兩個寶貝 DUA BELAHAN JIWA

 Babak penyisihan 印尼文初選  

📜 兩個寶貝 DUA BELAHAN JIWA

👤 ERIN CIPTA

Jangan tanya sakitnya hati ini ketika raga tercerabut dari pelukan orang-orang tercinta. Langkah boleh saja terus menjauh, namun serpihan jiwa tetap tertinggal hingga ini menjadi perjalanan yang menyakitkan. Aku merasakannya dua kali.
***

Damar Panuluh. Bocah kecil ini adalah pelipur lara saat hatiku koyak ditinggal pergi lelaki yang bersamanya kubangun mimpi-mimpi. Suamiku, ayah Damar Panuluh, tak memberi aba-aba apa pun saat sore itu tiba-tiba roboh di depan pintu. Keranjang bambu di boncengan sepedanya bahkan masih dipenuhi kelapa muda untuk didagangkan esoknya. Suamiku terserang angin duduk. Serangan jantung mendadak yang sebenarnya bisa dirasakan gejalanya beberapa saat sebelumnya. Namun karena hanya seperti masuk angin biasa, lelaki pekerja keras itu mengabaikannya.

Saat itu, Damar masih menyusu padaku. Ia baru saja bisa menyebut “ya ya ya, bu bu bu” sebagai bahasa ciptaannya sendiri untuk memanggil kami; ayah dan ibu. Dunia seakan baik-baik saja. Kami hidup cukup dan tenang di desa.

Beberapa hari sebelum suamiku roboh, sebenarnya ia sudah sering mengeluh sakit di ulu hati dan dada kiri. Untuk mengobati, ia cukup minta dibuatkan air jahe hangat dan kerokan ringan di punggung dan leher belakang. Biasanya ia akan membaik setelah cukup tidur. Tak ada sangkaan apa-apa tentang sakitnya kecuali hanya masuk angin biasa. Pekerjaannya sebagai penjual kelapa muda memang akrab dengan angin dan matahari, sehingga sakit macam itu adalah hal biasa.

Hingga akhirnya pada suatu sore yang mendung, suamiku pulang dengan wajah pucat dan keringat dingin yang bercucuran di sekujur tubuhnya. Entah sudah berapa lama ia menahan rasa sakit sambil terus mengayuh sepeda tuanya demi sampai di rumah. Ia berbelok masuk halaman dengan tergesa. Pagar bambu ditabraknya. Bunyi gemeratak pagar itulah yang membuatku berlari dari dapur dan segera menyongsongnya. Suamiku berjalan terhuyung sambil memegangi dada kiri. Aku masih sempat menangkap tubuhnya yang perlahan roboh setelah tangannya tak lagi kuat mencengkeram gawang pintu depan. Tertatih-tatih kupapah tubuhnya yang basah keringat, dan kubaringkan di atas dipan.

“Pak, Bu … Tolooong …!” Aku melolong memanggil orang tuaku yang sedang duduk di dapur bersama anakku.

Bapakku datang dengan panik dan segera meraba tubuh suamiku yang mulai tersengal-sengal. Sedangkan ibuku, masih sambil menggendong Damar, berjalan cepat keluar rumah mencari pertolongan dari tetangga.

Kepanikan segera menyebar. Tetangga berdatangan dan berusaha sebisa-bisa mereka memberi pertolongan. Namun semua terlambat. Suamiku terdiam kaku setelah beberapa kali mencoba menarik napas dalam-dalam, dan gagal. Ia menghembuskan napas terakhirnya di pangkuanku …
***

Sudah hampir dua tahun suamiku pergi. Damar kini sudah semakin besar. Ia tumbuh menjadi anak yang sehat, meski kami selalu hidup dengan kesahajaan. Ia adalah bocah yang gembira, menyenangkan siapa saja yang ada di dekatnya. Seolah tahu bahwa ibunya harus bekerja mencari nafkah, ia tak pernah rewel jika harus ditinggal di rumah bersama neneknya.

Tanpa suami, akulah yang harus menjadi tulang punggung keluarga kecil ini. Orang tuaku tak punya sawah sendiri untuk digarap. Jika sesekali bapak menggarap sawah, itu adalah tanah sewa yang sangat terbatas waktunya. Aku bekerja serabutan. Menjadi buruh cuci di rumah-rumah orang kaya, atau terkadang mengambil pekerjaan mengupas bawang merah milik juragan pabrik makanan. Pekerjaan terakhir inilah yang paling sering kuambil. Karena pekerjaan ini bisa kubawa pulang, dan kukerjakan sambil mengasuh Damar. Namun minyak atsiri dalam bawang merah yang merebak dari umbi-umbi yang terkupas sering membuat mataku pedas. Itu juga membuat Damar tak suka berdekatan denganku yang beraroma menyengat.

“Mengapa ibu menangis?” Polos sekali mulut mungil anakku bertanya.

“Kena bawang, Nak … Bawang merah ini mengeluarkan gas yang bikin mata pedas,” jawabku sambil menyeka lelehan air mata.

