MUARA HATI SANG NOVELIS, FORMOSA

 2018 Babak penyisihan 印尼文初選  

📜 MUARA HATI SANG NOVELIS, FORMOSA

👤 IIN INDRIYANI

 

Genting malam selimuti ketegangan jiwa

Sudut kamar jadi saksi lelehan airmata

Berteriak dalam ketakutan yang mendera

Duhai wanita Sang Pahlawan Devisa

4 Agustus 2016,

Malam menyakitkan. Malam mengerikan. Tak pernah lagi kunikmati apa itu tidur nyenyak dalam beberapa hari terakhir. Orang itu, lelaki paruh baya yang kupanggil Tuan—memaksaku untuk memijat bagian intimnya. Gila! Tak waras!. Jelas saja aku menolak. Aku berlari ke dalam kamar dan mengunci pintu rapat-rapat. Serigala berwujud manusia itu berpura-pura naik ke atas membawakan segelas air putih untuk istrinya. Padahal niat busuk menyeringai di balik wajahnya. Dia mencariku. Aku menangis di dalam kamar dengan ketakutan yang menderaku. Ketakutan seorang wanita yang berada dalam kandang singa yang teramat ganas. Iblis sudah menguasai akal sehatnya. Dia tak lagi ingat apa itu rasa hormat dan rasa malu. Yang lebih membuatku pedih, malam itu adalah malam ulang tahunku. Malam ulang tahun yang penuh derai airmata karena manusia berotak iblis seperti Tuan. Aku sangat muak dan benci kepadanya. Benci sekali. Aku sungkan menutup mata—khawatir Tuan masuk secara tiba-tiba ke dalam kamarku. Bahkan pernah suatu malam aku menyimpan pisau dapur di dalam kamar untuk berjaga-jaga. Aku takut hal buruk terjadi padaku. Dalam beberapa malam itu, kedua mataku sering terlelap dengan ketakutan yang maha dahsyat seumur hidupku.

Musim panas masih memuncak. Panorama pegunungan berselimut kabut menyapa sisa ketakutanku pagi itu. Kedua mataku sembab karena menangis semalaman. Kedua kakiku bengkak karena tanggungjawab pekerjaan yang kukerjakan setiap hari. Kutatap pohon pinang bergoyang gemulai dari balik jendela. Sorotanku semakin dalam pada aliran sungai yang tertangkap oleh mata. Ingin sekali aku keluar, berlari, dan pergi sejauh mungkin dari rumah mengerikan itu. Tapi, aku tak mampu. Kesempatan untuk keluar—hanya ketika aku membuang sampah di malam hari. Itu pun beberapa menit saja. Setiap harinya, aku terkurung di dalam rumah berlantai tiga dengan satu pintu utama.

Haruskah aku kabur? Oh, tidak! Aku masih memiliki keyakinan bahwa Tuhan akan selalu bersamaku, melindungiku dengan segenap cinta dan kasih-Nya. Aku yakin, aku akan baik-baik saja walau aku tinggal dengan seekor singa yang siap menerkamku kapan saja. Ya, aku sangat yakin itu. Hanya tawakkal yang dapat menyelamatkanku dari ganasnya musuh sebengis apa pun. Hanya kuasa Allah Swt yang wajib kupegang erat. Aku menunduk sedih. Airmataku terus menetes. Kulihat mobil kerja milik Tuan telah pergi dari pandangan mataku. Aku merasa lega. Lega sekali. Paling tidak hingga sore nanti—aku akan aman.

Aku merawat Nyonya yang setengah lumpuh karena obesitas. Beliau gemuk sekali, badannya pun tinggi. Aku kewalahan merawat beliau, apalagi kondisinya semakin lama semakin memburuk. Tak satu dua kali kami terjatuh bersama—saat aku berusaha untuk membantu beliau ke kamar mandi. Belum lagi setiap hari aku harus membawa beliau naik turun tangga, karena Nyonya selalu menghabiskan waktu menonton televisi di ruang tamu. Sedang kamar kami berada di lantai atas. Aku sudah tidak sanggup melakukan tanggungjawabku sebagai care giver di rumah itu. Tenagaku tak seimbang dengan badan pasien yang kurawat. Kedua kaki dan perut bagian bawahku terasa sakit sekali. Rahimku, yang dua tahun lalu menjadi tempat bersemayamnya malaikat kecil selama 9 bulan, saat itu terasa sakit setiap waktu. Ditambah lagi kelakuan Tuan yang mirip setan, membuatku ingin cepat pergi dari rumah itu. Respon agency selalu kutunggu. Akan tetapi, mereka selalu menyuruhku untuk bersabar dan sabar.

