NYANYIAN OMBAK 海浪之歌

【2016年得獎作品】首獎|海浪之歌NYANYIAN OMBAK

JUSTTO LASOO / NYANYIAN OMBAK / FORUM LINGKAR PENA TAIWAN / tenaga kerja asing
NYANYIAN OMBAK

Nan Lio, 29 Maret 2016
Aku menggulung tali kapal dengan kesal, tak kuhiraukan majikanku yang terus berbicara di sebelahku. Aku tahu, orang tua itu tengah merayuku, berbicara tentang ini dan itu.
Sebenarnya, tadi malam sudah ada pemberitahuan dari pihak Syahbandar, agar hari ini nelayan tidak pergi melaut. Cuaca sedang tidak bagus, bisa muncul ombak besar secara tiba-tiba.
Dari ratusan kapal dan ABK, hari ini hanya satu-dua kapal saja yang nekat melaut, termasuk Tuan Liu, majikanku. Semalam, pukul sebelas, beliau meneleponku, mengatakan bahwa hari ini kami harus tetap mencari ikan.
Aku sudah berusaha menolak, mengatakan bahwa pihak Syahbandar melarang kami untuk melaut. Namun, Tuan Liu adalah majikan yang keras kepala, beliau tetap dengan pendiriannya.

“Laut itu adalah sebuah misteri besar, tidak akan pernah ada seorang pun yang benar-benar tahu tentangnya.” Itu kira-kira yang Tuan Liu katakan tadi malam, ketika aku berusaha untuk menolak permintaannya melaut.
Selain karena peringatan dari Syahbandar, hatiku juga tengah gundah, Ramadhan, anak semata wayangku tengah demam. Sudah dua hari badannya panas, kata Retno, istriku, Ramadhan terus menanyakan aku.
Memandangi foto bocah lucu itu membuat aku semakin disiksa oleh rindu, ingin sekali rasanya aku mendekap dan memeluk anakku, membelai rambutnya hingga ia tertidur dan sembuh dari demamnya.
Terlebih lagi, ketika semalam sempat kubaca sebuah berita pembunuhan yang terjadi di kota Taipei. Seorang balita perempuan menjadi korban pembunuhan sadis. Wang, pria muda yang melakukan pembunuhan itu pasti hatinya terbuat dari besi! Seandainya aku bisa bertemu dengan pembunuh itu, pasti aku akan menampar wajahnya, tentu saja untuk mewakili gadis kecil itu.
Kejadian itu, membuatku semakin merasa bersalah karena meninggalkan anak dan istriku di rumah.

O ya, namaku Agus Mulyadi, Tuan Liu memanggilku Yadi, tentu saja dengan aksen yang agak cedal pada pengucapan ‘di’.
Aku berasal dari Dusun Lengkong, kelurahan Mertasinga, kecamatan Cilacap Utara, Kabupaten Cilacap. Aku datang ke Taiwan dua tahun yang lalu, dengan meninggalkan seorang istri dan anak yang masih berusia tiga tahun.
Di Lengkong, rumah kami sangat dekat dari laut. Pantai dan dinding rumahku hanya dipisahkan oleh jalan raya dan kebun kelapa saja.
Hampir setiap hari aku ke pantai Lengkong, di sana ada Tempat Pelelangan Ikan Lengkong yang selalu ramai saban harinya. Tempat Pelelangan Ikan Lengkong mulai buka tengah hari, hingga menjelang senja. Sebenarnya emak melarangku pergi kesana, tapi aku selalu berhasil pergi dengan diam-diam.
Saat musim kemarau, aku suka mencari kerang di bibir pantai, meninggalkan akar kayu besar tempatku duduk menunggu bapak. Malamnya, emak akan memasak kerang hasil buruanku untuk teman makan nasi.
Sebenarnya, tujuanku selalu datang ke tempat itu adalah untuk menunggu bapak pulang dari laut, dengan membawa jaring dan tong yang penuh dengan ikan-ikan besar. Tapi, hingga lebih dari 7 tahun menunggu, bapak tidak pernah kembali dengan perahunya. Bapak tidak pernah pulang lagi.
Aku tahu kejadian itu, tapi tak pernah mempercayainya. Kejadian di mana perahu bapak terbalik dihantam oleh ombak besar. Jenazah bapak tidak pernah kami temukan hingga sekarang. Berhari-hari, aku dan emak menangis dalam kesedihan. Bertahun-tahun aku dan emak tidak bisa menerima kenyataan itu.
Waktu itu, kami benar-benar kehilangan.
Tuan Liu sudah menghidupkan mesin. Sesegera mungkin aku membereskan semua peralatan kapal. Kupastikan semuanya sudah siap di atas kapal: jerigen minyak, jala, peralatan pancing, tali-temali, dan lain sebagainya.

“Yadi, cepatlah sedikit!” teriakan Tuan Liu memecah suara mesin kapal.
Tak sampai sepuluh detik setelah berteriak, kepala beliau muncul dari dalam ruang kemudi, memastikan kalau aku sudah menyiapkan semuanya.

