I’ Ce Cream

 2018 Babak penyisihan 印尼文初選  

📜 I’ Ce Cream

👤 Suliani

 

Aku tahu, hidup bukanlah tentang menunggu badai berlalu, bahwa hidup adalah bagaimana kita menari ditengah badai itu,

Namaku Annie, ini tentang sebuah kisah di masa lalu. Taiwan , Mioli shien sembilan februari dua ribu lima, semua kenangan yang terjadi waktu itu masih terukir jelas dianganku, teramat sangat jelas.

Pengalaman dimana pertama kalinya aku menginjakan kaki di negeri asing yang mengasingkanku. Pengalaman dimana setelah beberapa hari tepatnya tiga belas februari sahabat kecilku pergi untuk selamanya. Pengalaman pertama kali aku membalut kesedihan dalam kesendirian. Tidak ada seseorang untuk berbagi, tidak ada seseorang menemani dalam kesedihan yang mendalam. Aku sangat asing dan terasingkan.

Bagaimana mau berbagi?, jika bahasa orang orang asing itu sama sekali tidak aku mengerti. Mengikuti pelatihan bahasa selama satu bulan di Indonesia, ternyata sama sekali belum cukup. Satu-satu nya orang Indonesia yang ku kenal, selalu berkata (“kau datang untuk bekerja, banyak-banyak mendengarkan dan lakukan perintah. Jangan mengacau dengan masalahmu.”)

“Dia sudah terlalu lama di Taiwan, dia lupa adat istiadat indonesia, jangan mengeluh padanya” bisik perempuan yang senasib denganku, ia duduk dikursi bagian ujung, buru-buru menggeser tubuh hanya untuk memberitahuku.

“Mbak itu,” lanjutnya sembari menunjuk pada seorang perempuan berambut merah, penerjemah di agenci yang menaungiku, dan baru saja mengomel padaku. “sebaiknya jangan terlalu banyak bertanya padanya.”

Aku menatap pada perempuan yang berbisik itu, bukan pada apa yang ditunjuknya

“oh begitu?” Gumanku lirih, sedikit menelangkan kepala dan tidak memedulikan apakah perempuan itu mendengarku atau tidak, yang jelas dalam pikiranku berkecamuk uraian dan bantahan tentang pernyataannya.

(“apa salah jika aku bertanya tentang apa pekerjaanku?, apakah salah jika aku bertanya dimana aku bekerja nanti? Apakah salah jika aku ingin melihat lembaran perjanjian Job ku?”)

Aku tidak menguraikan apa-apa yang ku rasakan saat ini, tentang tidak adanya pengalaman bekerja, tentang bahwa ini pertama kalinya untukku, tentang kabar kematian sahabatku yang begitu menyayat hatiku. Tidak sama sekali! Aku hanya menanyakan apa yang memang harus ku tanyakan.

“tiga kali” katanya lagi, aku mengerutkan alis, “ini untuk ketiga kalinya ganti majikan untukku” lanjutnya, tidak ada gurat kesedihan diwajahnya bahkan senyum lebar sama sekali tidak bergeser dari bibir.

“kenapa?” Tanyaku heran, ia menggedikan bahu, dengan senyum itu, “nanti kau akan tahu sendiri, rata-rata begitu, bahkan ada yang lebih parah.”

Sebenarnya maksud pertanyaanku bukan hanya tentang pekerjaannya, akan tetapi juga tentang senyum lebar itu, bukankah seharusnya ia bersedih? Ini pasti sangat sulit dilalui.

Ia menghempas napas panjang, kembali keposisi duduk tegak, “tiga bulan tiga kali ganti majikan, ini tidak mudah, tetapi waktu mengajarkanku untuk selalu tersenyum. Mengeluh dan menangis hanya akan menambah beban.”

