請叫我老闆娘 Panggil Aku Laobaniang

 2015 Babak penyisihan 印尼文初選 

📜 請叫我老闆娘 Panggil Aku Laobaniang

👤 Sandra Atikasari

 

“Ngikk… Ngiiikk”
Bunyi kursi putar besar berlapis kulit warna hitam dan biru. Bak singgasana sang Ratu, di atasnya duduk  seorang wanita paruh baya yang sedang asik menatap monitor komputernya. Beberapa kali meng-klik mouse dan memencet tuts keyboard. Wajahnya serius. Sibuk. Sesekali dia menulis sesuatu lalu menyeruput minuman favoritnya, kopi hitam. Kursi beroda empat itu diseretnya ke kanan dan ke kiri menghampiri beberapa telepon seluler yang bercuit, penuh dengan pesan baru.
Tiba-tiba..
“Kriiinggg.. kriiiiinggg..”
Dering telepon mengagetkannya.
“Ni hao, oh iya, jalan Tze Chiang No. 258. Mbak yang pesan 20 bungkus bakso tadi ya. Sudah saya siapkan Mbak. Tinggal diambil.”
Lalu terputuslah telepon dari seberang.
Kemudian ia beranjak dari kantor kecil di sudut ruangan itu, menuju ke dapur yang selalu mengepul sambil berteriak:
“Sriiiii.. Itu Mbak Dila yang mau ambil pesenan sebentar lagi akan datang. Jangan lupa sekalian ambilkan pesanannya, satu kardus mie instan dan kecap manis.”
“Yaaaaa…” jawaban lantang terdengar dari dapur.
Ia segera kembali lagi ke kursi itu sambil merapihkan lipatan jilbabnya. Meski sedikit kelebihan muatan lemak di bagian perut, paha dan lengan, tubuh suburnya kelihatan sangat enerjik dengan balutan celana levis putih dan kaftan warna emas nan elegan. Jilbabnya pun selalu dibuat matching lengkap dengan sepatunya.
Sepagi ini ia sudah terlihat sangat sibuk. Beberapa orang mendatanginya silih berganti. Menyodorkan piring penuh nasi lengkap dengan lauk dan sayur, kemudian mereka mengulurkan uang. Kadangkala sesaat ia terlihat bercengkerama dengan orang-orang dengan logat Jawa yang masih kental.
“Iyo, Dolare mundak terus. Nyong bae mumet, gonta-ganti terus kurse. Miki sakabehane larang (iya, Dolarnya naik terus. Aku juga pusing karena kurs nya ganti terus. Sekarang apa-apa mahal)” celetuknya saat seorang datang menanyakan tentang nilai tukar uang Dolar Taiwan terhadap Rupiah.
“Iyo lah Mbak. Rika ngono wes kepenak urip nang Taiwan. Kie, nyong kirim 2500 bae kanggo bayar sekolah anake (iya Mbak, kamu sudah enak hidup di Taiwan. Nih, aku kirim 2500 saja untuk bayar sekolah anakku)” seorang ibu setengah tua menanggapi.

***
Wanita itu satu dari ratusan juta penduduk Indonesia. Satu dari jutaan orang desa yang merantau ke luar negeri. Satu dari ratusan ribu wanita yang menginjakkan kaki di Taiwan. Pada saat itu tahun 1998. Alasannya klasik, masih sama dengan kebanyakan perantau lainnya: faktor ekonomi. Wanita itu aku. Yanti.
Sebenarnya aku tak terlalu tercekik oleh kebutuhan hidup di Indonesia. Aku muda dan pekerja keras. Semua bisa kujadikan bahan jualan di pasar. Di desaku sana, Banjarnegara, Jawa Tengah. Namun, bagian dari drama masa lalu menjadi salah satu sejarah munculnya letupan api nekat dalam hatiku.
Anakku masih balita dan aku ibu tunggal. Lalu dimana suamiku? Sedikitnya aku agak sensitif jika ditanya tentang perihal itu. Ya, diusiaku yang baru menginjak dua puluhan tahun, aku menelan pil pahit perceraian. Wanita mana yang tak merasa kelu ketika pasangan hidup malah mengais cinta yang lain? Meski pernikahan kami hanya berawal dari perjodohan, namun sakit rasanya ketika cinta pertama berakhir di sebuah pengadilan agama.
Keterpurukan tak berlangsung lama, dari situ aku bangkit. Ada semacam bisikan malaikat yang menggugah nyali untuk kembali menata hidup. Menenggelamkan rasa dan melahirkan lagi asa. Asa untuk maju dan berdiri dengan kaki sendiri. Untuk siapa lagi kalau bukan sang buah hati.
Kutinggalkan Indonesia, buah hati yang masih belajar bicara dan semua keluarga. Singapura adalah negara yang pertama kali kukunjungi. Tiba di negara yang kecil nan kaya itu, aku beruntung. Majikanku baik dan sabar. Segala kebutuhanku terpenuhi. Gaji tepat waktu. Tiada yang kurang hingga aku menyelesaikan kontrak tiga tahun. Waktu itu sang majikan memintaku untuk kembali lagi bekerja untuknya. Aku hanya tersenyum seakan mengisyaratkan kata ‘iya’, namun setelah sebulan di rumah, aku terbang lebih jauh dari bumi Merlion, aku menuju bumi Formosa, Taiwan.

