一碗紅彈珠裡的思念 Rindu di Semangkuk Sup kelereng Merah

評審獎 Jury Award

📜 Rindu di Semangkuk Sup kelereng Merah

👤 Rahayu Wulansari

Masih teralu pagi jika harus memasak tangyuan* sekarang. Namun Nenek berumur 76 tahun yang sering kupanggil Ama itu sudah sibuk mempersiapkan segalanya. Tepung ketan dicampur dengan sedikit air dan diberi pewarna. Merah, hijau dan sisanya dibiarkan putih begitu saja. Kemarin sebelum aku tidur, Ama sudah berpesan agar esok hari membeli tepung ketan ke pasar. Aku pikir hanya sedikit tepung ketan yang dimintanya, akan tetapi angka yang disebutkan membuatku terlonjak.
“Apa tidak terlalu banyak, Ama?” ucapku sembari membetulkan letak selimut beliau. Aku dan Ama memang tidur satu kamar. Itu ditujukan untuk berjaga-jaga jika tengah malam Ama membutuhkan bantuanku. Memang pekerjaan utamaku di sini adalah menjaga beliau.
“Tidak, wu jin* tepung pasti kurang. Aling, Achuan, Hong sheng nanti juga datang. Mereka semua senang memakan tangyuan,” jawab Ama sembari menyebut nama anaknya satu per satu. Muka tuanya memancarkan kebahagiaan membayangkan hari itu tiba. Ketika semua anaknya datang, berkumpul dan apartemen ini ramai kembali.
“Baiklah, besok aku beli tepung ketan.” Kuakhiri perdebatan malam itu dengan mengiyakan permintaannya. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, mataku sudah mengantuk jika harus memperpanjang percakapan lagi.
Ketahanan fisik Ama memang sangat bagus. Di usianya yang menginjak kepala tujuh, beliau masih mampu melakukan pekerjaan sendiri. Yah, meskipun bukan pekerjaan berat. Namun aku salut. Ama sangat sungkan untuk menyuruhku melakukan hal yang sekiranya bisa ia lakukan. Aku berada di sini atas permintaan anak-anak Ama. Mereka bertiga sibuk dengan urusan bisnis masing-masing, sehingga menyewa pekerja asing untuk mengawasi orang tuanya. Ketiga anak Ama juga tinggal di daerah yang cukup jauh dari tempat tinggal Ama, sehingga tidak mungkin bisa setiap hari menemani Ama meskipun hanya sekedar berkunjung.
“ Perlu kubantu membuat tangyuan-nya?” tawarku. Ama menggeleng tegas. Ia mengatakan masih mampu mengerjakannya.
“Selesaikan saja pekerjaanmu, tangyuan biar aku yang urus.”
Ketika kulihat pendar bahagia muka Ama dan tangannya yang keriput lincah menggulung adonan tepung ketan menjadi bulatan-bulatan kecil, aku urung mengatakan keraguanku. Sekarang masih bulan Oktober. Angin memang sudah mulai berhembus sejuk, pertanda musim dingin mulai menyapa, akan tetapi udara masih teras panas.
“Kamu belanja banyak sekali hari ini, Mei?” Ayi menanyaiku. Tetangga di apartemen tempat kami tinggal. Ia orang yang banyak tahu tentang keluarga Ama. Sehingga aku banyak mendapat informasi darinya baik tentang sejarah, sifat maupun seluk beluk keluarga.
“Ama mau membuat tangyuan,” jawabku. Dari Ayi lah aku tahu, jika tradisi perayaan dongzhi* masih lama dilakukan. Tradisi reuni keluarga di awal musim dingin dengan menyantap tangyuan bersama-sama. Perayaan itu dilakukan menjelang natal, namun Ama sudah menyiapkan dari sekarang.
“Mungkin anak-anak Ama pulang lebih awal,” simpul Ayi kemudian. Aku pun mengangguk menyetujui.
