Elegi Ambarwati

🥉 優選 Choice Award

📜 Elegi Ambarwati
👤 ETIK PURWANI

Akan aku ceritakan kisah tentang seorang temanku kepadamu. Aku memberitahumu agar engkau berpikir adil bila engkau menjumpai temanku itu di mana saja di hutan belantara beton di negara Hong Kong. Di akhir kisah ini engkau akan mengerti bahwa negara yang penuh oleh gemerlap lampu dari rimbunan gedung-gedung yang semacam surga bagi sebagian orang, di sisi yang lain tak ubahnya neraka bagi orang semacam sahabatku.

Sahabatku itu bernama Ambarwati. Aku dan Ambar berteman sejak kecil. Usianya tiga bulan lebih muda dariku. Ambar kecil adalah seorang anak gadis yang sangat cantik. Matanya kecil bening, hidungnya mancung wajar, bibirnya tebal berisi; selalu merah. Kulit Ambar kuning buah duku, rambutnya hitam tebal bergelombang.
Ambar tidak pernah mempunyai ayah. Dahulu ibunya adalah seorang perantau di Malaysia. Ibunya tidak berhasil pulang membawa uang seperti orang-orang, hanya membawa Ambar yang masih di dalam kandungan. Setelah Ambar lahir, ibunya pergi lagi meninggalkan bayi Ambar pada pengasuhan neneknya. Ibu Ambar tidak pernah kembali sampai sekarang.

Sejak kecil Ambar hidup susah. Nenek Supi, nenek Ambar, hanyalah seorang ngasak. Pekerjaan nenek Ambar hanyalah mencari-cari sisa-sisa hasil panen yang tertinggal di sawah-sawah orang. Nenek Ambar memilliki dua anak; ibu Ambar dan paman Ambar yang pekerjaan tetapnya mabuk-mabukan dan kelayapan saja. Karena sering berada di rumah sendirian, Ambar hampir setiap hari bermain di rumahku. Setiap kali pulang sekolah Ambar pasti langsung muncul di pintu rumahku, bahkan sebelum aku sempat berganti baju. Kami lalu bermain bersama. Ambar senang bermain sebagai putri raja, aku lebih senang mengambil peran sebagai pengarah cerita. Aku suka bermain dengan Ambar karena ia selalu menurut saja bila aku memintanya melakukan apapun. Ibuku selalu membuatkan makanan ketika kami bermain bersama. Ambar pernah bilang ibunya yang pergi dan tidak pernah kembali itu adalah perempuan yang jahat, bukan perempuan yang baik seperti ibuku. Kukira Ambar membenci ibu yang belum pernah sekalipun dilihatnya.

Meskipun cantik, Ambar tidak terlalu pintar. Di sekolah ia lebih suka bermain daripada belajar. Ketika aku mengajaknya mengulang pelajaran di rumah, Ambar selalu bilang sedang malas. Baginya belajar tidaklah penting. Ambar selalu senang saja bila bapak atau ibu guru memberinya hukuman membersihkan toilet karena nilai pelajaran yang sangat buruk. Ambar bilang, mengepel lantai toilet jauh lebih mengasyikan daripada duduk mendengarkan pelajaran yang hanya membuatnya mengantuk.

Bertambah besar Ambar semakin cantik. Ia tumbuh lebih tinggi dibanding aku dan teman-teman sebaya. Tubuhnya ramping, jari-jari tangannya lentik. Ambar juga seorang yang ceria, ia mudah akrab dengan siapa saja.

Saat duduk di kelas lima, Ambar mendapatkan surat cintanya yang pertama kali. Waktu itu dia langsung menunjukkannya kepadaku. Ia belum pandai membaca, apalagi membalas surat cinta. Sebagai teman yang baik, aku yang membacakan sekaligus membalas surat itu meski dengan menggerutu. Sejak kecil Ambar memang dikagumi karena parasnya, bukan karena isi kepalanya.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, aku dan Ambar berpisah. Aku melanjutkan ke sekolah menengah, Ambar dikirim neneknya untuk bekerja di Surabaya. Kata tetanggaku, Ambar bekerja di Dolly. Mempunyai tubuh yang bongsor dan wajah yang cantik, kata tetanggaku, Ambar akan gampang saja bekerja di sana. Aku waktu itu tidak mengerti kerja apa yang dilakukan Ambar di kota, tetapi aku juga tidak berani bertanya kepada siapa-siapa. Pernah sekali waktu aku bertemu Ambar yang sedang cuti dari pekerjaannya. Ambar menjadi bertambah-tambah cantik. Ia juga sudah pandai berdandan. Aku sedikit cemburu melihat kemajuan penampilannya. Perilaku Ambar juga sedikit berubah; ketika berbicara ia banyak-banyak tersenyum, matanya sering mengerling genit. Kata Ambar pekerjaannya di Dolly tidaklah sulit, tetapi uang yang dihasilkan lumayan banyak. “Tamuku banyak, Tik. Dalam sehari semalam aku bisa mendapatkan sampai delapan tamu. Kamu tahu? Hanya yang paling cantik yang bisa begitu.” Kukira menjadi cantik lebih menguntungkan daripada menjadi pintar; Ambar bisa dengan mudah mendapatkan uang tanpa bersusah payah belajar di sekolah sepertiku. Ketika malam tiba, kusampaikan apa yang diceritakan Ambar kepada ibuku. Akibatnya, itulah saat pertama kali ibu melarangku bertemu dan berbicara dengan Ambar lagi.