***

Detik demi detik terasa menjemukan di Taiwan manakala hari-hariku saat itu hanyalah menunggui Ama di rumah sakit. Ama adalah panggilan nenek dalam bahasa Mandarin, orangtua tunggal majikan yang kurawat. Beliau sakit struk sudah setahun belakangan ini.  Tugasku hanya menyuapi, menyeka lalu mengganti popok dan baju. Ketika Ama tidur, aku celingukan. Waktu itu masih belum ada internet, jadi sepi sekali. Apalagi handphone masih sangat langka dan menjadi barang mewah untuk diriku.
Hari Sabtu dan Mingguku juga selalu kelabu. Ketika rekan sejawat libur dan layaknya kebiasaan wanita di awal bulan yakni berbelanja, aku terpenjara untuk sang Ama. Lagipula aku memang tak terbiasa. Gajiku hanya kusisakan dua lembar ribuan untuk pegangan. Selebihnya kukirim ke Indonesia.
Tak kusangka, sepi dan kebosananku di kamar bersama Ama itu mendatangkan perubahan besar dalam hidupku. Ternyata ada pasien pria di seberang ranjang Ama yang diam-diam setiap hari mengamatiku. Umurnya kutebak sekitar 10 tahun lebih tua dariku. Awal mulanya aku hanya membantu mengambilkan minum untuknya. Tiada pikiran apa-apa. Aku hanya kasihan melihatnya sendirian tak ditemani siapa-siapa. Sakitnya pun aku juga tak tahu. Lama kelamaan kami sering ngobrol, berkenalan, hingga kami terbiasa saling sapa di rumah sakit.
Baru kuketahui bahwa ia sakit lumpuh. Kecelakaan kerja membuat ia harus kehilangan enam ruas tulang belakangnya. Sebab itu dia tak bisa berjalan namun ia masih bisa berbicara. Ia sempat tinggal lama di rumah sakit. Hingga pada akhirnya ia diijinkan pulang dengan membawa pulang juga nomer telepon selulerku yang baru saja kubeli.
Sebulan, dua bulan hingga dua tahun kami saling mengenal dan dekat. Padahal kami sudah tidak pernah intens bertemu. Entah apa aku yang merasa terlalu percaya diri akan perhatiannya padaku atau memang dia yang terlalu baik dan lembut hatinya. Sepertinya dia hendak menebarkan rasa ketertarikannya padaku. Apa ya yang menjadi pesonaku? Aku hanyalah seorang pembantu rumah tangga, tapi dia berniat ingin menjalin hubungan yang lebih serius denganku.
Sontak aku menolak tegas. Aku merasa aku adalah perempuan biasa. Aku tak pintar berdandan. Aku bukan yang percaya diri dengan hotpants dan highheels. Aku datang dari kampung, dengan latar belakang keluarga yang agamis. Intinya, aku bukan anak gaul sama sekali. Yang pasti, aku juga sama sekali tak pernah berpikiran menikah lagi setelah luka yang masih sedikit menganga di hati. Apalagi dengan orang asli Taiwan. Ada bayangan menakutkan yang tidak ingin sedikitpun aku bayangkan. Trauma pun masih ada.
Nampaknya dia tak menyerah. Dia menghubungiku berkali-kali setiap hari. Sesekali mengajak bertemu saat ia kontrol ke rumah sakit atau hanya menitipkan salam lewat sahabatku.
“Ah basi!” Begitu pikirku.
Dia sama sekali tak gentar. Menyerbu, menunjukkan kesungguhan. Lama-kelamaan hatiku iba. Sangat iba. Cinta atau bukan aku tak tahu pasti namanya. Ia seorang duda yang istrinya sudah menikah lagi dan anaknya tak satupun mau mengurusi. Aku mengingat selalu tatapan matanya dan suaranya yang serak di atas kursi roda.
Setelah dua tahun lebih tak kuhiraukan, kini aku mengatakan iya. Tepat sekali dengan momen sebulan sebelum kontrak tiga tahunku selesai, Ama yang kujaga meninggal dunia. Gayung bersambut, kemudian setelah kuselesaikan kontrakku, aku mengakhiri statusku sebagai janda. Kami menikah di tahun 2001.

