Adelina, Deritamu Adalah Deritaku Jua

 2018 Babak penyisihan 印尼文初選  

📜 Adelina, Deritamu Adalah Deritaku Jua

👤 Erwiana Sulistyaningsih

 

Namaku Erwiana Sulistyaningsih, lahir dari rahim seorang perempuan asal Ngawi, Jawa Timur, Indonesia. Usiaku sekarang dua puluh enam tahun, masih bujang, belum memutuskan untuk berpasangan. Masih sibuk memperjuangkan masa depan.

Mengenai Ayahku, sekarang beliau bekerja sebagai seorang buruh tani, menggarap lahan tuan tanah, untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Ayahku hanya lulusan Sekolah Dasar, ia menghabiskan masa mudanya hanya untuk bekerja, menjadi buruh di Perkebunan kelapa sawit milik Tuan A di Pulau Sumatera, menjadi tukang angkat batu di Perusahaan kontraktor milik Tuan B di Kota Jakarta, dan menjadi buruh serabutan di Kota Madura. Hanya menjadi buruh, tidak pernah naik tingkat, apalagi pangkat. Oh iya, dengan sangat menyesal, aku tidak dapat menyebutkan nama perusahaan dimana tempat ia bekerja. Aku belum sempat bertanya, nanti coba saya tanyakan lagi pada ayahku, kalau ia tidak sibuk mencangkul atau menggaru.

Sedangkan Ibuku, beliau hanya lulusan Sekolah Menengah Pertama, masa mudanya ia habiskan pula untuk bekerja, menjadi buruh di Perusahaan konveksi milik orang China di Bandung. Dengan menyesal pula, aku tak bisa menyebutkan nama perusahaanya, belum sempat aku bertanya padanya, mungkin besok kalo tidak lupa.

Semasa di Sekolah Dasar, aku ditinggal Ibuku menjadi Tenaga Kerja Indonesia ke Luar Negeri, sebut saja TKI. Beliau menjadi buruh rumah tangga di Negara Brunei Darussalam. Negara yang penduduknya sejahtera semua. Negara yang katanya rakyatnya dimakmurkan oleh Rajanya. Kalau warganya ada yang mau sekolah, tidak perlu membayar, malah akan dibayar. Benar-benar hebat pikirku.

Beruntung ibuku mendapat majikan yang baik, tidak suka memukul, kalau cerewet sudah biasa, namun pekerjaannya banyak, kurang istirahat. Dua tahun bekerja, Ibuku pulang cuti sebentar, untuk kembali lagi bekerja. Terlihat sekali beban kerja yang dipikulnya, dari tubuhnya yang semakin mengering. Senyuman dari bibirnya yang manis, bahkan tak mampu menyembunyikan beratnya. Meskipun kulitnya terlihat sedikit lebih bersih dan terawat, namun tetap saja terlihat pucat.

Aku disekolahkan sampai dengan Sekolah Menengah Kejuruan, satu tingkat lebih tinggi dari Ibuku. Orangtuaku berharap, dengan setingkat lebih tinggi akan mampu mengubah nasib keluargaku. Aku yang semasa itu, hanya bisa melakukan tugasku sebagai pelajar yaitu belajar. Aku tak begitu pintar, namun aku rajin belajar. Mungkin karena itu, guru menganugerahiku sebagai juara kelas.

Aku sempat berfikir dengan predikat juara kelas, akan mampu mengubah masa depanku menjadi lebih baik. Namun ternyata itu hanya ilusi. Selepas sekolah aku harus menggantikan ibuku bekerja. Aku bekerja di Perusahaan di Jakarta, di bengkel kendaraan bermotor milik orang China dan pernah juga menjadi buruh di Restoran milik orang India. Tak jauh berbeda, dengan orang tuaku, tetap saja aku berstatus menjadi buruh, tak pernah naik barang setingkatpun. Kata pepatah bilang, “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”. (Sifat, kemampuan, dan perilaku sang anak akan tidak jauh beda dari orang tuannya). Terkadang aku membenarkan filosofi itu, yang memang sesuai dengan kehidupanku. Aku hanya mampu menjadi buruh. Yah.. nasib hidupku tak berbeda jauh dengan orang tuaku. Bahkan lebih mengenaskan nasibku dibandingkan dengan mereka.

Dua tahun aku mengadu nasib di Jakarta, namun tak juga mampu merubah keadaan. Jangankan keadaan, bahkan satu tingkatan pun tidak ada yang berubah. Aku mimpi ingin kuliah, mungkin dengan pendidikan yang lebih tinggi, aku bisa merubah nasibku. Namun, mimpi kuliahku harus aku kubur dalam-dalam, karena orang tuaku tak mungkin mampu membayar biaya kuliah yang mahalnya selangit.