Aku hanya mengirim pesan melalui Line kepada anak-anak Ama. Kami memang membuat satu grup di sebuah aplikasi smartphone, untuk saling berkomunikasi mengirimkan kabar secara cepat. Kita memang harus mengikuti perkembangan jaman jika tidak ingin tertelan. Aku mengirimkan gambar sup tangyuan yang sudah kumasak ke grup line keluarga majikanku. Tak lupa jua di bawahnya kutulis sup kelereng merah menanti kalian.
“Aku sudah bilang kok, kalau tahun ini tidak pulang,” tulis anak Ama yang tertua. Ia istri politikus. Suaminya sedang mencalonkan menjadi anggota dewan, sehingga acara bersama koleganya pasti jauh lebih penting dibanding makan tangyuan bersama Ama.
“Kakak tidak pulang juga? Istriku sedang hamil tua, dia tidak mungkin bisa bepergian jauh, takut melahirkan di jalan,” timpal anak terkecil Ama. Begitu seterusnya mereka berkirim pesan di grup yang pastinya aku bisa membaca. Aku sedih mengetahui kenyataan itu. Sedih memikirkan betapa binar ceria di wajah Ama akan mendadak hilang jika ia mengetahui yang sebenarnya. Sedih karena tahu mereka akan membiarkan sup kelereng merah buatan Ama tak tersentuh kehadirannya.
***
“Nenekmu aneh,” Yuni mengejutkanku. Kami bertemu di sebuah seven eleven tak jauh dari apartemen. Tadi aku berpamitan sebentar kepada Ama untuk pergi membeli keperluan bulananku di seven eleven terdekat.
“Aneh, maksudmu?” Aku balik bertanya.
“Bukankah keluarga majikanmu itu orang kaya? Tapi aku tadi melihat Nenekmu menjual tangyuan di taman. Lak aneh, tho?”* lanjut Yuni. Aku mengeryitkan kening mendengar punuturan temanku sesama orang Indonesia di Taiwan ini. Dia orang jawa tulen. Bahasa Indonesianya yang medok jawa tidak bisa menipu jika dia berasal dari kampung.
“Menjual tangyuan di taman?” tanyaku sekali lagi. Aku masih tidak percaya kepada penuturan Yuni. Mungkin saja dia salah lihat. Namun anggukan kepala Yuni yang mantap semakin mengerutkan keningku. Tadi memang tangyuan di kulkas yang Ama buat beberapa hari lalu, raib. Kupikir Ama memberikan kepada tetangga. Aku tak pernah menyangka jika Ama menjualnya.
Ini sudah menjadi tangung jawabku untuk tahu tentang apa yang dilakukan Ama. Tentang menjual tangyuan di taman seperti yang dikaatakan Yuni tadi, harus aku konfirmasi kepada Ama langsung. Jika ketiga anaknya tahu tentang kejadian ini, aku harus menjawab apa? Nafsu makan ku sampai menghilang mengingat perihal penjualan tangyuen di taman. Apalagi ketika kutanyakan kepada Ama, beliau cuma menjawab singkat.
“Dui a.”*
Aku tidak bisa memastikan itu jawaban jujur atau tidak. Karena binar di wajah Ama tetap sama. Keceriaan itu tidak hilang meski sebelumnya ia menerima telepon dari ketiga anaknya bahwa festifal dongzhi tahun ini, mereka semua berhalangan pulang.
Selama dua tahun aku di sini menemani keseharian Ama, sudah yakin jika Ama mendengar kabar yang dikirim anak-anaknya, maka, ia akan kecewa. Sehingga , aku menenangkan hati Ama dengan mengajaknya makan tangyuan bersama. “Aku menamainya sup kelereng merah,” kataku mengalihkan perhatian.
“Iya, tangyuan memang menyerupai kelereng. Tapi, bagaimana kalau pelangi? Ini ada hijaunya, jadi berwarna-warni” sahut Ama. Aku tersenyum tipis bersama anggukan kepalaku yang juga tipis. Apapun itu, yang penting tidak membuat Ama sedih.
“Tidak apa-apa jika mereka tidak pulang, masih ada aku yang siap menghabiskan tangyuan bersamamau,” hiburku lagi.