***

Kehidupan pengantin baru tak layaknya imajinasi kebanyakan orang yang manis dan manja. Penyembuhan pasca operasi yang membuat suamiku lumpuh butuh proses lama. Kondisinya tak stabil.
Kadangkala ketika suamiku kondisinya sedang membaik, dia mengajakku memasang perangkap hewan buruan dan juga memintaku membantunya memulung barang bekas. Kadangkala juga aku membantunya berkebun. Kehidupan kami sangat sederhana. Susah payah ini harus kulalui lagi di negeri orang.
Terkadang penyakitnya kumat. Mendadak ambruk, tak bisa bicara bahkan sering dibarengi sesak napas. Lagi-lagi ia tak bisa berjalan, hanya bertengger di atas kursi roda. Namun ia terlihat semangat untuk kembali sembuh. Akulah satu-satunya yang berada disampingnya. Menggendongnya kemana-mana, menyuapi dan memandikannya.
Hingga suatu saat kesabaranku diuji. Saat dia hanya bisa berbaring di ranjangnya dan kami sudah sangat terhimpit sesak oleh kebutuhan hidup disini, tak sedolarpun ia keluarkan dari tabungannya. Akupun tak berani meminta. Padahal aku tahu, meski orang desa, dia menyimpan uang di sebuah bank ternama.
Aku kelimpungan ditambah ada perasaan yang mengganjal tak percaya. Mengapa adaptasi pernikahan ini begitu sulit, gumamku. Apa ternyata sifatnya seperti itu? Apa memang dia sangat berhemat? Aku berpikir pernikahanku kali ini baik-baik saja.
Ternyata, baru kusadari budaya orang Taiwan tak sama seperti pasangan suami istri di Indonesia. Tak tahu apakah memang prinsip hidup pasangan di sini bahwa keuangan dikelola sendiri-sendiri. Dia tak pernah sekalipun memberi uang belanja bulanan layaknya para suami di Indonesia. Uang yang kami dapat berdua, itulah yang kami gunakan untuk makan, bayar listrik dan sebagainya. Jika ada yang kurang, tidak ada satu alasanpun bisa merobohkan pertahanan ATM-nya.
Aku tidak bisa hanya menunggu ataupun berlutut untuk menengadahkan tanganku padanya. Aku tidak mau bergantung. Aku sendiri juga masih punya gadis semata wayang yang menjadi tanggung jawabku di Indonesia. Yang harus kusuplai dana sekolah dan kehidupannya.
Susah payah dan terseok-seok ku mencari kerja. Semua kuusahakan sendiri. Tak berapa lama, aku diterima bekerja di pabrik mantao. Semacam bakpao dengan isi daging maupun sayuran. Aku berangkat pagi pulang sore. Ketika malam aku tak hanya diam istirahat. Aku siapkan dulu segala kebutuhan suamiku lalu aku berangkat sekolah. Sekolah untuk para pengantin Taiwan. Belajar budaya, hingga baca tulis huruf Cina. Aku tak ingin jadi wanita bodoh. Aku ingin maju. Sepulang sekolah aku tak menganggur begitu saja. Meski sudah sangat larut, bakat membuat tempe dari ibuku dulu kucoba praktekkan. Ku coba jajakan di rumah sakit dengan kawan lama. Alhasil tempe buatanku laris manis di kalangan teman-teman Indonesia.
Pernah suatu  hari di tahun 2003 nasib malang menghampiriku. Saat bekerja di pabrik mantao itu, jariku tak sengaja lalai dari mesin pemotong di pabrik. Krass!! Aku kehilangan satu ruas jari telunjuk kiriku. Satu bulan aku diijinkan untuk beristirahat. Namun aku yang memang tak bisa menganggur merasa jenuh jika hanya berdiam diri. Bahkan aku  juga tetap berangkat sekolah. Dengan jari dibalut perban, aku mencoba membuat rempeyek, semacam makanan ringan berupa tepung goreng dengan kacang atau ikan asin di atasnya. Lalu kutawarkan lagi pada teman-teman. Lagi-lagi mereka ketagihan. Mereka sangat menyukainya.
Orderan meningkat seiring meningkatnya hasratku untuk berjualan makanan. Sama seperti ketika aku masih di Indonesia. Banyak yang memuji masakanku enak. Akupun semakin percaya diri melangkah. Aku merambah ke masakan matang khas Jawa. Selagi tetap merawat suamiku yang berangsur-angsur membaik, aku menerima banyak pesanan.
Suatu hari aku berkata pada suamiku.
“Aku mau mendirikan restoran Indonesia ya Laokong2?” pintaku mantap. Namun ia hanya mencibir.
“Ah apa kamu bisa? Yakin? Mau dapat modal darimana?” ucapnya  hambar,  yang masih kuingat.
Tiga tahun yang melelahkan terlewati. Bisnis jualan makanan yang awalnya iseng dan hobi, kini semakin kuseriusi. Sepeda motor dan handphone ukuran besar dan berantenna panjang adalah kawan setiaku mengantarkan orderan makanan. Hingga tak kupercaya dan suamikupun tak tahu, dari selembar uang ratusan dolar dan recehan yang selalu kuselipkan di bawah kasurku setiap hari, kini telah terkumpul begitu banyak. Ada 800.000 dolar Taiwan atau sekitar 320 juta rupiah. Ah modal yang cukup untuk memulai mengepakkan sayap mimpiku, pikirku saat itu.
Aku menginginkan kuasa penuh atas apa yang ingin aku bangun. Kemantapan hati untuk membuka toko Indonesia di Hualien, tempatku sejak pertama kali singgah menuntunku untuk mengambil keputusan yang berat. Aku rela melepas status kewarganegaraan Indonesiaku, tapi darahku dan bahasa ibu, masih tetap melekat di ragaku sampai sekarang.

