Orang-orang Penampungan

 2018 Babak penyisihan 印尼文初選  

📜 Orang-orang Penampungan

👤 pratiwi wulansari

 

Jika suatu hari kau dapati sebuah bangunan berdiri megah, berpagar tinggi sekali dan nyaris tiap hari terkunci. Itulah penampungan. Kau bisa menegaskan hal itu dengan melihat banyaknya kantung sampah yang dimuntahkan pintu gerbang setiap paginya. Wajah-wajah kuyu perempuan usia tengah dua puluhan hingga empat puluhan yang mengulurkan kantong-kantong itu kepada tukang sampah. Berganti-ganti tiap pagi. Seperti absensi tak resmi.

Sebagaimana kutanamkan di benakmu bayangan penampungan. Begitulah gambaran tempat Jumilah sekarang. Sebenarnya ada nama yang lebih formal dan manusiawi untuk menyebut tempat macam itu sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia: Balai Latihan Keterampilan.

Sayang.

Dalam praktiknya, tempat itu tak jauh berbeda sebagai tempat untuk menampung calon tenaga kerja wanita belaka.

***

Bunyi cenggeret yang didengar Jumilah malam ini membuatnya tak bisa tidur. Meskipun pintu teralis lapis dua yang menghalanginya menatap dunia luar selama nyaris tiga bulan di penampungan, juga sering membuatnya tidak lelap dalam tidur.

Padahal bukan hanya Jumilah yang terbelenggu sementara waktu di tempat itu. Ada puluhan perempuan lain yang kini sedang membenar-benarkan tidurnya di atas selembar matras tipis. Ranjang-ranjang susun yang dijajar berdempetan dalam satu ruang.

“Kalau lewat PT-ku prosesmu bakal cepat, Jum. Aku jamin kamu akan betah tinggal di sana. Kamu juga bakal dapat uang pesangon.”

Masih diingatnya mulut bu Las yang berbusa-busa saat datang ke rumahnya. Mencekokinya dengan bujuk rayu selama lebih dari dua jam. Ah, perempuan pemburu calon TKW itu, entah di mana dia sekarang. Janjinya untuk selalu siap dihubungi jika Jumilah ada keluhan sudah menjelma bisikan hantu.

Akhirnya Jumilah tertidur. Barangkali itu tidur yang paling melegakan baginya selama tinggal di penampungan. Dalam tidur ia bermimpi bertemu dengan bu Las dan Jumilah mengumpatnya habis-habisan.

***

“Besok giliranku PKL ke rumah pak Markan, mimpi apa aku semalam Jum?” mbak Siti merebahkan tubuh di kasur matras milik Jumilah.

“Kalau memang sudah diputuskan begitu, lantas mau gimana mbak…”

Keduanya terdiam. Praktik Kerja Lapangan atau PKL adalah hal yang wajib dilakukan calon TKW pemula. Berlatih membabu di rumah orang, dengan gaji seadanya. Bagi Jumilah dan teman-temannya, PKL adalah latihan adu nasib sekaligus ketahanan diri. Sebab yang mempekerjakaan mereka tak lain orang-orang bagian kantor di PJTKI itu sendiri. Maka cerita-cerita tentang di mana tempat PKL paling ringan sampai tempat PKL kutukan telah menjadi makanan sehari-hari.

Jumilah dan mbak Siti tahu, tidak, bahkan seluruh penghuni penampungan ini sudah tahu. Menjalani PKL di rumah pak Markan sama halnya dengan menjalani satu hukuman berat dan panjang. Entah siapa yang mula-mula menyimpulkan, tapi kemudian mereka menyepakati hal itu setelah sama-sama merasakan kutukan PKL ditempat pak Markan.

Pak Markan, pemilik PJTKI yang saat ini menampung sekira seratusan perempuan yang menunggu diberangkatkan itu, adalah gambaran sempurna sang penyelamat bagi sebagian dari mereka. Lelaki berleher angsa dengan pandangan mata teduh dan senyum paling tak berdosa. Anehnya, cerita tentang keangkeran PKL di rumah pak Markan juga sejalan dengan kisah dirinya sebagai satu-satunya dewa penolong di tempat itu.

