列車門前的離婚協議書 Talak Tiga Di Pintu Kereta

 2015 Babak penyisihan 印尼文初選 

📜 列車門前的離婚協議書 Talak Tiga Di Pintu Kereta

👤 Asri Fara

 

Kembali kuayunkan kaki menyusuri lorong-lorong stasiun bawah tanah, stasiun terbesar di kota Taipe,  Taipei Main Station (TMS). Tak terasa, lima tahun sudah aku meninggalkannya bersama tawa dan airmata. Semua telah  terbungkus rapi dalam laci kenangan, untuk beberapa tahun semenjak kutinggalkan Taiwan. Benar, untuk beberapa tahun aku bisa melupakan luka itu, tapi tidak untuk tahun ini. Aku terpaksa harus mengorek luka itu demi kisah yang baru.

Mataku terpaku pada blok telepon umum yang tertempel di tembok lantai dasar rel MRT jalur biru. Di sanalah dulu kutumpahkan airmata, untuk meluapkan segenap luka, dan tak seorang pun yang pedulikanku, termasuk suamiku.
Di sanalah, suami pertamaku memberikan surat cerai tepat di depan pintu MRT, hanya dengan satu kalimat, “”Ini surat cerai kita, setelah ini jangan kau ganggu aku lagi!”” Ucapnya sebelum kemudian berlalu dan  tubuhnya lenyap dalam kerumunan orang di atas eskalator. Serasa berakhir hidupku kala itu,
usiaku baru 27 tahun, kemana aku harus mengadu? Sedangkan di sini, aku hanyalah seorang  pengantin asing yang tak bersanak dan saudara. Bahkan teman pun hanya bisa kuhitung dengan jarin .Aku sebatang kara di belantara kosmopolitan Taiwan.
Semua itu disebabkan ketatnya peraturan suamiku yang melarangku bergaul dengan orang luar, dan mewajibkanku tinggal di dalam rumah seharian. Bahkan mengikuti kegiatan untuk pengantin asing yang di selenggarakan pemerintah pun aku tak boleh. Segala keperluan  mulai dari sabun mandi, bumbu dapur dan keperluanku dialah yang belanja.
Hanya sesekali saja aku keluar, itupun diajaknya untuk sekedar makan di luar atau jalan-jalan. Yang lebih sering aku  diajaknya ke rumah mertua,  membantu mereka bersih-bersih dan memasak untuk keperluan sembahyang.
Serasa mendekam di penjara emas hidupku, tapi kujalani dengan ikhlas demi rasa cinta dan hormatku pada suami.

Dari seringnya berkunjung ke rumah mertua itulah, semua masalah berawal. Ibu mertua yang sejak awal tidak menyetujui anaknya menikah denganku, yang hanya seorang bekas pembantu. Dia selalu mencari gara-gara dan segala cara dia tempuh untuk menghancurkan pernikahan kami.
Dari masalah asal-usulku, caraku berpakaian, hingga masalah anak yang tak kunjung hadir di rahimku setelah dua tahun menikah. Bahkan ibu mertuaku sering dengan sengaja mengundang  makan bersama A Chen, wanita lokal yang dulu dipilihkan untuk menjadi istri suamiku sebelum menikahiku. Ibu mertua juga selalu membanding-bandingkan aku dengan adik iparku yang telah memiliki anak setelah setahun menikah. Dan masih banyak lagi ulah kesengajaannnya untuk membuatku sakit hati. Tapi  aku tak pernah membantah atau sekedar membela diri, aku hanya diam saja dan menyimpannya jauh ke dalam hati. Biarlah hanya Tuhan yang tahu semua kesedihanku. Yang penting bagiku, suamiku masih sayang dan peduli padaku, itu sudah lebih dari cukup.

Setahun, dua tahun, rumah tanggaku berjalan tentram dan bahagia, suami tak terlalu menuntut anak padaku, bahkan dia selalu menghiburku di kala aku berkeluh kesah tentang kerinduanku pada seorang bayi.
Namun, di tahun ketiga pernikahanku, prahara mulai datang perlahan dan bertubi. Mulai diberhentikannya suamiku dari pabrik pembuatan kue bulan, imbas dari kasus pewarna makanan, dan beralih profesi menjadi supir taksi. Hingga ayah mertuaku yang kena strok dan
semua beban pengobatannya dibebankan kepada suamiku.

