在寶島的第二個家 Keluarga Keduaku Di Formosa

 2015 Babak penyisihan 印尼文初選  

📜 在寶島的第二個家 Keluarga Keduaku Di Formosa

👤 Evi Agustika

 

Musim semi telah tiba. Sinar mentari pagi memberi kehangatan, setelah beberapa bulan terhalang oleh dingin dan tebalnya kabut. Cericit burung bersenandung riang, diiringi gemulai dedaunan pinang, yang menari bersama helaian angin pagi nan menyegarkan. Kupu-kupu terbang kian kemari, menghisap nektar dari bunga-bunga yang merona bersemi. Semesta pun bertasbih, memuji keagungan-Nya.

Pagi belum sepenuhnya menyapa. Aku dan mama—panggilanku kepada majikan perempuanku telah sibuk di dapur menyiapkan sarapan pagi.

“”Lika, cepat kau siapkan segala keperluan Papa . Karena Paman Wu, akan mengantarkan kalian lebih awal pagi ini!”” perintah mama saat menghidangkan sarapan di meja.

“”Baik, Ma,”” jawabku patuh, terus berlalu untuk melaksanakan perintahnya.

Pagi ini memang ada jadwal papa melakukan chek up, sekaligus menjalani terapi fisik. Melakukan olahraga ringan dalam pengawasan ahli terapi.

Alika namaku. Hampir setahun, aku bekerja pada keluarga Huang. Keluarga ini tinggal di desa Dongshe-Neipu kabupaten Pingtung. Papa, begitu aku biasa memanggil tuan yang aku rawat.Pria tambun, berusia 65 tahun ini menderita penyakit komplikasi jantung dan diabetes. Sehingga ia membutuhkan perhatian khusus akan pola makan, diet dan olahraga ringan dalam kesehariannya. Perawakannya yang tinggi besar, menunjukkan bahwa papa adalah seorang pekerja keras di masa mudanya. Sebelum sakit, papa adalah seorang manager sebuah perusahaan manufaktur. Hampir seluruh waktunya, ia habiskan di luar rumah. Pola makan dan istirahat yang tidak teratur membuat kesehatannya terganggu. Puncaknya, setahun lalu beliau ditemukan tak sadarkan diri di ruang kerjanya.

Beruntung papa mendapatkan pertolongan medis secepatnya, sehingga ia terselamatkan. Dokter menyarankan agar papa tidak terlalu stres dan harus menjalani pola hidup sehat. Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan, papa memutuskan berhenti bekerja dan menjalani perawatan yang lebih intensive. Pekerjaan mama sebagai seorang guru sekolah dasar, membutuhkan tanggung jawab yang besar. Sehingga tidak dapat sepenuhnya berada disamping papa setiap saat. Sedangkan kedua anak mereka memiliki kesibukan masing-masing.

Putra sulung mereka, Li Wei, telah menikah. Ia dan keluarga kecilnya tinggal dan bekerja di Tainan. Mereka akan datang sesekali untuk menjenguk kedua orangtuanya. Sedangkan putri bungsu mereka, Jiao sioce, selalu sibuk dengan toko bunganya. Gadis manis berusia di atas kepala tiga ini, lebih memilih berdikari sendiri. Baginya, menjadi mandiri itu adalah suatu prestasi yang membanggakan.

“”Lebih baik menjadi seorang pengusaha, meskipun  berpenghasilan kecil namun mendapat kepuasan dan jauh dari tekanan apapun, daripada terus menerus menjadi karyawan, yang memperoleh gaji besar namun hidup penuh dengan aturan dan kekangan orang lain,”” terangnya suatu sore saat kami semua duduk santai, sambil menikmati teh hangat.

Mama, adalah sosok wanita yang sabar dan penyayang. Meskipun sibuk, mama tidak pernah melalaikan tugas utamanya sebagai seorang istri dan ibu. Di usianya yang hampir memasuki masa pensiun, ia tetap semangat mengajar. Mama seorang guru kesenian, dan bakatnya dalam bermusik menurun kepada putri bungsunya itu. Terbukti dengan kemahiran putrinya itu dalam memainkan tuts-tuts piano, Jiao siaoce, menjadi salah satu anggota grup orkestra, di gereja Wanchin Basilica. Gereja tertua yang berada di kota Wanchin, tempat di mana keluarga Huang beribadah.

Aku beruntung mendapatkan majikan yang begitu baik. Bahkan mereka menganggapku sebagai bagian dari keluarga ini. Usiaku yang terpaut beberapa tahun lebih tua dari Jiao siaoce, membuat kami cukup dekat. Ia tak segan berbagi keluh kesahnya padaku. Kami berdua layaknya kakak beradik. Apalagi semenjak papa memintanya untuk segera menikah. Berbagai alasan selalu ia lontarkan, untuk menghindari pernikahan dini menurutnya. Padahal, usianya sudah sangat layak untuk memiliki anak. Sifat keras kepalanya itu yang terkadang membuat papa naik darah. Kalau sudah begitu, ia harus mampu mengontrol emosinya dan mengalah demi kebaikan papa.

