MATRYOSHKA

 2018 Babak penyisihan 印尼文初選  

📜 MATRYOSHKA

👤 Novia Dhama Yanti

 

Aku ingin kau punya tujuh lapis nyawa seperti matriyoskha. Setidaknya buktikan bahwa dongengmu bukan hanya isapan jempol lelaki tua yang malang. Bahwa matryoshkamu yang memenuhi lemari kaca benar-benar punya tujuh lapis nyawa.

Pneumonia, kalau aku tidak salah mengeja nama penyakit itu yang telah menempatkanmu sama seperti koleksi matryoshka. Dalam kotak kaca besar terpenjara. Seorang diri terasing dan terpajang tak berdaya. Hanya dari kejauhan kusaksikan alunan nafasmu yang berat dan detak-detik alat-alat medis yang serupa robot raksasa dengan kabel-kabel panjang bersliweran mengelilingimu. Sungguh menyeramkan. Pak tuaku yang malang.

Sejak pagi aku hanya berdiri memandangimu dari luar kaca. Menguatkanmu dalam doa-doa panjangku. Sungguh aku ingin kau segera mencabut selang-selang menakutkan itu dan kembali ke rumah bersamaku untuk mendongeng lagi tentang matryoshka yang punya tujuh nyawa. Namun sudah hampir seratus hari lamanya kau tertahan di kotak kaca. Tanpa bangun, tanpa tidur, tanpa hidup namun belum mati.

“Kau tau Mey kenapa matryoshka punya tujuh lapis boneka lain di dalamnya?” katamu bangga waktu itu sambil memamerkan boneka baru berwarna merah pemberian Mr Fang yang baru pulang pelesir dari Moskhwa.

“Tidak tahu. Setahuku memang matryoshka bentuknya memang seperti itu,” jawabku.

Pak tuaku tersenyum samar, tarikan ke atas ujung bibirnya menandakan jawabanku pasti keliru.

Di ruangan tengah, kami sepakat menyebutnya ‘museum’ matryoshka. Ruangan itu hanya berpenghuni sekitar seribu matryoshka. Jujur aku tak pernah menghitung sih. Tapi saking banyaknya boneka-boneka kayu beraneka warna itu kira-kiralah berjumlah seribu. Suatu saat jika aku punya waktu aku akan menghitungnya satu persatu sekedar untuk melengkapi rasa penasaran diriku.

Kuamati dalam-dalam boneka-boneka itu yang hampir semuanya berwajah tersenyum dalam balutan sarafan. Pipi yang kemerahan serta mata bulat besar yang berbinar. Cantik sekali memang dan berada di sini seperti ada di negeri dongeng dengan boneka-boneka cantik yang seakan-akan hidup dan tersenyum kepada kita.

Di sebuah kotak kaca yang tersendiri ada sebuah matryoshka yang sedikit berbeda, boneka ini seperti boneka lama yang sudah tua dimana di beberapa bagian tubuhnya catnya mulai mengelupas dan ada sedikit retakan pada kayunya. Kalau tidak salah ini adalah matryoshka pertama yang dimiliki pak tua. Rasa cinta pertamanya pada wanita yang memberi boneka itu padanya. Kecintaannya pada seorang gadis berpipi bulat kemerahan yang begitu menyukai boneka kayu Rusia.

Betapa romantisnya ketika pak tua menceritakan tentang Anna, gadis matryoshkanya. Binar matanya akan seperti kejora dan bibir tipisnya akan menyunggingkan senyum Cassanova.

“Apa Anna demikian cantik?” tanyaku penasaran dengan sosok Anna yang tak pernah terlukis dalam sebuah foto atau lukisan.

“Cantik sekali. Amat sangat cantik. Ya seperti matryoshka yang ini,” katanya sambil menunjuk boneka yang terpisah sendiri di sebuah kotak kaca istimewa.

Cerita-cerita tentang Anna hampir tiap hari kudengar, dan gadis matryoshka itu yang juga membuatku jatuh hati. Tak mengenalnya tapi rasanya dia begitu dekat, tak tahu dia tapi rasanya dia ada di sini, bersama kami setiap saat.

“Lalu dimana Anna kini?”

Pak tuaku tercenung, bias ulasan senyumnya menghilang. Ada pedih membayang laksana awan hitam di kedalaman matanya. Kepiluan mendalam yang mendera seorang pria tua yang hidup dalam kenangan cinta.

“Maaf … maafkan aku jika salah bertanya.”

Dia menyunggingkan senyum, lalu tangannya menepuk bahuku penuh kasih.

“Kelak kau akan tahu dimana Anna.”

Sejujurnya aku rindu hari-hari itu. Dimana kau akan mendongeng panjang tentang boneka-bonekamu dan tentang Anna. Sudah terlalu lama kau tidur tak berdaya, dan aku membenci itu.

Pagi itu begitu dingin saat aku berdiri di luar kotak kacamu. Masih menyaksikan dirimu yang dikelilingi alat-alat yang berdetak-detik dan kabel-kabel panjang berjuntaian laksana robot raksasa. Sungguh kau tak cocok berada di sana, kau lebih cocok ada di atas kursi roda merahmu di museum matryoshka. Di sanalah tempatmu. Tempatmu mendongeng dan bertahta dalam balutan kenangan Anna.

“Mei, apa kau tahu kucing itu punya sembilan nyawa?”

“Benarkah?” tanyaku berbalik menanya. Perasaan tak ada pelajaran apapun di sekolahku yang menerangkan bahwa kucing punya sembilan nyawa. Apa aku lupa atau sewaktu pelajaran itu aku tengah melamunkan semangkok soto ayam mbak kantin.