Suamiku  pun sering pulang larut malam dalam keadaan mabuk, kami pun semakin jarang berkomunikasi, bahkan sudah semakin jarang menyentuhku.
Awalnya aku hanya diam dan memakluminya, mungkin karena dia terlalu capek. Tapi lama-kelamaan dia juga jarang pulang, dan itu membuatku curiga, namun setiap kutanyakan, jawabnya hanya mengantarkan penumpang taksi ke luar kota.
Hingga suatu pagi saat sarapan, dia mengatakan hal yang tak pernah kuduga sebelumnya. “”A Li, A Chen hamil anakku, maafkan aku.”” Katanya datar, seolah tanpa beban, seraya meneguk kopi di cangkirnya. Matanya pun tak berani menatapku langsung. Sedangkan aku hanya mampu menatapnya tanpa kata, bahkan roti yang telah kugigit sepotong seolah berubah menjadi duri  dan tak mampu aku telan. Kata-katanya serasa bagai petatasan yang membangunkan tidur lelapku.
“”A Chen, hamil? Sejak kapan …? Kenapa kau lakukan ini padaku … ?”” Aku tak mampu melanjutkan pertanyaanku lagi. Buru-buru kuraih gelas tehku dengan tangan gemetar, lalu menenggak isinya hingga tak tersisa setetes pun, lalu kutuangi lagi dan lagi dari dalam teko sampai entah berapa gelas telah kuminum. Namun masih saja tak mampu menenangkan gemuruh di dadaku, sejuta rasa bercampur aduk jadi satu. Aku ingin marah, menangis , teriak! Tapi aku tak mampu, suaraku seolah terhenti di tenggorokan.

“”Maakan aku, A Li, aku yang salah, maafkan aku … “” suamiku tiba-tiba telah berlutut di samping kursi yang kukduduki,kata-kata maafnya semakin lama semakin menghilang, hingga tak kudengar lagi apa pun lagi. Langit cerah pagi itu mendadak hitam pekat seperti malam, gelap … teramat gelap.

Ketika kubuka mata, yang tampak pertama kali adalah foto pernikahanku, dalam pigura besar di atas meja riasku. Di sana tubuh mungilku dalam balutan gaun pengantin warna biru di dekap erat lengan kekar suamiku, sedangkann dia mengenakan setelan tuksedo lengkap dengan dasi kupu. Hanya senyum yang menghias wajah kami ketika itu, senym penuh harapan dalam mengarungi bahtera kehidupan, dan kini senyum itu telah hilang lenyap terbawa badai yang mendadak mematahkan layar biduk rapuh kami.
Perlahan kkuputar kepala ku mengamati sekeliling. Di samping kanan tempatku berbaring, suamiku duduk menopang dagu dengan wajah pasinya.””Kamu sudah sadar?”” Mau minum atau mau makan apa? Biar kubuatkan.”” Buru-buru dia bertanya ketika dilihatnya aku telah terjaga.
“”Tidak usah, terima kasih.”” Jawabku seraya mengusap airmata yang tiba-tiba telah mengalir di pipiku.

Sejak  itu hubungan kami  benar-benar renggang. Kami tak ubahnya dua orang asing yang tinngal di bawah satu atap penuh bara. Semua kenangan indah kami pun lenyap dalam kebisuan tak berujung pangkal.
Hingga beberapa hari kemudian,  meledaklah sekam yang telah cukup panas itu.
“”Besok, akan kuurus perceraian kita, aku akan menikahi A Chen, dan mulai malam ini aku akan tinggal di rumah Ibu, di Sinchu. Rumah ini kamu tempati saja sampai kamu bosan. Dan aku juga akan mengurus pembagian harta untukmu.”” Ucap suamiku sambil mengemasi barang-barangnya dan memasukkan ke dalam koper.Sedangkan aku hanya mampu duduk mematung di depan meja rias, tanpa menjawab sepatah katapun. Dia lalu pergi setelah meletakkan sebuah amplop coklat berisi uang dalam jumlah banyak.
“”Ini untuk keperluanmu selama belum mendapatkan pekerjaan.””Katanya lagi, dan itulah hari terakhir aku tinggal  bersama suamiku. Beberapa hari setelahnya dia menelponku, bahwa dia ingin bertemu denganku  terakhir kali di TMS untuk menyerahkan surat cerai.

Satu dua bulan memang hidupku terasa hampa, ingin pulang ke Indonesia, hatiku belum siap mengatakan masalakku pada orang tua yang selama ini menggap rumah tangga kami penuh kebahagiaan. Sedangkan untuk tingggal di sini, rasanya tak sanggup lagi, mau makan apa aku, sedang satu pekerjaan pun belum kudapatkan.
Sampai suatu hari kuputuskan menemui temanku sesama pengantin asing yang memiliki toko kelontong dan menyediakan keperluan para WNI dan TKA. Darinyalah aku diperkenalkan temaannya yang memiliki usaha agensi, nah dibsanalah aku bekerja sebagai penerjemah.

