SENPAI 前輩

【2016年得獎作品】優選|前輩 Senpai

PRABU AGNYANA / SENPAI / tidak ada / tenaga kerja asing

SENPAI
Karya: Prabu Agnyana

Arah pandangan mataku seperti harus tertuju ke pintu yang tertutup rapat itu. Pintu besar cokelat yang tak pernah kudengar bunyi decit atau suara lirih engselnya. Kosong. Mungkin kamar itu kosong tanpa penghuni. Kesimpulan akhir yang aku cekokkan ke nalar setelah hampir tujuh bulan mengamati. Apartemen sebelah kosong tanpa penghuni.
Saat senja temaram seiring luruh angin sepoi berhembus pelan. Saatnya menyiapkan hidangan malam untuk Senpai. Entah apa rasanya jika kita terpaksa harus melahap hanya bubur gandum dan susu. Senpai sudah tak bisa memakan makanan padat lagi sejak terakhir kali dirawat di ICU. Ada yang salah dengan pencernaannya, semua yang ada dalam rongga perutnya seakan berkudeta melawan apapun yang meringsek masuk kecuali cairan. Oh … Senpai yang malang.
Pernah dulu sekali ketika Senpai masih lancar berbicara, dengan terbata ia mengisahkan sejarah hidupnya. Aku pun terbata melahap isi ceritanya karena sebagai pekerja asing yang baru pertama ke Formosa bahasaku nol sama sekali. Berbeda dengan para wanita yang mendapat pelatihan bahasa selama di BLK, kaum lelaki dimanja dengan hanya berleha-leha. Ironis memang dan ketika sampai di sini aku laksana si bodoh di tengah ingar dunia yang pintar. Aku kebingungan dan menyesal.
Masih kuingat Senpai mengatakan bahwa ia mantan polisi rahasia. Masa mudanya yang begitu hebat menyisakan banyak sekali bintang jasa. Ada banyak album foto yang tertumpuk dan dia menyuruhku membukanya. Potret-potret kemesraan Senpaiku yang begitu tampan dengan jas hitamnya dengan seorang wanita anggun yang mungil sekali. Itu istrinya yang amat sangat dia sayangi yang telah pergi meninggalkannya untuk selamanya karena kanker rahim. Wanita cantik yang sungguh malang.
Sejak itu Senpai berubah pemurung, harapan hidup bersama sampai tutup usia hanya mimpi belaka. Istri tercintanya telah mendahului tanpa meninggalkan generasi penerus marganya. Senpai yang sebatang kara hidup kini hanya dalam kenangannya.
“Ali … kau tahu, kalau aku selalu ingin mati saja,” bisiknya lirih kala itu. Aku menangkap rona putus asa di mata cekungnya. Senpai yang gagah perkasa sudah kehilangan atma’.
“Hidupku sia-sia tanpanya,” lanjutnya dengan menitikkan sebulir bening yang hangat dari sudut matanya.
Aku trenyuh, lelaki di hadapanku ini mengajariku banyak hal yang tak pernah kupikirkan sebelumnya. Pelajaran hidup yang tak kudapatkan di bangku sekolah mana pun juga. Dia yang selalu membanggakan istrinya dengan segala kelebihannya, tak ada sesal sedikit pun hadir dalam benaknya mencintai wanita yang tak bisa memberinya keturunan. Kelebihan istrinya jauh lebih berharga daripada secuil kekurangan yang baginya tak seberapa. Istrinya mandul.
Menjelang pukul sepuluh malam setelah memberinya susu dan obatnya lelaki itu mulai memejamkan mata. Dia akan terlelap dalam malam-malam panjang tanpa rengekan dan rintihan. Beruntungnya aku dengan pasienku yang demikian walau kadang aku berontak kenapa aku mendapat pekerjaan yang demikian?
Mungkin hampir tengah malam ketika aku selesai mematikan lampu di dapur saat terdengar denting piano yang merdu. Tak ada piano di dalam apartemen ini. Televisi pun telah lama kumatikan. Lalu dari mana suara ini berasal? Tak lebih dari dua menit melodi indah dari tuts piano itu hilang. Samar aku seperti pernah tahu melodi itu tapi entah apa? Hanya samar sekali aku mengingatnya. Lalu malam berlalu dalam hening dan titik hujan di bulan Juni.
