為了孩子而堅持 AKU BERTAHAN HIDUP KARENA ANAKKU

 Babak penyisihan 印尼文初選  

📜 為了孩子而堅持 AKU BERTAHAN HIDUP KARENA ANAKKU

👤 李愛珍

Matahari kemerahan perlahan turun sembunyi di balik gunung, pertanda hari mulai petang, ku kayuh dengan cepat sepedaku menelusuri jalan-jalan sawah pulang menuju ke rumah. Dari kejauhan kulihat rumahku tampaknya kedatangan tamu, hari itu aku diperkenalkan dengan seorang pemuda dari Taiwan. Saat itu aku baru berumur delapan belas tahun, aku pun tidak tahu harus berbuat apa, demi mencari kehidupan yang lebih baik, ku terima lamaran pemuda Taiwan untuk meminangku. Sebelum menikah, aku tidak mempunyai kesempatan banyak untuk mengenal calon suamiku, sesungguhnya ada ketakutan dalam hatiku untuk hidup bersamanya di seumur hidupku. Aku tidak menuntut banyak, aku hanya berharap dia biasa menjadi suami dan ayah yang bertanggung jawab terhadap keluarga yang akan kami bina nantinya.
Kami baru saling mengenal dua minggu saja, kemudian diadakan acara tunangan sederhana di kampungku, dua hari kemudian aku pun diboyong ke Taiwan.
Di Taiwan hanya di adakan pesta pernikahan sederhana, mengundang beberapa kerabat keluarga dan teman-teman suamiku. Tak ada gaun pengantin yang indah melekat di tubuhku. Tak apalah pikirku, yang penting suamiku menyayangiku dan baik terhadapku. Setelah menjalani kehidupan di Taiwan kurang lebih satu bulan, barulah aku tahu bahwa suamiku sebelumnya sudah pernah menikah, sekarang sudah bercerai dan mempunyai empat orang anak laki-laki yang sudah dewasa. Keempat anaknya kadang-kadang pulang ke rumah, kadang-kadang tinggal di luar, tidak menentu. Hatiku sedih karena merasa sudah dibohongi tapi tidak berani kuungkapkan hal ini kepada keluargaku di Indonesia. Aku tak ingin keluargaku mengkhawatirkan keadaanku di sini. Nasi sudah menjadi bubur, aku telah menikah dengannya, tidak berani dan malu pulang ke kampung halamanku maka aku coba menerima nasibku dan menjalani pahit getirnya kehidupanku di Taiwan. Aku berpikir setiap orang pasti mempunyai masa lalu, hal itu telah berlalu, yang terpenting semoga masa sekarang dan masa depannya untuk hidup bersamaku bisa menjadi lebih baik.
Kujalani semua kehidupan di Taiwan mulai dari nol. Orang-orang di sekitarku berkomukasi dengan Bahasa Taiyi yang sama sekali tidak kumengerti. Aku pun mulai belajar Bahasa Taiyi, memasak makanan ala Taiwan, turun ke kebun menanam bawang bombai dan sebagainya. Aku tidak mempunyai teman, sering aku kesepian dan ingat keluargaku yang di Indonesia. Malam-malam kadang menangis bila teringat keluargaku, kampung halamanku, dan teman-teman sepermainan yang telah aku tinggalkan. Aku tidak mempunyai uang, hanya kadang-kadang musim panen bawang bombai, aku bekerja sebagai buruh harian dan menerima sedikit upah dari hasil keringatku. Kulakukan pekerjaan rumah tangga dengan baik, tapi sayang semua yang kulakukan tidak memperoleh sambutan baik dari suamiku. Suamiku sering mabuk-mabukan, memarahiku bahkan mencaci makiku tanpa alasan. Aku tidak tahu harus berbuat apa dan berbicara kepada siapa, aku hanya diam dan menangis di dalam kamar.
Setelah hampir satu tahun lebih kami menikah, aku hamil dan melahirkan seorang bayi perempuan yang mungil dan lucu. Hatiku terhibur dan kesepianku juga terobati dengan kehadiran putriku ini. Aku sangat menyayangi putriku, aku asuh dan kurawat dia dengan segenap hatiku, dalam segala keterbatasanku.
Suatu malam, suamiku pulang ke rumah dalam keadaan mabuk, kebetulan saat itu putriku sedang menangis, suamiku dengan kasar menghardiknya supaya dia berhenti menangis. Hatiku sangatlah takut , cepat-cepat ku rebut putriku dari tangan suamiku dan kubawa dia dalam hangatnya pelukan kasihku. Tangisnya mereda dan dia pun terlelap tidur dalam pelukanku. Ku pandang wajahnya yang polos, lugu dan tak berdosa, kurasakan desahan napasnya, kubelai rambutnya dengan penuh kasih. Ah…, apa pun rela kulakukan demimu, anakku.
Waktu cepat berlalu, putriku sudah mulai bisa berjalan dan berbicara. Putriku tidak akrab dengan ayahnya, dia seolah-olah ketakutan bila berada di samping ayahnya dan ingin selalu di sampingku. Karena keterbatasan kemampuan berbahasa Taiyi, kadang kuajak dia berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia. Aku tinggal di pelosok desa, di mana orang-orang di sekelilingku berbahasa Taiyi, tidak ada kesempatan bagiku untuk belajar Bahasa Mandarin sehingga aku kurang fasih berbicara dalam Bahasa Mandarin.
