阿嬤像水一樣透明的心 Sebening Hati Ama

 2015 Babak penyisihan 印尼文初選 

📜 阿嬤像水一樣透明的心 Sebening Hati Ama

👤 Wiwik Maysaroh

 

Aku masih betah berlama-lama menikmati sejuknya udara pagi di tepi jendela kamar. Menatap bening yang berjatuhan dari sisa hujan semalam. Bening yang mengingatkanku pada seraut wajah teduh yang telah menorehkan berjuta kenangan di relung-relung batinku.

“”Ama, aku merindukanmu.””

***
Sekilas, orang tidak akan percaya jika kukatakan bahwa perempuan yang selalu murah senyum itu sudah berumur delapan puluh tahun. Rambutnya yang putih kehitaman ditambah tubuh segar bugarnya, membuat siapapun yang baru mengenal akan beranggapan umurnya masih sekitar tujuh puluhan. Bicaranya ceplas-ceplos, langkahnya gesit, terlebih jika sedang bersiap mengunjungi orang sakit bersama teman-teman di organisasi kemanusiaan yang dia ikuti.

“”Nanti siang kamu masak dan makan sendiri, aku menjelang malam baru pulang.”” sebuah pesan yang Ama sampaikan selepas sarapan pagi itu kubalas dengan senyum dan anggukan.

Lalu, seperti biasa dia akan menuju rak buku di dalam ruangan yang menyerupai perpustakaan mini di salah satu sudut rumah, dan mulai menjelajahi isinya.

Dua jam setiap pagi, adalah waktu Ama membaca buku-buku kesayangannya, sebelum kemudian pergi bersama mobil rombongan ke rumah sakit, panti jompo, atau ke rumah-rumah yang didalamnya terdapat orang sakit.
Jika berencana pulang menjelang malam, maka dia akan menyuruhku masak dan makan siang sendiri.

Terkadang aku tak habis pikir, jobku di sini menjaga ama, yang dalam angan-anganku adalah seorang pesakitan, lemah, dan sehari-hari hanya terbaring di atas ranjang. Aku pun sempat membayangkan membawa Ama ke taman dengan kursi roda, lalu berkumpul bareng teman-teman dan para jompo seusianya.

Tapi kenyataannya? Ama adalah sosok perempuan tua yang lincah dan masih suka ‘blusukan’ menebar kebajikan pada sesama.

“”Kita akan selalu sehat jika masih mau berbagi dengan sesama.”” sebuah jawaban yang selalu dia kemukakan, jika aku mengkhawatirkan kesehatannya, karena terlalu sering bepergian.

Menurut Ama, kebahagiaan dan kepuasan batin adalah jika bisa melihat orang yang sedih kembali tersenyum, orang yang sakit berangsur sembuh dan sehat. Tak jarang air matanya berlinangan manakala melihat kesusahan di depan mata.

Visi organisasinya adalah, memberi dorongan moril pada para pasien, agar tetap memiliki semangat dan keyakinan. Tentang masih adanya harapan hidup, separah apapun penyakit yang diderita. Karena tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, selama manusia masih mau berusaha dan berdoa.

Sedang misinya, yakni memberi bantuan obat-obatan, pakaian, juga makanan sehat bagi pasien kurang mampu serta anak-anak terlantar. Sungguh! Sebuah visi dan misi yang sangat mulia.

***
Masih terekam jelas dalam ingatanku, ketika pada satu malam yang gerimis, di puncak musim dingin. Sebuah SMS mengejutkan datang dari seorang teman yang sering kuajak mampir setiap kali melintas bersama nenek asuhnya di depan rumah Ama.

“”Aisha, aku kabur! Bolehkah aku menginap di rumah Ama semalam saja?”” disusul SMS panjang lebar yang langsung membuatku geram!

Sebuah keputusan yang menurutnya paling baik itu pun dia pilih. Setelah upaya mengadu pada penterjemah tentang kekurangajaran salah satu anak Ama yang tinggal serumah tidak juga mendapat respon.
Dan malam itu, adalah puncak dari kekhawatirannya. Memilih kabur, karena merasa kehormatan dan kesucian dirinya terancam.

