關於愛 TENTANG CINTA

首獎 First Prize
🏅青少年評審獎 Teen Choice Award

📜關於愛 TENTANG CINTA

👤 Loso Abdi

Kutatap matanya-yang sebening kaca, indah dan memancarkan sinar. Dan selalunya begitu, dia, pemilik mata indah itu, akan segera memeluk leherku lalu menghujani seluruh wajahku dengan ciuman. Dan kami akan tertawa bersama.

Tapi tak seperti biasanya, kali ini aku tertawa lama sekali, aku masih tertawa ketika pemilik mata indah itu sudah melepaskan pelukannya di leherku. Bahkan aku masih terus tertawa ketika dia memintaku untuk ganti memelukknya. Aku terus tertawa hingga air mataku keluar, berderai-derai.

“Bibi menangis?” Tangan mungilnya menyentuh pipiku yang basah.

“Tidak Sayang, Bibi terlalu keras tertawa, jadi keluar air mata.” Jawabku sambil terkekeh kaku. Lalu segera memeluknya, agar mata kami tak bersitatap lagi. Aku tak ingin ia melihat kesedihan dari mataku.

Kupeluk erat tubuh lemah pemilik mata indah itu, lama sekali. Menepuk-nepuk punggung atasnya, hingga irama napasnya terdengar teratur-yang artinya dia sudah terlelap, mengarungi dunia mimpinya.

**

Dia, gadis kecil pemilik mata indah itu, telah bersamaku selama hampir sembilan tahun. Aku datang ke rumah orangtuanya di daerah Longtan ketika ia berumur satu tahun. Mendapatinya meringkuk lemah di kursi bayi, tak bersuara, tak bergerak, hanya bola matanya saja yang nampak hidup.

“Nona, mana anak yang harus kujaga?” Tanyaku kepada agensi yang mengantarku saat itu.

“Dia.” Agensi itu mengarahkan pandangannya ke tubuh mungil itu.

“Tapi…”

“Majikanmu akan mengajari, bagaimana merawat dan menjaganya, ia juga sama seperti anak-anak yang lain. Kalau ada apa-apa yang kamu tidak mengerti, segera telepon aku.” Agensi itu memotong kalimatku, berkata seperti kereta cepat, tanpa jeda dan tidak memberi sedikitpun celah untukku membuka mulut.

Waktu itu aku hanya bisa mengangguk. Mendengarkan semua yang agensi itu arahkan. Menjawab ‘iya’ pada semua pertanyaannya, seperti yang diajarkan di penampungan.

“Apakah kamu bersedia bekerja tanpa batas waktu?”

“Iya”.

“Apakah kamu akan menuruti semua kata majikan?”

“Iya”

“Apakah kamu bisa memasak daging babi?”

“Iya.”

“Apakah kamu sanggup untuk tidak libur?”

“Iya.”

Begitu agensi pulang, rasa-rasanya aku seperti terlempar ke dunia yang belum pernah kusinggahi sebelumnya. Semua terasa asing. Bahkan senyuman kedua majikanku terasa aneh.

Hari berikutnya, aku dihadapkan atas satu-satunya pilihan yang diberikan padaku: menjaga Si Pemilik Mata Indah.

Aku harus menjalaninya. Sudah tujuh bulan lamanya kutunggu kesempatan ini-bekerja di Taiwan. Kedua anakku sudah terlalu lama menunggak bayaran sekolah, suamiku juga sudah terlalu lama berperang dengan sakit pada kakinya karena kecelakaan motor. Sudah terlalu lama kutinggalkan rumah tanpa hasil. Maka aku berjanji untuk menjalani semua dengan sebaik mungkin. Tanpa protes, atau mengeluh.

Memei, gadis mungil yang kurawat adalah anak yang istimewa. Badannya jauh lebih kecil dari anak seumurannya. Selain matanya yang indah berkilau-kilau itu, nyaris tak ada anggota tubuhnya yang ‘hidup’. Kaki dan tanganya ringkih, seperti tak bertulang. Selain menangis dan menjerit, tak ada suara lain yang keluar dari mulutnya.

Setahun merawatnya, naluri keibuanku muncul, semakin lama aku semakin menyayanginya. Pergulatan bathin dua bulan awal kedatanganku di rumah itu tak berbekas sama sekali. Jika pada awalnya aku sangat takut dan sedikit tidak terima, perlahan ketakutan itu mulai menghilang seiring berjalannya waktu.

Merawat Memei, aku selalu berhati-hati. Aku terus mengajaknya berbicara, melatih menggerakkan kaki dan tangannya, perlahan-lahan. Aku memang bukanlah malaikat yang bisa dengan mudah mengubah keadaan Memei, tapi aku terus berusaha. Aku ingin Memei tumbuh berkembang seperti anak-anak lainnya.

Tak ada waktu yang kulewatkan tanpa Memei. Apalagi ketika Nyonya Yang melahirkan seorang adik lelaki bagi Memei saat usianya menginjak angka enam. Tuan dan nyonya mempercayakan semua kebutuhan Memei padaku, bukan, bukan karena mereka tidak sayang atau karena mereka telah memiliki anak lain, tapi karena mereka percaya dan mereka melihat kedekatan antara kami berdua. Tuan dan nyonya adalah orangtua yang baik, mereka begitu memerhatikan setiap perkembangan anaknya, hanya saja, seperti penduduk metropolitan lainnya, mereka juga harus berjuang melawan waktu untuk bisa terus mengikuti arus kehidupan. Mereka harus bekerja dengan keras, demi menghidupi anak-anaknya.

Pukul enam pagi mereka sudah keluar dari rumah, menitipkan dulu si bungsu ke tempat penitipan anak, baru kemudian mereka berangkat kerja di daerah Taoyuan. Sorenya, mereka baru akan sampai rumah pukul lima atau enam.

