TENTANG CINTA

 2018 Babak penyisihan 印尼文初選  

📜 TENTANG CINTA

👤 Loso Abdi

 

Kutatap matanya-yang sebening kaca, indah dan memancarkan sinar. Dan selalunya begitu, dia, pemilik mata indah itu, akan segera memeluk leherku lalu menghujani seluruh wajahku dengan ciuman. Dan kami akan tertawa bersama.

Tapi tak seperti biasanya, kali ini aku tertawa lama sekali, aku masih tertawa ketika pemilik mata indah itu sudah melepaskan pelukannya di leherku. Bahkan aku masih terus tertawa ketika dia memintaku untuk ganti memelukknya. Aku terus tertawa hingga air mataku keluar, berderai-derai.

“Bibi menangis?” Tangan mungilnya menyentuh pipiku yang basah.

“Tidak Sayang, Bibi terlalu keras tertawa, jadi keluar air mata.” Jawabku sambil terkekeh kaku. Lalu segera memeluknya, agar mata kami tak bersitatap lagi. Aku tak ingin ia melihat kesedihan dari mataku.

Kupeluk erat tubuh lemah pemilik mata indah itu, lama sekali. Menepuk-nepuk punggung atasnya, hingga irama napasnya terdengar teratur-yang artinya dia sudah terlelap, mengarungi dunia mimpinya.

**

Dia, gadis kecil pemilik mata indah itu, telah bersamaku selama hampir sembilan tahun. Aku datang ke rumah orangtuanya di daerah Longtan ketika ia berumur satu tahun. Mendapatinya meringkuk lemah di kursi bayi, tak bersuara, tak bergerak, hanya bola matanya saja yang nampak hidup.

“Nona, mana anak yang harus kujaga?” Tanyaku kepada agensi yang mengantarku saat itu.

“Dia.” Agensi itu mengarahkan pandangannya ke tubuh mungil itu.

“Tapi…”

“Majikanmu akan mengajari, bagaimana merawat dan menjaganya, ia juga sama seperti anak-anak yang lain. Kalau ada apa-apa yang kamu tidak mengerti, segera telepon aku.” Agensi itu memotong kalimatku, berkata seperti kereta cepat, tanpa jeda dan tidak memberi sedikitpun celah untukku membuka mulut.

Waktu itu aku hanya bisa mengangguk. Mendengarkan semua yang agensi itu arahkan. Menjawab ‘iya’ pada semua pertanyaannya, seperti yang diajarkan di penampungan.

“Apakah kamu bersedia bekerja tanpa batas waktu?”

“Iya”.

“Apakah kamu akan menuruti semua kata majikan?”

“Iya”

“Apakah kamu bisa memasak daging babi?”

“Iya.”

“Apakah kamu sanggup untuk tidak libur?”

“Iya.”

Begitu agensi pulang, rasa-rasanya aku seperti terlempar ke dunia yang belum pernah kusinggahi sebelumnya. Semua terasa asing. Bahkan senyuman kedua majikanku terasa aneh.

Hari berikutnya, aku dihadapkan atas satu-satunya pilihan yang diberikan padaku: menjaga Si Pemilik Mata Indah.

Aku harus menjalaninya. Sudah tujuh bulan lamanya kutunggu kesempatan ini-bekerja di Taiwan. Kedua anakku sudah terlalu lama menunggak bayaran sekolah, suamiku juga sudah terlalu lama berperang dengan sakit pada kakinya karena kecelakaan motor. Sudah terlalu lama kutinggalkan rumah tanpa hasil. Maka aku berjanji untuk menjalani semua dengan sebaik mungkin. Tanpa protes, atau mengeluh.

Memei, gadis mungil yang kurawat adalah anak yang istimewa. Badannya jauh lebih kecil dari anak seumurannya. Selain matanya yang indah berkilau-kilau itu, nyaris tak ada anggota tubuhnya yang ‘hidup’. Kaki dan tanganya ringkih, seperti tak bertulang. Selain menangis dan menjerit, tak ada suara lain yang keluar dari mulutnya.

Setahun merawatnya, naluri keibuanku muncul, semakin lama aku semakin menyayanginya. Pergulatan bathin dua bulan awal kedatanganku di rumah itu tak berbekas sama sekali. Jika pada awalnya aku sangat takut dan sedikit tidak terima, perlahan ketakutan itu mulai menghilang seiring berjalannya waktu.