****
Baju-baju tebal musim dingin tahun lalu mulai aku persiapkan. Jaket wol, celana panjang, kaos kaki, semua aku keluarkan dari koper penyimpanan. Bahkan aku mulai membeli nuan pao-pao* untuk berjaga-jaga. Ama mengejutkanku dari belakang. Bukan tentang suaranya yang keras seperti Ama-ama teman Indonesiaku yang lain, yang mereka bilang galak. Tapi keterkejutanku adalah, Ama memintaku untuk membeli tepung ketan lagi.
“Ama, bukankah tidak akan ada yang datang tahun ini?” ujarku.
“Sudah, beli saja. Kali ini qi jin*, ya!” perintahnya. Aku melangkah gontai meninggalkan kegiatanku mempersiapkan perlengkapan musim dingin. Meskipun semua sudah dikeluarkan dari koper, namun selimut tebal belum sempat aku keluarkan. Terpaksa kutinggal untuk memenuhi permintaan Ama. Bukan perkara uang jika menyangkut hal seperti ini, namun aku harus selalu waspada terhadap perubahan sikap Ama bahkan sekecil apapun itu.
“Iya, aku melihatnya membawa satu besar kantong tangyuan. Tapi tidak di taman. Ia berjalan kaki ke arah belakang klenteng.” Ayi memberikan informasi. Heran saja, aku sudah mewanti-wanti kepada Ama jika ingin bepergian agar mengajakku, karena memang itu tanggung jawabku. Namun, Ama selalu bisa luput dari pengawasanku. Biasanya beliau pergi ketika aku sedang di kamar mandi, atau sedang sibuk memasak. Seperti hari ini beliau menghilang lagi bersama seplastik besar tangyuan. Kemarin tujuh kilo tepung ketan sudah dibentuk menjadi bulatan-bulatan kecil.
Aku pun berjalan menuju belakang klenteng yang letaknya di timur apartemen. Kumasuki gerbangnya dan langsung menuju bagian belakang. Karena ketika kuperhatikan, bagian depan klenteng masih senyap. Di belakang kleneng ada lapangan luas dengan rumah-rumah berbentuk sama dengan klenteng utama, namun ukurannya lebih kecil. Aku meliahat Ama di sana. Bersama beberapa orang duduk memutari meja.
“Itu penjagamu,” seru salah satu dari mereka menunjuk ke arahku. Aku berjalan semakin dekat. Ama dan yang lain menoleh ke arah yang ditunjuk.
“Jadi kamu memberikan tangyuan untuk mereka?” tanyaku langsung. Sekali lagi bukan perkara uang yang dikeluarkan jika menyangkut hal ini, namun pikiranku terlalu buruk. Aku takut jika kebaikan Ama ini diperalat oleh mereka. Kalau akhirnya Ama kecapekan jika harus membuat tangyuan sebanyak itu dan jatuh sakit, lebih berat lagi tanggung jawabku bukan?
“Tidak apa-apa, aku senang melakukannya,” jawab Ama. Ia kemudian berpamitan kepada orang-orang yang tadi makan tangyuan bersama kemudian berjalan pulang. Aku mengikuti Ama meninggalkan klenteng setelah sebelumnya aku juga berpamitan kepada mereka. Entah siapa orang-orang di kelenteng itu. Mungkin penjaga klenteng, atau penduduk sekitar. Aku tak mengenalnya.