“Kalau Tuan nekad memperkosaku bagaimana? Aku takut. Tidak ada siapa pun di rumah ini yang akan menolongku.” Lirihku meratap.

“Kamu tidak boleh takut. Kamu harus lawan. Kamu harus berani. Ancam Bossmu bahwa kamu akan lapor kepada agency jika dia macam-macam.” Tukas penerjemahku dari balik telepon.

Aku kembali menangis. Tembok yang membisu menjadi sandaran setiaku setiap hari. Kuusap airmata yang nyaris mengering di pipi. Aku teringat betapa besar perjuanganku untuk datang kemari. Proses masuk PJTKI yang menguras tenaga. Pembuatan paspor ganda di Lampung saat aku dalam keadaan sakit. Bahkan, kondisi kesehatanku pun sangat menurun saat aku melakukan penerbangan ke Taiwan. Yang lebih terasa pedih, rasa rinduku kepada anakku belum dapat terobati. Ya, anakku. Aku seorang ibu yang frustasi dengan rumah tanggaku hingga kubertekad merantau kemari, Formosa. Meninggalkan anak laki-lakiku yang berusia 2 tahun. Balitaku tersayang, jantung hatiku yang kurawat dengan tanganku sendiri sejak ia masih bayi.

Hati ini pedih, terasa sakit sekali. Masih kuingat betapa ia terlelap dalam tidurnya—beberapa saat sebelum aku meninggalkan dia pagi itu. Aku tak pernah berpikir bahwa itu adalah saat terakhirku melihat wajahnya secara langsung. Sejak berangkat ke penampungan untuk proses ke Taiwan, aku tak pernah pulang ke rumah hingga waktu penerbanganku datang. Aku tak menduga Tuhan membukakan jalan untuk perjuanganku secepat itu. Hanya dua bulan tiga minggu, aku menghabiskan waktu di karantina, dan itu termasuk cepat untuk proses ke Taiwan yang semakin lama semakin rumit dan ketat. Aku berpamitan kepada Orangtua dan keluargaku hanya lewat sambungan telepon. Do’a mereka mengantarkanku pada penerbangan siang itu. Aku mengekor dengan China Airlines membawa serta segenap angan dan mimpi bersamaku. Kondisi kesehatanku yang menurun tak membuatku lemah sedikit pun. Kutangkis segala pikiran negative yang sempat mencuri ketenanganku. Semangat dan gelora perjuangan semakin membakar dasar jiwaku. Untuk siapa lagi? Kalau bukan untuk masa depan anak, adik dan kedua Orangtua yang sangat aku sayangi.

Dalam alunan perjalanan pesawat yang sunyi, alam mimpi meniup manja kedua kelopak mataku. Aku terpejam sejenak, menyambut kenangan indah yang bernyanyi-nyanyi di atas kepalaku. Senyuman anakku, tawa adikku, nasihat demi nasihat orangtuaku, semua itu bagai tombak yang semakin menguatkan tekad dan niatku.

“Mah, aku pergi, ya? Titip Abi, tolong jaga baik-baik.” Ujarku lembut, pelan sekali. Isak tangis tak kuasa kutahan di tengah kerongkongan, saat aku berpamitan kepada Ibuku untuk berangkat ke penampungan.

“Iya, hati-hati.” Jawab beliau, pelan. Nyaris tak terdengar.

Kucium tangan beliau dengan derai airmata. Akan tetapi, beliau tak menoleh sedikit pun padaku. Suaranya parau. Aku yakin beliau pun merasakan sedih dengan kepergianku. Meninggalkan putraku yang masih tertidur di dalam kamar. Aku pun pergi, meninggalkan Ibuku yang melelehkan airmata sembari menyikat pakaian yang beliau cuci.

