那個傷口依然在我體內 Luka Itu Masih Ada di Tubuhku

優選 Choice Award

📜 那個傷口依然在我體內 Luka Itu Masih Ada di Tubuhku

👤 Yuli Riswati

 

Sampai hari ini tak ada seorang pun yang tahu kalau diam-diam aku menyimpan bola-bola ingatan di dalam kepalaku. Bentuknya seperti bola salju. Sewaktu-waktu bila ia menggulung, akan membesar, seperti sosok Krisna sedang tiwikrama. Bagaimanapun kerasnya usahaku untuk menghancurkannya, bola-bola itu justru semakin kuat dan semakin mencuat ke permukaan. Reaksinya menyebabkan kepalaku pusing, ulu hatiku terasa nyeri dan tubuhku lemas tak bertenaga. Seolah tenggelam, tergulung badai kesedihan, dada dan napasku terasa sesak tiada terkira. Kalau sudah begitu,aku tidak bisa bicara apa-apa dan tidak ingin bicara dengan siapa-siapa. Aku hanya bisa menangis, nelangsa.

Aku bangkit dari sudut kamar mandi ketika kudengar suara bel pintu berbunyi berkali-kali. Buru-buru kucuci muka dan mengelapnya dengan handuk kecil berwarna ungu. Sambil mengikat rambut dan merapikannya, aku berseru.

“Tunggu sebentar, Nyonya! Aku sedang di kamar mandi.”

Beberapa saat kemudian, ketika kubuka pintu, nyonyaku yang baru kembali dari bermain mahjong di rumah temannya langsung menghujaniku dengan pertanyaan bernada khawatir.

“Kamu kenapa, Rubi? Sakit? Wajahmu pucat. Matamu merah. Kamu habis menangis? Apa kamu sudah makan malam? Jangan kerjakan apapun lagi, istirahatlah di kamarmu!”

Perempuan paruh baya itu seperti seorang ibu, dengan lembut membimbingku masuk ke kamar tidur. Menyuruhku berbaring di ranjang kemudian menyelimutiku. Ia menutup jendela kamar dan menguncinya. Menyalakan mesin penghangat, mematikan lampu, dan sebelum menutup pintu kamarku ia masih sempat menasehatiku.

“Tidurlah segera Rubi, jangan pikirkan apapun. Besok pagi kamu akan bangun dalam keadaan lebih baik dari malam ini.”

Sebagai seorang pembantu yang sudah bekerja selama hampir 6 tahun di rumah ini, aku merasa beruntung dan bersyukur. Majikanku selalu berlaku baik padaku. Aku sudah dianggap seperti bagian keluarga mereka, langsung ditegur dan dinasehati jika melakukan kesalahan, dipuji jika hasil kerjaku memuaskan. Dan ketika aku sedang dalam keadaan sakit seperti ini, selain mendapatkan perhatian, aku juga mendapatkan kebebasan untuk beristirahat lebih cepat.

Perempuan kurus berwajah pucat yang menderita memar di kepala dan wajahnya itu, sekujur tubuhnya dipenuhi nanah bekas luka bakar. Ia nampak ketakutan, hanya melirik dan menggelengkan kepala untuk merespon kehadiran tim penyelamat yang berupaya mengevakuasinya. Sementara itu anjing Rottweiler berwarna hitam yang terikat tali dan berada di sampingnya terus menyalak keras-keras kepada petugas. Seakan sedang marah dan menyesalkan keterlambatan kedatangan mereka atas nama kemanusiaan.

Aku terbangun dari mimpiku karena suara itu. Suara seseorang memutar pegangan pintu. Aku memasang telinga baik-baik. Ada suara langkah kaki yang berat. Layaknya langkah kaki pencuri yang sedang mengendap-endap. Langkah sepasang kaki besar, yang menapak kasar di lantai keramik. Rasa nyeri tiba-tiba menusuk ulu hati diikuti rasa mual yang tak tertahankan lagi. Aku bangkit dari ranjang, dan berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perut di lubang toilet.

Suara-suara itu sirna. Tidak ada siap-siapa. Seperti biasa, suara-suara itu hanya halusinasiku saja. Refleksi dari rasa ketakutan di alam bawah sadarku. Majikanku masih tidur nyenyak di kamarnya. Entah kenapa menurutku musim dingin membuat malam terasa lebih sunyi, gelap dan panjang, jika dibandingkan malam-malam di musim panas. Aku berdiri di depan jendela kamar, menyandarkan dahi pada kaca yang memantulkan bayanganku samar-samar. Dingin. Aku menunduk, memandangi jalanan di bawah apartemen, masih lengang, belum menampakkan tanda-tanda kehidupan. Kutengok jam di dinding kamarku, jarum pendeknya menunjuk tepat di angka 4.

Kejadian yang kualami itu sebenarnya telah lama berlalu, sudah menjadi bagian masa lalu. Hitungannya bukan hanya setahun atau lima tahun, sudah dua puluh tahun! Namun hanya karena membaca berita kronologi penganiayaan dan meninggalnya Adelina, seorang pekerja migran perempuan Indonesia di Malaysia, aku seperti sedang melemparkan bola besi, menghantam dinding ingatanku sendiri, berkali-kali. Membuat dinding itu roboh dan luka-luka yang sengaja kututupi, kembali terbuka,menganga. Basah dan berdarah.

“Lepaskan aku, Tuan! Lepaskan! Atau bunuh saja aku!”