***
Hujan turun semalam. Tanah-tanah basah menguarkan aroma khas. Aku tahu, petrikor* di kota seperti ini memang tidak setajam seperti di kampong halamanku. Namun aroma ini kurasa cukup untuk menyumbat rindu yang merambat di dada. Aku selalu menyukai hujan, apalagi jika itu hujan pertama setelah berbulan-bulan kemarau yang nantinya pasti menghasilkan petrikor. Rasanya di telingaku terdengar merdunya suara hujan ketika pecah di tanah dan menyebarkan partikel mikroskopis yang membawa senyawa aromatik. Harum dan menenangkan. Aku berdiri di sebelah pos satpam aparteman karena beberapa waktu yang lalu, aku ditelepon oleh Pak Satpam jika ada paket dengan nomor 402. Kamar apartemen tempatku tinggal.
“ Zhe shi ni de,”* Pak Satpam mengulurkan sebuah bungkusan. Aku berbasa-basi sebentar apakah ada paket untuk Ama dan Pak Satpam menggeleng yakin. Cuma ada satu atas namaku. Aku sudah tahu isinya, ini pasti album foto yang kupesan beberapa bulan yang lalu. Keluargaku hidup di sebuah kampung kecil di daerah pelosok perbatasan kota Magelang dan Wonosobo. Untuk kemajuan jaman seperti sekarang, hanya sedikit orang-orang di sana yang mengerti dan bisa mengikuti kecanggihannya. Tak terkecuali orang tuaku. Jangankan untuk sekedar berkirm foto via messenger seperti sekarang, untuk mengangakat telepon dariku pun mereka meminta tolong tetangga.
“Apa itu?” Tanya Ama ketika sampai di Apartemen. Aku tersenyum simpul sembari membuka paket yang kudapat. Ya, benar saja, isinya album foto seluruh anggota keluargaku. Ibuku, bapakku, adik-adikku ketika masih kecil, juga aku, ada di sana. Beberapa foto menggambarkan ketika kami bertamasya di salah satu kebun binatang. Adikku yang paling kecil menangis ketakutan ketika diajak menunggangi gajah.
“Ini keluargaku, Ama,” tunjukku pada sebuah gambar. Kuterangkan saja kenapa aku minta album foto ini dikirim ke Taiwan. Aku bilang, cukup melihat gambar ini saja sudah bisa menyembuhkan kangenku yang menggunung. “Apakah ada foto keluarga Ama?” lanjutku.
Selama ini memang aku tak melihat meski sekecil apapun prasasti keuarga ini dalam bentuk foto. Selain di group keluarga line yang kuikuti, aku hanya melihat anak-anak Ama dua kali. Itu pun tidak semua anaknya pernah kutemui.
“Ada, Cuma satu,” jawab Ama kemudian. Aku meminta Ama mengambilnya dan memperlihatkannya kepadaku. Ia kemudian beranjak ke kamar, beberapa jenak setelahnya, ia keluar membawa secarik kertas kecil. Foto usang itu diangsurkannya padaku.
“Ini aku dan suamiku. Yang ini anak pertamaku. Yang masih di gendongan ini anak terkecilku,” jelasnya.
Aku mengamati satu per satu gambar yang ada di foto itu. “Lalu anak ke duamu ?” ulikku penasaran. Ama beringsut duduk di kursi tempat kami mengobrol. Dia kemudian bercerita sembari matanya menerawang. Ia menjelaskan bahwa waktu foto itu diambil, anak ke duanya sedang menjadi sukarelawan korban bencana di luar negri. “Anakku yang satu itu memang istimewa sekali. Hatinya sangat halus, mudah sekali berbagi.”
Aku mengangguk kecil, masih mengikuti cerita Ama. Memang, hanya anak Ama nomor dua ini yang belum pernah kulihat secara langsung. Komunikasi di grup line saja beliau jarang sekali. Paling satu atau dua kali menyapaku dan menitipkan salam kepada Ama.
“Kamu ingin tahu seperti apa wajahnya?” Tanya Ama mengejutkanku. Aku sontak mengangguk. Mantap.
“Orang yang di klenteng kemarin salah satunya ada yang mirip sekali dengan anak ke duaku. Ia juga suka memakan tangyuan. Mirip sekali Achuan. Itu sebabnya aku tak akan pernah bosan memasak tangyuan untuk mereka.” Aku terperangah kemudian berusaha mengingat beberapa wajah yang kemarin hari kulihat.
“Di foto ini memang tidak ada anak ke duaku, tapi di klenteng kemarin ada,” ulas Ama. Aku seketika tertegun mengingat rasa sesak dadaku oleh rindu itu juga dialami oleh Ama. aku tahu persis bagaimana rasanya. Dan aku melihatnya lagi, wajah sumringah Ama selama ini. Wajah yang tetap ceria meski tahu orang yang dicintainya bahkan lebih mencintai hal lain ketimbang dirinya. Tak terasa air mataku menggenang di pelupuk mata. Aku mendekat kemudian kupeluk Ama.
“Besok kita beli tepung ketan yang lebih banyak, dan kita bawa ke klenteng itu,” lirihku.