Mbak Sumi, demikian nama temanku itu, sudah mencium gelagat tidak baik. Sejak pagi, lelaki yang dia tahu istrinya menetap di China dan hanya sesekali saja datang ke Taiwan itu berusaha mencuri-curi kesempatan untuk menyentuhnya. Sejauh ini dia masih bisa menghindar, namun rencana salah seorang saudara untuk mengajak Ama menginap ditempat lain tanpa membawanya serta, membuatnya was-was bahwa hal buruk bisa saja terjadi jika di rumah besar itu hanya ada dia dan si ‘hidung belang’.

Berbekal pakaian seperlunya tanpa bisa membawa selembar dokumen pun, mbak Sumi berjalan menembus gerimis dan udara malam yang dingin, menyeret langkah kakinya hingga tiba di depan rumah Ama.

Di dalam rumah aku kebingungan, dan tak tahu harus bagaimana. Sementara di luar sana, ada saudara seperjuangan yang kedinginan dan sangat butuh bantuanku.
Tapi tanpa ijin dan sepengetahuan Ama, apa mungkin membawanya masuk? Membayangkan tubuh kurusnya menggigil dan basah kuyup, seperti ada kekuatan yang mendorongku untuk mengetuk pintu kamar Ama.

Kuucapkan maaf berkali-kali karena sudah mengganggu tidurnya, dan kujelaskan maksudku.

“”Di mana dia sekarang?”” Sambil memasang kaca mata, Ama langsung bangkit, dan menyambar jaketnya.

“”Di depan pintu.”” jawabku sambil mengikuti Ama yang bergegas ke ruang tamu.

“”Kenapa tidak segera kau suruh masuk? Kalau sampai sakit bagaimana?”” protes Ama, lalu menyuruhku segera membuka pintu.

Saat pintu terbuka, kudapati mbak Sumi sedang berjongkok sambil memeluk lututnya yang gemetaran. Dan tanpa ba-bi-bu lagi, Ama langsung menyuruhnya masuk, dan mandi air hangat. Lalu memintaku menyiapkan makanan untuk mbak Sumi.

Dalam menolong sesama, Ama tak pernah pandang bulu, terlebih jika orang tersebut sedang mendapat perlakuan tidak manusiawi atau pelecehan, meski itu oleh bangsanya sendiri, Ama akan tetap berusaha melindungi dan membelanya.

“”Kejadian mbak Sumi adalah bukti nyata keluhuran budi perempuan tua itu.””

***
Hingga menjelang kepulanganku yang tinggal dua bulan lagi, kondisi Ama tak banyak berubah, masih sering ‘blusukan’ bersama organisasinya. Hanya saja, enam bulan terakhir ini sering mengeluh mual dan sakit kepala, yang menurutnya karena terlalu capek.

“”Baru terasa nih yeee…?”” candaku dalam hati.

Maklum saja, usianya sekarang sudah mendekati delapan puluh tiga tahun, tapi aktifitasnya tak pernah berkurang.

Malam itu, aku sedang memasukkan barang-barang ke dalam koperku yang sebagian besar adalah oleh-oleh pemberian Ama. Ada seuntai kalung berliontin batu giok yang kuterima dengan tangan gemetar dan air mata bercucuran, karena tak tahu lagi bagaimana harus mengucapkan terima kasih.

“”Ini untuk kado pernikahanmu, Aisha,”” lembut suaranya sambil mengusap bahuku.
Rencana menikah yang kusampaikan padanya tahun lalu, rupanya masih membekas dalam ingatan perempuan berhati embun itu.

Beberapa saat kemudian tiba-tiba kudengar Ama menjerit. Kutinggalkan koperku dan segera berlari ke kamarnya.
Di atas ranjang, kulihat dia sedang memegangi kepalanya sambil terus mengaduh dan menjerit-jerit.

“”Ama… Ama… Kamu kenapa?”” tanyaku panik.

Tapi dalam kepanikan aku masih sempat berpikir untuk segera membawa Ama ke rumah sakit. Kata ‘kenapa’ yang tak jua dia jawab, membuatku yakin jika sakitnya benar-benar serius.