“Sudah, Tuan.” Jawabku pendek. Begitu tuan kembali masuk ke ruang kemudi, aku segera melepaskan tali jangkar dan menggulungnya.
Kapal mulai bergerak perlahan, memunculkan buih-buih putih di lambung kapal sepanjang dua belas meter itu. Kapal milik Tuan Liu mempunyai kapasitas 10 Gross Ton, seharusnya diawaki oleh empat sampai enam orang, bukan dua orang seperti kami saat ini.
Semakin lama, kapal bergerak semakin cepat, membelah perairan Hsincu, meninggalkan dermaga Nan Lio. Tuan Liu, meskipun usianya sudah lebih dari lima puluh tahun tapi beliau masih tetap terampil mengemudikan kapal. Menurut tuan, dari umur delapan belas tahun, beliau sudah turun ke laut untuk mencari ikan.
Dalam hitungan menit, jejeran kapal dan Pasar ikan nampak semakin kecil. Dermaga Nan Lio, rumahku dua tahun terakhir ini terlihat seperti susunan lego berwarna-warni.
Ya, selama ini, semenjak kedatanganku yang pertama kali di Taiwan, aku memang selalu menetap di dermaga, di atas kapal ini. Ruang kemudi, akan menjadi kamar tidurku saat malam menjelang. Kecoa dan serangga lainnya menjadi sahabat karibku, meskipun sudah ratusan kali aku membersihkan seisi kapal, namun tetap saja serangga-serangga itu akan muncul kembali di dalam kapal, menyapaku saban malam.
Bagiku, dan juga Anak Buah Kapal asing lainnya, memang sudah lumrah jika harus berumah di dalam kapal bersama dengan serangga. Untuk tinggal di dalam kapal pun, kami masih harus membayar setiap bulannya. Beruntung, Tuan Liu membebaskanku dari uang bayaran tempat tinggal sebesar dua ribu dolar setiap bulannya. Bukan tanpa sebab jika tuan membebaskan aku dari biaya tempat tinggal.
Setahun yang lalu aku dan tuan sempat mengalami satu fase buruk. Perlakuan tuan yang semena-mena terhadapku, serta tabiatnya yang pemarah dan suka memukul, membuatku harus melaporkan beliau kepada yang berwenang.
Akhirnya, dengan negosiasi panjang dan melelahkan, tuan berjanji akan memperbaiki semuanya, asal aku masih mau bertahan di kapal ini. Tuan juga berjanji untuk membebaskan aku dari membayar uang tempat tinggal.
Namun, dibalik kebaikan yang kuterima saat itu, masih ada yang membuatku sedih, karena masih banyak sekali teman-temanku yang mendapat perlakuan tidak baik serta hak-hak yang tidak dicukupi. Jam kerja kami sebagai ABK memang tidak menentu, menyebabkan upah lembur kami menjadi rancu hitungannya, resiko kerja yang kami hadapi juga sangat besar, namun perlindungan yang kami dapatkan sangatlah minim.
Setelah kejadian itu, untuk pertama kalinya tuan mengajakku ke rumahnya. Hampir tiga puluh menit perjalanan dari dermaga menuju rumah beliau. Rumah dua tingkat itu, hanya tuan tempati berdua saja dengan istrinya. Aku sangat terkejut ketika tuan memperkenalkanku kepada istrinya. Nyonya Liu terbaring lemah di tempat tidur, tubuhnya kurus kering, tatapan matanya kosong.
Tak sampai satu jam aku di sana, tuan kembali mengantarkanku pulang ke dermaga. Dan, setelah hari itu, Tuan Liu benar-benar berubah. Beliau menjadi sering bercerita kepadaku tentang kehidupan rumah tangganya. Tentang kenakalan putra tunggalnya, penyebab istrinya mengalami stroke. Achien, putranya itu, saat ini berada di dalam penjara karena kasus narkoba.
Untuk putranya, tuan dan nyonya sudah banyak sekali berkorban. Mereka bekerja siang malam demi ingin melihat putranya mendapatkan kehidupan dan pendidikan terbaik. Namun, seperti pepatah; air susu dibalas air tuba, Achien memberikan kenyataan pahit kepada orangtuanya.
Nyonya Liu sangat terpukul atas kejadian itu, hingga membuatnya sakit berkepanjangan. Tapi, tuan adalah seorang suami yang begitu hebat, beliau dengan sepenuh hati merawat istrinya yang sakit.
Dari sana aku menjadi tahu kenapa tuan menjadi seorang yang pemarah.
Kulirik arlojiku, matahari sudah semakin tinggi, tak nampak lagi daratan. Angin berhembus seperti biasanya, tidak ada tanda-tanda angin besar seperti yang diperingatkan oleh Syahbandar semalam. Ah, aku menjadi merasa bersalah terhadap tuan karena menolak dengan kasar ajakan melautnya tadi malam.
Aku mulai menyiapkan peralatan yang akan kami gunakan untuk menangkap ikan, tuan kulihat tengah asyik menghisap rokoknya.

“Yadi, semua sudah siap?” teriak tuan.
“Sudah, Tuan!” balasku lebih keras.
“Makan dulu sarapanmu!” tuan melambaikan tangannya, menyuruhku untuk masuk ke ruang kemudi. Memang, sarapan yang beliau belikan tadi belum kumakan, karena saat berangkat hatiku kesal, jangankan sarapan, menjawab pertanyaannya saja aku enggan.
Bergegas aku masuk dan segera duduk di atas tong air minum. Cong Cua Ping yang sudah dingin, ditambah dengan segelas Naicha, akan cukup membuat cacing-cacing dalam perutku kenyang setidaknya hingga tiga jam kedepan.
“Yadi, setahun lagi kontrakmu akan berakhir, apakah kamu masih ingin kembali bekerja di Taiwan lagi?”
Aku menghentikan makanku, menoleh kearah tuan, yang juga tengah menatapku. Tuan, semakin hari badannya semakin kurus, tak ada sinar sama sekali di wajahnya. Ah, kasihan sekali beliau, harus menanggung beban yang teramat berat di masa tuanya.
“Tidak Tuan,” aku menggelengkan kepalaku pelan. “Saya harus menjaga anak dan istri, melindungi mereka. Tiga tahun, walaupun hasil yang saya dapat tidak seberapa, tapi saya kira sudah cukup untuk memulai usaha kecil-kecilan. Hidup bersama keluarga, pasti akan jauh lebih bahagia, Tuan.”
Anganku menerawang jauh ke kampung. Anak dan istri, serta emak, bayangan mereka menari-nari di benakku.

“Kalau kamu balik satu kali lagi, pasti modal yang kamu dapat akan jauh lebih banyak, Yadi.” Mata tuan sayu memandangiku. Aku jadi berpikir, kalau nanti aku pulang, apakah tuan masih punya teman untuk sekedar berbagi cerita, tentang istri juga anaknya.

“Anak dan istri saya rasanya jauh lebih membutuhkan kehadiran saya, Tuan.” Aku memalingkan wajah dari raut sedih itu. Jauh di utara, nampak kawanan camar yang berarak menuju barat.
Wajahku disapu oleh angin, angin yang tak selembut pagi tadi. Tempias air laut menerpa wajahku.