Kadang-kadang suamiku tidak pulang ke rumah, dia memberitahuku bahwa ada pekerjaan tambahan membantu temannya mengangkat barang-barang ke dalam truk konteiner untuk dibawa di Taiwan bagian utara. Aku mempercayai ucapannya, pikirku kalau ada perkerjaan tambahan baik jugalah, bisa membantu pemasukan keluarga kami yang morat-marit, di setiap bulan gali lobang tutup lobang.
Sering kuajak putriku ke kebun bawang bombai, tempatku mengais rezeki. Sudah empat tahun usianya, seperti layak anak-anak sebayanya, seharusnya dia belajar, bernyanyi, bersenda gurau dan bermain di Sekolah Taman Kanak- Kanak tapi apa boleh buat, aku tidak mempunyai cukup uang untuk membiayai sekolahnya. Mau bagaimana lagi, tunggu dia genap berusia tujuh tahun sajalah, baru bersekolah, langsung menginjak Sekolah Dasar.
Malam sudah sangat larut, suamiku baru pulang ke rumah. Kali ini dia tidak sendirian tapi ada perempuan cantik bersamanya. Pertama kali dia membawa perempuan dari negara”V” (inisial) masuk ke rumah. Perempuan itu kelakuannya sangat tidak sopan terhadapku, seolah-olah dia yang menjadi tuan rumah. Hatiku panas, aku mengusirnya tapi suamiku malah membela perempuan itu dan kami pun bertengkar. Aku menangis, menjerit, aku tidak mau dimadu. Aku ini istrinya, tega hatinya memperlakukan aku seperti ini. Apakah suamiku masih menganggap aku sebagai istrinya? Berani- beraninya dia membawa perempuan lain masuk ke rumah ini? Tidak sayangkah dia pada aku dan anaknya? Tapi apa dayaku, di Taiwan aku bagai anak sebatang kara, tidak ada keluarga dan sanak saudara. Ke mana aku harus mengadu…..Aku masuk ke kamar, aku menangis sejadi-jadinya. Syukurlah anakku masih tetap terlelap tidur, tidak terusik oleh ruwetnya dunia orang dewasa. Setiap kali kupandang wajah polos anakku tatkala ia sedang tidur, ada kesejukan dan kedamaian tersirat di sana. Kubaringkan diriku di sisinya, oh malam cepatlah berlalu, bawalah duka laraku pergi bersama hembusan angin.
Memaafkan orang yang telah menyakit hati kita, bukanlah suatu hal yang mudah. Akankah kubuka pintu maafku untuknya? Hari-hariku terasa hambar, aku kehilangan makna hidup, dalam puing-puing kehancuran hatiku, kucoba untuk bangkit, membenah kembali serpihan-serpihan hati yang telah hancur terberai. Ku coba tegar menjalani kehidupan ini, terasa sangat pahit, biarlah kutelan semua kepahitan ini, selalu aku berharap akan ada cahaya terang menyinari kehidupan kami.
Tahun ini anakku genap berusia tujuh tahun. Hari ini adalah hari pertamanya menginjak sekolah dasar, kubonceng dia dengan sepedaku menuju ke sekolah.Wajahnya sedih dan ada rasa takut karena akan memasuki lingkungan baru yang terasa asing sedangkan aku tidak berada di sampingnya. Kuberi dia dorongan, kukatakan padanya bahwa sekolah adalah tempat yang membahagiakan di mana kita akan belajar banyak hal, menjadi pandai dan memperoleh banyak teman.Dulu di desa, aku tidak memperoleh pendidikan yang layak, karena keterbatasan ekonomi keluarga, aku hanya bersekolah sampai kelas empat Sekolah Dasar. Kuharap hal ini tidak terjadi pada anakku, bagaimanapun juga aku akan berjuang agar anakku mendapat pendidikan dan kehidupan yang lebih baik.
Kejadian setahun yang lalu terulang kembali, seperti biasa suamiku sering mabuk-mabukan. Kali ini dia membawa perempuan dari negara ”F“(inisial) ke rumah. Aku tidak menghiraukannya, dia mau bagaimana ah…. sesuka dialah, hatiku sudah mati, tidak ada ruangan lagi buat dia di hatiku. Aku hanya mengkhawatirkan anakku, dalam usia yang masih kecil dia telah melihat kelakuan ayahnya yang tidak bermoral. Aku ingin mengajak anakku keluar dari lingkungan ini tapi tidak ada keberanian di hatiku. Aku tidak mempunyai cukup ketrampilan dan kemampuan, rumah tidak ada, uang pun tidak ada. Kalau kutinggalkan tempat ini, aku harus tinggal di mana? makan apa? Ah….aku cuma bisa menghibur diri, bersabar dan terus bersabar , entah sampai kapan aku bisa bertahan dalam kondisi yang menyakitkan ini.
Tidak seperti biasanya, hari ini suamiku tidak keluar rumah, badannya keluar keringat dingin dan kepalanya sakit. Walaupun dia telah menyakitiku berulang kali tapi sebagai seorang istri, aku tetap menjalankan kewajibkanku. Pagi-pagi aku sudah masak bubur untuk sarapan paginya, kukerik bagian punggung dan lehernya, seluruh bagian tempat kerikanku membuat kulit badannya berwarna merah kehitaman.Syukurlah keesokan harinya suamiku mulai berangsur-angsur pulih keadaannya.
Ekonomi keluargaku morat-marit, suamiku memberiku tiga ribu uang belanja per bulan. Kadang-kadang anak suamiku juga pulang makan di rumah. Aku bingung bagaimana harus mencukupi kebutuhan rumah tanggaku. Untunglah ada sebidang tanah kosong di pekarangan rumahku, walaupun tak luas, bisa kutanami berbagai sayur-sayuran seperti ubi jalar, bayam, sawi, terong, kacang panjang, timun, dll untuk kebutuhan makan sehari-hari.