Terkadang aku begitu kasihan jika melihat mereka berdua pulang kerja, masih harus mengerjakan pekerjaan rumah dan menjaga si bungsu. Sebenarnya ingin sekali aku membantu meringakan beban mereka, membersihkan rumah atau menjaga si bungsu saat nyonya memasak makanan untuk makan malam kami, tapi aku benar-benar tidak bisa melakukannya karena Memei benar-benar tidak bisa kutinggalkan. Tuan dan nyonya juga sangat paham akan hal tersebut, tidak pernah sekalipun merepotkan aku. Bagi mereka, asal Memei tercukupi kebutuhannya, itu sudah cukup. Mereka tidak pernah membebani aku dengan pekerjaan lain, tidak pernah pula meminta atau menyuruhku membantu mereka.

Namun bukan berarti aku sama sekali tidak membantu mereka, saat Memei tidur kukerjakan pekerjaan rumah semampuku, terkadang sambil menjaga Memei aku juga sambil membereskan rumah.

Awal-awal bekerja di keluarga Tuan Yang, aku sama sekali tidak pernah libur. Pernah nyonya menawariku untuk libur sesekali pada hari Minggu, melepaskan penat bertemu dengan teman-teman sesama pekerja. Namun aku menolak, aku membayangkan ketika aku tengah bersenang-senang di luar, sedangkan Memei terus menangis mencariku.

“Ani, apakah kamu tidak ingin bertemu dengan teman-temanmu, tidak ingin pergi ke Taipei?” Tanya nyonya waktu itu. “Kami tahu kamu capek sekali, sudah hampir tiga tahun kamu bekerja dan sekalipun kamu tidak pernah mengambil libur. Kami tidak ingin mengurungmu di dalam rumah, kamu punya hak untuk libur dan keluar.” Tambahnya.

“Tidak apa Nyonya, kalau aku keluar, pasti Nyonya akan repot sekali. Lagi pula kasihan dengan Memei. Toh sebentar lagi saya juga akan pulang, bisa istirahat di rumah,” jawabku sambil membetulkan letak kaki Memei yang tertidur di pangkunku. “Dan saya tidak merasa terkurung sama sekali, Nyonya, saya senang bekerja di rumah ini.” Pungkasku.

“Saya dan Tuan masih berharap kamu kembali kesini setelah habis kontrakmu,” lanjut nyonya sambil mengusap pundakku.

Aku menerawang ke atas, menatap langit-langit rumah yang catnya mulai kusam, Imlek tahun lalu Tuan tidak sempat mengecat rumah. Seketika anganku melayang jauh, melintasi samudera, melangkahi gunung-gunung yang tinggi menjulang. Lalu menembus dinding rumahku di Banyuwangi. Menemukan suami dan dua anakku yang tengah duduk melingkar meja, saling memandangi sebuah foto dalam bingkai kayu yang catnya sudah mengelupas, fotoku tujuh tahun silam ketika aku menyelesaikan kursus menjahit. Dalam foto itu aku nampak begitu bahagia, foto tercantik yang kumiliki.

Santi, anak pertamaku, tahun ini akan lulus SMP, sementara anak keduaku, Bayu, tahun ini akan naik kelas 6 SD. Suamiku belum bisa beraktifitas normal, meskipun sudah bisa berjalan tanpa tongkat, aku memaklumi keadaannya. Ia menjadi seperti itu juga demi keluarga, suamiku mengalami kecelakaan motor saat hendak menjemput pelanggan. Suamiku adalah tukang ojek. Semenjak kejadian itu, keuangan kami yang awalnya hanya pas-pasan perlahan-lahan ambruk. Penghasilanku sebagai tukang jahit rumahan tidak bisa mencukupi kebutuhan kami. Saat itu, dengan banyak pertimbangan dan restu dari keluarga besar, akhirnya aku memutuskan untuk pergi merantau ke Taiwan.

“Iya Nyonya, saya bersedia kembali menjaga Memei.” Aku mengangguk pasti. Aku memang sudah menyiapkan dan memikirkan jawaban ini dari bulan lalu. Sudah kupikirkan masak-masak. Masih banyak kewajiban yang belum kutunaikan pada keluargaku. Aku masih harus membiayai anak-anakku, masih harus mengumpulkan modal untuk bisa kami kelola di rumah. Meskipun itu berarti aku harus berpisah dengan keluarga selama tiga tahun lagi. Aku sudah membicarakan dengan anak dan suamiku, dan mereka mau tidak mau juga merestui lagi keputusanku ini. Sebenarnya kami lebih senang hidup bersama, namun kami sadar bahwa kehidupan ini tidak sesederhana itu.

“Terima kasih Ani, pasti Tuan akan senang sekali mendengar hal ini.” Nyonya menggegam erat tanganku, ada telaga di dasar mata beningnya. Aku tahu wanita di sampingku itu sangat lelah, tapi aku juga tahu, dia seorang wanita yang kuat. Aku banyak belajar darinya, bagaimana harus menghadapi kehidupan ini, bagaimana harus bertahan, bagaimana harus terus tersenyum dan bagaimana harus tetap ‘ada’ bagi keluarga. Dan pelajaran yang paling aku syukuri dari kehidupan Nyonya Yang adalah pelajaran tentang bagaimana aku harus menjadi seorang wanita, seorang ibu, seorang istri, yang harus tetap bisa memberikan cinta dalam keadaan apapun, kepada anak-suami dan orang-orang lainnya.

Aku pulang ke Indonesia sehari sebelum masa kontrak pertamaku habis, tuan dan nyonya berpesan agar begitu sampai rumah aku segera pergi ke PJTKI untuk mengurus proses perpanjangan kontrak, aku hanya mengangguk. Sambil berkata dalam hati, bahwa aku rindu dengan anak dan suami, bahwa aku ingin menghabiskan waktu lebih lama bersama mereka.

