CATATAN PENGANTIN ASING

 2018 Babak penyisihan 印尼文初選  

📜 CATATAN PENGANTIN ASING

👤 Wahyu Saputro

 

Perempuan itu bertubuh kurus, sorot matanya terlihat redup dengan bingkai kelopak mata yang cekung. Ia mengikat rambut panjangnya yang bergelombang dengan model kucir kuda. Kulitnya sawo matang khas kulit perempuan Indonesia. Aku sering mendapatinya mengantarkan kotak-kotak pientang di warung Indonesia yang menjadi langgananku. Aku bertanya pada pemilik warung perihal dirinya. Pemilik warung itu hanya mengatakan bahwa ia adalah orang Indonesia yang dinikahi orang Taiwan tapi sekarang sudah menjadi janda. Tidak ada keterangan lain yang aku peroleh dari pemilik warung. Entah kenapa, ada rasa penasaran dalam hatiku untuk mengenalnya lebih jauh.

Aku bekerja sebagai jurnalis pada sebuah majalah berbahasa Indonesia yang berbasis di Taiwan. Walaupun dengan sistem kontrak, tapi aku cukup senang dengan pekerjaan ini. Hobiku menulis mengantarkan aku menjadi jurnalis dan membuatku bisa berkeliling berbagai tempat sesuai dengan penugasan kantor pusat tentu saja. Sebuah kebetulan aku mempunyai relasi dengan pengusaha keturunan Taiwan, yang kemudian menawari aku untuk bekerja di redaksi majalah yang akan dia dirikan. Pekerjaanku membantu memberi pelatihan pada kontributor-kontributor yang mayoritas adalah buruh migran dan mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di sana. Yup, menulis bisa menjadi pekerjaan sampingan bagi mereka. Relasi pertemanan ini juga lahir karena artikel pengusaha tersebut yang pernah aku tulis di media tempatku bekerja. Atas ijin kantor pusat, aku terbang ke Taiwan dan bekerja pada relasiku. Namun kantor pusat tidak begitu saja meluluskan permohonanku, mereka memintaku menjadi jurnalis khusus untuk berita luar negri khususnya Taiwan.

Naluri jurnalisku berbisik, ada sesuatu yang terjadi dengan perempuan kurus berambut gelombang itu. Maka setelah menyantap pientang makan siang, aku lekas-lekas beranjak dari warung dan mengikuti kemana perempuan itu pergi dengan motor matick aset dari kantor. Namun ada dejavu pula yang membuat rasa penasaranku terhadap perempuan ini begitu tinggi. Aku seperti sudah mengenal dan bertemu dengannya.

Aku menyalipnya, dan memberanikan diri menghentikan laju motor maticknya dengan berhenti tepat di depannya. Ia cukup terkejut, dan mengerem motor maticknya dengan cukup keras sampai menimbulkan suara berdecit. Ia turun dari motor dan mendatangiku dengan raut muka marah. Aku tahu telah bersalah dengan tiba-tiba berhenti memotong laju motornya, maka aku segera minta minta maaf sebelum ia sempat bicara.

“Mohon maafkan aku telah menghentikan perjalananmu dengan cara seperti ini, tapi bolehkah aku berbicara denganmu Nona”?

Ia nampak terkejut melihatku berbicara dengannya dengan bahasa Indonesia. Namun aku juga tak kalah terkejutnya ketika berhadapan dengan perempuan itu dalam jarak dekat, berbeda dengan ketika aku mengamatinya di warung yang hanya bisa memandangnya sekilas-sekilas. Aku mengenali sebuah bandul dari kalung yang manggantung di lehernya. Bandul kayu berbentuk oval dengan ukiran gambar tokoh wayang Srikandi. Meskipun ada ratusan bandul kalung dengan motif yang sama, tapi aku tidak akan lupa dengan bandul kalung ini.

“Mandalika…” Aku bergumam lirih.

Perempuan itu mematung seketika berhenti demi mendengar sebuah nama yang aku sebut barusan. Namun sesaat kemudian ia tersadar dan bertanya padaku

“Kakak siapa?” tanyanya penuh selidik.

“Bisakah kita mencari waktu untuk bicara?” aku menawarkan sebuah pertemuan dengannya.

“Mari ikut saya ke rumah, Kakak bisa datang ke rumahku sebagai kawan.”