“Teriaklah sesukamu, memang siapa yang akan datang menolongmu? Kamu itu budakku!”

Tiga lelaki berbadan besar, pemilik rumah batu yang dikelilingi pagar tinggi itu seperti sekumpulan singa buas yang sedang kelaparan. Hampir setiap malam, bapak dan dua anaknya mengoyakku bergiliran. Mereka tidak akan berhenti sampai aku kehilangan kesadaran akibat merasakan kesakitan yang teramat sangat. Sedangkan para perempuan, istri dan anak gadis mereka, berlagak buta dan tuli atas apa yang terjadi. Seolah tak pernah ada apa-apa, tak pernah terjadi apa-apa di rumah mereka. Semua baik-baik saja.

Suatu hari, tubuhku pernah diikat dan dicambuk berkali-kali. Sebelum kemudian aku disekap di gudang gelap tanpa makanan dan minuman berhari-hari. Gara-gara aku tertangkap basah saat mencoba melarikan diri. Mereka menendangku, menghujaniku dengan makian, menyiramku dengan air bekas cucian, kemudian menyeretku tanpa belas kasihan. Teriakan-teriakan keras mereka menegaskan bahwa sebagai budak, aku tidak boleh pergi kemana-mana, tugasku adalah bekerja mengurus rumah beserta isinya sekaligus mematuhi apapun perintah mereka, selamanya! Aku sudah tidak memiliki hak dan kuasa lagi atas tubuh juga hidupku sendiri.

Adalah keajaiban, ketika pada akhirnya aku bisa melarikan diri. Dini hari itu, aku berhasil membebaskan diriku setelah sebelumnya tidak sengaja menemukan kunci pintu rumah dan gerbang besi, di saku lelaki tua yang sedang tertidur mendengkur di ranjangku setelah puas dan kelelahan menggagahiku. Aku tidak sempat berkemas atau mengganti baju. Setelah berhasil membuka gerbang, aku menerjang, berlari tunggang langgang, tanpa alas kaki, tanpa arah tujuan pasti. Harapanku hanya satu, bisa secepatnya meninggalkan rumah yang seperti neraka itu sejauh-jauhnya, tanpa niat menoleh pun kembali lagi.

Di pagi yang dingin kala itu, aku terus berlari dan berlari sampai akhirnya nafasku tersengal-sengal, ingatanku terputus-putus, hingga akhirnya dunia di sekitarku menjadi gelap dan ingatanku terputus total. Aku tidak ingat bagaimana aku bisa sampai ke kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia di Riyadh. Aku hanya samar-samar mendengar bunyi sirine, dengung suara-suara yang mengelilingiku, bertanya, berseru, mengguncang tubuhku. Separuh kesadaranku baru bisa kudapatkan kembali setelah selama berminggu-minggu aku menjalani perawatan di Rumah Sakit dan rumah penampungan milik pemerintah. Majikanku berhasil ditangkap, diadili,didenda dan dijatuhi hukuman penjara. Hakim di pengadilan memenangkan gugatan atas namaku karena ada bukti kejahatan yang masih tertinggal di wajah dan sekujur tubuhku yang kurus mengenaskan.

Tapi apa arti kemenangan itu bagiku? Apa artinya ganti rugi berupa materi? Jika keinginanku satu-satunya adalah melupakan segalanya! Melupakan apapun yang sudah terjadi. Banyak orang mengira ketika korban penyiksaan dan pemerkosaan sudah memenangkan tuntutan di pengadilan berarti masalahnya sudah selesai. Sudah mendapatkan keadilan dan tidak ada hal-hal lain yang perlu dibahas dan dikhawatirkan lagi. Padahal tidak begitu kenyataannya, para korban masih dan akan selalu dibayangi rasa ketakutan, mimpi-mimpi buruk, halusinasi dan segenap siksa akibat trauma. Seperti diriku misalnya, sampai hari ini aku terpaksa mengkonsumsi obat tidur dan obat pereda nyeri akibat sakit kepala yang tidak jelas penyebabnya. Dan seperti bocah kecil, emosiku sering tidak stabil. Aku jadi sukar percaya pada apapun dan siapapun. Tanpa sadar aku telah mengisolasi diri dan berusaha menjauhi semua orang.

Bahkan aku juga menjauh dari orang yang mencintaiku dan hanya memiliki kemungkinan satu dari seribu untuk menyakitiku! Aku masih ingat suara lembut lelaki yang pernah menjadi suamiku selama sepuluh bulan. Lelaki sederhana yang memiliki tatapan mata sebening kaca. Aku ingat bagaimana ia sering menatapku lekat-lekat kemudian memeluk erat tubuhku yang gemetar ketakutan, berusaha menenangkan dan membujukku.

“Aku mencintaimu Ru. Aku menerima apapun adanya dirimu. Tolong beri aku kesempatan untuk membahagiakanmu, Sayangku.”

Bagaimana mungkin kebahagiaan itu akan ada, jika kenyataannya hubungan seks menjadi sesuatu yang sangat menyakitiku. Dokter yang memeriksaku mengatakan, kemungkinannya seperti korban pemerkosaan lainnya, kalau bukan dyspareunia, aku mengidap vaginismus. Aku tidak peduli mana di antara dua nama aneh itu yang benar menjadi nama penyakitku, yang aku tahu sakit yang kurasakan ketika berhubungan badan, serupa sakit karena robekan kulit yang disayat berulang-ulang. Pedih tak terperikan. Hingga pada puncaknya, aku menggugat cerai suamiku. Gugatan itu bukan sekadar untuk membebaskan diriku dari perasaan tersiksa, tapi juga agar lelaki baik hati itu bisa merdeka untuk menikmati kebahagiaannya bersama perempuan lain yang masih mempunyai kesempatan untuk berbahagia.