“Ibu jangan menangis,”

Damar memeluk tubuhku dengan wajah sendu. Semula aku tak sedang menangisi apa-apa. Hanya karena bawang merah inilah air mataku mengalir. Namun setelah anakku memeluk seperti ini, makin deras air mata yang keluar selanjutnya. Dan ini bukan air mata bawang merah. Aku menangis sungguhan.
Banyak sekali yang berkelebat dalam benak. Tentang masa lalu, masa-masa bahagia saat suamiku masih ada. Tentang masa kini, masa ketika aku berjuang mati-matian menghidupi diri sendiri, ketika anakku butuh banyak perhatian dan kehadiran orang tua, ketika bapak dan ibuku sudah semakin sepuh dan tak seharusnya bekerja keras di sawah yang bukan miliknya. Tentang masa depan, yang sepenuhnya gelap gulita …
****

“Bu, aku titip Damar. Terserah ibu ia mau diapakan. Kita tidak bisa hidup begini-begini saja. Tak ada yang bisa kuharapkan lagi di desa ini,”
Akhirnya terlontar juga kata-kata ini. Aku harus keluar dari lingkaran demi sebuah harapan. Tenagaku tak akan selamanya kuat, sedangkan Damar makin besar, dan menuntut banyak kebutuhan.

Meski ini pilihan terakhir, namun aku mengambilnya dengan sepenuh sadar. Menjadi TKW tak pernah terbayangkan, meski di sekelilingku banyak perempuan yang menempuhinya. Aku banyak dikuatkan oleh saudara dan tetangga yang lebih dulu merantau ke lain benua. Pekerjaan menjadi buruh di negeri orang sesungguhnya tak semengerikan yang kubayangkan.

“Ibu tak keberatan, Han. Yang penting, kamu jaga diri baik-baik. Ibu akan menjaga Damar dengan baik juga. Bukankah semua ini demi anakmu?” kata ibu.

Damar. Damar. Damar …

Belahan jiwaku inilah yang membuatku tiba-tiba memiliki berlipat kekuatan dan keberanian. Demi anak ini aku rela bahkan menyeberangi sungai api. Jadi kupikir, apalah arti seribu kilometer dan seribu hari berpisah dengannya jika di ujung semua itu harapan baik menanti. Taiwan masih berada di hamparan bumi yang sama. Semua pasti akan baik-baik saja.

Begitulah setiap saat aku berusaha meyakin-yakinkan diriku sendiri. Melewati semuanya dengan gembira. Aku tak ingin niat baik yang kupancang dari semula berguguran karena aku tak kuasa menahan keinginan untuk selalu berdekatan dengan Damar.

Meski begitu, air mataku tetap tumpah ruah saat tiba hari keberangkatan. Ironisnya, Damar yang melihatku menangis justru tetap gembira. Mungkin ia mengira ibunya menangis karena minyak atsiri yang menguar dari bawang merah kupasan. Mulut mungilnya tetap berceloteh riang. Ia tak keberatan saat kubilang akan kutinggal.

“Besok kalau ibu pulang, Damar ingin beli layang-layang. Kita terbangkan bersama di sawah belakang,” celotehnya riang mengabaikan air mataku yang berjatuhan.

Aku tak bisa berlama-lama seperti ini. Membiarkan diriku terlalu lama memeluknya ketika akan pergi mungkin akan melemahkan keyakinan dan kekuatanku sendiri. Kuserahkan Damar pada ibuku yang juga menyusut ujung matanya dengan kain lusuh yang membungkus tubuhnya.

Kuseka kering-kering air mata yang tersisa. Aku tak ingin menangis lagi di hadapan Damar. Senyum paling lebar kupersembahkan saat memeluknya sambil berpamitan. Damar tetap gembira. Ia bahkan melambai-lambai sambil tertawa sampai mobil jemputan yang membawaku hilang di tikungan.

Hatiku patah sejadi-jadinya …
***

Cuaca Kaohsiung di musim panas tak banyak berbeda dengan cuaca desaku di Indonesia. Aku tiba saat musim panas baru saja datang. Dengan perbedaan yang tipis itu, aku merasa beruntung karena tak perlu menyesuaikan diri terlalu banyak. Beberapa helai pakaian yang kubawa dari Indonesia tetap bisa kukenakan di sini.

Aku bekerja pada sebuah keluarga kecil. Tuanku adalah seorang petugas pemadam kebakaran. Sedangkan Nyonya adalah seorang guru yang baru saja melahirkan anak pertama. Tugas utamaku adalah merawat Ama, ibunda dari Tuan yang sudah sangat sepuh. Tentu saja urusan rumah tangga yang lain juga menjadi tugasku. Termasuk sesekali membantu Nyonya mengurus bayinya.

“Tak ada aturan khusus. Kamu lihat saja apa yang kira-kira perlu dikerjakan. Anggap ini rumahmu, dan kamu adalah keluarga kami di sini.” Ramah nian sambutan Nyonya sejak pertama.

Dengan peraturan macam itu, tak berarti aku lantas lebih sering bersantai. Aku cukup tahu diri dan berusaha melakukan semuanya dengan baik. Lagipula, kesibukan akan melipur rinduku pada Damar.

Tak butuh waktu panjang sampai akhirnya aku bisa diandalkan di rumah ini. Pekerjaan rumah tangga bukan hal asing untukku yang terbiasa bekerja keras sejak kecil. Merawat Ama juga mudah saja. Ama masih sehat dan bisa berjalan meski pelan. Hanya saja urusan obat-obatan menjadi hal yang perlu sedikit perhatian lebih.

Dan yang membuatku makin kerasan adalah An Jie, bayi lelaki yang sangat lucu, anak pertama Tuan dan Nyonya. Meski merawatnya bukanlah tugasku, namun sesekali aku bisa menimangnya. Naluri keibuanku terpelihara ketika berdekatan dengannya.