Selesai
* Tangyuan – makanan khas Taiwan seperti ronde.
*wu jin – lima kilo
* Dongzhi – perayaan musim dingin.

* Lak aneh tho? – Aneh bukan?
* Dui a – betul
* Nuan paopao – penghangat tangan sekali pakai
* Qi jin – tujuh kilo
* petrikor – salah satu bau alami yang tercium saat hujan turun membasahi tanah yang kering
*zhe shi ni de – ini punyamu


Komentar juri|Dédé Oetomo

Alur yang runtut dan menawan. Banyak melibatkaan perasaan dan spiritualitas. Detail yang kaya.


📜 一碗紅彈珠裡的思念

👤 Rahayu Wulansari

 

現在離煮湯圓的節日還有好幾天。但對於已經76歲的奶奶(通常我稱她為阿嬤)來說,卻不是這樣。她已經把所有材料都準備好了,糯米粉加上水及一點色素均勻攪拌,有紅、綠及白色等等。昨晚在我睡著之前,阿嬤吩咐我說,明天到市場去買糯米粉,我以為她要的糯米粉份量不多,但她說出來的份量讓我有點驚訝。

「阿嬤,這樣會不會太多啊?」我邊說邊整理好她的棉被。我跟阿嬤睡在一起,在同一間房間,這是為了阿嬤半夜若有什麼需要協助的地方,會比較方便,更何況我在這主要的原因,就是要照顧好她。

「不多,五斤肯定還不夠。阿玲、阿川、宏勝也會來吃。他們都喜歡吃湯圓。」阿嬤邊回答邊把他們的名字一個一個說出來。想到那一天的到來,她的臉散發出雀躍的神情。她所有子女一起回來團圓,這間公寓就會變得好熱鬧。

「好的,明天我會去買糯米粉。」我只好答應阿嬤的要求,來結束與她的爭論。畢竟已經晚上十一點了,如果還要繼續聊天,我眼睛就睜不開了。阿嬤的體力還是非常好。年齡已是七開頭的她,依然可以自己處理所有事,當然不是那麼困難的事情,但我還是很佩服她。阿嬤對於她自己能做的事都不會叫我來做。我現在住在這裡是因為阿嬤子女的要求。他們三個都各自忙自己的生意,所以才不得不請看護來幫忙照顧他們的母親。三個子女的住所離阿嬤住的地方很遠,所以無法每天來看視,甚至陪伴著阿嬤。

「我可以幫妳一起搓湯圓嗎?」我問道。阿嬤堅定地搖頭,她說自己還有餘力,要自己做。

「妳把妳的工作做完,湯圓我來處理就好。」

我看著阿嬤臉上所散發出來的快樂,以及那雙充滿皺紋又敏捷的手,將麵粉搓揉成小小圓球,我只好把想說的話收回來。現在還是十月份。風稍微涼了一些沒錯,也代表冬天快來臨,但天氣還是有點熱。

「妹,妳今天買這麼多喔?」阿姨問我,她是我們隔壁鄰居,也知道許多關於阿嬤家人的事情。我很多訊息都是從她那裡得知的,像是阿嬤家的來龍去脈等等。

「阿嬤要做湯圓。」我回答。後來阿姨才告訴我說,冬至離目前還有一段時間,它固定在每年的冬天,家家戶戶會團圓並吃著湯圓。那節日是接近聖誕節的時候,可是阿嬤從現在就開始準備了。

「可能阿嬤的子女會提早回來。」阿姨後來說,我也點點頭表示認同。

我透過Line傳了個訊息給阿嬤的子女們。我們在手機裡有設一個群組,為了方便溝通和迅速得知消息。我們本來就應該要跟上時代的變化。我把煮好的湯圓照片傳到我主人的家人群組裡面,並備註說,紅彈珠湯等著你們。