Setelah perceraian, kehidupanku malah semakin runyam. Aku tersiksa oleh omongan orang-orang di lingkungan tempat tinggalku. Status janda bukan hanya membuatku dipandang sebelah mata tapi juga dianggap ancaman bagi sebagian perempuan yang sudah berumahtangga. Karena itu aku terpaksa pergi dari kampungku, agar bisa memulai hidup baru di tempat baru. Aku memilih Hong Kong sebagai negara tujuanku bekerja. Negara yang kudengar terkenal cukup baik dan adil hukum perlindungannya terhadap para pekerja migran.

Namun jauh panggang dari api, bekerja di negeri bagian China ini pun ternyata tidak semudah dan seindah apa yang diceritakan dari bibir ke bibir. Undang-undang dan peraturan publik Hong Kong memang sudah baik tapi tidak lantas semua warganya mau mematuhi peraturan yang berlaku. Tidak semua majikan memiliki rasa kemanusiaan dan sudi memperlakukan pembantunya secara manusiawi. Seperti halnya sebagian pekerja migran lainnya, aku sempat mengalami masalah overcharging, tidak mendapatkan hak libur, tidur di lantai dapur beralas plastik, kurang jatah makanan sehari-hari dan mengalami putus kontrak berkali-kali, sebelum pada akhirnya nasib baik mempertemukanku dengan majikanku saat ini.

Di hari libur mingguan, aku bergabung dengan teman-teman sesama pekerja migran untuk berorganisasi, saling bantu dan saling berbagi informasi. Kami bersama, berbagi tenaga dan pikiran agar bisa saling menguatkan di negeri orang. Kegiatan ini kurasa penting karena sampai hari ini, setelah puluhan tahun tragedi yang kualami, masih ada saja berita tentang penyiksaan dan tindakan kekerasan yang dialami para pekerja migran Indonesia di mana-mana. Ratusan pekerja migran disekap dan disiksa di Riyadh, Erwiana disiksa di Hong Kong, Kastem dianiaya di Abudhabi, Sihatul dipukuli di Taiwan, Meriance dan Suyanti mengalami cacat permanen di Malaysia, Kokom dijadikan bulan-bulanan di Arab Saudi, Yoyoh disiksa di Brunei, Nuraini disekap di Kuwait, Fadila dianiaya di Singapura, dan entah siapa lagi nama-nama korban yang sekarang sedang menderita dan disiksa di mana.

Sejak puluhan tahun lalu, bersama luka-luka yang tak kunjung memudar seiring berjalannya waktu, aku juga menyimpan pertanyaan-pertanyaan yang tidak tahu harus kuajukan kepada siapa. Apakah manusia itu sebenarnya memang diciptakan sebagai separuh binatang? Apakah manusia sesungguhnya dilahirkan untuk bertarung menahlukkan binatang-binatang yang berada di dalam dirinya sendiri? Hingga sebagian manusia yang memenangkan pertarungan dengan binatang di dalam dirinya, tumbuh menjadi orang baik, sementara yang kalah bertarung malah berkembang menjadi orang yang kejam. Orang-orang kejam yang sanggup menyiksa sesama manusia lainnya tanpa peduli akibat yang mesti ditanggung korbannya. Korban yang seperti diriku misalnya, yang tidak pernah lagi menemukan rasa aman karena harus menanggung luka-luka ingatan. Luka ingatan yang seakan menjadi kutukan, selamanya.

“Cousan, Rubi! Lei yika tima? Houfaan meia?” *1

“Cousan, Dhai-dhai. Ngo yika houfaan tik.” *2

Penampilan Nyonyaku sudah rapi, sepertinya sudah bersiap untuk berpergian. Meski sudah tidak aktif bekerja di kantor, Nyonya Kwok selalu punya banyak acara bersama komunitasnya di luar sana. Aku bergegas bangkit dari ranjang, ingin pergi ke dapur, menyiapkan sarapan.

“Wajahmu masih pucat, Rubi. Kamu tidak perlu bekerja hari ini. Istirahatlah. Ingat! Jika setelah sarapan dan minum obat keadaanmu masih belum membaik juga, siang nanti kamu harus pergi ke Dokter!”

“Terima kasih. Siap, Nyonya!”

Beberapa menit kemudian terdengar suara pintu ditutup dan dikunci dari luar. Aku memejamkan mata. Rumah kecil ini kembali sunyi. Cahaya matahari musim dingin yang menerobos kaca jendela kamar, menyapaku tanpa kehangatan. Aku menarik selimut untuk menyembunyikan badanku yang menggigil kedinginan. Aku demam. Semoga obat pereda sakit dan penurun panas yang telah kuminum bisa bekerja dengan baik di dalam tubuhku.

***

“Teman-teman penasaran dan iri padamu, Rub. Kamu itu keren, berprestasi. Sering menang lomba menulis dan lomba foto.”

Micka berbicara dengan nada riang, menggodaku.

“Mereka mengaku tidak pernah punya kesempatan untuk berbicara dan tahu lebih banyak tentang cerita pribadimu. Kamu pendiam dan penyendiri. Ketika mereka bertanya soal dirimu padaku, aku bilang kamu pun tidak pernah bercerita apa-apa kepadaku.”