(Aku mengerti), kataku dalam hati. Diam-diam hatiku kagum padanya. Begitu aku ingin membalas senyumnya, suara gaduh dari pintu utama kantor agenci mengalihkan tatapan sekaligus menghapus beberapa pertanyaan yang tadinya masih ingin ku tanyakan pada perempuan itu,

“bu se… bu se wo..!! “

Seorang perempuan dengan rambut acak-acakan, kedua tangan di ikat dengan tali dan tampak kacau, berteriak-teriak tak henti. Dua orang laki-laki bertubuh besar memegangi dikanan kiri. Aku tidak yakin perempuan itu berasal dari negara mana? Yang terlihat jelas adalah, ia memiliki warna kulit sangat mirip dengan warna kulit orang Indonesia.

“Tuh akibatnya kalau kebayakan tingkah!” Bersamaan aku dan perempuan yang duduk disampingku menoleh pada asal suara, “Dia mencuri perhiasan majikannya, sudah dikasih makan saja harusnya bersyukur, masih baik majikan tidak melaporkan ke polisi.” Kak Arie, penerjemah agenci menjelaskan sesuatu tentang perempuan yang di ikat kedua tangannya, Beberapa pertanyaan muncul kembali dibenakku, tetapi aku mencoba menahan suaraku begitu mengingat pesan perempuan yang duduk dikursi sebelahku.

“Asih, kamu siap-siap majikanmu sebentar lagi datang.” Lanjutnya, tanpa melihat pada aku dan kak Asih, nama perempuan yang dipanggilnya.

“iya mbak,” jawab kak Asih, senyumnya benar-benar menggembang sempurna. Ia berdiri dari kursinya dan sekali lagi berbisik padaku,

“Semoga sukses.”

***

Ini akan menjadi petualanganku yang pertama, beberapa nasehat kak Asih dan senyum lebarnya, sangat berguna untukku. Yah, aku juga akan berusaha tersenyum seperti dirinya apapun yang terjadi nanti.

Hari ini, setelah beberapa hari aku di ajari bekerja di rumah sahabat pemilik agenci, akhirnya aku diantarkan ke tempat majikanku yang sebenarnya. Kak Arie menjelaskan tentang sedikit hal, seperti aku menjaga Akung, hanya tinggal berdua dirumah Akung, dan rumahnya tidak seberapa jauh dari kantor agenci.

Sebenarnya penjelasan itu masih sangat kurang, lagi-lagi nasehat Kak Asih, untuk tidak banyak bertanya mengendalikan mulutku. Aku lebih memilih mengunci setiap pertanyaanku didalam otak, kemudian berusaha mencari jawabannya sendiri.

Kami. aku, kak arie dan pemilik agenci tiba disebuah rumah kuno yang sebenarnya sudah tidak layak ditinggali. Beberapa cat temboknya sudah mengelupas dan atap bagian dapur miring seperti mau roboh, juga tidak memiliki kamar mandi. Rumah itu dikelilingi bangunan-bangunan tua yang sudah tidak terpakai, juga tempat sembahyang, tetangga satu-satunya yang terdekat berjarak sekitar 500 meter.

Seorang kakek dengan kursi kayu berjalan menghampiri kami, tubuhnya penuh dengan bintik bintik merah, rambutnya sedikit panjang, dan jari jemarinya penuh dengan tanah, kemudian ia berhenti sebelum mendekati kami dan menggunakan kursi kayu yang tadinya untuk membantu berjalan, sebagai tempat duduk.

Aku pikir, aku tidak akan bertahan lama disini, perjalanan hidup Kak Asih berpindah-pindah majikan mungkin akan menular padaku. Akan tetapi satu dorongan kuat dari dalam hatiku, yang begitu iba melihat keadaan Akung , begitu aku memanggil , membuatku lupa pada ketidak adaan kamar mandi di rumah itu, atau kondisi rumah yang hampir roboh. Aku berhasil melaluinya, memang pada awalnya sering terjadi kesalah pahaman antara aku dan akung karena bahasa. Tapi aku tahu, aku menyukai pekerjaan ini dan aku menyayangi akung sebagaimana kakekku sendiri.

