從努露的一塊錢學習 Belajar Dari Nurul, Dan Uang 1 NT Dolar

 2015 Babak penyisihan 印尼文初選 

📜 從努露的一塊錢學習 Belajar Dari Nurul, Dan Uang 1 NT Dolar

👤 Erdiah

 

Hal unik dan tak terduga, terjadi pagi ini. Saat bertemu di taman seperti biasa, Nurul tiba-tiba menyerahkan kepadaku sebuah botol air mineral. Isinya bukanlah air, melainkan uang pecahan 1 New Taiwan Dolar. Jumlahnya cukup banyak, hampir penuh hingga mencapai leher botol.

Dahiku berkerut saat menerimanya. Kupandangi botol berukuran sedang itu dengan alis terangkat. Lalu kutatap wajah Nurul, berharap mendapat penjelasan. Namun dia hanya tersenyum tanpa memberi jawaban apapun.

“”Ama, zao an!”” Bukannya menjawab kebingunganku, Nurul justru menyapa Ama — nenek yang kurawat. Ama membalas dengan mengangguk-anggukkan kepala sambil melambaikan tangan, karena Ama memang sulit bicara akibat penyakit stroke yang ia derita.

Aku mencoba bersabar menahan rasa penasaran. Kutunggu hingga Nurul selesai mengatur posisi kursi roda Akong — kakek yang dia rawat — menjajari kursi roda Ama, kemudian menguncinya supaya aman. Dia lantas duduk di atas rumput di sampingku.

“”Jadi, maksudnya apa nih, ngasih aku botol penuh uang receh?!”” Tanyaku dengan segera, tak sabar ingin dengar penjelasannya.

“”Itu buat nyumbang, lah, Mbak. Jumlahnya pas 500 NT Dolar. ‘Kan aku udah bilang semalam, masak lupa sih ya?””

Aku memutar otak mencoba mengingat-ingat.

Oooh… aku baru ingat sekarang. Semalam, memang Nurul mengirimiku pesan singkat, bertanya, “”Mbak, kalau aku mau nyumbang tapi cuma  500 Dolar, apa boleh?””

Aku waktu itu tersenyum membaca SMS-nya. Segera kujawab, “”Tentu saja boleh! Jangankan 500, 1 Dolar pun kami terima, Rul!”” Jawabku lewat SMS pula.

Tak kusangka, uang 500 yang dijanjikan itu, dia serahkan dalam bentuk pecahan 1 NTD semuanya. Hahaha dasar Nurul… ada-ada saja ulahnya.

“”Mbak Lina, maaf, aku nggak bermaksud ngerjain kamu. Aku ngasih uang recehan, karena memang baru itu yang aku mampu. Mbak tahu sendiri ‘kan, aku ini baru …,””

“” …kamu baru 3 bulan bekerja, aku paham kok.”” Tukasku cepat, memotong kalimatnya. “”Nggak perlu minta maaf, Rul. Justru aku bangga sama kamu. Dengan segala keterbatasan yang ada, kamu tetap semangat menyisihkan uang, berbagi dengan sesama. Terima kasih, aku justru belajar banyak darimu.”” Nurul tersipu mendengar kata-kataku.

Kukocok-kocok botol pemberiannya. Suara khas uang recehan yang beradu, terdengar riang di telingaku. Sambil tersenyum geli, kutatap wajah Nurul yang lucu. Wajahnya manis dengan mata bulat dan lesung pipit. Dia orang yang menyenangkan. Maka, meskipun baru 3 bulan berkenalan, aku sudah cukup dekat dengannya. Setiap pagi kami bertemu di taman ini. Aku membawa Ama, sementara dia membawa Akong. Kami berdua bekerja merawat orang jompo di Taiwan.

Saat baru kenal, Nurul sudah mulai mengamati kebiasaanku. Setiap hari, setelah mengajak Ama jalan-jalan untuk melenturkan persendian, aku selalu duduk di dekat kursi roda Ama, di atas rumput taman yang hijau segar. Koran kugelar, lalu mulai aku menumpahkan tumpukan amplop bermacam warna dari dalam kantong plastik.

Mungkin kegiatan harianku itu menggelitik batin Nurul, rasa penasarannya timbul. Hingga suatu hari, dia menanyakannya padaku.

“”Wah, tiap hari selalu dapat hong bao dari majikan, ya, Mbak?”” Tanyanya sembari bergurau. Aku tertawa mendengarnya.

Amplop-amplop itu mulai kubuka satu per satu. Semua isinya adalah uang dengan jumlah beragam, pengirim dan alamatnya pun berbeda-beda. Aku mulai menghitung dengan teliti. Jumlah uang serta nama pengirim, kucatat rapi di dalam sebuah dokumen khusus.