Tak kuhabiskan Cong You Ping yang masih setengah. Seleraku menguap, bersama angin yang mulai menimbulkan bunyi pada tambang yang menghubungkan lambung dan ruang kemudi kapal.

Pikiranku jauh melayang ke puluhan tahun silam, kala aku masih berumur belasan tahun. Masa itu, aku dan emak akan sangat gelisah jika bapak belum pulang ketika senja hampir datang, apalagi jika sedang musim hujan.
Bapak adalah seorang nelayan, seperti kebanyakan penduduk kampung kami. Kecuali cuaca buruk, bapak tidak pernah berhenti melaut. Selain sebagai nelayan, bapak mengolah sepetak tanah, yang oleh emak ditanami beberapa jenis sayuran secara bergantian. Jika musim sedang tidak bagus untuk mencari ikan, sayuran yang ditanam emak akan menjadi penyelamat dapur kami.
Bapak, adalah seorang yang sangat sabar dan penuh kasih sayang. Setiap kali hendak berangkat ke laut, beliau selalu mencium kening kami berdua, kemudian melangkah ke luar pintu dengan meninggalkan senyuman.
Beberapa kali bapak mengenalkanku kepada laut. Naik perahu kayu, hingga tiga atau empat kilometer dari bibir pantai. “Laut adalah sahabat manusia, jaga dan perlakuan laut seperti kamu menjaga dan memperlakukan orangtuamu.” Itu adalah pesan bapak ketika pertama kali beliau mengajakku turun ke laut.

Pesan itu, selalu kuingat hingga bertahun-tahun lamanya, sebelum kejadian yang merenggut lelaki terhebat itu dari kehidupan kami.
Kejadian hari itu, lepas tengah hari, beberapa nelayan pulang lebih awal, mengabarkan bahwa laut sedang tidak bersahabat. Bapak tidak termasuk dalam rombongan nelayan yang pulang awal itu, juga tidak pulang pada saat hari menjelang senja, bahkan hingga keesokan paginya-malamnya-dua hari-satu minggu-enam bulan-lima tahun-hingga saat ini.
Sejak hari itu aku membenci laut. Bagiku laut bukan sahabat manusia, seperti yang bapak sering katakan kepadaku. Laut itu kejam. Laut itu telah menelan bapakku!
Walaupun akhirnya, dua tahun lalu, aku harus belajar bersahabat kembali dengan laut. Memutuskan untuk pergi menjadi nelayan di Taiwan, memutuskan untuk menghadapi resiko besar demi kehidupan keluargaku.
“Yadi, sepertinya cuaca berubah.” Suara tuan tercekat. Angin besar tiba-tiba menderu dari arah timur. Perlahan, langit mejadi hitam. Suara guntur mengiringi turunnya gerimis yang semakin besar. Sudah beberapa kali aku dan tuan mengalami kejadian seperti ini, dihadang oleh cuaca yang tiba-tiba berubah menjadi tidak bersahabat.
“Iya, Tuan, sebaiknya kita bersiap-siap.” Tanpa menunggu reaksi tuan, aku segera menyiapkan segala sesuatu yang akan kami perlukan dalam keadaan darurat.
“Ini lain, Yadi, tidak seperti biasanya,” ucap tuan pendek. Matanya menerawang ke langit yang semakin pekat.
Aku tidak mengerti apa yang tuan maksud. Sudah beberapa kali kami mengalaminya, dan kami baik-baik saja.

Tiga puluh menit selanjutnya hujan semakin deras, disertai oleh angin kencang. Tubuhku sudah kuyup, ombak semakin tinggi, laju kapal tak tentu arah. Tuan, sekuat tenaga mengendalikan kapal, beliau benar: ini tidak seperti biasanya.
“Yadi, masuk sini!” tuan berteriak memanggilku untuk masuk ke ruang kemudi. Angin dan ombak semakin mengganas. Selanjutnya, kapal mulai diombang-ambingkan oleh gelombang, tuan tak lagi mampu mengendalikan.

Aku menoleh ke arah tuan, saat tangannya menyentuh pundakku. “Yadi, terima kasih selama ini telah membantuku, telah menjadi temanku, sudah menjadi anakku. Aku sangat senang dengan kehadiranmu. Aku juga minta maaf, jika selama ini aku selalu marah kepadamu. Terima kasih telah mengisi kekosongan hatiku, selama ini.” Kulihat mata tuan berair, tapi bukan air hujan, aku tidak mengerti apa yang beliau ucapkan.
“Apa maksud Tuan?” Air mata lelaki setengah abad itu semakin deras.
“Yadi, sejak anakku pergi, sejak kejadian itu, hidupku rasanya sudah hancur. Ditambah lagi dengan keadaan istriku, ingin rasanya aku meninggalkan semuanya. Terlalu sakit, terlalu berat untukku. Tapi kamu, tiba-tiba hadir. Kamu, yang berasal entah dari mana, ternyata mampu menjadi temanku, menjadi anakku. Terima kasih Yadi, untuk semuanya.”
Tiba-tiba lelaki itu mendekapku erat sekali. Aku hampir sesak napas.
Tuan terisak, mataku juga mulai hangat dan perih. Aku balas memeluk tuan dengan lebih erat.
“Terima kasih, Yadi,” bisik tuan hampir tak terdengar olehku, dan di saat bersamaan tak kudengar lagi bunyi mesin kapal.
“Tuan, mesin mati!” teriakku sambil melepaskan dekapannya. Tuan segera memeriksa panel-panel pengendali mesin, wajah tuan semakin pucat. Di luar, hujan dan ombak semakin menggila. Kapal terasa dilempar ke atas, lalu dengan tiba-tiba dijatuhkan. Perutku sudah mulas, kepala terasa begitu berat. Langit gelap.