***

Di Hualien, aku mengontrak sebuah bangunan dua lantai. Sebuah toko yang kuberi nama dengan label namaku sendiri. Benar-benar dari nol. Aku mulai merintis dengan beberapa menu khas nusantara dan jajanan pasar. Lidah mereka sepertinya cocok dengan takaran gula dan garamku. Aku menambah lagi menu dan membuka jasa pengiriman uang dan barang. Semakin dipercaya pelanggan, aku merambah ke minimarket kecil di pojok tokoku. Semua menjajakan barang-barang impor dari Indonesia. Permintaan pasar meningkat terus, aku mencoba menjual segala macam busana. Lagi-lagi kepuasanku belum sirna, kubuka sebuah ruangan untuk karaoke ria.
Suamiku? Kini ia telah sembuh. Dia sudah bisa berjalan. Bisa berburu lagi.
Cerita kesuksesan ini ingin kubagi lantaran aku ingin berteriak bahwa nasib bisa berubah manakala kita mau berusaha. Getir pahit hidup tidak selamanya kita rasakan, ada rasa manis menunggu untuk dikecap. Tidak semua orang melihat seluk beluk bagaimana aku memulai tangga yang pertama sampai aku pernah berada di puncak pencapaian mimpi. Berdiri dengan kaki sendiri. Semuanya dilalui dengan suka dan duka. Tidak sebentar,  20 tahun lamanya.
Sebuah majalah pernah mewawancaraiku untuk profil kesuksesan seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW). Aku sering pula diundang ke KDEI (Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia sebagai perwakilan kedutaan Indonesia di Taiwan) untuk menjadi juri perlombaan masak dan berbagai pelatihan.