Nyonya sangat cekatan mengurus bayinya. Jika tiba waktunya mengajar, ia akan membawa bayi itu berangkat bersamanya. An Jie akan dititipkan sementara di rumah penitipan anak. Sore hari, mereka akan kembali lagi ke rumah.

Tugas Tuan sebagai pemadam kebakaran menuntutnya selalu siaga setiap saat. Meski tiap pagi rutin berangkat bekerja, tetap tak menutup kemungkinan tiba-tiba malam hari ia akan berangkat lagi. Kadang ia tak pulang hingga beberapa hari.

Maka kebanyakan siang hariku dihabiskan bersama Ama di rumah.
****

Sebentar lagi musim gugur tiba. Udara masih panas, namun mulai lembab. Sesekali angin kencang berhembus membawa debu dan dedaunan kering. Nyonya menyuruhku memeriksa semua saluran pembuangan air di sekeliling rumah. Diperkirakan hujan akan banyak turun bulan depan. Juga mungkin angin topan tahunan yang menjadi agenda rutin negara Pulau Daun ini.

Pada suatu malam, Tuan mendapat panggilan tugas tiba-tiba. Serupa panggilan-panggilan sebelumnya. Nyonya membatu Tuan menyiapkan semuanya, sedangkan aku bertugas menjagai An Jie yang sedang dalam jam menjelang tidurnya.

Entah ini sebuah kebiasaan atau bukan, malam ini aku melihat tuan begitu erat memeluk istrinya sebelum keluar rumah. Tuan juga menciumi An Jie bertubi-tubi tanpa peduli bayi itu menggeliat tak nyaman.

“Hani, bantu Nyonya mengurus An Jie, ya. Aku titip Ama padamu,” ucap Tuan padaku.

Ucapan itu terdengar biasa, tapi terasa sedikit menggetarkan karena sebelumnya Tuan tak pernah berpamitan demikian rupa.

Selepas tuan pergi, kutimang bayi ini lebih lama. Nyonya sedang mengerjakan tugas dari sekolah tempatnya mengajar, hingga ia menyerahkan An Jie padaku untuk ditidurkan.

An Jie mulai besar. Ia mulai berceloteh mengeluarkan bunyi-bunyi dari mulutnya dengan gembira. Bayi ini membawa aura kehangatan di rumah ini.

Kerinduanku pada Damar mulai tak begitu menyakitkan. Bukan memudar, melainkan karena aku mulai terbiasa menanggungnya. Aku bisa sering-sering menelpon ke adikku di Indonesia. Ia sering ke rumah ibu dan menyambungkanku dengan Damar untuk bercakap-cakap. Hatiku mengembang ketika dari hari ke hari aku menemukan Damar tetap menjadi anak yang gembira meski aku tak berada di dekatnya. Anakku tetap riang berkata-kata menceritakan apa saja. Ini sangat melegakan.

Sepertinya malam itu aku harus tidur berdekatan dengan An Jie karena Nyonya masih sangat sibuk dengan tugasnya. An Jie sedikit demam sehingga harus tetap diawasi. Nyonya menyuruhku tidur di sebelah box bayi tempat tidur anaknya itu. Maka sebelum aku memboyong bantal dan selimutku, kupastikan dulu Ama nyaman beristirahat di kamarnya tanpa diriku.

Tengah malam buta aku tebangun saat tiba waktuku memeriksa Ama, aku melihat Nyonya tidur di sofa dengan komputer yang berkedip-kedip di depannya. Rupanya ia tertidur sebelum menyelesaikan semua tugasnya.

Aku beranjak ke kamar Ama dan memeriksa diapersnya. Malam ini Ama hanya buang air kecil, sehingga aku cukup menyeka dan mengganti diapers saja dengan singkat.

Setelah mengurus Ama, aku beranjak ke dapur bermaksud mengambil air panas untuk persediaan di kamar. Saat sedang menjerang air, aku mendengar dentuman keras di kejauhan.

“Duuuumm ..!!!”

Sedetik kemudian lantai tempatku berpijak bergetar. Aku kaget. Langsung saja kumatikan kompor meski air yang kujerang belum medidih.

Namun sekejap saja, mungkin hanya tiga detik setelah itu, tiba-tiba …

“BLAAARRR …!!!”

Ledakan keras yang entah berasal dari mana mengguncang rumah ini. Aku terhuyung sambil melindungi kepalaku dari serpihan kaca jendela yang buyar.
Aku sangat terkejut, namun sedetik kemudian segera dikuasai kesadaran kembali. Pontang-panting aku berlari menuju kamar.

An Jie … Aku harus memastikan bayi ini aman. Ketika aku berhasil menjangkaunya, ia menangis kencang. Nyonya juga tampak sangat terkejut dan berdiri sempoyongan mencoba menguasai keseimbangan.

“Anakku!” pekik Nyonya.

“An Jie ada padaku, Nyonya.” jawabku segera.

Setelah Nyonya bisa berdiri tegak, kuserahkan bayi yang masih menangis itu ke pelukannya. Aku segera berlari kembali ke kamar Ama dengan degub jantung yang tak beraturan.

Aku sedikit lega karena Ama tidak mengalami apa-apa. Segera saja kududukan Ama di kursi roda, lalu mendorongnya ke ruang tengah bergabung dengan Nyonya dan bayinya.

