Luka Itu Masih Ada di Tubuhku

 2018 Babak penyisihan 印尼文初選  

📜 Luka Itu Masih Ada di Tubuhku

👤 Yuli Riswati

 

Sampai hari ini tak ada seorang pun yang tahu kalau diam-diam aku menyimpan bola-bola ingatan di dalam kepalaku. Bentuknya seperti bola salju. Sewaktu-waktu bila ia menggulung, akan membesar, seperti sosok Krisna sedang tiwikrama. Bagaimanapun kerasnya usahaku untuk menghancurkannya, bola-bola itu justru semakin kuat dan semakin mencuat ke permukaan. Reaksinya menyebabkan kepalaku pusing, ulu hatiku terasa nyeri dan tubuhku lemas tak bertenaga. Seolah tenggelam, tergulung badai kesedihan, dada dan napasku terasa sesak tiada terkira. Kalau sudah begitu,aku tidak bisa bicara apa-apa dan tidak ingin bicara dengan siapa-siapa. Aku hanya bisa menangis, nelangsa.

Aku bangkit dari sudut kamar mandi ketika kudengar suara bel pintu berbunyi berkali-kali. Buru-buru kucuci muka dan mengelapnya dengan handuk kecil berwarna ungu. Sambil mengikat rambut dan merapikannya, aku berseru.

“Tunggu sebentar, Nyonya! Aku sedang di kamar mandi.”

Beberapa saat kemudian, ketika kubuka pintu, nyonyaku yang baru kembali dari bermain mahjong di rumah temannya langsung menghujaniku dengan pertanyaan bernada khawatir.

“Kamu kenapa, Rubi? Sakit? Wajahmu pucat. Matamu merah. Kamu habis menangis? Apa kamu sudah makan malam? Jangan kerjakan apapun lagi, istirahatlah di kamarmu!”

Perempuan paruh baya itu seperti seorang ibu, dengan lembut membimbingku masuk ke kamar tidur. Menyuruhku berbaring di ranjang kemudian menyelimutiku. Ia menutup jendela kamar dan menguncinya. Menyalakan mesin penghangat, mematikan lampu, dan sebelum menutup pintu kamarku ia masih sempat menasehatiku.

“Tidurlah segera Rubi, jangan pikirkan apapun. Besok pagi kamu akan bangun dalam keadaan lebih baik dari malam ini.”

Sebagai seorang pembantu yang sudah bekerja selama hampir 6 tahun di rumah ini, aku merasa beruntung dan bersyukur. Majikanku selalu berlaku baik padaku. Aku sudah dianggap seperti bagian keluarga mereka, langsung ditegur dan dinasehati jika melakukan kesalahan, dipuji jika hasil kerjaku memuaskan. Dan ketika aku sedang dalam keadaan sakit seperti ini, selain mendapatkan perhatian, aku juga mendapatkan kebebasan untuk beristirahat lebih cepat.

Perempuan kurus berwajah pucat yang menderita memar di kepala dan wajahnya itu, sekujur tubuhnya dipenuhi nanah bekas luka bakar. Ia nampak ketakutan, hanya melirik dan menggelengkan kepala untuk merespon kehadiran tim penyelamat yang berupaya mengevakuasinya. Sementara itu anjing Rottweiler berwarna hitam yang terikat tali dan berada di sampingnya terus menyalak keras-keras kepada petugas. Seakan sedang marah dan menyesalkan keterlambatan kedatangan mereka atas nama kemanusiaan.

Aku terbangun dari mimpiku karena suara itu. Suara seseorang memutar pegangan pintu. Aku memasang telinga baik-baik. Ada suara langkah kaki yang berat. Layaknya langkah kaki pencuri yang sedang mengendap-endap. Langkah sepasang kaki besar, yang menapak kasar di lantai keramik. Rasa nyeri tiba-tiba menusuk ulu hati diikuti rasa mual yang tak tertahankan lagi. Aku bangkit dari ranjang, dan berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perut di lubang toilet.

Suara-suara itu sirna. Tidak ada siap-siapa. Seperti biasa, suara-suara itu hanya halusinasiku saja. Refleksi dari rasa ketakutan di alam bawah sadarku. Majikanku masih tidur nyenyak di kamarnya. Entah kenapa menurutku musim dingin membuat malam terasa lebih sunyi, gelap dan panjang, jika dibandingkan malam-malam di musim panas. Aku berdiri di depan jendela kamar, menyandarkan dahi pada kaca yang memantulkan bayanganku samar-samar. Dingin. Aku menunduk, memandangi jalanan di bawah apartemen, masih lengang, belum menampakkan tanda-tanda kehidupan. Kutengok jam di dinding kamarku, jarum pendeknya menunjuk tepat di angka 4.