「我已經和阿嬤說了今年不回去。」阿嬤最大的孩子回答。她是政治人物的老婆,她老公正在提名委員會,與同仁會餐肯定比跟阿嬤一起吃湯圓還要重要。

「姐姐也不回去嗎?我老婆懷孕,她沒辦法出遠門,擔心會在半路隨時生出來。」阿嬤最小的孩子說道。訊息就連續一直傳來傳去。我看到後覺得很難過,想到阿嬤開心的臉會突然消失、想到如果她知道這些事,也會因此難過她的紅彈珠湯沒人捧場。

*****

「妳的奶奶很奇怪。」Yuni把我嚇一跳。我們在公寓附近的便利商店見面。剛剛我跟阿嬤說我會到附近便利商店買生活用品。

「奇怪,妳的意思是?」我反問她。

「妳主人不是有錢人嗎?可是我剛剛看到妳的奶奶在公園那裡賣湯圓。不是很奇怪嗎?」Yuni說道。我皺著眉頭聽到同樣來自印尼的同鄉這麼說道。她是正統爪哇人,她的印尼話帶有濃烈的爪哇口音,讓人一聽就知道她是從爪哇鄉村來的。

「在公園賣湯圓?」我再次問道。我還是不相信Yuni所說的話。有可能她看錯了。但Yuni堅定的回答讓我再次皺起眉頭。剛剛在家開冰箱的時候,阿嬤前幾天做的湯圓的確都不見了。我以為阿嬤把它分給鄰居了,完全沒想到阿嬤會把它賣掉。

阿嬤做的任何事情我都有責任知道。像Yuni剛剛說的,阿嬤在公園賣湯圓的事情我得向阿嬤親自確認。如果阿嬤三個孩子知道這件事的話,我真的無法回答。因為這件事,我連食慾都沒了。再加上我問阿嬤的時候,她也只是簡單地回答:「對啊」。

我不能確定那答案是真的還是假的,因為阿嬤的臉依然如此平靜。那張臉還是如此燦爛,明明剛才在電話裡已經知道其他三個孩子都沒辦法回來陪她過冬至。我陪著阿嬤的時間大約有兩年了,我很清楚知道,阿嬤聽到她的子女們不回來的消息一定很難過及失望,所以我安撫阿嬤,陪著她一起吃湯圓。「我稱它為紅彈珠湯。」我開玩笑地說道。

「沒錯,湯圓長得像彈珠。那如果彩虹呢?這裡也有綠色啊,五顏六色都有。」阿嬤回答。我輕輕微笑並點點頭。只要阿嬤不感到傷心難過就好。

「他們不回來的話也沒關係,有我在這陪妳一起把湯圓吃完啊。」我安慰地說道。

*****

我把去年冬天的衣服翻出來。羽絨外套、長褲、襪子等都從行李拿出來。我甚至也開始買暖暖包做準備了。阿嬤從後面出現,把我嚇一大跳。不是因為阿嬤像我的印尼同鄉所照顧的奶奶那樣經常大聲喊叫,而是阿嬤又叫我再去買糯米粉。

「阿嬤,今年不是不會有人回來嗎?」我問道。

「沒事,妳幫我就好。這次麻煩妳買七斤喔!」她吩咐。我拖著步伐離開我剛剛整理的冬天衣服。差不多所有東西都整理好了,剩下厚棉被我還沒把它拿出來。只好先放在一邊,先趕快處理阿嬤的要求。不是錢的問題,而是阿嬤的一舉一動我都得注意著。

「對呀,我看到她提著一大袋的湯圓。但不是往公園方向,而是走到後面廟裡那兒。」阿姨對我說著。我有點疑惑,因為我已經提醒阿嬤若是要出去一定要與我一起,因為這本來就是我份內的工作。但阿嬤仍然從我的視線範圍內消失了。通常她會趁我在浴室或忙著煮菜的時候離開。就像今天,她又拿著一大袋湯圓不見了。昨天她已經把七斤的糯米粉搓成小圓球了。

我往位於公寓東邊的寺廟走去。因為廟的前方還是很安靜,所以一進去我就直接往後面走。廟的後方有個大操場,許多屋子與主廟長的一模一樣,只是比較小。我看到阿嬤在那裡。與幾個人圍繞圓桌坐著。「那是妳的看護。」其中一個坐著的人指著我。我走過去,阿嬤和其他人一起往那人指的方向看過來。

「所以妳把湯圓給他們?」我直接問道。如我剛才所說的,這不是錢的問題,只是我思緒太亂了。我只是擔心阿嬤的好心被他們利用。若到時候阿嬤因為做太多湯圓而累倒,我該扛的責任不是更重嗎?