Merawat Memei, aku selalu berhati-hati. Aku terus mengajaknya berbicara, melatih menggerakkan kaki dan tangannya, perlahan-lahan. Aku memang bukanlah malaikat yang bisa dengan mudah mengubah keadaan Memei, tapi aku terus berusaha. Aku ingin Memei tumbuh berkembang seperti anak-anak lainnya.

Tak ada waktu yang kulewatkan tanpa Memei. Apalagi ketika Nyonya Yang melahirkan seorang adik lelaki bagi Memei saat usianya menginjak angka enam. Tuan dan nyonya mempercayakan semua kebutuhan Memei padaku, bukan, bukan karena mereka tidak sayang atau karena mereka telah memiliki anak lain, tapi karena mereka percaya dan mereka melihat kedekatan antara kami berdua. Tuan dan nyonya adalah orangtua yang baik, mereka begitu memerhatikan setiap perkembangan anaknya, hanya saja, seperti penduduk metropolitan lainnya, mereka juga harus berjuang melawan waktu untuk bisa terus mengikuti arus kehidupan. Mereka harus bekerja dengan keras, demi menghidupi anak-anaknya.

Pukul enam pagi mereka sudah keluar dari rumah, menitipkan dulu si bungsu ke tempat penitipan anak, baru kemudian mereka berangkat kerja di daerah Taoyuan. Sorenya, mereka baru akan sampai rumah pukul lima atau enam.

Terkadang aku begitu kasihan jika melihat mereka berdua pulang kerja, masih harus mengerjakan pekerjaan rumah dan menjaga si bungsu. Sebenarnya ingin sekali aku membantu meringakan beban mereka, membersihkan rumah atau menjaga si bungsu saat nyonya memasak makanan untuk makan malam kami, tapi aku benar-benar tidak bisa melakukannya karena Memei benar-benar tidak bisa kutinggalkan. Tuan dan nyonya juga sangat paham akan hal tersebut, tidak pernah sekalipun merepotkan aku. Bagi mereka, asal Memei tercukupi kebutuhannya, itu sudah cukup. Mereka tidak pernah membebani aku dengan pekerjaan lain, tidak pernah pula meminta atau menyuruhku membantu mereka.

Namun bukan berarti aku sama sekali tidak membantu mereka, saat Memei tidur kukerjakan pekerjaan rumah semampuku, terkadang sambil menjaga Memei aku juga sambil membereskan rumah.

Awal-awal bekerja di keluarga Tuan Yang, aku sama sekali tidak pernah libur. Pernah nyonya menawariku untuk libur sesekali pada hari Minggu, melepaskan penat bertemu dengan teman-teman sesama pekerja. Namun aku menolak, aku membayangkan ketika aku tengah bersenang-senang di luar, sedangkan Memei terus menangis mencariku.

“Ani, apakah kamu tidak ingin bertemu dengan teman-temanmu, tidak ingin pergi ke Taipei?” Tanya nyonya waktu itu. “Kami tahu kamu capek sekali, sudah hampir tiga tahun kamu bekerja dan sekalipun kamu tidak pernah mengambil libur. Kami tidak ingin mengurungmu di dalam rumah, kamu punya hak untuk libur dan keluar.” Tambahnya.

“Tidak apa Nyonya, kalau aku keluar, pasti Nyonya akan repot sekali. Lagi pula kasihan dengan Memei. Toh sebentar lagi saya juga akan pulang, bisa istirahat di rumah,” jawabku sambil membetulkan letak kaki Memei yang tertidur di pangkunku. “Dan saya tidak merasa terkurung sama sekali, Nyonya, saya senang bekerja di rumah ini.” Pungkasku.

“Saya dan Tuan masih berharap kamu kembali kesini setelah habis kontrakmu,” lanjut nyonya sambil mengusap pundakku.

Aku menerawang ke atas, menatap langit-langit rumah yang catnya mulai kusam, Imlek tahun lalu Tuan tidak sempat mengecat rumah. Seketika anganku melayang jauh, melintasi samudera, melangkahi gunung-gunung yang tinggi menjulang. Lalu menembus dinding rumahku di Banyuwangi. Menemukan suami dan dua anakku yang tengah duduk melingkar meja, saling memandangi sebuah foto dalam bingkai kayu yang catnya sudah mengelupas, fotoku tujuh tahun silam ketika aku menyelesaikan kursus menjahit. Dalam foto itu aku nampak begitu bahagia, foto tercantik yang kumiliki.