Sampai aku duduk di bangku SMA, aku jarang melihat Ambar. Ambar pun sepertinya jarang sekali pulang dari pekerjaanya di Dolly itu. Kata orang-orang, Ambar sibuk karena sudah menjadi primadona. Dari hasil bekerjanya itu, Ambar sudah mampu membangun rumah nenek Supi. Rumah yang selama ini selalu reot hampir ambruk, sekarang sudah lebih baik. Atapnya yang dahulu terbuat dari jerami, sekarang sudah diganti genting tanah liat merah, sedangkan dindingnya sudah terbuat dari batu bata. Kata nenek Ambar, di dalamnya kini terdapat dua kamar tidur. Satu kamar untuk nenek Supi, satu kamar lagi untuk Ambar. Sebelumnya Ambar tidak pernah punya kamar sendiri. Ambar tidur bersama neneknya, sedangkan paman Ambar tidur di mana saja, kadang di ruang tamu, kadang di lantai dapur, kadang juga ketika sedang mabuk berat paman Ambar tidur di atas tumpukan jerami di kandang sapi milik Pak Bakri, tetangga Ambar.

Kemajuan kehidupan Ambar yang dahulu sempat membuatku iri, lambat laun berubah menjadi rasa prihatin. Aku yang sudah SMA kemudian mengerti bahwa pekerjaan Ambar di Surabaya adalah melacur. Ia mendapatkan uang dengan menjual tubuh. Karena pekerjaan Ambar itu, aku harus menghindar darinya, sejauh-jauhnya. Ancaman bapak dan ibuku yang tidak akan mengizinkan aku bersekolah bila masih bergaul dan berbicara dengan Ambar sungguh membuatku ketakutan. Ibu dan bapakku bilang, pekerjaan Ambar adalah pekerjaan yang sangat buruk; hanya dilakoni orang yang kurang berusaha dan orang-orang yang tidak bersekolah. Jika saja Ambar memiliki orangtua seperti bapak dan ibuku, Ambar tidak akan sampai di dunia pelacuran. Tidak akan dibolehkan.

Aku yang berkutat dengan buku, pena, seragam dan teman-teman sekolah tidak lagi menjalin komunikasi dengan Ambar yang cantik bergincu merah dan berperhiasan yang gemerlapan. Pun setelah usai masa sekolahku, aku tidak banyak tahu tentang Ambar kecuali lewat gosip tetangga yang cenderung menilai Ambar sebagai pengaruh buruk bagi semua anak gadis dan bujang di desa tempat kami tinggal. Tentu saja, di dalam hati aku tetap menilai Ambar sebagai sahabatku yang lugu.

Karena ibu dan bapakku tidak cukup uang untuk menyekolahkanku menjadi sarjana, setelah tamat SMA aku ikut tetangga bekerja di sebuah pabrik pembuat tas yang tidak terlalu besar di Sidoarjo. Aku bekerja di bagian menjahit dan menggunting pola tas. Selama bekerja itu, kadang terbersit keinginan untuk menghubungi Ambar. Jarak Sidoarjo dan Surabaya sangat dekat. Tetapi keinginanku itu tidak pernah terwujud karena bekerja di pabrik sungguh menyita waktu dan tenagaku. Aku juga harus banyak berhemat agar masih ada sisa uang untuk aku kirimkan pulang untuk kelangsungan pendidikan adik-adikku. Meskipun bapak dan ibuku punya tekad agar aku dan adik-adikku bersekolah tinggi, tetapi kami tidaklah kaya raya. Sawah tiga petak yang dimiliki keluargaku sudah lama kekeringan. Bukit di lereng Gunung Kelud sudah gundul karena ditanami tebu. Air sungai yang mengalir di sawah bapakku semakin lama semakin berkurang. Saat musim hujan tiba, sawah bapakku tergenang banjir karena limpahan air hujan tidak lagi bisa ditampung oleh lereng gunung yang gundul. Hasil pertanian yang dahulu cukup untuk keluarga sekarang malah menambah beban hutang karena panen sering gagal. Hidup memang sedang susah di mana-mana.

Genap setahun aku bekerja di pabrik pembuat tas itu, aku terkena PHK. Pabrik memberhentikan aku karena pabrik kecil tempatku bekerja harus mengurangi jumlah produksi tasnya. Impor tas murah dari luar negeri membuat industri kecil dalam negeri kuwalahan. Mereka harus mengurangi beban perusahaan dengan mengurangi jumlah karyawan. Untuk beberapa lama aku terombang-ambing di kota asing. Pulang tidak menjadi pilihanku karena aku tak ingin menambah beban orangtuaku. Aku hampir mencari Ambar ketika seorang temanku yang juga terkena PHK mengajakku bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Hong Kong. Saat memutuskan untuk mendaftar di PJTKI di kota Pasuruan, aku merasa sedang menghianati cita-cita bapak dan ibuku agar aku sekolah tinggi untuk bisa mencapai hidup dengan lebih baik bila sudah dewasa. Apa boleh buat, di masa yang serba susah, sekolah tinggi pun hanya membawaku menjadi pembantu.

