Suara Hati

 2018 Babak penyisihan 印尼文初選  

📜 Suara Hati

👤 Didit

 

Bunyi suara burung gereja bersahut-sahutan di atas pohon pinus di samping jendela besi kamarku. Suara mereka seakan-akan menegur diriku, agar segera mengerjakan sebuah kewajiban kepada Tuhan-ku. Badan yang masih bersembunyi di balik selimut tebal, seakan terasa malas untuk dibangunkan. Karena sekarang ini, kebetulan udara dingin sedang menyelimuti alam Formosa. Namun, suara kicau burung gereja itu semakin terdengar nyaring seakan mengumandangkan “Ash-sholaatu khairumminaannaaaum” sholat itu lebih baik dari pada tidur.

“Dii…! Adii, chi chuang leh, ni mei you pai-pai? Suara A’an. Dia orang Taiwan yang kebetulan sekamar dan tidur di sampingku. Ia mencoba membangunkan diriku dengan sura pelan-pelan, sambil menggoyang-goyangkan tubuhku dengan tangannya. Karena tak ingin mengganggu teman yang lain, yang masih tertidur pulas, karena belum tiba waktunya untuk bangun.

Suasana musim dingin yang sekarang ini sedang melanda bumi Formosa, memang membuat setiap orang ingin selalu bersembunyi di dalam selimut tebalnya. Namun diriku mencoba dengan sebuah niat yang pasti, dan kuiringi dengan sebuah bacaan basmalla, Aku pun segera bangun, dan kuiringi pula dengan sebuah hamdallah. Karena Tuhan, ternyata masih menganugrahkan kehidupan hari ini pada diriku. Memang sebuah pekerjaan apapun jenis kegiatannya. Kalau diri kita akan melakukannya diiringi dengan sebuah niat yang pasti, maka diri kita akan terasa lebih bersemangat. Berbeda dengan niat yang hanya setengah-tengah saja. Pasti di dalam diri kita akan timbul sebuah perasaan malas, bahkan akan berakibat melemahkan semangat.

Akupun bangun dan mencoba mengintip langit yang masih tertutup awan hitam dari balik jendela besi kamarku. Di luar sana, sesekali angin dingin mengantarkan bau embun pagi. Sunyi pada pagi hari yang masih diselimuti oleh kabut putih. Seperti mengantarkanku ke dalam ruang sepi yang tidak dapat dilukis maupun diungkapkan dengan sebuah kata-kata

Bau embun pagi itu bertambah kuat, tatkala angin pagi berhembus lembut menerpa jendela besi kamarku. Akupun segera bergerak ke dinding sebelah dan bertanyamun untuk segera menjalankan kewajiban pada Tuhan-ku. Karena bagiku, bagaimanapun keadaanku, dan dimanapun aku berada, kewajiban merupakan sebuah pekerjaan yang harus aku tunaikan.

Di atas sajadah usang, aku bersujud berserah diri pada Tuhan. Mengharap ampunan dan kasih sayang-Nya, untuk membersihkan jiwaku yang kian semakin kelam. Aku semakin tenggelam dalam sujudku, berdo’a dan mengharapkan agar dapat mengarungi lautan cinta-Nya, serta mampu menerjang ombak dan badai ujian-Nya. Agar diriku dapat segera menuju ke pantai anugerah-Nya dan dapat segera berkumpul kembali bersama keluarga tercinta.

Cahaya pagi masih malu-malu menampakkan diri. Namun, aku masih duduk bersimpul di peluk dinginnya angin pagi. Jasad terpaku di atas sajadah usang, terasa ada kesangsian di jiwaku melumat serpihan pahit masa silam.

Delapan tahun yang lalu. Aku gendong sebongkah harapan dengan sayap keyakinan. Diriku mencoba untuk mengadu nasib dengan menjadi salah satu buruh migran ke negeri orang. Berharap dapat merubah masa depan yang lebih baik dan bahagia. Walau berat rasanya diriku dapat merubah perekonomian keluarga. Bahkan sebagai bekal untuk membina sebuah keluarga baru dengan kekasihku tercinta.