Setiap pagi kubonceng anakku dengan sepeda ke sekolah yang berjarak kurang lebih dua kilometer dari rumahku. Sudah berlangsung satu minggu ke sekolah, anakku masih tampak ketakutan karena tidak terbiasa bergaul dengan orang lain, dia ingin selalu dekat di sisiku. Apakah karena sering dihardik oleh ayahnya sehingga dia tidak mempunyai rasa percaya diri? Ah….cepat -cepat kutepis pikiran buruk itu. Selalu aku nasehatkan kepada anakku supaya dia rajin bersekolah, menjadi anak yang pandai dan bermoral. Syukurlah dia sangat mendengar nasehat-nasehat dariku, satu bulan kemudian dia perlahan-lahan mulai dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya, kuamati dia sudah mempunyai beberapa teman dan setiap pulang ke rumah, dia sering bercerita tentang teman-temannya kepadaku. Mempunyai teman juga merupakan hal yang menggembirakan bagi setiap orang.
Kebiasaan buruk suamiku yang mabuk-mabukan semakin menjadi-jadi. Kali ini dia membawa perempuan dari negara “C”(inisial) ke rumah. Apakah dia sudah gila? Pikirannya tidak waras? Gonta-ganti perempuan dan di bawa pulang ke rumah di hadapan aku dan anakku. Tidakkah dia mengerti bagaimana perasaan kami? Bagi aku dan anakku, ini bukanlah hal yang baru, kejadian yang ketiga kalinya. Parahnya, hubungan bersama perempuan dari negara”C” ini, membuahkan seorang bayi. Sejak itu, aku dan suamiku semakin sering bertengkar bahkan dia pernah memukulku. Sudah tidak ada rasa aman tinggal di sini, walaupun ini adalah rumah kami sendiri, aku merasa sudah seperti hidup di neraka.
Suamiku sering mengeluh badannya panas dingin dan kepalanya sangat sakit, tapi tampaknya kali ini agak parah karena dia sama sekali tidak mempunyai tenaga bangun dari tempat tidurnya. Sudah berobat ke klinik pun tidak ada kemajuan yang lebih baik, akhirnya diadakan pemeriksaan ke rumah sakit yang lebih besar. Ternyata dari hasil pemeriksaan, suamiku positif terkena penyakit AIDS. Waktu itu aku tidak mengerti sakit apakah itu, tetapi dokter menyarankan agar aku juga melakukan periksaan, hatiku bertanya-tanya mengapa aku juga perlu melakukan pemeriksaan? Walaupun hatiku penuh dengan tanda tanya tapi tetap kulakukan pemeriksan yang dianjurkan dokter. Setelah hasil pemeriksaan keluar, ternyata aku juga dinyatakan positif sebagai penderita AIDS, tertular dari suamiku. Setelah mendapat penjelasan dari pihak rumah sakit dan aku mengerti apa itu AIDS, hatiku sangatlah sedih, hancur, pikiranku kosong, badanku lemas serasa tak bertenaga. Serasa di sambar petir di siang bolong,aku menangis tersedu-sedu. Ya Tuhan, apakah dosa yang telah kuperbuat? Masih kurangkah penderitaanku?
Bagaimana aku harus menghadapi kenyataan ini? Entah tahu dari mana, orang-orang di sekitar rumah kami juga tahu bahwa aku dan suamiku mengidap sakit AIDS, malunya rasa hati ini. Seperti kata pepatah ”Sudah jatuh, tertimpa tangga”. Betapa buruknya nasib yang harus kualami, ya Tuhan. Kuatkah aku?
Syukurlah aku mempunyai tetangga yang sangat baik kepadaku, dia selalu menghiburku, menguatkan aku supaya tetap tabah dan tegar dalam menjalani penderitaan dan cobaan hidup ini. Dia jugalah yang mengantarku ke kantor imigrasi, membantuku untuk mendaftarkan diri membuat KTP Taiwan. Petugas imigrasi sangat ramah dan baik terhadapku, mereka penuh perhatian dalam memberi pelayanan, hal ini membuat hatiku semakin tergerak untuk cepat- cepat memiliki KTP Taiwan.
Malam itu kuutarakan niatku untuk membuat KTP Taiwan kepada suamiku tapi dia marah besar bahkan hendak memukulku. Entah keberanian dari mana datangnya, aku segera berlari ke dapur mengambil pisau, ku ancam dia, kalau dia berani memukulku lagi maka akan membunuhnya. Dia tidak berani mendekatiku, dia mengusir aku pergi dari rumah. Katanya,” Aku sudah mempunyai anak laki-laki , sudah cukup dan tidak butuh anak perempuan.” Hatiku panas mendengar kata-kata itu, aku tantang dia bahwa malam hari itu juga aku dan anakku akan angkat kaki dari rumah.
Sekitar jam tiga dini hari, berbekal tiga stell baju,kuajak anakku meninggalkan rumah kami. Beratnya rasa hatiku meninggalkan rumah itu, walaupun rumah kami tidak bagus tapi disitulah tempat aku berlindung dari panasnya matahari dan dinginnya hawa luar. Sejak datang ke Taiwan, di situlah tempat aku bernaung, mengisi hari-hariku walaupun dengan banyak kurasan keringat dan air mata.