***

Malam menjelma. Landasan pesawat dengan gemerlap lampu seakan menyambut kedatangan kami. Kulihat tulisan ‘Touyuan International Airport’ menyapa kedua mataku samar-samar. Aku segera bangkit dari mimpiku. Memaksakan tubuh kurusku menapak tanah Formosa untuk yang pertama kalinya. Aku celingukan. Bandara besar itu mengingatkanku pada kenangan tujuh tahun silam. April 2011, tepatnya. Aku tersesat di dalam ‘Hongkong International Airport’ dengan membawa barang-barang di kanan dan kiriku. Satu tas besar milikku dan satu tas lagi titipan temanku. Saat itu aku kembali setelah sepuluh hari cuti sakit. Aku pikir, majikanku-lah yang akan menjemputku di bandara. Ternyata tidak, aku dibiarkannya begitu saja. Mencari cara untuk kembali ke rumah majikanku seorang diri. Aku bingung harus keluar lewat pintu mana. Ponselku kehabisan baterai. Malam semakin larut. Suasana dalam bandara sangat sepi. Airmataku akhirnya jatuh dengan perasaan yang tak karuan.

“Mamah, Bapak, aku tersesat.” Lirihku ketakutan. Aku menengok kesana kemari berharap ada orang yang lewat di depanku. Akan tetapi, nihil.

“Hassbunallaah Wa Ni’mal Wakiil…” Kuucap lantunan ayat-ayat suci agar hatiku tenang. Kupuji nama Allah Swt, agar aku selalu dalam naungan-Nya.

Terasa di dasar hatiku, bahwa sebentar lagi aku bisa keluar. Dan, ya, aku berhasil menemukan pintu keluar untuk menuju ke perhentian bis.

“Allaahu Akbaar…” Kukira ujianku telah usai. Ternyata belum. Tuhan masih amat menyayangiku. Aku melihat ongkos bis dari bandara menuju Yau Ma Tei, tempat tinggalku sekitar HKD. 40.00. Aku tersentak bukan main. Aku lupa tidak membawa uang koin, yang tertinggal di dalam dompetku hanya dua lembar uang seratus ribuan. Aku bodoh, benar-benar bodoh. Tak terbesit di dalam otakku untuk menyimpan dollar Hongkong. Aku terlalu percaya diri dengan harapan Bossku-lah yang akan menjemputku di sana. Padahal, aku dibiarkannya begitu saja. Aku nyaris putus asa. Akan tetapi, Tuhan benar-benar sayang padaku. Aku membuka saku kecil di tasku. Di dalamnya banyak sekali uang koin yang aku sendiri lupa, kapan aku menyimpannya.

Nominalnya sangat kecil. Antara lima dan sepuluh sen. Uang-uang koin itu aku masukkan satu persatu ke dalam lubang koin yang berada di samping Pak Supir. Kulihat Pak Supir agak geram melihatku. Tapi aku tak menghiraukannya. Uang koin itu habis. Telapak tanganku kosong. Jumlah keseluruhannya genap HKD. 40.00. Tidak kurang dan tidak lebih. Aku mencari tempat duduk dan bernapas dengan tenang. Uang-uang koin yang tak sengaja tersimpan di saku tas itu bagai mukjizat dari Tuhan untukku malam itu. Seperjalanan, aku mulai ingat bahwa uang itu adalah uang kembalian saat aku membeli sesuatu di waktu liburan. Aku menghela napas dalam-dalam. Bersyukur, akhirnya aku bisa pulang ke rumah majikan dengan tenang. Akan tetapi, perjuangan tak berhenti di situ. Turun dari bis, aku kembali celingukan entah harus naik apa menuju rumah majikanku. Uang koin mukjizat itu habis. Mini bis khusus yang mengantar ke apartemen tak ada yang beroperasi. Dengan rasa yakin, aku berlari dari perhentian bis menuju rumah majikan dengan menenteng dua tas besar di kanan kiriku. Keadaanku mirip sekali seperti gembel yang terusir dari depan ruko. Atau persis seperti induk kucing yang ditendang orang saat kelaparan. Menyedihkan sekali!