***

Kini, aku lah wanita yang sedari tadi duduk di kursi kulit hitam dan biru kebanggaan. Menikmati kopi hitam. Menuai buah dari peluh dan lelah. Sampai sekarang aku masih giat bekerja, di kantor mungilku dan di dapur dengan beberapa karyawanku. Aku masih sama, Yanti yang dulu. Wanita yang sederhana dan pekerja keras. Namun, bedanya sekarang setiap orang bisa memanggilku Laobaniang.

***

1.  Laobaniang adalah panggilan untuk bos/majikan wanita dalam bahasa Mandarin.
2. Laokong berarti suami.

*** Cerita ini berdasarkan kisah nyata seorang Tenaga Kerja Indonesia yang sukses di tanah rantau Taiwan. Dikembangkan sendiri oleh penulis dengan nama yang disamarkan. Cerita telah mendapat persetujuan dari pihak yang bersangkutan.
Semoga kita dapat mengambil hikmah dan menginspirasi kita semua.


 2015 Babak penyisihan 印尼文初選 

📜 請叫我老闆娘 Panggil Aku Laobaniang

👤 Sandra Atikasari

 

「咿……咿……」包著黑色和藍色皮革的轉椅咿咿作響,猶如女王的寶座,上面坐著一位中年婦女,正盯著她的電腦銀幕,頻頻點擊滑鼠和按鍵。她的表情很認真,手邊忙個不停。偶爾寫些東西,然後喝著她最喜歡的飲料,黑咖啡。四輪的椅子被她拖來拖去,接聽幾個紛紛響起的手機,充滿了新的訊息。

突然……

「鈴……鈴……」電話鈴聲驚動了她。
「你好!哦,是!自強路258號。您是剛剛訂20包貢丸的那位小姐嗎?已經準備好了,請您來取貨。 」
對方掛斷電話。然後,她離開角落裡的小辦公室,進入總是熱氣騰騰的廚房,大喊:「Sri~~!蒂拉小姐等一下要來取貨,別忘了幫她拿喲!一箱泡麵和甜醬油 。」
「好~~!」 響亮的聲音從廚房傳出來。

她立刻又回到了椅子上,整理頭巾的褶皺。雖然腹部、大腿和胳膊的脂肪有點超過負荷,厚實的身軀,看上去還是非常有活力。穿著白色Levis長褲配上優雅的金色長衫,她的頭巾也總是跟鞋子做整體搭配。

這麼早,她看起來就已經非常繁忙。人潮來來去去,推一客飯配主菜和蔬菜的餐盤,然後伸出手來拿錢給她。有時,她會用濃烈的爪哇口音與顧客打成一片。

「是的,美元持續走高,我也很頭疼,因為匯率不斷變化,現在什麼都貴。」
當有人來打聽新台幣兌換印尼盾的匯率時,她總是這樣說。

「是的,你現在在台灣吃好住好的。這裡,我卻僅有2,500元寄支付我兒子的學費。」一位中年媽媽這麼回應她。

*****

該女子是印尼上億人其中的一個,上百萬從農村流浪到國外的人之一,也是成千上萬踏足台灣土地的婦女之一。當時1998年,有著典型的原因,且是跟大多數的移民工相同的理由:經濟因素。這個女人就是我,妍蒂。

其實我也不真的被印尼的民生需用所窒息。我還年輕,也很勤奮。在中爪哇我住的村子裡,任何東西我都能將它變成商品在菜市場賣掉。然而,部分已化為歷史的、戲劇性的過去,也是激發我內心做冒險性決定的原因之一。

我有一個三歲的幼兒,而且我是一個單身媽媽。那,我老公在哪裡?每當被問及這個問題時,我會有點敏感。是的,在剛剛踏進二十歲時,我吞下離婚的苦果。當自己的配偶另有所愛,哪個女人不感到麻木?雖然我們的婚姻是因眾人從中牽線,搭橋相親而促成的,但還是很痛,初戀竟在宗教法庭上結束。

心情低落並沒有持續很久,我從那裡站起來了。有一種天使般的耳語激起我的膽量去重新組織生活,埋葬了痛苦的滋味並重生了期望。期望自己挺身而出,用自己的腳站起來。若不為小寶貝還能為誰呢?