Rutinitasku terbilang menjemukan sebagai perawat lansia. Senpai sama sekali tidak merepotkan. Dia hanya terbaring lemah di atas pembaringannya memandang langit-langit sambil berkaca-kaca. Hampir setahun aku merawatnya dan belum ada sedikit pun perubahan kondisinya. Sebatang kara ia melawan sakitnya yang sudah sekitar lima tahun mendera. Jika dahulu ia tinggal di panti jompo sekarang ia memilih kembali ke rumahnya untuk menghabiskan akhir hidupnya. Untuk itulah aku dipanggil datang. Menjaga sang perkasa yang sudah merapuh dan tua.
Memandang sebentar kamar 311 sebelum aku membawa sampah ke lantai bawah. Seakan selalu ada magnet yang menarikku kuat untuk memandang pintu yang selalu tertutup itu. Entah kamar milik siapa? Tapi pintu besar itu menggelitik titik keingintahuanku. Seperti ada semacam perasaan yang mengaitkan kamarku dan kamar itu. Perasaan apa? Entah … tetapi seperti ada sesuatu.
Menjelang siang Senpai meminta duduk di balkon menatap gedung-gedung yang seakan berlomba menjadi yang terperkasa menantang angkasa. Ada yang ingin dia kenang. Duduk berdua bersama istrinya di balkon menikmati sepoi angin yang bermelodi.
“Ali … kau tahu Moonlight Sonata?” tanyanya lirih sambil pandangannya matanya menerawang jauh.
Sepertinya aku pernah mendengar itu. Nama makanankah? Atau nama suatu tempat?
“Tadi malam Asami pulang.”
Asami? Istri Senpai? Pikun lelaki ini telah akut. Asami sudah meninggal enam tahun yang lalu.
“Asami adalah keindahan pagi. Matanya bening seperti embun dan semu pipinya seperti semburat fajar.”
Kenangan kembali menguasainya. Cintanya pada Asami yang tak lekang waktu dan jaman. Senpai adalah lelaki yang luar biasa. Bercermin padanya seperti aku mempermalukan diri sendiri, aku merasa kecil dan kerdil di depan keagungan nan tulus. Dia begitu setia, begitu menjaga cinta. Sedang aku? Sang pengkhianat. Lelaki Taiwan ini begitu hebat dengan kedalaman cinta pada wanita Jepangnya. Tabik untuk Senpai.
Malam harinya Senpai sudah terlelap lebih awal, hampir sepanjang siang hingga petang dia menghabiskan waktunya di balkon. Ada yang istimewa di bulan Juni saat angin panas menerjang namun hujan selalu menguntit di belakang. Uniknya bulan Juni saat panas dan hujan berkompromi dalam satu ruang tanpa debat dan saling memahami.
Entah sadar atau setengah bermimpi denting tuts piano itu terdengar lagi. Nada-nada yang sama seperti kemarin malam. Persis. Ini adalah melodi indah yang mendamaikan. Tunggu dulu … darimana suara ini berasal? Di lantai 3 ini hanya ada dua kamar. Kamar Senpai dan kamar 311 yang kosong. Bunyi dari luarkah? Tidak mungkin. Apartemen di rancang begitu modern dan kaca-kaca besar yang tebal mampu meredam bunyi. Suara lalu lalang mesin mobil hanya terdengar begitu lirih dan tenggelam dalam kumparan hening. Suara piano itu ada di dalam gedung ini, di lantai ini. Tapi di mana?
Kembali malam terlewati dengan damai tanpa rinai hujan di bulan Juni. Hanya fajar yang menyingsing cantik dengan semburat matahari yang kemerahan menawan. Hari yang rasanya begitu mempesona menginjak bulan ke delapan aku berada di Taiwan.
Senpai demam. Sedikit panik kucoba menelepon agensi dan akan diteruskan ke dokter pribadinya. Demam pertama yang hinggap pada lelaki kurus itu. Menjelang siang kepanikan memuncak. Dokter yang ditelepon agensi tak juga datang. Sementara Senpai terus memanas badannya. Makanan cair dan obat dimuntahkan. Bahkan handuk dingin disingkirkan dengan kasar.