Aku sadar. Siapapun orangnya yang hidup di permukaan bumi ini. Mereka tentu mendambakan sebuah kehidupan yang layak dan bahagia. Tak ada seorangpun di dunia ini yang ingin hidupnya melarat atau miskin, hingga melata di jalan-jalan. Bahkan tidak ingin pula hidup dari ludah dan sampah serta cacian dan hinaan orang lain.

Hanya perlu kita sadari. Bahwa untuk dapat hidup berkecukupan, diri kita harus mengimbanginya dengan pengetahuan dan hakekat dunia. Artinya, kita harus bekerja dengan benar dan semangat serta selalulah mengingat Tuhan, Sang Pemberi Kehidupan. Jangan sekali-kali diri kita menjadikan dunia segala-galanya dalam menumpuk materi sebagai kebanggaan. Melainkan memandang, materi adalah sebagai titipan semata-mata dari Tuhan. Sebab, daya pikat dunia ini sungguh sangat luar biasa.

Namun setelah diriku sampai di negeri seberang. Ternyata, keberuntungan itu belum berpihak pada diriku. Bahkan tak kusangka di negeri tempat diriku melabuhkan harapan. Aku malah tersangkut masalah hukum, yang mana belum pernah sama sekali diriku lakukan selama hidupku. Waktu itu, diriku sungguh hanya dikuasai oleh sebuah amarah yang tidak terkendali, hingga membuat diriku khilaf.

Kini sebuah penyesalan pun selalu datang menyelimuti ruang hati. Kadang diriku sering bertanya pada diriku sendiri. Kenapa waktu itu diriku harus melakukan perbuatan dosa yang hanya akan menghancurkan masa depanku? Kenapa pula diriku harus menuruti sebuah emosi yang tiada guna dan artinya? Benar juga orang bijak berkata, “Sebuah perkara apabila diiringi dengan sebuah perasaan emosi, maka perkara tersebut tidak akan bisa menjadi lebih baik. Malahan emosi itu akan menimbulkan sebuah perkara baru.”

Tett…tett…tettt…! Pukul 06.30 pagi. Bunyi suara bel nyaring membelah perkampungan zona damai. Ini pertanda, bagi orang-orang yang menjadi penghuninya, agar segera bangun dari lelapnya tidur. Bahkan yang sedang bermimpi indahpun harus segera diputusnya, bila tidak ingin mendapat sebuah sanksi. Akupun segera bangun dan menggulung sajadah usangku.

Setelah mencuci muka dan menggosok gigi. Aku segera duduk berbaris untuk berhitung dan mengucapkan selamat pagi pada petugas penjaga kamar yang piket hari ini. Selesai berhitung , aku duduk bersandar di dinding bisu. Aku dan teman-teman yang lainnya pun saling bicara , sambil menunggu jatah sarapan pagi kami datang. Pukul 7:10 adalah waktu untuk pembagian jatah makan pagi dimulai .

“Hai… Adi. Hari ini sekitar pukul sembilan, kita nanti akan pergi ke aula untuk melihat acara hiburan menyanyi. Jadi sehabis makan nanti, barangkali kamu ingin buang air besar, ya buang air besar dulu di sini atau nanti di pabrik. Agar ketika waktu acara nanti tidak mengganggu.” Kata A’an. Ia mencoba menasehati diriku.

Memang di dalam perkampungan zona damai yang sekarang ini aku tinggali, dua atau tiga tahun sekali akan mengadakan sebuah acara hiburan. Biasanya dalam acara tersebut,  akan diisi oleh para penyanyi dari luar dengan disertai pembicaraan inspirasi atau motivasi. Mungkin dari pihak pengurus perkampungan zona damai ini berharap, agar para penghuninya bisa sedikit terhibur. Bahkan bisa memberikan sebuah bara motivasi, agar jiwa kami tidak mudah layu dalam menjalani hidup sebagai seorang penghuni zona damai. Dan berharap agar keluarnya dari tempat ini kami bisa merubah sifat dan perilaku buruk kami.