Kejadian yang kualami itu sebenarnya telah lama berlalu, sudah menjadi bagian masa lalu. Hitungannya bukan hanya setahun atau lima tahun, sudah dua puluh tahun! Namun hanya karena membaca berita kronologi penganiayaan dan meninggalnya Adelina, seorang pekerja migran perempuan Indonesia di Malaysia, aku seperti sedang melemparkan bola besi, menghantam dinding ingatanku sendiri, berkali-kali. Membuat dinding itu roboh dan luka-luka yang sengaja kututupi, kembali terbuka,menganga. Basah dan berdarah.

“Lepaskan aku, Tuan! Lepaskan! Atau bunuh saja aku!”

“Teriaklah sesukamu, memang siapa yang akan datang menolongmu? Kamu itu budakku!”

Tiga lelaki berbadan besar, pemilik rumah batu yang dikelilingi pagar tinggi itu seperti sekumpulan singa buas yang sedang kelaparan. Hampir setiap malam, bapak dan dua anaknya mengoyakku bergiliran. Mereka tidak akan berhenti sampai aku kehilangan kesadaran akibat merasakan kesakitan yang teramat sangat. Sedangkan para perempuan, istri dan anak gadis mereka, berlagak buta dan tuli atas apa yang terjadi. Seolah tak pernah ada apa-apa, tak pernah terjadi apa-apa di rumah mereka. Semua baik-baik saja.

Suatu hari, tubuhku pernah diikat dan dicambuk berkali-kali. Sebelum kemudian aku disekap di gudang gelap tanpa makanan dan minuman berhari-hari. Gara-gara aku tertangkap basah saat mencoba melarikan diri. Mereka menendangku, menghujaniku dengan makian, menyiramku dengan air bekas cucian, kemudian menyeretku tanpa belas kasihan. Teriakan-teriakan keras mereka menegaskan bahwa sebagai budak, aku tidak boleh pergi kemana-mana, tugasku adalah bekerja mengurus rumah beserta isinya sekaligus mematuhi apapun perintah mereka, selamanya! Aku sudah tidak memiliki hak dan kuasa lagi atas tubuh juga hidupku sendiri.

Adalah keajaiban, ketika pada akhirnya aku bisa melarikan diri. Dini hari itu, aku berhasil membebaskan diriku setelah sebelumnya tidak sengaja menemukan kunci pintu rumah dan gerbang besi, di saku lelaki tua yang sedang tertidur mendengkur di ranjangku setelah puas dan kelelahan menggagahiku. Aku tidak sempat berkemas atau mengganti baju. Setelah berhasil membuka gerbang, aku menerjang, berlari tunggang langgang, tanpa alas kaki, tanpa arah tujuan pasti. Harapanku hanya satu, bisa secepatnya meninggalkan rumah yang seperti neraka itu sejauh-jauhnya, tanpa niat menoleh pun kembali lagi.

Di pagi yang dingin kala itu, aku terus berlari dan berlari sampai akhirnya nafasku tersengal-sengal, ingatanku terputus-putus, hingga akhirnya dunia di sekitarku menjadi gelap dan ingatanku terputus total. Aku tidak ingat bagaimana aku bisa sampai ke kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia di Riyadh. Aku hanya samar-samar mendengar bunyi sirine, dengung suara-suara yang mengelilingiku, bertanya, berseru, mengguncang tubuhku. Separuh kesadaranku baru bisa kudapatkan kembali setelah selama berminggu-minggu aku menjalani perawatan di Rumah Sakit dan rumah penampungan milik pemerintah. Majikanku berhasil ditangkap, diadili,didenda dan dijatuhi hukuman penjara. Hakim di pengadilan memenangkan gugatan atas namaku karena ada bukti kejahatan yang masih tertinggal di wajah dan sekujur tubuhku yang kurus mengenaskan.