Santi, anak pertamaku, tahun ini akan lulus SMP, sementara anak keduaku, Bayu, tahun ini akan naik kelas 6 SD. Suamiku belum bisa beraktifitas normal, meskipun sudah bisa berjalan tanpa tongkat, aku memaklumi keadaannya. Ia menjadi seperti itu juga demi keluarga, suamiku mengalami kecelakaan motor saat hendak menjemput pelanggan. Suamiku adalah tukang ojek. Semenjak kejadian itu, keuangan kami yang awalnya hanya pas-pasan perlahan-lahan ambruk. Penghasilanku sebagai tukang jahit rumahan tidak bisa mencukupi kebutuhan kami. Saat itu, dengan banyak pertimbangan dan restu dari keluarga besar, akhirnya aku memutuskan untuk pergi merantau ke Taiwan.

“Iya Nyonya, saya bersedia kembali menjaga Memei.” Aku mengangguk pasti. Aku memang sudah menyiapkan dan memikirkan jawaban ini dari bulan lalu. Sudah kupikirkan masak-masak. Masih banyak kewajiban yang belum kutunaikan pada keluargaku. Aku masih harus membiayai anak-anakku, masih harus mengumpulkan modal untuk bisa kami kelola di rumah. Meskipun itu berarti aku harus berpisah dengan keluarga selama tiga tahun lagi. Aku sudah membicarakan dengan anak dan suamiku, dan mereka mau tidak mau juga merestui lagi keputusanku ini. Sebenarnya kami lebih senang hidup bersama, namun kami sadar bahwa kehidupan ini tidak sesederhana itu.

“Terima kasih Ani, pasti Tuan akan senang sekali mendengar hal ini.” Nyonya menggegam erat tanganku, ada telaga di dasar mata beningnya. Aku tahu wanita di sampingku itu sangat lelah, tapi aku juga tahu, dia seorang wanita yang kuat. Aku banyak belajar darinya, bagaimana harus menghadapi kehidupan ini, bagaimana harus bertahan, bagaimana harus terus tersenyum dan bagaimana harus tetap ‘ada’ bagi keluarga. Dan pelajaran yang paling aku syukuri dari kehidupan Nyonya Yang adalah pelajaran tentang bagaimana aku harus menjadi seorang wanita, seorang ibu, seorang istri, yang harus tetap bisa memberikan cinta dalam keadaan apapun, kepada anak-suami dan orang-orang lainnya.

Aku pulang ke Indonesia sehari sebelum masa kontrak pertamaku habis, tuan dan nyonya berpesan agar begitu sampai rumah aku segera pergi ke PJTKI untuk mengurus proses perpanjangan kontrak, aku hanya mengangguk. Sambil berkata dalam hati, bahwa aku rindu dengan anak dan suami, bahwa aku ingin menghabiskan waktu lebih lama bersama mereka.

Namun, baru beberapa hari di rumah, tuan dan nyonya bergantian meneleponku, bukan untuk mengobrol, melainkan karena Memei terus mengamuk, terus mencariku, hanya diam setelah mendengar suaraku. Hatiku berantakan. Ada sekeping rasa dalam hati ini, rasa yang sama seperti yang kurasakan selama tiga tahun aku di Taiwan. Rasa rindu. Bedanya, tiga tahun di Taiwan aku selalu merindukan suami dan anak-anakku, sedangkan beberapa hari di rumah keping rindu itu ada di wajah Memei, ada di matanya yang indah itu.

Sebulan kemudian, sekembalinya aku dari Indonesia, seharian penuh Memei sama sekali tidak mau turun dari pangkuanku. Aku merasakan rindu anak itu dari hembusan napasnya. Dan aku juga yakin Memei juga bisa merasakan kerinduanku padanya, rindu yang melapisi seluruh kulitku.

Mulai hari itu kami kembali menjadi sepasang kekasih, Memei telah menjadi aku, dan begitu sebaliknya. Entah mengapa, rasa sayangku padanya semakin hari semakin bertambah, aku tak lagi menganggap bahwa dia adalah majikanku, aku tak melihat kulitnya yang putih bersih sementara kulitku serupa kulit sawo, aku hanya melihatnya sebagai cinta. Cinta yang tak bisa kujelaskan pada siapapun, cinta seperti yang kumiliki di rumah, cinta yang tak memerlukan pengakuan dari orang lain.

Menginjak tahun ke-5 aku menjaga Memei, anak itu sudah mulai menunjukkan perubahan. Dia menjadi jauh lebih hidup. Tuan dan nyonya sangat senang dengan kemajuan-kemajuan yang dicapai Memei. Mereka semakin rajin mencari referensi untuk perkembangan Memei.