“Asami pulang …,” lirih sekali ucapnya dengan bibir bergetar.
Apa hubungannya dengan Asami pulang? Di mana Asami jika dia pulang? Senpai jelas meracau, mungkin karena demamnya yang tinggi.
Dokter datang tak lama setelah jam tua yang selalu berbunyi tiap pukul dua belas siang itu berdentang. Dengan sigap dia memeriksa pasiennya. Tak lama agensiku juga datang. Setelah memeriksa keadaan Senpai dokter mengutarakan kalimat panjang yang tak ku mengerti. Sesekali agensi hanya manggut-manggut tanpa menjawab.
Setelah dokter pamit pulang Miss Ana menyuruhku duduk di ruang tamu. Senpai terlelap tenang setelah suntikan obat masuk ke badannya.
“Ali … ada yang ingin aku bicarakan terkait dengan Senpai.” Nada bicara Miss Ana begitu serius dan dalam. Penerjemahku ini adalah orang yang praktis di mana ia akan selalu berbicara taktis. Kali ini dia berucap seakan diganduli sebuah beban.
“Ada alasan kenapa Senpai memilihmu. Dia melihat dirimu yang begitu serupa dengannya. Ada rona tulus dari pancar matamu. Dan kau juga lahir dan tanggal dan bulan yang sama dengannya.”
Mataku membelalak dengan mulut terngangga tak percaya. Benarkah? Kupandang sekilas foto Senpai yang tergantung di dinding berpigura. Potret seorang lelaki dalam balutan jas hitam yang berdiri dengan wanita mungil yang menggandeng erat lengannya. Baru kali ini kuperhatikan dengan seksama wajah Senpai sewaktu muda. Rambut cepak dengan muka oval dan pipi tirus, mata yang sipit seperti orang Cina kebanyakan dan alis tebal. Entah kenapa aku seperti melihat bayangan diriku sendiri di foto itu. Bukan Senpai yang seakan-akan berdiri di situ melainkan aku.
“Apa yang akan kau lakukan jika Senpai meninggal? Kau akan pindah majikan atau pulang?” Pertanyaan Miss Ana membuyarkan lamunanku. Belum terpikirkan apa yang akan kulakukan? Tapi sepertinya ada yang harus kulakukan di tanah aku berasal.
“Senpai tahu usianya tak lama lagi. Dia ingin meninggal di sini bersama Asami.”
Dan hari itu sang mantan polisi rahasia menghembuskan nafasnya yang terakhir dalam kedamaian. Entah hanya lamunan atau itu sebuah pertanda saat sayup terdengar denting merdu piano. Lagu yang sama yang belakangan kuketahui dari Miss Ana adalah Moonligt Sonata, lagu kesayangan mendiang Asami yang selalu dimainkannya untuk menunjukkan cinta kasihnya pada sang suami.
Rasa kehilanganku yang mendalam kala senja itu saat tahu Senpai telah terbujur kaku. Miss Ana pun tak kuasa menunjukkan kesedihannya. Mata beningnya sudah berlapis kaca air mata. Tangan kirinya mencengkeram erat pundakku sambil menyaksikan Senpai yang tersenyum di atas pembaringannya. Lelaki hebat yang mengajariku tentang arti cinta dan kehidupan. Lelaki yang memberiku sebuah tempat di sisinya untuk mengenalkan aku sebuah dunia damai yang penuh cinta.
Tak lama setelah itu kuputuskan pulang ke tanah kelahiranku, walaupun Miss Ana sudah bersiap memberiku majikan yang baru. Apa yang Senpai ajarkan padaku tentang menerima kelebihan dengan segenap cinta akan kupraktikkan kepada istri yang telah kusia-siakan karena kemandulannya. Apakah ini sebuah kebetulan belaka atau memang Tuhan berkehendak lain dengan cara-Nya yang luar biasa sehingga dari begitu banyak tenaga kerja laki-laki yang menunggu job aku yang telah dipilihnya.
Catatan kecil sebelum aku pulang saat Miss Ana membuka pintu kamar 311. Kamar yang memang kosong dan hanya dihuni sebuah piano tua yang diam dengan anggunnya di tengah-tengah ruangan. Kamar Asami bermain piano untuk suaminya tercinta.