Aku hanya tertawa menanggapi obrolan Micka, mataku mengawasi sekelilingku sambil bersiap mengarahkan lensa kamera Canon 600D ke arah sekumpulan teman-teman pekerja migran yang sedang berada di sudut lapangan rumput Victoria Park. Mereka berpakaian hitam-hitam dengan ikat pinggang ada yang berwarna merah, putih dan kuning. Sekumpulan perempuan yang sehari-hari berprofesi sama sepertiku itu sedang berlatih bela diri, berusaha keras menyempurnakan gerakan yang sedang dipelajarinya. Mereka terlihat kompak mengikuti aba-aba pelatihnya, serentak melangkah ke depan dengan tungkai kiri, kaki kanannya berputar secara alami mengarah ke samping. Kedua tangan mereka mengepal, kedua lengan tertekuk pada siku dengan bagian depan lengan sedikit terangkat. Kepalan tangan kiri berada diposisi lebih tinggi, mengarah ke depan, sementara tangan kanan mereka siaga, berada di dekat pinggang. Aku mengenali gerakan seperti itu sebagai jurus untuk mempertahankan diri dari serangan lawan seperti yang biasa dilakukan oleh Bruce Lee dalam adegan perkelahian di film-film kungfu yang dibintanginya.

Aku tiba-tiba berpikir, andai saja semua perempuan menguasai ilmu bela diri, apakah kami akan bisa melindungi diri dari semua bentuk tindak kejahatan? Apakah peristiwa mengerikan seperti yang kualami tidak akan pernah terjadi? Sampai hari ini aku masih terus berusaha untuk memahami dan menerima dengan lapang dada hal-hal yang pernah terjadi, tapi kenyataannya tidak mudah. Batinku sering berontak, mengapa semua itu mesti terjadi padaku? Mengapa masa lalu yang buruk bisa merampas masa depanku? Hingga aku yang sekarang dan aku di masa depan hanya seperti sisa-sisa kehidupan yang usang. Ah, bagaimana aku akan bisa bercerita kepada teman-temanku tentang pengalaman pribadiku, jika dengan mengingatnya saja sudah membuatku tersiksa?

Beberapa kali aku mendapatkan kesempatan menjadi pembicara di acara yang diselenggarakan oleh berbagai organisasi dan komunitas. Aku berbicara sebagai sosok inspiratif yang memberikan wejangan dan motivasi. Aku menceritakan secuil pengalamanku saat melewati masa-masa sulit pada awal bekerja di Hong Kong, berbagi tips bagaimana agar teman-teman yang lain bisa bangkit dan mulai memberdayakan diri demi terwujudnya apa yang dicita-citakan. Semua yang mendengarkan pidatoku merasa terpesona, terinspirasi, bertepuk tangan, kagum dan bangga. Tapi tidak satu pun di antara mereka yang tahu bahwa ada rahasia yang kusimpan rapat-rapat di dada. Dan semua yang kukatakan di podium itu sebenarnya lebih tepat untuk kusampaikan kepada seseorang yang berada di dalam diriku; aku dalam versi tidak berdaya karena depresi dan trauma.

Hari demi hari, selain upaya mendekatkan diri pada Tuhan melalui ibadah dan doa-doa, aku terus menggali dan mengasah kemampuanku. Semua kulakukan bukan sekadar demi unjuk diri. Sesungguhnya aku sedang berusaha membangun dan menguatkan mentalku sendiri. Sebagai orang yang harga dirinya pernah hancur dicabik-cabik, persediaan rasa percaya diriku nyaris habis tak bersisa. Apa yang selama ini dinilai orang lain sebagai prestasi, bagiku hanya bonus tambahan, sebab tujuan utamaku yang sebenarnya adalah menghilangkan rasa minder dan rendah diri.

“Rub! Sudah jam dua loh! Katanya, kamu ada janji wawancara dengan reporter?”

Micka berteriak dari kejauhan, mengingatkanku. Aku memang sudah mengatakan padanya kalau hari ini aku ada janji dengan seseorang di sekitar area Causeway Bay, makanya aku menolak ajakan untuk menemaninya jalan-jalan ke Mong Kok.

Seorang repoter dari media lokal berbahasa Inggris sebelumnya sudah menghubungiku melalui surat elektronik. Ia ingin menulis tentang pengalamanku sebagai seorang pekerja migran yang bekerja di sektor domestik tapi memiliki aktivitas dan prestasi di dunia literasi. Menurut mereka hal tersebut sangat unik dan menarik. Secara sudah bukan rahasia lagi kalau kami, para perempuan yang berprofesi sebagai pembantu rumah tangga dikenal berpendidikan rendah serta memiliki keterbatasan waktu dan ruang untuk aktivitas pribadi.

Di dalam draft pertanyaan yang dilampirkannya, reporter itu mengaku penasaran. Mengapa tulisanku lebih banyak menceritakan tentang sisi gelap dan sisi sedih menjadi seorang perempuan migran? Apakah aku selalu memandang dan menilai buruk tentang Hong Kong dan orang-orangnya? Apakah semua tulisanku itu adalah curahan cerita pribadiku? Tanpa perlu berpikir lama, tentu saja aku sudah bisa memberikan jawabannya.

