Rumah Jiwa

 2018 Babak penyisihan 印尼文初選  

📜 Rumah Jiwa

👤 Andri Setyowati

 

Aku ingin terus di sini, mengantarkan mereka, mendampingi jiwa-jiwa yang kesepian dan lupa arah berpulang agar mereka tak lagi merasa sendiri dan tidak berharga.

Agar mereka tau harapan yang sudah hilang dapat mereka temukan lagi, menutup mata terakhir mereka di dekat orang-orang yang menyayangi mereka. Dan aku ingin menjadi salah satunya, jika tidak ada lainnya yang mengantarkan mereka berpulang dengan pelukan cinta. Rumah Jiwa.

***

Di akhir September 2015 lalu, untuk kali pertama aku berkesempatan menginjakkan kaki di Negara yang mendapatkan julukan “Heart of Asia” sebagai seorang Care giver dan perawat, Tenaga Kerja Indonesia di sebuah Rumah Sakit / Panti Gerontik (pasien khusus lansia).

Di 23 tahun aku memutuskan untuk merantau ke belahan dunia yang lain, belajar mandiri, bertanggung jawab atas diriku sendiri dan belajar beradaptasi dengan lingkungan yang serba baru. Selain belajar tentang perawatan medis dan kejiwaan di tanah Formosa ini, yang tidak akan pernah terlupakan adalah saat aku menemukan titik balik kehidupanku yang kedua. Sebuah titik yang membuka jalan pikiranku yang terlalu idealis dan hati yang terlalu angkuh.

Di atas gedung berlantai delapan ini, kehidupan baruku dimulai.

Dengan semua keberagaman yang sebelumnya belum pernah aku cicipi.

Bahasa yang masih asing ditelinga, peralatan medis canggih yang sebelumnya belum pernah aku sentuh, karakter individu yang susah ditebak, budaya perayaan tahun baru mereka, cara berdoa mereka dan masih banyak lagi lainnya.

Di atas gedung berlantai delapan ini pula, aku melihat sisi lain dari arti sebuah kehidupan, memahami setiap keputusasaan yang hadir dalam perjalanan kehidupan. Mampu membedakan arti senyum dari kesakitan dan kebahagiaan, menangkap harapan-harapan terakhir dari orangtua terhadap anak-anaknya.

Di tempatku mengabdi saat ini, sebagian besar pasien adalah orang tua yang mengidap penyakit dan membutuhkan perawatan, sebagian lagi orangtua yang ditinggalkan disini karena anak-anaknya tidak memiliki waktu untuk mengurus segala kebutuhan harian mereka, sisanya terdapat bayi dan anak-anak dengan Down Syndrome , remaja dan dewasa yang mengalami gangguan mental atau gangguan kesehatan lainnya.

Aku ditempatkan di bangsal khusus gangguan kesehatan kritis dan jiwa serta pada bayi dan anak-anak dengan Down Syndrome. Dengan 15 pasien dan aku sebagai care giver serta perawat sendiri.

Berada dalam satu bangsal, hampir 12 jam dalam sehari, enam hari dalam seminggu dan puluhan purnama bersama mereka membuatku tau bagaimana mereka, keluhan setiap harinya, karakter dari masing-masing pasien, hal yang paling mereka senangi dan benci, bagaimana tekanan psikis yang mereka alami serta beberapa keinginan terpendam mereka.

***

“Nenek, Kakek, Paman, Bibi, Kak…. Waktu sarapan datang!!! Ayo bersiap-siap dengan meja makan kalian sekarang.”

Suara ku mengudara penuh semangat dan nampak riang di pagi itu sambil sedikit teriak.

Sebenarnya bisa saja aku lebih pelan lagi, tapi pasti mereka yang sebagian besar adalah orang tua tidak akan mendengarku, karena sebagian besar mengalami gangguan pendengaran.

“Yeeee… makan-makan. Anti hari ini kita makan apa?” tanya salah seorang pasien.

“Anti…anti, aku belum mendapatkan obatku!!” seru pasien lain.