Ia kemudian kembali menaiki motor maticknya, dan melaju membelah jalanan yang ada di tepi kota Yilan. Setelah beberapa menit perjalanan, kami sampai di rumahnya. Rumah yang terpencil, di sekelilingnya hanya ada sawah, kebun sayur dan kandang babi. Ada rumah-rumah yang lain, tapi jaraknya lumayan jauh.

“Aku tinggal di sini, Kak. Silakan masuk.” Ia mempersilakan aku masuk di bangunan rumah berlantai dua yang nampak sudah tua. Meskipun dari luar terlihat tua, tapi dalam ruangan rumah nampak tertata rapi. Ornamen-ornamen tua di dalam rumah menjadikannya terlihat klasik namun elegan. Perempuan itu masuk ke ruangan dalam dan keluar lagi membawa dua cangkir minuman dan toples biscuit. Tak ada ruang tamu di sini, hanya ada dua buah kursi kayu dan sebuah meja kecil yang diletakkan di sudut ruangan di samping pintu masuk. Ia meletakkan cangkir minuman dan toples biskuit itu di meja kecil tersebut, lalu mempersilakan aku duduk.

“Aku benar-benar minta maaf atas ketidak sopananku mengganggu perjalananmu tadi.” Aku berusaha membuka percakapan.

“Tidak apa-apa, tapi aku memang benar-benar terkejut tadi.” Balasnya.

Ia lalu melepas kalung berbandul wayang Srikandi itu dari lehernya.

“Apakah Kakak benar-benar mengenali ini?” Ia bertanya padaku sembari menunjukkan kalung itu padaku.

Aku menerima kalung itu, dan mengamatinya lekat-lekat. Dan aku benar-benar yakin jika ini adalah “Mandalika”, sebuah kalung yang pernah aku berikan pada seorang gadis kecil ketika aku bertugas menjadi jurnalis di Jepara sepuluh tahun yang lalu. Mandalika adalah sebuah pulau kecil yang berada di sebelah utara pulau Jawa. Aku sering pergi ke pulau ini untuk menyendiri, mencari inspirasi untuk menulis. Aku biasa berangkat ke pulau ini dari desa Ujung Watu, dan menyewa perahu nelayan untuk pulang pergi. Pak Maksum adalah nelayan yang telah menjadi langgananku, perahunya biasa aku sewa setiap kali aku ke pulau ini. Kadang ia mengantarku, tapi kadang aku dibiarkannya berlayar sendiri dengan perahu tempel miliknya. Beberapa kali menyewa perahunya, ia mengajariku bagaimana mengemudikan perahu dengan baik. Pak Maksum adalah nelayan kecil yang hanya menggantungkan hidupnya dari ikan tangkapan. Ia mempunyai dua orang anak kembar. Namun hanya satu anak saja yang hidup bersamanya, sedang satu anaknya yang lagi dirawat oleh orang lain. Dengan pemasukan sebagai nelayan kecil, ia tak sanggup untuk menghidupi dua anak sekaligus. Kalung itu, kuberikan pada anak Pak Maksum ketika pekerjaanku di Jepara hampir berakhir, dan aku harus berpindah kota lagi. Aku berikan kalung itu sebagai kenang-kenangan. Aku membeli kalung dengan bandul kayu ukiran tokoh wayang Srikandi, dan menambahi ukiran nama Mandalika di bawahnya. Nama pulau yang sering aku kunjungi dan kebetulan nama itu sama dengan nama anak Pak Maksum.

Aku menatap wajah perempuan itu, sekilas aku melihat kemiripan dengan Mandalika kecil.

“Bagaimana kalung ini bisa ada padamu?” tanyaku.

Perempuan itu menghela napas panjang. Ia lalu duduk menyandarkan kepalanya pada tembok di belakangnya, dan menerawang ke langit-langit.

“Panjang ceritanya, Kak. Jika kakak memberikan kalung ini kepada Mandalika, tentu kakak pernah dekat dengan keluarga kami. Aku adalah Mandalih, kembaran Mandalika. Kakak tentu sudah tahu kalau Lika punya saudara kembar, bukan?”

Aku menjawabnya dengan anggukan, tapi ia tak menoleh padaku. Perempuan itu lalu melanjutkan ceritanya.