Setahun aku bekerja, semakin banyak pula kenalan dan temanku. Perlahan aku pun bisa melupakan luka pernikahanku.
Tak lama, Tuhan pun mengirimkan jodoh kedua untukku. Dia seorang expatriat asal Canada, yang sedang menjalankan bisnis di Taiwan. Beberapa bulan setelah perkenalan aku dinikahinya dan dibawa pulang ke negaranya. Dari pernikahanku ini, aku di karuniai seorang anak laki-laki yang sehat dan setampan ayahnya, suamiku pun semakin sayang dan perhatian padaku. Bahkan keluarga mertuaku tak lagi menganggapku sebagai menantu, tapi seperti anaknya sendiri.

Berkat cinta dan ijin suamiku pulalah aku kembali menginjakkan kaki di bumi Formosa ini, namun kali ini bukan sebagai pengantin asing Indonesia-Taiwan, atau pekerja asing. Tapi sebagai seorang laopan niang
di perusahaan agensiku sendiri. Aku bekerjasama dengan mantan bosku dulu untuk menjadi perantara WNI ataupun warga lokal yang ingin bekerja ke Canada.
Aku juga bisa mempekerjakan benerapa karyawan yang sebagian besar WNI.

Hidupku benar-benar sempurna saat ini, namun begitu aku harus tetap berterima kasih pada takdir masa laluku. Mungkin bila suami pertamaku dulu tak memberiku surat talak tiga dengan cara yang cukup hina, hanya di depan pintu MRT. Tentu aku takkan menemukan suami kedua yang begitu cinta padaku , dan tentu aku takkan menemui kebahagiaanku seperti sekarang.
Terima  kasih Taiwan, kau temaniku melukis pelangi di langit hidupku.

Selesai.

Nangang 24 Mei 2015


 2015 Babak penyisihan 印尼文初選 

📜 列車門前的離婚協議書 Talak Tiga Di Pintu Kereta

👤 Asri Fara

 

我重新來到臺北市最大的火車站地下街,昂首跨步地走在各個通道間。不知不覺,我離開這個充滿歡笑與淚水的地方五年了。自從幾年前我離開臺灣時,一切依然完好如初地包裝在回憶的抽屜裡。誠然,這幾年我可以忘記傷痛,但不是今年。我只能為求一個新的故事而撬開傷口。

我的眼神停留在地鐵捷運板南線,設在牆壁上的一排公共電話。那邊是我當時第一次灑下眼淚,激發所有傷口的地方,而且沒有人在乎我,包括我的丈夫。正是那裡,我第一任前夫給我離婚協議書,就在地鐵前門,丟下一句:「這是我們的離婚協議書,之後請妳別再來打擾我了!」說完,他即轉身消失在手扶梯的人群中。那個時候我似乎沒了生命,當時的我只有27歲,我要去哪裡尋找協助?在這個陌生的國度裡,我只是一個沒有兄弟姐妹的外籍新娘。朋友也不過手頭上那幾個。在台灣這都市叢林中,我隻身一人。

這一切是因為我丈夫嚴厲禁止我與外界接觸,要求我整天待在屋子裡的嚴格規定。即使參加政府為外籍配偶所辦的活動也不行。所有的東西,從肥皂、廚房用品和我的用品都由他購買。

偶爾帶我出去,也只是外出用食或旅遊。更多的時候,我被邀請到公婆家,協助他們打掃、煮拜拜用的祭品。雖然是待在黃金監獄,但我還是真誠的過日子,因為我愛我的丈夫,也尊敬他 。

問題的開始,來自經常走訪婆家。婆婆從起初就反對他兒子娶我這門婚事,就只因為我曾經是一位家庭幫傭。她一直在尋找破壞我們的婚姻的方法。

從我的國籍、我打扮的方式,到我兩年婚姻裡子宮始終沒有消息的問題。婆婆甚至常常故意邀請阿辰,我們婚前她看中的台灣媳婦人選共進晚餐。婆婆也經常拿我與結婚一年就生一個小孩的弟媳做比較,還有許多刻意讓我傷心的行為。但我從來不反抗或是為自己辯護,我只是靜靜的站著並把一切藏在心裡,只要上帝知道我所有的痛苦。對我來說最重要的是我老公還愛我、在乎我,這樣足矣。

一年、兩年過去了,我的家庭過得美滿和幸福,先生也不太苛求生孩子,甚至在我感嘆期盼一個小寶貝的到來時,他總是安慰我。

然而,在婚後第三年,暴風雨開始慢慢接二連三的到來。一開始先生因為食用色素案件的關係被月餅工廠炒魷魚,進而改行當計程車司機。後來我公公中風,所有的治療負擔掉到我先生的肩膀上。