Kami semua sangat terkejut dan bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Beberapa kaca jendela pecah berantakan, namun tak ada kerusakan lainnya.

“You ti cen, ma?” Ama bertanya dengan suara bergetar.

“Bukan, Ama. Bukan gempa bumi. Ini ledakan, entah apa,” sahut Nyonya.
Kami bertiga dan sorang bayi yang terus menangis, duduk ketakutan di ruang tengah. Dari arah luar terdengar suara alarm mobil bersahut-sahutan. Jeritan orang yang ketakutan terus terdengar.
***

Tak ada yang menyangka, pelukan erat Tuan pada Nyonya malam itu adalah pelukan terakhirnya. Tuan gugur dalam tugas …

Malam itu Tuan mendapat panggilan untuk memeriksa saluran gas yang mengalami kebocoran. Sebetulnya itu adalah hal biasa bagi seorang petugas pemadam kebakaran. Tak disangka, kebocoran itu berbeda dari sebelumnya. Mungkin karena sudah terlalu parah, gas bocor itu sulit diperbaiki sehingga menimbulkan ledakan beruntun di sebagian jalur gas bawah tanah kota Kaohsiung. Ledakan itu meninggalkan lubang panjang yang menganga mengerikan. Ledakan itu melukai ratusan orang dan merenggut puluhan nyawa. Termasuk Tuan …

Keluarga ini berkabung. Nyonya tampak sangat terpukul. Ama juga berkali-kali meratap menangisi kepergian anak lelakinya itu. Pada titik tertentu, aku bisa sangat mengerti dengan apa yang keluarga ini rasakan. Aku sangat paham dengan kehilangan yang Nyonya alami. Dua tahun yang lalu aku mengalami hal yang nyaris serupa. Ditinggal suami saat anak masih bayi. Sungguh aku benar-benar bisa merasakannya.

Saat ditinggal ayahnya, Damar sudah agak besar. Sedangkan An Jie saat ini masih sangat kecil. Hatiku retak saat menyaksikan Nyonya tak pernah berhasil menahan tangis tiap kali menyusui anaknya.
***

Namun hidup tetap harus berjalan. Nyonya tak lantas mati langkah sepeninggal suaminya. Ia tetap mengajar, bahkan makin giat. Ia meneruskan pendidikannya di sela-sela tugasnya mengajar.

“Hani, aku lakukan ini semua demi An Jie. Aku ingin ia punya masa depan yang baik. Maka aku harus bekerja lebih keras,” ucap Nyonya pada suatu sore.

“Iya, Nyonya. Aku mengerti,” sahutku.

“Aku tahu ini akan menambah pekerjaanmu. Mulai minggu depan aku akan makin sibuk di sekolah dan kampus. Aku butuh kamu untuk membantuku mengasuh anakku. Apakah kamu keberatan jika kutugasi mengurus An Jie sehari-hari?” tanya Nyonya dengan lembut.

“Tentu saja aku tidak keberatan. Aku bisa merawat An Jie dan Ama sekaligus. Ini tidak merepotkan. Sungguh,” jawabku cepat-cepat.

Nyonya benar-benar menyerahkan An Jie ke tanganku. Memasrahkannya di bawah asuhanku. Aku menerima tugas ini dengan dada bergemuruh. Bagaimana tidak, An Jie selalu mengingatkanku pada Damar.

Sejak saat itulah aku berjanji akan mengasuh bayi ini dengan sepenuh jiwaku. Akan kuberikan sebaik-baik perlakuan padanya. Perhatian dan cinta akan kulimpahkan tanpa syarat untuknya.
***

Bertahun-tahun bersamanya laksana ibu dan anak, membuat ikatan batin antara aku dan An Jie terjalin begitu erat. Bukan bermaksud merebut, namun An Jie lebih dekat dan percaya padaku katimbang pada ibunya sendiri.

Tiap malam, akulah orang terakhir yang berada di sampingnya sebelum ia tertidur. Dan menjadi orang pertama di pagi hari yang menyapa saat ia membuka mata. Puluhan lagu anak-anak kuajarkan padanya, bahkan yang berbahasa Indonesia sekalipun! Kubacakan puluhan buku dongeng, dan kuceritakan kisah-kisah karanganku sendiri.

Ia lebih sering memanggil namaku daripada ibunya. Karena memang akulah yang lebih sering bersamanya. Nyonya tak pernah keberatan karena di bawah asuhanku An Jie tumbuh sehat dan bahagia. Tentu saja aku sama sekali tak keberatan ketika Nyonya ingin menghabiskan waktu berdua saja dengan anaknya. Mereka biasa menghabiskan hari libur dengan bepergian berdua saja, sedangkan aku di rumah bersama Ama. Namun hampir selalu ritual bepergian itu berakhir dengan An Jie yang rewel karena terus menanyakan diriku.

“Hani, An Jie selalu menanyakanmu. Ah, lebih baik kamu kuajak pergi bersama kami daripada aku capek menjawab mulutnya yang cerewet mencarimu, ha ha ha,” ucap Nyonya sambil tertawa.

Aku mengelus kepala An Jie yang berada di gendonganku. Anak ini langsung berlari menyongsong ketika aku membuka pintu tadi. Baru saja berpisah sehari, ia sudah mendekapku erat sekali.

“Hani, wo xiang ni,” gumamnya manja.

Hatiku mengembang. Jiwaku melayang pulang ke Indonesia. Sosok anakku memenuhi segenap ruang ingatan. Aku membayangkan sedang memeluk Damar saat ini.