“Meimei , hari ini aku tidak mau makan, aku mau menunggu anak ku datang!!” ujar seorang nenek dengan nada malas.

“Anti !!! Sendokku terjatuh, kotor! Tolong bantu aku cuci sendokku.”

Sebagian mereka yang masih bisa bicara bersahut-sahutan memanggilku, meneriakiku, dan meminta bantuanku tentu saja secara bersamaan dan semuanya ingin didahulukan.

Anti, meimei, ya! itu nama panggilanku selama disini.

“Hari ini menunya ikan laut dan sayur hijau, nek” tuturku lembut kepada nenek

“Iya, Kakak , obatnya setelah ini aku berikan ke kakak ya”

“Nenek harus makan ya, pelan-pelan, nanti sore siapa tau anak nenek datang. Kalau tidak makan nanti nenek sakit lagi!” bujukku pada wanita tua yang duduk dikursi roda tepat didepan Televisi.

“Ayooo bibi, coba ambil sendoknya lalu cuci sendiri, hati-hati ke kamar mandinya!” rayuku lagi pada yang lain.

Aku membantu dan menjawab mereka satu persatu, menyiapkan makan dan obat bagi mereka yang masih bisa makan sendiri.

Lalu bergeser ke beberapa pasien yang masih membutuhkan bantuan total, termasuk memberikan asupan nutrisi melalui Nasogastrol Tube atau selang makanan yang dipasang dari hidung juga menyuapi mereka dengan bubur yang sudah diencerkan.

Seusai mereka sarapan sekitar pukul 11 pagi, mereka berlanjut menjalani rutinitas seperti biasanya.

Beberapa pasien pergi untuk therapy, kontrol kesehatan berkala, menonton televisi atau sekedar pergi ke tempat tidur mereka.

Aku paham benar, mereka sangat bosan berada di dalam sini, dengan rutinitas dan aktivitas yang sama, orang yang sama, hawa dan udara yang hanya diputarkan oleh Air Conditioner.

Tidak jarang dari mereka yang datang menyambangiku setiap dua jam sekali dan bertanya, “Anti jam berapa sekarang?” Hanya karena mereka ingin tahu, saat ini waktunya pasien tidur siang, waktu makan tinggal sebentar lagi, pasien harus segera meminum obat atau mengikuti jadwal mereka ke Rumah Sakit rujukkan guna melakukan kontrol kesehatan secara berkala.

***

Hari ini akhir pekan di minggu ke empat, biasanya di sore hari banyak keluarga pasien yang berkunjung untuk menengok sanak saudara, orang tua atau anak-anak mereka.

Beberapa meluangkan waktu seharian penuh untuk menemani aktivitas mereka, membantu menyuapi mereka, mengupas buah-buahan, membawakan makanan kesukaan atau memberi jamu-jamuan tradisional yang diizinkan perawat untuk menjaga stamina mereka, memijat kaki dan pundak orang tua mereka, mengajaknya bercerita, bertelepon dengan cucu-cucu mereka.

Rejeki pula buat seorang anak rantau sepertiku.

“Wah, hari ini ada kejutan apa ya, mereka membawakan ku oleh-oleh apa lagi. Alhamdulillah, makan enak lagi” batinku sambil cekikikan dan sedikit merasa bersalah karena berharap hal yang demikian.

Benar saja, sore datang. Banyak oleh-oleh menumpuk di meja kerjaku. Tapi getirnya hatiku sore itu, membuat ku tidak nafsu memandang tumpukkan harta karun itu.

Seorang pasien memanggilku, rambutnya yang sudah memutih , giginya tinggal beberapa saja dan keriput sudah melingkupi seluruh bagian wajahnya dan juga tangannya sebagai pertanda umurnya yang sudah memasuki lebih dari setengah abad. Meski begitu Nenek Pomei masih memiliki ingatan yang tajam, dia tidak lupa dengan perjalanan hidupnya hingga 7 tahun terakhir ketika ia mulai dipindah tinggalkan di gedung berlantai delapan ini, “Sengkongma Nurshing Home”.