Aku berusaha menggapai apa saja untuk kujadikan pegangan, ketika kapal kembali terlempar ke udara. Tapi, kali ini kurasa kapal terlempar terlalu tinggi, aku hanya mendengar teriakan tuan. Kapal jatuh ke air dengan posisi yang miring, kepala kapal menghujam terlebih dulu.
Badanku terasa dihempaskan dari atas langit, jatuh menimpa apa saja yang ada dibawahku. Sesaat kemudian, ombak menarik semua benda yang ada di dekatku. Ombak juga menghantam tubuhku dari segala penjuru. Aku timbul-tenggelam.
Tuhan berbaik hati kepada kami, Dia tidak memisahkan aku dan tuan. Dengan sisa kekuatan yang kupunya, aku berusaha terus memegangi tangannya.
Hujan dan angin sudah berhenti, namun ombak masih tinggi. Sebuah papan bekas badan kapal terlempar, menghantam kaki kananku. Perih sekali rasanya. Dalam kesakitan, kubantu tuan untuk naik ke atas papan tersebut, dengan susah payah.
“Yadi…” desisnya lirih, “Jangan pernah salahkan laut, laut itu sahabat manusia, sahabat kita.” Tiba-tiba wajah tuan, juga suaranya, menjelma menjadi bapak. Dan tiba-tiba juga, kakiku terasa sangat perih, air disekitarku berubah menjadi merah, namun hanya sebentar karena ombak segera menggulungnya.
“Yadi, bertahanlah, Nak…” Lelaki itu, bapakku, kembali bersuara, tapi aku sudah tak jelas lagi melihat wajahnya, mataku menjadi kabur.
Kemudian, semua gelap. Tak ada lagi yang bisa kurasakan, selain deru ombak yang berkidung.
Semakin lama, aku semakin tenggelam dalam nyanyian itu. Nyanyian yang syairnya adalah; suara bapak yang serak, yang mengalirkan cinta dan kekuatan.

“Nak, turunlah ke laut, lalu menyatulah dengan mereka. Ya, kamu akan semakin memaknai apa arti hidup, setelah kamu menyatu dengan ombak, asin dan birunya laut.
Jika suatu waktu, ada ombak besar datang menghantammu, yakinlah, itu hanya salam perkenalan dari mereka. Bangkitlah, jadilah sampan yang kuat meski hanya terbuat dari batang pohon.
Nak, tetaplah berteman dengan laut, jangan pernah menyisipkan dendam padanya, karena laut adalah sebagian dari hidup kita.
Bangkit, Nak, masih banyak yang harus kamu lakukan. Buktikan pada lautan, bahwa kamu adalah anak bapak, lelaki muda yang tangguh. Bangkit dan kembalilah ke laut…”
Suara bapak masih tetap sama seperti saat terakhir kali beliau pamit untuk melaut, hari itu.
Entah berapa lama aku dibuai oleh nyanyian ombak, hingga kemudian, sayup-sayup aku mendengar namaku dipanggil-panggil.
“Yadi…Yadi…”
Suara yang kudengar semakin lama semakin jelas.
Tiba-tiba aku merasakan kepalaku begitu berat, sekujur tubuhku juga terasa sakit sekali, sebelah kakiku terasa sangat nyeri.
“Yadi, Nak, bangunlah…” Suara itu semakin jelas kudengar. Dekat sekali jaraknya, hingga aku bisa merasakan hembusan anginnya. Telapak tanganku terasa hangat, namun sulit sekali untuk kugerakkan.

Dan! Ya, aku ingat; aku tenggelam dalam nyanyian ombak! Ombak tinggi itu menggulungku, menyeretku. Ombak itu menelanku!
Sehari sebelumnya, kuingat, langit dipenuhi oleh awan Cirus. Malamnya, Syahbandar memberi peringatan agar kami tidak turun ke laut. Paginya, langit memerah ketika surya terbit.
Aku juga ingat, tentang penolakanku terhadap perintah melaut dari tuan, namun tuan tetap bersikeras.
Dan benar, hampir 36 jam kemudian, penampakan awan Cirus itu berubah menjadi bencana bagi kami.
Mengenai awan dan fajar yang memerah, saat usiaku dua belas tahun, bapak memberitahuku panjang lebar, saat kutanya kenapa pagi itu beliau tidak berangkat ke laut, “Lihatlah, sisa merah di ufuk timur itu. Itu adalah pertanda, ombak akan tinggi, cuaca akan buruk. Jadi ingatlah, ketika fajar berwarna merah, jangan pernah pergi melaut. Juga, ketika hari ini awan membentuk pita panjang berjajar-jajar, atau, awan yang terlihat sangat cantik seperti sisik berkilau-kilau, esok harinya biarkan sampanmu tetap terikat di pantai.” Lalu, di kemudian hari aku mengenal kedua awan tersebut sebagai Awan Cirus dan Awan Altocumulus
Aku ingat benar ketika ombak tinggi melambungkan kapal kami, lalu kami berdua terperangkap dalam gelombang, hingga kemudian nyanyian ombak itu menyandera kesadaranku.

“Yadi…” Suara itu kembali terdengar olehku. Dekat sekali.
Dengan seluruh kekuatan yang kupunyai, aku berusaha untuk menggerakkan tanganku, kakiku, tubuhku. Namun gagal.
Tuhan, aku tahu Engkau selalu bersamaku, dan, aku juga tahu bahwa Engkau tidak pernah memberikan cobaan melebihi batas kemampuan umat.
Allahu Akbar!
Berulang-ulang, dalam hati, kuagungkan kebesaran Allah. Sampai kemudian, ada satu titik di wajahku yang terasa hangat dan basah, entah apa itu. Bola mataku, berputar.
Kemudian, suara yang tadi terdengar pelan, berganti menjadi teriakan-teriakan. Meneriakkan namaku. Semakin banyak titik di wajahku yang terasa hangat dan basah. Aku juga bisa merasakan guncangan di sekujur tubuhku. Bahuku, kakiku, semua terasa diguncang-guncang.