Sembilan bulan waktu berlalu, keinginanku menghabiskan masa kontrak bersama akung mengabur, keyakinan dan kenyataan bahwa umur akung yang sudah lebih dari seratus tahun, juga tubuhnya yang mulai melemah dan sakit-sakitan, mengembalikan kenanganku tentang kak Asih, tentang beberapa teman yang se-agency dan senasib dengan kak Asih.

Akung meninggal, sebelum meninggal ia berpesan padaku untuk pulang ke Indonesia, Taiwan bukan tempatku, begitu ucapannya.

Tidak bisa, aku tidak bisa memenuhi keingina Akung dan pulang ke Indonesia, tanggungan potongan gajiku masih enam bulan lagi. Aku tidak ingin membuat masalah baru dengan hutang itu. Setelah penguburan akung, aku kembali ke kantor agenci dan melanjutkan perjalanan hidupku.

Sebulan sekali, bahkan ada yang belum genap sebulan, berganti majikan satu ke majikan yang lain. Mulai dari menjaga Akung yang bertubuh ringkih dan kaki buyutan, naik turun tangga dari lantai dasar ke lantai tiga tiap pagi dan sore. Aku menyerah setelah satu bulan, aku tidak sanggup dan tidak tega melihat raga tak berdaya laki-laki tua itu, pasrah dengan perintah anak-anaknya. Mimpi buruk tentang Akung yang terjatuh dari tangga menghantuiku tiap malam.

Kemudian, berpindah lagi dengan Job bersih-bersih rumah. Rumah yang besar dengan lima lantai, aku memiliki kamar yang sangat luas dan sempit, ruangan yang luas dengan bertumpuk barang barang tak terpakai, terselip kasur lipat disela-selanya, disitulah tempat tidurku yang hanya ku kunjingi dua sampai tiga jam tiap malamnya, sisa waktu yang lain adalah bekerja.

Bangun jam tiga malam, memulai pekerjaan dengan mencuci baju dengan tangan, tidak di ijinkan menggunakan air panas, walaupun saat itu musim dingin, lalu Mengecat rumah, dan apapun pekerjaan yang harus ku kerjakan hingga istirahat tepat pukul dua belas malam. Hari-hari bergulir terus menerus seperti itu, hingga tubuhku memberikan sinyal ketidak sanggupan. Aku memutuskan untuk menyerah sebelum genap satu bulan.

Mungkin seperti inilah perjalanan hidup yang dilalui Kak Asih dulu, aku semakin salut dan kagum padanya setiap kali menjalani pekerjaan yang membuat dadaku sesak, sedangkan Kak Asih saat itu tetap menjaga senyumnya dengan lebar. Aku tidak bisa, aku tetap menangis saat sedih, aku tetap berduka saat mendung menggelayut, aku tidak setegar dirinya.

Hingga suatu ketika, aku mendapatkan majikan yang baik, menjaga Akung dan Ama tinggal satu rumah dengan majikan dan dua orang perempuan Indonesia yang bekerja dipabrik.

Disini aku mendapatkan apa yang ku impikan, walaupun menjaga Akung dan Ama yang sudah pernah dioperasi bagian otaknya itu tidak mudah, tetapi aku senang melakukannya. Aku senang dengan tingkah yang terkadang konyol, terkadang menjengkelkan mereka.

Lima belas bulan sudah aku berada di Taiwan, pengalaman-pengalaman lalu membuatku lebih tegar menghadapi hari esok.

Saat itu, pemilik agency datang, memberikan selembar kertas dengan tulisan “hanzel/pinyin” yang sama sekali tidak ku mengerti, hanya saja ia menjelaskan bahwa itu adalah surat pergantian majikan, tanpa pikir panjang aku langsung menandatanginya.

Majikan baik, memiliki teman, dan aku senang dengan pekerjaanku, apalagi yang ku cari? Dari itu aku segera menyetujui dan memberikan tanda tanganku diselembar kertas itu.

Hari-hari berlalu dengan suka cita, dua tahun sudah aq menggantungkan cita-cita di negeri formosa. Aku tidak peduli dengan dunia luar, cerita-cerita dari beberapa teman yang menghubungiku lewat telepon, sudah cukup bagiku, yang terpenting adalah pekerjaan dan diriku sendiri puas akan pekerjaan itu.