Aku mendekatinya yang tengah duduk diatas Bed tempat tidur sambil terisak-isak menahan tangis.

Aku mempercepat langkahku dengan panik, takut terjadi kegawatan apa-apa padanya.

“Kenapa nenek menangis? Nenek sakit? Bagian mana yang sakit? Obatnya sudah diminum tadi?” Tanyaku panik, tapi tetap penuh hati-hati sembari melemparkan pandanganku ke sekelilingnya.

“Tidak! Tidak Anti! Huuu..” jawabnya sambil menahan isak tangisnya, tangannya yang satu mengusap eluhnya yang mulai menetes, satunya lagi mengambil tanganku dan ia pegang erat. Aku mulai bertanya-tanya.

“Lalu kenapaa nenek menangis? Apa Anti melakukan kesalahan kepada nenek? Atau ada yang bisa aku bantu, nek? Bicaralah pelan-pelan, sebisa mungkin aku bantu.”

“Aah yoo wee.. aah yoo wee..” (dalam bahasa Indonesia sering diartikan sebagai ‘aduh gusti’) hanya kata-kata itu yang keluar dari mulutnya sambil menunjuk pasien lain yang tengah didatangi anak dan menantunya dan tengah asik bercengkrama.

“Aku rindu anakku, Anti!!” katanya pelan penuh makna kerinduan, dengan air mata yang terus membasai pipi keriputnya.

“Apa mereka lupa denganku? Kenapa mereka tidak mau mengunjungiku? Apa aku bau? Bukannya tadi pagi aku sudah mandi? Apa mereka menyangka aku sudah mati?” Ia menciumi tubuhnya sendiri, menjawab pertanyaanya sendiri dan memegang tanganku semakin erat.

Aku menggigit bibir kuat, menahan sesuatu agar tidak keluar dari mataku. Tapi mataku pedas sekali, seperti sedang mengupas bawang merah ratusan kilogram.

Tanpa aba-aba air mataku mulai menitih perlahan, ku rengkuh nenek renta yang tengah menangis itu.

Memeluknya erat, mencoba menenangkannya sambil menepuk-nepuk halus pundaknya.

Kini berganti aku yang tidak tenang, sangat gelisah. Ingat, bahwa selama lima bulan terakhir ini aku tidak pernah melihat anak, cucu, menantu atau sanak saudara menengoknya sama sekali.

Pikiranku berkecamuk, merasa bersalah tapi tidak tau harus berbuat apa.

Ku lepaskan pelukan eratku, takut nenek tersadar bahwa sekarang rasa perih yang tadi ia rasakan sudah berpindah diragaku.

“Nenek, anak-anak nenek tidak lupa denganmu, mungkin mereka sedang harus bekerja di luar kota yang jaauuh sekali, atau cucu-cucu nenek ada yang sedang rewel tidak mau ditinggal atau diajak pergi kesini, ya kaan? Iyaa nenek wangi sekali, tadi pagi kita sudah mandi sabunnya bahkan diulang tiga kali. Haha”

aku mencoba melucu tanpa sedikitpun menjanjikan apapun, takut ia kecewa lagi.

“Yang jelas anak-anak nenek sayang banget dengan nenek, mereka bekerja keras agar punya uang banyak untuk membayar perawatan dan therapy untuk nenek. Agar nenek bisa berjalan lagi, iya kan?” aku berhati-hati, takut salah menambahkan kalimat ini padanya.

“Lalu kenapa mereka bisa datang setiap minggu mengunjungi ibu mereka? Kenapa mereka mau membawa anak-anak mereka kesini?” nenek memprotes jawabanku sambil menunjuk ke arah yang sama.

Aku gelagapan menjawabnya, antara sedikit tidak paham dengan yang dibicarakan nenek dan harus menjawab apa.

“Rumah mereka dekat, Nek. Mereka hari ini libur bekerja dan cucu mereka sudah besar.”