Teettt…!!! Bunyi suara bel berbunyi lagi.  Ini bertanda Jam sudah menunjukkan pukul 08.00. Berarti aku dan teman-teman yang lainnya bersiap-siap keluar kamar untuk pergi ke pabrik. Pabrik yang saya tempati adalah sebuah pabrik pembuatan tas yang berbahan kertas. Memang Setiap hari saya dan teman yang lainnya di pabrik melakukan aktivitas kerja. Tapi pekerjaan kami tak ada gajinya. Namun bagiku pekerjaan itu sangat menyenangkan. Karena dengan adanya sebuah kegiatan,  aku merasa hari-hariku terlewatkan dengan begitu cepat.

Hari ini langit di atas sana hanya diselimuti oleh awan mendung.  Bahkan rintik-rintik air hujan, jatuh membasahi lantai bumi Formosa. Hingga membuat Hawa dingin terasa menusuk tulang. Namun,  para pengisi dalam acara tersebut menunjukkan sedikitpun rasa putus asa di dalam diri mereka. Walau dengan cuaca yang dingin seperti di dalam ruangan pendingin makanan. Malahan Mereka bernyanyi lantang dan berkobar-kobar seperti apa yang selalu dikasih kayu bakar.  Aku merasa sangat senang dan bahagia dengan adanya acara seperti ini. Aku pun selalu memberikan tepuk tangan dengan rasa semangat, bilamana pengisi acara itu telah selesai menyanyi.

Namun dikala cara pengisian tentang inspirasi atau motivasi. Kegembiraan ku perlahan-lahan hilang Seperti embun yang terpanah matahari. Di dalam isi pembicaraan itu,  sang pengisi acara memberikan sebuah nasehat. Agar kami selalu menyayangi dan mencintai kedua orang tua yang telah merawat dan melahirkan kita. Jangan sampai diri kita melukai dan membuat hatinya sedih, bahkan berbuat kasar kepadanya. Orang tua adalah sosok pelita dalam kehidupan yang dapat menerangi dan menghangatkan diri kita.  Kata-kata pengisi acara itu, sungguh bagaikan gulungan gelombang yang datang dan menghantam dadaku.

Tak terasa mendung Yang kulihat tadi menyelimuti langit di atas sana.  Kian mendung itu seakan menghampiri dan menyelimuti diriku. Hingga butir bening keluar dari kedua mataku, mengingat akan ibundaku yang kini seorang diri di pondok tua. Bahkan usianya kini semakin menuju ke warna senja karena masa terus berlari. Sedangkan bapak, beliau sudah setahun yang lalu telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa.  Mengingat ibunda aku yang kini seorang diri, hatiku sungguh terasa perih, seakan teriris iris oleh sebuah belati kerinduan.

Jam menunjukkan pukul 11.30, dan acara ini pun berakhir. Aku dan teman-teman yang lainnya kembali lagi ke pabrik dan menunggu untuk makan siang. Dan Nanti sekitar pukul 13.00, akan dimulai lagi rutinitas seperti biasa yaitu bekerja membuat tas sampai pukul 15.00.  Setelah pekerjaan selesai barulah kami mulai mandi dan mencuci baju.

Pukul 17.00 sore, warna senja sudah semakin jauh bergerak ke arah barat. Itu pertanda akan mengantarkan sang malam untuk menyelimuti alam Taiwan. Setelah acara makan sore tadi, aku dan teman-teman yang lainnya bersiap-siap untuk meninggalkan pabrik, dan pulang untuk menuju ke kamar masing-masing.

Di dalam lorong yang gelap. Berderet kamar-kamar yang berukuran 3 kali 4 meter, dengan balutan jeruji kokoh sebagai ventilasi udara pengap. Aku dan teman-teman yang lainnya memasuki kamar tersebut untuk beristirahat. Guna mengumpulkan tenaga kembali untuk menjalankan aktivitas di esok hari.