****
Seperti biasa, setelah mama dan Jiao siaoce, pergi bekerja aku membersihkan rumah dan menemani papa melakukan olahraga ringan. Komplikasi diabetes yang diderita papa, menyebabkan ia selalu merasa haus dan lapar berlebihan. Sehingga aku harus selalu menyediakan air minum, dan camilan sehat untuk papa. Itu pun tidak boleh yang mengandung karbohidrat berlebih dan apalagi berlemak. Kacang hijau atau merah yang direbus tanpa gula, menjadi pilihan. Untuk buah pun, harus memilih yang banyak mengandung vitamin C. Terkadang aku merasa kasihan, ketika papa mengeluh bosan dengan makanan yang itu-itu saja. Tetapi tak ada pilihan lain, semua itu semata-mata demi menjaga kesehatannya.

Sepanjang pagi ini papa terlihat murung. Tak ada komplain darinya. Ia tidak mengeluh lelah, haus, ataupun lapar seperti yang biasa ia keluhkan sepanjang hari. Ia lebih banyak diam, dan enggan menjawab pertanyaanku. Bahkan, saat aku mengajaknya jalan-jalan ke taman pun, ia menolaknya.

“”Papa kenapa? Apakah Papa kurang enak badan? Biar aku panggilkan Paman Wu, bagaimana?”” tanyaku cemas.

Paman Wu adalah orang kepercayaan keluarga Huang yang mengurusi kebun pinang, sekaligus membantu apabila keluarga ini ada suatu keperluan.

“”Tidak usah. Aku baik-baik saja!”” jawabnya ketus.

Kalau sudah begitu aku tak berani banyak bertanya lagi. Karena bisa dipastikan ia akan marah, dan itu bisa mempengaruhi jantungnya. Mungkin papa merasa jenuh dengan keadaanya sekarang. Wajar saja, karena sebelumnya ia selalu berinteraksi dengan banyak orang dan melakukan aktifitas dengan cepat. Berbanding terbalik dengan keadaanya saat ini.

“”Apakah aku salah, jika ingin melihat putriku bahagia dan membina keluarga, sebelum aku mati?”” ujarnya pelan seolah berkata kepada dirinya sendiri.

Aku yang sedang menyuguhkan buah-buahan untuknya, terkejut mendengar pernyataannya.

“”Papa tak boleh bicara seperti itu,”” sergahku sambil mendekatinya.

Saat-saat seperti inilah papa membutuhkan teman untuk berbicara. Aku harus menjadi pendengar yang baik, agar ia tak merasa diacuhkan.

“”Kau tahu, dokter memvonis hidupku tak akan lama lagi. Berbagai komplikasi penyakit bersarang dalam tubuhku. Sewaktu-waktu, maut bisa saja datang menjemputku,”” terangnya.

“”Padahal mereka sudah bertunangan. Mengapa harus mengulur waktu? Apakah mereka menungguku mati, baru mereka akan menikah!”” nada suaranya meninggi.

Aku hanya diam mendengarkan keluh kesahnya. Memang enam bulan yang lalu, Jiao siaoce melangsungkan pertunangan dengan kekasihnya. Kebahagiaan terpancar dari seluruh anggota keluarga. Terutama papa. Ia adalah orang yang paling bersemangat, menyambut moment spesial putri kesayangannya.

Aku jadi ingat, saat dulu ayahku menikahkanku. Beliau terlihat begitu bahagia dan tegar, saat menyerahkanku kepada suamiku.

“”Kebahagiaan seorang ayah, adalah ketika ia dapat melihat putri tercintanya menikah dan hidup bahagia. Bukan berarti ia melepaskan tanggungjawabnya begitu saja. Bukan! Asal kau tahu, Nak. Harapan terbesar seorang ayah adalah, memastikan bahwa ada seseorang yang mampu menggantikan posisinya, dalam melindungi dan menyayangi putrinya setelah ia tiada nanti,”” kata-kata ayah yang selalu terngiang dalam hidupku.

Ya aku merasakan kekhawatiran papa. Memang dua bulan terakhir ini kondisi kesehatannya menurun. Sampai-sampai ia harus di rawat inap di rumah sakit selama dua minggu. Di satu sisi papa menginginkan putrinya segera menikah, sedangkan di sisi lain, Jiao siaoce, belum siap untuk itu. Di negeri ini, pernikahan di atas usia 35 tahun itu sudah biasa. Bahkan, ada juga yang lebih memilih untuk melajang selamanya. Sangat berbeda sekali dengan di kampungku. Jangankan 35 tahun, di bawah 30 tahun saja, gadis-gadis yang belum menikah akan di cap sebagai perawan tua. Ah, entahlah. Lain lubuk lain pula ikannya. Pribahasa ini sangat cocok untuk membandingkan kehidupan antara Indonesia dan Taiwan.

****
Kondisi kesehatan papa makin menurun. Tak jarang ia menolak makanan dan obat yang harus ia konsumsi. Padahal obat Antidiabetik oral harus diminumnya setiap hari, agar kadar gulanya terkontrol dan mencegah komplikasi penyakit yang lebih parah. Olahraga pun enggan ia lakukan. Emosinya yang labil, membuat ia sering marah-marah. Aku menjadi sasaran kemarahannya setiap kali emosinya memuncak. Salah sedikit saja, aku pasti akan didampratnya. Yang aku takutkan adalah jika kondisi jantungnya memburuk. Terlebih sehari-hari aku hanya berdua saja dengannya di rumah. Beruntung, mama dan Jiao siaoce mengerti akan keadaanku. Mereka menenangkan dan memintaku untuk bersabar mengahadapi papa.

“”Papa makan dulu, ya. Sejak siang, Papa belum makan apa-apa. Ini, Mama masak bubur kacang hijau untuk Papa,”” ucapku sambil membawakan  semangkuk bubur hangat untuknya.