Aku menempuh proses pemberangkatan selama lima bulan di penampungan sebelum akhirnya mendapatkan kontrak dan visa kerja di Hong Kong. Di Hong Kong aku bekerja pada keluarga Richardson, keluarga migran dari Skotlandia. Pelajaran bahasa Inggris yang kudapatkan di sekolah dahulu memperlancar komunikasiku dengan keluarga majikanku. Aku bertugas merawat seorang gadis lucu berusia lima tahun. Di keluarga yang sangat toleran ini aku banyak memiliki kesempatan untuk belajar banyak hal yang sangat baru. Pekerjaan ini juga memungkinkan aku untuk mendapatkan libur setiap minggu yang aku gunakan untuk membaca buku-buku dan menulis cerita. Sejak kecil membaca dan menulis adalah hobi bagiku. Di Hong Kong ada tiga media berbahasa Indonesia yang didapatkan secara gratis. Hello Migran adalah media koran yang sekali dua kali menampilkan tulisan-tulisanku. Kukira setelah sekian lama aku bertemu ruang-ruang kelabu kehidupan, berhasil menorehkan tulisan-tulisan di media adalah arti kebahagiaan.

***
“Halo, Tik. Aku Ambar! Aku menyusulmu di Hong Kong ini. Hahahaha” Suara renyah Ambar begitu saja menyambar ketika aku mengangkat telepon genggam yang sedari lama berdering. Ah, dunia ini memang sempit sekali. Di Hong Kong yang aku kira tempat yang sangat asing dan jauh dari hal-hal yang selama ini aku kenali, aku bertemu dengan sahabat masa kecilku lagi setelah sekian lama berpisah.

Ambar mendapatkan nomor ponselku dari adikku di kampung. Aku dan Ambar berjanji bertemu di suatu hari Minggu. Ambar yang ternyata tidak pernah menyukai pekerjaanya di Dolly memutuskan untuk menyusulku ke mari setelah secara resmi tempat pelacuran itu ditutup oleh pemerintah. Apalagi Ambar tidak memiliki pendidikan yang cukup untuk mencari kerja di Tanah Air. Saat aku bertemu dengannya, Ambar baru bekerja beberapa bulan saja. Ambar mengaku sangat kesulitan menguasai bahasa Kantonis. Kurasa pendapat Ambar itu tidak berlebihan, karena aku bahkan tidak bisa bahasa Kantonis meski aku sudah lebih lama bekerja di sini.

Jika bekerja di negara asing keberhasilan seseorang sangat bergantung kepada nasib, nasib Ambar di Hong Kong tidaklah baik. Ambar bekerja pada keluarga yang sangat pelit. Makanan yang diberikan kepada Ambar adalah makanan sisa majikan, kadang-kadang makanan yang sudah kadaluarsa. Jumlah anggota keluarganya banyak. Ambar harus menjaga dua balita, seorang nenek lumpuh, dua ekor anjing, membersihkan rumah, belanja, memasak semua tugas itu dilimpahkan kepada Ambar. Ambar hampir tidak mungkin ada waktu untuk beristirahat. Ia harus terus-terus bekerja sekurang-kurangnya dua puluh jam setiap hari. Mendengarkan ceritanya aku menjadi sangat iba. Dalam hati aku merasa Ambar tidak akan bisa bertahan lama, meskipun Ambar tidak bilang ia siap untuk menyerah saja dan bahkan keadaanya yang payah itu masih membuatnya tertawa.

Tubuh Ambar kurus dan kuyu. Rambutnya kusut, bajunya lusuh. Di hari Minggu yang seharusnya ia ceria dan santai karena terbebas dari rutinitas kerja, Ambar malah seperti sedang tergesa-gesa. Selama mengobrol denganku, majikannya berkali-kali menelepon agar dia segera kembali ke rumah majikan. Majikan Ambar bicara dengan nada yang kasar. Dalam percakapan yang pendek-pendek itu aku bahkan sempat mendengar majikan mengancam akan memulangkan Ambar kembali ke Indonesia bila Ambar tidak menurut kemauan majikan. Ambar terlihat sangat tidak berdaya.

Sebagai sahabatnya, aku merasa tidak bisa berbuat apa-apa. Aku dan Ambar sama-sama menanggung hutang yang banyak untuk proses keberangkatan kami ke Hong Kong. Bila kami sampai dipecat, atau mengundurkan diri dari pekerjaan dan tidak bisa membayar hutang dari gaji kami yang dipotong setiap bulan, hutang-hutang itu akan mengejar keluarga kami di Tanah Air. Kondisi inilah yang memaksa kami bertahan, seberapapun sulitnya. Aku sendiri bertekad untuk bekerja sebaik-baiknya; berhasil melunasi hutang, mengumpulkan uang dan pulang secepatnya. Bagiku sebaik-baiknya tempat adalah tempat di mana orang-orang yang aku sayangi berada.

Kesibukan kerja membuat aku dan Ambar tidak bisa berkomunikasi dengan intens. Aku tidak berani meneleponnya karena aku takut Ambar akan terkena masalah karena itu. Aku hanya menunggu berita darinya. Sesungguhnya aku menanti kabar darinya karena tidak berapa lama lagi kontrak kerjaku akan berakhir dan aku akan segera pulang.

Maka ketika aku tanpa sengaja berjumpa dengannya, setelah sekian lama tidak kudengar kabar sama sekali, aku terkejut luar biasa. Di Victoria Park itu Ambar terlihat sangat berbeda. “Hahaha, Tik. Ya ampun, Hong Kong ini sempit sekali ya?” serunya. Ambar terlihat sangat ceria. Kami lalu berpelukan. Aku harus berjinjit karena hak sepatunya yang sangat tinggi. Ambar berdandan seksi sekali. Ia mengenakan riasan wajah yang tebal, rambutnya yang dahulu hitam mayang mengembang sekarang berwarna ungu, merah, pirang berselang-seling. Ambar memakai mini dress berwarna perak yang rendah di bagian dada. Tubuh Ambar menguar bau wangi tawar yang bercampur dengan aroma rokok. Ambar ditemani tiga pria berjambang yang sedang bergurau di seberang taman, beberapa meter dari aku dan Ambar berbicara. Ambar sedari kecil selalu penuh kejutan-kejutan.

