心如明鏡的阿姨 Sebening Hati Ayi

 2015 Babak penyisihan 印尼文初選 

📜 心如明鏡的阿姨 Sebening Hati Ayi

👤 Riyan Ferdian

 

Gerimis sudah mereda. Rudi masih belum dapat menghentikan tangisnya. Seluruh isi lemari dikeluarkannya. Satu demi satu baju dan celananya dibuka lipatannya, ia yakin seyakinnya uangnya telah dibawanya ke kota pagi itu. Di tas pinggang ia menaruh amplop putih berisi uang 35.000 NT$ untuk dikirim ke Indonesia. Anaknya akan masuk sekolah SD, ibunya yang sedang sakit membutuhkan biaya, serta cicilan hutang ke bank yang harus dibayarnya menunggu kiriman hasil kerjanya.
Pabrik perakitan motor tempatnya bekerja tidak banyak lembur. Sabtu dan minggu libur. Membuat Rudi dan kawan-kawannya harus benar-benar pintar mengatur keuangan agar tak terlalu boros. Sebulan rata-rata mereka dapat menyisihkan 10.000 NT$ bersih setelah untuk kebutuhan pulsa, dan lain-lain. Bersama 4 teman satu asrama Rudi mengadakan arisan agar sekali mengirim tidak terlalu sedikit. 10.000 NT$/bulan memang lumayan berat, tapi semua mereka lakukan demimencukupi kebutuhan keluarga di Indonesia. Mereka harus rela menahan 3 bulan tidak mengirim uang ke keluarga, baru bulan ke empat mereka dapat mengirim. Dan sekarang uang yang dengan susah payah dikumpulkannya hilang.
“Kamu taruh di mana tadi amplopnya, Rud?” Tanya Agus masih penasaran meski barkali-kali Rudi mengatakan ditaruh di dalam tas pinggangnya.
“Aku taruh di tas pinggang ini, Gus!” jawab Agus sambal menunjukkan tas kecil berwarna hitam.
“Tadi kamu ke mana dulu sebelum ke toko Indo? Lah wong mau kirim duit kok malah ngeluyur dulu. Gimana sih kamu, Rud!” ujar Agus sedikit emosi pada keteledoran sahabatnya.
“Tadi aku ke taman dulu. Toko Indo kan buka jam sepuluh. Jadi aku merokok dulu di taman.” Rudi menjelaskan.
“Yo wis. Kamu sing sabar. Bukan rezekimu, Rud.”
“Lah terus gimana anakku? Gimana ibuku? Semua butuh duit, Gus. Aku kudu piye sekarang?” Tanya Rudi beruntun pada sahabatnya.
Agus tak dapat berbuat apa-apa selain menasehati dan memberi semangat untuk sahabatnya ini. Pun teman-teman satu asramanya.

***

Senin pagi Rudi berjalan gontai menuju tempat kerjanya di seberang asramanya yang hanya terhalang jalan raya. Wajahnya pucat. Matanya cekung karena semalaman tak dapat tidur. Untuk mengabarkan bahwa uangnya hilang kepada istrinya ia tak sampai hati. Tak ingin istrinya bertambah panik oleh keadaan yang di rumah sendiri sedang banyak pikiran. Rudi hanya mengatakan belum sempat mengirim kemarin karena sedang tidak enak badan.
Waktunya makan siang Rudi masih tak bersemangat ke kantin. Bahkan saat bekerja beberapa kali kena tegur mandor karena kesalahan, sehingga ayah satu anak ini menceritakan kehilangan uangnya kepada mandornya.
“Rud, kamu setelah selesai makan disuruh ke kantor. Ada polisi nyariin kamu.” Perintah Suntoro. Teman asal Banyuwangi yang juga ditunjuk sebagai penerjemah di pabriknya karena kemampuannya berbahasa Mandarin.
Deg!
“Ada apa lagi ini?” Tanya Rudi dalam hati. Wajahnya memucat. Beribu tanya terus bercokol di dalam hatinya.
“Mas Suntoro, tolong temani saya ke kantor ya. Saya kan nggak pinter Bahasa Mandarin.” Pinta Rudi pada temannya dengan suara bergetar. Badannya tiba-tiba lemas, matanya berkunang-kunang tapi ia berusaha untuk tidak terjatuh.
Suntoro pun mengiyakan. Sambil menepuk pundak Rudi menenangkan. Suntoro sendiri tak tahu mengapa polisi bisa mencari Rudi.
Sesampainya di kantor dua orang polisi sudah menunggu. Seorang manajer sudah berbincang dengan salah seorang polisi berperawakan kurus.
“Ludi? Na I ke?” Tanya sang polisi dengan Bahasa mandarinnya kepada sang menejer begitu melihat Rudi dan Suntoro masuk. Sang menejer menujur Rudi. Rudi pun mengangguk. Wajahnya kian memucat.
“Rudi, kemana kamu pergi hari minggu lalu?” Tanya sang polisi mengiterogasi.
“Saya ke taman di Tainan, Sir!” jawab Rudi terbata.
Suntoro sebagai penerjemaah saat itu ikut tegang juga. Tetapi berusaha setenang mungkin menghadapi situasi.
Berbagai pertanyaan membuat Rudi panas dingin. Beribu tanya masih terus menyerang pikirannya, “Ada apa gerangan, apa salahku?”