“”Tidak mau!”” ucapnya marah, sambil menampik nampan berisi semangkuk bubur yang masih aku pegang.

Aku terkejut saat bubur hangat itu tumpah tepat di dadaku. Mangkuk dan sisa bubur yang lain jatuh berantakan ke lantai. Mama yang melihat kejadian itu dari dapur, bergegas menghampiriku dan berusaha menenangkan papa. Sedangkan aku langsung membersihkan tumpahan bubur di lantai.

“”Kita bersama-sama merawat Papa, ya, Alika. Papa sebenarnya orang yang baik, kondisinya saat ini yang membuatnya jadi labil dan gampang marah. Papa butuh perhatian kita semua,”” ungkap mama, saat aku sedang mencuci mangkuk di dapur.

“”Maafkan, Papa. Maafkan kami semua yang sering merepotkanmu, Alika. Mama harap kau mau bersabar merawat Papa. Bantu kami menjaganya. Kau mau kan?”” pinta mama penuh harap.

Aku merasakan kecemasan dan harapan, dari teduh matanya.

“”Iya, Ma. Aku akan berusaha sebaik mungkin merawat Papa. Papa sudah kuanggap seperti ayahku sendiri. Begitupun dengan Mama dan seluruh anggota keluarga ini. Kalian begitu baik padaku, kalianlah keluarga keduaku di sini, di Taiwan ini,”” jawabku sambil tersenyum, berusaha menutupi kesedihanku.

“”Terima kasih, Alika. Terima kasih,”” ungkapnya tulus lantas memelukku hangat.

Darahku berdesir, betapa aku merasakan besarnya kasih sayang keluarga ini padaku.

“”Terima kasih, Ya Allah. Atas nikmat yang Engkau limpahkan padaku,”” syukurku dalam hati.

Air mata yang sejak tadi aku tahan akhirnya menetes juga. Tak kuasa menahan haru dan gejolak di dadaku.

****
Keharmonisan antara papa dan Jiao siaoce yang beberapa waktu lalu sedikit renggang, akibat perselisihan mengenai pernikahan Jiao siaoce, perlahan kian membaik. Itu tak lepas dari peran keluarga ini. Mama dan Li Wei tak bosan-bosannya membujuk dan menasehati Jiao siaoce, agar segera memenuhi permintaan papa. Usaha mereka berhasil, dan mampu meluluhkan hati Jiao siaoce.

Semenjak putrinya menyatakan kesediaannya untuk segera menikah, papa kian bersemangat dan ceria. Pembawaanya pun kian bersahaja. Tak ada lagi amarahnya. Keceriaan keluarga ini telah kembali.

Sebenarnya, beberapa hari ini aku merasa tak nyaman dengan perutku. Rasa nyeri di bawah rusuk, hingga menjalar ke punggung, menyerangku secara tiba-tiba. Terkadang perutku pun kembung, dan mengalami sembelit. Namun, dalam beberapa saat rasa tak nyaman itu segera hilang.

“”Mungkin hanya masuk angin, jika sudah dikerik dan diolesi minyak angin pasti akan segera sembuh,”” pikirku. Sehingga aku rasa tak perlu mengatakan kepada siapapun mengenai keluhanku.

Terlebih, lusa akan ada acara sederhana untuk merayakan Papa Day yang jatuh pada 8 agustus setiap tahunnya. Sekaligus pertemuan penting dua keluarga, untuk menentukan hari baik pernikahan putra putri mereka. Rumah ini pun semakin ramai, dengan kedatangan Li Wei dan keluarga kecilnya. Pekerjaanku pun semakin banyak. Membersihkan rumah, dan membantu mama menyiapkan makanan untuk makan bersama seluruh anggota keluarga ini. Sedangkan acara pertemuan dua keluarga akan diadakan di sebuah restoran.

Saat hendak membantu papa ke kamar mandi, nyeri hebat di perut kembali menyerangku. Kali ini lebih parah, bahkan terasa begitu mual dan ingin muntah. Tak sadar aku mencengkeram lengan papa kuat. Papa terkejut saat melihat wajah pucatku penuh dengan keringat dingin. Ia panik dan bertanya setengah berteriak,”” kau kenapa, Alika?!””

Aku tak sempat menjawab pertanyaannya, kuminta ia untuk duduk. Sedangkan aku bergegas masuk ke kamar mandi karena tak mampu lagi menahan mual di perutku.

Meski telah kumuntahkan isi perutku, rasa nyeri tak juga hilang. Malah terasa kian menohok ulu hati. Dengan sisa tenaga yang ada, tertatih aku keluar dari kamar mandi. Mama yang telah menunggu di depan kamar mandi, membantu memapah tubuhku yang lemas. Malang tak dapat ditolak, nyeri yang kian hebat membuat kepalaku ikut berdenyut. Nampak jelas kecemasan pada raut wajah kedua majikanku itu, sebelum semuanya terasa gelap dan tubuhku limbung.

****
Entah sudah berapa lama aku tak sadarkan diri. Saat tersadar, aku sudah terbaring di bangsal rumah sakit. Jarum infus menancap cantik di tangan kananku. Pandanganku menyapu seisi ruangan, dan kulihat seorang perawat tersenyum ramah mendekatiku.

“”Ni cilai le ma, Siaoce,”” sapanya ramah.

“”she,”” jawabku lemah, dan mencoba tersenyum.

Darinya kuperoleh keterangan bahwa sejak semalam aku telah di rawat di rumah sakit ini.