“Kira-kira lima tahun yang lalu, orang tua angkatku menikahkanku dengan seorang pemuda dari kampung tetangga. Mereka menikahkanku setelah punya anak sendiri. Karena aku sudah tidak diperlukan lagi di rumah itu. Selama menjadi anak angkatnya, aku tak lebih dari sekedar pembantu yang mengurusi semua keperluan rumah tangga mereka. Mereka bilang itu adalah harga yang harus kubayar atas kebaikan hati mereka merawat dan menyekolahkanku. Aku dinikahkan oleh mereka tepat setelah lulus dari SMP, bahkan ijazahku belum sempat aku ambil. Sebab mereka tak mau menanggung hidupku lebih lama lagi.”

Ia kemudian diam sesaat, tangannya terulur ke meja dan mengambil cangkir the lalu menyeruputnya pelan.

“Mandalika menghadiahkan kalung ini kepadaku di hari pernikahanku. Meskipun Bapak kandungku tahu, dan tidak menginginkan pernikahan itu terjadi, tapi toh beliau tetap tak bisa berbuat apa-apa. Sebab beliau sudah kehilangan hak atas diriku semenjak menyerahkan aku untuk diadopsi. Tapi Bapak dan Mandalika tetap datang memberikan doa restu.

Suamiku berusia sepuluh tahun lebih tua dariku, dia dua puluh enam dan aku masih enam belas tahun waktu itu. Dia tidak punya pekerjaan tetap, namun karena keluarganya termasuk orang terpandang dan menjadi juragan garam, jadi dia selalu santai dengan hidupnya. Lebih banyak bersenang-senang dengan teman-temannya, berjudi, main di tempat karaokean dan pulang dalam kondisi mabuk. Setatus istri buatku hanyalah sebatas catatan KUA, faktanya hampir sama dengan apa yang terjadi padaku di tempat orang tua angkatku. Di rumah suamiku aku menjadi pelayan rumah tangga untuk keluarganya, dan pelayan seks di malam hari untuk suamiku.

Keluarga suamiku mengalami kebangkrutan ketika harga garam merosot tajam. Benda-benda berharga mereka jual untuk menutupi hutang, termasuk diriku.”

Ia memejamkan matanya sejenak sebelum melanjutkan kisahnya kembali.

“Awalnya aku tidak tahu kalau suamiku menjualku. Aku hanya tahu kalau ia menyuruhku bekerja ke luar negri biar dapat uang yang banyak dan membantu keluarganya membayar hutang. Aku mengetahui hal itu ketika aku sudah berada di Taiwan. Orang yang aku anggap agen penyalur tenaga kerja itu menuntutku agar cepat bisa berbahasa dan menulis Mandarin. Ia memberiku guru khusus, dan aku harus belajar setiap hari, selain juga harus membantu pekerjaan rumah tangga di rumahnya. Satu bulan kemudian pernikahanku didaftarkan. Dari situ aku baru tahu kalau suamiku telah menjualku kepada calo.

Apakah aku punya dua suami? Apakah aku melanggar hukum agama? Aku bahkan tidak paham itu semua. Semua pernikahan yang aku lakukan bukan atas kehendak diriku. Orang-orang itu menganggap aku hanya sebagai barang yang bisa dijual atau digadaikan Aku bahkan tidak punya kuasa atas diriku sendiri semenjak aku dilahirkan.

Setelah menikah, aku tinggal dengan suami. Walau statusku adalah istri sahnya, tapi aku tetap seorang pelayan di rumah ini. Aku dicarikan pekerjaan olehnya sebagai pemetik daun teh. Tapi uang dari hasil kerjaku seluruhnya diambil oleh dia. Aku bahkan tidak menerima sepeserpun. Selama tiga tahun aku hanya menjadi robot penghasil uang baginya. Katanya ia telah membeliku dengan mahal, dan aku harus memberinya keuntungan.”

“Apakah kamu tidak pernah berusaha melaporkan apa yang terjadi padamu kepada polisi atau perwakilan pemerintah Indonesia?” tanyaku.

“Bagaimana mau melapor, Kak… aku bahkan tidak tahu tinggal di mana, siapa yang harus aku hubungi jika aku meminta bantuan. Suamiku selalu mangantar dan menjemputku ketika bekerja. Pemilik perkebunan teh adalah teman baiknya. Aku tidak diberi hand phone, jadi aku tidak tahu harus mengadu pada siapa?