Beberapa saat kemudian sang polisi mengeluarkan sesuatu dari saku seragamnya.
“Ce i ke zhe ni de, ma?” tanyanya sambil menunjukkan amplop berwarna putih bertulis namanya dengan coretan pulpen dan tulisan bercetak nama pabriknya.
“Iya. Betul itu amplon saya yang hilang, Sir!” jawab Rudi sambal terbelalak demi melihat amplop yang dipegang sang polisi. Tak sadar ia berlutut lalu sujud syukur. Puja-puji berhamburan dari mulutnya menyebut kemahabesaran-Nya.
“Bolehkah saya bertemu dengan orang yang menemukan amplop ini, Sir?”
“Boleh. Hari minggu pagi kamu telpon saya. Saya antarkan kamu bertemu dengannya.” Jawab sang polisi sambal menyerahkan kartu-namanya.

***

Seminggu tentu waktu yang tidak lama. Tetapi untuk sebuah penantian seminggu adalah waktu yang sangat lama.
Minggu pagi buta Rudi sudah rapih. Tetap ditemani Suntoro sebagai translator, Rudi pergi ke Taman Kota Tainan. Tak lupa meminta Suntoro untuk menelpon sang polisi lebih dahulu sebelum berangkat.
Tak berapa lama menungu, sang polisi datang juga.
“Mana orangnya, Sir?” Tanya Rudi tak sabar.
“Tunggu sebentar. Sabar ya!”
Memang terlalu pagi mereka datang sehingga hanya beberapa orang yang sudah berlalu lalang di taman.
“Ayi, ke sini! Ada yang mau bertemu denganmu.” Panggil sang polisi kepada petugas kebersihan taman dengan bahasa Tayigi.
Ayi mendekati mereka bertiga. Masih dengan membawa sapu panjang yang terbuat dari ujung-ujung batang bambu pagar yang kecil. Tidak seperti umumnya sapu di Indonesia yang menggunakan lidi, sapu yang seperti Ayi bawa biasanya khusus menyapu dedaunan yang jatuh. Entah itu di taman atau di pinggir jalan.
Melihat wajah sederhana Ayi, Rudi teringat orang tuanya di rumah. Mungkin seumuran dengan wanita bermata sipit di depannya. Tak sadar Rudi langsung menyalami dan mencium tangan Ayi yang masih mengenakan sarung tangan sambil berkata ‘Xie-xie Ni’ berulang-ulang. Terang saja Ayi sedikit terkejut.
“Ada apa ini?” tanyanya.
“Begini, Ayi. Seminggu yang lalu kan Ayi menemukan amplop berisi uang 35.000 NT$, lalu Ayi serahkan ke saya. Nah inilah pemilik amplop itu.” Jawab sang polisi menerangkan.
Ayi dan Rudi saling tatap. Lalu keduanya tersenyum. Suntoro sebagai perantara obrolan rudi dengan polisi, lalu polisi dengan Ayi ikut tersenyum.
Rudi berbisik pada Suntoro, lalu diterus ke sang polisi.
“Ayi, dia ingin tahu, kenapa amplop yang kau temukan tidak kamu ambil uangnya? Lalu kau buang saja amplopnya, kan tidak ada yang tahu.”
Ayi terdiam. Tiba-tiba matanya berkaca-kaca.
“Aku pernah mengalami hal seperti dia. Uangku hilang di saat anakku sedang memerlukan biaya sekolah. Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang sedang sangat kita butuhkan. Aku yakin dia pun sedang membutuhkan uang itu untuk keperluan anak dan istrinya di Indonesia. Mungkin juga orang tuanya. Dia jauh-jauh dari Indonesia meratau ke Taiwan untuk mencari uang. Ini bukan hakku. Rasanya tak pantas bila aku menikmati uang hasil jerih payah orang lain yang sedang sangat membutuhkannya, sementara aku tertawa senang. Tidak! Meski hidup sederhana, sekarang aku tidak kekurangan. Anak-anakku sudah bekerja. Aku bekerja saat ini hanya untuk mengisi waktuku. Agar aku tetap sehat dengan bekerja, dan aku tidak ingin menghabiskan masa tuaku hanya dengan berdiam diri. Apa lagi harus menikmati hasil keringat orang lain. Tidak! Aku tidak mau.” Dengan suara sedikit bergetar Ayi menjawab panjang lebar. Air mata disekanya dengan ujung syal yang melingkar di lehernya.
Rudi dan Suntoro terharu mendengarnya. Betapa mulia hati Ayi. Seorang yang hanya bekerja sebagai petugas kebersihan taman. Tetapi tidak rakus.. tidak ingin makan rezeki yang bukan hasil jerih payahnya. Dalam harti keduanya berdoa senada: ‘Ya Allah, jadikanlah aku orang yang baik, jernihkanlah hatiku sebening Ayi.’