Hingga suatu ketika, bencana itu datang menghampiriku. Bermula dari datangnya tiga orang tenaga kerja laki-laki dari Indonesia untuk bekerja di pabrik. Pada beberapa bulan awal kami semua baik-baik saja, bertambahnya anggota keluarga bagiku adalah kebahagiaan tersendiri, yah aku menganggap mereka semua adalah keluargaku.

Ini bukan negara kami, dan ini bukan tempat kelahiran kami, jika kami bertemu dengan orang orang setanah air maka ibarat kami bertemu saudara kami, keluarga kami.. begitu pikirku.

Malam itu, mungkin bisa dibilang malam akhir dari kebahagiaanku bekerja merawat akung dan ama.

Pada saat aku tertidur lelap, seseorang menyusup ke dalam kamarku, aku hanya merasa sesak, seperti sesuatu menindih tubuhku dan aku kesulitan bernapas. Diantara sadar dan tidak, aku mencoba membuka mata, apa yang terjadi? Seseorang berada di atasku, dalam keadaan panik, aku mendorongnya menjauh kemudian menendang sekuat tenaga. Orang itu terpelanting jatuh ke lantai, sedangkan aku menatap nanar padanya, masih mengumpulkan kesadaranku tentang apa yang sebenarnya terjadi.

“Aku hanya ingin meminjam earphone” begitu ucapnya, sembari mengaduh berdiri mengibas ngibas pakaiannya, kemudian berjalan kepintu meninggalkan kamar.

Ia adalah salah satu dari TKL, dan entah mengapa ketika aku tersadar penuh, aku meragukan alasan dirinya masuk ke dalam kamarku hanya untuk earphone.

Paginya, aku melupakan kejadian semalam. Mencoba untuk berpikir positif dan tidak mempermasalahkannya. Aku mencoba bersikap biasa saja seperti sebelumnya.

Tetapi suasana tidak berpihak padaku. Majikan perempuan yang biasanya murah senyum dan ceria, sama sekali tidak menjawab sapaanku saat kami bersimpangan. Ia mengabaikanku, Bahkan sekedar ucapan (cau an) pun, tidak. Yang lainnya juga demikian, saat kami sarapan pagi bersama, suasana tampak kaku dan hening, aku mencoba membuka pembicaraan ringan, untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa suasana dingin disekitarku hanya perasaanku saja, tetapi tidak berhasil, sepertinya mereka memang sengaja bersikap seperti itu.

Lagi dan lagi aku masih mencoba menghibur diri, mungkin saja masalah pekerjaan di pabrik, mungkin saja ada masalah lain yang membuat mereka seperti itu. Tapi seberapa banyak aku menghibur diri pada kenyataannya, reaksi mereka tetap sama dari hari ke hari, keberadaanku seperti kasat mata.

Hingga hari itu, bom waktu seperti meledak dikepalaku. Aku yang tidak mengerti dimana letak kesalahanku, dijadikan tersangka, kemudian naik banding menjadi terpidana dan di eksekusi, tanpa satu pun kesempatan untukku mengajukan pembelaan.

Aku dan akung ama dipindahkan ke rumah mereka di desa. Sebuah rumah terpencil di tengah persawahan.

Beberapa kali aku mencoba mencari kesempatan untuk berbicara dengan majikan, ah sepertinya sia-sia. Aku hanya buang-buang waktu. Jangankan berbicara denganku, melihat padaku jika ia datang ke tempat akung ama pun tidak mau, seolah-olah aku ini seonggok bangkai yang akan menularkan bau busuk jika didekati.

Aku menyerah pada majikan dan mencoba jalan lain. Menelepon kantor agency dan mengorek keterangan tentang masalah ini dari sana, siapa tahu pihak agency mengetahui masalahku.

Kak arie yang mengangkat telpon. Begitu tahu aku yang menelepon, satu kalimat menyakitkan menghantam pendengaranku,

“Perempuan gatel, tidak tahu berterimakasih!”