Jikapun aku mengadu, lantas jik aku dipulangkan ke Indonesia, aku harus pulang kepada siapa? Pulang kepada suami yang telah menjualku, atau pulang kepada orang tua yang telah membuangku? Kedua-duanya bukan tujuan tepat untuk tempat pulang, Kak.” Ia berkata dengan suara berat dan tertahan.

“Lantas, dimana suamimu sekarang?”

“Dia meninggal beberapa waktu yang lalu dalam peristiwa ledakan tabung gas di Kaohsiung. Saat itu ia kebetulan sedang mengunjungi rekan kerjanya di Cianjhen.”

“Lalu, apa yang terjadi denganmu setelah itu?”

“Entah aku harus bersyukur atau bagaimana dengan kematiannya. Faktanya aku tidak merasakan kesedihan setelah dia pergi. Tapi Tuhan ternyata tidak membiarkan aku sendiri. Ternyata aku hamil anak suamiku, dan sangat kebetulan anak ini adalah laki-laki.” Dia diam sejenak dan mengambil kembali cangkir teh di sampingnya. Sedangkn aku, bahkan belum menyentuh cangkir teh yang disediakannya itu sejak tadi.

Setelah meneguk teh di cangkirnya, ia melanjutkan cerita kembali.

“Semula keluarganya menolak kehadiran anak ini, mereka berpikir anakku bukan darah daging mereka. Namun setelah anakku lahir dan dilakukan tes DNA dan hasilnya positif, baru mereka bisa menerima dan bahkan mengambilnya dariku.”

“Apa maksudnya mereka mengambilnya darimu?” tanyaku cepat.

“Bagi orang mereka, keturunan laki-laki dari anak laki-laki adalah harta, karena ia nantinya yang akan meneruskan marga keluarga. Suamiku adalah anak laki-laki satu-satunya di keluarganya, jadi ketika suamiku meninggal mereka sangat kehilangan dan terpukul. Sebab mereka bukan saja kehilangan anak tapi juga kehilangan penerus marga.”

“Lantas dimana anakmu sekarang?”

“Mereka mengambilnya dariku setelah mengetahui hasil tes DNA. Sebagai imbalannya mereka memberiku rumah tua ini untuk aku tinggali. Dan sejak itulah aku tinggal di sini. Sedangkan anakku, mereka tinggal bersama kakek neneknya di Taichung. Dan aku tidak diijinkan sering-sering mengunjunginya. Untuk menyambung hidupku sehari-hari, aku membuat pientang yang aku titipkan di warung-warung Indonesia yang ada di Yilan. Termasuk warung yang sering kakak singgahi.”

Aku mendengarkan dengan khidmat seluruh cerita yang disampaikan oleh Mandalih. Akupun juga menanyakan apakah ia tidak ingin menuntut hak atas anaknya, agar ia bisa mengasuhnya sendiri. Ia ingin, tapi tidak tahu bagaimana caranya dan gamang dengan masa depan anaknya jika ia nekat mengasuhnya. Mandalih sendiri sudah pesimis dengan garis hidupnya, yang selama ini hanya menjadi objek bagi kepuasan dan keuntungan orang lain yang dengan jahat telah memanfaatkannya. Ia merasa tak punya hak dan kendali atas dirinya sendiri. Bahkan ketika ia mengandung anak dengan rahimnya, dan ketika anak itu lahir, ia pun tak punya kuasa atas anaknya sendiri. Aku berpamitan dengan Mandalih setelah meneguk habis teh yang telah disediakannya. Teh yang sudah dingin itu terasa pahit dan menyekat tenggorokan. Tapi aku pikir ini bukanlah karena rasa pahit dari teh itu, melainkan karena kisah Mandalih yang barusan aku dengar.

Aku memacu pelan motor matick asset dari kantor itu. Tujuanku selanjutnya adalah pelabuhan ikan Nanfangao, Su’ao. Aku mendapat kabar jika besok hari Minggu akan ada rombongan ormas dari Indonesia yang akan berkunjung ke Yilan dan menemui para ABK dari Indonesia. Maka aku harus tiba di sana sebelum rombongan itu datang. Sebab tugas meliput bukan saja datang dari kantor redaksiku di Taiwan, tapi juga redaksiku di Indonesia. Bekerja dengan dua redaksi yang berbeda sebenarnya menyalahi kode etik. Namun aku sudah menjelaskan hal ini pada relasiku, pengusaha Taiwan itu, bahwa ini akan menjadi konsekuensinya ketika ia memilihku menjadi salah satu tim redaksi di majalahnya. Dan ia memang tidak keberatan. Karena tugasku memang lebih banyak ke edukasi kontributor daripada liputan lapangan.