Selama tiga bulan berdiam di sana, belum sekalipun Jumilah melihat penampakan lelaki itu. Cerita-cerita yang banyak didengar olehnya seolah menyempurnakan sosok setengah dewa itu di benaknya. Dan curhatan mbak Siti barusan membuatnya semakin penasaran dengan pak Markan.

Sekali waktu temannya yang baru saja kembali ke penampungan karena di-terminate bercerita. Dia hendak ijin pulang ke rumahnya. Bu Suk, perempuan yang mengurusi bagian administrasi di kantor, memintanya untuk memberi uang jaminan sebesar sepuluh juta rupiah dan ia sudah bersepakat dengan hal itu. Tapi setelah uang itu masuk rekening bu Suk, perempuan itu meminta tambahan jaminan sebesar lima juta rupiah.

“Aku sudah ndak punya uang lagi, Jum. Untungnya tadi pagi aku sudah bilang pak Markan.”

“Kamu telpon dia?!”

“Ndak, aku sms. Trus dia tanya, siapa yang minta tambahan uang lima juta. Aku jawab bu Suk.”

“Dia balas apa lagi?”

“Belum balas lagi sampai sekarang,” Ndari, perempuan dua puluh lima tahun itu menghela napas panjang.

Ada cerita yang melatari kenapa pengurus administrasi itu dipanggil bu Suk oleh para penghuni penampungan di sana. Sebab kebiasaannya memanfaatkan kondisi terjepit yang dialami oleh para calon TKW. Seperti kasus Ndari kawan Jumilah, misalnya. Padahal nama perempuan itu sendiri teramat bagus dan wanginya. Kusuma.

Bukan salah Ndari sebenarnya ketika dia akhirnya dikembalikan majikannya ke agensi. Semua hanya perkara sepele, karena garis wajah Ndari yang terlalu tegas, otot-otot bibirnya cenderung menarik ke bawah. Tersenyum pun, wajah sinis yang terlihat. Tak peduli seramah apapun Ndari berusaha dan meskipun sudah seringkali dipamerkannya senyum super lebar yang membuat mulutnya terasa nyaris robek. Tapi bagi majikan Ndari, wajah itu terlihat begitu meremehkan dan mengusik jiwa kepemilikannya atas Ndari. Majikan Ndari ingin pembantu yang enak dilihat dan memiliki senyum ramah, tak peduli itu hanya pura-pura belaka. Maka sia-sia sudah kerja keras serta ketulusan yang ditunjukkan Ndari selama di rumah majikan.

Bukankah ini menyedihkan?! Dan lebih mengerikan lagi jika kau menjadi bagian dari suatu sistem yang menganggap, mengirim tenaga kerja perempuan adalah hal paling mudah dan menguntungkan. Bahwa perempuan-perempuan itu tak ubahnya manequin yang siap didandani dan dipajang jika ada agensi datang. Majikan bisa menukar dengan manequin baru kapanpun mereka mau dan merasa bosan.

Kemanusiaan?! Jangan harap kau bisa menemukannya di penampungan.

***

Siang itu Tutik dipulangkan ke penampungan. Mukanya pucat, dan tangannya tak lepas memegangi perutnya. Ketika Jumilah bertanya ke teman-temannya yang lebih dulu menemui Tutik dan sempat mengobrol dengannya, perempuan itu mengalami kengser. Kandungan turun.

Kasak-kusuk yang sempat reda sebelumnya tentang beratnya melakukan PKL di rumah pak Markan kembali ramai dibicarakan. Ngeri kembali membayang di wajah mbak Siti. Terlebih setelah mereka tahu apa yang membuat Tutik mengalami kengser.

“Tiap jam tiga pagi aku bangun, menjerang air dua panci besar ‘trus menggotongnya ke lantai dua, di kamar mandi Pak Markan dan istrinya. Bu Markan yang cantiknya seperti Rara Sembadra itu, benar-benar bertolak belakang dengan sikapnya terhadap para pembantunya. Kami. Makanan yang sudah dimasak tidak boleh disentuh. Selama hampir sebulan di sana, aku dan mbok Pat makan pakai uang kami sendiri. Pernah satu kali aku kedapatan memakan pinggiran roti tawar yang tidak terpakai sisa membuat sandwitch untuknya, dia memakiku habis-habisan.”