Tapi apa arti kemenangan itu bagiku? Apa artinya ganti rugi berupa materi? Jika keinginanku satu-satunya adalah melupakan segalanya! Melupakan apapun yang sudah terjadi. Banyak orang mengira ketika korban penyiksaan dan pemerkosaan sudah memenangkan tuntutan di pengadilan berarti masalahnya sudah selesai. Sudah mendapatkan keadilan dan tidak ada hal-hal lain yang perlu dibahas dan dikhawatirkan lagi. Padahal tidak begitu kenyataannya, para korban masih dan akan selalu dibayangi rasa ketakutan, mimpi-mimpi buruk, halusinasi dan segenap siksa akibat trauma. Seperti diriku misalnya, sampai hari ini aku terpaksa mengkonsumsi obat tidur dan obat pereda nyeri akibat sakit kepala yang tidak jelas penyebabnya. Dan seperti bocah kecil, emosiku sering tidak stabil. Aku jadi sukar percaya pada apapun dan siapapun. Tanpa sadar aku telah mengisolasi diri dan berusaha menjauhi semua orang.

Bahkan aku juga menjauh dari orang yang mencintaiku dan hanya memiliki kemungkinan satu dari seribu untuk menyakitiku! Aku masih ingat suara lembut lelaki yang pernah menjadi suamiku selama sepuluh bulan. Lelaki sederhana yang memiliki tatapan mata sebening kaca. Aku ingat bagaimana ia sering menatapku lekat-lekat kemudian memeluk erat tubuhku yang gemetar ketakutan, berusaha menenangkan dan membujukku.

“Aku mencintaimu Ru. Aku menerima apapun adanya dirimu. Tolong beri aku kesempatan untuk membahagiakanmu, Sayangku.”

Bagaimana mungkin kebahagiaan itu akan ada, jika kenyataannya hubungan seks menjadi sesuatu yang sangat menyakitiku. Dokter yang memeriksaku mengatakan, kemungkinannya seperti korban pemerkosaan lainnya, kalau bukan dyspareunia, aku mengidap vaginismus. Aku tidak peduli mana di antara dua nama aneh itu yang benar menjadi nama penyakitku, yang aku tahu sakit yang kurasakan ketika berhubungan badan, serupa sakit karena robekan kulit yang disayat berulang-ulang. Pedih tak terperikan. Hingga pada puncaknya, aku menggugat cerai suamiku. Gugatan itu bukan sekadar untuk membebaskan diriku dari perasaan tersiksa, tapi juga agar lelaki baik hati itu bisa merdeka untuk menikmati kebahagiaannya bersama perempuan lain yang masih mempunyai kesempatan untuk berbahagia.

Setelah perceraian, kehidupanku malah semakin runyam. Aku tersiksa oleh omongan orang-orang di lingkungan tempat tinggalku. Status janda bukan hanya membuatku dipandang sebelah mata tapi juga dianggap ancaman bagi sebagian perempuan yang sudah berumahtangga. Karena itu aku terpaksa pergi dari kampungku, agar bisa memulai hidup baru di tempat baru. Aku memilih Hong Kong sebagai negara tujuanku bekerja. Negara yang kudengar terkenal cukup baik dan adil hukum perlindungannya terhadap para pekerja migran.

Namun jauh panggang dari api, bekerja di negeri bagian China ini pun ternyata tidak semudah dan seindah apa yang diceritakan dari bibir ke bibir. Undang-undang dan peraturan publik Hong Kong memang sudah baik tapi tidak lantas semua warganya mau mematuhi peraturan yang berlaku. Tidak semua majikan memiliki rasa kemanusiaan dan sudi memperlakukan pembantunya secara manusiawi. Seperti halnya sebagian pekerja migran lainnya, aku sempat mengalami masalah overcharging, tidak mendapatkan hak libur, tidur di lantai dapur beralas plastik, kurang jatah makanan sehari-hari dan mengalami putus kontrak berkali-kali, sebelum pada akhirnya nasib baik mempertemukanku dengan majikanku saat ini.

Di hari libur mingguan, aku bergabung dengan teman-teman sesama pekerja migran untuk berorganisasi, saling bantu dan saling berbagi informasi. Kami bersama, berbagi tenaga dan pikiran agar bisa saling menguatkan di negeri orang. Kegiatan ini kurasa penting karena sampai hari ini, setelah puluhan tahun tragedi yang kualami, masih ada saja berita tentang penyiksaan dan tindakan kekerasan yang dialami para pekerja migran Indonesia di mana-mana. Ratusan pekerja migran disekap dan disiksa di Riyadh, Erwiana disiksa di Hong Kong, Kastem dianiaya di Abudhabi, Sihatul dipukuli di Taiwan, Meriance dan Suyanti mengalami cacat permanen di Malaysia, Kokom dijadikan bulan-bulanan di Arab Saudi, Yoyoh disiksa di Brunei, Nuraini disekap di Kuwait, Fadila dianiaya di Singapura, dan entah siapa lagi nama-nama korban yang sekarang sedang menderita dan disiksa di mana.