Aku naik kereta api tanpa tujuan, tidak tahu mau ke mana, ku lihat anakku di sampingku sudah tertidur lelap, kupeluk dia, kuusap rambutnya. Maafkan aku, Nak. Dengan usiamu yang masih sekecil ini, sudah harus menanggung duka dan derita karena ulah orang tuamu. Waktu itu anakku baru duduk di kelas tiga Sekolah Dasar. Sudah belasan tahun aku datang ke Taiwan, malam ini adalah untuk pertama kalinya aku naik kereta api. Sudah berjam-jam kami di dalam kereta, sampai di suatu stasiun aku melihat banyak sekali orang turun dari kereta, aku pun ikut -ikutan turun. Setelah bertanya kepada seorang ibu, aku baru tahu bahwa tempat ini adalah KotaTaipe. Ah…, jauh berbeda dengan tempat tinggalku di Taiwan bagian Selatan, disini ramai sekali, banyak gedung menjulang tinggi, semua orang berjalan sangatlah cepat. Semua orang berbicara dengan Bahasa Mandarin yang tidak kupahami. Mereka juga tidak mengerti dengan Bahasa Taiyi yang aku ucapkan. Wah…bagaimana dengan nasibku di sini?
Matahari sudah mulai terbenam, aku tidak tahu harus tidur di mana? Masih tersisa NT$ tiga ratus di tanganku, hatiku semakin sunyi dan takut di tengah-tengah gemerlapnya lampu-lampu kota.
Aku teringat keluargaku yang di Indonesia, walaupun aku berasal dari kalangan rakyat jelata, tapi aku tidak pernah terlontang-lantung hidupnya seperti ini, tidak ada rumah untuk berteduh dan tidak ada sesuap nasi untuk dimakan. Aku ingin mati saja rasanya. Kerasnya bunyi klakson mobil membangunkan aku dari lamunanku, ya Tuhanku….ternyata aku sedang berdiri di tengah jalan raya. Ah….cepat-cepat kugandeng anakku menyeberangi jalan.
Karena terlalu lelah, aku tertidur di bangku taman kota. Setelah bangun dari tidurku, aku bertanya kepada seorang ibu yang berada di taman itu, di mana ada tempat penginapan murah. Ibu ini sangat ramah dan bersedia mendengar keluhanku maka kuceritakan secara singkat perjalanan hidupku mengapa bisa sampai ke Taipe. Lalu ibu ini membawaku ke sebuah tempat ibadah dan di sana aku dikenalkan dengan seorang pemuka agama bernama Ibu S(inisial).
Sejak malam itu aku dan anakku tidur di asrama sebuah tempat ibadah. Ternyata asrama itu menampung banyak orang-orang yang nasibnya kurang lebih sama denganku.Ibu S sangat baik tehadap aku dan anakku, tahu keadaan kesehatanku yang semakin hari semakin tidak bertenaga, beliau mengajakku memeriksa kesehatan setiap bulan secara rutin di rumah sakit. Semua biaya tempat tinggal, makan, berobat dan semua kebutuhan hidup aku dan anakku ditanggung oleh Ibu S ini.
Di asrama ini aku mempunyai teman-teman yang senasib sepenanggungan, aku tidak sendirian. Saat itu, sudah tidak ada Tuhan lagi dalam hatiku, setiap kali aku berteriak dan memohon, aku beranggap Dia tidak pernah memperdulikanku tapi di asrama inilah aku mengenal kembali Tuhan, yang sudah lama aku tinggalkan. Ada banyak hal yang tidak dapat kuungkapkan kepada orang lain, hanya kepada Tuhanlah kucurahkan segala isi hatiku, aku menangis sepuas-puasnya di hadapan-Nya. Mengapa semua hal ini mesti terjadi pada diriku? Mengapa? Mengapa? Aku sudah tidak ingin hidup lagi, aku ingin mati…..aku ingin mati…..Aku tatap anakku, dia duduk bengong di sampingku. Segala cobaan dan derita hidup telah kujalani. Sesungguhnya…., aku bertahan hidup karena anakku….AKU BERTAHAN HIDUP KARENA ANAKKU aku berteriak dan aku kembali menangis.
Ibu S membantu mengurus sekolah anakku sehingga anakku tetap dapat menikmati bangku sekolah di Taipe. Hatiku senang karena anakku dapat bersekolah kembali. Ibu S mengenalkan aku dan anakku kepada Ibu Y, yang kemudian Ibu Y mengangkat anakku menjadi anak angkatnya. Sebulan sekali Ibu Y mengajak kami jalan-jalan, mentraktir kami makan di restoran, membelikan sepatu dan jaket bermerek kepada anakku, juga mengajak kami duduk di kedai kopi sambil mengobrol. Anakku tertawa gembira, sudah lama sekali suasana seperti ini tidak kami alami bersama, melihat anakku gembira, aku pun turut bergembira. Aku sadar Tuhan tidak pernah meninggalkanku cuma aku saja yang telah meninggalkan-Nya.
Di asrama aku belajar Bahasa Mandarin, membuat kue, menanam bunga dan sayur-sayuran, memelihara kelinci dan masih banyak kegiatan pengisi waktu luang lainnya. Aku juga diajari bagaimana berdoa, belajar mencintai diri sendiri, orang lain dan Tuhan, belajar memaafkan orang yang bersalah kepadaku. Ini terasa berat sekali bagiku terutama untuk memaafkan perbuatan suamiku terhadap kami. Setiap hari dalam doaku, aku mohon agar Tuhan memberikan kekuatan bagiku untuk memaafkan suamiku.
Sudah hampir tiga tahun kutinggalkan rumahku di Taiwan bagian Selatan. Entah apa kabar suamiku, aku pun tak tahu. Selama tiga tahun banyak yang aku dapat selama tinggal di asrama. Aku belajar bergaul dengan orang-orang, belajar menerima keadaanku termasuk sakit yang aku derita, mensyukuri semua keadaan yang aku terima dalam segala keterbatasanku. Aku sering jatuh bangun dalam memperjuangkan semua hal ini, tapi karena cintah kasih Tuhan yang besar memberikan kekuatan bagiku untuk berjuang dan terus berjuang.