Ambar bercerita bahwa setelah keluhannya tidak didengarkan oleh agency yang menyalurkannya bekerja, ia memutuskan keluar dari rumah majikan begitu saja tanpa pamit, tanpa membawa apa-apa. Sekarang ia tinggal di rumah petak di pinggiran kota kecil Yuen Long bersama seorang kekasihnya yang seorang asylum refugee dari negara Pakistan. Ia tinggal di sana bergantung hidup dari jatah pemerintah. Ambar juga mengajukan permohonan tinggal sebagai pengungsi dengan alasan nyawanya terancam bila pulang ke Tanah Air.

Di rumah petak itu, kata sahabatku, listrik menyala sekali-sekali saja, kadang air pipa berhenti mengalir tiba-tiba; Ambar sering menumpang mandi di toilet umum di taman kota.Lebar rumah itu hanya empat kali tiga meter saja, beratap seng berdinding triplek dan kardus-kardus bekas. Berdempet-dempet dengan penghuni yang lainnya. Ketika musim panas tiba, rumah Ambar menjelma oven pemanggang, di musim dingin berubah menjadi tempat yang membekukan tulang persendian. Kekasih Ambar baru seminggu ini keluar dari penjara karena kedapatan bekerja cuci piring secara tidak syah di sebuah restoran kecil di kota Tsim Sha Tsui.

“Ambar, kenapa kamu memilih jalan ini?” sebagai sahabatnya, aku merasa masih punya hak untuk bertanya.

“Aku punya cinta, Tik.” jawabnya. Matanya berkaca-kaca menatap kekasihnya yang sedang terlihat bercanda di bawah patung legendaris Ratu Victoria. “Dia seharusnya menjadi dokter kalau saja negaranya tidak sedang berperang. Dia dikirim bapaknya ke sini agar bisa melanjutkan cita-citanya. Tapi ternyata, untuk bertahan hidup saja hampir tidak bisa. Aku dan dia harus tetap berusaha bernapas, aku dan dia masih punya cinta.” katanya lagi, seperti bergumam. Seperti meyakinkan dirinya sendiri.

“Lalu bagaimana kamu bisa bertahan di sini, Ambar?” Aku bertanya begitu agar Ambar berpikir untuk pulang saja. Kukira cinta yang dikatakannya itu tidak akan bisa punya masa depan di Hong Kong yang ganas ini.

“Aku bertahan hidup dengan cara yang aku bisa, Tik. Dengan cara yang aku pelajari sejak kecil.” katanya datar saja.

“Apa? Bagaimana?” kejarku. Ia menatapku lekat sekali, “Melacur” katanya. Aku terdiam, melemparkan pandang pada bunga bauhinia yang kelopak layunya berjatuhan di lantai beton berwarna kelabu.

“Ambar, bulan depan aku pulang karena kontrak kerjaku sudah selesai. Ayo pulang bersamaku.” Kukira sebagai sahabatnya, ajakan pulang adalah ajakan yang paling tidak berguna baginya. Dia menatapku saja. “Kamu pesan apa untuk nenek Supi, nenekmu?” kataku lagi. Aku berharap dengan mengingat neneknya, Ambar akan bisa memutuskan untuk pulang saja. Ambar hanya menggeleng pelan, lalu menunduk memperhatikan kakinya yang dibalut sepatu berwarna perak menyilaukan. Ketika ia memandangku, mengalir bening air dari matanya yang cantik.

Aku sungguh tidak mengerti mengapa Ambar yang cantik jelita harus menjalani hidup yang begitu menyakitkan sejak belia. Apakah menjadi cantik itu bukan anugrah melainkan sebuah kutukan atau musibah? Bagaimana cara mengubahnya menjadi lebih baik? Apakah semua ini salah ibu Ambar yang meninggalkan Ambar begitu saja dan membiarkannya tumbuh dengan belaian angin?

Kupeluk sahabatku untuk terakhir kali sebelum kami berpisah. Tubuhnya yang kurus terguncang hebat karena tangisnya yang pecah. Ambar menumpahkan dukanya, sejadi-jadinya. Untuk beberapa lama aku membiarkannya begitu sampai ia sedikit tenang dan berkata, “Tolong jaga nenekku, Tik. Bilang padanya jangan menungguku. Aku tidak akan pulang.” katanya terbata.

Ketika kulepas pelukannya, kuselipkan dua lembar uang lima ratusan dollar, uang yang sebenarnya aku sisihkan untuk membeli kenang-kenangan untuk kubawa pulang; gantungan kunci bunga bauhinia. Ambar tidak menolak uang itu. Kukira karena ia lapar.***

Nantou, 10 Mei 2019

Catatan kaki:
Ngasak (bahasa Jawa): mencari sisa-sisa dari hasil panen yang ditinggalkan di sawah. Biasanya dilakukan oleh mereka-mereka yang tidak memiliki sawah sendiri. Hasil dari kegiatan ngasak ini biasanya hanya untuk dimakan sendiri karena mutunya tidak layak jual, petani hanya meninggalkan hasil panen yang berkualitas buruk di sawah mereka.