Kutekan nomor ambulance yang sudah hapal di luar kepala (119) dan menjelaskan alamat rumah. Lalu kusiapkan tas yang biasa Ama bawa bepergian. Sambil sesekali memijit kepala atau mengusap-usap punggungnya. Sementara dia masih terus merintih.

Ambulance datang tepat setelah kusambar hijab dan mengenakan dikepalaku. Hijab kaos yang praktis, mudah dikenakan pada saat-saat darurat.

Sepanjang jalan menuju rumah sakit, Ama terus memegangi kepalanya dan mengaduh tak henti.

Hatiku perih.
Selama hampir tiga tahun bersamanya, belum pernah kulihat dia begitu kesakitan.

Kegelisahan kian menyeruak batinku setelah satu jam lebih, Ama belum juga keluar dari ruang pemeriksaan. Namun sedikit tenang ketika satu-satunya anak Ama yang tinggal di Taipei akhirnya datang bersama istrinya.

“”Tuan… Nyonya.”” pekikku haru dan bahagia.

Mereka tersenyum ramah seperti biasa, meski raut kesedihan itu terlihat jelas di wajah mereka. Setelah mengucapkan terima kasih berkali-kali, mereka mengajakku duduk karena ada hal penting yang ingin disampaikan.

“”Kangker Otak?”” Aku terperanjat. Penyakit yang bahkan tak pernah terlintas dalam benakku, ternyata sudah bersarang di tubuh Ama sebelum kedatanganku di Taiwan. Dadaku serasa dipukul godam.

Beberapa orang berpakaian putih keluar sambil mendorong bangsal Ama.
Aku pun bergegas mengikuti Tuan dan Nyonya menghampiri seorang Dokter yang berdiri di depan pintu.

“”Ama harus dioperasi.”” Kata tuan, sesaat setelah bicara dengan Dokter, membuat hatiku semakin perih.

Belakangan aku tahu, bahwa Ama tak pernah mengijinkan anaknya itu memberitahuku, atau orang lain tentang penyakitnya.

Tak pernah ingin membuat orang lain sedih dan menangis, adalah prinsip Ama yang bahkan anak kandungnya sendiri tak pernah mampu melawan.

***
Kehidupan memang tidak pernah bisa ditebak. Bahkan seseorang yang terlihat sehat wal’afiat sekalipun, terkadang sedang mengidap penyakit mematikan.
Seperti yang terjadi pada Ama. Semangatnya untuk selalu berbagi pada sesama dan menyemangati para pasien dalam kondisi apapun, membuatnya tak pernah peduli pada penyakitnya sendiri yang mungkin justru lebih serius dari penyakit pasien-pasien yang dia kunjungi.
Ama selalu berusaha terlihat baik-baik saja di hadapan siapa pun, agar tak menyusahkan orang lain hingga akhir hayatnya.

***
Kutinggalkan Taiwan satu bulan lebih awal, dengan membawa kesedihan yang masih membekas di hati atas kepergian orang sebaik Ama.

Operasi dan segala upaya telah dilakukan Dokter untuk menyelamatkan Ama, namun Tuhan yang Maha Menentukan punya rencana lain. Dia lebih menyayangi Ama, dan memintanya untuk beristirahat dari segala aktifitas agar tenang di sisiNya.

“”Bunda… Bunda… ayo buka taman bacaannya! Teman-teman sudah berkumpul tuh.”” Teriakan manja dari bibir mungil bidadari kecilku membuyarkan lamunanku tentang Ama. Perempuan yang telah menginspirasiku untuk mendirikan taman bacaan gratis, bagi anak-anak di kampung halamanku.

“”Ama, bening hatimu akan selalu terukir di relung hatiku, dan hati mereka yang pernah menerima uluran kasihmu. Kebaikan yang pernah kau tebarkan, menjadi teladan yang akan kuterapkan di dalam kehidupanku.””

“”Selamat jalan, Ama. Semoga kau tenang di alam keabadian.””