Namun, baru beberapa hari di rumah, tuan dan nyonya bergantian meneleponku, bukan untuk mengobrol, melainkan karena Memei terus mengamuk, terus mencariku, hanya diam setelah mendengar suaraku. Hatiku berantakan. Ada sekeping rasa dalam hati ini, rasa yang sama seperti yang kurasakan selama tiga tahun aku di Taiwan. Rasa rindu. Bedanya, tiga tahun di Taiwan aku selalu merindukan suami dan anak-anakku, sedangkan beberapa hari di rumah keping rindu itu ada di wajah Memei, ada di matanya yang indah itu.

Sebulan kemudian, sekembalinya aku dari Indonesia, seharian penuh Memei sama sekali tidak mau turun dari pangkuanku. Aku merasakan rindu anak itu dari hembusan napasnya. Dan aku juga yakin Memei juga bisa merasakan kerinduanku padanya, rindu yang melapisi seluruh kulitku.

Mulai hari itu kami kembali menjadi sepasang kekasih, Memei telah menjadi aku, dan begitu sebaliknya. Entah mengapa, rasa sayangku padanya semakin hari semakin bertambah, aku tak lagi menganggap bahwa dia adalah majikanku, aku tak melihat kulitnya yang putih bersih sementara kulitku serupa kulit sawo, aku hanya melihatnya sebagai cinta. Cinta yang tak bisa kujelaskan pada siapapun, cinta seperti yang kumiliki di rumah, cinta yang tak memerlukan pengakuan dari orang lain.

Menginjak tahun ke-5 aku menjaga Memei, anak itu sudah mulai menunjukkan perubahan. Dia menjadi jauh lebih hidup. Tuan dan nyonya sangat senang dengan kemajuan-kemajuan yang dicapai Memei. Mereka semakin rajin mencari referensi untuk perkembangan Memei.

Mulai tahun itu pula, menuruti saran dari nyonya, sesekali waktu aku keluar bersama Memei, bukan hanya sekedar keluar membawa Memei berjemur di depan komplek perumahan, melainkan untuk bertemu dengan teman sesama pekerja, atau untuk pergi mengirim uang ke Indonesia.

Bayangan bosan dan takut saat minggu-minggu pertama mangasuh Memei, telah lama lenyap. Setiap hari yang kulalui bersamanya adalah kebahagian belaka. Terkadang aku lupa kalau aku ini hanya pengasuhnya.

Hatiku mulai dihantui kebimbangan, ketika kontrak kerjaku hendak memasuki tahun ke-6, apalagi waktu itu Si Bungsu baru berumur setahun.

Tahun itu pula Santi akan lulus SMA, impianku adalah bisa membiayainya hingga mendapat gelar sarjana. Harapan terbesarku adalah melihat anak-anakku sukses, bisa membawa keluarga keluar dari himpitan ekonomi, dan jika mungkin bisa membawa manfaat bagi orang lain, agar orang-orang tidak perlu lagi jauh-jauh merantau keluar negeri demi menghidupi keluarganya. Cukup aku saja yang merasakan betapa beratnya menanggung beban sebagai pekerja migran.

Tapi di lain sisi, aku juga ingin mengabdi kepada suami dan anak-anak, memasak untuk mereka, mencuci baju mereka, menjaga mereka saat sakit, mendengarkan cerita mereka tentang teman-teman sekolahnya. Aku dikepung dilema.

Sepanjang tahun itu sungguh berat kulalui. Nyonya sudah beberapa kali menanyakan keputusanku, menaruh harapan yang besar padaku. Sedangkan Memei, anak itu semakin mengikat hatiku. Kebulatan tekadku untuk tidak melanjutkan kontrak selalu saja pecah berkeping-keping saat anak itu memeluk leherku dan menciumi seluruh wajahku, lalu mengajakku beradu padang dan berkata melalui matanya, “Bibi jangan pernah pergi, aku mencintaimu!”

Tuhan, siapa yang tak akan luluh dengan ketulusan matanya, siapa yang akan tega membuat mata indah itu berurai air mata?

Empat bulan sebelum kontrak keduaku selesai, satu hal besar terjadi. Sesuatu yang membuat seisi rumah Tuan Yang berurau air mata. Antara bahagia dan sedih.

Aku ingat sekali, waktu itu tanggal 3 Agustus, sehabis kami menyelesaikan makan malam, seperti biasanya kami berkumpul untuk menonton televisi. Memei, yang biasanya ikut ribut dengan erangan dan jeritannya malam itu lebih anteng. Manis sekali anak itu, mungkin ia tahu seharian sambil menjaganya aku juga membersihan seluruh rumah, meringankan sedikit beban mamanya, dan itu membuatku capek sekali.

Keasyikan kami menikmati acara televisi seketika buyar, ketika tiba-tiba ada suara kecil dan lemah memanggil-manggilku.

“BIBI..BIBI..”

Kami bertiga seketika menoleh ke arah Memei. Gadis cilik itu tersenyum, sambil tak henti mulutnya berbicara, atau tepatnya berguman memanggilku.

Seharusnya, malam itu menjadi malam yang paling berbahagia bagi tuan dan nyonya, juga buatku. Namun nyatanya, suara panggilan Memei, panggilan pertamanya, menyisakan sebuah luka yang dalam di hati nyonya.

Aku menunduk, aku merasa sangat bersalah. Aku tahu betapa hancur hati nyonya, ketika kata pertama yang keluar dari mulut anak kandungnya bukanlah kata untuknya.