Taiwan, 28 April 2016

Note:
Berleha-leha: bersantai
Atma: jiwa


Orang lebih mengenal saya sebagai Tari Sasha (cukup kenal saya begitu saja) saya berasal dari Semarang Jawa Tengah dan seorang caretaker yang menjaga akong. Ini kontrak kedua saya di Taiwan tapi dengan job yang berbeda. Dulu saya bekerja di sektor formal di sebuah pabrik baja di daerah Dacun Changhua.

Saya juga jurnalis untuk majalah TIMedia, perintis sekaligus pembina Komunitas Penulis Kreatif Taiwan dan perintis serta ketua Save BMI (ini adalah organisasi sosial yang di back up INDEX, Timedia serta FSC foreigners save and care  organization) untuk membantu donasi kepada BMI Taiwan yang sakit, kecelakaan ataupun meninggal).

Saya suka menulis dari kecil karena saya bukan pribadi yang pandai berbicara, prestasi di bidang menulis:
– juara 1 lomba novel index timedia 2015
– juara 2 lomba esai PPI Taiwan belajar dari Taiwan 2015
– serta salah satu dari 3 penulis novel Babu traveler yang ready di seluruh index Taiwan
– juga pemenang beberapa event di Indonesia (saya adalah petualang event demikian saya menyebutnya karena belajar mengasah kemampuan menulis dari event2 yang saya diikuti)

First they ignore you
Then they laugh at you, then they fight you, then you win
By Mahatma Gandhi.

Pertama orang mengabaikanmu lalu menertawaimu lalu berseteru denganmu kemudian kau adalah yang menang. Ketidaksukaan orang lain terhadap kita tanggapilah dengan diam, seperti Gandhi tidak bermulut besar untuk menang.

Senpai adalah tentang hidup seorang Pekerja migran bernama Ali yang merawat seorang mantan polisi yang dipanggil Senpai (akong adalah inspirasi cerpen ini karena beliau adalah mantan polisi yang sayang sekali dengan almarhumah istrinya). Sisi lain kehidupan BMI Taiwan dimana akong mengajarkan saya banyak sekali pelajaran moral tentang hidup selain mengajari saya berbicara dan menulis mandarin juga mengajari saya bahasa Jepang.

Lalu kenapa saya memakai nama penulis Prabu Agnyana bukan nama yang sudah dikenal orang yaitu Tari Sasha. Saya belajar dari JK Rowling penulis harry potters di mana dia pun bersembunyi di balik nama pria yaitu  Robert Galbrait untuk novel The Cuckoo Calling. Bukankah sebuah karya tulis itu dinilai dari keindahan karya tersebut bukan karena nama besar penulisnya? Benarkan?

Kalau ditanya perasaan saya pastilah saya senang sekali karena tahun lalu saya hanya masuk di finalis Indonesia dan tahun ini menjadi salah satu pemenang TLAM 2016. Ini membuktikan banyak hal salah satunya adalah tidak harus memakai nama besar untuk membuat sebuah karya tulis karena tulisan yang  lahir dari hati akan tetap indah maknanya walaupun dari seseorang yang tanpa nama.

Terima kasih TLAM karena telah memberi ruang untuk para pecinta literasi dari kalangan BMI di Taiwan unjuk diri dan berkembang dan belajar lebih banyak lagi.