Tutik diam sejenak, muka pucatnya semakin menambah-nambah nuansa sedih dan mencekam di kamar itu. Jumilah dan teman-teman lainnya duduk melingkar di sekitar Tutik. Mbak Siti yang duduk bersandar di sudut kamar sesekali melirik ke arah kami dengan wajah pias.

“Dari kemarin perutku rasanya sudah melilit gak enak. Makin lama makin sakit dan rasanya sudah gak bisa kutahan lagi. Setelah bu Markan tahu kandunganku turun, dia segera nyuruh aku buat balik ke sini lagi. Uang gaji yang hampir sebulan di sana dia berikan tadi pagi setelah aku pamit kepadanya.”

“berapa kamu dapat, Tut?”

“Seratus lima puluh ribu.”

“Astaghfirulllah! Cuma segitu?!”

“Yah, aku sudah anggap kerjaku selama di sana sebagai ibadah sekaligus ujian. Terlalu dibawa hati juga percuma, protespun malah proses kita yang nanti dipersulit mereka. Saranku siapapun yang nanti menggantikanku di sana, sabar. Usahakan bisa mengambil hati bu Markan, supaya kamu bisa kerja dengan tenang sambil berharap semoga segera dapat majikan dan visa lekas turun.”

Kali ini tak seorangpun memegang ponsel pintarnya. Sejenak mereka lupa akan kebutuhannya menjaga eksistensi di dunia maya. Lupa janji untuk menghubungi kekasih di tempat jauh. Para suami dan pacar yang tidak pernah tahu bagaimana perempuannya bertahan di tempat tersuram kedua setelah penjara itu.

Gaji seratus lima puluh ribu rupiah tentu saja jauh dari kata layak, ketika UMR di kota itu ditetapkan sebesar satu juta delapan ratus ribu rupiah. Meskipun hal ini telah terjadi bertahun-tahun lamanya, tak seorangpun berani memprotes dan menolak tirani di balik pagar tinggi itu.

Tiba-tiba terdengar suara sesenggukan, semua menoleh mencari sumber suara. Mbak Siti. Salah seorang dari mereka menghampiri perempuan itu, berusaha menenangkan sambil memeluknya.

“Wis mbak, sabar. Pokoknya kalau sampean bisa betah di sana Insya Allah sukses waktu di rumah majikan di Hong Kong nanti, “ perempuan itu berkata sambil mengelus punggung mbak Siti.

Jumilah masih mematung memandang Tutik yang tangannya tak lepas memegangi perutnya. Ia, juga penghuni kamar lainnya tahu pak Markan memiliki Klinik tak jauh dari tempat itu. Sayangnya, siapapun yang ingin berobat ke klinik harus menanggung sendiri biaya pengobatan yang pasti mahal. Tidak ada keringanan biaya bagi mereka. Tak ada pengecualian meskipun nanti mereka akan memperkaya pak Markan berjuta-juta rupiah setiap orangnya.

“Masih sakit Tut? Mau aku pijit kakimu?” Jumilah menawarkan diri kepada Tutik. Perempuan itu menggeleng lemah.

“Gak apa-apa Jum, besok aku mau dipijat sama mbak Semi. Terimakasih ya” Tutik tersenyum ramah meski terlihat begitu lemah. Jumilah kembali mengutuk pemilik penampungan dalam hatinya.

Jumilah gelisah, ingin menanyakan banyak hal kepada bu Las, PL yang katanya akan bertanggung jawab bila terjadi apa-apa dengan perempuan itu. Tapi sekarang, sekedar mau dihubungi pun, bu Las tak pernah bisa. Untuk kesekian kalinya Jumilah mencoba menghubungi bu Las dengan ponsel poliponiknya. Untuk kesekian kali pula yang terdengar adalah pesan operator yang membuatnya mengumpat sampai terbawa mimpi,

Nomor yang anda tuju sedang tidak dapat dihubungi atau berada di luar jangkauan. Cobalah satu tahun lagi.