”Majikan yang menelpon ambulans dan mengurus semua administrasi untuk perawatan anda. Namun, karena ada suatu hal mereka tidak bisa menemani anda di sini,”” perawat itu menjelaskan dengan rinci, sebelum akhirnya ia berpamitan untuk memanggil dokter yang menanganiku.

Aku kembali mengingat rentetan peristiwa yang aku alami semalam. Bibirku tak henti melafaskan syukur atas segala keagungan-Nya. Aku bisa memahami kesibukan majikanku. Seharusnya aku berada di rumah, membantu mereka menyiapkan segala sesuatu untuk acara besok. Tetapi musibah siapa yang tahu?

Perawat itu kembali datang bersama dengan seorang dokter. Sambil memeriksa keadaanku, dokter itu pun menanyakan apa yang aku rasakan. Dengan penuh perhatian, ia mendengarkan keluhanku. Setelah semua keterangan ia dapatkan, dokter itu pun menyatakan bahwa aku harus menjalani serangkaian tes untuk memastikan apa penyakitku.

****
Setelah serangkaian tes aku lakukan, dan kini tinggal menunggu hasilnya. Aku diharuskan menjalani rawat inap, agar pihak rumah sakit dapat mengontrol keadaanku. Tak dapat dipungkiri, kekhawatiran menyergapku. Menunggu hasil tes itu serasa menghadapi sebuah bom waktu, yang setiap saat akan meluluhlantahkan segala impianku. Namun, kecemasan itu sedikit terobati, saat siang hari perwakilan agensi datang menjenguk, sekaligus akan mendampingiku menghadapi keputusan dokter. Itu juga karena majikanku menelpon agensi dan meminta mereka untuk mendampingiku. Karena majikan khawatir aku terkendala oleh bahasa.

“”Anda mengalami kolesistitis akut, Siaoce. Pengangkatan kandung empedu adalah jalan terbaik untuk Anda,”” pernyataan dokter sontak membuatku terkejut.

“”Apakah tidak ada jalan lain selain dari operasi, Dokter?”” tanya penerjemah yang mendampingiku.

“”Bisa saja, dengan menggunakan obat-obatan untuk menghancurkan batu empedu secara perlahan. Tetapi tingkat keberhasilan sangat tipis, sebab Alika siaoce, juga mengalami infeksi bekas operasi caesarnya dahulu dan pengaruh dari obat pil KB yang ia konsumsi sebelumnya. Yang kami takutkan, jika terus dibiarkan, batu empedu itu kian membesar dan meradang. Itu berarti memberi peluang terjadinya infeksi pankreas atau bahkan organ hatinya,”” terang dokter panjang lebar.

“”Lagipula operasi ini tidak beresiko tinggi, dan mencegah terjadinya komplikasi penyakit lainnya jika cepat kita tangani. Itulah sebabnya kita harus melakukan operasi pengangkatan kandung empedu ini secepatnya,”” lanjutnya kemudian.

Setelah mendapatkan penjelasan dari dokter, aku dan penerjemah lantas berpamitan kembali ke kamar rawat. Kesedihan dan ketakutan menghantuiku. Sedih karena tak ada satu pun sanak saudara di sampingku. Takut apabila sampai terjadi sesuatu padaku, bagaimana dengan suami dan putri kecilku kelak? Pikiranku terus melayang, mengingat keluarga kecilku nun jauh di sana.

“”Alika, saya harus pamit dulu. Besok saya akan datang dan memberitahu atas keputusan agensi untukmu. Kau istirahatlah,”” ujar penerjemah terus berpamitan pergi.

“”Terima kasih, Siaoce,”” jawabku.

Setelah penerjemah pergi tinggallah aku sendiri dengan berbagai rasa berkecamuk di dada.

****
Hingga hari menjelang sore, penerjemah yang berjanji akan menjengukku tak kunjung datang. Pagi tadi, Paman Wu, datang mengantarkan beberapa potong pakaian dan juga HP-ku. Ia juga menyampaikan salam dari majikanku. Mereka meminta maaf karena belum bisa menjengukku. Padahal dengan perhatian mereka yang begitu besar padaku selama ini, itu sudah lebih dari cukup.

“”Tak apa. Aku yang harusnya meminta maaf kepada Paman Wu dan keluarga besar Huang. Karena aku sudah merepotkan kalian semua. Bahkan tak mampu membantu menyiapkan segala sesuatu untuk acara hari ini,”” ucapku.

“”Ah, sudahlah, Alika. Tak ada yang merasa direpotkan. Siapa juga sih, yang mau sakit? Paman tak bisa berlama-lama di sini, karena kau tahu kan, hari ini keluarga Huang ada pertemuan? Kalau ada apa-apa, jangan sungkan untuk menelpon Paman, ya,”” ungkap Paman Wu dan kemudian berpamitan untuk pulang.

Dokter tak berani mengambil tindakan apapun, sebelum ada persetujuan baik itu dari agensi ataupun majikanku. Karena harus ada yang bertanggung jawab nantinya. Aku sudah pasrah, hanya mampu berdoa dan memohon keajaiban. Agensi yang seyogyanya menjadi tumpuan harapanku, namun tak dapat diandalkan. Kupandangi poto anak dan suamiku di layar ponsel. Kepada potret merekalah aku berbicara. Untuk langsung menelpon, sekadar bercerita pun aku tak sanggup. Bukan apa-apa, aku takut tak mampu menahan kesedihan yang nantinya malah akan menjadi beban pikiran mereka di rumah. Saat aku sedang larut dengan perasaanku, pintu kamar terbuka. Bersamaan dengan datangnya kedua majikanku, penerjemah, dan dokter yang menanganiku.