Mata tuan juga basah, tapi entah apa yang dirasakannya. Lelaki berkaca mata itu segera bangun dan merengkuh anak gadisnya ke dalam pelukkan, Memei menjerit-jerit kegirangan. Ia tahu kebahagiaan kami. Namun ia tak tahu kepedihan di dalam hati mamanya.

Aku segera menyusul nyonya yang telah lebih dulu masuk ke kamar tidurnya, meninggalkan anak dan ayah yang masih saling berpelukan.

Perempuan itu duduk di sudut tempat tidurnya. Matanya sembab, seakan mengatakan bahwa si pemiliknya tengah terluka.

Dan aku juga merasakan apa yang mata itu sampaikan. Aku merasakan luka yang dia rasakan. Karena aku juga seorang ibu.

“Nyonya, maafkan saya. Saya tidak pernah mengajari Memei untuk memanggil saya. Saya selalu mengajarkannya menyebut anda dan tuan. Sekali lagi maafkan saya, Nyonya.” Aku meraih tangannya, perempuan itu bergeming, air matanya saja yang kembali menetes. Aku semakin merasa bersalah.

“Nyonya, saya janji, besok-atau lusa, Memei sudah akan bisa memangil mama dan papanya.” Kutatap matanya yang sendu. Mata yang sorotnya mempunyai arti, ibu macam apa aku ini, kata pertama yang bisa diucapkan oleh anak kandungku saja bukanlah kata ibu, tidak memanngilku, melainkan memanggil orang lain!

Hampir lima menit lamanya kami saling berdiam. Aku tidak tahu harus berkata apalagi padanya. Hingga akhirnya nyonya meraih tanganku sambil berkata, “Ani, seharusnya aku yang minta maaf,” sambil meremas tanganku, tangannya bergetar.

“Kamu tidak salah, tidak salah sama-sekali. Memei hanya mengucapkan apa yang ingin dia ucapkan. Yah, aku memang yang melahirkannya, tapi selama ini kamulah yang setiap detik bersamanya. Seharusnya aku tidak perlu seperti ini, hanya merusak suasana saja. seharusnya kita berbahagia di depan Memei, merayakan sesuatu yang selama ini kami anggap mustahil. Seharusnya aku berterima kasih kepadamu, Ani, karena kamulah Memei bisa seperti sekarang ini. Aku yakin, pasti dokter pun akan terkejut dengan perkembangan Memei. Sekali lagi terima kasih, Ani.” Wanita itu menuntaskan ucapannya dengan seulas senyum, sudut bibirnya melengkung indah. Luka di matanya perlahan menguap.

“Nyonya tidak marah kepada saya?” Aku bertanya bodoh. Dan sebagai jawabannya nyonya meraih pundakku, memelukku dengan erat.

“Terima kasih, Ani, saya mohon tetap jaga dan rawatlah Memei.” Bisik nyonya di telinggaku. Dan nantinya, bisikannya itu akan terus terdengar di telinggaku, berulang, terus, siang-pagi-malam. Karena bisikan itu pula, lima bulan kemudian aku kembali datang ke Taiwan setelah memperbarui kontrak. Kontrak yang ketiga.

**

Kulepaskan pelukan Si Pemilik Mata Indah, kubetulkan letak selimutnya. Kupandangi wajah gadis sepuluh tahun itu, wajah yang begitu polos, wajah yang hanya dipenuhi oleh gambar kebahagiaan. Dan sungguh, aku tak ingin menggambar kesedihan di wajah itu, sedikitpun aku tidak ingin.

Menatap wajah Memei yang tertidur pulas, air mataku kembali jatuh, dan kali ini aku tak perlu lagi untuk pura-pura tertawa.

Tak sampai dua bulan lagi kontrakku akan berakhir, itu artinya sembilan tahun sudah aku bekerja di rumah ini, menjaga dan merawat Memei. Aku bahagia. Aku tak pernah merasa bekerja di rumah ini, tapi aku merasa bahwa aku memang punya andil dan takdir dalam rumah ini. Tuhan sudah merancang semuanya, termasuk menempatkanku di dumah ini.

Aku beranjak bangun, berdiri di pinggir jendela kamar. Hujan yang belum reda sejak kemarin membuat udara dingin menusuk tulang. Di kaca jendela yang berembun, wajah Santi dan Bayu terbayang. Mereka memintaku untuk pulang, mereka rindu padaku, ibunya!

Aku menggigil. Semakin menggigil ketika bayangan Santi dan Bayu di kaca jendela terus melambaikan tangan padaku. Aku takut membuat mereka berdua kecewa. Aku takut mereka membenciku, merasa telah kutinggalkan. Aku takut mereka balik meninggalkanku. Aku takut pada akhirnya aku akan berkubang rindu di satu titik, sementara mereka berdua telah terbang melepaskan diri dariku. Ibu macam apa aku?

Tuhan, aku tahu jika cinta itu butuh pengorbanan, tapi aku tak menyangka jika harus berkorban sebesar ini.

Tuhan, aku takut kembali menciptakan luka. Cukup Santi dan Bayu saja yang harus menanggung luka, aku tak ingin melukai siapapun lagi.

Tuhan, aku yakin Engkau akan memberikan jalan yang terbaik padaku, karena aku yakin semua ini adalah kehendak-Mu

Di luar masih hujan dan malam semakin larut, dan saat ini juga aku harus memberi keputusan. Minggu-minggu terakhir ini, hampir setiap hari tuan dan nyonya selalu menanyakan keputusanku, apakah masih akan menjaga Memei atau tidak.