Sepanjang kegiatanku, Nurul tak lepas memperhatikan. Setelah semua selesai terhitung dan tercatat, aku berpaling padanya sambil tersenyum.

“”Yang jelas, ini bukan hong bao dari majikan, Rul, hehehe….”” Kataku sambil terkekeh.
“”Semua uang ini adalah sumbangan para donatur, yang umumnya adalah Buruh Migran Indonesia dari segenap penjuru Taiwan. Dana yang terkumpul, nantinya disetorkan ke rekening GSC pusat. Selanjutnya, disalurkan kepada orang-orang yang membutuhkan. Posisiku di sini cuma perantara saja.””

Nurul menopang dagu sambil mengernyitkan alis. “”Aku kok nggak paham sama penjelasanmu, sih Mbak. Maksudnya gimana, terangkan yang jelas dong!””

Aku menghela napas panjang sebelum melanjutkan penjelasanku. “”Oke, jadi begini…, aku adalah salah satu anggota pengurus GSC (Gerakan Sedekah Cilacap) — sebuah organisasi nonprofit, yang menerima sumbangan dana dari seluruh BMI di Taiwan, untuk disumbangkan kepada orang-orang yang membutuhkan.””

“”Kenapa pula dinamakan Gerakan Sedekah Cilacap?! Karena, gerakan ini muncul dari keresahan para BMI asal Kota Cilacap. Mereka melihat banyak masyarakat di sana hidup di bawah garis kemiskinan. Para BMI pun umumnya berasal dari keluarga dengan latar belakang ekonomi lemah, hingga merantau jauh ke luar negeri untuk memperbaiki taraf hidup. Kini, setelah mampu memiliki penghasilan yang layak, mereka pun merasa tergugah hatinya, berempati melihat kemiskinan di sekitar tempat tinggal mereka, dan ingin membantu mengentaskannya. Maka dibentuklah GSC.
Begitulah, sekelumit tentang gerakan sedekah ini, Rul!””

Nurul kala itu menyimak penjelasanku dengan perhatian penuh sambil sesekali mengangguk-angguk.

Dua bulan berlalu sejak aku mengisahkan tentang GSC kepada Nurul, dan hari ini dia menyerahkan sebotol penuh koin 1 NTD. Aku bersyukur sekali, ternyata ceritaku bisa menggugah rasa kepedulian sosial di hati Nurul.

*****

Malam hari di atas tempat tidur, sambil berbaring aku memikirkan Nurul dan botol koin 1 NTD pemberiannya. Aku bukan tak tahu dengan keadaan keuangannya yang masih sulit. Baru 3 bulan bekerja, artinya gaji masih dipotong oleh Agensi, untuk membayar biaya kedatangannya di Taiwan ini. Setelah dipotong, sisa uang yang tak seberapa itu harus dia kirim ke kampung untuk membantu orangtuanya yang terlilit hutang. Belum lagi, majikannya tidak memberi jatah sarapan, sehingga dia harus membeli sendiri.

Dengan segala keterbatasannya itu, dia masih mau menyisihkan uangnya untuk disumbangkan. Mungkin, semua receh itu dia kumpulkan dari uang kembalian membeli sarapan…?

Sambil memeluk botol koin dari Nurul, ingatanku melayang pada guci keramik di samping lemari pakaian, di dekat pintu kamarku. Bukankah aku juga sering belanja ini-itu, lalu melempar uang receh sisa kembalian ke dalam guci, dan melupakannya begitu saja. Recehan-recehan itu aku abaikan, karena berat membawanya ke mana-mana. Lebih praktis uang kertas, ringan dan nilainya besar.

Pikirku, untuk apa recehan kecil sekedar 1 NT Dolar?!

Aku kontan menepuk jidatku sendiri. Ide untuk meng-copy apa yang dilakukan Nurul segera menyala di kepala. Buru-buru aku bangkit dari kasur, menuju meja kecil di dekat pintu kamar. Guci putih bercorak ukiran khas Cina berwarna biru, duduk manis di atas meja kecil di samping lemari. Bertebaran koin-koin 1 NTD di dalamnya. Beberapa bahkan ada pecahan 5 dan 10 Dolar, tapi tak banyak, karena aku biasa memburunya bila tanggal tua saat sudah kehabisan uang jajan.

Senyumku lebar melihat ke dalam guci. Tentu isinya tidak sedikit. Aku geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa aku mengabaikan koin-koin ini selama lebih dari 2 tahun?!