「沒關係,我很開心可以做這些。」阿嬤回答。阿嬤與一起吃湯圓的人們說再見後便走回家。我也跟著阿嬤離開寺廟。我不曉得那些人是誰,可能是看守寺廟的人或那裡的居民。我完全不認識。

*****

昨晚下雨。淋濕的土地散發出一種香味。我知道,這裡淋濕後的土地香味不會像我家鄉那裡的香味這麼濃烈。但這香味足以防堵我心中的思念。我喜歡雨天,尤其當夏天好幾個月沒下雨,突然下起雨來一定會散發出那香味。雨滴聲在我耳朵聽起來十分動聽,尤其當它破碎在地面上並帶著芳香族化合物的微細粒子。很香也很安慰人心。我正在公寓守衛室旁邊站著,因為接到電話通知說402的包裹到了,這是我住的公寓號碼。

「這是妳的。」守衛把包裹給我。我順便問守衛是否有給阿嬤的包裹,守衛很確定地搖搖頭。只有這一個並且是我的名字。我知道裡面一定是我前幾個月訂的相簿。我家人住在小鄉村,位於馬格朗(Magelang)和沃諾索博(Wonosobo)之間的邊境。像現在這麼發達的時代,住在那裡的人能趕得上腳步的沒幾個,包括我父母也是。別說透過手機傳照片,連接電話他們也需要鄰居來協助。

「那是什麼?」我到公寓時阿嬤問道。我微笑著邊打開那包裹。就如我說的,裡面真的是我的全家福照片。我母親、父親及兄弟姊妹小時候,包含我也在裡面。有幾張是我們到動物園旅遊的照片。我最小的弟妹因為騎著大象被驚嚇而哭慘了。

「阿嬤,這是我的家人。」我指著照片,解釋給她聽為什麼要寄這本相簿到台灣來的原因。我跟她說,只要看著這些照片,就足以治療我濃烈的思念。「阿嬤,妳有全家福照片嗎?」我問道。

我一直都沒看過這個家庭的全家福照。除了在line裡的群組,我只有看過兩次阿嬤的子女。而且也不是全部都見過。

「有,只有一張。」阿嬤回答。我要求阿嬤能否讓我看。她往房間裡去,出來時便拿著一張老舊的照片指給我看。

「這是我和我先生。這是我最大的孩子。抱在懷裡的是我最小的孩子。」她說道。

我逐一看著照片裡的畫面。「那妳的第二個孩子呢?」我好奇地問道。阿嬤漸漸移動坐姿。她望著遠方開始說起故事。她說在拍那張照片時,她第二個孩子正在國外當救災志工。「我那個孩子比較特別。他擁有善良的心,樂於分享。」

我點點頭認真聽著阿嬤的故事。的確,唯有阿嬤的第二個孩子我還沒見過。在line群組裡也很少出現。只有一兩次問候阿嬤罷了。

「你想知道他長得怎麼樣嗎?」阿嬤問我。我堅定地點點頭。

「在寺廟裡其中一個人長得很像我這第二個孩子。他也很喜歡吃湯圓。的確像極阿川了。也就是因為這樣,煮湯圓給他們吃、我從不覺得累。」我回想著昨天看到的那幾張臉孔。

「在這張照片裡確實沒有我第二個孩子,但在那寺廟裡有。」阿嬤繼續說道。我楞了一下,因為阿嬤與我擁有同樣的思念,我明白那種感覺。我再次看著阿嬤,始終面帶笑容的臉,一直散發出快樂的臉,就算知道她愛的那些人選擇更愛其他事情。不知不覺中,我的眼淚凝聚在眼眶裡。我靠近阿嬤緊抱住她。

「我明天會買更多糯米粉,我們把它帶去寺廟那裡。」我說道。

 

 

 

 

 

 

發表迴響

你的電子郵件位址並不會被公開。 必要欄位標記為 *