“Yadi, Nak, akhirnya kamu bangun. Buka matamu, Nak, lihatlah semua orang menunggumu. Teman-temanmu, laut, keluargamu. Sudah hampir sebulan kamu tertidur, Nak!”
Suara itu, tuan! Iya, itu adalah suara tuan.
“Nak, besok anak dan istrimu akan datang untuk menjagamu, kami sudah mengurus semuanya. Bangun, Nak, esok, saat anak dan istrimu datang, sambut mereka dengan senyumanmu, tunjukkan kepada mereka kalau kamu adalah seorang ayah dan suami yang hebat, tunjukkan pada mereka bahwa kamu adalah bagian dari laut, dari ombak!”

Anak? Istri? Demi mendengar kedua kata itu, tiba-tiba saja kelopak mataku sedikit terbuka. Seraut wajah kuyu yang penuh air mata, adalah yang pertama tertangkap oleh retinaku, wajah tuan!
Sedetik kemudian, entah dari mana asalnya, puluhan pasang mata mengepungku. Ayat-ayat penghantar rasa syukur bagi kebesaran-Nya bersahutan. Seluruh ruangan berdengung, bercampur dengan tangis yang tumpah ruah.
Lalu, tiba-tiba seluruh ruangan kembali senyap, saat wajah kuyu dan basah itu melekat erat di wajahku. Aku masih bisa membaui keringatnya, tuan. Lelaki yang rambutnya hampir rata putih itu, membuat seluruh wajahku basah. Badanku masih kaku, tanganku rasanya seperti kesemutan, kepalaku masih berat untuk kugerakkan, kaki kiriku terasa kram, dan kaki kananku tak terasa apapun.

“Terima kasih, Nak.”
Tuan berbisik di telingaku. Aku tak mau lagi menutup mata, akan kubiarkan terbuka hingga esok, anak dan istriku datang menemuiku.
Tuan kembali berbisik, “Jangan pernah benci laut, Nak.”
Air mataku menggenang.
==Tamat==


Nama saya Loso Abdi, saya berasal dari lereng barat Gunung Lawu, tepatnya Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Saya sudah bekerja di Taiwan selama 5 tahun. Banyak sekali yang saya dapatkan selama di Taiwan.
Saya mulai suka membaca buku ketika sekolah SD. Saat itu, hampir setiap hari saya meminjam buku di perpustakaan sekolah. Hingga saya kelas 4 SD, tak ada lagi buku yang bisa saya pinjam, karena sudah saya baca semua.
Ibu saya tak mampu untuk membelikan buku, karena itu saya selalu pergi bermain ke tempat teman, untuk meminjam buku.
Beruntung, di Taiwan saya bisa menemukan komunitas yang membuat hobi membaca dan menulis saya tersalurkan.

Semoga, kawan-kawan pekerja di Taiwan bisa memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Di Taiwan bukan hanya materi yang bisa kita dapatkan, melainkan segudang ilmu yang pastinya akan sangat berguna bagi kita nanti. Selain itu, tulislah seluruh kisah perjalanan kalian, hingga nanti anak-anak kita akan tahu, betapa panjang dan berat perjuangan kita.

Perasaan saya memenangi TLAM 2016? Tidak menyangka! Kaget, terharu. Pokoknya tidak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata. Reaksi saya pertama kali ketika diberitahu bahwa saya menang adalah seluruh bulu kuduk saya berdiri, dan kulit saya menjadi mati rasa! Terima kasih untuk semua pihak, yang terus memberi saya dukungan.


【2016年得獎作品】首獎|海浪之歌NYANYIAN OMBAK

作者:JUSTTO LASOO / 印尼 / 移工

南寮,2016329

憤而捲起船繩,不想理旁邊說個不停的雇主。我知道,這老頭只是想要跟我討價還價,說了許多與正事無關的事,只為了讓我出航。其實昨晚從Syahbandar得到通知,今天所有漁夫不得下海捕魚,因天氣狀況不佳,海浪隨時都會變大。平時海上有幾百艘船,今天只有一兩艘船敢在海上航行,這其中包含劉先生,我的雇主。昨晚十一點鐘他打來,吩咐今天我們依舊需下海捕魚。我已經堅決告訴Syahbandar禁止我們出海原因。但劉先生是個固執的雇主,還是堅持要我們出海。

「海很神秘,無人可預測。」昨晚我用盡全力拒絕時,劉先生就用這句話回應

除了為Syahbandar的警告煩心外,其實我心裡鬱悶得很。Ramadhan,我唯一的兒子正在發高燒,已經兩天了還沒退燒。我老婆Retno說 Ramadhan不停叫我的名字。看著照片裡可愛的孩子,讓我的思念加倍,這感覺真是非常折騰人,我想把他緊抱在懷裡,摸著他頭陪他入睡,直到病情好轉為止。更令我難過的是,加上昨天在報紙上看到台北謀殺案件報導。一位女童莫名被男子殘忍殺死。王姓男子,他的心一定是鐵做成的!如果有機會與那位兇手碰面,我會用盡全力賞他巴掌,當然是為那女童而賞的巴掌。但也因這件事,讓更加感到內疚,因為我無法陪伴老婆和兒子,保護他們。

對了,我叫Agus Mulyadi,劉先生通常叫我Yadi,當然以獨特的口音尤其是他在發“di”的時候。我來自Lengkong鄉,Mertasinga村,Cilacap Utara區,Cilacap地區。兩年前來到台灣,使我必須與老婆和三歲的孩子分開。Lengkong,我們家靠海。海邊離我家只隔了一條馬路和幾顆椰子樹。我幾乎每天都會去海邊,那裡,每天都有人山人海的魚拍超市。超市中午營業到下午才打烊。其實母親一直不准我過去那裡,但我還是會偷偷摸摸趁她沒發現溜過去。時,我喜歡在海岸找貝殼,走過我每次等待父親的大樹根,到了晚上便會把我抓到的貝殼煮熟當晚餐配飯吃。其實我去那裡真正目的,是等待父親回來扛著滿滿又大又多的魚。但直到今天,將近七年時間,父親與他的船從未回來過。父親再也回不來了。我知道事情的真相,只是不敢面對。父親的船遭大浪沖倒。屍體直到如今沒有下落。我和母親日以繼夜難受地哭泣。好幾年時間,我和母親都無法接受這事實。當時我們受到劇烈的打擊和強烈的失落感。