Setelah tiga tahun aku tinggal di asrama, yang semuanya gratis, Ibu S memberitahukan aku bahwa aku perlu mencari pekerjaan yang sesuai dengan keadaanku supaya aku memperoleh sedikit penghasilan untuk biaya hidup sehari-hari.
Akhirnya aku memperoleh pekerjaan menjadi pelayan di sebuah rumah makan Korea di Mall. Bosku sangat baik kepadaku, aku boleh makan makanan apa saja yang ada di rumah makan itu. Karena vitalitas dan kekebalan tubuhku yang semakin berkurang maka aku sangat mudah lelah, aku hanya mampu bekerja sebanyak empat jam atau paling lama sampai tujuh jam sehari. Aku tidak menerima gaji dalam hitungan per bulan tapi dalam hitungan per jam. Ini adalah kemauanku sendiri supaya aku tidak terikat waktu, di saat merasa badanku lemah, aku sewaktu-waktu dapat minta izin pulang untuk beristrirahat.
Setelah aku bekerja beberapa bulan di restoran, Ibu S memberitahu bahwa ada orang lain yang lebih memerlukan untuk ditampung di asrama. Aku pun dicarikan Ibu S sebuah tempat kos yang relatif murah bagi kami. Dari hasil gajiku, cukuplah untuk membayar kos, makan dan membeli kebutuhan sehari-hari. Aku mulai belajar mandiri dari segi ekonomi.
Ibu S ada membantuku dalam mengupayakan memperoleh KTP Taiwan supaya aku bisa memperoleh hak sebagaimana layaknya penduduk Taiwan tapi sejak aku meninggalkan rumahku di Taiwan bagian Selatan, saat itu pula suamiku telah menghubungi pihak imigrasi setempat sehingga namaku tercatat sebagai “orang yang kabur dari rumah” dan suamiku tetap tidak menyetujui aku untuk memperoleh KTP Taiwan. Dalam hal ini, aku sendiri sudah tidak terlalu mempermasahkannya lagi, yang terpenting bagiku adalah aku dapat lebih tenang dalam menjalani hidup ini dan anakku dapat tumbuh, berkembang sebagaimana layaknya anak-anak yang lain.
Walaupun tetap menjalankan pemeriksaan rutin secara berkala, vitalitas tubuhku semakin hari semakin menurun. Aku cepat sekali lelah, kualitas tidurku sangatlah buruk, aku sering pusing kepala dan diare sehingga berat badanku semakin menurun. Hal ini mempengaruhi kerjaku, meskipun jam kerjaku sehari hanyalah empat sampai tujuh jam saja, sering aku cuti kerja karena merasa sangat lelah. Untunglah bosku dapat memahami dan menerima keadaanku walaupun dia tidak mengetahui penyakit yang kuderita.
Sekarang anakku sudah menginjak Sekolah Menengah Pertama kelas tujuh. Dia mulai beranjak remaja, menjadi gadis yang cantik. Setiap kali melihat senyum manisnya, hatiku terhibur. Bagaimanapun juga aku akan terus bertahan hidup. Aku bertahan hidup demi anakku. Dialah yang menjadi dorongan dan kekuatanku dalam mengayuh pahit getir kehidupan ini.
Walaupun aku dan anakku sudah tidak tinggal di asrama tapi Ibu S dan Ibu Y masih tetap sering menghubungi kami. Di saat saya libur kerja, ibu Y mengajak kami jalan-jalan di tempat rekreasi. Beliau membelikan anakku hand phone dan memberitahu berbagai informasi bermanfaat bagi anakku. Aku sangat bersyukur bisa bertemu Ibu S dan Ibu Y. Merekalah yang banyak menolongku saat aku terjatuh di lorong-lorong curam dan gelap. Tuhan telah menolongku lewat perpanjangan tangan sesamaku. Walaupun masa laluku sangatlah pahit dan hidupku penuh keterbatasan, aku ingin membuat sisa hidupku lebih berarti, baik bagi diriku sendiri, anakku maupun orang lain.
Aku ingat selama tinggal di asrama, selain mendapat makanan jasmani, aku juga mendapat makanan rohani. Di sanalah semua pandangan negatifku perlahan-lahan berubah menjadi positif. Aku rindu dengan kehidupan di sana. Semua adalah masa laluku, sudah berlalu. Aku tidak tahu masa depanku bagaimana. Yang penting aku harus menjalani masa sekarang dengan penuh perjuangan dan rasa syukur. Ada kedamaian dalam hatiku karena aku sudah mulai bisa memaafkan suamiku. Seburuk-buruknya perlakuan dia terhadap aku dan anakku tapi dia adalah suamiku dan dia adalah ayah kandung anakku. Secara tulus aku mendoakan dia, entah di suatu hari nanti kami akan bertemu atau tidak, semoga dia sehat dan bahagia. Aku pun akan berjuang untuk hidup lebih bahagia. Terima kasih banyak kepada semua orang yang telah membantuku, hanya Tuhan yang dapat membalas kebaikan hati kalian. Kucurahkan isi hatiku lewat goresan kata-kata ini, semoga damai yang ada di hati dapat terus berlanjut dan kubagikan kepada siapa pun yang kujumpai sehingga orang-orang dapat turut merasakan bahwa Tuhan bersemayam di hati setiap orang.


