點。也讓人印象深刻。但她得願意排在第五,因為有些部分不夠顯著:語法錯誤共有11點,情節不夠規整,故事轉彎點也是。該故事在發行之前得重編輯。

 

發表迴響

你的電子郵件位址並不會被公開。 必要欄位標記為 *