劉先生已經開啟機器。我立整理所有該具備的船用工具,確認所有東西都準備妥當,如傑里油、魚網、捕魚設備、繩子等。

Yadi,快一點!」劉先生大聲喊道。不到十秒鐘,他把頭從操舵室裡伸出來,確認我已經把全工具都帶齊了。
「都準備好了,劉先生。」我回答。先生走回到操舵室後,我立刻把繩子捲起。船漸漸啟動,隨著船航行,白色泡在十二米長的船腹湧現。可負荷超過十噸多荷重的船,應該四到六人操作作業,而不是像現在只有我們兩個人。船速越來越快,往新竹離開南寮碼頭。劉先生雖年紀已五十幾但開船技術還是一流,他十八歲年紀輕輕就已經開船出海去捕魚。不到幾分鐘後,碼頭邊整排船和魚超市從我們視線越來越小。南寮碼頭,我這兩年來的家,從船上看起來像五顏六色的樂高整齊得擺著。

沒錯,這些日子,從我初來台灣到現在,我一直待在碼頭,不曾離開這艘船。操舵室,是我晚上睡覺的地方。蟑螂和小蟲都已經成為我的好朋友,就算把整艘船打掃好幾百次,那些蟲還是會出現,還是會每晚和我打招呼。對我和其他船員來說,在船上與一群昆蟲居是件習以為常的事。更糟的是住在這船上,我們每個月還需要付住宿費。但我是例外,我不用繳這筆每月兩千塊的住宿費用,當然不是沒原因。

一年前,我和劉先生發生不愉快的事。劉先生為所欲為對待我,他魯莽的壞脾氣加上動手打人行為讓我不得不去報警。經過漫長的談判,劉先生答應,只要我願意繼續留在這艘船上,他會改進所有過失並且不收我住宿費。但是,即使接受他的好意,還是讓我感到悲傷,因為還有很多同仁遭遇不好的對待,身為船員,我們工作時間沒有確切標準,導致加班費的計算非常模糊,我們須面臨的風險大於就業保障。經過這番意外後,劉先生第一次請我到他家去。從碼頭走到他家約三十分鐘路程。那兩層樓的屋子,住了他和妻子。當他給我介紹妻子給我認識時,我感到十分驚訝。劉女士虛弱得躺在床上,身體瘦弱,眼神茫然不到一小時,劉先生便載我回到碼頭。

這件事發生後,劉先生的態度徹底改變。他變得常常與我分享他的家庭生活。他頑皮及固執的獨生子,是妻子中風的原因。Achien,他的兒子,因犯下毒品案件現在人在監獄裡。為了兒子,劉先生和妻子犧牲了不少。他們日夜勞累掙錢,只為了希望讓孩子可以過好生活、受好教育。但是如俗話所說,Achien的確是個忘恩負義的孩子,成為父母不想面對殘酷現實。劉女士無法隱瞞對兒子的絕望,因此使她長期臥病在床,不見好轉。但劉先生是一位盡責的丈夫,他全心全意照顧生病的妻子。從此,我終於了解劉先生性情為何如此暴躁。

了瞄手上的手錶,太陽越來越高,陸地也越發模糊。風如往常般吹著,沒有任何大風大浪如Syahbandar昨晚所警告的現象。唉~我突然深感疚,因為昨晚強烈拒絕劉先生出海捕魚的要求。我開始準備捕魚工具,我看劉先生正抽著煙神遊。

Yadi,全都準備好了嗎?」劉先生突然喊道。
「都好了,先生!」我大聲回應
「你先把早餐吃完吧!」劉先生擺了擺手,叫我進去操舵室。的確,他買給我的早餐還沒開動,因為出發時我在煩惱一件事,不用說吃早餐了,好好回答他的問題我都懶。我趕緊進去坐在水桶上,吃著冷掉的蔥抓餅加上一杯奶茶,這些食物至少讓肚子撐三小時。

Yadi,再一年你的合約就到期了,你想留在台灣繼續工作嗎?」我停止手邊動作,轉頭看著凝視我的劉先生。劉先生身體日益消瘦,面孔憔悴不堪,真是可憐的先生,晚年也必須承擔這麼重的負擔。
「我不會留在台灣,先生。」我搖搖頭回答。「我得照顧我妻子和兒子,保護他們。就算這三年我的錢不多,但我想,做個小小生意應該沒問題,可以跟家人在一起才是最重要也是最幸福的一件事,先生。」我思緒如回到家鄉,妻子、兒子及母親的身影一直浮現在我腦海裡。

Yadi,如果你再次回台灣的話,我相信你一定會賺更多錢。」先生溫暖的眼神凝視著我。我在想,如果我離開台灣回到家鄉,劉先生是否還會有聊心事或聽他分享關於家人瑣事的夥伴呢?
「妻子和兒子更需要我,先生。」我轉身,試著不去看那張悲傷的面孔。北方某個遠處,出現一群飛向西邊的海鷗。風拂過我的臉龐,漸漸地不如早晨微風那樣溫柔,海水飛濺潑到我的臉上。我沒把剩下的蔥油餅吃完。我的食慾,隨著風飄走了思緒飛到幾十年前,當時我還是十幾歲的少年

那時,我和母親每日將近傍晚時分,若父親遲遲未回來,我們倆都會緊張坐立不安,尤其雨季時期。父親是一位漁夫,如多數鄉民職業。除非天氣惡劣,不然下海捕魚的工作,父親從未缺席。除了當漁夫之外父親也種田,母親種了好幾樣菜。如果天氣不允許出海,母親種的菜會補救我們的三餐。父親是一位很有耐心及充滿愛的人。每次要出去捕魚之前,他一定會親吻我和母親的額頭,帶著微笑離開門。好幾次,父親總是不厭其煩地告訴,我關於海的一切如何搭著一艘木船航行約三到四公里後順利離開海岸。