Setelah berbasa-basi sebentar, penerjemah mengatakan bahwa aku akan menjalani perawatan di Indonesia. Itu artinya aku harus pulang dan memutuskan kontrak kerja yang baru setahun ini berjalan. Alasannya, agensi tak mau mengambil resiko besar apabila hal buruk sampai menimpaku. Aku pasrah, apapun keputusan mereka harus kuterima. Namun, pernyataan penerjemah ditentang keras oleh kedua majikanku dan dokter. Mereka bersikukuh akan merawatku dan segera melakukan operasi pengangkatan kandung empedu. Bahkan majikanku berani menjamin segala resikonya.

Kedua majikanku sampai bersitegang dengan penerjemah, demi keselamatan dan kesehatanku. Sampai akhirnya, mencapai kesepakatan bahwa aku akan tetap melanjutkan pengobatanku di sini. Bahkan majikan memberikan waktu istirahat untukku, sampai kesehatanku benar-benar pulih dan mereka masih mau mempekerjakanku. Airmataku mengalir, ungkapan rasa syukur dan terima kasih aku sampaikan kepada dokter dan kedua majikanku yang sangat baik hati. Mama menenangkan dan mengusap lembut punggungku.

****

Pagi ini gereja Wanchin Basilica telah ramai dengan para jemaat dan tamu undangan. Dekorasi ruangan yang didominasi dengan warna putih, berhiaskan bunga-bunga indah menambah semarak suasana pagi. Deretan kursi berjajar rapi di dalam tenda besar yang telah disiapkan oleh wedding organizer dan panitia pesta. Tak lama kemudian, acara pun dimulai.

Papa yang saat itu mengenakan stelan kemeja putih dan jas hitam, nampak sangat berwibawa. Begitu pula dengan Jiao sioce, terlihat anggun dalam balutan gaun pengantinnya. Dengan diiringin alunan syahdu lagu pujian untuk Tuhan, papa menggandeng tangan Jiao siaoce, berjalan mantap menuju altar. Senyum manis tersungging di sudut bibir keduanya. Hadirin pun berdiri menyambut mereka. Setelah sampai di depan altar, papa lantas menyerahkan tangan Jiao siaoce kepada sang mempelai pria. Selanjutnya kedua mempelai mendekati pendeta, dan keduanya melakukan pemberkatan yang disaksikan hadirin di gereja itu.

Pemberkatan dan pengucapan janji suci pernikahan berjalan khidmat dan sakral. Suasana bahagia dan haru menyelimuti pesta ini. Ucapan selamat dan riuh tepuk tangan menggema, saat kedua mempelai saling menyematkan cincin pernikahan mereka. Sebagai tanda bahwa mereka telah resmi menjadi sepasang suami istri. Mama tak kuasa menahan tangis bahagia, begitu pun dengan papa, rona kebahagiaan terpancar jelas dari wajahnya. Kini harapan papa untuk mengantarkan putrinya ke pelaminan telah terwujud, tak ada lagi yang perlu dicemaskan.

Aku yang sedari tadi berada di samping mama, turut larut dalam suasana bahagia ini. Betapa aku sangat berhutang budi atas kebaikan keluarga ini. Akan selalu kuingat, bagaimana seluruh keluarga ini menyemangatiku untuk sembuh dan kuat menghadapi penyakitku. Keluarga ini pula yang mengajarkanku akan arti cinta yang sesungguhnya. Cinta yang tulus, tak memandang kasta, ras dan agama. Sungguh! Suatu pelajaran yang akan selalu kuingat seumur hidupku.

“”Terima kasih atas besarnya cinta yang kalian berikan untukku, Semoga kebahagian dan keberkahan menyelimuti kehidupan keluarga ini,”” ungkapku di hadapan seluruh keluarga Huang.

****
Tamat

Note:
-Kolesistitis adalah adanya peradangan pada kandung empedu


 2015 Babak penyisihan 印尼文初選  

📜 在寶島的第二個家 Keluarga Keduaku Di Formosa

👤 Evi Agustika

 

春天到來。清晨的陽光送來溫暖,前幾個月都被寒冷的濃霧給阻攔。小鳥唧唧喳喳歡快地唱著,伴隨著檳榔葉優美的擺動,​​與早晨清爽的晨風共舞。蝴蝶飛來飛去,從盛開中的鮮花吸取花蜜。宇宙也高舉讚美祂的神威。

天還沒完全亮。我和媽媽-我對雇主的稱呼,正在廚房忙著準備早餐。
「利卡,趕快準備爸爸的全部用品。吳叔叔今天早上會提早帶你們去!」媽媽邊把早餐放在桌上邊命令著。
「好,媽媽。」我盡職盡責地說,不斷執行她的命令。
今天上午爸爸有個健康檢查的行程,還有物理治療。在治療師的監督下做輕微的運動。

阿利卡是我的名字。我在黃家工作已經快一年了,這戶人家住在屏東縣的內埔東社村。爸爸,是我對我照顧的人的稱呼。他是一位體型很胖的六十五歲男性,也是一位患有心臟疾病和糖尿病併發症的病患。所以,他每天需要在飲食、節食和運動上特別注意。爸爸有高大的身材,他在年輕時是一個勤奮的人。生病之前,爸爸是一家製造公司的經理,他的時間幾乎都在外面度過,不規律的飲食和休息斷送了他的健康。一年前,他被發現昏迷倒在他的辦公室裡。