***

Sudah hampir satu bulan sejak pertemuanku dengan Mandalih. Aku aktif berkomunikasi dengannya sejak itu. Menanyakan bagaiman keadaannya dan apa yang bisa aku bantu untuknya. Aku berusaha menjadi teman yang baik untuknya, sebab aku pikir hanya itu yang bisa aku lakukan sekarang ini. Melalu kolegaku, aku berusaha mencari lembaga yang bisa membantu persoalan Mandalih. Sebab aku tidak yakin jika harus mengadukan persoalan ini ke KDEI, karena secara hukum Mandalih sudah berkewarganegaraan Taiwan. Dari salah seorang kawan, aku diberitahu tentang keberadaan sebuah organisasi yang banyak membantu perempuan migran. TASAT, TransAsia Sisters Associaation Taiwan, aku akhirnya menghubungi organisasi ini dan menyampaikan kisah Mandalih. Mereka menerimaku dengan ramah dan berjanji akan membantu Mandalih

Aku hanya berpikir, bahwa Mandalih harus bisa mengeluarkan dirinya dari cangkang kepasrahan. Apa yang terjadi padanya telah membuatnya menjadi perempuan yang tidak punya rasa percaya diri, dan terus-terusan berpikir bahwa itu adalah takdirnya. Ia masih muda dan berhak untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Redakturku di Indonesia bahkan memintaku membuat ini sebagai Hot News, ia berpikir kisah Mandalih yang dijual suaminya sendiri bisa menaikkan oplah yang kini sedang lesu. Namun aku dengan tegas menolaknya. Aku tidak ingin menjadi seperti orang tua angkat, dan kedua suami Mandalih yang telah menjadikannya sebagai sumber keuntungan. Mengangakat kisah Mandalih sama saja memanfaatkan dirinya sebagai bahan dan objek tulisan. Walau aku tahu, dari kisah Mandalih, jika ditelusuri maka akan terbongkar sindikat perdagangan orang yang mengatasnamakan pernikahan antar Negara sebagai kedoknya.

Redakturku marah-marah dan mengancam akan memecatku, tapi aku mengabaikan ancamannya, dan fokus mendampingi Mandalih untuk memulihkan kepercayaan dirinya sebagai perempuan. Aku berharap agar ia mampu melepaskan dirinya dari belenggu mitos bahwa ia hanya sebagai alat produksi atau barang yang bisa menguntungkan orang lain.

Di samping itu, aku juga melakukan investigasi sembunyi-sembunyi tentang keberadaan agen penyalur yang membantu pernikahan antar Negara ini. Aku memulai penyelidikan dari agen Mandalih. Dibantu teman lokal, aku masuk ke agen ini dan menyuruh temanku berpura-pura mencari calon istri. Aku sendiri tidak tahu apa tujuanku melakukan hal ini, apakah hanya sekedar insting jurnalis? Tapi untuk apa? Toh bahkan aku menolak menulis kisah Mandalih yang merupakan anak kunci untuk menguak tabir perdagangan orang berkedok pernikahan ini. Dan aku memilih menulis kisahnya dalam catatan saja.


📝 Komentar juri|Anwar Sastro Maruf

Karya ini sangat apik dan memberikan kita informasi tentang persoalan kesulitan ekonomi dalam sebuah keluarga, hingga regenerasi atau keberlanjutan marga dalam keluarga versus perdagangan manusia, serta persoalan budaya dan realitas sosial. Selain itu tulisan ini juga akan membuat kita penasaran untuk membaca catatan sang jurnalis tentang investigasi
percaloan atau perdangangan manusia dengan berbagai faktor termasuk faktor percaloan kawin kontrak. Mari kita tunggu catatan jurnalis berikutnya!

 

📝 Komentar juri|Olin Monteiro

Pengambilan angle cerita juga plot menarik membuat pembaca penasaran

發表迴響

你的電子郵件位址並不會被公開。 必要欄位標記為 *