我先生開始經常深夜醉醺醺的回家,我們的話也變得很少,他也很少碰我。剛開始我體諒他所有不吭聲,也許他真的太累了。但最終他變得很少回家,這讓我懷疑,每次詢問得到的答案都是服務乘客出城。直到有一天用早餐時,他說了我從來不會想到的事情。「阿麗,阿辰懷了我的小孩,我很抱歉。」他直截了當地說,邊喝著手上的咖啡,似乎沒有任何罪惡感,也不敢直視我的眼睛。我看著他一言不發,嘴裡的麵包頓時彷彿變成了刺,讓我無法吞嚥。他的話猶如鞭炮聲狠狠地把熟睡中的我喚醒了。

「阿辰懷孕了嗎?從什麼時候……?你為什麼要這樣對我……?」我不能再繼續我的問題。我急忙用顫抖的手抓起我的玻璃杯,喝得一滴不剩,喝完我又倒一杯喝下,一次又一次地不知喝了多少杯,依然沒能平靜胸口隆隆作響的我,真的是百感交集。我想發火,很想哭,很想大喊!但都無法辦到,我的聲音就好像卡在喉嚨裡。

「對不起,阿麗,我錯了,請原諒我……」我先生突然跪在我的椅子旁邊,道歉的話越來越小聲直到消失,我什麼也聽不到。明亮的早晨,天空突然變漆黑如夜,好黑……好暗。

當我再次睜開眼睛,看到的是我的結婚照,框著大相框放在我的梳妝台。裡面,我嬌小的身體穿著藍色婚紗,緊緊地被先生肌肉發達的手臂擁抱著,他穿著燕尾服配帶著蝴蝶結。當時微笑裝點我們的臉,充滿希望的微笑期望著快樂的生活。而如今笑容已經消失了,被突如其來的風暴打破了我們脆弱的屏障。

我慢慢地轉過頭看周圍。我躺著的右邊,臉色蒼白的先生托著下巴坐在那。

「妳醒了?想喝點什麼或吃點什麼?我幫妳做。」當他看到我醒了連忙地問道。
「不用了,謝謝你。」說著,我急忙抹去臉頰突然流下的兩行淚水。

從那時起,我們的關係變得很脆弱。我們就像一個屋簷下的兩個陌生人,在無邊的沉默中,所有美好的回憶全然消失。

直到幾天後,已過熱的殼終於爆炸。

「明天,我會辦理我們的離婚手續,我要娶阿辰,今晚開始我會住在新竹,我媽媽家。這房子妳可以住到高興為止,我也會處理財產分配。」說著,我先生收拾他的物品並放進皮箱內。而我只能坐在梳妝台前,一動也不動,也沒有回答半個字。他放下裝有大筆錢的棕色信封後,就離開了。

「這是妳在找到一份工作前需要用的。」他又說。
那是我和先生住在一起的最後一天。幾天後,他打電話給我,說他要在臺北車站見我最後一次,並把離婚協議書交給我。

前一兩個月時,我的人生感到很空虛,想回到印尼。我還沒做好心理準備,把我的遭遇告訴一直以為我擁有美滿家庭生活的父母。至於住在這裡,也不可能了,我靠什麼過活?工作沒有又著落。直到有一天,我決定去見擁有一家雜貨店的同胞外籍配偶朋友,她的店提供了印尼人和外籍勞工的日常用品。她幫我介紹給他朋友所開的仲介公司上班,我在那邊當一個翻譯。

工作一年,我擁有更多的熟人和朋友,慢慢地我忘掉婚姻的傷痕。不久,上帝賜給我第二次良緣,他是在台灣經營企業的加拿大人。認識幾個月後,我們結婚了,他把我帶回他的國家。從這段婚姻,我被上帝贈予一個健康的小男孩,長得和他爸爸一樣英俊,我先生更加喜歡和疼愛我了。婆家也不再把我當成媳婦,而是自己的女兒。

多虧我先生的愛與容許,我再次踏上寶島這片土地,但這次不是以一個來自印尼的外籍新娘或是外籍勞工,而是以一位老闆娘的身份回來自己的仲介公司。我與曾經上班的仲介公司老闆合作,仲介印尼人或臺灣人到加拿大工作。我還可以僱用幾個員工,而大部分員工都是印尼人。

這時我的生命非常美滿,但我仍然非常感謝我過去的命運。也許當時如果沒有第一任丈夫在捷運門前,用很卑鄙的方式給我一封離婚協議書,我就沒有機會與那麼愛我的第二個丈夫相見,也肯定不會像現在這樣幸福。謝謝台灣,你陪我在我的天空畫上彩虹。

南港 2015/5/24

發表迴響

你的電子郵件位址並不會被公開。 必要欄位標記為 *