爸爸很幸運地提早接受治療,所以他的生命獲救了。醫生建議爸爸不要太難過,但必須建立健康的生活方式。最後,經過一些考慮,爸爸決定停止工作並接受強化治療。媽媽作為一個小學老師,工作量大又繁雜,她不能無時無刻陪伴在爸爸身邊,他們的兩個孩子又各自有事情要忙。

他們的長子,李偉,已經結婚。他和他的小家庭生活和工作都在台南。他們偶爾會來探望他的父母。他們的小女兒,嬌小姐 ,總是忙於花店。這位三十出頭的可愛女生,寧願自給自足。對她來說,獨立是一個值得驕傲的成就。

「還是自己做生意好,雖然收入低,但沒有任何壓力,很滿足。繼續當員工的話雖然錢比較多,但生活會受到其他人的限制和控制。」她在某個下午跟大家一起坐下,邊享受著熱茶邊說著。

媽媽,是一個很有愛心及耐心的女人。雖然很忙,媽媽從來沒有忽略到她做為一位妻子和母親的職責。在即將退休的年齡,她仍然有教學的熱誠。媽媽是美術老師,她的音樂才華也遺傳給她最小的女兒,當她女兒熟練地在琴鍵上滑動手指就可以證明。嬌小姐是萬金聖母聖殿樂團的成員之一,萬金聖母聖殿是萬金最古老的教堂,黃氏家族做禮拜的地方。

我很幸運能夠得到這樣好的雇主。事實上,他們把我當成這個家庭的一份子。我的年齡比嬌小姐年長幾歲,讓我們相當的親近。她毫不猶豫地跟我分享她的心情,我們猶如親姊妹。尤其自從他爸爸要她趕快結婚。她會利用各種原因和理由來避免,她認為對她來說婚姻還早。事實上,她已經到有孩子的適婚年齡了。她的固執有時讓她爸爸的血壓上升。每到這個時候,她都會控制住自己的情緒,並為了爸爸的健康而認輸。

*****

像往常一樣,媽媽和嬌小姐去上班時,我就開始打掃房子和陪爸爸做輕微的運動。糖尿病的併發症導致他經常感到口渴和飢餓。所以我要一直提供飲用水和健康的零食給爸爸,而且不能含太多的碳水化合物和脂肪。煮不加糖的綠豆或紅豆是一種選擇,必須選擇其中含有比較多維生素C的水果,有時我覺得他好可憐,爸爸抱怨每次都吃同樣的食物很無聊。但為了健康,沒有其他的選擇。

今天整個早上爸爸看起來很消沈,完全沒聽到他的抱怨,他沒有像以前整天喊累了渴了還是餓了。他今天很安靜,不太想回答我的問題。甚至當我邀他出去公園散步,他也拒絕了。

「爸爸你怎麼了嗎?是不是身體不適?我請吳叔叔來好不好?」我焦急地問。
吳叔叔負責管理黃家的檳榔果園,同時如果有需要,都會幫助黃家大小事。

「沒有必要。我很好!」他簡短地說。
如果這樣我就不敢再多問了。因為我可以肯定他會生氣的,這樣會影響他的心臟。爸爸可能對現況感到厭煩。也難怪,以前他總是與很多人接觸且行動敏捷。現在剛好全部相反。

「難道我錯了嗎?我只是想在我死之前看到我女兒快樂地組一個家庭。」他慢慢地說,好像在說給自己聽。
正在端水果給他吃的我,聽到他的話感到非常的驚訝。
「爸爸不能這樣說。」我邊說邊靠近他。
像這樣的時刻爸爸需要可以傾訴的朋友,我一定要是一個很好的聽眾,才不會讓他感到被忽略。

「妳是知道的,醫生宣判我的生命不久矣。各種併發症的疾病聚集在我的身上。死亡任何時候都會來把我接走。」他解釋說。
「其實,他們都已經訂婚。為什麼還要拖時間呢?他們在等我死了,才要結婚吧!」他開始大聲。

我只是靜靜地聽著他的感嘆。事實上,半年前嬌小姐已經和她的男朋友訂婚了。所有家庭成員都散發著幸福的光芒。特別是爸爸。他是第一個興奮地享受心愛女兒的特殊時刻。這事使我想起,當時我的父親把我嫁出去,他是如何高興又堅強的把我交給我的丈夫。

「一個父親的幸福,是看著心愛的女兒結婚過著幸福快樂的生活。這並不是說他就這樣卸責了,不是!只要妳知道,我的孩兒。父親最大的願望,就是確保有人能代替他的位置,在他走了之後,有人來保護和照顧他的女兒。」父親這些話一直迴繞在我的生活中。

是的,我感受得到爸爸的擔憂。事實上,最近兩個月他的健康狀況每況愈下。有時候,他還得住院兩個星期。一方面,爸爸希望他的女兒結婚,而另一方面,嬌小姐還沒有準備好結婚。在這個國家,三十五歲以上結婚是一件很常見的事。甚至也有人選擇擁抱單身生活。這件事跟我的村莊很不一樣。別說三十五歲,三十歲以下還未嫁的女孩都會被標記為老處女。啊,我也不知道啦。「不同的坑住著不同的魚」這句諺語非常適合拿來形容印尼和台灣之間的生活比較。