Sejak puluhan tahun lalu, bersama luka-luka yang tak kunjung memudar seiring berjalannya waktu, aku juga menyimpan pertanyaan-pertanyaan yang tidak tahu harus kuajukan kepada siapa. Apakah manusia itu sebenarnya memang diciptakan sebagai separuh binatang? Apakah manusia sesungguhnya dilahirkan untuk bertarung menahlukkan binatang-binatang yang berada di dalam dirinya sendiri? Hingga sebagian manusia yang memenangkan pertarungan dengan binatang di dalam dirinya, tumbuh menjadi orang baik, sementara yang kalah bertarung malah berkembang menjadi orang yang kejam. Orang-orang kejam yang sanggup menyiksa sesama manusia lainnya tanpa peduli akibat yang mesti ditanggung korbannya. Korban yang seperti diriku misalnya, yang tidak pernah lagi menemukan rasa aman karena harus menanggung luka-luka ingatan. Luka ingatan yang seakan menjadi kutukan, selamanya.

“Cousan, Rubi! Lei yika tima? Houfaan meia?” *1

“Cousan, Dhai-dhai. Ngo yika houfaan tik.” *2

Penampilan Nyonyaku sudah rapi, sepertinya sudah bersiap untuk berpergian. Meski sudah tidak aktif bekerja di kantor, Nyonya Kwok selalu punya banyak acara bersama komunitasnya di luar sana. Aku bergegas bangkit dari ranjang, ingin pergi ke dapur, menyiapkan sarapan.

“Wajahmu masih pucat, Rubi. Kamu tidak perlu bekerja hari ini. Istirahatlah. Ingat! Jika setelah sarapan dan minum obat keadaanmu masih belum membaik juga, siang nanti kamu harus pergi ke Dokter!”

“Terima kasih. Siap, Nyonya!”

Beberapa menit kemudian terdengar suara pintu ditutup dan dikunci dari luar. Aku memejamkan mata. Rumah kecil ini kembali sunyi. Cahaya matahari musim dingin yang menerobos kaca jendela kamar, menyapaku tanpa kehangatan. Aku menarik selimut untuk menyembunyikan badanku yang menggigil kedinginan. Aku demam. Semoga obat pereda sakit dan penurun panas yang telah kuminum bisa bekerja dengan baik di dalam tubuhku.

***

“Teman-teman penasaran dan iri padamu, Rub. Kamu itu keren, berprestasi. Sering menang lomba menulis dan lomba foto.”

Micka berbicara dengan nada riang, menggodaku.

“Mereka mengaku tidak pernah punya kesempatan untuk berbicara dan tahu lebih banyak tentang cerita pribadimu. Kamu pendiam dan penyendiri. Ketika mereka bertanya soal dirimu padaku, aku bilang kamu pun tidak pernah bercerita apa-apa kepadaku.”

Aku hanya tertawa menanggapi obrolan Micka, mataku mengawasi sekelilingku sambil bersiap mengarahkan lensa kamera Canon 600D ke arah sekumpulan teman-teman pekerja migran yang sedang berada di sudut lapangan rumput Victoria Park. Mereka berpakaian hitam-hitam dengan ikat pinggang ada yang berwarna merah, putih dan kuning. Sekumpulan perempuan yang sehari-hari berprofesi sama sepertiku itu sedang berlatih bela diri, berusaha keras menyempurnakan gerakan yang sedang dipelajarinya. Mereka terlihat kompak mengikuti aba-aba pelatihnya, serentak melangkah ke depan dengan tungkai kiri, kaki kanannya berputar secara alami mengarah ke samping. Kedua tangan mereka mengepal, kedua lengan tertekuk pada siku dengan bagian depan lengan sedikit terangkat. Kepalan tangan kiri berada diposisi lebih tinggi, mengarah ke depan, sementara tangan kanan mereka siaga, berada di dekat pinggang. Aku mengenali gerakan seperti itu sebagai jurus untuk mempertahankan diri dari serangan lawan seperti yang biasa dilakukan oleh Bruce Lee dalam adegan perkelahian di film-film kungfu yang dibintanginya.