Karena masa kontrakku yang tinggal sebentar lagi, mereka sudah harus mempersiapkan dari sekarang, apakah mengurus perpanjangan kontrakku ataukah mengambil pekerja baru. Sedangkan Memei, ia belum paham bahwa aku tinggal di rumah ini hanya berdasar kontrak, ia belum paham bahwa aku punya anak-anak di rumah, yang ia pahami hanyalah bahwa aku dan dia tinggal bersama di rumah ini, sekarang dan selamanya. Ia tidak tahu kalau kami hanya punya cinta, hanya punya rasa saling memiliki, tapi tidak mempunyai takdir untuk terus bersama.

Ya, malam ini aku harus memutuskan. Keputusan yang sulit, teramat sangat sulit.

Tapi bagaimanapun aku harus mengambil keputusan. Keputusan yang tak lagi tentang berapa besar materi yang akan kudapat, melain tentang cinta.

Hampir setengah jam bergulat dengan perasaan ini, tak henti aku berdoa mohon petunjuk. Suara Memei yang mengigau memanggil namaku, akhirnya membangunkan dan membawaku ke dunia yang sesungguhnya, dunia yang menunggu keputusanku. Dunia yang telah menetapkan takdirku sebagai: Maryani, seorang buruh migrant asal Genteng, Banyuwangi, berusia empat puluh tahun, yang datang ke Taiwan karena himpitan ekonomi namun seiring berjalannya waktu, cinta telah mengikatnya. Menciptakan dilema dalam hari-harinya, tentang cinta kepada anak-anaknya, dan juga tentang cintanya pada Memei, gadis cilik nan istimewa.

Santi, Bayu, maafkan ibu. Ketahuilah, bagi ibu, Memei sama dengan kalian, adik kalian. Dan kalian tahu? Saat ini Memei belum bisa ibu tinggalkan. Ibu masih harus di sini, untuk membantu Memei. Ibu janji, tiga tahun kedepan Memei sudah bisa mengurus dirinya sendiri, sudah bisa menjaga dirinya sendiri, sudah bisa mengerti bahwa di dunia ini tak ada yang abadi, termasuk kebersaannya dengan ibu. Ibu janji, setelah Memei bisa memahami kehidupan ini, ibu akan segera pulang. Perlu kalian tahu, tak mudah bagi ibu menahan rindu ini, rindu pada kalian anak-anak ibu, tak mudah Nak. Tapi, ibu mohon, berilah ibu kesempatan untuk ibu menjalani takdir yang Tuhan telah gariskan, takdir untuk membantu Memei belajar menjalani kehidupan yang sesungguhnya.

Setelah membetulkan letak selimut Memei, aku segera melangkah keluar. Nyonya, ditemani tuan masih berada di ruang tengah. Aku duduk berhadap-hadapan dengan mereka berdua, dua orang yang telah sembilan tahun bersamaku, berbagi segalanya denganku. Dan aku sudah punya keputusan, dan apapun keputusanku adalah bukan karena mereka berdua, melainkan karena CINTA.

-Tamat-


📝 Komentar juri|Anwar Sastro Maruf

Tulisan sederhana ini sanggup memberikan pesan tentang arti cinta dan kasih sayang yang sesungguhnya. Bagaimana bahasa cinta dan kasih sayang antar manusia, bagaimana kepedulian antara seorang anak dan seorang ibu (meskipun hanya seorang pengasuh) yang telah menemukan bahasa cinta. Cinta dan kasih sayang adalah harapan hidup bagi manusia, apalagi bagi mereka yang memiliki kebutuhan khusus (difable).

 

📝 Komentar juri|Ratu Selvi Agnesia

Tulisan yang mengharukan tentang ikatan cinta bibi dan Memei hingga 9 tahun kebersamaannya dan lebih. Bukan karena materi dan relasi majikan dan TKI, namun cinta yang mengikat keduanya begitu kuat. Refleksi majikan yang baik juga menjadi menarik diceritakan melalui dialog-dialog yang mengharukan dan sarat makna juga disampaikan dengan bahasa yang mengalir dengan indah dan puitis


首獎 First Prize
🏅青少年評審獎 Teen Choice Award

📜關於愛 TENTANG CINTA

👤 Loso Abdi

 

我看著她的透明如玻璃般的眼珠子,美麗又閃耀著光,而且總是如此。她,那美麗雙眼的主人,即將過來抱住我,親我的臉,然後我們會一起大笑。

與以往不同的是,我這次笑了很久,在這雙美麗眼睛的主人鬆開我的脖子後,我仍然笑著。當她要求換我抱她的時候,我仍然一直笑,笑到我淚都流出來了。

「阿姨哭了?」她的小手撫摸著我濕透了的臉頰。

「親愛的,因為阿姨笑得太用力了,所以眼淚都流出來了。」我笑著回答,然後馬上把她抱起,因為這樣我們就不會對到眼。我不希望她看到我眼中的悲傷。

我抱著那雙美麗眼睛的主人,抱了非常久,我拍著她的上背,直到她的呼吸聲變得規律,這意味著她睡著,進入夢鄉了。

**

她,那個擁有美麗眼睛的小女孩,已經和我在一起九年了。我來到她父母在龍潭的家,差不多是她一歲的時候。嬰兒椅上的她,微微蜷縮,沒出聲,也沒動作,只有眼珠子十分地靈活。

「小姐,請問是哪個孩子要交給我照顧呢?」我問了當時開車送我過去的仲介。

「她。」她把目光轉向那個小嬰兒。

「但…」

「妳的雇主會教妳怎麼照顧好她,她就像其他孩子一樣。如果妳有什麼不懂的,就馬上打給我。」她打斷了我,話講得像一列快車般沒有停頓,連讓我講一句話的機會也不給我。

當時我只能點點頭,聽著仲介所說明的一切。就像在儲備中心教的那樣,對所有提問,回答「是」就對了。

「妳願意不管時限一直工作嗎?」

「是。」

「會遵守所有雇主的要求嗎?」

「是。」

「妳可以煮豬肉嗎?」

「是。」

「妳可以接受沒任何休假嗎?」

「是。」

仲介離開後,我感覺就像被扔到一個我從未駐足過的世界,一切都很陌生,即使是雇主的笑容,感覺上也奇怪。

隔天,我開始執行我唯一的工作:照顧那個擁有美麗眼睛的小嬰兒。

我一定要堅持走下去。我等待來台灣工作的機會,已足足等了七個月。 我的兩個女兒已很久沒繳學費了,而我的丈夫也花了太長的時間,去處理他因車禍所致的腳傷。我離家許久,卻沒賺到什麼錢,所以這次我承諾自己,盡可能做到最好,不反抗也不抱怨。