Di langit awan hitam bergerak kencang seperti gulungan ombak yang mencari tepian pantai yang tidak berpenghujung. Selesai menjalankan kewajiban pada Tuhan-ku. Aku duduk bersandar di dinding bisu sambil membaca sebuah buku. Di barisan nomor 3 sebelah kananku, ada seorang lelaki yang berumur 50 tahunan. Dia baru beberapa bulan sekamar denganku. Lelaki itu duduk termenung bersandar di dinding, seakan ada kesangsian di dalam jiwanya. Wajah lelaki itu muram, seakan menahan sebuah luka yang begitu dalam.

Gelap malam yang menyelimuti perkampungan zona damai, seakan mengejek para penghuninya. Bahkan dinginnya angin malam, kini semakin menyelimuti alam di pinggir zona damai. Tuan Ming,  lelaki itu punya nama. Dia masuk ke dalam perkampungan zona damai ini karena tersangkut kasus korupsi. Dia baru saja menjalani 5 tahun kurungan, dari masa 25 tahun yang harus dijalani. Dulu dia berada di pabrik lain, namun karena dia melakukan sebuah pelanggaran, akhirnya dia terlebih dahulu dimasukkan ke dalam ruangan pelanggaran. Selesai menjalani masa di dalam ruangan pelanggaran Ini dia satu pabrik denganku.

Lelaki itu kelihatan muram dan terlalu bersedih. Di raut wajahnya seakan-akan tak rela atas kejadian yang kemarin menimpanya. Karena hari kemarin dia harus menandatangani surat cerai dari istri yang sangat dia cintai.  Memang zaman modern sekarang ini telah banyak merubah watak dari manusia. Mereka menganggap perkawinan hanyalah bagian dari sebuah permainan di dunia ini. Bilamana sudah merasa bosan, bahkan tidak sanggup lagi untuk membeli sebuah materi. Maka, perceraianlah ajaran yang akan diambilnya.

Tuan Along, yang sudah 3 tahun menjadi kepala kamar mencoba mendekati Tuan Ming. “ Sudahlah jangan terlalu dipikirkan orang yang telah pergi, biarkan saja dia memilih jalannya sendiri. Tak usahlah terlalu bersedih namun berusahalah untuk bersabar dan ikhlas.” katanya sambil mengulurkan sebatang rokok dan memberikannya pada Tuan Ming.

“Aku sungguh tak menyangka kalau Istriku yang dulu sangat kumanja, kucintai dan kusayangi, akan begitu teganya melakukan perbuatan seperti itu, di saat aku sedang butuh semangat dan kasihnya,”  kata Tuan Ming.

“Namanya juga manusia, dimanapun makhluk yang bernama manusia, kalau dia selalu mengikuti hawa nafsunya, pasti di dalam jiwanya tak akan pernah merasa puas. Apalagi zaman sekarang, kebanyakan orang hanya ingin senangnya saja. Mereka seakan tak mau ikut menderita bersama orang lain walaupun orang tersebut telah berkorban banyak untuknya.” kata A’an, menimpalinya.

“Hidup kurasakan sangat menderita dan mengecewakan. Kini tak ada lagi yang peduli denganku. Istri sekarang sudah pergi, anak-anak sendiri pun sekarang sudah jarang datang menjengukku,” suara Tuan Ming, terasa getir sambil pandangan matanya diarahkan ke langit-langit kamar.

“Ah…, jangan terlalu berpikir yang tidak-tidak. Mungkin anak-anak Tuan Ming, mereka di sana sedang sibuk. Jadi, belum ada waktu untuk datang berkunjung.” Kata A’an lagi.

Di luar sana, sang malam semakin mengepakkan sayap-sayap kelamnya. Suara jangkrik dan serangga malam pun terdengar, seakan-akan menguasai suasana malam.