Perpisahanku dengan Damar menciptakan sebuah ruang di hatiku. Ruang itu hanya berisi rindu. Dulu kupikir, kedekatanku dengan An Jie bisa melenyapkan ruang itu. Kupikir An Jie bisa menggatikan posisi Damar dalam hatiku.
Ternyata aku keliru. Mereka berdua tak pernah bisa saling menggantikan. Keberadaan An Jie di dekatku tak menggeser apa pun dalam ruang itu. Cintaku pada Damar masih menggebu. Rinduku masih bertalu-talu.

An Jie hadir menempati ruang lain. Ruang yag sama istimewanya dengan anakku. An Jie menyembuhkan lebam biru di hatiku akibat menanggung rindu pada Damar. Meski An Jie tak lahir dari rahimku, namun ia adalah belahan jiwaku yang lain. Aku mencintainya tanpa ragu.
***

Aku tahu saat ini akan tiba. Kontrak kerjaku akan segera berakhir. Aku memutuskan untuk tidak memperpanjangnya lagi. Sebidang sawah sudah berhasil kubeli untuk digarap bapak di desa. Tabunganku juga cukup untukku membuka sebuah usaha. Dan yang menjadi alasan utama kepulanganku adalah Damar.

Tentu saja aku ingin segera berkumpul kembali dengan anakku. Membangun masa depan. Membayar kebersamaan dan waktu-waktu yang hilang. Aku diserang kegelisahan yang sulit kukendalikan pada hari-hari terakhir keberadaanku di sini.

Jika ada yang memberatkan langkah, itu adalah karena aku harus berpisah dari An Jie. Anak ini seolah sudah menjadi satu paket dengnku. Dulu ketika An Jie masih kecil, aku kerap terkejut karena tiba-tiba anak ini sudah berada di dekatku yang sedang memasak di dapur atau mengurus Ama di kamar. An Jie selalu tahu di mana bisa menemukanku. Sehingga ketika bangun tidur ia tak pernah menangis, dan langsung mencariku.

Hari-hari terakhir ini kulalui dengan banyak melamun. Terutama ketika sendirian di dapur.

Sebuah tarikan di ujung baju mengejutkanku.

“Mengapa Hani menangis?” tanya An Jie yang tiba-tiba sudah ada di sampingku.

Cepat-cepat kuhapus air mata.

“Kena bawang. Bawang merah ini mengeluarkan gas yang bikin mata pedas,” jawabku.

Tentu saja aku berbohong. Aku bukan sedang mengiris bawang, melainkan lobak. Sesungguhnya aku pun tak tahu barusan menangis karena apa. Aku menjawab begitu, karena teringat pada Damar yang dulu selalu bertanya ketika aku menangis karena mengupas bawang merah.

An Jie melongok meja. Mungkin karena tak melhat bawang di sana, wajahnya berubah cemberut. Aku berlutut menyejajarkan badan dengannya.

Tiba-tiba An Jie memelukku erat sekali.

“Hani jangan menangis. Aku sayang Hani. Sungguh,” ucapnya sambil menenggelamkan wajah ke pelukanku.

Aku kalah … Air mataku tumpah ruah. Sakit sekali membayangkan perpisahan dengannya. Meski yang akan kusongsong adalah Damar, belahan jiwaku yang sesungguhnya, namun An Jie juga adalah belahan jiwa lain yang telah menyembuhkan luka hatiku di Formosa. Esok aku akan berpisah dengannya, di usia yang sama seperti ketika dulu Damar kutinggal.

Hatiku patah untuk kali kedua …

****selesai******

CATATAN:

~Kisah ini adalah fiktif, namun mengambil sedikit latar kejadian nyata ledakan pipa gas di Kaohsiung Taiwan pada Agustus 2014.


📜 兩個寶貝 DUA BELAHAN JIWA

👤 ERIN CIPTA

 

 

別問這身體有多疼痛,與最親愛的人分離。腳步可以繼續往前,但靈魂的一半卻留在這條如此痛苦的路。我經歷過兩次。

***

Damar Panuluh。原本與我一同築夢的男人離開時,這小子是我的安慰。我老公,Damar Panuluh爸爸,當天下午沒有任何交代,整個人倒在門前。腳踏車上的竹籃裝滿準備明天拿去賣的椰子。我老公血管堵塞,類似可預先感覺到的心臟病,由於症狀很像一般的感冒,讓這個刻苦耐勞的男人忽略它。

當時,Damar還在哺乳期。他只能說「呀呀呀,不不不」。這是他叫我們的另一種方式:爸爸和媽媽。一切看起來似乎都好好的,我們在鄉下的生活滿足且平靜。

在我老公離開的前幾天,經常說心臟和左胸有點痛。他只要求喝熱薑茶和幫他刮背部和脖子的痧,通常睡了覺便可好轉。沒有任何疑點,純粹以為只是一般感冒。他平時的工作是買賣椰子,與風和太陽接觸是家常便飯,因此感冒是很正常的。

直到一個陰天的下午,我老公頂著蒼白的臉和一身冷汗回來,不知道在騎那台老舊腳踏車的回程路上忍了多久的痛。他趕緊轉彎往院子,竹籬笆被他撞歪,也就是因為聽到那聲音,我趕緊從廚房衝出去。我老公步履蹣跚,摸著左胸,我扶著他已無力握住前門的身體,搖搖欲墜。我扶著他全身發汗的身體,讓他躺在床上。