妹妹,我照顧的小女孩是一個特別的孩子。她的身體比同年齡的孩子小得多。除了閃閃發光的美麗眼睛,她的四肢幾乎都不是「活著」的。她的手腳都很瘦小,像是沒長骨頭一樣。除了哭聲和尖叫聲,就沒有其他聲音從她嘴裡發出了。

照顧她的第一年,我母性的本能逐漸出現,我越來越愛她。剛到這兒頭兩個月內心的糾結已徹底消失。起初我非常害怕,而且有點不適應,但隨著時間推進,恐懼感也逐漸消失。

我總是小心翼翼地照顧妹妹。我每天跟她說話,慢慢地練習移動她的手和腳。我不是個可以改變她身體缺陷的天使,但我一直很努力。我希望妹妹可以像其他孩子一樣,健健康康長大。

我時時刻刻都陪著妹妹,尤其是在她六歲時,楊太太生了個弟弟給她之後,先生和太太將妹妹的所有需求都托付於我。這不是因為他們不愛妹妹了,也不是因為他們有第二個孩子,所以只想關注他,而是因為他們信任我,他們看到我跟妹妹兩人之間的緊密的關係。先生和太太都是孩子們的好父母,他們都很關心孩子們的成長及發展。就像其他生活在都會區的人一樣,他們必須犧牲與孩子相處的時間,因為他們得努力工作,才得以養活孩子。

早上六點他們就出門了,把兒子送到托兒所後,便前往桃園上班,傍晚五、六點才下班返家。

有時我看他們實在很可憐,回到家已滿身疲憊,還要打理家務、照顧兒子。我其實很想協助他們,減輕他們的負擔,比方說幫忙打掃房子,或在太太做晚飯時、幫忙看小孩。但我也無能為力,因為不能放著妹妹不管,而先生和太太也了解這一點,所以一次也沒麻煩過我。對他們來說,只要我把妹妹照顧好就足夠了。他們從沒給過我負擔,也沒要求我做其他的工作,也從未叫我去幫忙他們任何的事。

但這不代表我完全沒幫忙他們,有時候妹妹睡覺時我儘可能協助他們做家務事,有時候也邊照顧妹妹邊整理房子。

最早在楊先生家工作的時候,我從有沒休過假。太太偶爾會問我,星期日要不要休息?出去跟朋友見見面、散散心也好。 只是我拒絕了,一想到我在外面玩得正開心時,妹妹哭著找我,那該怎麼辦呢?

「阿妮(Ani),難道妳不想見見朋友嗎?不想去台北逛逛嗎?」太太問道。「我們知道妳很累了,妳來這兒已經快三年了,這三年一次假也沒放過。我們不想把妳關在家裡,妳有權出去走走。」

「沒關係的,太太,如果我出去了,您一個人在家會很辛苦的,再說我也放不下妹妹。請您放心,我很快就要回印尼了,可以在家休息就好。」我邊回答,邊擺好在我懷裡熟睡的妹妹的腳。「我根本不覺得我被關在這兒,太太,我在這兒工作,真的覺得開心。」我接應道。

「我和先生希望妳合約結束後,還可以回來這兒。」她邊說邊揉著我的肩膀。

我望著漆色已漸黯淡的天花板。去年農曆年,先生空不出時間為房子油漆。頃刻間我的思緒已開始飄行,飄過海洋,越過高聳的山脈,然後穿過我外南夢(加註:Banyuwangi,印尼東爪哇省的一個郡縣)家裡的牆,我望見丈夫和兩個孩子圍坐在桌子旁,他們正看著一張漆彩斑駁的木製相框裡的照片,而照片裡的人是我。那是七年前,我剛結束縫紉課程的照片,照片裡的我,看起來如此幸福,那是我拍過最美的照片。

珊蒂(Santi),我的第一個孩子,今年將從初中畢業;而第二個孩子,巴渝(Bayu),今年將進升上六年級。我的丈夫還沒能正常活動,即使已經不用靠柺杖走路了。我能體諒他,他也是為了這個家,才變成那樣的。我丈夫是計程摩托車司機(加註:印尼文,ojek),為了去接送客戶而發生車禍。車禍發生以來,家裡的經濟狀況從一開始普普通通,後來變得越來越拮据。我做家庭裁縫的收入無法養活一家四口,那時候在種種考量與家人的祝福下,我最後決定出國工作,到台灣討生活。

「是的,太太,我願意再回來照顧妹妹。」我點頭應道。我從上個月就開始思考、準備這個問題的答覆。我已認真考慮了,我還有許多家庭義務尚未兌現,我仍然需要錢來讓養育孩子,也需要存錢來應付家用。 雖然這代表我不得不與家人再分開三年,但我已和丈夫、孩子們討論過了,不管情願與否,他們將祝福我的決定。其實若能生活在一起,那該有多好,但我們也知道,人生並不是想像中的簡單。

