KISAHKU BMI DI LAS VEGAS ASIA

 2018 Babak penyisihan 印尼文初選  

📜 KISAHKU BMI DI LAS VEGAS ASIA

👤 WARIYANTI

 

7 tahun 3 bulan aku berada di Makau untuk bekerja, awalnya tidak ada keinginan untuk tinggal atau kerja disini. Berawal dari kerja di Hongkong kemudian di interminit di kontrak ke-2 ku yang sudah berjalan 1 tahun, karena kakek yang aku jaga meninggal. Agen membawaku ke Makau. Dipenampungan untuk menunggu visa tak banyak kegiatan yang bisa dilakukan dan kebetulan tempatnya fasilitas memadai atau nyaman daripada tempat lain baik makanan dan tempat tinggalnya. Ketika sudah 3 minggu aku di Makau tiba-tiba aku dikabari bila majikan yang sudah bersedia mempekerjakan aku teryata di batalkan oleh agen Hongkong. Kalut , resah apalagi kondisi keuangan semakin menipis karena tidak ada pemasukan. Karena kalut yang berkempanjangan akhirnya aku memilih kabur dari tempat penampungan agen ini.

Dengan modal tekat walaupun tidak tahu Makau bagaimana akhirnya dengan sisa uang yang ada aku kost di tempat kawan yang ku kenal dibunderan Sam can tang ( tempat buruh migran Indonesia berkumpul ). Menjalani hari dengan masuk agen keluar kantor agen untuk cari pekerjaan , keterpaksaan mengambil keputusan tidak kembali ke Hongkong lagi harus ku ambil. Memulai dari menerima majikan dengan masa percobaan , majikan pertama adalah dikenalkan oleh seorang teman dan ku coba bekerja di majikan kaya raya yang rumah 1 lantai milik dia, dengan rumah yang luarbiasa besar dan mobil 4 tiap hari harus dicuci ( pekerja rumah tangga tidak boleh mencuci mobil ada aturan dari labour ), tapi karena demi mendapatkan visa ku tetap menjalani. Dengan pekerjaan yang tidak ada masa istirahatnya ini aku mencoba bertahan 5 hari , di hari ke-5 karena mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi tanpa diberi makan tiap harinya akhirnya aku memutuskan untuk tidak mau bekerja di majikan ini dan belum sampai tandatangan kontrak kerja.

Kembali aku masuk agen untuk mencari majikan , visa sudah mulai habis serasa putus asa dengan kusut kebetulan ada majikan yang datang di kantor agen. Ada 10 orang calon pekerja saat itu, yang dari Indonesia hanya aku saja lainya kawan dari Philipina. Mungkin keberuntungan menghampiriku yang hampir hilang semangat. Majikan ini memilih aku ,langsung tandatangan kontrak , dan aku bekerja denganya sampai saat ini. Pekerjaanku merawat bayi baru lahir, dan teryata aku masuk keluarga besar majikanku yang jumlah 10 orang anggota keluarganya. Bersyukur keluarga majikan ini baik walaupun pekerjaan lumayan berat karena merawat bayi 2 dan dengan rumah yang lumayan besar. Tapi aku senang bekerja bersama majikan ini karena baik dan juga kawan kerja ku yang merawat bayi satunya juga baik dia kawan dari Philipina yang sudah bekerja 4 tahun di keluarga ini.

Di masa 1 tahun di Makau aku tertarik ikut organisasi buruh migran Indonesia , saat itu aku hanya ingin menyalurkan bakat dalam seni saja. Tapi setelah menjadi anggota aku baru tahu bila organisasi ini ternyata bergerak dibidang advokasi hukum perburuhan di Makau. Aku mulai menekuni , belajar secara otodidak dengan sedikit petunjuk dari senior sebelumnya, dikarenakan pendahulu sudah pulang kampung dan aku bersama senior yang hanya tinggal beberapa orang terus melanjutkan visi misi organisasi ini. Dengan minimnya pengetahuan kita terus berusaha untuk mengembangkan organisasi ini, dari mengikuti seminar labour dan imigrasi akhirnya kita semakin tahu aturan dan hukum perburuhan di Makau . Dengan modal sedikit ini kami mulai membuka pelayanan untuk massa BMI (Buruh Migrant Indonesia ). Dengan anggota yang tidak banyak kami terus mengenalkan apa IMWU ( Indonesia Migrant Workers Union ) kepada massa BMI di Makau .

Makau adalah tujuan alternatif akhir oleh BMI saat sudah tidak bisa proses visa kerja di Hongkong dengan jumlah BMI 4.558 orang ini adalah tempat yang bisa merubah pola hidup BMI yang tinggal disini. Kondisi kerja yang bisa memilih dari stay out atau stay in bagi pekerja rumah tangga, dan pekerjaan sektor formal ( hotel, SPA, casino, restaurant, dll ) adalah factor utama merubah pola hidup dan pola pikir BMI. Pola pikir yang ingin hidup sendiri tanpa memperdulikan orang lain adalah kendala utama untuk perekrutan anggota . selain jam kerja yang tergantung shift dan libur yang tidak bisa di ambil tiap hari minggu karena harus menyesuaikan dengan jadwal majikan atau perusahaan jadi sulit untuk dikoordinasi . dan pola hidup saat libur hanya digunakan untuk istirahat di tempat kost menjadikan sifat individualist bertambah kuat . dengan segala kendala dan kesulitan perekrutan anggota baru kita masih terus bertahan dan berusaha menjalankan visi misi organisasi. Mencoba program baru yang lebih diminati oleh BMI yang tidak hanya melayanani konseling kasus adalah pengembangan pelayanan untuk massa. Mulailah membuka pelatihan-pelatihan gratis untuk BMI seperti belajar Bahasa inggris dan kantonis baca tulis , dan ini yang dibutuhkan untuk menambah skill dalam pekerjaan, dan kerajinan tangan juga belajar music.