***

‘Touyuan International Airport’, aku menunggu jemputan bis yang akan mengantarkan aku dan teman-teman lain ke penampungan agency, pikirku. Tapi ternyata bukan!. Kami diboyong ke sebuah tempat penampungan yang sangat sempit dan kotor. Koper-koper berserakan di mana-mana. Bau kamar mandi yang menyengat semakin membuatku ingin muntah yang kutahan sejak tadi. Baru istirahat beberapa puluh menit, seorang wanita bernada suara kasar membawa kami ke tempat check-up. Selesai check-up, baru kami dijemput oleh agency masing-masing. Kupikir, aku bisa beristirahat di kantor agency walau sebentar saja. Sekali lagi, tidak! Selesai didata, aku langsung diantar ke tempat majikanku. Aku nyaris tak percaya dengan keadaan rumah majikanku saat itu. Rumah berlantai empat dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Mirip pesawat yang tergelincir di atas landasan. Atau kapal yang pecah di tengah lautan. Rumah itu sangat kotor. Barang-barang berserakan di mana-mana. Kedua mataku terfokus pada wanita paruh baya yang tergeletak di atas kursi. Wanita gemuk dan tinggi itulah yang sakit lumpuh karena obesitas, istri dari lelaki berhati iblis yang kupanggil Tuan saat itu. Sungguh, hari yang paling melelahkan bagiku. Di detik dan jam yang sama, aku mulai bekerja tanpa istirahat sebentar pun. Inikah Formosa yang syahdu itu?

***

5 Desember 2016,

“Majikanmu meminta kamu untuk bekerja tiga hari lagi. Kamu mau tidak?” tanya penerjemahku, saat hari yang kutunggu-tunggu akhirnya tiba.

“Saya tidak mau.”

“Kemarin ada pekerja yang mau gantiin kamu, ‘kan? Kenapa dia tidak mau bekerja di sini, ngomong apa kamu sama dia?”

“Saya tidak bicara apa pun dia sudah tahu sendiri. Bekerja di sini bukan hal yang mudah. Dia bekerja baru satu malam sudah tidak tahan. Apalagi saya yang sudah tujuh bulan di sini?” Jawabku.

Ketegasanku membungkam mulut penerjemahku. Sedangkan wajah Tuan dan Nyonya terlihat sedih sekali. Mereka tidak mau aku pergi. Nyonya sudah sangat suka denganku. Bahkan di hari terakhirku di rumah itu, Nyonya masih belum tahu kelakuan Tuan seperti apa terhadapku. Aku menyimpan masalah itu dari Nyonya. Aku tidak mau beliau sedih. Tentang Tuan, kuakui sejak aku meminta pindah—sikapnya berubah baik padaku. Tuan tak lagi memakai pakaian tak sopan saat berada di dalam rumah. Apalagi meminta untuk memijat yang aneh-aneh. Dan Tuan juga sering bangun malam untuk membantuku jika Nyonya terbangun. Akan tetapi, hatiku sudah mantap untuk pergi. Aku ingin pindah ke tempat yang jauh lebih nyaman dan terbuka. Tujuh bulan pertama perjuanganku di bumi Formosa ini cukup menguras airmata dan kesabaranku. Sudah waktunya aku harus tegas dalam mengambil keputusan. Sudah saatnya aku menegakkan keadilan untuk kebaikan diriku. Tuan dan penerjemahku sempat berdebat karena tak mau melepasku. Akan tetapi dewi fortuna masih memihakku. Beberapa jam usai perdebatan itu, akhirnya Tuan menandatangani perpindahanku dengan pasrah. Dan hari itu aku keluar dari rumah Tuan dengan penuh kemenangan. Ya, aku menang. Dari majikan serakah yang tak bisa menghargai ketulusan seorang care giver. Setidaknya, setelah aku keluar dari rumah itu, Tuan akan tahu. Betapa susahnya mencari perawat sekaligus pembantu yang tulus dan ikhlas mengabdi pada keluarganya.

Satu hari setelahnya, aku langsung diantar kembali ke majikan baruku. Aku tidak terlalu memikirkan pekerjaanku nanti seperti apa. Ringankah? Lebih beratkah? Aku tidak tahu. Yang aku yakini, job itu adalah rezeki dari Tuhan yang wajib aku terima. Karena aku tidak mau berlama-lama di agency. Membuang waktu. Membuang tenaga untuk bekerja di rumah Boss agen tanpa dibayar sepeser pun. Sungguh damai hatiku. Setelah berbulan-bulan terkurung, akhirnya aku keluar juga. Menghirup udara segar. Bertemu banyak teman. Dan bisa tertidur lelap tanpa bayang-bayang wajah sadis Tuan lagi.