Seketika mulutku terkunci, aku sudah seperti patung batu yang hanya mendengarkan ocehannya. Kata-kata yang menyakitkan, seperti bilah pisau menggores batinku.

“Majikanmu itu sudah baik, harusnya kamu memanfaatkan dengan baik, bukannya berbuat seperti itu. Malu-maluin.”

Aku mulai menebak-nebak arah pembicaraannya dan aku yakin ini tentang kejadian malam itu. Bukankah aku ini korban? Bukankah seharusnya aku yang dibela? Tetapi ini aku yang dihakimi.

Oh ya Tuhan! Aku mengerti sekarang, aku melupakan satu hal, CCTV yang keberadaannya memenuhi setiap sudut rumah majikan.

Tidak ada gunanya! Mereka semua tidak sedang mencari kebenaran, akan tetapi bersikeukeuh menuding dan menjatuhkan hukuman.

Tidak ada keadilan untuk orang lemah sepertiku. Yap! (Siapapun itu, jadilah kuat, agar kau tidak tersisih dari dunia, agar kau tidak merasakan hidup yang seakan mati karena terhakimi.)

Saat itu juga aku memilih untuk pulang!. Aku pikir aku harus melakukan sesuatu.

Bukankah hidup itu tentang pilihan. Memutuskan untuk tidak memilih’pun juga satu pilihan.

“aku ingin pulang ke indonesia” kataku, memberikan tekanan pada suaraku agar tidak terdengar suara serak dari tangisku.

“Siapkan uang sekurangnya dua puluh ribu, nanti kami antar ke kantor polisi untuk diproses pulang.” Jawaban Kak Arie lagi-lagi membuatku tersentak.

“kantor polisi? Apa hubungannya?”

“Kau pikir apa! Kau ini kaburan, kau tidak bisa pulang tanpa proses di imigrasi terlebih dahulu.”

Jantungku berdetak begitu kencang, “kaburan?” Gumanku “sejak kapan?”

“Sejak habis potonganmu, dan ingat ya kamu juga sudah menandatangani sebuah perjanjian, kalau kamu kabur maka uang tabungan dan pajakmu tidak kembali.”

Apa-apapan ini! Ya Tuhan! Aku merasa aku dijebak. Ceroboh! Akulah yang ceroboh dan bodoh!. Aku ingat kata-kata dua perempuan yang lebih dulu bekerja di pabrik majikanku. Mereka bilang, bahwa dulu tiga orang pembatu majikan yang merawat akung ama, kabur. Dan mereka juga bilang, majikan tidak bisa mengambil pembantu baru karena sudah dicap merah. Aku tidak mengerti dengan penjelasan itu, akan tetapi Surat dengan huruf pinyin yang ku tandatangani waktu itu, pasti ada hubungannya dengan hal ini.

Tuhan, aku benar-benar dijebak. Sudah jatuh tertimpa tangga. Baiklah, aku memutuskan saluran telepon, sudah cukup! Ini bukan waktunya untuk merengek pada mereka. Aku tidak mau terjatuh lagi dan lagi pada jurang yang sama. Aku memang bodoh, tapi aku bukan Kak Asih yang tegar dengan senyum lebarnya. Aku annie yang bodoh!.

Malam itu juga aku berkemas dan memutuskan untuk sekali lagi kabur dari rumah Akung ama. Dimanapun tempatku, toh statusku sudah kaburan. Bertahan ataupun pergi, sama saja ilegal.

Jika semesta tidak menunjukkan keadilannya untukku, maka biarkan aku sendiri yang memutuskannya.

Waktu terus berlalu, aku memulai kehidupan baru, kini tak lagi bertumbuh diterali besi, tetapi bukan berarti aku bebas terbang kemanapun aku inginkan.

Ingat! Terkadang kenyataan tidak selalu berpihak pada apa yang kau inginkan, akan tetapi mencetak pada apa yang kau yakini.

Hidup di luar dengan status ilegal bukan sesuatu yang mudah, bersembunyi dari tempat satu ke tempat lain, berpindah dari majikan satu ke majikan lain, itulah yang ku jalani.