【2016年得獎作品】優選|前輩 Senpai

作者:Prabu Agnyna / 印尼 / 移工

一直以來,我的視線總是盯著那扇緊閉的房門不放。那扇咖啡色的大門,過去從未聽過打開門的螺絲聲響。或許那間房是間空房也說不定,這是我觀察七個月多來用來安慰自己的結論。傍晚涼風輕輕吹著,前輩的晚餐時間也到了。自從最後一次進入ICU前輩再也無法吃其他食物。每天只麥片和牛奶填飽肚子,實在無法想像那是什麼感覺。前輩腸胃出了問題,所有進到肚子的食物除了液體類以外,幾乎都會反吐出來。唉~可憐的前輩

記得當初前輩還能順暢講話,他一再對我詳細描述他人生經歷。那時,我只能似懂非懂,專注聽,對首次來到福爾摩沙島的我來說,中文如同外星語言般難懂,我完全不會說。不同於其他外勞女士同仁,她們曾在BLK(職業培訓中心)受過語言訓練,男士同仁往往只知道享受,不勤於學習語言。回想當初,我處在他們世界以外的一個傻瓜。當時的我,感到非常困惑及後悔。還記得,前輩曾經說他是一名秘密警察,年輕時表現卓越,獲頒星星勳章。他讓我翻開好幾疊相簿。照片裡,英俊的前輩穿著黑色西裝,身邊站著一名嬌小而有氣質的女士,兩人感情非常親密。照片中的女士是前輩愛的妻子,她因罹患子宮癌先離開Senpai一步,可憐的前輩自從妻子去世後,前輩變得沈默少語,曾經想和妻子一起白頭偕老的願望,最終淪夢一場。他最愛的妻子離世沒有為他生兒育女。孤伶伶的前輩現在只能一個人活在回憶裡。

「阿立…你知道嗎?我一直很想死去算了」前輩難過的說。我從前輩眼神,看到絕望及無助感。過去勇敢、英俊的前輩現在如同淹沒在大海般消失了。
「沒有她,我只是白白活在這個世界上前輩邊說邊從眼角,流下一滴溫眼淚。我突然愣住,眼前的男子教我許多過去從未想過的事情,是在任何學校無法學到的人生經驗。前輩是如此以他妻子為傲,就算無法生兒育女,絲毫不因此減少他對妻子的愛。即使妻子無法生育,前輩也毫無任何怨言,只因妻子的種種優點遠勝其他。

近晚上十點鐘,吃了藥喝牛奶後,這位男子漸漸閉上眼睛睡著。他將在漫長夜晚無聲無息熟睡。我多幸運能夠照顧這麽配合的病人,但即使如此,時候,我還是會埋怨自己為何從事這份工作。半夜,我關廚房開關,突然聽見動聽的鋼琴聲。奇怪的是,公寓裡不僅沒有鋼琴,電視也老早關。聲音從哪裡來?不到兩分鐘,那悅耳鋼琴旋律戛然而止。我似乎聽過那旋律,但一時想不到是哪首下著六月雨的安靜夜晚,就這樣過了。

我是一名老人家看護,日常行程平板無奇。照顧前輩一點都不麻煩。他時常無力的躺在床上望著天空,淚眼汪汪。我照顧他將近一年,狀況未見一點好轉。過去,他獨自與病情搏鬥近五年時間,之前住過養老院,但現在他想回到自己家度過生,也因為這樣,我才會在這裡,照顧逐漸老去的英勇男子。這一天準備下樓丟垃圾時,我瞄了一下311似乎有股強烈的引力,拉著我望向那扇緊閉的門。不曉得那是誰的房間?那扇大門總讓我感到好奇。似乎我與那間房間彼此有連結。該怎麼形容這種感覺?我也不知道…但似乎冥冥之中有什麼串聯著我們。中午,前輩突然想要在陽台觀賞外面高樓大廈的風景。他想要回憶某些事。如過去與妻子兩人坐在陽台享受有韻律的涼風。