Aku tiba-tiba berpikir, andai saja semua perempuan menguasai ilmu bela diri, apakah kami akan bisa melindungi diri dari semua bentuk tindak kejahatan? Apakah peristiwa mengerikan seperti yang kualami tidak akan pernah terjadi? Sampai hari ini aku masih terus berusaha untuk memahami dan menerima dengan lapang dada hal-hal yang pernah terjadi, tapi kenyataannya tidak mudah. Batinku sering berontak, mengapa semua itu mesti terjadi padaku? Mengapa masa lalu yang buruk bisa merampas masa depanku? Hingga aku yang sekarang dan aku di masa depan hanya seperti sisa-sisa kehidupan yang usang. Ah, bagaimana aku akan bisa bercerita kepada teman-temanku tentang pengalaman pribadiku, jika dengan mengingatnya saja sudah membuatku tersiksa?

Beberapa kali aku mendapatkan kesempatan menjadi pembicara di acara yang diselenggarakan oleh berbagai organisasi dan komunitas. Aku berbicara sebagai sosok inspiratif yang memberikan wejangan dan motivasi. Aku menceritakan secuil pengalamanku saat melewati masa-masa sulit pada awal bekerja di Hong Kong, berbagi tips bagaimana agar teman-teman yang lain bisa bangkit dan mulai memberdayakan diri demi terwujudnya apa yang dicita-citakan. Semua yang mendengarkan pidatoku merasa terpesona, terinspirasi, bertepuk tangan, kagum dan bangga. Tapi tidak satu pun di antara mereka yang tahu bahwa ada rahasia yang kusimpan rapat-rapat di dada. Dan semua yang kukatakan di podium itu sebenarnya lebih tepat untuk kusampaikan kepada seseorang yang berada di dalam diriku; aku dalam versi tidak berdaya karena depresi dan trauma.

Hari demi hari, selain upaya mendekatkan diri pada Tuhan melalui ibadah dan doa-doa, aku terus menggali dan mengasah kemampuanku. Semua kulakukan bukan sekadar demi unjuk diri. Sesungguhnya aku sedang berusaha membangun dan menguatkan mentalku sendiri. Sebagai orang yang harga dirinya pernah hancur dicabik-cabik, persediaan rasa percaya diriku nyaris habis tak bersisa. Apa yang selama ini dinilai orang lain sebagai prestasi, bagiku hanya bonus tambahan, sebab tujuan utamaku yang sebenarnya adalah menghilangkan rasa minder dan rendah diri.

“Rub! Sudah jam dua loh! Katanya, kamu ada janji wawancara dengan reporter?”

Micka berteriak dari kejauhan, mengingatkanku. Aku memang sudah mengatakan padanya kalau hari ini aku ada janji dengan seseorang di sekitar area Causeway Bay, makanya aku menolak ajakan untuk menemaninya jalan-jalan ke Mong Kok.

Seorang repoter dari media lokal berbahasa Inggris sebelumnya sudah menghubungiku melalui surat elektronik. Ia ingin menulis tentang pengalamanku sebagai seorang pekerja migran yang bekerja di sektor domestik tapi memiliki aktivitas dan prestasi di dunia literasi. Menurut mereka hal tersebut sangat unik dan menarik. Secara sudah bukan rahasia lagi kalau kami, para perempuan yang berprofesi sebagai pembantu rumah tangga dikenal berpendidikan rendah serta memiliki keterbatasan waktu dan ruang untuk aktivitas pribadi.

Di dalam draft pertanyaan yang dilampirkannya, reporter itu mengaku penasaran. Mengapa tulisanku lebih banyak menceritakan tentang sisi gelap dan sisi sedih menjadi seorang perempuan migran? Apakah aku selalu memandang dan menilai buruk tentang Hong Kong dan orang-orangnya? Apakah semua tulisanku itu adalah curahan cerita pribadiku? Tanpa perlu berpikir lama, tentu saja aku sudah bisa memberikan jawabannya.

Aku menulis selain untuk membantu menerapi emosi diri sendiri, juga untuk menuturkan kisah di sekitarku yang sampai saat ini belum banyak diungkap. Melalui tulisanku, aku ingin menunjukkan kepada semua pembaca, bahwa sebenarnya ada cerita yang seperti ini, yang benar-benar terjadi tapi tidak diketahui dan belum menjadi perhatian orang banyak. Aku ingin mewakili suara-suara perempuan yang disekap di ruang gelap, yang tidak banyak dipublikasikan oleh media.