我離開了印尼,離開了還在牙牙學語的小寶貝和全部家人。新加坡是我去的第一個國家。到了這個小而富裕的國家,我是幸運的。雇主人很好也很有耐心。我所有的需求都得到滿足,薪酬準時發放,一切都很順利,直到我結束為期三年的合約。當時,雇主請我再次回去為他工作。我只是笑笑,不置可否地說:「是」,但回家一個月後,我飛到比魚尾獅更遠的一片土地,直奔寶島,台灣。

*****

當時我在台灣的日子,分秒都很單調,整天在醫院等著照顧阿嬤。阿嬤是台語奶奶的意思,是我僱主的單親家長。她最近一年才中風,我的工作只是餵食、擦拭、換尿布和換衣服。當阿嬤在床上睡覺時,我環顧四周。當時還沒有網絡,所以很安靜。而且手機仍然非常少見,對我來說是一種奢侈品。

我的週六與週日總是灰色的。當同事們放假,一般的女生都有月初購物的習俗,我卻被阿嬤困住。說實話,我也習慣了。我只從工資裡留下兩張一千塊當生活費,其餘的全寄回印尼。

我從來沒有想過,跟阿嬤一起待在冷清無聊的病房,會給我的生命帶來了很大的變化。

原來阿嬤隔壁床有一位男性患者,顯然他每天都在偷偷觀察我,我想他的年紀比我大10歲左右。一開始我只是幫他倒點水什麼的,並沒想太多。我也同情他總是一個人沒人陪,連生什麼病都不知道。認識後我們經常聊天,在醫院也習慣了互相問候。

後來我才知道他癱瘓,工作意外讓他損傷了六節脊椎,因此他不能走路,但仍然可以說話。他一度長期住院。直到最後,他被允許返家,並帶回我剛剛買的手機門號。

一個月、兩個月到兩年來,我們彼此了解,關係越來越親密,雖然我們不常見面。不知道是不是我對他在乎這件事太有自信,或者實際上他只是心地太善良又太溫柔,看起來他似乎正在暗示我他喜歡我。我不知道我的魅力在哪裡,我只是一個管家,但他想跟我繼續發展下去。

當然,我堅定地拒絕。我覺得我只是一個普通的女人。我不會打扮,我不是會穿熱褲和高跟鞋的人。我來自家庭背景有著崇高宗教信仰的鄉村。問題的關鍵是,我不是很會交朋友的人。可以肯定的是,心裡的傷痛並未恢復,我從來沒有想過要再婚,更不可能跟台灣的原住民。有些可怕的陰影我不敢重溫,創傷仍然存在。但是他並沒有放棄,每天跟我聯絡,偶爾來醫院做復健時約我見面,或是透過我的朋友向我問候。

「啊……為時已晚。」我如此想。
他沒有退縮,攻勢猛烈,以表明他的認真。最後,我心軟了,完全被動搖了。是不是愛情我已經搞不懂了。他是一個鰥夫,他的妻子已經再婚,而他的小孩沒有一個要他。我一直記得他的眼睛,他的沙啞的聲音,以及坐在輪椅上的的樣子。

兩年多來我不理他,現在我跟他說我願意。就在我合約滿三年的前一個月,我照顧的阿嬤搶救無效走了。劇情繼續發展,當合約期滿,我也結束了寡婦的身份,2001年我們結婚了。

*****

新婚生活並不像大多數人想像的甜蜜。我老公癱瘓的術後復健花了很長的時間,他的病情並不穩定。

當情況逐漸穩定,他讓我放捕捉野生動物的陷阱,也請我幫忙撿資源回收。有時我也到菜園幫忙,我們的生活很簡單,來到異國,就必須苦心地去生活了。

他的病有時會反覆發作,他會突然暈倒,不能說話,並往往會伴隨著呼吸急促。他又不能行走,只能坐輪椅,但他看起來很認真地想要復原。我是唯一一個在他身邊的人,推著他到處走,餵他吃飯,幫他洗澡。

直到有一天,我的耐心再次受到考驗。他只能躺在床上,我們一直受到很窘迫的經濟壓力,但他連一塊錢也不拿出來,我也不敢向他要。而我知道,即便是鄉下人,他把錢都存在一家著名銀行。

我整個難以置信地顫抖。為什麼這個婚姻這麼難適應?我嘟囔著。這是他真正的性格嗎?還是他真的這樣節儉?我以為這一次我的婚姻是成功的。很顯然,我意識到台灣人已婚夫婦的文化跟印尼是不一樣的,不知道是否有夫妻生活財產分別獨立的原則。他甚至從來沒有像印尼的丈夫給生活費,我們一起賺的錢,就是我們用來吃飯,交電費等。如果缺錢,沒有人可以打他提款卡的主意。