「大海是人類的朋友,照顧和對待它,要如同對待自己的父母。」那是父親第一次帶我下海的忠告。那句忠告,我終生不曾忘懷、念念不忘,直到那天,大海把這位男子從我們身邊搶走。當天,大約下午時間,好幾位漁夫很早就回來了,因為有消息指出海上波浪會越來越大。父親不在那群提早回來的漁夫群中,但也沒有在當天傍晚回來,甚至隔天早上-晚上-兩天-一週-六個月-五年-一直到今天,一次都沒回來過。

從此,我開始厭恨大海,對我來說,大海不是人類的朋友,根本不像當時父親曾經對我說的話那樣。大海冷酷無情,吞沒、帶走了我的父親!雖然心中懷恨兩年前我還是得學會放下和大海和解。下定決心來到台灣當一位漁夫,決定面臨種種風險,掙點錢好讓家人擁有更好的生活。

Yadi,天氣好像開始起變化了。」劉先生哽咽說道。大風突然從東邊吹來,天色漸漸變黑,隨著雷聲響起,毛毛雨越下越大。我和劉先生已經好幾次遇到這種情況,遭遇天氣突然惡劣的情形。
「是的,劉先生,我們該準備。」在劉先生還沒來得及回答前,我立刻準備所有緊急設備。
「這不一樣,Yadi,這不尋常。」劉先生說,他抬頭望著越來越陰沉的天空。我不了解劉先生的意思,過去我們遇過好幾次這種狀況,到現在我們也活得好好的,有什麼不一樣?三十分鐘後,雨越下越大,風越來越強。我全身濕透了,海浪越來越高,我們的船失控了。劉先生盡一切力量控制船方向,先生說的沒錯,這跟往常一點都不一樣

Yadi,快進來!」 劉先生大聲吶喊,要我趕緊進操舵室。風和海浪越來越大。接著,船也因大浪而不停晃動,劉先生完全無法控制局勢了。我凝視著劉先生,因他把手放在我肩膀說道 「Yadi,謝謝你這段期間的幫忙,成為我的夥伴也成為我的兒子,我很高興有你的陪伴,我要向你道歉,這期間時常對你發脾氣,謝謝你在這段時間願意聽我發的牢騷。」 我看劉先生的眼角滴出水,但不是雨水,我不太懂劉先生所說的話。

「先生說的是什麼意思?」眼見那中年男子的淚水越越多。
Yadi,自從我兒子離開之後,自從發生那件事後,我的人生就毀了。再加上我妻子的情況,我好想結束掉這一切,太疼痛,太困難了。但你突然出現在我人生,不知道從哪裡來,卻可以成為我的朋友,我的兒子。謝謝你,Yadi,謝謝你為我做的一切。」這位男子突然緊抱住我,我幾乎無法呼吸。劉先生啜泣,我眼睛也忍不住跟著溫熱和刺痛,我將他抱得更緊

「謝謝,Yadi。」劉先生以幾乎聽不到的音量小聲說著此刻我也聽不見船機器聲。
「先生,趕快停掉機器!」我喊邊鬆開擁抱。劉先生立檢查控制機器的面板,他的臉色變得更加蒼白。外頭的雨勢和海浪越來越可怕,船像被扔到上面去,再被拋下來劇烈晃動我肚子開始痛,頭也好感覺好重,天空烏雲密布

當船再次被扔上空中時,我努力抓著所有可握住的地方。可是,這一次船被拋得太高,除了劉先生的喊叫聲外,我什麼也聽不見這回,船頭以傾斜的降落。我似乎像從天上掉下來,掉落及壓下所有東西。沒多久,海浪拉扯所有我附近的東西。大浪從四方潑濕我一身。我浮上-下沉。上帝算對我們很好,沒有將我和劉先生分開,我用盡僅剩力量,努力握緊他的手。風雨停歇,但海浪還是來得又急又猛某片船板砸到我右腳我感到非常刺痛,忍痛同時,我扶著劉先生上到那板子上,千辛萬苦終於爬上去。

Yadi…」他說,「千萬不要怪大海,大海是人類的朋友,我們的朋友。」忽然之間,劉先生的聲音、臉孔突然變成父親。我的腳十分疼痛,傷口染紅了周邊海水,可隨著海浪湧上血水瞬間消失
Yadi,忍著吧,孩子…」 那男子,宛如我父親的化身,再次對我說,但我漸漸看不到他的臉龐,我眼睛越看越不清楚。不久,我視線一片全黑,什麼也感覺不到,唯有海浪之聲在耳邊迴盪我越聽越沈迷在那動聽的歌聲那是父親沙啞聲音,以充滿愛和力量的嗓音歌唱

「兒子,往大海去吧,融入其中。當你與海浪融入之後,海水的鹹、大海的藍,將教你更加了解生命的意義。如果有一天,大浪濺潑在你身上,你要相信,那是它們在對你打招呼。站起來吧,成為一堅固的木舟,儘管是木柴做成卻格外堅強。兒子,與大海保持友誼吧,別對他有任何怨恨,因為大海是我們生命的一部分。站起來吧,兒子,還有很多事情等著你去完成。你要證明給大海看,你是我的兒子,一個堅強不服輸的年輕男子。站起來,回到大海吧…。」父親溫柔的嗓音一點都沒變,就像當時最後一次告別出海那天般溫柔。

不曉得耽溺在動聽海浪聲多久,在昏昏迷迷中我聽到有人一直叫我的名字。YadiYadi…」他的聲音越來越清我的頭真的很痛,全身也酸痛,右腳更是疼痛。
Yadi,我兒子,醒來吧…。」那聲音越聽越清楚,距離非常近,讓我可以感覺得到他的呼吸聲,我的掌心感到一陣溫暖,但身體還是難以移動。

啊!我記得了,我耽溺在海浪的歌聲!那大浪吞沒了我!我記得前一天的天空上出現卷雲。到了晚上,Syahbandar警告我們不能出海,太陽升起時天際泛紅。我也記得,我強烈拒絕劉先生要我們出海的要求,但劉先生還是堅持。果真三十六個小時之後,卷雲成為災難的預兆在我十二歲的時候,有一次我問父親為什麼不出海捕魚,父親耐心地我解釋「你看,東邊的天空泛紅,那代表天氣不佳,海浪也會變大。所以你要記住,每當黎明天際泛時,千萬不能出海捕魚。另外,當雲是長帶狀或者閃閃發光的鱗片狀,那還是乖乖把船停著,不要出海比較安全。」往後日子,我終於知道,那兩種雲狀被稱為卷雲和高積雲。我記得相當清楚,大浪晃動我們的船隻,我們倆被困在浪裡,直到那首海浪之聲音帶走我意識。