***.

Selalu ada penceramah yang didatangkan ke tempat penampungan Jumilah setiap minggunya. seorang perempuan tua yang mengajar ngaji di waktu siang hari dan seorang ustadz muda berwajah tampan di sore hari menjelang maghrib. Jika sang ustadzah tua mengajarkan alif ba ta maka ustadz muda itu mengajarkan untuk mempercayai pertanda. Kepercayaan untuk bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Bahwa tak perlulah melawan suatu keburukan yang diterima. Cukup pasrah dan percaya saja dengan nasib dan keberuntungan.

“ini ibu-ibu dan mbak-mbak harus percaya, ya! Saya ada cerita tentang seorang TKW yang kerja di malaysia, disiksa majikannya sampai babak belur. Dia tidak melawan, pokoknya nerima saja dan tidak putus-putus berdoa. Di bandara ketika menunggu pesawat, eh dia ketemu seseorang yang iba. Akhirnya setelah ditanya-tanya, orang itu mengambilnya jadi pembantu. Setelah itu, nasib si TKW itu jadi lebih baik. Yang penting sekarang itu apa, jangan putus-putus berdoa!”

Sementara si ustadz muda itu bercerita tentang satu hal kemujuran yang diterima seorang TKW, di saat yang sama berita tentang kemenangan Erwiana atas kasus penganiaayaan yang menimpanya ramai diberitakan.

Alangkah kontrasnya, satu melemahkan keyakinan banyak perempuan akan hak asasinya sebagai manusia. Satu lagi mengajarkan, bahwa terkadang untuk mendapatkan keadilan seseorang harus berjuang dan berani melawan tirani.

Selalu ada pengecualian yang dimaklumkan. Oknum-oknum negara yang bekerja sama dan meloloskan berdirinya sebuah kerajaan kecil dalam suatu lembaga. Selama upeti lancar masuk ke rekening kembung oknum-oknum tersebut, selama itu pula para pemilik PJTKI dengan entengnya melegalkan peraturan tak masuk akal dalam lingkup kerajaan kecil mereka.

Kali ini Ndari datang dengan cerita yang dibawanya setelah keluar dari pintu kantor depan yang terpisah dari kamar dan kelas belajar para calon TKW. Tempat segala urusan kelengkapan data milik para calon TKW dikerjakan.

“Urusanku sudah beres, Jum. Aku gak perlu nambah uang yang lima juta itu, pak Markan tadi memanggilku dan bu Suk langsung menyetujui permohonan ijin pulangku buat seminggu.”

“Cuma seminggu?! Kalau lebih dari seminggu apa ndak bisa?”

“Ndak bisa. Malah, kalau aku balik ke sini lebih dari seminggu uang jaminanku yang hangus.”

“kok bisa ‘gitu Ndari?!” Jumilah bertanya penasaran.

“aku tadi disuruh buat surat pernyataan tertulis kalo aku buat perjanjian itu tanpa paksaan trus aku tanda tangan di sana, di atas materai.”

“kamu mau?!”

“ya gimana lagi, itu satu-satunya syarat aku bisa pulang buat ketemu anak dan suamiku, Jum…”

“Aku tahu orang-orang di sini semua kebelet kaya. Tapi ya ndak begini juga caranya!”

“Seperti inilah caranya. Dan memang itu yang memperkaya mereka selama ini Jum.”

Jumilah menutup kepalanya dengan bantal. Isi kepalanya kebak dengan peristiwa yang diilihatnya selama di sini.

Jumilah tak pernah mengeluhkan perihal dirinya kepada siapapun di tempat itu. Semua menanggung beban yang sama, rasa perih yang serupa. Lantas ia mengingat rumah di atas bukit yang telah enam bulan tak ditangisi hujan. Pompa air satu-satunya di desa di atas bukit itu yang rusak sudah dua bulan. Tanaman cabai yang nyaris gagal panen saat ia tinggalkan.

Ya, semua orang di sini menanggung beban yang sama, rasa perih serupa. Meski cerita yang melatari beragam bentuknya.