「謝謝妳,阿妮,先生聽到這消息一定會很高興。」夫人緊緊握住我的手,她的潔亮的眼珠子外,有一圈凹陷的深黑。我知道身邊這個女人很疲憊,但我也知道,她是位堅強的女性。我從她身上學到很多,例如如何面對生活、如何堅持、如何保持微笑、以及如何為家人「挺身而出」。而我從楊太太生活中得到最為感恩的體會就是,如何去當一個,在任何情況下,都能夠給予丈夫、孩子及他人愛的妻子、母親與女人。

我在第一份合約結束前一天回印尼。先生和太太交代我回到印尼後,就直接去仲介公司辦理續約。我只能點頭回是,心裡卻惦念著孩子和丈夫,我其實想花更多的時間和他們在一起。

然而,在家這幾天,先生和太太不停地打電話給我,他們不是為了找我說話,而是因為妹妹一直鬧脾氣,說要找我,只有聽到我的聲音,她才願意安靜下來。我的心裡亂成一團,這與三年來我在台灣工作的感覺一樣。同樣是想念,不同的是在台灣時,我想念的是我的丈夫、孩子,而現在我人在印尼的家中,想念的卻是妹妹的臉,以及她美麗的眼睛。

一個月後,我從印尼回到台灣,妹妹整天都黏著我,不願從我腿上離開。我從她的呼吸聲,感受到她對我的思念,而我相信,妹妹也知道我一樣十分思念她,那層層疊在我肌膚上的思念

那天起,我們變回一對戀人,她十分愛我,我也一樣愛她。不知何故,我對她的愛日漸濃烈,我不再當她是我雇主,我也不在乎她的膚色白嫩潔淨,而我的皮膚有如人心果(加註:sawo,水果名)。我只把這一切看作是愛,一種我無法向任何人解釋的愛,一種像我在家裡也擁有的愛,一種不需要其他人認可的愛。

踏入照顧妹妹的第五年,這孩子開始展現變化,她變得更加活潑。先生和太太對妹妹的進步感到非常欣慰,他們越發積極地,去查有關她轉變的資料。

那一年開始,依太太的建議,我偶爾帶妹妹出門,我不只帶她去社區廣場上曬太陽,也帶著她與我的朋友們聚會,或是去印尼商店匯款給家人。

一開始照顧妹妹的無趣與恐慌,最後已消失殆盡。現在和她在一起的每一天,都是幸福愉快的,有時我甚至會忘了我只是個保姆。

當我的工作合約邁入第六年,我開始因猶豫而困擾,而弟弟那時剛滿週歲。

同一年,我的女兒珊蒂將從高中畢業,我的夢想就是能夠掙錢供她拿到大學文憑。我最大的希望就是,看到自己的孩子有所成就,讓家裡可以擺脫經濟重擔。如果可以的話,我也希望我的孩子能造福他人,這樣也許人們就不再需要為了養家而離鄉背井。 因為我深刻體悟到,當一個海外移工有多麼地辛苦。

然而另一方面,我也希望能陪在丈夫和孩子們身邊,替他們做飯,替他們洗衣服、生病時照顧他們,聽他們分享學校朋友的故事。我簡直進退兩難。

我那一整年都過得很辛苦。夫人多次詢問我的決定,她對我抱持著很大的冀望。至於妹妹,她越來越繫心於我。每當那女孩抱住我、親吻我的臉時,我不再續約的決心就徹底粉碎了。然後又透過她的雙眼說:「阿姨,永遠都不要離開我好嗎?我愛您!」

老天,誰不會因為她真誠的眼神而融化?誰又捨得讓那雙美麗的眼睛流出淚呢?

在我的第二份合約結束的前四個月,發生了件大事,一件讓楊先生一家人淚流、又喜又悲的大事。。

我記得很清楚,那天是八月三日,在我們吃完晚餐後,如往常大家聚在客廳裡看電視。通常會呻吟、尖叫的妹妹,那晚卻比較安靜。真是貼心的孩子啊!也許她知道,我為了減輕些她媽媽的負擔,除了照顧好她,我也幫忙打掃房子,知道我累,所以她不吵不鬧。

我們電視看得興致正高時,突然有一個小而微弱的聲音呼喚著我。

「阿姨…阿姨…」

我們三人立即轉頭,向妹妹那兒望去 。小女孩微笑著,口中喃喃自語,或許正在呼喚我

那應該是對先生、太太、還有對我而言,最快樂的一個夜晚。但事實上,妹妹的聲音,她第一次叫人的聲音,在太太的心口上留下一道深深的疤。

我低著頭,感到過意不去。我明白的,當自己至親的孩子,從口中說出的第一句話,不是自己的母親的時候,她會有多麼心碎呢。。

先生也熱淚盈眶,但我不曉得他感受為何。那個戴著眼鏡的男人,起身把女兒擁入懷中,妹妹高興地叫了起來。她感受得到我們的喜悅,但她不無法感受母親內心的疼痛。

我隨即跟上已走進房間的夫人,離開仍然相擁的父女。

那個女人坐在床角,雙眼紅腫,好像是在向我訴說:女兒真正主人受傷了。

而我也感受得到她眼神所欲傳達的訊息。我能體會她傷口的痛,因為我也是個母親。

「太太,對不起。我從沒教過妹妹怎麼叫我,我總是教她如何叫妳和先生。太太,請原諒我。」我拉著她的手,這個女人一動也不動,眼淚卻不停地落下,讓我越發內疚。

「太太,我向妳保證,明天或者是後天,妹妹一定能叫妳一聲媽媽、叫先生爸爸的。」我盯著她悲傷的雙眼,那雙別有意味眼睛,透漏著她所思所想:我算什麼母親?我自己的孩子說出口的第一句話不是「媽媽」,不是叫我,而是叫別人!