***

Minggu pagi, seminggu yang lalu…

Gerimis turun di hari minggu pagi itu. Musim dingin menambah gigil siapa pun yang keluar rumah. Sepoi angin kian menusuk tulang. Siapa pun akan lebih suka menarik selimutnya untuk tetap di ranjangnya sepanjang hari. Apa lagi hari minggu.
“Mama, sudahlah hari ini istirahat saja. Hujan nih, nanti mama sakit!” pinta Acuan pada mamanya.
“Tidak apa-apa, Nak. Percayalah mama akan baik-baik saja. Toh sejak muda mama sudah terbiasa bekerja keras. Hujan dan panas bukan penghalang buat mama untuk bekerja.” Sahut Ayi santai.
Kalau sudah begini Acuan tak bisa lagi berbuat apa-apa. Ia sadar ibunya memang tidak mau membuang waktunya hanya untuk diam, apa lagi hanya tiduran hanya karena gerimis di musim dingin. Karena kegigihan ibunya-lah ia dan kakaknya bisa terus bersekolah hingga dapat bekerja di perkantoran seperti sekarang.
Semenjak kematian ayahnya, memang ibunya yang mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari serta biaya sekolahnya. Ibunya bekerja serabutan. Pekerjaan apa pun dijalaninya asal menghasilkan uang yang halal untuk kedua anaknya. Satu prinsipnya adalah agar anak-anaknya tetap dapat bersekolah supaya kelak dewasa dapat bekerja layak. Tidak seperti dirinya yang hanya bisa baca tulis.
Senin hingga jumat Ayi bekerja sebagai cleaning servis  di salah satu pabrik di Yong Kang, Tainan. Sabtu dan minggu pagi Ayi bekerja menyapu taman di kota Tainan. Ayi tak sendiri menyapu taman dan bahu-bahu jalanan di kota Tainan. Ia bersama beberapa perempuan serta lelaki paruhbaya yang tinggal di sekitarnya mengambil pekerjaan itu untuk mengisi waktu pagi mereka agar mereka tetap sehat dengan bekerja pagi. Mereka mengganggapnya ‘olah raga pagi’. Selain itu mereka juga mendapat banya teman bercanda dan bercengkrama.