 2015 Babak penyisihan 印尼文初選 

📜 阿嬤像水一樣透明的心 Sebening Hati Ama

👤 Wiwik Maysaroh

 

我依然想繼續留在房間窗戶邊,享受這涼爽的早晨空氣。盯著昨晚落下的殘雨,讓我想起那張慈祥的臉,在我心深處留下的回憶。

「阿嬤,我好想您。」

*****

如果我說那面帶笑容的女人已經八十歲了,乍看之下,大部分的人不會相信。黑白相間的頭髮加上健康的身體,讓每個人都以為她只有七十歲左右。坦率的說話方式,靈活的步伐,特別是當她與人道主義組織的夥伴正準備前往探訪病人的時候。

「待會中午妳自己做飯吃,我快到傍晚才會回來。」吃完早餐阿嬤交代我,我微笑著點點頭。

然後跟往常一樣,她走入家裡某個角落,一間小圖書館似的書房,開始躲進書裡頭。

每天早上,阿嬤都會抽兩小時來讀她喜愛的書,然後才與那團隊前往醫院、養老院,或到病患的家中探訪。如果她打算傍晚才回來,她會叫我做飯,自己獨自吃午餐。

有時候我簡直不敢相信,我在這裡的工作是照顧阿嬤。想像中是病弱、無法行動,一天到晚只能躺在床上的。我也曾想像推阿嬤去公園,然後與同年齡的老人家聚一聚。

但事實上呢?阿嬤是一位很有活力,行動敏捷、喜歡探訪、做善事的女性。

「如果我們願意與別人分享,我們會永遠保持健康。」因為時常外出,每當我擔心她的健康時,她總是給我這樣的答案。

阿嬤認為,幸福以及內心的滿足,是看見傷心難過的人露出笑容,生病的人逐漸恢復健康時。當她眼中看到別人有困難,她經常會流下眼淚來。

組織的願景是給予病人鼓勵,讓他們能保持精神和信心,關於生命的希望。罹患再怎樣重大的疾病,對神來說,是沒有不可能的事,只要人們願意努力以及祈禱。

而組織的使命是提供醫療、衣服和健康食品給弱勢的病人以及被遺棄的兒童。真的!很偉大的願景與崇高的使命。

*****

我的印象依然歷歷在目,一個下著毛毛雨的冬季夜晚,我收到一封驚人的簡訊,來自時常帶著她照顧的阿嬤來家裡拜訪的一個朋友。

「愛紗,我逃跑了!我可以借住阿嬤家一晚嗎?」隨後一連串簡訊,看得我火冒三丈。

她選擇了她認為對她最好的決定,因為住在阿嬤家裡的其中一個孩子對她非禮後,她嘗試跟仲介翻譯人員投訴,卻沒得到任何回應。

那一夜,是她憂慮的最高點,她選擇了逃跑。因為她覺得這件事本身對她是榮譽與尊嚴的侵犯。

素米姊是我朋友的名字,一開始她就感覺不對勁。這男人的老婆在大陸,只有偶而回來台灣。從早上,他就試圖找機會摸她。目前為止她還能閃躲,但有一位親戚計畫要帶阿嬤到別的地方過夜,沒有帶她去。在那麼大的房子,只有她和「色狼」而已,讓她憂心忡忡,認為不好的事會發生。

除了必要的衣服,她沒有帶任何文件,素米姊走在路上,毛毛細雨與寒冷夜晚伴著她的腳步直到抵達阿嬤家。

在家裡,我混亂又不知所措,外面站了受寒冷需要我幫助的同鄉,但沒得到阿嬤的許可又沒有告知她,我有可能讓她進來嗎?想到她瘦弱的身體渾身濕透,瑟縮發抖,感覺有股力量推我去敲阿嬤的房門。

因為打擾到阿嬤的,我對她說了很多次對不起,跟她說明我的理由。

「她現在在哪?」邊戴上眼鏡,阿嬤立刻起身並一把抓起她的外套。
「在家門口。」我回答,跟在後面阿嬤身後走向客廳。
「妳為什麼不馬上叫她進來?如果生病了怎麼辦?」阿嬤說著,叫我立刻開門。