Soal orang baik dan orang jahat, di belahan dunia sebelah manapun selalu ada, bahkan di negeriku sendiri. Maka tentu saja aku tak akan berani menghakimi dan memandang buruk semua orang di Negeri Bauhinia ini. Apalagi saat ini aku mempunyai majikan dan mengenal teman-teman yang orang lokal yang kesemuanya baik serta ramah kepadaku. Namun, semua kebaikan yang kudapatkan justru kuanggap sebagai kesempatan bagus agar aku bisa melakukan kebaikan untuk teman-temanku, sesama perempuan migran yang belum beruntung, yang teraniaya, terdiskriminasi dan terpinggirkan. Jika kemudian ada pembaca yang mengira apa yang kutulis adalah kisah pribadiku, hal itu mungkin disebabkan karena aku menuliskannya dengan rasa sepenuh hati.

“Hi, Rubi! Nice to see you! Introduce this Rob, the cameraman who will record our interview session today. ” *3

“Hi, I’m glad to meet both of you!” *4 Aku tersenyum hangat, menyambut jabat tangan yang diulurkan Anusha dan Robert.

Aku tahu, luka itu masih ada di tubuhku. Sewaktu-waktu, bila ada sesuatu yang menyentuhnya, atau ketika bola-bola ingatanku sedang membesar, aku akan merasa sangat tersiksa. Tapi selama aku masih hidup, aku akan terus berjuang. Berjuang untuk mengatasi trauma. Berjuang untuk melawan luka-luka ingatan yang melemahkanku. Dan yang lebih penting lagi, aku harus terus berjuang untuk menyuarakan dan mewakili suara hati kaumku; para perempuan migran yang termarginalkan.

Hong Kong, Maret 2018

 

Catatan:

*1 “Selamat pagi, Rubi! Bagaimana keadaanmu pagi ini?”
*2 “Selamat pagi, Nyonya. Sekarang keadaanku sudah lebih baik.”
*3 “Hai, Rubi! Senang berjumpa denganmu! Perkenalkan ini Rob, kameramen yang akan merekam sesi wawancara kita hari ini.”
*4 “Hai, saya senang berjumpa kalian berdua!”


📝 Komentar juri|Anwar Sastro Maruf

Tulisan ini menyampaikan bagaimana pengembaraan panjang sebagai BMI diberbagai negara, menyajikan kisah duka lara yang mendalam. Perkosaan dan kekerasan seksual dialami oleh Rubi, kemenangan kasusnya di pengadilan dengan pemenjaraan sang majikan seperti tak berarti apa-apa. Sepertinya Rubi hanya ingin peristiwa bengis tersebut tidak terjadi pada siapapun. Kini Rubi masih menderita trauma meskipun mencoba untuk melupakannya. Hebatnya Rubi tidak menyerah, masih saja menjadi BMI di negeri yang lain. Disana dia menemukan majikan yang berbeda yang jauh lebih baik dan perhatian. Ditambah dengan kebebasan untuk bersosialita dan berorganisasi.

 

📝 Komentar juri|Ratu Selvi Agnesia

Rubi mengisahkan refleksi hidupnya dengan karakter tulisan yang kuat sekuat kepribadiannya. Naskah ini memiliki kekuatan bahasa sastra yang sangat baik. Ia ahli meramu metafora dengan ukuran yang pas untuk mengisahkan kembali luka ingatan kekejaman dan pemerkosaan di masa lalunya. Luka di tubuhnya telah sembuh namun memori-memori itu masih tersimpan rapi sebagai luka ingatan yang tak kunjung sembuh. Kekuatan yang lain pada naskah ini juga terlihat pada pada empati si tokoh/ penulis pada perempuan-perempuan pekerja migran yang mengalami pengalaman serupa dengannya. Masa lalunya ia refleksikan dengan menulis sebagai terapi dan menjadi aktivis pada pekerja migran yang juga mengalami kekejaman. Kisah yang luar biasa Rubi. Terus berjuang.

 

📝 Komentar juri|Olin Monteiro

Sangat menarik pembukaannya dan rapih menceritakan kisahnya, semoga bisa terus menulis ya

發表迴響

你的電子郵件位址並不會被公開。 必要欄位標記為 *