“Sekarang kita berdoa yuk, agar anak dan cucu nenek bisa segera datang. Sekarang nenek boleh anggap aku sebagai anak atau cucu nenek. Kalau nenek ingin dipijat kaki dan pundaknya silahkan panggil aku. Kalau nenek ingin dibawakan makanan kesukaan, aku belikan saat aku libur kerja.” Hanya itu yang berani aku janjikan, selebihnya tidak.

“Terimkasih banyak Anti, terimaksih banyak” ia menundukkan kepala dan badannya wujud terimakasih, dan menarikku lagi lalu mengecup pipiku. Sungguh hal yang tidak pernah ku bayangkan sebelumnya.

Setelah ku lihat ia tenang, aku permisi dari hadapannya. Berusaha berfikir positif, bisa jadi anak-anaknya memang sedang sibuk, dinas luar kota, anaknya sedang sakit tidak bisa ditinggal atau mereka benar lupa kalau ada orangtua yang menunggu mereka disini. Ups.

***

Dipergantian terik ke senja aku masih nampak murung, banyak diam, rasa perih kejadian tadi tak kunjung reda.

Bagaimana tidak selama aku menjaga nenek Pomei dia tidak pernah berhenti menceritakan masa mudanya, bersama suami dan kelima anaknya.

Suami nya adalah seorang bussinesman, kerjanya kadang tidak menentu saat ia harus pergi bertugas ke luar kota dan nenek Pomei selalu mengikuti kemana saja suaminya bertugas, namun ketika anaknya sudah lima ia memilih tetap tinggal di Kaohsiung untuk fokus merawat dan membesarkan anak-anaknya. Hidupnya penuh limangan harta, suami nya adalah salah seorang businessman yang berhasil dan berpengaruh di masa nya.

Anak-anaknya tumbuh di lingkungan yang berkecukupan, apapun yang mereka minta tanpa menunggu hari sudah bisa mereka dapatkan.

Suami nenek adalah laki-laki yang baik, nenek pun mempercayai ia sepenuhnya hingga suatu hari datang seorang perempuan yang usianya kira-kira 5 tahun lebih muda darinya. Mengaku istri simpanan dari suaminya.

Seketika nenek Pomei runtuh waktu itu, apalagi mendengar suaminya yang akhirnya memilih tinggal dengan istri mudanya.

***

Suatu hari Paman Kun, yang bukan lain salah satu anak nenek Pomei datang membawa satu kantong plastik besar, isinya jajan, cemilan dan roti untuk nenek. Sewaktu paman Kun datang, nenek Pomei tengah tidur, ketiduran tepatnya menanti anaknya datang, setiap akhir pekan dia selalu optimis menantikan kedatangan anak-anaknya meskipun selalu nihil tidak ada yang pernah datang.

Aku bermaksud membangunkan nenek, tau kalau nenek sangat ingin bertemu dengan anak-anaknya, tetapi Paman Kun mencegah ku.

“Tidak usah mei mei, biarkan ibu tidur. Saya datang hanya untuk membawakan ini saja. Saya juga tidak ingin berlama-lama disini, kalau ibu bangun pasti saya tertahan lama disini. Masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan. Lagian anak istriku kasihan menunggu lama di mobil”

Dia meletakkan kantong plastik besar di lemari nenek sambil pergi meninggalkan ku dan nenek Pomei, tentu tanpa memandang ibu nya atau hanya sekedar menyentuh tangan keriputnya.

Hatiku sesak, ingin sekali ku kejar paman Kun dan menceritakan betapa nenek sangat merindukan anak-anak serta ingin melihat cucu-cucunya. Tapi aku masih tertegun di samping bed nenek, sambil menarik nafas panjang dan menyeka air mata yang tidak tertahan.

***

Bulan-bulan berikutnya nenek Pomei kondisinya memang menurun drastis, beberapa kali mengalami sesak nafas dan harus membutuhkan O2 untuk membantunya bernafas dengan baik.

Setiap beberapa menit sekali aku melihat kondisinya, mengechek kadar Oksigen dalam darahnya yang terus menurun, ini menandakan nenek Pomei juga terus mengalami penurunan kesadaran.