當門打開時,我看見素米姊蹲著抱住發抖的膝蓋。不多說,阿嬤立刻叫她進來,並且洗個熱水澡,然後叫我準備食物給素米姊。

幫助別人,阿嬤從來不會有差別心,尤其受到非人道對待或虐待時,即便加害人是她的同胞,阿嬤仍然會盡力保護、捍衛受害者。

「素米姊的故事,正是這老太太寬宏大度的證明。」

*****

直到我快要返鄉的前兩個月,阿嬤的情況也沒太大變化,仍經常跟著組織做探訪。只是,最近六個月時常抱怨反胃與頭痛,她認為可能是因為太累。

「現在才覺得呢……?」我在心裡開玩笑。

我能理解,因為她的年紀快要八十三歲了,但她的活動從沒有減少過。

那一晚,我正把東西放進行李箱,大部分都是阿嬤送我的。有一條玉項鍊,阿嬤送給我時,我用顫抖的雙手和淚水收下,因為不知道該如何表達我的感謝。

「愛紗,這是妳的結婚禮物。」那溫柔的聲音撫慰著我。去年跟阿嬤說我的結婚計畫,這位心如甘露般透明的女性仍然記得。

過了一回會兒,我聽到阿嬤的尖叫聲。我放下行李箱立刻跑去她房間。在床上,我看見她抱頭哀嚎尖叫。

「阿嬤……阿嬤……妳怎麼了?」我驚慌地問。

惶恐中,我還能想到第一時間要儘快帶阿嬤去急診。她沒有回答我「怎麼了」,但我確定她的病真的很嚴重。

我按了死背硬記的救護車號碼119,然後告知對方詳細地址。我準備了阿嬤平時外出常揹的包包。並時不時幫她按摩頭或搓搓背,而她還是不斷的哀嚎。

當我戴上頭巾後,救護車來了。方便式的頭巾,在緊急情況容易穿戴。

往醫院的路上,阿嬤一直抱頭不停呻吟。我的心感到刺痛。跟她在一起三年,我從來沒看過她那麼痛苦。

焦慮在我心裡待了一個多鐘頭,越來越高漲,阿嬤在急診室還沒出來。當她住在台北的唯一的孩子帶著他老婆出現時,讓我終於稍稍平靜下來。

「先生…太太!」我既激動又高興地叫他們。

跟往常一樣,他們對我親切的笑了笑,雖然他們臉上明顯看出難過的表情。對我說了很多次謝謝後,他們讓我坐下,因為有重要事情要對我說。

「腦癌?」我很震驚。一個我完全沒想到的疾病,原來在我還沒來台灣之前,就已經存在在阿嬤的身體。我的心感覺受到巨大的撞擊。

好幾個穿著白袍的人推著阿嬤的擔架走了出來,我也跟著先生和太太找站在門口的醫生。

「阿嬤一定要動手術。」跟醫生講完後,先生表示。我的心更痛了。

後來我才知道,關於她的病情,阿嬤不允許她的兒子告訴我或其他任何人。從來不想讓別人難過或哭泣,是連她的親生兒子也無法違抗的原則。

*****

人生永遠無法料想。甚至看起來很健康的人,有時候正為致命的重大疾病受苦著,就像發生在阿嬤身上的一樣。她總是樂意與人分享,並鼓勵病人打起精神,不管是什麼情況,她都能不顧自己更為嚴重的病況,反而關懷那些可能疾病比她輕的病患。

阿嬤永遠試圖在別人面前看起來好好的,因為直到生命的盡頭,她都不想麻煩別人。

*****

我提早一個月離開台灣,帶著一顆悲痛的心,要與阿嬤這麼好的人分開。

為了救阿嬤,醫生盡了一切努力動手術,但上帝自有安排。祂更疼愛阿嬤,要阿嬤從她的活動中退休,讓她在祂身邊安息。

「媽媽……媽媽,趕快打開圖書館!朋友們已經集合了。」我的小天使撒嬌的呼喊,打斷我對阿嬤的思念。這位婦人啟發了我為家鄉的孩子們建立免費圖書館的信念。

「阿嬤,您清澈透明的心,將永遠刻在我心底,與其他受過你愛心的人心中。您散發的善良已成典範,我會在我的生命裡,以您做為我的好榜樣。」

「再見了,阿嬤。願您在永恆的世界裡安息。」

發表迴響

你的電子郵件位址並不會被公開。 必要欄位標記為 *