Dolly: Dolly atau Gang Dolly merupakan nama sebuah kawasan prostitusi yang terletak di daerah Jarak, Pasar Kembang, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Di kawasan lokalisasi ini, bak barang di toko, para wanita penghibur dipajang di dalam ruangan berdinding kaca mirip etalase. Konon lokalisasi prostitusi ini adalah yang terbesar di Asia Tenggara dan lebih besar dari Patpong di Bangkok, Thailand dan Geylang di Singapura. Bahkan, pernah terjadi kontroversi untuk memasukkan Gang Dolly sebagai salah satu daerah tujuan wisata Surabaya bagi wisatawan mancanegara. Gang Dolly yang ada sejak tahun 1960-an, kini menampakkan wujud barunya setelah Walikota Surabaya Tri Rismaharini secara resmi menutupnya pada Juni 2014. Alasan penutupan ini antara lain karena adanya indikasi prostitusi yang melibatkan anak-anak di bawah umur (diambil dari berbagai sumber di internet).

Hello Migran: nama media ini fiktif, digunakan untuk pelengkap cerita. Di Hong Kong ada tiga media cetak berbahasa Indonesia yang bisa didapatkan secara gratis; SUARA, Apakabar dan Berita Indonesia. Media-media ini semata-mata terbit dengan mengandalkan iklan yang terpasang di halamannya. Meskipun demikian, media-media cetak ini sangat vokal menyuarakan perjuangan pekerja migran dalam upaya peningkatan kesejahteraan buruh migran baik dari Indonesia maupun Filipina. Media-media ini punya andil besar dalam memupuk aktivitas tulis menulis pekerja migran Indonesia di Hong Kong.

Asylum refugee: pencari suaka. Setelah kembali ke pangkuan China, Hong Kong menjadi negara yang mendapat jatah untuk menerima pengungsi dari negara lain yang diakibatkan oleh perang, kekerasan fisik, atau perselisihan antar pemeluk agama dan sebab lainnya atas rekomendasi dari agensi pengungsi PBB (UNHCR). Ada sekitar 11.000 asylum seeker dari berbagai negara di Hong Kong per Mei 2018. Pakistan adalah salah satu negara yang sedang mengalami konflik antar umat beragama, banyak penduduknya yang ingin selamat dari peperangan ini kemudian lari mencari suaka ke Hong Kong. Para pencari suaka ini hidup dengan mengandalkan jatah dari pemerintah berupa uang untuk menyewa tempat tinggal dan kupon untuk membeli makanan. Sering kali jatah itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. Mereka tidak punya hak untuk bekerja, jika kedapatan bekerja mereka akan dipenjara. Belakangan pengungsi-pengungsi ini disalahkan atas kasus-kasus kriminal yang marak di Hong Kong. Karena hal ini, para aktivis khawatir jika Hong Kong akan berlaku seperti Republik Tiongkok yang sama sekali menolak untuk memberikan perlindungan kepada asylum seeker (www.explorepartsunknown.com).

Bunga bauhinia: atau sering juga disebut Hong Kong Orchid (anggrek Hong Kong) adalah tanaman berbunga banyak yang cantik seperti anggrek, tidak berbuah, daunnya berbentuk kupu-kupu. Banyak ditanam di sepanjang pinggir jalan di daerah perumahan elit dan di hampir setiap taman umum sebagai tanaman peneduh. Bunga ini bernama Latin Bauhinia Blakeana yang merupakan jenis bunga asli Hong Kong dan menjadi bunga kota serta lambang tradisional Hong Kong. Sebuah patung tanaman tersebut telah didirikan di Lapangan Bauhinia Emas di Hong Kong. Meskipun bunga tersebut berwarna ungu kemerahjambuan terang, bunga bauhinia digambarkan dengan warna putih pada bendera Hong Kong (www.wikiwand.com).

📝 Komentar juri|Hanna Fransisca

Perjuangan dua tokoh yang berbeda pilihan. Satu tokoh memilih jalan pintas menjadi pelacur, sedang tokoh yang lain (yang merupakan tokoh utama) selalu mencari jalan yang lurus dengan segala liku-liku perjuangannya. Karena sesuatu hal, mereka akhirnya dipertemukan di Hongkong sebagai pekerja migran. Perjalanan dua tokoh inilah, dengan penggabungan dua alur yang saling berkelindan (antara alur maju dan alur mundur/flash-back), menjadikan cerita ini begitu mengharu-biru. Kemampuan penulisnya dalam memilih gaya serta ungkapan-ungkapan kalimat yang mengalir, telah membuat kisah yang disampaikan cukup memikat. Kemampuan menarik benang merah dari sekian banyak peristiwa, menjadi satu kesimpulan yang menggugah di akhir cerita, membuat kisah ini sanggup menimbulkan empati.

📝 Komentar juri|Raudal Tanjung Banua

Cerita bagus, otentik dan menyentuh. Bertumpu kepada tokoh utama, Ambar, seorang gadis kampung yang kurang beruntung. Ia tinggal bersama neneknya karena ibunya menghilang dan ayahnya tidak jelas—sebab ibunya hamil waktu bekerja di luar negeri. Ambar akhirnya menjadi penghuni lokalisasi Dolly Surabaya—ketika menceritakan ini, narator dengan emosi yang biasa, cenderung datar.