*****

爸爸的身體越來越差。他現在常常拒絕吃飯和吃藥。而這些口服降血糖藥物治療是他每天必須服用的藥品,以控制他的血糖,並且預防更嚴重的併發症。他也不願意做運動了。他不穩定的情緒變得經常生氣,當他憤怒的情緒時達到頂峰時,我經常成為他的目標。只要有一點點錯,我會被罵到臭頭。我擔心的是他的心臟狀況惡化。尤其,我每天都只和他單獨在家。幸好,媽媽和嬌小姐理解我的處境,他們安慰我並告訴我要耐心面對爸爸。

「爸爸,吃飯了喲。從中午到現在,爸爸都沒有吃過任何東西。這裡有媽媽煮給你的綠豆粥。」說著我端給他一碗熱騰騰的粥。
「我不要!」他氣憤地說,便撇開我放一碗稀飯的托盤。
當那碗熱粥撒到我的胸口時我嚇一跳,剩下的粥和碗就這樣摔在地板上。媽媽看到整件事情,從廚房衝了過來並試圖安撫爸爸,而我馬上清理地板上的粥。

「我們一起照顧爸爸,好不好?阿利卡。爸爸其實是一個很好的人,他目前的狀況不穩定才導致他現在很易怒。爸爸需要我們全部人的照顧。」當我在廚房裡洗碗時媽媽跟我說。
「請原諒爸爸。請原諒我們經常麻煩妳,阿利卡。媽媽希望妳能耐心照顧爸爸。幫助我們照顧他,好嗎?」媽媽抱著希望的懇求。

我從她癡癡的眼睛看到她的焦慮和期待。

「好的,我會盡我所能照顧爸爸。我已經把爸爸當作我自己的父親,還有媽媽和這個家庭的所有成員。你們對我這麼好,你們是我在台灣第二個家庭。」我笑著回答,試圖掩蓋我的悲傷。

「謝謝你, 阿利卡。謝謝你。」她由衷地說,然後熱烈地擁抱我。我的血沙沙作響,我感覺得到這個家庭是如何的愛我。

「感謝你,親愛的真主。賜予了我如此大的恩惠。」我由衷的感恩。一直忍耐的淚水最後滴落下來了。我抵擋不住情緒在我胸口的動盪。

*****

爸爸和嬌小姐之間的情緒有些緊張,原因在於前一段時間對嬌小姐的婚姻問題,慢慢也有好轉了。不外乎因這個家庭角色的關係,媽媽和李偉不斷說服嬌小姐,請她滿足爸爸的要求。他們的努力成功了,嬌小姐被說服了 。

自從他的女兒表示願意結婚後,爸爸越來越有精神而且很開朗。他的脾氣也越來越溫和,沒有憤怒。這個家的快樂又回來了。

其實,這幾天我感覺到我的胃不舒服。肋骨下方一直感到疼痛蔓延到背部,然後突然發作。有時候,我會胃脹氣和便秘。但是,有時候它很快又不痛了。

「也許只是感冒,刮個痧、抹點精油,應該很快就會好了。」我心裡這樣想,所以我認為不需要把我的情況告訴任何人。

尤其,後天就是每年都會舉辦簡單派對的八月八號父親節。同時,兩個家庭也會有一個重要的會議,確定婚禮的日期。家裡變得比較擁擠,李偉和他的家人都來。我的工作變得很多。打掃和幫媽媽做飯給家庭所有成員吃,而兩個家庭會議將在餐廳舉行。

當我想幫爸爸洗澡時,肚子劇烈疼痛再次發作。這一次更糟糕,甚至開始覺得很噁心想吐。我不小心大力的抓著爸爸的胳膊。爸爸很驚訝地看到我蒼白冒冷汗的臉。他慌了,大聲地喊:「妳怎麼了,阿利卡?!」

我來不及回答這個問題,我請他先坐下。然後衝進洗手間,因為我再也受不了噁心想吐的感覺。

雖然我已經把肚子裡的東西都吐出來,疼痛感還在。相反的,已經痛到腹上部了。我用我剩餘的力氣搖搖晃晃走出洗手間。媽媽已經在洗手間門前等我了,幫忙攙扶身體癱軟的我。禍到臨頭無法躲,疼痛越來越劇烈,連我的頭部也跟著一起抽痛。我看到雇主擔心的臉孔,之後一切變得黑暗,我昏厥過去。

*****

我不知道我昏睡多久。當我醒來時,我已經躺在醫院的病房裡。點滴的針漂亮地插在我的右手上。我的目光掃過整個房間,我看到一位微笑的護士走近我。

「妳起來了嗎?小姐。」她親切地問。
「是。」我虛弱地回答,並試圖微笑。
從她那邊我得到了消息,我從昨天開始一直在這家醫院治療。

「雇主打電話叫救護車並處理好所有治療的程序。但是,因為有一些事情他們不能在這裡陪妳。」護士詳細解釋,之後她請醫生過來看我 。

我開始想起昨天整個事情的經過。我的嘴唇不停的感恩真主的偉大。我能理解雇主忙碌,我應該在家裡,幫助他們準備好明天活動的一切。但不幸的事,誰能料想得到呢?