Yadi…」那聲音再次出現,距離非常靠近用上所有力量,努力移動我的手、腳、和身體,但沒有用。神啊,我知道您與我同在,我也知道您不曾給予超出我們所能荷負的難題。真主至大!我心裡重複默念真主阿拉的偉大,突然我感覺到臉上一股濕潤,不確定那是什麼,我的眼球不斷轉動。後來,那聲音越來越小,取而代之的是大聲的吶喊。用力喊著我的名字。我的臉越來越溫熱和濕潤,我也感覺到身體被晃動,我的肩膀、腳、全身被搖動。

Yadi,孩子,你終於醒來了。張開眼睛吧,所有人都等著你。你的夥伴、大海,還有你家人。你已經睡了將近一個月,孩子!」那聲音是劉先生!沒錯,那是劉先生的聲音。
「孩子,明天你妻子和兒子回來看你,我們已經準備好了。醒來吧,孩子,你帶著笑容迎接他們的到來,你要證明給他們看,你是一個堅強又厲害的老公和父親,也證明給他們你是你是大海、海浪的一部分!」兒子?妻子?聽到這兩個詞,我眼皮漸漸張開。一張憔悴不堪及溢滿眼淚的臉映入眼簾,那是劉先生!我定了定神,一秒鐘後,不知從哪何而來,幾十雙眼睛對著我看,他們歌頌真主阿拉偉大的經文,室內充滿讚美阿拉聲音,同時參雜感動的啜泣聲。當那張憔悴和滿頭大汗的臉孔貼在我臉上時,室內突然安靜起來,距離近到我能聞到他汗味。他是劉先生,一位平頭白髮男子,是他的淚水讓我全臉濕透。我身體還是很僵硬,手發麻頭也暈得不得了,我的左腳抽筋,而我右腳失去感覺。

「謝謝你,孩子。」劉先生在我耳邊說話,我不想再閉著眼睛,我將它睜到最大,準備睜眼到明天,等待妻子和兒子看我的日子。劉先生再次說道:「不要厭恨大海,孩子。」

這一次,我忍不住掉下眼淚。

=結束=


我叫王磊,來自拉武火山的西坡,也就是中爪哇的Karanganyar縣。我在台灣工作了5年。在台灣的日子裡,我得到了很多的收穫。從小學開始我就很喜歡閱讀。當時,我幾乎每天到學校的圖書館借書。國小四年級時,已經沒有書可以借了,因為圖書館的書被我看完了。我媽買不起書,所以為了借書,我經常到朋友家玩。幸運的是,在台灣我遇到一個可以讓我好好發揮讀寫的社團。

希望來台灣工作的夥伴可以好好利用時間。在台灣不僅可以得到資源,還能得到一堆在未來可以幫助我們的知識。除止之外,請把你們所有的旅程寫下來,讓你未來的小孩知道,我們漫長的奮鬥有多煎熬。贏得2016 年第三屆移民工文學獎的感想嗎?非常意外!震撼,感動。簡直是無法用文字來言語。當我被告知得獎時,我的第一反應是整個身體起了雞皮疙瘩,我的皮膚好像失去了觸覺!感謝各位一直支持我的人。


母語評審評語

Comment 1  Bahasa bagus, rasa bahasa indah,, penglataran terasa, konflik maksimal dengan ending yang sangat mengharu biru.Inspiratif sekali. Tema ABK masih langka ditulis orang, terutama di kalangan TKI Taiwan. Saya beri nilai sempurna!  語言表達的很好,非常美妙,場景描述的很貼切,衝突的尖端以感人橋段做結尾,非常具有啟發性。船員相關主題鮮少出現在寫作上面,尤其在台工作的印尼移工,我給滿分!

Comment 2  The theme of story is good. Although there are some disadvantages of storytelling techniques.  故事主題很好,雖然講故事的技巧上有一些缺點。

Comment 3  Cerita yang menarik. Bahasa Indonesia yang baik. Tema yang menarik. 很有趣的故事,很好的印尼語。有趣的主題。

Comment 4  Selain menjadi pekerja rumah tangga dan perawat, orang Indonesia juga banyak yang menjadi nelayan dan anak buah kapal di Taiwan. Ini adalah salah satu certa tentang nelayan yang menarik perhatian, karena bercerita tak hanya soal-soal keadaan diri dan latar belakang keluarga, tapi juga bercerita tentang hubungan yang tercipta antara pekerja dan majikan. Sebuah hubungan yang terbangun oleh waktu dan naluri hati yang baik antara keduanya. Kisah ini ditulis dengan tata bahasa yang apik dan rapi, sehingga membuat orang rela membacannya berulang-ulang.  除了當家庭幫傭和看護,印尼人也有很多在台灣船上當漁工和船員。這是其中一則有趣的漁民的故事,因為故事中不只單單描述漁工現況及他的背後故事,但也談到了僱員與雇主所建立的關係。一個由時間和雙方良知所建立的關係。故事的語法整潔、明瞭,讓人願意一讀再讀。

13 thoughts on “NYANYIAN OMBAK 海浪之歌

  1. Good job kakak,,selamat dan semoga bisa menjadi inspirasi kita untuk menjadi pekerja yg mempunyai prestasi.

  2. Bikin nangis, semoga pesannya tersampaikan kepada semua pihak, ABK, Majikan, dan terutama yang berwenang melindungi tenaga kerja asing, terutama ABK dalam kisah ini Ammin.

    (y) (y)

  3. Selalu ada pengetahuan yang bisa saya petik dari tulisanmu, Om. Dan sepertinya coba menerapkan tips n trik dari teh Erin banget, ya

發表迴響

你的電子郵件位址並不會被公開。 必要欄位標記為 *