Aku menulis selain untuk membantu menerapi emosi diri sendiri, juga untuk menuturkan kisah di sekitarku yang sampai saat ini belum banyak diungkap. Melalui tulisanku, aku ingin menunjukkan kepada semua pembaca, bahwa sebenarnya ada cerita yang seperti ini, yang benar-benar terjadi tapi tidak diketahui dan belum menjadi perhatian orang banyak. Aku ingin mewakili suara-suara perempuan yang disekap di ruang gelap, yang tidak banyak dipublikasikan oleh media.

Soal orang baik dan orang jahat, di belahan dunia sebelah manapun selalu ada, bahkan di negeriku sendiri. Maka tentu saja aku tak akan berani menghakimi dan memandang buruk semua orang di Negeri Bauhinia ini. Apalagi saat ini aku mempunyai majikan dan mengenal teman-teman yang orang lokal yang kesemuanya baik serta ramah kepadaku. Namun, semua kebaikan yang kudapatkan justru kuanggap sebagai kesempatan bagus agar aku bisa melakukan kebaikan untuk teman-temanku, sesama perempuan migran yang belum beruntung, yang teraniaya, terdiskriminasi dan terpinggirkan. Jika kemudian ada pembaca yang mengira apa yang kutulis adalah kisah pribadiku, hal itu mungkin disebabkan karena aku menuliskannya dengan rasa sepenuh hati.

“Hi, Rubi! Nice to see you! Introduce this Rob, the cameraman who will record our interview session today. ” *3

“Hi, I’m glad to meet both of you!” *4 Aku tersenyum hangat, menyambut jabat tangan yang diulurkan Anusha dan Robert.

Aku tahu, luka itu masih ada di tubuhku. Sewaktu-waktu, bila ada sesuatu yang menyentuhnya, atau ketika bola-bola ingatanku sedang membesar, aku akan merasa sangat tersiksa. Tapi selama aku masih hidup, aku akan terus berjuang. Berjuang untuk mengatasi trauma. Berjuang untuk melawan luka-luka ingatan yang melemahkanku. Dan yang lebih penting lagi, aku harus terus berjuang untuk menyuarakan dan mewakili suara hati kaumku; para perempuan migran yang termarginalkan.

Hong Kong, Maret 2018

 

Catatan:

*1 “Selamat pagi, Rubi! Bagaimana keadaanmu pagi ini?”
*2 “Selamat pagi, Nyonya. Sekarang keadaanku sudah lebih baik.”
*3 “Hai, Rubi! Senang berjumpa denganmu! Perkenalkan ini Rob, kameramen yang akan merekam sesi wawancara kita hari ini.”
*4 “Hai, saya senang berjumpa kalian berdua!”


📝 Komentar juri|Anwar Sastro Maruf

Tulisan ini menyampaikan bagaimana pengembaraan panjang sebagai BMI diberbagai negara, menyajikan kisah duka lara yang mendalam. Perkosaan dan kekerasan seksual dialami oleh Rubi, kemenangan kasusnya di pengadilan dengan pemenjaraan sang majikan seperti tak berarti apa-apa. Sepertinya Rubi hanya ingin peristiwa bengis tersebut tidak terjadi pada siapapun. Kini Rubi masih menderita trauma meskipun mencoba untuk melupakannya. Hebatnya Rubi tidak menyerah, masih saja menjadi BMI di negeri yang lain. Disana dia menemukan majikan yang berbeda yang jauh lebih baik dan perhatian. Ditambah dengan kebebasan untuk bersosialita dan berorganisasi.

 

📝 Komentar juri|Ratu Selvi Agnesia

Rubi mengisahkan refleksi hidupnya dengan karakter tulisan yang kuat sekuat kepribadiannya. Naskah ini memiliki kekuatan bahasa sastra yang sangat baik. Ia ahli meramu metafora dengan ukuran yang pas untuk mengisahkan kembali luka ingatan kekejaman dan pemerkosaan di masa lalunya. Luka di tubuhnya telah sembuh namun memori-memori itu masih tersimpan rapi sebagai luka ingatan yang tak kunjung sembuh. Kekuatan yang lain pada naskah ini juga terlihat pada pada empati si tokoh/ penulis pada perempuan-perempuan pekerja migran yang mengalami pengalaman serupa dengannya. Masa lalunya ia refleksikan dengan menulis sebagai terapi dan menjadi aktivis pada pekerja migran yang juga mengalami kekejaman. Kisah yang luar biasa Rubi. Terus berjuang.

 

📝 Komentar juri|Olin Monteiro

Sangat menarik pembukaannya dan rapih menceritakan kisahnya, semoga bisa terus menulis ya


優選 Choice Award

📜 那個傷口依然在我體內 Luka Itu Masih Ada di Tubuhku

👤 Yuli Riswati

 

直到今天,沒人知道,我偷偷地把記憶球放在腦海裡。它的形狀很像雪球,有時滾起來,它會變大,宛如克里希那(Krisna)變成巨人Tiwikrama的模式。無論我多麼努力地摧毀它,那些球反而變得更堅固,更用力的浮出表面。它的反應讓我頭暈,胸口刺痛,全身無力。好像快被悲傷風爆給淹沒,我的胸口和呼吸感到窒息到無法忍受。這時候,我不會說話,也不會跟任何人交談,我只能悲痛的哭泣。