“Ingat ya, job kamu jaga Nenek masih sehat dan ada kebun di depan rumahnya. Kamu jalani dulu antara dua atau tiga bulan. Cari uang dulu, kalau memang tidak cocok, kamu boleh bilang ke saya.” Ujar penerjemahku.

“Baik, Louse.” Jawabku singkat.

Louse kembali fokus menyetir. Aku melihat di sekelilingku banyak area perkebunan dan persawahan. Setelah tujuh bulan pertama aku menetap di pegunungan, dan sekarang aku menetap di pedesaan. Tak apa, aku tidak mempermasalahkan. Yang terpenting, aku mendapat pekerjaan yang lebih ringan dari sebelumnya. Dan tentu saja, aku berharap bisa mendapatkan majikan yang lebih menghormati dan menghargaiku sebagai care giver.

***

9 Mei 2018,

Hujan turun rintik-rintik. Awan hitam bergerumul sejak kemarin. Kerlip bintang yang setia menyapa di kala senja, kini tak muncul. Semuanya basah. Rumput sintetis di halaman rumah tampak basah. Pohon-pohon cemara pun basah. Hawa dingin kembali menyusup kulit setelah dua bulan terusir hangatnya musim semi. Aku duduk di meja kerjaku. Menatap layar tablet yang setia menemaniku dalam setahun terakhir ini. Merenungi kontrak kerjaku yang tersisa satu tahun lagi. Ya, dua tahun sudah aku berada di bumi Formosa. Tujuh bulan di majikan pertama dan delapan belas bulan di majikan yang sekarang. Satu setengah tahun setelah malam-malam mengerikan itu berhasil kulewati. Waktu berputar terasa begitu cepat. Keadilan telah ditegakkan. Cinta Tuhan semakin aku rasakan. Di sini, Puyan-Changhua, aku mendapatkan keadilan yang belum pernah aku dapatkan di dua negara sebelumnya, Singapura dan Hongkong.

Di sini aku merawat seorang nenek yang masih sehat. Satu tahun pertama, aku akui beliau memang cerewet sekali. Nada bicaranya sangat keras terkadang juga kasar. Tak jarang, kami adu mulut karena tuduhan beliau yang tak pernah aku lakukan. Aku pun sempat merasa kesal, karena aku sering disuruh untuk bekerja di kebun yang berada di depan dan belakang rumah. Akan tetapi, selalu aku coba menjalani dengan penuh kenikmatan. Alasan utamaku bertahan—karena di sini, aku punya keluangan waktu untuk menulis. Ya, satu tahun terakhir ini, aku merangkap sebagai buruh migran sekaligus pengarang. Tiga buah novel berhasil aku terbitkan di tengah kesibukanku menjaga Nenek dan mengurus kebun. Aku tidak pernah merasa gengsi atau minder. Dengan pendidikan yang minim sekali pun, aku yakin, pasti aku bisa merayapkan asa lewat ketikan jari-jari liarku setiap malam.

Awalnya aku ngumpet-ngumpet. Kebetulan aku memiliki kamar pribadi di rumah ini. Setiap malam aku menulis naskah novel sekitar delapan sampai sepuluh halaman. Siang hari aku gunakan untuk membaca buku dan istirahat sebentar. Sedangkan pagi dan sore, aku habiskan untuk bekerja sambil mencari inspirasi cerita. Ketertarikanku terhadap dunia tulis menulis berawal dari sebuah grup kecil yang aku dirikan di jejaring sosial facebook. Itu adalah grup tertutup tentang serial India yang memiliki ratusan member dari seluruh Indonesia. Terkesan sepele memang. Tapi bagiku itu adalah nikmat. Bagaimana tidak? Dari para memberlah, aku berani menulis cerbung. Dari cerbung-cerbung yang kuposting setiap hari di wall facebook, aku rombak menjadi novel. Aku terbitkan dan aku jual. Aku sangat yakin, hal sekecil apa pun akan menjadi besar jika kita mau menghargai dan menghormatinya dengan penuh kebesaran jiwa. Bukan di Indonesia, tapi di sini, Formosa aku mulai menulis. Inikah Formosa yang syahdu itu?