「阿立…你知道是什麼是Moonlight Sonata嗎?」前輩無力地問,他眼睛望著遠方。我好像有聽過。是一種食物?還是一個地方?
「昨晚亞紗美回來過」亞紗美前輩妻子?看來這男子痴呆又復發亞紗美在六年前去世,怎麼還會回來?
亞紗美就像早晨那樣美麗,她明亮的眼睛就像露珠,臉頰如初昇太陽般微紅。往事歷歷在目,前輩亞紗美的愛是如此永不過時、永不止息。在我眼中,前輩是一位厲害的男子。看著他我只是在侮辱自己,他的真心讓我覺得自己好渺小。他這麼專情又如此崇尚愛情,而我呢?我卻是一位感情的背叛者。這位台灣男子如此深愛他日本妻子讓我打從心底敬佩前輩

和平常相比,前輩今晚較早入睡,因為一路從中午坐到晚上,他不曾離開過陽台。這個六月是如此獨特,炎熱的天氣時常伴隨著雨,太陽和雨水出現同在一片天空,如此和睦共處。今夜,半夢半醒的我,又再次聽到那鋼琴旋律響起,與昨晚一模一樣。的確,這是一首讓人心平氣和,動人旋律。但是,等一下…這聲音究竟來自哪裡?三樓只有兩間房間,一間是前輩的房間,另一間則是311空房。是外面傳進來的聲音?不可能。這麼高級的公寓,窗戶設計厚實且可消音,就連汽車來往聲也只是能微微聽到的程度,因此我很確定,鋼琴聲在這棟房子、這一樓,可是哪裡呢?

又過了一個下著毛毛雨寧靜夜晚。隔天一早迎接美麗的黎明,朱紅的陽光。如此美好的一天,也是我在台灣工作,將近八個月的一天。這天,前輩突然發高燒,我不知所措連忙打給仲介公司,讓他們趕緊通知前輩私人醫生。這是前輩第一次發燒,接近中午他的體溫越來越高,不過醫生還沒來,眼看前輩的狀況越來越嚴重,吞下的食物和藥都吐出來,放在額頭的濕毛巾也被他狠狠甩開。

亞紗美回來了…」 他無力發抖的嘴唇說著。這跟亞紗美回來有什麼關係?亞紗美回到哪裡?前輩肯定因爲生病開始胡言亂語老時鐘發出十二點整的聲響,沒多久,醫生終於來了,趕緊檢查前輩狀況。不久仲介公司的人也來了。醫生檢查完,講了一連串好長、好長我聽不懂的中文。仲介公司的人點點頭表示瞭解。前輩打完針睡著了,醫生離開後安娜小姐請我到客廳。

「阿立…我想跟你談談有關前輩的事情。」安娜小姐看著我認真的說。這翻譯員平時是一位說話簡潔有力的人,但這一次,她似乎沈重得說不出話來。
當初前輩會選擇你當他看護是有原因的。從你身上,他似乎看到他自己。你的眼睛不只透露真心,你的生日前輩一樣。」我睜大著眼張大了嘴簡直不敢相信,安娜說的話會是真的嗎?我回頭看著掛在牆上的照片,照片裡穿著黑色西裝男子手裡牽著嬌小女子。這是我第一次仔細望著前輩年輕時的臉孔。平頭,有著圓形的臉孔及瘦削的臉頰,濃密眉毛和華人常有的小眼睛。不知怎麼地,我看那照片,就像看著自己的倒影般熟悉,好像站在照片裡的人不是前輩,而是我自己。

「如果前輩走了以後,你有什麼打算?你要換另一個新雇主或回去故鄉嗎?」安娜小姐的問題,打斷了我的思緒。我還沒想好下一步有什麼打算,但我有預感,我必須回祖國,完成我想做的事情。
前輩知道自己時間剩不多。他想在這個亞紗美共築許多美好回憶的地方離開。」當天,那位前秘密警察,安寧的斷了最後一口氣。不知是我的幻覺還是一種預示。突然間,我聽到動聽的鋼琴旋律。後來安娜小姐告訴我,原來這首旋律叫做Moonligt Sonata,是每當亞紗美想要表達她對丈夫的愛所彈奏的曲目