Kulirik jam dinding sudah menunjuk angka 11.25 malam. Sudah cukup larut, tapi aku putuskan untuk menghitung uang-uang itu sekarang juga. Bila kembali berbaring pun, aku pasti tak bisa tidur karena terus memikirkannya.

Satu jam berikutnya, kuhabiskan untuk menghitung uang dan memasukkannya ke dalam botol kosong — mirip dengan botol pemberian Nurul, hanya ukurannya lebih besar.

Dua botol air mineral ukuran besar pun, sukses tersandar manis di sudut jendela kamar. Masing-masingnya penuh berisi koin pecahan 1 Dolar, dan sedikit koin 5 dan 10 Dolar. Aku tak bisa berhenti meringis, girang benar perasaanku pagi ini. Tak sabar ingin segera memamerkannya pada Nurul.

*****

Sejak kupamerkan kumpulan koin dalam botol yang meniru idenya, sejak hari itu Nurul tidak pernah absen menemaniku. Setiap pagi, dia sudah duduk menunggu aku dan Ama di taman, di mana kami rutin berolah-raga pagi. Seperti biasanya, aku akan menghitung uang dan mencatat. Sambil menghitung, aku berbagi cerita kepada Nurul…,

… tentang para lansia dan kaum dhuafa di Cilacap, yang hidup dalam keadaan serba kekurangan. Mereka tinggal di dalam gubuk reot, sebatang kara, tak ada yang datang membantu mereka.
Lalu, aku ceritakan senyum kecil yang berhasil kami letakkan di wajah mereka. Saat tim relawan GSC datang untuk membangun rumah dari semen dan batu bata, menggantikan gubuk reot mereka, dan memberi sedikit uang untuk membeli kebutuhan sehari-hari.

GSC juga membangun tempat ibadah dan taman belajar untuk anak-anak. Juga membeli mobil ambulance yang memudahkan warga miskin pergi berobat, tak perlu pusing lagi mencari alat transportasi saat sakit, 100 persen GRATIS! Tidak dipungut biaya.

Tak hanya menyantuni warga miskin di Cilacap, GSC juga aktif membantu kawan-kawan seperjuangan — para BMI di Formosa, yang mendapat cobaan sakit atau kecelakaan kerja. Semaksimal mungkin, GSC memberi dukungan baik moril maupun materiil untuk meringankan beban mereka.

Masih banyak sepak terjang GSC, yang kuceritakan dengan penuh semangat kepada Nurul. Singkatnya, GSC hadir untuk WNI yang membutuhkan uluran tangan, baik di Indonesia maupun di Taiwan.

Ibarat pohon, GSC telah tumbuh dengan pesat. Bukan hanya berkembang dan berbuah saja, namun juga mampu menumbuhkan tunas-tunas kebaikan baru. Terbukti, yang awalnya hanya ada di Taiwan, kini GSC telah tersebar di hampir seluruh negara tempatan BMI. Sebut saja Hong Kong, Korea, Jepang, Singapura, misalnya.

Dengan memanfaatkan media sosial Facebook, GSC membuat sebuah grup sebagai sarana informasi dan motivasi. Siapa saja bisa mengaksesnya untuk mencari tahu segala kegiatan GSC.

Cukup dengan mengetik ‘GSC TAIWAN BERSATU’ untuk wilayah Taiwan, atau ‘GSC HONGKONG BERSATU’ untuk wilayah Hong Kong dst, pengguna Facebook sudah bisa menemukan postingan-postingan kegiatan GSC. Mulai dari laporan dana yang masuk, ke mana saja dana disalurkan, dan  lain sebagainya, termasuk kata-kata pendobrak semangat yang selalu digelorakan oleh para ‘provokator’ sedekah.

“”Jangan dulu beranggapan miring mendengar kata ‘provokator’, Rul. Istilah itu dipakai, karena para relawan GSC yang sangat berapi-api dalam mengobarkan semangat bersedekah, layaknya seorang provokator.””

Sambil bercerita, semangatku ikut terpantik karena mengenang semua yang telah kulewati selama menjadi relawan GSC. Saat kutatap wajah Nurul, kulihat ada nyala juga di sana, di balik matanya yang berkaca-kaca.

*****

Bulan demi bulan berlalu begitu cepat. Nurul kini sudah bisa menyumbang dengan uang kertas yang nilainya besar. Namun, seolah telah menjadi ciri khas, dia tidak pula berhenti mengumpulkan koin 1 Dolar di dalam botol.