「爸,媽…救命…!」我大聲喊著與我孩子在廚房的父母。

父親慌張地摸著開始喘息的老公,母親邊抱著Damar邊走出家裡向鄰居求救。

所有人都很緊張。鄰居陸陸續續趕來,給予他們所能幫的忙。但一切都太晚了,我老公在那動也不動。他在我懷裡嚥下最後一口氣。

***

我老公離開至今已過了兩年之久。Damar現在已長大,是個健康又快樂的孩子,我們過著平凡又簡單的生活。他是個很開朗且人見人愛的孩子,似乎懂得他母親得努力工作養家,若我把他給奶奶照顧也不會哭鬧。

我成為這個家的支柱。我父母沒有自己的田地可耕耘,到了耕田的季節,父親會到別人家的農地耕田,但只是暫時性的工作罷了。我所有工作都不排斥,有時到富有人家裡的當洗衣傭人,或有時候到食品工廠幫忙剝紅蔥頭。這個工作是我最常做的,因為可以帶回家邊剝邊照顧Damar。但有時候剝著紅蔥頭會讓我眼睛感到辣,那蔥的刺鼻味道,也讓Damar不喜歡靠近我。

「媽媽妳為什麼哭?」我孩子單純的問。
「因為剝蔥啊,孩子…從這產出的氣體讓我眼睛很辣。」我邊擦眼淚邊回答。
「媽媽不要哭。」

Damar以難過的表情抱住我。原本純粹是因為蔥的辣讓我哭,但孩子突然這麼抱著我,讓我眼淚不斷地掉下來。不是因為蔥,而是我真正的哭了。

腦海裡出現許多回憶。關於過去,當我老公還在時的快樂時光。關於現在,我得自己打拼為了養活這個家,孩子也需要更多的關心與父母的角色陪伴,我父母年紀越來越大、也不應該在別人田地耕耘。關於未來,仍是一片模糊。

****

「媽,Damar交給你。隨便妳要讓他怎麼樣。我們不能一直處在這樣的生活。我對這個鄉村沒有抱多大的希望。」

這句話我終於說出口了。我一定要為了某些希望,從這個圈子跳出來。我的力氣會隨著年齡逐漸消失,但Damar一直在長大,有大量的需求。

雖然這最後的選擇,但我非常堅定。我沒有想像過當印尼勞工是什麼感覺,雖然周遭的女性朋友很多都是,我身邊的親戚朋友也很多人鼓勵我到他國去打拼,在海外當勞工其實沒有我想像中的可怕。

「媽媽不介意,Hani。最重要的妳要好好照顧自己。媽媽也會好好照顧Damar。這一切也是因為妳的孩子啊,不是嗎?」母親說。

Damar. Damar. Damar …

沒錯,是我的寶貝讓我力量和勇氣加倍。為了這孩子,我願意過火海。所以我想,千百公里的距離和千百天的日子沒什麼大不了,若最終一切的希望都能實現。台灣還是在同樣一個地球,一切都會好好的。

我每天都這樣安慰自己,開心過著每一天。我不希望現在所建立的毅力,會因為想要跟Damar在一起而破功。

雖然如此,在我出發那天眼淚還是忍不住掉下來。最諷刺的是,Damar看到我哭竟然還是開心的笑。可能他以為媽媽是因為蔥的辣味而哭。他仍然開心的笑,當我說將要離開時也完全不哭鬧。

「媽媽妳如果明天回來的話,Damar我想要買風箏。我們一起在田野後院玩。」他開心的對我說,完全忽略我眼淚。

就先這樣吧。不能抱他太久,因為這樣會將我的堅定和信念削弱。我把Damar交給正在用破舊衣服擦眼淚的母親。

我擦乾剩下的眼淚。我不想在Damar面前哭,我露出我最燦爛的笑容,緊緊抱住他再離開。Damar還是很高興,他邊揮手邊笑,直到載我的車子轉彎、消失在他的視線。

我的心碎了。

***

高雄的夏天天氣與印尼天氣沒有差很多。我在夏天季節抵達,沒有感到很大的差別,還算可以適應得來,幾件從印尼帶來的衣服也可以在這裡派上用場。

我在一個小家庭工作。雇主先生是個消防員,夫人是剛生完第一胎的老師,我主要的工作是照顧阿嬤,先生的老母親。當然其他家事也成為我在這的工作,包含幫忙夫人照顧她嬰兒。

「沒有特殊的規定。妳就大概看一下,需要做的事就做,把這裡當自己的家,因為妳是我們的家人。」夫人從第一天就非常熱情的歡迎我。

因為這樣的規定,我更不能讓自己偷懶,我要知道分寸並且把每件事做好。何況,只有忙碌我才能把專注,不把心思一直放在Damar身上。

熟悉這家的環境不需要太長的時間,做家事對我來說不是個陌生的工作,因為我從小就習慣做家事了。照顧阿嬤也不難,阿嬤身體很健康,也還能走路,雖然慢了一些。唯有吃藥的部分較需要細心些。