***

Sudah tiga bulan. Bu Las masih menjelma kutu di kepalanya. Ada, membuat gatal kepalanya tapi tak pernah mau menampakkan muka. Jumilah mulai mahfum dengan cara kerja para calo TKW. Baru seminggu yang lalu Jumilah akhirnya mendapat majikan. Menjaga seorang nenek, rumahnya di desa, ada ladang sayur di sebelah rumah, katanya. Jumilah langsung setuju menjaga nenek.

Jumilah membayangkan cerita teman-temannya tentang kemegahan Hong Kong. Tentang hutan beton yang meng-kebak-i kota itu. Toko-toko pakaian dan aksesoris berjajar rapi, bangunan megah seperti hotel dan mall besar yang mudah ditemui. Restoran juga kelab malam. Hong Kong adalah kota yang penuh hingar bingar. Begitu selalu yang dibicarakan teman-temannya.

Ah, siapa juga yang butuh bermewah-mewah. Aku cuma ingin bisa merasa seperti di rumah.

Rumah selalu menjadi kiblat kedua bagi Jumilah. Tempat di mana matahatinya rindu merasakan cinta dan segala kebahagiaan yang ia punya.

Membayangkan kembali kondisi teman-temannya yang lain Jumilah merasa baik-baik saja. Meski baik-baik saja yang dirasakannya tak sebaik seperti saat ia bisa pergi ke ladang jagung miliknya. Bebas ngendon di sana dan bebas kembali ke rumahnya kapanpun dia suka.

Dia adalah bagian dari orang-orang penampungan sekarang, tak ada yang perlu dikeluhkan lagi. Bukankah hidup bisa lebih keras lagi baginya. Masih ada dunia lain lagi yang menunggunya di luar sana. Dunia majikan beserta isinya. Tiba-tiba saja dia menjadi sangat toleran dengan nasib yang diterimanya saat ini.

Jumilah masih menunggu. Sebagaimana perempuan lainnya yang berada di balik gedung berpagar tinggi itu. Menunggu kepastian yang tak pernah benar-benar pasti. Menunggu untuk membuka kotak pandora yang lain. Menjawab satu demi satu pintu tanda tanya yang menunggunya berlapis-lapis di masa depan.

Jika suatu hari kau dapati sebuah bangunan berdiri megah, berpagar tinggi sekali dan nyaris tiap hari terkunci. Itulah penampungan. Di sana, bisa kau dapati perempuan-perempuan seperti Jumilah. Berhati baja, punya tekad sekeras karang. Berjuta jumlahnya di negeri ini. Menunggu untuk dibuang dengan sukarela dari negerinya. Meski demikian pahit, separuh hati mereka tetaplah tinggal di kampung halaman. Lagu kebanggaannya tetaplah Indonesia Raya


📝 Komentar juri|Anwar Sastro Maruf

Pahit getirnya menjadi buruh migran tidak hanya di negeri tujuan, mulai di tempat penampungan pun sangat memprihatinkan. Sampai sekarang itu hanya menjadi cerita-cerita angin belum ada penanganan dan kepedulian dari pihak manapun. Pesan yang sangat kuat dari tulisan sederhana ini penting untuk diperhatikan.

 

📝 Komentar juri|Ratu Selvi Agnesia

Kisah dalam cerita orang-orang penampunga ini membuka persfektif lain tentang penampungan TKI yang bukan hanya sekedar balai pelatihan keterampilan. Cerita refleksi penampungan ini sangat menggugah dan membuka mata tentang bagaimana penderitaan mereka untuk menunggu, belajar, berlatih dan sembari merawat harapan. Naskah ini juga menjelaskan relasi antara penampungan, PJTKI dan TKI sebagai sebuah ruang yang mencakup sistem besar yang harus ditempuh sebelum berangkat bekerja ke luar negeri. Alur cerita mengalir begitu halus namun mendalam. Dialog-dialog yang polos, sangat terasa jujur mewakili suara para TKI yang selalu membayangkan harapan besar meski harus bersabar di penampungan.

發表迴響

你的電子郵件位址並不會被公開。 必要欄位標記為 *