📜 為了孩子而堅持 AKU BERTAHAN HIDUP KARENA ANAKKU

👤 李愛珍

泛紅的太陽漸漸落下躲在山後,代表進入傍晚,我快速騎著腳踏車,經過田野往回家的路前進。從遠處望去,家裡好像來了客人。那天被介紹給一位台灣男子。當時我才十八歲,我不知道該怎麼做,為了過更好的生活,我接受他的求婚。結婚前,我沒有多的機會更深入認識我未婚夫,想到下半輩子與他一起過,我內心還是感到害怕的。我要求不多,只希望他是一個對我們將來建立的家庭有責任感的老公和父親。

我們認識僅僅兩週,舉辦了一場簡單的訂婚,兩天後我被帶去台灣。

在台灣也只舉辦很簡單的婚禮,只邀請我老公的幾個親戚朋友。沒有漂亮的婚紗可以穿在我身上。我想說沒關係,老公疼我和對我好就好了。在台灣生活一個月後,我才知道原來我老公之前結過婚了,現在已經離婚,有四個已成年的兒子。他兒子有時會回來,偶爾住外面。我心裡很難過,感覺像被騙一樣。但我沒有對印尼的家人哭訴,我不想讓他們擔心。木已成舟,我已決定跟他結婚,我不敢也沒膽子回家鄉,因此我試著接受,過著所有酸甜苦辣的生活。我想每個人都有他的過去,那件事已經過去了,最重要的是現在及未來,希望我可以與他好好地度過。

我在台灣的生活完全從零開始。周遭的人都用我聽不懂的台語溝通,我便開始學台語、煮台灣菜、到菜園種洋蔥等等。我沒有朋友,常常感到孤獨,想念在印尼的家人。每到夜晚,想起家人、家鄉、好朋友們時,總是忍不住掉淚。我沒有錢,要等到洋蔥久久一次的豐收,去當勞工領到點點的薪水,我才有錢。我把每件家事都做好,只可惜我做的一切不被老公欣賞。我的老公常常喝醉、發怒並侮辱我。我不知該怎辦也不曉得要跟誰說,只能在房間裡哭泣。

我們結婚一年後,我生了一個可愛又漂亮的女兒。我心裡很欣慰,她的到來讓我感到不再是一個人了。我非常疼愛我的女兒,用盡全力保護及照顧她。

某天晚上,我老公在喝醉酒的情況下回到家,剛好女兒正在哭,我老公很粗暴的憋住她,讓她停止哭鬧。我心裡很害怕,趕快把女兒搶回來並給予她溫暖的擁抱。她便安靜下來而睡著了。我看著她單純及無辜的臉,我感受到她的呼吸,撫摸她的頭髮。啊…,我任何事都願意為妳做,我的孩子。

光陰似箭,女兒開始可以走路和講話了。她與她爸爸不熟,如果爸爸在她旁邊似乎會感到害怕。因為台語的限制,有時候我會用印尼文跟她溝通。我住的地方偏鄉下,周邊的人都講台語,沒有機會學中文,因此我中文不是很流利。

有時我老公不回家,他告訴我說是有額外的工作,幫朋友吊運送到北部的貨物入貨櫃車。我相信他的話,我想,若有額外的工作也好,可讓家裡不穩定的收入增加些。

我常帶女兒去洋蔥菜園,也就是我謀生的地方。她四歲了,如果是一般兒童,她應該在學習、唱歌、與其他幼稚園的孩子玩,但有什麼辦法,我沒有足夠的錢付學費。只好等到她七歲直接上國小。

夜深人靜,我老公才回來。這次他不是一個人,而是帶著一位美女跟他一起。是他第一次帶來V開頭的國家的女生回家。那女生對我的態度非常不禮貌,一副很像這家的主人。我心裡非常生氣,想把她趕出去,但我老公反而幫她辯護,導致我們大吵一架。我大哭、大喊,不想老公有其他人。我是他老婆,他怎麼忍心這樣對我。他到底還把我當成他老婆看待嗎?竟然敢帶別的女生進來家裡?他沒有想過我和女兒的感受嗎?

但我有什麼辦法,我在台灣孤獨一人,沒有親戚朋友,能去哪哭訴呢…我進到房間放聲大哭。幸好女兒睡很熟,沒被大人的爭執吵醒。每次看到女兒睡熟的單純臉龐,都帶給我心裡一絲安慰。我躺在她旁邊,夜晚啊,趕快過去吧,與陣風一起吹走我的悲傷。

原諒傷害你的人並不是一件容易的事情。要打開心原諒他嗎?我感到日子很平淡,失去活著的方向,在心已破碎的情況下,我努力站起來,重建殘破的心。我試著堅強過著人生,有些痛苦,但就讓我把所有痛苦吞下去,希望有一道光能照亮我們的生活。

今年女兒滿七歲。今天是她第一天上學,我用腳踏車送她去學校。她表情難過加上害怕,因為即將進入新的陌生環境,我也不在她身邊。我鼓勵她,告訴她學校是個很好玩的地方,可以學到很多東西,讓我們變得聰明,也會認識很多朋友。以前在鄉村,我沒有受到適當的教育,因為家裡家境不好,我只讀到國小四年級。希望這件事不會發生在我女兒身上,無論如何,我一定會盡全力讓我的孩子受到最好的教育,並且過更好的生活。