最令我開心的是安傑,可愛的男嬰,先生與夫人的第一個孩子。雖然照顧他不是我的主要工作,但偶爾抱著他的時候,我的母性會自然而然地出現。

夫人非常勤勞地照顧她的孩子。教書的時間到,她便帶著孩子一起出門,安傑會暫時放在家庭托兒所。下午,他們兩人就一起回來。

身為消防員的先生隨時都得準備就緒,雖然每早規律去上班,但經常半夜得突然出勤,有時候好幾天也沒回家。

因此多數中午時間,都是我和阿嬤兩人在家一起度過。

****

不久秋天來臨。天氣還熱,但有點潮濕,偶爾吹起大風帶走灰塵和枝幹樹葉。夫人吩咐我檢查家裡所有排水管,預計下個月會開始下雨,似乎是這椰子形狀島嶼每年的例行颱風。

一天晚上,先生接到緊急命令,一如往常,夫人幫忙準備所有需要的東西,而我照顧快到睡覺時間的安傑。

不知是否是一種預感,今晚我看先生在出門前抱夫人非常緊。先生也不斷親安傑,完全忽略那嬰兒感到不舒服的感覺。

「Hani,幫忙夫人照顧安傑。我也托妳幫我照顧阿嬤。」先生跟我說道。

那句話聽起來沒什麼,但突然令人心酸,因為先生從來沒這樣告別過。

先生離開後,我抱著這嬰兒非常久。夫人正準備學校的工作,所以她把安傑交給我,讓我哄他入睡。

安傑漸漸長大,他開始開心的嘰嘰喳喳,這嬰兒為這個家帶來溫暖的氣氛。

我對Damar的思念逐漸被治愈。不是消退,而是因為我漸漸習慣忍下來。我能常常打回去印尼給我妹妹,她常去母親家並把電話拿給Damar聽,我很開心地發現儘管我不在身邊,Damar還是一天一天長大,成為開朗的孩子。我的孩子依然愉快地分享任何事情,這令人十分欣慰。

那天晚上我應該得跟安傑睡,因為夫人還在忙她的工作。安傑有點發燒,需要專心照顧,夫人叫我睡在嬰兒箱旁邊,我便把枕頭和棉被拿過來,並且先確認阿嬤沒有我在身邊也可以好好休息。

半夜醒來檢查阿嬤的狀況時,我看到夫人睡著在沙發上,電腦仍然是開機的。看起來她還沒把它東西完成就睡著了。

我走向阿嬤房間並檢查她的尿布。今晚阿嬤只放小號,我擦乾淨換個新尿布即可。

處理完後,我走近廚房裝滿等等要放在房間的熱水。在我正在裝水的時候,突然聽到遠方傳來的重大聲音。

「咚…!!!」

一秒後我站著地板振動,我感到驚嚇,我把正煮水的瓦斯直接關掉。

但瞬間,只有三秒,突然…

「碰…!!!」

不知從何而來的爆炸聲震動整棟房子,我搖晃並保護我的頭部,以免刺到玻璃窗的碎片。

我非常驚訝,但意識轉回來的時候,我立馬跑到房間。

安傑…我一定要確保那孩子平安無事。我大聲的哭,並抱住他,夫人也看起來十分驚訝並努力平衡站立。

「我的孩子!」夫人喊道。
「安傑在我這裡,夫人。」我立馬回答。

夫人站穩後,我便把嬰兒交到她懷抱裡,我趕緊跑到阿嬤房間。

看到阿嬤也平平安安,我鬆了一口氣,立刻把阿嬤移到輪椅上,推到客廳與夫人和嬰兒聚集在一起。

大家十分驚訝和疑惑剛剛發生了什麼事,有幾戶玻璃窗破掉,幸好沒其他物品損壞。

「有地震嗎?」阿嬤顫抖的聲音問道。
「不是,阿嬤。不是地震。這是不知道什麼的爆炸案。」夫人回答。

我們三人和一個嬰兒開始哭,感到非常害怕,外面不斷傳來汽車防盜器的聲音,人們驚恐的尖叫聲也不斷穿透窗戶傳進耳裡。

***

沒有人想到,那天晚上先生抱緊夫人,是最後一個擁抱。先生在任務中死亡。

那天晚上先生被分派檢查漏氣的瓦斯,其實那對消防員來說是件家常便飯的事。但萬萬沒想到,這次的漏氣與往常不一樣,可能漏得嚴重導致很難修理,高雄便發生了城市地下瓦斯管路爆炸案,那爆炸產生一排很長的龜裂,數百人受傷,更奪走十幾人的命。包括先生…

這個家庭正在悼念。夫人非常難過,阿嬤也不斷哀嚎兒子的離開。某種程度來說,我非常能體會他們的感受,我非常了解夫人所感到的失去,兩年前我也幾乎經歷過同樣的事。孩子還小、老公離去。我真的非常能體會這種感覺。

在爸爸離開的時候,Damar年紀稍微大了些。而安傑目前還很小,我心碎了。每次看到夫人喂母奶時都忍不住掉眼淚。

***

但人生還是得繼續走下去,夫人不會因為老公的離去而停止腳步,她還是繼續教書,反而更加努力。她也在教書的空檔時間繼續進修。

「Hani,我做的一切都為了安傑。我希望他擁有光明的前途,所以我得努力。」夫人在某個下午如此說到。
「是,夫人。我能理解。」我回答。
「我知道這會增加妳的工作量。因為我從下禮拜開始會在我教書以及唸書的學校越來越忙,我需要妳的幫忙照顧我的孩子,妳會介意我吩咐妳照顧安傑嗎?」夫人溫柔的問。
「當然不會。我可以照顧阿嬤兼安傑。這一點都不麻煩,真的。」我趕緊回答。