Aku segera menelpon kepala bangsal atau kepala perawat di Panti Gerontik ini, selanjutnya beliau akan mengkonsulkannya ke dokter dan mendapatkan advice untuk dipertahankam di panti atau dirujuk ke fasilitas kesehatan diatasnya.

“ Anti, siapkan pakaian nenek Pomei dan segala kebutuhannya. 10 menit lagi mobil Ambulance datang untuk membawa nenek ke Rumah Sakit rujukan. Kamu jangan lupa menelpon anak atau keluarga dari nenek Pomei ya.. Xie Xie Ni..” Kepala bangsal menelpon ku dan menjelaskan apa yang harus aku lakukan segera mungkin.

Aku segera bergegas ke bangsal, tepatnya kamar nenek Pomei. Mempersiapkan segala kelengkapannya, baju, celana, popok, jaket kesayangannya dan lain-lainnya. Setelah selesai membereskan kelengkapan nya aku bergegas lari ke arah telepon kabel, seketika hatiku getir, menerka-nerka jawaban apa dari telepon Paman Kun atau anak-anak nenek yang lainnya.

“ Zaoshang, shushu? Ini dari “Sengkongma Nurshing Home” dengan Anti. Paman saya mau mengabarkan, kalau kondisi nenek hari ini sedikit memburuk, nenek mengalami penurunan kesadaran dan nenek harus di rujuk ke Rumah Sakit. Bisakah paman datang, barangkali ingin menemani atau menunggu nenek selama dirawat disana?”

“Anti.. saya tidak perlu kesana. Biarlah dibawa ke Rumah Sakit. Nanti saya kirim baju jenazah buat ibu. Kalau ibu sudah meninggal nanti kamu boleh telpon saya lagi, saya sekalian menyiapkan jasa untuk pemakaman ibu saya” suara telpon diseberang sana berhasil membuat hatiku makin hancur lebur, aku menata kata-kata kembali untuk menyahutnya.

“Paman, maaf tapi nenek belum meninggal. Kita sedang mengupayakan pertolongan sebaik dan secepat mungkin untuk nenek. Nenek juga masih punya banyak harapan hidup. Tidak bisakah paman datang dan melihat kondisi nenek barang sebentar saja? Nenek sangat rindu dengan anak-anaknya.”

“Tuuuuuut”

Telepon diseberang sana sengaja ditutup oleh pemiliknya.

Lutut ku gemetar. Bagaimana tidak, ketika seorang anak lebih mengharapkan kematian ibunya.

Tidak ada waktu untuk mendampingi orang yang pernah berjasa dan bertaruh nyawa untuk melahirkan mereka di masa kritisnya atau mungkin menuju peristirahtan terakhirnya.

Aku tidak sampai hati melihat nenek Pomei yang terbaring lemah, yang berbulan-bulan medambakan anak cucu nya datang menengoknya, berharap anak-anaknya masih mau mendengar ibunya berkeluh kesah, menceritakan kemajuan proses teraphy nya, sudah bisa jalan sendiri dan berharap boleh tinggal bersama mereka lagi.

Tapi pagi ini harapan itu gugur berbarengan dengan derai air mata ku yang beriringan dengan suara mobil Ambulance yang sudah datang.

Ku pegang erat tangan nenek sambil membisikan ke telinga nya “Nenek, Anti yang akan menemani nenek untuk berjuang.

Nenek harus segera sehat dan bisa melewati ini. Anti sayaang sekali dengan nenek”

***

Pergantian jaga datang juga, hari ini aku ingin segera selonjoran diatas ranjang tempat tidurku, mencoba merefleksikan kejadian seharian ini.

Begitu banyak ritme kehidupan yang telah ku jumpai di gedung berlantai delapan ini, tapi hari ini rupanya aku tersadarkan kembali.

Banyak hal yang sering ku sepelekan, banyak yang ku lewatkan, aku tidak belajar. Sekarang menjadi sedikit tahu bagaimana menempatkan diri sebagai seorang anak dari orang tua ku dan menjadi pasangan dan ibu bagi anak-anak ku kelak.