我們彼此沉默了幾乎五分鐘。我不知道該對她說什麼。直到她拉著我的手說:「阿妮,該道歉的人應該是我。」她緊握著我的手說道。她的手顫抖著。

「妳沒有錯,完全沒錯。妹妹只是說她想說的。對,我是那個生下她的人,但妳才是每分每秒陪在她身邊的人。我不應該這樣的破壞氣氛的,我們應該在妹妹面前,表現我們的開心,慶祝我們一直認為不可能發生的奇蹟才是。我應該感謝妳,阿妮,因為有妳,妹妹才能像現在這樣。我敢確定,醫生一定也會對她的進展感到驚訝。阿妮,真的謝謝妳。」那女人微笑地說完她的話,嘴角揚起成和藹的笑容,而她眼裡的傷,也逐漸淡去。

「太太不生我的氣嗎?」我愚蠢地問道。她隨即抓住我的肩膀,緊緊地抱著我,以示回應。

「謝謝妳,阿妮,我求妳繼續照顧妹妹吧!」太太在我耳邊低語。這句話一次又一次,在早晨、中午、夜晚,不斷地在我耳際浮現。也因為這句話,五個月後,我續了合約,再次回到台灣。這是我在這個家的第三份合約。

**

我鬆開那美麗眼睛女孩的擁抱,為她把棉被蓋好。看著這個十歲女孩的臉,一張如此無邪的臉,一張充滿幸福的臉。說真的,我實在不想在這張臉上,塗上悲傷的色彩,就算只有一點也不想。

望住妹妹熟睡的臉,我的眼淚突然就掉下來了,而這次,我不再需要假裝微笑。

再不到兩個月,我的合約即將結束,這也代表,我在這裡工作--看護妹妹--已經九年了。 我很開心,我從不覺得我是在這裡工作,反而更是種分享,或說是命運的安排。上帝創造了一切,包括把我放進這個家裡。

我起身走近窗台,在一旁站著。自昨天就下個不停、讓空氣冷卻得刺骨的雨水,在起了霧的玻璃上,讓我望見珊蒂和巴渝的臉,他們要我回家,他們思念著我,思念著他們的母親!

我顫抖著。當珊蒂和巴渝的身影在窗外,不斷向我揮手的時候,我更是全身發顫。我怕他們失望,我怕他們因為我丟下他們不管而恨我,我怕有天會換成他們拋棄我,我也怕我在思念中迷失的時候,他們也將從我身邊遠走。我到底是個怎樣的母親啊?

上帝,我知道愛是需要犧牲的,但我從沒想過,犧牲會是這麼地大。

上帝,我害怕製造新的傷口,珊蒂和巴渝承受了這些傷,我不想再傷害任何人了。

上帝,我相信祢會指引我最好的道路,我確信這一切都是由祢的安排。

外面仍下著雨,而這個夜越來越漫長。今晚我得做出抉擇。最近這幾個星期,先生和太太幾乎每天都會問我,是否還能留下來,繼續照顧妹妹。

由於我的合約快終止了,他們必須提前準備,是否要續簽我的合約,或者找新的看護。至於妹妹,她還不明白我能待在這兒,是基於一紙合約,她也還不明白,我家裡也有孩子,她只以為,現在我和她一起住在這個家裡,而未來也將如此。她並不知道,我們之間擁有愛情,對彼此擁有歸屬感,但卻無法擁有永遠在一起的命運。

是的,今晚我必須下決定,一個艱難的決定,非常非常的困難。

但無論如何,我還是得做出抉擇,一個不再關乎我能換來多少金錢、而是關於愛的抉擇。

差不多有半個小時,我一直在禱告,請求祂的指引。妹妹的夢話呼喚著我的名字,把我喚醒、帶我回到現實世界,正等著我做出決定的世界,一個已安排好我的命運的世界:瑪麗阿妮(加註:故事主人翁原名Maryani,簡稱Ani),年四十,來自外南夢的Genteng的海外移工,因經濟重擔來到台灣,但隨著時間的前行,愛,牽絆著她,現在的她陷入兩難:一個是對於家鄉孩子的愛,另一個則是對妹妹--那個特別的小女孩--的愛。

珊蒂、巴渝,請原諒媽媽,你們要知道,對媽媽來說,妹妹和你們一樣重要,她就是你們兩個的妹妹。你們能理解嗎?目前媽媽還沒辦法放下妹妹不管,媽媽仍需留在這裡照顧妹妹。媽媽答應你們,三年後妹妹可以料理自己、可以照顧好自己、也明白在這個世界上沒有永恆的事物--包括她與媽媽的緣分--之後, 媽媽答應你們,等妹妹能理解人生,媽媽就會回去了。你們要知道,媽媽可受不住對你們的思念,媽媽真的思念你們,我的孩子們,這一切真的不容易啊!但是,請你們給媽媽一個機會,將上帝旨意的道路走完,幫助妹妹學會面對現實的人生

我替妹妹蓋好棉被後,旋即走出去。太太跟先生仍然坐在客廳裡。我和他們面對面坐著,這兩個已經和我一起生活九年的人、和我分享一切的人。我已做好決定了,不管我的決定為何,都不是因為他們兩個,而是因為「愛」。

 

-完-


評語|Anwar Sastro Maruf

這篇簡單的作品能夠傳達出愛和真情的真實含義。人與人之間的關愛和情感,孩子和母親(雖然只是一個保姆)之間是如何找到愛的語言。關愛和感情是人類的生活期望,特別是那些有特別需求的人(身障人士)。

評語|Ratu Selvi Agnesia

這是一篇關於阿姨和妹妹九年情感連結的感人故事。不是因為物質或雇主與移工的關係,而是兩者之間的愛是如此的強烈。友好的雇主也變得很有趣,透過感人和充滿意義的對話也以流暢且充滿詩意的語言顯現出來。

 

發表迴響

你的電子郵件位址並不會被公開。 必要欄位標記為 *