一年前的事再次發生,一如往常,我老公常常喝醉。這次他帶回來的是來自F開頭的國家進來家裡。我不理他,他想幹嘛隨便他,我已經死心了,心裡已經沒有他的空間。我只擔心我的孩子,這麼小年紀就看到爸爸不道德的行為,真是不好。我想帶她離開這個環境,但沒有勇氣。我沒有足夠的技能和能力,沒有房子、也沒有錢。若我離開這裡,我要住哪裡?吃什麼?啊…我只能安慰自己,要忍耐、繼續忍耐,真不知道我在這樣痛苦情況下還能忍耐多久。

不像平常,今天我老公不出門,他身體冒冷汗與頭痛。就算傷害我好幾次,但身為老婆,我還是做好自己本份。一大早起來幫他煮粥,幫他背部及脖子刮痧,使他全身泛紅。幸好隔天病情有漸漸好轉。

我家經濟狀況很不穩定,老公每個月給我三千元。有時候老公的兒子也回來吃飯。我很疑惑,不知道該怎麼補家裡需求的不足。幸好家裡院子裡有一塊空地,雖然不大,但足夠我種各種菜,例如地瓜、菠菜、白菜、茄子、四季豆、黃瓜等,供每日三餐需求。

每天早上我會用腳踏車送女兒,騎過離家兩公里遠的上學之路。上學時間將近一個禮拜,我的孩子看起來還是很害怕融入其他人,她一直想要黏我。難道是因為常被爸爸責罵導致失去信心?啊…我趕快把那不好的想法去掉。

我經常鼓勵孩子,一定要用功讀書,將來成為聰明又有智慧的孩子。慶幸的是她很聽話,一個月後,她越來越適應所處的新環境,我觀察她也擁有幾個朋友了,每次回家都會與我分享她的朋友們。擁有朋友便是件令人開心的事。

我老公的壞習慣越來越誇張。這次他帶回C開頭的國家的女生。他是瘋了嗎?頭腦不正經了?每次帶回不一樣的女生到家裡,甚至在我和我女兒面前。難道他沒有想過我們的感受嗎?對我和女兒而言,這並不是什麼稀奇的事了,這件事已經發生第三次。更嚴重的是,他與這C開頭國家的女生有了一個孩子。從此,我和我老公的關係越糟,他甚至還打我。就算是自己的家,住在這已經讓我毫無安全感,就像活在地獄裡。

老公經常抱怨身體忽冷忽熱也頭痛,但這次好像很嚴重,完全沒力氣下床。到診所檢查但病情沒好轉,只好到大醫院去做檢查。檢測結果,我老公得了愛滋病。我當時不懂那是什麼,但醫生建議我也一併做檢測,我心裡有許多問號,為什麼我也要做檢測?雖然如此,我還是乖乖聽醫生的話做檢測。檢測結果,我也被判定為愛滋病患者,被我老公傳染的。醫生對我解釋之後我才懂愛滋病是什麼,我非常難過、心碎,腦袋無法想任何東西,全身無力。就像被被閃電擊中,放聲痛哭。上帝啊,我到底做錯了什麼?難道這一切的痛苦還不夠嗎?

我要怎麼面對這事實?不知哪來的風聲,家裡周遭的人都知道我和我老公得了愛滋病,心裡感到羞恥。就如一句諺語所說「已跌到,還被樓梯壓」。我的命真的很倒霉,上帝啊,請您給予我力量面對一切。

幸好鄰居對我很好,他會安慰我,鼓勵我要堅強面對一切人生難關。也是他帶我去移民署幫我申請台灣身分證,移民署的人很熱情、對我很好,他們非常熱心的服務所有人,這點讓我迫不及待想趕快擁有台灣身分證。

當天晚上我跟老公說我辦身分證的事情,他發怒並想打我。不知哪來的勇氣,我跑到廚房拿起菜刀,威脅他,若他再敢打我我會殺他。他不敢靠近我,他把我從家裡趕走,甚至說「我有兒子就足夠了,不需要有女兒。」我聽到十分憤怒,當天晚上與女兒一起離開家。大約凌晨三點,帶著女兒三件衣服,我抱著她離開這個家。心裡很不捨,雖然不是豪宅,但那是我們遮風擋雨之處。自從抵達台灣,那也是我一直待著並過活的地方,雖然是個充滿汗水及淚水之地。

我漫無目的地搭上火車,不知何去何從,我看女兒已經熟睡了便抱住她,撫摸她頭髮。原諒我,孩子。這麼小的年紀,就要承受爸媽造成的傷害。那時候,她才國小三年級。我來台灣已經十幾年,但這是我第一次坐火車。我們已經好幾個小時在火車沒下,直到某站大家都下車了我們才跟著下去。問了一位小姐後才得知這裡是台北。啊…與我住的台南差好多,這裡非常熱鬧,許多高樓大廈,人們腳步非常快。大家都講我不大懂的中文。他們聽不懂我講的台語。哇…在這要怎麼過活啊?