Setelah Dolly ditutup, Ambar ternyata ikut merantau ke Hong Kong dan di sanalah ia bertemu kembali dengan tokoh “aku”—sahabatnya sejak  kecil, sang narator. Tragedi hidupnya luar biasa, sebab di Taiwan ia menjadi orang yang terlunta; lari dari majikan, tinggal bersama asyilum refugee dari Pakistan. Bahasanya lancar dengan kosa kata yang segar. Plotnya tertata baik. EYD benar. Detail pada lanskap, baik alam maupun dunia batin tokohnya terbangun penuh dimensi. Tragedi kehidupan Ambarwati bersisian dengan derita hidup tokoh aku sebagai migran yang juga bertarung dengan kehidupan yang tak bisa disebut ringan. Suasana terbangun sejak awal dan mencapai puncaknya—mengharukan—pada ending.


📜 Elegi Ambarwati
👤 ETIK PURWANI

我會告訴你一個關於我朋友的故事。我告訴你是因為,當你在香港這水泥叢林國度裡的任何角落遇到我那位朋友時,會有比較公平的看法。在故事的結尾你會了解到,一個充滿閃閃發亮的燈光和佈滿建築物的國家,可能是某一些人的天堂,但在另一方面,對像這個朋友一樣的人則是不折不扣的地獄。

我朋友名叫Ambarwati。我和Ambar從小就是朋友。她比我小三個月。小Ambar是一位非常美麗的女孩。她的小眼睛很清澈,鼻子自然挺,紅色的嘴唇很豐滿。Ambar的皮膚是杜古般的黃,黑色的頭髮厚厚的波浪狀。

Ambar不曾有過爸爸。她的媽媽以前在馬來西亞當遊子,她沒有像其他人一樣成功的帶回一些錢,她只帶著還在子宮內的Ambar。Ambar出生後,她媽媽到現在未曾回來過。

Ambar從小就過得很辛苦。Ambar的祖母——蘇比奶奶,只是一名拾穗者。奶奶的工作只是撿拾農田豐收後所殘留的稻穗。Ambar的奶奶有兩名孩子,Ambar的媽媽和整天喝酒到處鬼混的舅舅。因為經常獨自一人在家,Ambar幾乎每天都到我家來玩。每次放學,Ambar一定會出現在我家門口,有時我還來不及換衣服。我們會一起玩。Ambar喜歡演公主,我比較喜歡演導演。我喜歡跟Ambar一起玩,因為我叫她做什麼她都會照做。我們玩在一起時我媽媽都會為我們做吃的。Ambar曾經說過,她那已經離開而且從沒回來過的媽媽是壞女人,不像我媽媽是好女人。我認為Ambar很討厭她從未見過面的母親。

雖然長的漂亮,Ambar並不聰明。在學校,比起學習她比較喜歡玩。當我邀請她在家複習時,Ambar總是說她很懶。對她而言,讀書並不重要。每當因成績太差而被老師罰洗廁所時,Ambar都會很樂意。Ambar說,將廁所的地板拖乾淨,比坐著聽讓她昏昏欲睡的課程來得有趣。

長大的Ambar越來越漂亮,她長得比我和其他同齡的朋友來得高。她的身材很苗條,手指柔嫩。Ambar也是一位個性開朗的人,很容易跟任何人親近。

五年級的時候,Ambar收到第一封情書。當時她直接拿給我看。她還不會閱讀,更不用說回覆情書。做為好朋友,我幫她讀信的同時,邊發牢騷邊幫她回信。從小Ambar就一直因為外表而受到欣賞,而不是因為腦袋裡的內容。

讀完小學之後,我和Ambar分開。我繼續讀國中,而Ambar被她奶奶送到泗水工作。我的鄰居說,Ambar在多莉那邊工作。我的鄰居說,擁有高挑身材加上漂亮臉蛋,Ambar在那邊工作很輕鬆。當時我不太了解Ambar在那座城市做了什麼,但我也不敢找人問。有一次我遇到正在放假的Ambar,Ambar越來越漂亮,她也學會打扮自己。我有一點嫉妒她亮麗的外表。Ambar的行為也有點不一樣;聊天時她常常微笑,她的眼睛也一直在調情。Ambar說在多莉上班很輕鬆,賺的錢也蠻多的。「蒂,我的客人很多。在一天一夜之內我可以有八個客人。妳知道嗎?只有最漂亮才能這樣。」我以為長得漂亮比變聰明的好處來得多;Ambar可以不需要像我辛苦讀書就可以輕易的賺錢。到了晚上,我將Ambar的故事告訴我母親。結果,那是第一次我媽不讓我和Ambar見面聊天了。

當我念高中時,我很少看到Ambar。Ambar也似乎很少從多莉,她上班的地方回來過,Ambar變很忙,因為她已經成為紅牌了。由她工作的成果,Ambar已經可以幫蘇比奶奶蓋房子。那一棟快要倒的破房子現在已變好。以前由稻草製成的屋頂現在已被紅色屋瓦取代,現在的牆壁也改成紅磚。Ambar的奶奶說,屋內現在有兩間房間,一間給蘇比奶奶,另一間則給Ambar。以前Ambar沒有自己的房間,她跟奶奶一起睡。她的舅舅則到處睡,有時在客廳,有時在廚房,有時爛醉的舅舅也會睡在鄰居巴克里家牛棚的乾草堆上。