Mulai tahun itu pula, menuruti saran dari nyonya, sesekali waktu aku keluar bersama Memei, bukan hanya sekedar keluar membawa Memei berjemur di depan komplek perumahan, melainkan untuk bertemu dengan teman sesama pekerja, atau untuk pergi mengirim uang ke Indonesia.

Bayangan bosan dan takut saat minggu-minggu pertama mangasuh Memei, telah lama lenyap. Setiap hari yang kulalui bersamanya adalah kebahagian belaka. Terkadang aku lupa kalau aku ini hanya pengasuhnya.

Hatiku mulai dihantui kebimbangan, ketika kontrak kerjaku hendak memasuki tahun ke-6, apalagi waktu itu Si Bungsu baru berumur setahun.

Tahun itu pula Santi akan lulus SMA, impianku adalah bisa membiayainya hingga mendapat gelar sarjana. Harapan terbesarku adalah melihat anak-anakku sukses, bisa membawa keluarga keluar dari himpitan ekonomi, dan jika mungkin bisa membawa manfaat bagi orang lain, agar orang-orang tidak perlu lagi jauh-jauh merantau keluar negeri demi menghidupi keluarganya. Cukup aku saja yang merasakan betapa beratnya menanggung beban sebagai pekerja migran.

Tapi di lain sisi, aku juga ingin mengabdi kepada suami dan anak-anak, memasak untuk mereka, mencuci baju mereka, menjaga mereka saat sakit, mendengarkan cerita mereka tentang teman-teman sekolahnya. Aku dikepung dilema.

Sepanjang tahun itu sungguh berat kulalui. Nyonya sudah beberapa kali menanyakan keputusanku, menaruh harapan yang besar padaku. Sedangkan Memei, anak itu semakin mengikat hatiku. Kebulatan tekadku untuk tidak melanjutkan kontrak selalu saja pecah berkeping-keping saat anak itu memeluk leherku dan menciumi seluruh wajahku, lalu mengajakku beradu padang dan berkata melalui matanya, “Bibi jangan pernah pergi, aku mencintaimu!”

Tuhan, siapa yang tak akan luluh dengan ketulusan matanya, siapa yang akan tega membuat mata indah itu berurai air mata?

Empat bulan sebelum kontrak keduaku selesai, satu hal besar terjadi. Sesuatu yang membuat seisi rumah Tuan Yang berurau air mata. Antara bahagia dan sedih.

Aku ingat sekali, waktu itu tanggal 3 Agustus, sehabis kami menyelesaikan makan malam, seperti biasanya kami berkumpul untuk menonton televisi. Memei, yang biasanya ikut ribut dengan erangan dan jeritannya malam itu lebih anteng. Manis sekali anak itu, mungkin ia tahu seharian sambil menjaganya aku juga membersihan seluruh rumah, meringankan sedikit beban mamanya, dan itu membuatku capek sekali.

Keasyikan kami menikmati acara televisi seketika buyar, ketika tiba-tiba ada suara kecil dan lemah memanggil-manggilku.

“BIBI..BIBI..”

Kami bertiga seketika menoleh ke arah Memei. Gadis cilik itu tersenyum, sambil tak henti mulutnya berbicara, atau tepatnya berguman memanggilku.

Seharusnya, malam itu menjadi malam yang paling berbahagia bagi tuan dan nyonya, juga buatku. Namun nyatanya, suara panggilan Memei, panggilan pertamanya, menyisakan sebuah luka yang dalam di hati nyonya.

Aku menunduk, aku merasa sangat bersalah. Aku tahu betapa hancur hati nyonya, ketika kata pertama yang keluar dari mulut anak kandungnya bukanlah kata untuknya.

Mata tuan juga basah, tapi entah apa yang dirasakannya. Lelaki berkaca mata itu segera bangun dan merengkuh anak gadisnya ke dalam pelukkan, Memei menjerit-jerit kegirangan. Ia tahu kebahagiaan kami. Namun ia tak tahu kepedihan di dalam hati mamanya.

Aku segera menyusul nyonya yang telah lebih dulu masuk ke kamar tidurnya, meninggalkan anak dan ayah yang masih saling berpelukan.

Perempuan itu duduk di sudut tempat tidurnya. Matanya sembab, seakan mengatakan bahwa si pemiliknya tengah terluka.

Dan aku juga merasakan apa yang mata itu sampaikan. Aku merasakan luka yang dia rasakan. Karena aku juga seorang ibu.