Aku ingin kuliah. Aku ingin merubah masa depan. Tahun dua ribu tiga belas, aku putuskan untuk berangkat menjadi Tenaga Kerja Indonesia ke Luar Negeri. Mengikuti jejak ibuku, yang sebenarnya sangat terpaksa. Tidak ada pilihan. Jika saya mau mengubah masa depanku, mau gak mau, aku harus ke Luar Negeri. Sekontrak dua kontrak, aku sudah bisa menabung untuk kuliahku, harapanku.

Banyak negara pilihan penempatan, mulai dari Malaysia, Singapura, Taiwan, Arab Saudi, Hong Kong dan lainnya. Dan aku memilih Hong Kong, untuk memulai perubahan itu. Kata orang yang pernah kesana, Hong Kong terkenal aman untuk buruh migran. Kata orang yang memberangkatkan aku, sebut saja calo, Hong Kong negara hukum, bisa mendapat hak libur, dan banyak teman berkumpul ketika hari minggu. Iming-iming gaji besar tentu, tidak ketinggalan dalam promosinya itu.

Mimpi-mimpi sukses itu tinggalah sebatas impian. Iming-iming perlindungan dan gaji besar, yang diberikan oleh calo yang memberangkatkan aku, sama sekali tidak aku dapatkan. Yang ada hanya menjadi mimpi buruk, yang menghantui setiap siang dan malamku. Selama delapan bulan, aku dianiaya oleh majikanku. Delapan bulan aku seperti hidup dalam neraka. Pukulan demi pukulan aku terima bertubi-tubi, bahkan hampir setiap hari. Bekerja dua puluh jam lebih, tanpa jeda. Tanpa makanan dari sang pemberi kerja. Hingga akhirnya, aku dipulangkan dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Wajahku hancur dan sekujur tubuhku penuh luka. Tahun dua ribu empat belas, aku dipulangkan hanya dengan uang seratus ribu rupiah. Dengan enam lapis pakaian dibalutkan ditubuh mungilku. Mungkin untuk menutupi badanku yang kurus karena tidak pernah diberi makan oleh sang majikan. Dua puluh delapan kilo gram berat badan aku saat itu. Tinggal kulit dan tulang yang tersisa, dagingnya hilang tak tersisa.

Kasusku menjadi viral, saat Riyanti, buruh migran Hong Kong menemukanku di Bandara Internasional Hong Kong. Dia yang kemudian membawaku pulang ke Indonesia. Dia mengupload foto lukaku pada sosial media. Lima ribu orang lebih, turun ke jalan, memenuhi jalanan kota Hong Kong. Mereka adalah buruh migran dan para pejuang keadilan yang simpati dengan nasib yang aku alami. Semangat mereka melenyapkan rasa takutku dan membangkitkan semangatku untuk menuntut keadilan. Dan tidak disangka, ada lima orang yang telah mengaku dianiaya oleh majikanku. Sungguh perjuangan yang luar biasa, aku bersama korban yang lain, berhasil memenjarakan majikan jahat itu. Tentu tidak lepas dari dukungan orang-orang yang sangat luar biasa pula.

Kasusku menjadi trending topik di Hong Kong, bahkan menggemparkan seluruh dunia. Media Internasional datang untuk mencari kebenaran. Dan telah memberitakan kebenaran itu. Namaku termasuk dalam daftar yang dirilis oleh majalah Times New York. Erwiana Sulistyaningsih menjadi “The 100 Most Influential People,” versi majalah Times 2014. Aku masuk dalam nominasi, menjadi salah satu dari seratus orang berpengaruh di dunia, tahun 2014. Mereka bilang, itu keberanianku bangkit untuk menuntut keadilan, serta menyuarakan nasib buruh migran yang lain. Aku sangat berterimakasih akan penghargaan itu, karena suara buruh yang sangat rendah ini dihargai. Namun, lebih dari itu, aku memiliki harapan. Agar kasusku menjadi yang terakhir. Agar tidak ada lagi yang mengalami nasib seperti yang aku alami. Agar suara buruh migran terus didengar, meski kami harus berteriak dari balik pintu rumah majikan.

Tahun dua ribu delapan belas, empat tahun sudah masa pahitku itu berlalu. Kupikir kasusku yang terakhir. Namun ternyata tidak. Rentetan kasus yang dihadapi buruh migran tak kunjung selesai. Mulai dari di tipu agen dan calo, dipalsukan dokumennya, diperdagangkan, terjebak dalam jeratan hutang, overcharging, di PHK sepihak, tidak diberi makan, tidak digaji, tidak diberi libur, jam kerja panjang, dipekerjakan secara ilegal, dianiaya, diperkosa, bahkan sampai harus terperangkap pada kejahatan narkotika, yang menyebabkan buruh migran terjebak dalam hukuman mati.