Ambar生活得到改善,這些事過去曾讓我感到嫉妒,後來慢慢變成同情。念高中的我才了解Ambar在泗水的工作是賣淫。她是以出售身體換取金錢。因為Ambar的工作我必須遠離她,越遠越好。我父母威脅我,如果我再跟Ambar來往就不准我讀書,這讓我很害怕。我父母講說Ambar的工作非常糟糕;只有不努力和不讀書的人才會做。如果Ambar有像我爸媽這樣的父母,Ambar就不會陷入賣淫的世界,不會被允許的。

正在跟書本、筆、制服和學校同學糾纏的我,不再跟塗紅色口紅、帶著閃閃發光珠寶的美麗Ambar連繫了。一直到畢業,我很少聽到Ambar的事,除了聽到鄰居的八卦,說Ambar會給我們居住的少男少女帶來不好的影響。當然,在我心裡我還是認為Ambar是我那位天真的朋友。

因為我的父母沒有足夠的金錢讓我上大學,高中畢業後我跟著鄰居到徐圖利祖一間不是很大的包包工廠工作。我在縫紉和切割部門。在工作期間,有時候會有連繫Ambar的念頭。徐圖利祖離泗水非常近。但我那個願望從未實現過,因為工廠的工作佔用了我很多的時間和精力。我也需要省一點才可以剩一些錢寄回家,讓我的弟弟妹妹能繼續讀書。雖然我父母有決心讓我和弟弟妹妹上大學,但是我們家不富裕。我們家的三塊稻田已受到乾旱影響很久了。克盧德火山的山丘因為種甘蔗而變得光禿禿的。流到我爸田裡的溪水也越來越少。雨季時,因為光禿禿的山丘已無法吸收雨水,害我爸的稻田被淹沒。過去的農收足夠家裡過生活,現在如果收成失敗的話反而增加了負債。到處都很難過生活。

我在包包工廠工作滿一年時,我被解雇了。我被解雇是因為這個小工廠必須減少包包的生產量。進口的便宜包包讓國內的小工廠吃不消。他們必須裁減員工數量來減輕工廠的負擔。我在這陌生的城市遊蕩了一段時間。我選擇不回去,因為不想增加父母的負擔。我差一點就去找Ambar了,當我一位同樣被解雇的朋友邀我到香港當幫傭。我決定在岩望市的仲介公司登記時,我覺得我背叛了父母對我上大學的期望,他們只希望我成年時可以有更好的生活。但事與願違,在什麼都很困難的年代,即使讀得再高,也只會讓我變成幫傭。

在人力儲備中心度過五個月出發程序之後,我終於得到香港的工作合約和簽證。在香港,我在Richardson家工作,他們是來自蘇格蘭的移民家庭。我在學校所學的英語,讓我跟雇主家人的溝通變得順暢。我負責照顧一名可愛的五歲女孩。在這個非常寬容的家庭中,我有很多機會學習很新的東西。這份工作也讓我每一週都有放假的機會,我都用這天來閱讀、寫故事。閱讀和寫作是我從小就有的愛好。在香港有三個可以免費索取的印尼語刊物。「Hello Migran」是一間報紙媒體,偶爾一兩次會登出我的作品。我想,經歷過生命中幾個灰色地帶的我,成功地將寫作呈現在媒體上是一種幸福。

***

「哈囉,蒂,我是Ambar!我跟隨妳到香港了。哈哈哈哈」當我接聽響了好一段時間的手機時,Ambar清脆的聲音直接抓住了我。哇,這世界真的很小呀。香港,一個我認為是陌生、離我熟悉環境很遠很遠的地方,經過長時間的分離,我遇到了兒時的玩伴。

Ambar從我家鄉的妹妹得到我的手機號碼。我和Ambar在某一個星期天約好要見面。Ambar其實從來沒有喜歡過她在多莉的工作,所以在那個賣淫的地方被政府查封之後,決定隨著我來到這裡,特別是Ambar在國內沒有受過足夠的教育。當我遇見Ambar時,她才剛來這裡工作幾個月,她也坦承在學習廣東話上遇到很大的困難。我認為她想太多了,因為我即使已經在這裡工作很久了,我也一樣不會講廣東話。

如果到國外工作的成功率取決於命運,那Ambar在香港的運氣並不好。她在一個非常吝嗇的家庭工作。他們只把吃剩的食物給Ambar,有時還是過期食物。家庭成員也很多。Ambar要照顧兩名幼兒、一個癱瘓的阿婆、兩隻狗,打掃房子、買菜和煮飯,這些事情都交給Ambar做。Ambar幾乎沒有休息的時間。她每天要工作至少二十小時。聽了她的故事我也很同情。在我心裡覺得Ambar無法撐太久的。即使她沒說她準備放棄,那麼艱苦的情況,竟然還能讓她笑得出來。

Ambar的身體瘦弱沒精神。她的頭髮都在打結,夜服又舊又髒。在一個應該快樂休閒的星期天假期,她看起來很像在趕時間。在跟我聊天時,她的雇主多次打電話要她趕快回家。Ambar雇主都用很粗魯的語氣說話。在那些短短的會話當中,我甚至聽到她雇主威脅Ambar,如果沒照雇主的話做,就會將她遣返印尼。Ambar看起來很無助。

作為她的好友我無能為力。我和Ambar一樣,為了來到香港負了一大堆債。如果我們被解雇或辭職,就無法從每個月的工資扣款來償還債務,而這些債務將轉到家鄉家人的頭上。就是這樣的情形迫使我們,在無論多麼困難都得堅持下去。我自己下定決心好好的工作,償還債務,盡快存錢、盡快回去。對我來說,最好的地方是我關心的人所在之處。