Tidak ada hal yang instan. Nikmat yang kurasakan saat ini pun berawal dari sebuah keberanian. Beberapa bulan lalu, aku sempat melewati masa yang menegangkan. Dua kali, aku dituduh mencuri baju milik Nenek. Nenek memarahiku habis-habisan. Aku tidak habis pikir, bagaimana mungkin baju-baju itu bisa hilang? Tak ada siapa pun di rumah ini selain Nenek dan aku. Untuk apa aku mengambil baju-baju itu? Untuk apa aku mengambil baju nenek-nenek, yang mana baju-bajuku sendiri jauh lebih bagus dari baju beliau.

“Dia sudah tua. Otaknya sudah pikun. Ngapain kamu nyuri baju dia, wong kalau pun dikasih belum tentu kamu terima ‘kan? Ha ha ha.” Penerjemahku tertawa mendengar keluhanku.

“Tapi saya kesal, Louse. Setiap waktu kami bertengkar. Suara Nenek keras sekali, itu membuat jantung saya sakit. Nenek juga mengancam akan memotong gaji saya untuk ganti rugi.”

“Nggaklah. Mana bisa dia main potong gaji kamu seenaknya sendiri. Kami pihak agency tidak mungkin diam saja.”

“Tapi saya lelah dipekerjakan di kebun, Louse. Saya melakukan pekerjaan di luar job. Tanam sayuran, mupuk, nyabutin rumput.” Keluhku lagi.

Hampir satu bulan aku melewati masa-masa menegangkan. Nenek selalu marah bila melihatku. Hal itu membuat hatiku sedih sekali. Aku manusia biasa. Ada kalanya muncul emosi dengan pekerjaan yang aku lakukan di sini. Berkebun bukanlah tanggungjawabku. Akan tetapi, aku terima dengan lapang karena aku tidak mau pindah job lagi. Aku masih trauma dengan apa yang sudah aku lewati di majikan sebelumnya. Di sini, aku tidak diizinkan libur selain Hari Raya Idul Fitri. Aku tidak punya banyak teman. Akan tetapi aku sadar, tempat ini jauh lebih nyaman dan lebih baik dari tempat yang dulu. Setidaknya, aku masih bisa keluar rumah setiap waktu. Tidak terpenjara di rumah berlantai empat dengan satu pintu utama. Setidaknya, aku hanya tinggal dengan Nenek saja. Tidak merawat pasien yang gemuk dan Tuan yang bersikap kurang ajar terhadapku.

Permasalahan dengan Nenek membuatku kehilangan kesabaran. Nenek mengancam akan mengembalikanku pada agency. Kemarahannya setiap hari membuat emosiku pecah. Bahkan, untuk pertama kalinya aku berani berkata kasar di depan beliau.

“Kalau memang sudah tidak suka dengan saya, baik. Saya pun sudah tidak mau bekerja di sini.” Ketusku, tepat di depan wajah Nenek. Kuambil baskom air hangat dari kakinya dan kutinggalkan Nenek dengan kesal.

“Kamu tidak mau kerja di sini lagi? Baik. Saya akan bilang pada agency.” Jawab Nenek dengan suara menggelegar. Mirip petasan banting saat lebaran.

Aku masuk ke dalam kamar. Emosi menuntunku untuk berani. Berani demi keadilan. Selama ini aku merasa keadilan belum memihak kepadaku. Aku dipekerjakan di luar job dan tidak izinkan libur setiap bulan. Aku merasa lelah sekali. Bekerja di kebun bukanlah hal yang mudah. Aku harus bergelut dengan beragam macam sayuran dengan beragam macam ulat yang sering membuat tubuhku gatal. Belum lagi jika musim dingin tiba, aku harus kuat berada di luar ketika angin sedang kencang-kencangnya. Badanku mudah sekali droup. Tulang-tulangku terasa nyeri semua. Begitu pun musim panas. Aku harus merasakan panasnya sengatan matahari saat berada di kebun setiap sore. Tak jarang alergi kulit menyerang—yang membuat kulitku kemerahan dan teramat gatal. Inikah Formosa yang syahdu itu?