Terkadang bekerja untuk dua sampai tiga bulan, menggantikan pembantu yang sedang cuti pulang ke negaranya, atau sekedar untuk mengisi pekerjaan sementara sebelum pembantu baru datang. Seperti itulah kehidupan yang ku jalani.

Hingga suatu ketika sekali lagi cobaan menghampiriku, tetapi kali ini aku tidak mengizinkan diriku untuk pasrah pada ke tidak adilan. Aku harus berjuang untuk hidupku.

Hidup memiliki kecerdasannya sendiri untuk bergulir, sedangkan manusia terjebak oleh sistem pikiran sehingga berkeinginan untuk merubah perjalanan kehidupan yang sebenarnya sudah natural.

Begitupun diriku, tergiur oleh tawaran pekerjaan di restoran yang mengiming-imingi gaji besar. Aku pikir hanya butuh bekerja beberapa bulan saja, mendapatkan tabungan yang cukup, juga uang yang cukup untuk mengurus kepulanganku ke Indonesia.

Aku salah! Sekali lagi salah!.

Hari itu aku diantarkan ke rumah agency kaburan di daerah shin chu. Rumah itu dipenuhi oleh perempuan-perempuan berpakaian seksi, yang berstatus ilegal dari berbagai negara. Aku dibawa di sebuah kamar paling ujung dilantai dua dan dikunci disana, setelah sebelumnya ponselku disita boss agency kaburan itu.

Sebelumnya sudah ada satu perempuan cantik didalam kamar, namanya Cindi, orang Indonesia. Ketika aku masuk, ia menangis histeris. Dari situlah aku mendapatkan informasi yang sesungguhnya. Bahwa tidak ada Job restoran seperti yang ditawarkan. Yang ada adalah kami semua akan di pekerjakan di tempat hiburan malam, dan kamar ini adalah penjara untuk mereka yang menolak dan orang baru sepertiku.

Aku syok!. Nasi sudah menjadi bubur, kenyataannya aku sudah berada disini sekarang, terkunci didalam kamar dan mustahil melarikan diri.

Tidak! jikapun aku harus bekerja bukan ditempat seperti ini. Bukankah tidak ada yang mustahil didunia ini selama Tuhan menghendaki, dan aku yakin Tuhan akan beraksi melewati media apapun untuk membantu hambanya yang teraniaya,

Yah, sekali lagi aku harus menari dengan tarian yang indah didalam badai kehidupanku.

Dua hari, aku mulai mengamati setiap aktifitas, menghafal jam berapa saja orang-orang akan masuk ke kamar ini mengantarkan makanan untuk kami, dan jam berapa saja rumah ini sepi.

Intelektualku mulai bekerja disini, instingku ku pertajam, segala instuisi ku ikuti.

Jendela dengan teralis besi, tempat tidur, satu meja, satu kursi, kamar mandi, tumpukan potongan keramik dan besi sepanjang setengah meter di sudut ruangan. Apa yang harus kuperbuat dengan semua itu?

Dibelakang rumah adalah jalan kecil yang beberapa kali dilewati tenaga kerja asing dengan mendorong akung ama. Ku pikir, aku bisa mengirimkan pesan setidaknya melalui tulisan yang ku lemparkan dari jendala.

Aku mulai mencari sesuatu yang berguna, Cindi mempunyai satu lembar kertas kosong tapi sayang tidak ada pena. Kemudian dia bergeges membuka laci dan memberikanku selembar stiker angka dan huruf alfabert.

Ku susun angka-angka nomor telepon temanku yang ku hafal diluar kepala di bagian bawah lembar kertas kosong, lalu berpikir pesan apa yang tepat untuk ditulis diatasnya.

Aku ingin menulis kata “Tolong” tetapi tidak ada huruf “T” di stiker itu. Lalu “help” dan lagi lagi huruf “H dan L” tidak ada.

Kemudian muncul satu kata dalam benakku, tapi sayangnya tidak ada huruf “S” yang tersisa disana.