-TAMAT-


 2015 Babak penyisihan 印尼文初選 

📜 心如明鏡的阿姨 Sebening Hati Ayi

👤 Riyan Ferdian

 

毛毛雨已經停了,魯迪仍然無法停止哭泣。衣櫃的東西全被他翻出來了,一件一件褶好的襯衫和褲子被打開,他十萬個確認今天早上把錢給帶到城市了。在腰包裡,他已經放好裝有新台幣三萬五千元的白色信封準備要匯回印尼。他的兒子即將進入小學,他生病的母親也正需要錢,還有銀行貸款還等著他工作所匯的錢來支付。

他工作的地方,摩托車組裝工廠沒有很多的加班機會。週六和週日放假,讓魯迪和他的朋友們一定得聰明理財,以免過於奢侈。扣除電話卡點數和生活費後,每人平均每一個月可以淨存一萬元台幣。魯迪與他的四位室友還舉辦小小的跟會,讓每次匯回去的錢不要太少。一個月一萬元相當沉重,但他們這樣做完全是為了在印尼家人的生活。他們要忍受三個月沒寄錢回家,要等到第四個月才能匯款。現在辛辛苦苦存下來的錢丟失了。「你把信封放哪裡了,魯迪?」阿古斯仍好奇地問,雖然魯迪也無數遍的回答說放在腰包裡。

「我把它放在這個腰包,格斯!」魯迪邊說邊指向他的黑色小袋子。
「你去印尼商店前有沒有去其他地方?要寄錢還到處亂跑。你是怎麼搞的,魯迪!」阿古斯對他朋友的疏忽有點小情緒。
「我是先到公園。印尼商店十點才開啊,所以我先到公園抽根煙。」魯迪解釋著。
「哎呦喂。你要堅強點啦!還真不是你的福分呀,魯迪。」
「那我的兒子怎麼辦?我的母親怎麼辦?都需要錢,格斯。我現在到底該怎麼辦?」魯迪連珠炮地向他的好朋友問道。

阿古斯只能無奈地安慰他的朋友並給予鼓勵,其他室友也一樣。

*****

週一早上魯迪無力地朝向距離宿舍只有一條馬路的工作場所走去。他的臉色蒼白,因為晚上無法入睡的眼睛凹陷了。他想把遺失錢的事情告訴妻子,但心裡又過意不去。不想在已經很多事需要費心思的家再增加她的恐慌。魯迪只說,昨天因為身體不舒服還沒來得及匯款。午餐時間魯迪仍然沒精神地走去食堂。即使工作了,因為好幾次錯誤被工頭訓斥,最後這孩子的爹只好把遺失錢的實情告訴工頭。

「魯迪,吃完飯請到辦公室。有警察找你。」孫多羅命令著,一位因為中文能力不錯而被選為工廠翻譯,來自外南夢縣的朋友。

噗通!
「又怎麼了嗎?」魯迪心裡質疑著。他的臉色蒼白,成千上萬的問題擠在胸懷裡。
「孫多羅,請陪我到辦公室好嗎?我中文不太好。」魯迪用顫抖的聲音懇求著他的朋友。他的身體突然癱軟,眼睛也很茫然,但他都堅持住了。
孫多羅同意他了,邊拍拍他的肩膀安慰他。孫多羅自己也不知道為什麼警察會找魯迪。

一走進辦公室就有兩位警察在等待,經理正和一位體型瘦小的警察說話。

「魯迪是哪一位?」 一看到魯迪和孫多羅,警察用中文問經理。經理指了魯迪。魯迪點點頭。他的臉越來越蒼白。
「魯迪,你上個禮拜天去過那裡?」警察詢問著 。
「我在台南公園,警察先生!」魯迪回答得有點兒口吃。

作為翻譯的孫多羅也是一樣的緊張,但還是試著平靜地應對局面。
好幾個問題讓魯迪感到冷熱交戰,成千上萬的疑惑不斷地攻擊他心中:「怎麼了嗎?我到底做錯什麼了嗎?」

過沒多久,警察從他的制服口袋裡拿出一個東西來。
「這是你的嗎?」他邊問邊指著一個白色信封,上面用筆寫了他的名字,信封外還印著公司的名稱。
「警察先生。這是我遺失的信封!」魯迪邊說邊瞪大眼睛看著警察手上的信封。不知不覺他跪下來感激真主,嘴裡歡呼著祂的偉大。
「警察先生,請問我可以見幫我找回信封的人嗎?」
「可以啊,星期天你打給我,我帶你去見他。」警察說了並遞出他的名字。