“”Kebetulan, hari ini aku mau ke Kantor Pos, untuk menyetorkan uang sumbangan ke rekening GSC, termasuk uang darimu ini, Rul.”” Kataku sambil mengguncang botol isi koin dari Nurul. Bunyi khas uang receh yang beradu, terdengar renyah di telingaku.

Nurul mengangguk, tersenyum bahagia. “”Semoga, uangnya bermanfaat untuk kaum dhuafa, dan semua orang yang sedang membutuhkan, ya, Mbak,”” katanya. Aku mengangguk, mengaminkan doanya.

Tapi bagiku, ada hal yang lebih indah dari sekedar uang yang bermanfaat itu. Hal terbaik, yang terjadi ketika orang-orang pernah bersentuhan dengan GSC. Entah hanya pernah mendengar ceritanya saja seperti Nurul, telah menjadi anggota dan relawan yang sudah lebih dalam mengenal GSC sepertiku, ataupun orang-orang yang pernah secara langsung terbantu dengan keberadaan gerakan sedekah ini seperti para kaum dhuafa. Entah mengapa, semangat kebaikan dan gairah berbagi muncul pula di dalam hati-hati kami. Nurul, aku, dan mereka, menjadi terinspirasi untuk melakukan kebaikan serupa kepada sesama. Layaknya virus, yang terus menyebar, menularkan semangat kebaikan yang menakjubkan.

Virus GSC telah tertanam di hati kami. Semoga pula, semangat ini mampu menyebar ke kota-kota lain di Indonesia, hingga ke seluruh pelosok Nusantara, bukan hanya di Cilacap saja. Amiiin.

“”Woy! Kok malah ngelamun, tuh uangnya keburu dipatok ayam!”” Teriakan Nurul yang tiba-tiba, membuyarkan lamunanku. Suaranya yang keras maksimal, sangat berhasil membuat telingaku berdenging.

Tak ayal, sandal jepitku pun melayang, tepat mengenai kepalanya. Pletakkk!
Hahaha… aku pun tertawa puas. Sementara, Nurul meringis pura-pura kesakitan, sambil mengusap-usap kepalanya.

Ukuran cinta bagi setiap orang memang berbeda-beda. Bagiku, cinta Nurul kepada kaum dhuafa seperti sebuah pepatah; ‘sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit’.
Uang 1 NT Dolar yang ia kumpulkan mungkin nampak kecil. Namun jika dilakukan setiap hari, jangan heran bila jumlahnya bisa sangat membanggakan.

Hal yang sepele pun, BISA menjadi hal berharga karena dikerjakan terus-menerus. Sedikit demi sedikit, namun istiqomah, lestari, dan berkelanjutan.

Aku dan Nurul sudah bergerak. Lewat aksi nyata, mengumpulkan uang recehan di dalam botol bekas air mineral.
Bagaimana dengan KAMU?!

Selesai
Taiwan, 09052015


 2015 Babak penyisihan 印尼文初選 

📜 從努露的一塊錢學習 Belajar Dari Nurul, Dan Uang 1 NT Dolar

👤 Erdiah

 

超乎尋常的事情發生在今天早上。跟往常一樣,努露見到我的時候突然拿一瓶礦泉水給我,裡面裝的不是水,而是一塊錢,數量很多,快要滿到瓶口。

我收下的時候眉頭皺起。我抬起眉毛看著尺寸大概算中型的瓶子。接著看著努露的臉,希望能得到解釋。但她只有微笑,沒給任何答案。

「阿嬤早安!」努露不解釋反而跟我照顧的阿嬤打招呼,阿嬤點點頭邊揮手,因為中風所以阿嬤說話有困難。

我試著忍住好奇心。我等努露調整阿公的輪椅,阿公是她照顧的病人,與阿嬤並排,為了安全把輪椅鎖住。接著,她與我並肩一同坐在草地上。

「所以,給我一瓶裡頭裝滿的零錢是什麼意思?」我立刻問她,迫不及待要聽她解釋。
「那是要捐的,姊姊,總共500元。我昨晚不是講過了,難道妳忘記了嗎?」

我動一下大腦試著回想。

喔……我現在記起來了。昨晚努露的確有傳簡訊給我,寫著「姊姊,我要捐錢,但只捐500元可以嗎?」

看見她的簡訊時我只有微笑。並立刻回覆她「當然可以啊!不要說500元,一元我也收呀!露!」我透過簡訊回她。

我沒想到,她說的500元是一元的零錢加起來,哈哈哈……努露真是的。

「對不起,麗娜姊,我不是故意要作弄妳。我給零錢是因為我只給得起那樣,姊姊也知道,我是新來的。」
「妳才上三個月的班,我能理解。」我趕緊回答,打斷她的話。
「不用覺得對不起,露。我反而為妳感到驕傲,在有限的狀況之下,妳還是很努力存錢,與他人分享,謝謝妳,我反而需要跟妳學習。」努露聽到我的話而害羞起來。