太陽下山了,我不知要睡哪,身上只剩三百元,心裡開始感到孤單及害怕。處在城市的燈光下,我想起印尼的家人,雖然只是一般人民,但也沒過著這麼可憐兮兮的生活,無家可歸、無飯可吃。我想死掉算了。車喇叭聲突然喚醒我,天啊,我正站在馬路中間。啊…我快速牽著女兒的手過馬路。

因為實在太累了,我便在公園的椅上睡著了。醒來時,問起在公園的一位阿姨哪裡有便宜的住宿。這位阿姨很友善,她願意聽我人生經歷並且我為何來到台北。那位阿姨帶我到宗教場所,並把我介紹給那裡的宗教領袖S女士。

從那天晚上開始,我和女兒都睡在那個宗教場所的宿舍。原來這個宿舍有許多和我同樣的人。S女士對我和我女兒都很好,知道我身體越來越有力後,她帶我到醫院做每個月的定期檢查。所有我和女兒的費用,包含住宿、吃飯、醫藥和生活用品,都由S女士來承擔。

宿舍有許多與我同舟共命的人,我不是一個人。那時候,在我心裡已經沒有所謂的上帝了,每次我懇求,我都覺得祂不理會我。但在這宿舍我重新認識上帝,有很多事不能與他人說,唯有與上帝,我能掏心掏肺,在祂面前痛快的哭。

為什麼這一切發生在我身上?為什麼?為什麼?我不想活了,我想死…我想死…我看著女兒,乖巧地坐在我旁邊。所有的人生難關我都度過了。其實…,我堅持的原因是因為我女兒…「為了孩子而堅持!」我大喊、不停的哭泣。

S女士幫我辦理女兒上學的手續,女兒仍然可在台北上學。我很開心,因為她可以繼續學習。S女士後來把我介紹給Y女士,將成為我女兒乾媽的女人。每個月一次,Y女士會帶我們出去玩,請我們吃餐廳,買給我女兒名牌鞋和夾克,也帶我們去咖啡館坐著聊天。女兒開心地笑,這情形已經很久沒發生了,看到女兒這麼開心,我也跟著開心起來。我發現其實上帝從不曾離開,反而是我之前離棄了祂。

在宿舍我可以學中文、學做蛋糕、種花及種菜、養兔子等其他休閒消遣活動。他們也教我如何禱告、愛惜自己、身邊的人以及上帝,學習寬恕。這點有點困難,尤其想到我老公對我們做過的事。每次禱告我便懇求上帝給予我力量原諒我的丈夫。

離開台南的家接近三年。不知道我老公過得如何。住在宿舍的三年裡學習了不少。我學習如何與人相處,學習接受生病的自己,學習感恩我現在所擁有的一切。我常常為了許多事而跌跌撞撞,但就是因為上帝的愛給予我能力,讓我可以堅強到現在。

住在宿舍的這三年,全都免費。S女士告訴我,我得找工作,這樣才有收入能滿足我日常生活需求。

我終於應徵到一家百貨公司裡的韓國餐廳當服務生。老闆對我很好,我可以吃那家餐廳的各種食物。但因為身體抵抗力越來越差,我很容易感到疲憊,導致一天只能工作四到七個小時。我在這裡薪水是時薪,這是我自己的要求,這樣若身體不適時我隨時可以請假回家休息。

在餐廳工作幾個月後,S女士告訴我說有其他人需要接納到宿舍。於是S女士幫我找房子租,租金相當便宜,以我薪水則足夠付這筆租金、吃飯及購買其他生活用品。我開始學習經濟上的獨立。

S女士不斷幫我爭取可以領取台灣身分證,這樣我才能得到與台灣人民一樣的權利。但自從我離開南部的家,我老公便通知移民署,導致我的名字被列為「離家出走」,而且我老公堅持不同意我領取台灣身分證。這點我並沒有想太多,現在最重要的是我可以安穩的過活,孩子如其他孩子般健康長大就足夠了。

雖然定期檢查,但我身體的抵抗力越來越差,容易感到疲勞,睡眠品質也很差,我常常頭痛且拉肚子導致體重下降。這當然影響到我的工作,雖然只工作四到七個小時,但我常請假,因為過於勞累。幸好老闆可理解和體諒,雖然他不知道我遭受的是什麼疾病。

現在我女兒上國中了。她逐漸成為少女,漂亮的少女。每次看到她甜美的笑容,心裡總是感到欣慰。

無論如何,我一定要繼續活著。活著是為了我的孩子。她是我的鼓舞和力量,讓我撐過所有人生的難關。

雖然已經不住宿舍,但S女士和Y女士還是常常與我們聯絡。放假的時候,Y女士還是會帶我們去休閒娛樂的地方玩。她買一支手機給我女兒,分享重要的訊息給她。我很感激可以遇到S女士和Y女士,是她們把我從低谷拉了一把。上帝透過她們幫助了我。雖然我的過去充滿悲傷,但現在我想要把人生變得更有意義,對我自己、女兒及所有人都好。

記得住在宿舍的時候,除了得到身體的食物,我也收到了精神食糧。在那裡,我負面的想法漸漸化為正面。我想念那裡的生活。但這一切都過去了,我不知道我的未來如何。

最重要的是,我要好好努力、抱著感恩的心過著此刻的每一天。我心裡感到平靜,也逐漸可以原諒我老公。就算他對我和女兒來說是場災難,但他終究是我老公,也是我女兒的爸爸。我衷心的祝福他,無論以後會不會相見,都希望他健康快樂。我也會努力過得更快樂。

感謝所有幫助過我的人,唯有上帝才能報答你們的好心。我把所有內心話,化成這張筆跡,希望內心的平靜可以傳染給所有我遇到的人,讓大家可以感受到上帝其實都在每個人心裡。


📝 Komentar juri|Joy

Cerita yg sangat mendekati gambaran ttg keluarga camuran di taiwan selain menceritakan keadaan yg sesungguhnya bagi sebagian pasangan yg kurang beruntung juga menyemangati mrk krn meskipun jauh dr keluarga ttp disini masih banyak solusi dan org yg bersedia membantu.

很貼切的描述台灣混血的家庭,除了敘述不夠幸運的家庭之外也是含有一種鼓勵,就算遠離家鄉與家人但還是有很多解決方案或很樂意幫助你的人們。

 

發表迴響

你的電子郵件位址並不會被公開。 必要欄位標記為 *