*****

一個禮拜並不長,但對一個等待的人來說是一段漫長的時間。

週日一大早魯迪已經穿著整齊,孫多羅陪同他去當翻譯,魯迪來到台南市公園。他沒忘了提醒孫多羅出發前打電話給警察。

沒多久,警察來了。
「警察先生,那個人在哪裡?」魯迪急著問。
「再等一下,耐心點喲!」
因為太早來,公園裡只有幾個人來來往往。

「阿姨,這裡!有人想見妳。」警察用台語呼叫著一位公園清潔工。
阿姨走近他們三人,手上還拿著長長的、由竹子末端綁起來的掃把,不同於印尼的掃把用細細的樹枝,阿姨那掃把是專門拿來掃落葉用的,不管在公園或是路邊都很實用。

看到阿姨樸素的臉,魯迪想起他在家鄉的父母親,大約跟眼前小眼睛的婦女同年齡吧。魯迪無意識地握她的手,並親吻阿姨仍然戴著手套的手,邊重複地對她說:「謝謝妳。」阿姨當然有點嚇到。

「這是怎麼了?」她問。
「阿姨,一個星期前阿姨發現了一個裝有三萬五千元錢的信封,阿姨拿給我。這位就是信封的主人。」那位警察解釋著。
阿姨和魯迪彼此相看。然後兩個都笑了。孫多羅居中幫警察翻譯,警察和阿姨也笑了。

魯迪低聲告訴孫多羅,他再跟警察說。
「阿姨,他想知道為什麼妳發現信封時沒有把錢拿走?妳可以把信封扔了,這樣又不會有人知道。」

阿姨沉默了。突然,她的眼框充滿淚水。
「我也有過同樣的經歷,在我的小孩需要學費時我的錢弄丟了。我非常了解在我們需要一樣東西時找不到的感覺。我敢肯定,他也很需要這些錢給他在印尼的老婆和小孩生活。也有可能是他的父母。他大老遠從印尼來台灣工作賺錢。這不是我的東西。」

「如果我開心地享受別人辛苦賺來的錢,而且是他正在需要的錢,感覺似乎不恰當。不!雖然我的生活很樸實,但目前我不缺欠。我的孩子們都上班了。我工作只是填補時間用,讓我可以保持健康,我不想要我的老年發呆度過。還要去享受別人的辛苦錢,不!我才不呢。 」

阿姨聲音微微顫抖地長篇回答。她用圍在脖子上的圍巾末端來擦眼淚。
魯迪和孫多羅聽到後非常感動,阿姨有多麼高尚的心啊!一個人只是在公園當清潔員。但,不貪、不想領取不是她努力來的東西。在心裡面,他們兩個同時祈禱:「主啊,請讓做我一個很好的人,請淨化我的心靈,讓我擁有阿姨般的心如明鏡。」

*****

星期天的早上,一個星期前……

細雨落在週日上午,阻礙了冬季從家裡走出去的意願。微風刺骨,任何人都寧願整天躲在毯子待在床上,尤其是星期天。

「媽媽,今天休息好了。正在下雨耶,我怕媽媽會生病!」阿川求著他的母親。
「沒事,兒子。相信我,媽媽會好的。畢竟,媽媽從年輕開始就耐操。下雨或炎熱都不是媽媽工作的障礙。」阿姨輕鬆的回。

這個情形阿川也無法做任何事情了。他很了解母親不會浪費時間靜下來,尤其只因為冬天的雨而跑去睡覺。由於母親的堅持他和他的姐姐才能完成學業,現在才可以有白領的工作。

自從他的父親去世後,是他的母親賺錢養家支付他們的學費。他的媽媽打零工,任何工作都做,只要是正當賺的錢可以來養兩個小孩。她只有一個原則,就是孩子可以受到好的教育,長大後可以有好工作。不要像她一樣無法讀寫。

週一至週五阿姨在台南永康區的一間工廠當清潔人員,週六和週日上午在台南市一座公園掃地。阿姨並不是一個人掃公園和台南市的街道,她和其他幾位上了年紀的男男女女在附近工作,以填補他們上午的時間且保持身體健康。他們把工作當作「晨練」。此外,他們還可以一起聊天開玩笑。

發表迴響

你的電子郵件位址並不會被公開。 必要欄位標記為 *