當我聽到門鈴重複的響起時,我趕緊從浴室角落起身,快速洗臉,然後用紫色毛巾擦拭。一邊整理一邊繫好頭髮後,我喊道。

「太太,等一下,我在洗手間。」

過沒多久,當我開門的時候,剛從朋友家打麻將回來的太太,立即擔憂如下雨般問我一堆問題。

「Rubi,妳怎麼了?生病了嗎?妳臉色好蒼白,眼睛還發紅,妳剛哭了嗎?吃晚餐了沒?別再做其他事了,回房休息吧!」

這位中年婦女就像一位母親,輕輕的牽我走進臥室,讓我躺在床上後幫我蓋棉被。她關上臥室的窗戶並將它鎖上,打開暖氣,然後關燈。在關門之前還不忘叮嚀我「Rubi快點睡吧,不要再想任何事了。明天早上醒來,妳會比今晚更好。」

作為一名在這屋子裡工作近6年的家庭看護,我感到很幸運和感激。我的雇主一直待我很好,我已經被當成他們家庭的一份子。如果犯了錯誤,會直接受到指責和勸告,如果做的好也會被讚賞。而當我處於像現在這樣痛苦狀態時,除了得到關懷,我還能獲得提早休息的自由。

一名瘦弱臉色蒼白的女人,頭部和臉上都有瘀傷,全身布滿灼傷後的膿包。她看起來很害怕,她眼睛瞄一下,然後搖搖頭來回應前來救援的搜索隊。一旁被繩子綁住的一條黑色羅威納犬不停地向警察大聲咆哮,彷彿在生氣並譴責以人道名義前來的救援實在太慢了。

那些聲音使我從睡夢中醒來,有一個轉動門把的聲音。我豎起耳朵仔細聽,有一個沉重的腳步聲,很像盜賊一樣偷偷摸摸的步調。一雙很大的腳,重重的踩在瓷磚地板上。一陣刺痛感突然刺進胸口,無法忍受的噁心也隨之而來。我下了床,跑到浴室將胃裡的東西全吐進馬桶裡。

那些聲音消失了,沒有任何人。跟平時一樣,那些聲音只是我的幻覺,潛意識的恐懼所反射出來的。我的雇主仍然在他的臥室內睡得很香。我不知道為什麼冬天的夜晚跟夏天比起來,冬天會讓夜晚變得更安靜、更黑暗、更漫長。我站在臥室的窗前,將額頭靠在有我模糊倒影的玻璃上。寒冷。我低頭看著公寓下的街道,街道仍然是空的,還沒有顯示出活力的跡象。我看著掛在牆壁上的時鐘,短針指向4號。

發生在我的身上的那件事其實早已過去,已經成為過去的一部分了。不只是一年或五年的時間,而是已經過去二十年了!但是只因為讀到一位在馬來西亞工作的印尼移工Adelina的受虐致死案,我好像扔著一顆鐵球,一次又一次的敲碎我的記憶牆壁。使牆壁整個坍塌,而被我刻意掩蓋的傷口再次被掀開,掀開的傷口還濕潤的流著血。

「先生,請放開我!放手啊!或者把我給殺了吧!」

「盡量叫吧,看還有誰能來救妳?妳是我的奴隸!」

三個龐大的身軀,那棟高聳石頭圍牆的屋主像一群飢餓的獅子。幾乎每天晚上,那個男人和他的兩名兒子輪流撕裂我。直到我因為極度痛苦而失去意識前,他們是不會停止的。而那些女人,他的妻子和女兒卻聾作啞、視而不見。若無其事,好像他們家裡什麼事情也沒有發生過,一切安好。

有一天,我被捆綁起來,一次又一次的被鞭打。在那之前我被關在一個沒有食物、沒水,暗無天日的穀倉裡好幾天。原因是因為我試圖逃跑時被抓住了。他們踢我、咒罵我、用洗衣水潑我,然後無情的把我拖著走。他們大聲的喝斥說我是奴隸,說我不能去任何地方,我的工作是照顧家裡的一切,必須一輩子遵守他們所有的命令!我已經沒有自己身體和生命的任何權力了。

這是一個奇蹟,最終我成功逃跑了。當天凌晨,我成功的解救了我自己,在那之前我無意間在老人的口袋中找到房門和鐵門的鑰匙,那個因為剛剛強暴我之後,感到滿足和疲倦地在我床上呼呼大睡的老人。我成功打開鐵門後,猛力地跑,赤著腳跑,沒有任何明確的目的地。我唯一的希望就是盡快遠離那個地獄般的房子,連頭也不想再回的跑。

在那寒冷的早晨,我一直跑一直跑,直到我的呼吸困難,片段記憶模糊,後來我周圍的世界變成黑暗,我的記憶也完全斷線了。我不記得我是如何到達利雅得(Riyadh)的印尼大使館。我只是模糊地聽到警笛聲,嗡嗡的聲音圍繞著我,問我、叫我、搖晃著我的身體。在住院數週以及政府收容所的照顧之後,我一半的意識才終於回來。我的雇主成功被逮捕審判,罰款且被判入獄。法官以我為告訴人成功贏得了訴訟,因為所有的犯罪證據都還在我的臉上和整個瘦弱的身體上。

如果我唯一的願望是忘記這一切!忘記任何發生過的事情。那這個勝利對我本身有何意義?這些物質的補償又有什麼用?很多人以為暴力和強暴受害者會隨著贏得訴訟案之後,所有的問題就結束了。已經得到正義,所以沒有任何事情需要被討論或擔憂了。事實上並非如此,很多受害者因為創傷的關係,仍然活在恐懼、夢魘、幻想和折磨當中。比如說我本身,直到今日,因為不明原因的頭痛,我必需服用安眠藥和止痛藥。我的情緒會像小朋友一樣不穩定,我變成無法相信任何人和事。不知不覺中,我把自己封鎖起來遠離他人。