“Sebenarnya, aku pun sama sedihnya dengan Tuan Ming. Anak saya dua orang, mereka pun sudah pada besar dan sukses dalam kerjanya masing-masing. Biarkan saja jika mereka sudah tidak ingat dengan kita yang sekarang berada di sini. Namun, kita sebagai orang tua, tetaplah harus selalu memberi do’a kepada mereka. Agar mereka di sana selalu sehat dan lancar dalam melakukan segala aktivitas kerjanya. Dan, syukur-syukur suatu hari nanti, mata hati mereka bisa terbuka dan ingat pada kita yang sebagai orang tuanya. Bagaimanapun juga mereka tetaplah darah daging kita.” Kata Tuan Along, ia mencoba untuk menghibur hati Tuan Ming. Walaupun sebenarnya hatinya sendiri juga merasa getir.

“Sudahlah Tuan Ming, benar juga kata Tuan Along. Kita sudah berusaha bertanggung jawab dari amanah yang Tuhan berikan pada kita. Sekarang mereka sudah besar dan dewasa, tentunya di hati mereka sudah mengerti mana yang baik dan yang buruk. Biarkan saja mereka menikmati jalan kehidupannya. Mereka mau datang atau tidak untuk menjenguk kita, itu terserah dari mereka. Apapun yang telah terjadi, kita memang harus bertanggung jawab atas segala khilaf yang telah diperbuat oleh diri kita. Jangan terlalu terlarut dalam kesedihan. Percayalah, suatu hari nanti kita pasti bisa keluar dari lorong gelap ini.” Kata A’an, yang duduk di sampingku dengan rasa percaya diri.

“Benar juga kata kalian. Seburuk dan sebaik apapun, mereka semua tetap anak-anak kita.” Kata Tuan Ming, dengan nada pasrah.

Sejujurnya, saat saya mendengar pembicaraan mereka. Hatiku sendiripun merasa terasa sakit, seakan teriris-iris. Karena aku di sini hanyalah orang asing yang jauh dari keluarga. Bahkan harus mendekam dalam lorong gelap ini bersama mereka. Jangankan orang tua atau saudara datang menjenguk diriku. Sesurat kabar pun tak pernah aku terima dari mereka. Namun diriku di sini selalu berusaha untuk memahami dan menyadari. Karena jarak antara Indonesia dan Taiwan, bukanlah sebuah selat yang memisahkannya. Namun, sebuah samudera biru yang membentang luas, memisahkan antara Indonesia dan Taiwan.

Ha…! Biarlah aku belajar untuk lebih bersabar dan ikhlas dalam menjalani semua ini, karena aku sendiri yang bersalah. Aku sadari saja, mungkin semua ini sudah menjadi garis takdir hidupku. Sekarang yang terpenting, aku harus banyak berdo’a dan selalu mendekatkan diri pada Tuhan. Agar ibunda yang sekarang masih ada di dunia ini, mudah-mudahan dia selalu sehat dan selalu dalam lindungan-Nya. Semoga pula ada sebuah keajaiban dari Tuhan, agar diriku bisa secepatnya keluar dari lorong gelap ini. Agar diriku bisa bertemu dan berkumpul kembali dengan beliau. Karena diriku ingin sekali, bisa menjaga dan merawat beliau di usia senjanya.

Biarlah semua ini aku jalani sebagai pembelajaran dan ujian bagiku. Yang terpenting diriku di sini jangan sampai bersedih bahkan putus asa. Karena putus asa tidak akan memberi manfaat apapun, bahkan tidak dianjurkan oleh Tuhan. Sesuai dengan firman-Nya, “Dan, janganlah kamu bersikap lemah dan jangan (pula) bersedih hati.”

Pagi hari, dalam sepoi angin pagi yang dingin, membisikkan sebuah lara dan duka yang terjadi di dalam perkampungan zona damai. Aku dan teman-teman lainnya, dikejutkan oleh suara Tuan Along. Dia berteriak-teriak memanggil petugas penjaga kamar. Ternyata, Tuan Ming. Dia telah meninggal di lorong gelap perkampungan zona damai ini, tanpa kehadiran anak-anaknya. Rupanya. pembicaraan semalam adalah pembicaraan dia untuk yang terakhir kalinya di dunia yang fana ini.