“Nyonya, maafkan saya. Saya tidak pernah mengajari Memei untuk memanggil saya. Saya selalu mengajarkannya menyebut anda dan tuan. Sekali lagi maafkan saya, Nyonya.” Aku meraih tangannya, perempuan itu bergeming, air matanya saja yang kembali menetes. Aku semakin merasa bersalah.

“Nyonya, saya janji, besok-atau lusa, Memei sudah akan bisa memangil mama dan papanya.” Kutatap matanya yang sendu. Mata yang sorotnya mempunyai arti, ibu macam apa aku ini, kata pertama yang bisa diucapkan oleh anak kandungku saja bukanlah kata ibu, tidak memanngilku, melainkan memanggil orang lain!

Hampir lima menit lamanya kami saling berdiam. Aku tidak tahu harus berkata apalagi padanya. Hingga akhirnya nyonya meraih tanganku sambil berkata, “Ani, seharusnya aku yang minta maaf,” sambil meremas tanganku, tangannya bergetar.

“Kamu tidak salah, tidak salah sama-sekali. Memei hanya mengucapkan apa yang ingin dia ucapkan. Yah, aku memang yang melahirkannya, tapi selama ini kamulah yang setiap detik bersamanya. Seharusnya aku tidak perlu seperti ini, hanya merusak suasana saja. seharusnya kita berbahagia di depan Memei, merayakan sesuatu yang selama ini kami anggap mustahil. Seharusnya aku berterima kasih kepadamu, Ani, karena kamulah Memei bisa seperti sekarang ini. Aku yakin, pasti dokter pun akan terkejut dengan perkembangan Memei. Sekali lagi terima kasih, Ani.” Wanita itu menuntaskan ucapannya dengan seulas senyum, sudut bibirnya melengkung indah. Luka di matanya perlahan menguap.

“Nyonya tidak marah kepada saya?” Aku bertanya bodoh. Dan sebagai jawabannya nyonya meraih pundakku, memelukku dengan erat.

“Terima kasih, Ani, saya mohon tetap jaga dan rawatlah Memei.” Bisik nyonya di telinggaku. Dan nantinya, bisikannya itu akan terus terdengar di telinggaku, berulang, terus, siang-pagi-malam. Karena bisikan itu pula, lima bulan kemudian aku kembali datang ke Taiwan setelah memperbarui kontrak. Kontrak yang ketiga.

**

Kulepaskan pelukan Si Pemilik Mata Indah, kubetulkan letak selimutnya. Kupandangi wajah gadis sepuluh tahun itu, wajah yang begitu polos, wajah yang hanya dipenuhi oleh gambar kebahagiaan. Dan sungguh, aku tak ingin menggambar kesedihan di wajah itu, sedikitpun aku tidak ingin.

Menatap wajah Memei yang tertidur pulas, air mataku kembali jatuh, dan kali ini aku tak perlu lagi untuk pura-pura tertawa.

Tak sampai dua bulan lagi kontrakku akan berakhir, itu artinya sembilan tahun sudah aku bekerja di rumah ini, menjaga dan merawat Memei. Aku bahagia. Aku tak pernah merasa bekerja di rumah ini, tapi aku merasa bahwa aku memang punya andil dan takdir dalam rumah ini. Tuhan sudah merancang semuanya, termasuk menempatkanku di dumah ini.

Aku beranjak bangun, berdiri di pinggir jendela kamar. Hujan yang belum reda sejak kemarin membuat udara dingin menusuk tulang. Di kaca jendela yang berembun, wajah Santi dan Bayu terbayang. Mereka memintaku untuk pulang, mereka rindu padaku, ibunya!

Aku menggigil. Semakin menggigil ketika bayangan Santi dan Bayu di kaca jendela terus melambaikan tangan padaku. Aku takut membuat mereka berdua kecewa. Aku takut mereka membenciku, merasa telah kutinggalkan. Aku takut mereka balik meninggalkanku. Aku takut pada akhirnya aku akan berkubang rindu di satu titik, sementara mereka berdua telah terbang melepaskan diri dariku. Ibu macam apa aku?

Tuhan, aku tahu jika cinta itu butuh pengorbanan, tapi aku tak menyangka jika harus berkorban sebesar ini.

Tuhan, aku takut kembali menciptakan luka. Cukup Santi dan Bayu saja yang harus menanggung luka, aku tak ingin melukai siapapun lagi.