我甚至遠離那些愛我的人,即便他們可能只有千分之一的機會會傷害我!我還記得那一位曾經當我十個月丈夫的溫柔聲音,一個擁有好像玻璃般眼睛的樸素男人。我記得他經常望著我,擁抱顫抖的我,努力地安撫我並勸我說:

「Rubi,我很愛妳。我接受妳的一切。親愛的,請給我一個讓妳幸福的機會。」

如果性行為對我來說是一個很痛苦的事,幸福怎麼可能存在。我的主治醫生說,可能就跟其他強暴受害者一樣,如果不是罹患性交疼痛(Dyspareunia)就是陰道痙攣(Vaginismus)。我不在乎在這兩個奇怪的名稱當中,我患的是那一種病,我只知道我在親密的時候會疼痛無比,好像不斷的用刀割有撕裂傷口的皮膚,無法以言語形容的痛。直到極端時期,我對丈夫起訴離婚。這場訴訟不僅僅是讓我擺脫折磨,也讓那位善良的男人可以自由地,跟其他還有辦法給他幸福的女人,享受幸福生活的機會。

離婚後,我的生活更糟糕。我飽受住家附近鄰居的言語折磨。寡婦身份不僅使我被看扁,而且還被已婚婦女當作是一種威脅。因此,我被迫離開我的村莊,在新的地方開始新的生活。我選擇香港作為我工作的目的地。一個在我所聽到是一個很好的,在法律上對移工保護很公平的國家。

但是事與願違,在中國地區工作並沒有像以訛傳訛所講的那麼簡單和美麗。香港的公共法律規劃是真的很好,但那不意味者全部市民會遵守這些規定。並非所有雇主都有人性,並用人性化的態度對待女傭。如同許多其他的移工,我曾經被多收費用,沒有放假的權力,在廚房地板鋪著塑膠袋睡覺,供給少量的日常飲食以及屢次合約被終止,直到最後,好運氣終於讓我跟目前的雇主相遇。

每週假期,我和其他的移工一起交流,互相幫助、分享信息。我們一起分享經歷和思維,才可以在別人國家當中互相勉勵。直到今日我覺得這項活動很重要。在我經過幾十年前不幸的事情之後,還是有聽到世界各地工作的印尼移工遭受到暴力的新聞。數百民移工在利雅得慘遭監禁和折磨,Erwiana在香港遭受酷刑,Kastem在阿布達比(Abu dhabi)被到暴力相向,Sihatul在臺灣被打,Meriance和Suyanti在馬來西亞遭受到暴力造成永久性殘疾,Kokom在沙烏地阿拉伯被虐待,Yoyoh在汶萊慘遭酷刑,Nuraini在科威特被監禁,Fadila在新加坡遭到暴力相向,還有很多不知道名字的受害者在不知道的地方遭受痛苦和遇害。

幾十年下來,隨著時間的推移,傷口並沒有消退,我還存放著很多不知道要向誰提問的問題。難道人類被創造為一半的野獸嗎?難道人類真的生下來就是為了打敗體內的野獸嗎?

直到一些人贏得與體內野獸間的搏鬥之後,才會成長為善良的人,而那些輸掉的人會變成一個殘酷的人。這些殘忍的人可以毫不考慮受害者所必須承擔的後果,而折磨他人。例如,像我這樣的受害者,因為記憶中的創傷,一輩子再也無法找到安全感,像被詛咒一樣的創傷。

「早安Rubi!妳現在怎麼樣?好一點沒?」

「早安,太太。我現在好一點了。」

太太已經打扮整潔,似乎準備好要出門。雖然她已經沒有上班工作了,但郭太太總是有很多社交活動。我趕緊起床,想去廚房準備早餐。

「Rubi,妳的臉色還是很蒼白,妳今天不必工作。記得!等等吃完早餐跟藥後,還是沒有好轉的話,中午妳必須去看醫生!」

「好的!謝謝太太。」

***

幾分鐘後,聽到門被關上,以及從外面鎖上的聲音。我閉上了眼睛,這間小屋又安靜了下來。冬天的太陽透過房間的玻璃窗戶溫暖的向我問好。我拉著棉被把發抖的身體裹起來,我發燒了。希望我吃的止痛藥和退燒藥可以在體內好好地發揮作用。

***

「朋友們都很好奇,也很嫉妒妳呢盧比。妳那麼酷,又很有成就。常常贏得寫作和攝影比賽。」Micka愉快的說,一邊逗著我。

「他們說都沒有機會跟妳說話,或是了解妳更多的故事。妳很安靜又獨來獨往。當他們問我關於妳的事,我說妳也從來不告訴我任何事情。」

我只是笑著回應Micka的閒聊,目光掃視我的周圍,準備將Canon 600D相機鏡頭指向維多利亞公園草皮上,角落一群移工朋友的聚會。他們穿著黑色服裝,腰部繫著紅色、白色和黃色的帶子。這一群跟我有同樣工作的女生正在學習防身術,她們正在努力練習所學的動作。在教練的指示下,她們的動作看起來很一致,左腿同時向前踩,右腿自然地向側面旋轉。雙手緊握,雙臂在肘部彎曲,手臂前部略微抬起。左手的拳頭位於較高位置,指向前方,而右手則處於警戒狀態,貼近腰部。我認出這個動作很像電影明星李小龍常常主演的武打電影裡面,防禦攻擊的一種招式。