我搖一搖她給的保特瓶,零錢碰撞聲在我耳朵裡聽起來愉快與特別。我微笑看著努露可愛的臉。她的臉很甜美,眼睛圓又有酒窩。她是一個很逗趣的人,雖然我們才認識三個月,我已經跟她走得很近。每天早上我們在這公園見面,我帶著阿嬤,她帶著阿公。我們兩個都在台灣的養老院上班。

剛認識時,努露就開始注意我的作息。每天帶完阿嬤走走放鬆筋骨後,我都會坐在阿嬤輪椅附近,在公園裡清新的綠色草地上。我攤開報紙,然後開始從塑膠袋倒出來各種顏色的信封。

可能我每日的作息挑逗努露的心,引起她的好奇心。直到某一天,她問我。

「哇,姊姊雇主每天都給你紅包哦?」她邊開玩笑的問我,我笑著聽她的玩笑。

我開始打開每封信封,裡頭錢的金額都不同,寄的地址也不同。我仔細地數錢的金額與寄的人名,我寫在一本特別筆記上。

努露不停地注視我的動作。全部數完及寫完後,我對著她笑。

「露,這不是雇主給的紅包啦,呵呵……」我笑著對她說。
「這些錢都是從台灣各地移民工寄來的錢。蒐集到資金,會匯到GSC 總部的銀行戶頭,接著轉給需要的人,我只是牽線的人。」

努露撐起下巴緊鎖眉毛。「姊姊,我為什麼聽不懂你的解釋呀,是什麼意思,可以解釋清楚嗎?」

繼續之前的解釋,我嘆了很長的氣:「好,是這樣……我是芝拉扎救濟組織(GSC)理事會的成員,這是一個非營利性組織,接受全台移民工的捐款,捐給需要的人。」

「為什麼取名芝拉扎救濟組織?因為這組織是由一群來自芝拉扎的移民工成立的,他們看見很多市民都活在貧窮的環境。大部分移民工背景也是來自經濟薄弱的家庭,因此為了要改善生活狀況,他們飄洋過海。現在,有了比較好的收入,激起了他們的同情心,齊心想辦法幫助他們在家鄉看到的困境,所以才建立GSC。露,這就是這個救濟組織的由來!」

努露點點頭認真地聽我解釋。

我對努露解釋GSC的兩個月後,今日她拿給我一瓶裝滿一塊錢的保特瓶。我很感激,原來我的故事能引起努露對社會關懷的心。

*****

晚上躺在床上,我想著努露以及她的一塊錢。我不是不知道她的經濟狀況,才上三個月的班,薪資也還被扣來繳交初到台灣時的仲介費用。剩下的錢,她還要寄回家鄉幫助父母還債。還有,她的雇主沒有提供早餐,所以她要自己花錢買。

在這麼有限的狀況下,她還要把錢捐出來。那些零錢可能是買早餐時找回的?

我抱住努露給的零錢瓶子,想起靠近房門衣櫥旁的陶瓷壺。我也時常購買東西,然後隨手把零錢都丟進陶瓷壺裡面,然後完全忘了且忽略那些錢存在。因為很重,帶著紙鈔比較方便。輕,價值比較高。

我還在想著這些一塊的小零錢要來幹嘛?

我拍了自己額頭,腦海裡突然萌生複製努露做法的念頭。我立刻從床上站起,走到房門前的小桌子。白色中國式陶瓷壺在衣櫃旁邊的小桌子,裡頭有一塊、五塊以及十塊錢,但不多,因為月底沒有零用錢時我都會去找它們。

我燦爛地笑著看陶瓷壺裡頭,當然裝得不少。我搖搖頭,我怎麼會忽略這些零錢超過兩年呢?

我瞄了眼時鐘,已經晚上11點25分,滿晚的了,但我決定現在算這些零錢。若我繼續躺,我也沒辦法入睡,因為會一直想著這件事情。

一個小時候,我算完錢然後把它放進瓶子裡,像努露給的瓶子一樣,只是容量比較大。

兩個大的保特瓶成功站在窗戶角落。每一瓶都裝一塊錢,以及一點點的五塊和十塊錢。我不停地看著,今天早上感到特別開心,迫不及待跟努露炫耀這件事情。

發表迴響

你的電子郵件位址並不會被公開。 必要欄位標記為 *