Aku menelepon 1955 yang merupakan layanan pengaduan 24 jam untuk buruh migran. Aku mengadukan pekerjaanku di luar job, padahal sebenarnya aku kesal gara-gara dituduh mencuri oleh Nenek. Aku emosi karena Nenek selalu marah-marah karena tuduhan yang tidak masuk akal. Selama satu minggu, aku menelepon dua kali berturut-turut. Setelah yang kedua kali itulah, pihak Depnaker datang ke rumah dan berbicara dengan Nenek. Nenek sangat terkejut dan tak mengira bahwa aku berani mengadu kepada mereka. Setelah berbicara selama 2 jam, pihak Depnaker memberiku pilihan. Aku memilih untuk pindah karena aku tidak mau lagi bekerja di kebun. Kulihat, Nenek tampak diam. Wajah sangarnya saat memarahiku lenyap ditelan perlawananku sore itu.

Beberapa hari setelahnya, aku, Nenek, Bossku, serta kedua menantu Nenek berkumpul untuk membicarakan permohonan pindahku. Menantu Nenek yang paling dekat denganku memintaku untuk tetap bekerja di sini. Sedang Bossku dan istrinya membujuk Nenek untuk berdamai denganku. Aku diberi waktu hingga selesai Chinesse New Year. Mereka juga memberiku izin libur satu kali setiap bulan, dan tidak memperkerjakan aku lagi di kebun belakang dekat persawahan. Hanya di kebun sekitar rumah milik Nenek. Aku menerimanya. Alasan utamaku masih sama, yaitu keluangan waktu yang memungkinkan aku untuk terus menulis dan menulis.

Empat bulan telah berlalu. Sejak kedatangan Depnaker, semuanya telah berubah. Bossku sangat baik. Keluarga Nenek semakin perhatian kepadaku. Pekerjaan semakin ringan kukerjakan. Dan Nenek, sikap beliau berubah 180 derajat. Beliau sangat lembut padaku. Bicara pun selalu hati-hati. Sangat jauh berbeda dari sebelumnya. Semua keluarga beliau pun sangat simpatik padaku. Berkah yang kudapatkan semakin melimpah. Nenek beserta keluarga besarnya mendukungku untuk terus menulis. Ya, mereka sudah tahu bahwa aku menulis novel selama setahun ini. Bahkan satu novel perdanaku dibawa pulang oleh Nyonya untuk dipajang di perpustakaan rumahnya. Itu sebuah kehormatan bagiku. Inikah Formosa yang syahdu itu?

Indah sekali. Taiwan kurasakan begitu indah saat ini. Selain dari pihak keluarga Nenek, aku pun mendapatkan banyak perhatian dan kasih sayang dari teman-teman baruku. Hal utama yang membuatku betah di negeri Formosa adalah dukungan serta do’a dari kedua Orangtuaku. Untuk adikku, demi anakku, dan untuk kesejahteraan Ayah Ibuku. Inilah keadilan. Keadilan yang keluar dari sebuah keberanian. Aku tak lagi kesepian. Aku bukan lagi buruh migran yang terkunci di dalam sangkar. Melainkan seorang perempuan yang memiliki mimpi seindah pancaran mentari setiap pagi. Aku, pahlawan devisa yang menikmati betapa syahdunya bumi Formosa yang kusinggahi saat ini. Bahkan, aku tak pernah berpikir, bahwa aku akan menjadi seorang novelis di negara ini. Di sini, Formosa. Kulabuhkan isi hatiku ke dalam ketikan jari-jari liarku setiap hari. Di meja kecil inilah kutumpahkan imajinasi-imajinasi ke dalam bentuk tulisan fiksi setiap malam. Ya, semuanya berawal di negeri ini. Bukan di tanah airku Indonesia, Singapura, atau Hongkong. Di kamar ini aku mulai menulis. Di sinilah awal hatiku bermuara. Muara hati Sang Novelis, Formosa.

Selesai.


📝 Komentar juri|Ratu Selvi Agnesia

Penulis yang menuliskan naskah ini memang sudah teruji secara kemampuan menulis sebagai penulis novel. Ia menuliskan peristiwa demi persitiwa hidupnya dengan mengalir dan terasa emosinya. Harga diri dan keberanian menjadi karakternya. Detail dalam menuliskan tanggal peristiwa juga menjadi point penting. Formosa memang telah menjadi inspirasinya dalam menulis.

 

📝 Komentar juri|Heru Joni Putra

Pengalam menjadi buruh yang berani melawan atas ketidakadilan bahkan selain bekerja sebagai buruh juga mencoba berkarya dengan membuat novel. 

發表迴響

你的電子郵件位址並不會被公開。 必要欄位標記為 *