“Iya … kucing itu punya sembilan nyawa. Di Jepang kucing adalah kesayangan Dewa Amaterasu, dia adalah dewa matahari. Itulah awal mula boneka ‘manekineko’ boneka kucing yang tangannya selalu bergerak-gerak itu.”

Melintas bayangan boneka kucing di lemari depan yang salah satu kaki depannya terus bergerak dan pak tuaku menjelaskan itu adalah lambang kemakmuran. Kucing itu begitu dipercaya membawa banyak berkah. Benarkah? Sebuah pengetahuan baru yang kudapat di sini bersamamu.

“Aku ingin punya banyak nyawa seperti kucing atau seperti matryoshka,” katanya lagi dengan mata berbinar penuh harapan laksana kejora sore itu sambil menatap boneka-boneka kayunya.

“Harus … berjanjilah padaku. Berjanjilah kau tak akan pernah tertidur lama lagi.”

“Aku berjanji, Mey. Aku sungguh ingin hidup seribu tahun lagi,” lanjutnya lalu diiringi sebuah tawa. Indahnya sore itu, seakan-akan seluruh ruh matryoshka-matryoshka itu mengamini janjinya.

Namun jika aku tak salah hitung ini adakah koma ke empatnya. Dan sungguh firasatku buruk sekali. Aku takut dia tak pernah bangun lagi dan tentu dongeng Anna dan seribu matryoshka akan terhenti. Jangan—jangan sampai dongeng itu tanpa lanjutan. Aku masih ingin mereka-reka wajah Anna ataupun punya pengetahuan baru dari pak tuaku yang laksana ensiklopedia.

Ternyata genap sebulan ini tak ada perkembangan. Kotak kaca itu masih mengekangnya.

“Bangunlah … bangunlah pak tuaku,” bisikku lirih sembari melafadzkan doa dalam hati.

Mr Lin adik pak tuaku datang ke rumah sakit pada hari Senin berhujan. Guru besar seni lukis itu pulang setelah sekian lama karena dia adalah satu-satunya sanak famili pak tua.. Dia hampir serupa dengan pak tua, tinggi, pipi tirus, bola mata yang berbinar, dan bibir tipis yang menyungging senyuman.

“Terima kasih telah menjaga kakakku, Nona Mey,” kata Mr Lin sopan.

Aku mengangguk sambil tersenyum. Pak tua begitu baik padaku dan sepatutnya aku membalas kebaikannya dengan menjaganya sebaik mungkin.

“Pak tua apa memperlakukanmu dengan baik?” tanyanya sambil membetulkan letak kacamatanya.

“Baik sekali. Beliau begitu menyayangi saya seperti saya menyayanginya.”

“Syukurlah. Dan tentu kau paham tentang dongeng Anna dan seribu matryoshka kan?”

Aku hanya mengangguk. Aku paham sekali semua dongengannya sampai hafal di luar kepala bahkan. Anna … Anna … gadis matryoshka dengan sarafan merah berpipi bulat merekah kemerahan.

Hari-hari berikutnya masih sama. Dia tetap belum terbangun dari tidur panjangnya. Kata Mr Lin adalah sebuah keajaiban jika sampai pak tua terbangun dari komannya.

Tepatnya hari itu adalah Sabtu, akhir pekan yang hening karena rintik hujan. Aku yang berdiri termangu di luar ruang isolasi rumah sakit memandangi pak tuaku yang masih dipeluk alat-alat untuk mempertahankan nyawanya. Jujur beberapa hari ini aku begitu kalut, rasanya sebentar lagi akan ada sesuatu yang terjadi, entah apa tapi harapanku semua akan baik-baik saja.

Firasat demi firasat bersliweran tak jelas. Apa dia akan pergi? Atau dia akan hidup kembali seperti kemarin-kemarin? Hanya Tuhan dan pak tua yang tahu akan itu sementara itu aku hanya tahu kotak kaca rasanya kian menyesakkan. Ruangan itu begitu menakutkan lama-lama. Tambah menakutkan seperti sekarang walaupun siang hari juga.

“Tuhan … bolehkah aku meminta sesuatu …,” doaku waktu itu dalam sujud panjangku. Kuyakini walau Tuhan kami berbeda tapi Dia pasti mendengar setiap doa. Pak tua sering kulihat berdoa dengan melipat tangannya dan aku meminta kali ini dengan sepenuh hati dengan segenap keyakinan yang aku punya. Jadikan dongeng matryoshka nyata untuk Pak Tuaku sekali ini saja, buat dia punya tujuh lapis nyawa.

Pagi itu berhujan, tidak deras namun awet. Dan dari kejauhan bayangan seorang wanita dengan baju merah tampak sedang berada di depan kotak kaca pak tua. Wanita itu berambut jagung dan tinggi. Aku tak dapat melihat wajahnya dengan jelas karena dia memunggungi namun gaun merahnya mengingatkanku pada sesuatu.

Ya … sarafan merah dari matryoshka Anna.

Aku tahu dimana Anna sekarang. Dia selalu di sini bersamamu, bersama kita. Maka bangunlah Pak Tua … bangunlah ….

 

Taiwan, 1 Mei 2018

Catatan;

Sarafan: pakaian tradisional Rusia. Sarafan diambil dari bahasa Persia di Iran yang berarti dari kepala hingga kaki. Istilah ini muncul pada abad ke-12 dan 13.


📝 Komentar juri|Olin Monteiro

Kehidupan pekerja di luar negeri menjadi menarik, dengan relasi personal yang melebihi ikatan bekerja

發表迴響

你的電子郵件位址並不會被公開。 必要欄位標記為 *