Kemarahanku meluap kembali saat aku mendengar berita, Adelina Sau, perempuan asal Nusa Tenggara Timur, usia dua puluh satu tahun, meninggal di Malaysia, dianiaya majikan, selama satu bulan dipaksa tidur bersama anjing peliharaan majikan. Aku marah dan geram. Mengapa masih terus terjadi? Mengapa tidak pernah berhenti?

Erwiana dan Adelina. Sama-sama berakhiran dengan suku kata, “na.” Mungkin hanya kebetulan, namun tak perlu dipikirkan, toh hanyalah sebuah nama. Kata sang pujangga dari Inggris, William Shakespeare, “What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet.” (Apalah arti sebuah nama? Andai kata kamu memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau wangi). Yah begitulah kira-kira. Erwiana dan Adelina, berakhiran sama, bernasib sama, namun cerita kami berakhir berbeda. Erwiana masih bisa terus bersuara, sedangkan Adelina harus mati sia-sia karena disiksa.

Kami berasal dari negara yang sama, Indonesia. Hanya saja dari pulau yang berbeda. Aku dari Jawa Timur, sedangkan Adelina dari Nusa Tenggara Timur, lebih timur dari pulauku. Mungkin kami bisa dikatakan satu, satu nasib dan satu tujuan. Sama-sama bernasib menjadi orang miskin. Sama-sama ingin menggapai masa depan. Masa depan yang lebih cerah tentunya. Tujuan kami sederhana, ingin memperbaiki kondisi ekonomi keluarga, menjadi lebih baik. Pahlawan devisa orang menyebutnya. Yah… kami sama-sama pernah menjadi buruh rumah tangga migran, mungkin hanya beda jarak teritori saja. Aku di Hong Kong dan Adelina di Malaysia.

Kami tidak menyebut diri kami pekerja, karena memang tidak pernah diakui sebagai pekerja, bahkan hingga saat ini. Kami masih diperlakukan seperti budak, diperdagangkan, dan diperlakukan tidak selayaknya manusia, disiksa dan dianiaya. Beruntungnya aku tidak mati, diberi kesempatan untuk terus bersuara. Namun, sayang Adelina tidak. Dia telah tiada. Dia kembali tanpa nyawa. Dia berpulang tinggal nama. Adelina, namamu kan terukir indah sebagai pahlawan devisa.

Perjuangan ini masih terus berlanjut. Tidak berhenti sampai disini. Bersama-sama anggota organisasi migran yang lain, aku terus belajar, bergerak, dan berjuang. Tak hanya dari Indonesia, namun juga dari berbagai negara di belahan dunia. Perjuangan yang tidak mungkin dapat dilakukan sendirian. Perjuangan yang harus dilakukan secara bersama-sama. Kalau organisasi kami bilang itu “Internasionale….” (Artinya perjuangan ini harus dilakukan secara Internasional, saling mendukung antar negara), singkatnya begitu. Arti panjangnya tak mungkin dibahas disini. Karena pasti akan menghabiskan waktu. Mungkin butuh beberapa gelas kopi, dan beberapa puntung rokok bagi laki-laki, untuk menemani diskusi.

Apa yang kami lakukan sejatinya bukan untuk kami sendiri. Kami berjuang bagi keluarga kami, anak-anak kami dan juga saudara-saudara kami. Bagi mereka yang tidak bisa bersuara, bagi mereka yang mati sia-sia, bagi mereka yang berpulang tinggal nama, seperti halnya Adelina.


📝 Komentar juri|Ratu Selvi Agnesia

Erwiana menuliskan kisahnya dengan kritis. Tulisanya tidak hanya sekedar berbagi namun mengajak pembaca berdialog bersamanya untuk sama-sama merenungi nasih BMI. Ditulis dengan alur yang ulang alik. Penderitaan dalam naskah ini tidak sekedar menjadi subjek dirinya tapi sebagai penulis, dengan cara kritis, ia membandingkan penderitaan yang ia alami selama 8 bulan penyiksaan di Hongkong dengan keberpihakannya pada Adelina dan pekerja migran yang lain. Erwiana yang penuh keberanian, harapan dan kritis dalam mengolah rasa nyerinya menjadi kekuatan. Dalam tulisan ini ia juga menuliskan secara detail dari soal domestik/ keluarga hingga persoalan bangsa. Tata bahasa dalam tulisan ini juga baik. Teruslah hidup. Menyuarakan dirimu. Menyuarakan Adelina dan korban lainnya. Kisah ini mengagumkan.

 

📝 Komentar juri|Heru Joni Putra

Membawa pengalaman pribadi menjadi pengalaman bersama. Masalah yang dialami tak hanya menjadi cerita kesedihan belaja, tetapi telah muncul usaha untuk membuat solidaritas sesama buruh. Sayangnya, bagaimana solidaritas itu diciptakan tidak digarap lebih dalam.

發表迴響

你的電子郵件位址並不會被公開。 必要欄位標記為 *