Lalu kuputuskan untuk memenempelkan kata, I’ce Cream. Sebenarnya aku tidak yakin dengan ini, aku hanya mengikuti instuisi saja, setelah selesai, aku mengambil potongan keramik kecil, lalu melemparnya ke bawah lewat jendela pada jam dua siang, karena jam-jam inilah banyak ku lihat pekerja asing yang lalu lalang di jalan bawah sana.

Aku dan Cindi menunggu dengan harap-harap cemas hingga jam lima sore, dimana suasana rumah itu perlahan mulai sepi, setelah menduga bahwa tidak ada harapan apapun dengan apa yang ku lakukan tadi siang, kami mulai menggunakan cara ke dua, waktu kami hanya sampai jam tujuh malam, karena pada jam itu akan ada seseorang yang masuk ke kamar kami dan membawakan jatah makan malam.

Yah, kami memutuskan untuk merusak teralis jendela dengan besi panjang yang tergeletak disudut kamar. Pukul enam tiga puluh menit, kami berhasil merusak satu teralis besi jendela, telapak tangan kami melepuh, tapi itu bukan masalah, kami sudah tidak banyak waktu lagi.

Dalam sekali hentakan aku dan Cindi merobek seprei tempat tidur, membelahnya menjadi tiga bagian lalu mengikat dibagian ujung hingga memanjang. Kami rasa sudah cukup panjang untuk menjadikan seprei itu sebuah tali.

Tiga kali aku mendengar ketukan di kaca jendela. Cindi menatap penuh tanya padaku, aku rasa saat itu jantungnya berdetak sama cepatnya seperti jantungku.

Khawatir aksi merusak teralis jendela tadi diketahui dari CCTV yang terpasang di belakang kamar kami, tak seberapa jauh jendela kamar.

Ragu ragu aku mengintip dari jendela, dan??? Saat itu aku tahu bagaimana rasa tertawa sekaligus menangis dalam satu waktu, bahagia dan sedih secara bersamaan.

Dibawah sana, dua temanku melambaikan tangan, juga ada satu orang perempuan yang tidak ku kenal. Tidak perlu aba-aba, kami tahu apa yang harus kami lakukan sebelum semua ketahuan.

Satu bagian ujung seprei itu ku ikat kuat-kuat pada teralis besi jendela yang masih kokoh, lalu dengan cepat Cindi melompat keluar jendela dan berpegang pada seprei, telingaku menangkap suara derap langkah dari lantai bawah, menuju tangga, begitu Cindi turun kebawah, aku segera mengikuti jejaknya.

Dadaku berdentam hebat, seakan-akan Jantungku ingin membobol ruang pengap didalam sana dan melompat keluar

Tepat ketika aku menginjakkan kaki di tanah dan mendongak ke atas, seseorang menyelongokan kepala dari sana. Tahu-tahu, sebuah tangan menarikku, dan sebuah suara berteriak ditelingaku “cepat!”.

Aku mengikuti langkah langkah lebar teman-temanku, berlari secepat mungkin mengejar mereka.

“Jangan ke stasiun, mereka akan mengejar kesana, potong jalan.”

Salah satu dari mereka memberi interuksi, dan aku hanya mengikuti, aku sama sekali tidak tahu tempat ini.

Kami berbelok ke sebuah penginapan, membayar untuk satu kamar. Begitu masuk ke kamar itu, yang ku lakukan adalah menangis sejadi jadinya, aku tidak bisa menahan sesuatu yang terasa ingin membuncah dari dadaku. Aku terus menangis, dan menangis. Sedangkan Cindi meringkuk disudut kamar, aku tahu dia juga menangis, hanya saja ia tidak sampai mengerang sepertiku. Ah ini mungkin terdengar memalukan tapi aku tidak peduli.

“Bukankah ini petualangan yang keren?”

Mendengar ucapan berbahasa asing, aku segera mendongak dan menghapus air mata, aku baru ingat jika ada satu orang yang tidak ku kenal disini.

Perempuan berkulit tan itu menyengir sembari menunjukkan selembar kertas padaku, itu adalah kertas yang ku buat tadi siang, kertas yang bertuliskan I’ce Cream dan nomer telepon temanku.