Aku sungguh tak menyangka kalau Tuan Ming, akan mengambil jalan pintas seperti itu. Dari kabar berita yang aku dengar, kematian Tuan Ming disebabkan karena overdosis. Dia telah memakan obat tidur terlalu banyak, yang telah dia simpan dan menyembunyikannya. Tanpa sepengetahuan dari para petugas sipil maupun kami yang sekamar dengannya.

Yaa…! Inilah suara hati dari lorong gelap penghuni perkampungan zona damai. Mereka merindukan akan kehadiran sebuah kasih sayang dan perhatian, dari orang-orang yang sangat dicintai dan disayanginya. Karena mereka tentunya sama seperti diriku, yang kini merasakan betapa rindunya pada orang tua dan saudara. Entah sampai kapan, rasa rindu yang sudah mengakar kuat di dalam hati ini baru bisa terobati? Karena sampai sekarang ini, rasa rindu itu masih menggema di dalam lorong gelap perkampungan zona damai ini, tanpa adanya sebuah jawaban.

Dua hari setelah kejadian tersebut, aku mencoba merangkai sebuah puisi yang kuberi judul,

“Hidup di ambang antara.”

Di luar sana dunia begitu sangat indah

    namun, kenapa duniaku begitu terasa hampa dan gelap glita

         tak ada setitik cahaya sinarpun yang dapat menembus untuk

              menyinarinya.

Hidup sebagai seorang nara pidana

    sungguh bagaikan hidup di ambang antara

         waktu yang berjalan hanya berlalu sia-sia.

Setiap hari hanya bertemankan dengan sebuah kesunyian

    bahkan kadangkalanya sebuah kerinduan,

         kejenuhan,

              kekhawatiran dan

                   keputus-asaan

                        mereka datang dengan cara bersamaan menguasai jiwaku

                             hingga akhirnya, mereka berusaha meporak-porandakan

                                  pondasi keimananku.

Dikala pondasi keimananku mulai runtuh

    diriku berusaha sekuat tenaga untuk membangunnya kembali

         kudekatkan diriku dan bersujud kepada-Nya.

Tuhan…!

    diriku sungguh lelah dengan cobaan-Mu ini

         kumohon kepada-Mu

              akhirilah penderitaanku ini

                   rubahlah harapan yang selalu ada di jiwaku

                        menjadi sebuah lentera yang membawa sebuah kehangatan

                             sehangat mentari pagi dari bentangan bukit timur sana.

 

THE END


📝 Komentar juri|Ratu Selvi Agnesia

Tulisan tangan dari perkampungan zona damai sebagai sebuah metafora untuk “penjara” yang ditulis oleh Adi. Kisah ini sangat mengharukan. Semenjak awal, tulisan ini telah menarik saya untuk memasuki ruang di mana manusia harus belajar untuk kuat menerima, menyadari dan menebus kesalahan masa lalunya. Dengan penulisan yang baik, Adi mampu merefleksikan rasa ketidakbergunaan, kesepian, aktivitas yang rutin di penjara yang berakumulasi dengan harapan. Menariknya, dalam tulisan tangan ini, ia tidak memberi porsi banyak tentang dirinya. Justru dia lebih mengisahkan pada detail ruang, aktivitas dan kisah kawan-kawannya melalui berbagai perbincangan yang ia resapi di perkampungan zona damai. Termasuk kisah bunuh diri Tuan Ming di akhir cerita karena diceraikan oleh istrinya. Melalui tulisan ini, saya sebagai pembaca belajar, bila kita tidak boleh sama sekali meremehkan jiwa, sama halnya meremehkan cinta. Melalui kisah ini, pembaca bisa belajar melihat sisi lain dari manusia yang dianggap sebagai sampah masyarakat. Ternyata, mereka tetap manusia yang memiliki suara hati. Suara jiwa yang gelap dan mendalam di perkampungan zona damai meskipun “hidup diambang antara” seperti puisi penutup kisahnya.

 

📝 Komentar juri|Heru Joni Putra

Kisah yang mengharuskan tentang suara dari dalam penjara. Kisah buruh yang jadi korban perdagangan manusia. 

發表迴響

你的電子郵件位址並不會被公開。 必要欄位標記為 *