Tuhan, aku yakin Engkau akan memberikan jalan yang terbaik padaku, karena aku yakin semua ini adalah kehendak-Mu

Di luar masih hujan dan malam semakin larut, dan saat ini juga aku harus memberi keputusan. Minggu-minggu terakhir ini, hampir setiap hari tuan dan nyonya selalu menanyakan keputusanku, apakah masih akan menjaga Memei atau tidak.

Karena masa kontrakku yang tinggal sebentar lagi, mereka sudah harus mempersiapkan dari sekarang, apakah mengurus perpanjangan kontrakku ataukah mengambil pekerja baru. Sedangkan Memei, ia belum paham bahwa aku tinggal di rumah ini hanya berdasar kontrak, ia belum paham bahwa aku punya anak-anak di rumah, yang ia pahami hanyalah bahwa aku dan dia tinggal bersama di rumah ini, sekarang dan selamanya. Ia tidak tahu kalau kami hanya punya cinta, hanya punya rasa saling memiliki, tapi tidak mempunyai takdir untuk terus bersama.

Ya, malam ini aku harus memutuskan. Keputusan yang sulit, teramat sangat sulit.

Tapi bagaimanapun aku harus mengambil keputusan. Keputusan yang tak lagi tentang berapa besar materi yang akan kudapat, melain tentang cinta.

Hampir setengah jam bergulat dengan perasaan ini, tak henti aku berdoa mohon petunjuk. Suara Memei yang mengigau memanggil namaku, akhirnya membangunkan dan membawaku ke dunia yang sesungguhnya, dunia yang menunggu keputusanku. Dunia yang telah menetapkan takdirku sebagai: Maryani, seorang buruh migrant asal Genteng, Banyuwangi, berusia empat puluh tahun, yang datang ke Taiwan karena himpitan ekonomi namun seiring berjalannya waktu, cinta telah mengikatnya. Menciptakan dilema dalam hari-harinya, tentang cinta kepada anak-anaknya, dan juga tentang cintanya pada Memei, gadis cilik nan istimewa.

Santi, Bayu, maafkan ibu. Ketahuilah, bagi ibu, Memei sama dengan kalian, adik kalian. Dan kalian tahu? Saat ini Memei belum bisa ibu tinggalkan. Ibu masih harus di sini, untuk membantu Memei. Ibu janji, tiga tahun kedepan Memei sudah bisa mengurus dirinya sendiri, sudah bisa menjaga dirinya sendiri, sudah bisa mengerti bahwa di dunia ini tak ada yang abadi, termasuk kebersaannya dengan ibu. Ibu janji, setelah Memei bisa memahami kehidupan ini, ibu akan segera pulang. Perlu kalian tahu, tak mudah bagi ibu menahan rindu ini, rindu pada kalian anak-anak ibu, tak mudah Nak. Tapi, ibu mohon, berilah ibu kesempatan untuk ibu menjalani takdir yang Tuhan telah gariskan, takdir untuk membantu Memei belajar menjalani kehidupan yang sesungguhnya.

Setelah membetulkan letak selimut Memei, aku segera melangkah keluar. Nyonya, ditemani tuan masih berada di ruang tengah. Aku duduk berhadap-hadapan dengan mereka berdua, dua orang yang telah sembilan tahun bersamaku, berbagi segalanya denganku. Dan aku sudah punya keputusan, dan apapun keputusanku adalah bukan karena mereka berdua, melainkan karena CINTA.

-Tamat-


📝 Komentar juri|Anwar Sastro Maruf

Tulisan sederhana ini sanggup memberikan pesan tentang arti cinta dan kasih sayang yang sesungguhnya. Bagaimana bahasa cinta dan kasih sayang antar manusia, bagaimana kepedulian antara seorang anak dan seorang ibu (meskipun hanya seorang pengasuh) yang telah menemukan bahasa cinta. Cinta dan kasih sayang adalah harapan hidup bagi manusia, apalagi bagi mereka yang memiliki kebutuhan khusus (difable).

 

📝 Komentar juri|Ratu Selvi Agnesia

Tulisan yang mengharukan tentang ikatan cinta bibi dan Memei hingga 9 tahun kebersamaannya dan lebih. Bukan karena materi dan relasi majikan dan TKI, namun cinta yang mengikat keduanya begitu kuat. Refleksi majikan yang baik juga menjadi menarik diceritakan melalui dialog-dialog yang mengharukan dan sarat makna juga disampaikan dengan bahasa yang mengalir dengan indah dan puitis

發表迴響

你的電子郵件位址並不會被公開。 必要欄位標記為 *