” Aku orang philipina” katanya kemudian, ia menunjuk pada kertas yang di pegangnya,

“aku yang membuat itu,” jawabku, aku tahu itu pasti sesuatu yang rumit untuknya, tetapi melihat temanku yang memiliki nomor telepon yang ku tempelkan di kertas itu ada disini, perempuan cantik itu pasti sudah memecahkan kodenya.

“Kau membuatku berpikir seharian dengan tulisan bodoh ini,” katanya lagi, ia tertawa lebar “aku bisa saja menelepon langsung nomor yang ada disini, tapi apa yang harus ku katakan jika aku tidak tahu maksud dari tujuanmu melempar kertas ini, yang tepat mengenai kepalaku.” Lanjutnya,

Giliran aku yang menyengir, “Sorry” lirihku.

“Awalnya ku kira kau menginginkan orang yang memiliki nomor telepon ini untuk membelikan ice cream, tetapi setelah ku pikirkan bukankah itu hal yang aneh, lagi pula yang ku tahu dirumah itu banyak orang Indonesia, Vietnam, dan Thailand, jika hanya menginginkan ice cream kau bisa minta bantuan mereka. Dan kau menempelkan kata I untuk Ice cream, salah besar! Kau membuatku tertawa karena berpikir kau bodoh! Ternyata ini kode unik yang telah ku pecahkan.”

Sekali lagi aku berbisik, “Sorry”. Sungguh aku tidak bermaksud membuatnya pusing dengan kata itu, aku hanya bingung karena tidak menemukan huruf yang bisa mewakili suara hatiku.

“Aku mengejanya seharian.” Jelasnya, ” I’ce Cream… I’ce Cream…I’ce Cream.. terus menerus ku eja sampai sore tadi, yang ku tahu I dengan tanda petik adalah I untuk I am (aku), disitulah aku yakin kau sengaja melakukan itu, I bukan untuk Ice Cream, tetapi I benar untuk Aku, I’ ce cream, menjadi I’S Cream, jika dalam tulisan yang benar adalah I Scream (aku berteriak), dan kesimpulannya, aku tahu kau dalam keadaan yang berbahaya.”

Aku ikut tertawa mendengar penjelasan panjang nya, bersamaan dengan air mataku yang meleleh, Tuhan telah mengirimkan malaikatnya untuk ku.

Lima bulan kemudian tepatnya September dua ribu sembilan, petualanganku berakhir. Aku menemukan majikan yang baik, lalu mengumpulkan sedikit uang untuk mengurus kepulanganku ke Indonesia.

Terimaksih Taiwan, kau memang bukan untukku, tetapi kau memberikan pengalaman yang seru untuk memupuk jiwaku lebih kuat dari sebelumnya. Berkat pengalaman itu, sekarang aku tegar dan merasa lebih kuat menghadapi masa depanku.

Aku tidak menyesal menjadi Tenaga Kerja luar negeri, buktinya saat ini aku masih mengadu nasib di negeri beton Hongkong, dan ini adalah tahun ke enam aku berada disini, agustus nanti kontrak ku selesai, dan aku memutuskan untuk berhenti menjadi TKW, aku akan mulai merintis usaha dan menjadi ibu dari anak-anakku di Indonesia.

Sekali lagi terimakasih atas segala pengalaman ini, juga terimakasih untuk event lomba karya sastra ini, aku tidak memiliki bakat apa-apa tentang sastra, aku hanya seseorang yang senang menulis dan ini adalah ajang yang keren untuk mencurahkan sedikit banyak pengalaman hidup. Semoga bisa menjadi pelajaran dan pengajaran ke depannya…

Keep faith.


📝 Komentar juri|Heru Joni Putra

Kisah buruh perempuan yang terlantar dan dimasukkan ke tempat pelcuran, tapi ia melakukan perjuangan yang berat tapi tidak sia-sia. Tidak hanya isu personal tetapi juga ada solidarits. Keren. 

發表迴響

你的電子郵件位址並不會被公開。 必要欄位標記為 *