護士帶回一個醫生,同時檢查了我的情況,醫生問我的感受。他很用心的傾聽我的敘述。聽完我的話後,醫生說我需要接受一系列的檢查,以確知生什麼病。

*****

經過一系列的檢測,現在就是等待結果。我被要求接受住院治療,醫院才能控制我的病情。不可否認,我開始擔心了。等待檢測結果猶如面臨一個不定時炸彈,每一刻都會捏碎我所有的夢想。但是,焦慮感如今有點鬆了一下,當天中午仲介公司代表來看我,並陪我聽醫生的診斷。這也是因為雇主打電話請他們來陪我,因為雇主擔心我有語言障礙。

「小姐,妳患有急性膽囊炎。膽囊切除是最好的治療方法。」醫生的說法讓我感到驚訝。
「除了手術有沒有別的辦法嗎?醫生?」幫我翻譯的人問道。
「有,使用藥物緩慢的破壞膽結石。但是成功率非常小,因為阿利卡小姐之前剖腹手術的傷口也感染了,再加上她之前所吃的避孕藥。我們很擔心,如果任其發展,膽結石會變得腫大發炎。這會使胰腺器官甚至心臟有感染的可能性。」醫生長篇解釋。

「畢竟這個手術的風險不高,迅速處理的話可以防止其他疾病的併發症。這就是為什麼我們必須盡快做膽囊摘除手術。」他補充說明。

獲得醫生的解釋後,我和翻譯回病房,悲傷和恐懼籠罩著我。傷心是因為沒有一個親戚在我身邊,怕萬一出了什麼事情,那我的丈夫和女兒怎麼辦?我腦海不斷飄移,想起在遠方的小家庭。

「阿利卡我先走了。明天我會告訴妳仲介公司的決定。妳先休息。」翻譯說完就道別離去。
「小姐謝謝妳。」我回答。翻譯走後,留著我獨自擁著多種感覺肆虐於我胸。

*****

直到下午,答應要來看我的翻譯還是沒出現。今天上午,吳叔叔送來一些衣服和我的手機。他還轉達了雇主的話。他們表示歉意,因為還沒能來看我。其實對我來說,他們一直以來對我的關注和關愛已經很足夠了。

「沒關係。我本來應該向吳叔叔和雇主一家道歉。因為我給大家帶來麻煩。甚至沒能幫助準備今天的活動。」我說。
「好了啦,阿利卡。我們沒有感覺到被打擾。有誰願意生病?叔叔不能在這裡待太久,你也知道的,這一天黃氏家族有一個重要的會議。如果有什麼事,不要猶豫,打給叔叔,好不好?」吳叔叔說完就說再見然後回家。

在仲介公司和雇主還沒有任何批准之前,醫生不敢做任何動作,因為需要負責任。我也認命了,只能祈求奇蹟的到來。仲介公司原本是我希望的根基,但看來是無法依賴。我看了看手機屏幕上孩子和丈夫的照片。我對著照說話。連通個電話告訴家人的動作我都辦不到。沒什麼原因,我怕他們不能承受悲傷,反而成為他們心中的負擔。當我沉溺在我的感覺時房門打開了,我的兩個雇主隨著翻譯還有負責我的醫生都走進來。

經過一番的談話,翻譯告訴我,我會在印尼接受治療。這意味著我得回家,並終結才進行一年的合約。究其原因,仲介公司不想冒這個風險,萬一不好的事情發生在我身上。我認命了,不管他們作任何決定我都必須接受。但是譯者的聲明,遭到兩位雇主和醫生強烈的反對。他們堅持照顧我並立即手術切除膽囊。我的雇主甚至願意承擔所有的風險。

兩位雇主跟翻譯對抗,為了我的安全和健康。直到最後,達成了協議,我將在這裡繼續我的治療。雇主還給我時間休息,直到我的身體完全恢復,他們還是想繼續聘用我。我的眼淚都掉下來了,不斷的表達感激,感恩心地善良的醫生和兩位雇主。媽媽安慰我並輕輕地撫摸著我的背。

*****

今天上午萬金聖母聖殿裡擠滿了做禮拜者和嘉賓。房間裝飾以白色為主,飾以美麗的花朵增添節日的喜慶氣氛。婚禮秘書或主辦單位已在一個大帳篷裡整齊地排好椅子。不久後,婚禮開始。

當時的爸爸穿著白襯衫搭配黑色的西裝,顯得很有權威。嬌小姐也在婚紗的裝扮下看起來很優雅。隨著莊嚴的聖歌,爸爸持著嬌小姐的手,穩穩的步向神壇。兩位的嘴角揪著甜美的笑容。觀眾起身來迎接他們。走到祭壇前,爸爸再把嬌小姐的手交給新郎。然後,新郎新娘走向牧師接授祝福,教堂裡的觀眾見證了此事。

祝福和神聖的結婚誓言進行得很莊嚴很神聖,快樂和感動的氣氛包圍著整場盛宴。祝賀掌聲熱烈的迴響,當新娘和新郎交換結婚戒指作為見證,表明他們已正式成為夫妻。媽媽快樂得哭了,爸爸也是,他的臉清楚地散發著幸福氣息。現在,爸爸所希望把女兒嫁出去的願望已經實現,已經沒有什麼可擔心的了。

我從剛剛一直在媽媽的身邊,也跟著沈醉在這個歡樂的氣氛裡。我非常感激這個家族對我的恩情。我會永遠記得,全家人是如何鼓勵我到痊癒,使我堅強的面對我的病。也是這個家教我真愛的意義。真摯的愛情,無關階級、種族和宗教。真的!這是我餘生會記住的一個教育。

我在黃家人面前說:「謝謝你們給我大大的愛,希望幸福與祝福圍繞著這個家庭的生活。」

 

發表迴響

你的電子郵件位址並不會被公開。 必要欄位標記為 *