Setelah selesai mandi, ku ambil air wudhu lalu mengerjakan shalat isya.

Sambil terisak-isak menahan air mata, tidak ingin yang lain tahu kalau shalatku banjir dengan air mata.

Mengingat hari ini, hari kemarin, 23 tahun yang lalu.

Tidak akan ada aku yang seperti sekarang ini tanpa tetesan peluh kerja keras orangtua ku, tidak akan lahir bayi perempuan 23 tahun yang lalu jika ibu tidak berani mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan ku.

Tidak bisa bersekolah sampai sarjana kalau bapak tidak begadang mencari tambahan nafkah.

Hari ini, di gedung berlantai delapan, di Rumah Sakit Gerontik ini, ku lihat lagi begitu banyak jiwa-jiwa renta yang sudah kehilangan harapannya untuk pulang. Jiwa-jiwa yang merindukan curahan kasih sayang, banyak hal yang sengaja mereka pendam dalam-dalam, banyak masa lalu yang mereka rindukan, lalu mereka merasa kesepian.

Tidak hanya satu dua, hanya selama ini aku tidak menyadarinya saja.

Rumah Jiwa, kini aku menyebutnya.

Menjadi bagian tidak terpisahkan dalam perjalanan hidup ku, menjadi bumbu pelengkap yang lama ku ramu.

Hari ini, di gedung berlantai delapan ini menyadarkan kembali bahwa kedekatan dan kecintaan orangtua terhadap anaknya tidak bisa dipandang hanya dengan mereka yang mampu memenuhi segala keinginan anaknya.

Memastikan anak-anaknya selalu baik-baik saja, membuat mereka bahagia meski pilu, perih, sakit dipikulnya sendiri oleh mereka.

Bahwa wujud mencintai tidak perlu mengumbar ke khalayak, membawakan bunga setiap pagi, atau mengajak liburan ke luar Negeri.

Dengan menjaga komitment, tidak mengingkari yang sudah dijanjikan, merawatnya meski telah layu dan menjaga yang sudah dipercayakan padamu. Itulah bagian tersulitnya.

Dari Rumah Jiwa aku belajar mencintai, aku belajar menjadi pendengar yang baik, belajar berproses, belajar menjadi dewasa yang sesungguhnya, belajar menjadi anak dan teman yang baik, menjadi orangtua yang bijak untuk anaknya. Rumah Jiwa, tidak bisa tidak.

Aku jatuh cinta luar dan dalamnya, segala isinya, segala prosesnya dan segala bagian yang membentuknya.


📝 Komentar juri|Ratu Selvi Agnesia

Naskah ini menyentuh karena memiliki kekuatan pengalaman refleksi pribadi di sebuah gedung dimana ia mengabdi mengurus pasien yang sebagian besar adalah para orang tua yang memiliki jiwa kesepian di akhir hidupnya. Refleksi tentang kesepian inilah yang menjadi “ruh” utama dalam tulisan. Saya tersentuh ketika membaca mereka yang telah melewati berbagai fase hidupnya, harus merasakan kondisi kesepian, bukan hanya tubuhnya yang sakit namun jiwanya yang sakit hingga menjelang kematiannya.

Dalam naskah ini, kita bisa merasakan sepilahan jiwa-jiwa yang renta dan kesepian namun jiwa itu merasa tersesat karena hanya kasih sayang dari keluarga yang mereka butuhkan. Dan tak pula mereka dapatkan seperti pada tokoh Nenek Pomei. Bagaimana seorang anak lebih mengharapkan kematian ibunya yang selalu menunggunya daripada menjenguknya. Tulisan dengan alur yang mengalir pelan ini juga memiliki tata bahasa yang baik dan sentuhan emosi yang mendalam. Penulis dan tokoh utama yang bercerita ini tidak hanya bekerja sebagai perawat namun lebih dari itu, ia menghayati pekerjaanya dari sisi kemanusiaan di “rumah jiwa” tersebut.

發表迴響

你的電子郵件位址並不會被公開。 必要欄位標記為 *