我不能只有等待,或跪求他的施捨,我不想要依賴任何人。我自己還有一個女兒在印尼,我對她有養育的責任,理當供她讀書、供她生活。

我費盡全力找工作,所有的事我都自己來。不久,我被一家饅頭工廠錄取了。一種以肉和蔬菜當餡料的饅頭。我早出晚歸,晚上回家,直到寂靜的深夜來臨也不休息,我用來照料老公。我還去上夜校,一門為新住民開的課程,學習文化、閱讀及練寫國字。我不想成為一個無知的女人,我想向前走。放學後,我也沒閒著。雖然已經很晚了,我嘗試練習製作母親教我的天貝,試著兜售給醫院的老鄉,我的天貝在印尼朋友間頗受歡迎。

2003年有一天,不幸的命運又來敲門。在饅頭工廠上班時,我的手指不小心被機器切斷了。喀啦!我失去了一截左手食指。工廠允許我休息一個月,但閒不下來的我覺得好無聊,我仍然去上課。用纏著繃帶的手,試圖做麵粉油炸的花生餅,那是上面有花生或鹹魚的一種小吃。然後,我又向我的朋友們兜售。同樣的,他們大呼過癮,非常喜歡它。

訂單與日俱增,激發了我銷售食品的願望。如同還在印尼,許多人稱讚我的好廚藝,我的步伐也變得更加自信。我試著往爪哇傳統熟食發展。一邊照顧逐漸好轉的老公,一邊收到不少訂單。

有一天,我對老公說:「我想開一家印尼餐廳,好不好,老公?」我堅定地說,但他只是竊笑。
「哎呀,你可以嗎?你確定嗎?資金要從哪裡來?」他平淡的說,我仍然記得很清楚。

三個累死人的年過去了。最初只為好玩和興趣做的食品銷售,我越做越認真。摩托車和大尺寸的手機,外加有長長的電線是我處理訂單的忠實伴侶。直到我不感相信,我老公也不知道,我每天存的一百塊台幣,它變八十萬台幣了。當時我想,開店的資金已經足夠了。

我想要擁有夢想的主導權。在花蓮,我將在來台灣第一次落腳的地方開印尼專賣店,同時也下了一個最艱難的決定-放棄印尼國籍。但我的血液、語言,仍然依附在我的身上,直到現在。

*****

在花蓮,我租了兩層樓的房子。一間以我自己的名字命名的商店。完全從頭開始,我以一些印尼典型的料理和小吃開先鋒,顧客的舌頭似乎很能適應我調的糖和鹽的劑量。我增加了新的菜單,也打開了匯款和貨運的服務,更受到客戶信賴。我從印尼進口商品,店的角落成了小型超商。市場需求越來越多,我也開始販賣從印尼進口的各種衣服。我還是不滿足,後來我開了一間卡拉OK店。

我老公咧?現在他已經康復,可以走路,也能再次打獵了。

我願意分享我的成功故事,因為我想大聲地跟大家說,只要我們願意嚐試努力,命運是可以改變的。生活的苦味不會永遠跟著我們,後面會有甜美的日子等著你。不是每個人都看到我是如何開始我的第一步,直到我爬上夢寐以求的高峰。用自己的雙腳站起來,通過了風風雨雨跌宕起伏,沒有很久,20年而已。

一本雜誌曾經採訪側寫過作為成功職業婦女的我。我經常受邀到KEDEI(印尼經濟貿易辦事處,印尼大使館在台灣的代表)擔任烹飪比賽的評審和訓練。

*****

現在,我就是一個一直坐在驕傲的黑色與藍色皮椅上的女人,享受著黑咖啡,收割以前汗水和疲憊的成果。直到現在我仍積極工作,在我的小辦公室和廚房,與我聘用的一些雇員。我還是一樣,還是以前的妍蒂,一個普通而勤奮的女人。

然而,不同的是,現在人人都叫我「老闆娘」。

*****

這個故事是根據印尼人在台灣工作並獲得成功的真實故事,以匿名重新編寫。這個故事已經經過當事人批准。希望我們可以採取故事裡的智慧,激勵每個人。

發表迴響

你的電子郵件位址並不會被公開。 必要欄位標記為 *