忙碌的工作讓我和Ambar無法常常聯絡,我不敢打電話給她,因為怕給她帶來麻煩。我只是等她的消息。實際上我在等她聯絡,因為再過不久我的合約就要結束,而我也快回家了。

因為很久沒有她的消息了,所以當我無意間遇到她時,我感到很震驚。「哈哈哈,蒂,我的天呀,香港真的很小,是不是?」她說。Ambar看起來很開心。然後我們抱在一起。我甚至必須墊腳尖,因為她穿很高的高根鞋。Ambar的穿著非常性感,她還畫很濃的妝,以前蓬鬆的黑髮現在挑染成紫色、紅色和金色。Ambar穿著低胸的銀色短洋裝。她身上散發出清新的香氣、混合著一些煙味。陪她的是三位正在公園對面鬧著玩的鬍鬚男,離我和Ambar講話的地方只有幾公尺。Ambar從小就是一位一直充滿驚喜的人。

Ambar告訴我說,當仲介不理會她所有的投訴後,決定不告而別離開她的雇主家,什麼東西也沒帶。如今她跟來自巴基斯坦的難民男朋友,一起住在元朗區的小房子。他依靠政府分配過生活。Ambar也打算以返回家鄉生命會受到威脅的理由,申請難民庇護。

我這位好朋友說,在這棟小房子,電時有時無,自來水也會突然停止。Ambar常常在公園的公共廁所洗澡。那個房子的高度只有四乘三公尺、錫屋頂的鐵皮屋。跟其他的住戶貼在一起。夏天到時,Ambar的家變成了烤箱,冬天變成冰寒徹骨的地方。Ambar的男友上週才出獄,他先前因為非法在一家小餐館打工洗碗,被關了一個星期。

「Ambar,妳怎麼會選擇這條路呢?」作為她的好友,我覺得我有權過問。

「我有愛情,蒂。」她回我說。她充滿淚水的眼睛,看向正在維多利亞女王雕像下開玩笑的情人。「如果他的國家沒有戰爭,他應該可以當醫生。他被他爸爸送過來繼續實現他的理想。但實際上,連過生活都很難。我要和他繼續活下去,我和他還有愛。」她喃喃自語的說,好像試著說服自己。

「那Ambar,妳在這裡要怎麼過生活呢?」我這麼問是希望Ambar直接回家。我認為她所說的愛情,在這麼兇猛的香港不會有未來。

「我用我的方式生活,蒂。用我從小就學習的方式。」她斷然說道。

「什麼?怎麼樣?」我追問她。她含著淚的望著我說:「賣淫」。我愣住了,將視線轉向落在灰色的水泥地上的枯萎紫荊花瓣。

「Ambar,下個月我要回家了,我的工作合約已經完成,跟我一起回家吧。」我以為作為好友,邀她回家是一個最沒有用的邀請。她只是看著我。「妳有什麼要跟妳的祖母,蘇比奶奶說的話嗎?」我繼續問。我希望她可以想起奶奶,然後決定回家。她只是輕輕的搖頭,然後低著頭,看她那雙裹著耀眼銀色的鞋子。當她再次看著我時,清澈的淚水從美麗的眼睛流下來。

我真的無法理解那麼漂亮的Ambar,為什麼從小生活那麼坎坷?難道美麗不是禮物,而是一種詛咒或災難嗎?要怎麼樣才能讓她變比較好?難道這都是遺棄她的母親的過錯嗎?讓她隨著風長大?

在我們分開前,我抱她最後一次。那個瘦弱的身體因為哭泣而劇烈顫抖,Ambar宣洩所有的悲傷。我讓她發洩一段時間,直到她冷靜下來說:「蒂,請幫忙照顧我的奶奶。跟她講不要等我,我不會回去的。」她結結巴巴的說。

我放開抱她的手,我塞了兩張五百塊給她,這些錢本來要用來買紫荊花鑰匙圈當禮物帶回家。Ambar沒有拒絕這筆錢,我想是因為她餓了。

南投,2019年5月10日


📝 評語|Hanna Fransisca

兩種不同選擇的奮鬥。一個選擇捷徑當妓女,而另一個角色(主角)總是尋找正直、充滿挑戰的路。出於某種原因,他們在香港作為移工相遇了。這兩位角色的旅程緊密的結合(在劇情的前後之前)讓故事如此的感人又哀傷。作者在選擇句子和風格的表達能力使整個故事相當的迷人。從眾多事件裡面拉出紅線能力變成故事的結論,使故事能夠讓人產生同理心。

📝 評語|Raudal Tanjung Banua

好故事、真實和感人。聚焦於主角Ambar,一位不辛的鄉村女孩,因為母親的離開和不明的父親,跟祖母住在一起—因為母親在國外工作時壞孕了。Ambar最後變成泗水多莉住戶—講到這裡時,作者沒放太多的情緒,偏平淡。

多莉關閉之後,Ambar跟著流浪到香港,在那邊她再次跟「我」—童年玩伴,敘述者相逢。她的生命是一個超級悲劇,因為在香港(評審寫錯了)她變成無處可去的人;從雇住家逃跑、跟巴基斯坦的難民住在一起。語言流暢,詞彙清晰。情節很有條理,對的文法,環境描述得很仔細,多面向的建立角色的內心和周圍的環境。Ambar生命的悲劇與作為移工的「我」這個也不算輕鬆的移工角色相襯。故事的氣氛從一開始到關鍵時刻—很感人—結束。