Dengan perjuangan panjang akhirnya organisasi ini di kenal massa , bahkan dalam 2 tahun terakhir ini kita menerima koselingan pertahunnya 1500 lebih. Ini juga dikarenakan tidak adanya KJRI ( Konsulat Jenderal Republic Indonesia ) di Macau yang resmi, ada itupun hanya melayani pembuatan passport saja, buka juga Cuma 3 kali dalam seminggu. Selama 6 tahun bergabung di IMWU yang aku ketahui kita selalu menuntutkan untuk disediakan konter pelayanan kasus dan selther di KJRI Makau. Dan baru sekitar 2tahun ini shelter tersedia tetapi tidak maksimal fungsinya, dan untuk kawan yang terkena kasus butuh persyaratan tertentu saja yang bisa diterima tinggal di shelter tersebut. Ini alasan rumah kost kami dijadikan shelter untuk sementara sebelum diserahakan ke shelter KJRI. Pemerintah Indonesia yang tidak mau mengakui adanya BMI di Makau yang harus mendapatkan perlindungan juga dari perwakialan pemerintah Indonesia di sini dengan alasan bahwa tidak ada kerjasama antar 2 negara sangatlah membuat BMI kecewa , sehingga menjadikan ini tuntutan utama IMWU ke pemerintah Indonesia. Mengirimkan petisi demi petisi ke KJRI maupun langsung ke pemerintah pusat terus kita lakukan.

Selain itu untuk memperat persatuan BMI di Makau IMWU sering mengadakan kegiatan berkumpul dan juga untuk mempermudah sosialisasi isu buruh seperti peringatan saat peringatan hari Nasional Indonesia sehingga BMI bisa berkumpul . mesti kesulitan yang sama tetap kita alami yaitu susahnya kawan –kawan BMI untuk diajak bersosialisasi bersama tidak akan menyurutkan semangat anggota IMWU untuk terus menjalankan visi misinya. Dalam menangani konseling ataupun kasus dari BMI kita menangani di sela-sela pekerjaan bahkan mencuri waktu supaya konselingan bisa di bantu. Setelah selesei kerja kita melanjutkan menangani kasus seperti menemui korban , memberi tempat , kemudian menyeleseikan sampai selesei masalahnya. Tak pernah pedulikan waktu entah siang entah malam. Aku yang kebetulan kondisi kerja tidak lagi terlalu banyak yang harus dikerjakan , majikan yang aku beri pengertian kegiatan ku dan mendukungku adalah suatu keberuntungan dan membuatku semangat untuk membantu BMI yang membutuhkan, walaupun kadang harus ijin untuk mendampingi korban dan harus meninggalkan pekerjaan ku di jam kerja. Tetapi aku tetap harus memprioritaskan pekerjaan , ini yang membuat majikan ku tetap senang aku bekerja denganya selama 7tahun ini. Sebenarnya kadang aku yang sebagai konselor juga memiliki permasalahan pribadi , yang berimbas membuat banyak pikiran, emosi yang meningkat, dan saat ada koseling aku melayani dengan terbawa emosi , aku juga mendapat kan kritikan konselornya kok galak, marah-marah, atau kok jawabnya sekenanya saja. Ini dialami keseluruhan konselor , untuk antisipasi bila kondisi diri sendiri juga bermasalah dan tidak bisa mengontrol emosi jalan yang ku tempuh adalah korban aku serahkan ke kawan lainya untuk ditangani. Saat konselor dalam masa stress memang berakibat tidak baik ,jadi kita akan bahas dengan anggota siapa yang akan ambil alih penanga kasusnya.

Banyak kesulitan pekerja karena aturan yang tidak banyak berpihak ke pekerja kususnya pekerja rumah tangga karena tidak adanya standart kontrak kecuali pekerja formal yang memiliki standart kontrak dan di syahkan oleh pemerintah Macau. Inilah alasan cenderung yang banyak terkena masalah adalah pekerja di sector rumah tangga , selain juga tidak adanya perhatian pemerintah Indonesia itu sendiri. Inilah tugas anggota IMWU untuk memberikan pendidikan massa tentang hak-hak pekerja migran di Makau dengan memanfaatkan media untuk memberikan pendidikan dan imformasi , karena kesulitan untuk bersosialisasi langsung dengan massa. Harapan kami BMI bisa paham menerima informasi supaya apabila menghadapi masalah bisa bertindak , dan mempererat persatuan dan menyatukan suara tututan bersama ke pemerintah Indonesia kususnya agar memberikan perlindungan yang sejati untuk semua BMI di Makau kususnya dan seluruh BMI dimanapun berada. Perjungan untuk kesejahteraan BMI ini harus terus dan terus diperjuangkan , meski ada yang pro dan kontra jangan sampai mennyurutkan langkah perjuangan ini. Seberapa lelah, seberapa susahnya langkah kami tak kan terhenti. Sesuai dengan semboyan IMWU bersatu, bergerak, berjuang.


📝 Komentar juri|Anwar Sastro Maruf

Cerita tentang realitas sebagai buruh migran di Hongkong dan Makau, harus bertahan hidup, berjuang untuk mendapatkan pekerjaan. Dengan segala kekurangan, tulisan ini memberikan pesan pentingnya berserikat dan menjelaskan bagaimana seharusnya serikat pekerja memberikan pembelaan, konseling, pendidikan dan solidaritas terhadap para sesama.

 

📝 Komentar juri|Heru Joni Putra

Kisah perjuangan membuat solidaritas buruh dan perjuangan buruh. Menarik.

發表迴響

你的電子郵件位址並不會被公開。 必要欄位標記為 *