我突然想到,如果所有女性都會防身術,我們是不是就能自我保護,免受各種形式的侵犯?發生在我身上的可怕事件就不會再發生?直到今天我還在努力敞開心胸,了解和接受所有發生過的事情,但事實上這並不容易。我的內心經常反抗,為什麼這一切發生在我身上?為什麼一個糟糕的過去會奪走我的未來?害得現在和未來的我,只剩一些殘餘的生命。唉,我要怎麼告訴我的朋友這些個人經歷?光想都是一種折磨了。

我有幾次機會成為各種組織和社群的講者,我以鼓舞人心的形象給予建議和鼓勵。我會講述早期在香港工作所度過的艱難時期,分享幾個如何重新站起來、努力學習達成願望的一些方式。每一位聽我演講的人都感到陶醉、仰慕,受到鼓舞並鼓掌叫好。他們當中沒有一位知道我深藏在胸膛裡的秘密。事實上我在講台上所說的一切,更像是向藏在體內的另一個我講述,一個因為抑鬱和創傷而感到無助的我。

日復一日,除了努力透過敬拜和祈禱來接近上帝之外,我不斷的挖掘和磨練自己的能力。我所做的不僅僅為了展現自己,其實我正在努力建立和鍛鍊自己的心智。作為一個自尊曾經被摧毀的人,我的信心幾乎消失了。在別人眼裡視為成就,對我來說只是一個額外的獎勵,因為我最主要的目標是擺脫自卑感。

「Rubi,已經兩點了唷!妳不是說妳跟記者有約嗎?」

Micka從遠處喊道,提醒我。我曾告訴她,今天我在銅鑼灣附近跟人有約,所以才拒絕陪她去旺角逛逛。

一位當地的英語記者之前透過電子郵件跟我聯繫,他想寫一篇關於我作為家庭移工,但仍積極參加活動,以及在文學上的成就。對他們來說這是一件特別和有趣的事情。眾所周知,我們作為女傭的女性工作者被視為受教育程度偏低,也沒什麼個人的時間與空間。

在他所附的問題訪談當中,記者承認他很好奇,為什麼我大部份的作品都是女性移工的黑暗和悲傷的一面?我是否總是用負面的眼光來看待、批評香港人或其他人嗎?我所寫的故事都是個人故事嗎?不需要用很長的時間思考,我當然可以給出答案。

寫作除了幫助自己療癒感情,也是想講述我周圍還沒有被發現的故事。透過寫作,我想告訴所有的讀者有這麼樣的一個故事,這是真的不為人所知,而且沒有受到很多人的關注。我想代表被關押在黑暗空間中的女性發聲,這些聲音很少被媒體報導出來。

關於好人和壞人,在世界各地一直都存在著,我自己國家也不例外。所以我不敢判定,也不會把這艷紫荊國家的人民都視為壞人。特別是現在我有一個很好的雇主,也認識對我友善的當地朋友。但是我反而視這一切我所得到的好處是一個讓我為那些比較不幸、受到暴力、被歧視和邊緣化的女性移工朋友們做一點事的機會。如果讀者後來以為我所寫的是我個人的故事時,那可能是因為我是發自內心所寫的因素。

「嗨Rubi,很高興見到妳。跟妳介紹這一位是攝影師Rob,他會記錄我們今天的採訪。」

「嗨,我很高興見到你們倆!」我溫暖地笑了笑,迎接Anusha和Robert所伸出的握手。

我知道,傷口依然在我體內。時不時地,只要有事情觸動它,或者當我的記憶球變大時,我會感到百般折磨。但只要我還活著,我會繼續奮鬥,努力克服創傷,與那些使我無力的記憶傷口掙鬥。更重要的是,我必須為我們這一群被邊緣化的女性,繼續努力表達與發聲。

香港,2018年3月


評語|Anwar Sastro Maruf

作品傳達了印尼移工長期在各國的流浪,呈現出一個深刻的悲傷故事。Rubi所經歷的強暴與性暴力,即便官司打贏了,也成功將雇主送進牢裡似乎毫無意義。看起來Rubi只是希望她的悲慘事件不會再發生在任何人身上。雖然現在的Rubi試圖忘記這一切,但是他仍然飽受創傷之苦。Rubi厲害的地方是他沒有放棄,他還繼續到其他的國家當印尼移工。在那裡,他找到了更好,更體貼的雇主。加上他也得到社交和參加組織的自由。

 

評語|Ratu Selvi Agnesia

Rubi以強烈的特徵和性格敘述他的心路歷程。這篇文章的文學語言非常有力, 他熟練地混合了適合的大小隱喻來重新敘述過去悲慘和被強暴的記憶。身上過去的傷口已經癒合,但是傷痛的記憶仍然整齊地存放在一個永不癒合的記憶裡。
文章另一個優勢也出現在作者對相同遭遇的女性移工的同情。他將寫下過往當作療傷,同時也成積極參與聲援遭受破壞的移工相關社會運動。Rubi,這是令人難以置信的故事。繼續加油。


評語|Olin Monteiro

非常有趣的開場和整潔的故事講述,希望能繼續寫作喔。

 

發表迴響

你的電子郵件位址並不會被公開。 必要欄位標記為 *