夫人真的把安傑交到我手上,百分之百的相信我,我精神十足地接受這任務,高興都來不及,怎麼可能拒絕?因為每次看到安傑,就如同看到Damar一樣。

從那天起,我承諾一定要照顧好這孩子。我一定會好好照顧他,所有的關心和愛都會無條件的獻給他。

***

幾年下來和他在一起的相處如同母子,我和安傑的感情越來越緊密。沒有任何別的意思,事實是相比自己的媽媽,安傑與我關係比較親密。

每天晚上,我是他睡前最後所看到的人,也是早上起床看見的第一個人。我教他唱好十幾首兒歌,甚至有些是印尼文的!我也讀好十幾本故事書,還有我自己編的故事給他聽。

比起叫媽媽,他更常叫我的名字,因為是我比較常跟他在一起玩。夫人完全不介意,只要安傑健康快樂成長就好,如果夫人只想要與她孩子兩個人一起度過,我當然也不介意。通常假日他們兩人會出去玩,而我待在家裡與阿嬤一起,但他們行程每次到最後安傑都會哭鬧不休,因為他會不斷找我。

「Hani,安傑每次都會問妳在哪裡。啊,下次我帶妳一起去好了,不然他每次吵著找妳,我也回答的好累,哈哈。」夫人邊說邊笑。

我撫摸在我懷裡的安傑的頭,這孩子一打開門回來就直接飛奔到我這兒來。才離開一天而已,他就將我摟緊緊。

「Hani,我想妳。」他撒嬌的說道。

我覺得好溫馨,靈魂飛回印尼。我將我孩子的畫面裝滿腦海裡,想像現在正抱著Damar。

我與Damar的分離,在我心裡塑出一個空間,那空間裝滿思念。以前我以為,我和安傑的關係可以把那空間填補甚至消失,我以為安傑可以代替Damar在我心裡的位置。

但我錯了。他們倆都不能互相代替。安傑的存在並沒有移動任何空間,我對Damar的愛依然濃烈,對他的思念依然澎湃。

安傑塑造了另一個空間,與我孩子一樣特別的空間。安傑治療我心裡對Damar思念所造成的瘀青,雖然安傑不是我親生的,但他是我另一個寶貝,我毫無猶豫地,很愛很愛他。

***

我知道這一刻遲早得面對。我合約即將結束,決定不再延長。我已經買到一塊田地,讓父親可以在家鄉耕耘,我的儲蓄也足夠做生意了。當然,回去主要的原因,不外乎是Damar。

我當然想趕快與我孩子團圓,構築未來,彌補已失去的相聚時光。我難以控制的緊張感在接近離開的日子越發明顯。

讓我最捨不得離開這的,肯定是安傑。這孩子似乎與我成為一體,以前安傑很小的時候我經常嚇到,因為當我在廚房煮菜或在房間照顧阿嬤的時候,他會突然出現在我身邊。安傑總知道要去哪裡可以找得到我,所以他每次睡醒時都不會哭鬧,反而會直接來找我。

最後幾天的日子,我多數在發呆。尤其在廚房一個人的時候。

突然一股拉我衣服的力量讓我嚇一跳。

「為什麼Hani哭?」安傑突然出現在我身旁問道。

我趕緊把眼淚擦乾。

「因為我在切蔥。這個紅蔥頭會讓眼睛覺得辣辣的。」我回答。

當然不是真的。我不是在切蔥而是蘿蔔。其實我自己也不知剛剛哭的原因是什麼,我會這麼回答,是因為想起Damar以前在我剝蔥哭的時候也會這麼問。

安傑盯著桌子,可能沒看到蔥,他便皺眉苦臉。我蹲下看著他。

安傑突然抱緊我。

「Hani不要哭,我很愛Hani。真的。」他邊說邊更加緊抱我。

我輸了…淚滴如傾盆大雨。我不敢想像與他分開那天的心痛。雖然我最疼愛的是Damar,我的寶貝,但是安傑也在福爾摩沙島療癒我內心的傷。明天我將跟他分開,如同我離開Damar時他的年紀。

這是我第二次的心碎…

*****結束*****

備註:這是虛擬故事,但有擷取一些發生在高雄於2014年8月份的瓦斯管路爆炸案的真實事件。


 

📝 Komentar juri|Jesus S. Anam

Dialog tentang pahitnya kehidupan, rasa rindu, cinta tak bersyarat memadati cerpen ini. Gaya bahasa dan penyuguhan perspektifnya yang khas menjadikannya tidak lebih buruk dibanding cerpen urutan pertama dan kedua. Kesalahan pada aspek bahasa juga sangat sedikit, bahkan nyaris tak terlihat. Namun, karena pertimbangan pada penahapan plot yang masih perlu banyak pembenahan, saya menempatkannya di urutan ketiga. Dan sebagaimana cerpen yang menempati urutan di atasnya, cerpen ini juga sudah layak dipublikasikan sebagai sebuah karya sastra.
Saya sempat terhanyut di pusaran inti cerita ini. Deskripsinya mengenai suatu peristiwa cukup mengesankan. Dan terdapat sebentuk filsafat yang berhasil disajikan dengan tenang.

📝 Komentar juriDédé Oetomo

Penokohan yang kaya dan kompleks. Melibatkan emosi yang kompleks. Memunculkan dilema. Alur yang runtut.

發表迴響

你的電子郵件位址並不會被公開。 必要欄位標記為 *