傍晚,當我得知前輩永遠離開人世時,我感到非常失落。安娜小姐也無法隱藏她的悲傷。她清澈的眼睛滿忍不住掉下的眼淚。她左手抓著我肩膀,望著躺在床上含笑而終的前輩。這位厲害的男子,教了我什麼是不求回報的愛和人生真正的意義,這位男子也給了我機會,讓我從他身上明白這個世界如此美好,充滿了愛。雖然安娜小姐已經為我找好新雇主,但我還是決定要回祖國,面對因無法生下孩子而被我拋棄的老婆,力行從前輩身上學會,一個人如何以愛包容所有的不足。這是一個巧合還是上帝美妙的安排呢?當初有那麼多的看護前輩卻偏偏選擇了我。

在我回去之前,安娜小姐打開311的房門。那間房的確是間空房,中間著一台老舊而優雅的鋼琴,那亞紗美為她親愛的丈夫,彈奏樂曲的所在。

台灣,2016428


大家知道的我,是Tari Sasha(就這樣認識我),來自中爪哇三寶瓏,照顧阿公的看護。這是我在台灣的第二個簽約,但工作內容並不一樣。我之前在彰化大村鄉的一個工廠工作。我是TIMedia的記者,Komunitas Penulis Kreatif Taiwan(台灣創意作家聯誼會)的先鋒以及監督者,還有協助捐款給生病、遭到不幸事件或是過世印尼外籍勞工的Save BMI(INDEX、TIMedia以及FSC Foreigners Save and Care Organization支持的社會組織)

我從小就熱愛寫作,因為我沒有很會說話的個性,寫作的成就:
2015年INDEX TIMedia小說寫作比賽
2015年PPI TAIWAN從台灣學習文章比賽
在全台INDEX可取得的Babu Traveler三個作者中的其中一個作者,還有數個印尼舉辦的節目(我稱自己為節目探險家,因為透過參加節目可以提升我的寫作能力)

「首先他們無視於你,而後是嘲笑你,接著是批鬥你,再來就是你的勝利之日。」聖雄甘地
別人對自己的歧視應該以冷靜來對待,就像用冷靜來獲勝的甘地。

「前輩」是一個描述名叫阿立的移工,照顧著一位被稱為前輩的退休警察(阿公是這個短文的靈感,因為阿公是個非常疼他已過世老婆的退休警察)。這是台灣印尼移工的另一面,因為阿公教了我很多人生中的點滴、教我寫中文、還有教我日文。這篇文章我使用Prabu Agnyana為筆名,而不是大家熟悉的Tari Sasha。我向哈利波特的作者,JK 羅琳,學習。在The Cuckoo Calling這本書她用Robert Galbrait這個男性名字來隱藏自己的身分。一個文章的美不是應該與作者的大名無關嗎?

說道感言我當然是很興奮,因為去年我只是移民工文學獎有進入決賽而已,而今年卻成了2016年移民工文學獎的其中一個得獎者。這證明了許多事,其中就是不需要用以有了名聲的名字來寫作,但一篇文章的美、質感是因為發自內心的熱情而誕生的,就算是一位匿名作家的作品。

謝謝移民工文學獎製造給移民工發揮自己的空間,也讓更多人可以成長、學習更多。


Comment  This story is the work most worthy categorized as a literary work of all texts. The author able to present the other point of view of the work of a migrant worker who works caring for the elderly, not just tell you about the joys and sorrows. The writing style is also pretty good. 這個故事是最值得歸類為所有文本的文學作品。這位作者照顧老人,能提出其他工作上深為移工的觀點,而非僅僅告訴你悲歡離合。寫作風格也還不錯。

 

 

6 thoughts on “SENPAI 前輩

發表迴響

你的電子郵件位址並不會被公開。 必要欄位標記為 *