Setangkai tak rasa

Susiyanti / Setangkai tak rasa / tidak ada / tenaga kerja asing
Setangkai Tak Rasa
(Boneka-boneka Hidup)
Mereka telah berubah; mereka sudah tak membutuhkanku …”

Mama menjatuhkan tongkat, lalu perlahan-lahan melangkahkan kakinya ke sofa. Dia melihat dua anaknya beserta menantunya sedang asik menonton televisi.
Mark melihat Mama dan mendengus.
“Sudah ku katakan, lebih baik kita harus mencari orang untuk menjaga Mama.” Ujar Peter.
“Itu betul.”
“Lagi pula dengan begitu lebih mudah dan tidak merepotkan kita.”
“Tentu saja.”

Mama menatap anaknya sangat lama, perhatian yang lambat laun berubah menjadi ketidak pedulian.

Kenapa? Kenapa tak kalian saja yang menjaga Mama?
“Kita semua sibuk, tidak mungkin harus menjaga Mama selama 24 jam.”
Tapi Mama masih bisa melakukan rutinitas sendiri. Kalian tak perlu khawatir Mama tidak akan merepotkan kalian.
“Tidak mungkin.”
Jadi, apa gunanya menjadi anak jika kalian tak mau menjaga Mama?
“Tidak seperti itu.”
Lalu apalagi?
“Mungkin seperti ini, aku memilih orang lain untuk menjaga Mama bukan berarti kami dengan sengaja mengasingkan Mama.”
“Lagipula dengan adanya orang yang bisa menjaga Mama 24 jam, kami tidak akan dihantui rasa khawatir” Ujar Peter.
Begitu ya?
Mata Mama mulai berkaca-kaca.

Untuk beberapa saat ruangan terasa senyap sekali, hanya terdengar celotehan acara sajian televisi yang begitu monoton.

Apa kalian tidak bisa memikirkan lebih panjang lagi?
“Tidak Ma, besok kami akan mengurus orang yang akan menjaga Mama nanti.”
Tapi, Mama tidak mau!
“Sudahlah Ma, turuti saja mau kami.”
Tapi, hmmm ….
Kemudian Mama tidak bisa berkata-kata lagi, bibirnya seakan terasa berat untuk berucap. Dunia seakan sedang mengutuknya, perasaan terabaikan, ketidakpedulian tertampak sudah diraut wajah anak-anaknya. Mama mulai mencoba untuk menepiskan dukanya, mendengar hal itu seperti tamparan keras mengenai wajahnya.

Mama tak tahu apa yang kalian pikirkan, tapi itu tidak akan membuat keadaan menjadi lebih baik.
“Mama harus mencoba pendapat kami.”
Mama tidak bisa, Nak.
“Mama itu cerewet!” geram Peter.
“Tak ada yang sebaik dari pendapat kami.” Mark berkata, dan memandang Mama.
“Kedengarannya mengerikan.”

Dua puluh menit kemudian, Mama menghirup napas dalam-dalam. Ia mulai menyadari bagaimana tangan-tangan alam yang telah membentuk alur kehidupannya, bagaimana dia akan bisa menikmati setiap jengkal waktu menghiasi harinya?, betapa sangat tampak suram masa depannya.

“Mama, ini terakhir kalinya kami datang kesini. Besok kami pindah.”
Kenapa pindah?
“Ada urusan.”
Dimana?
“Amerika.”
Untuk apa?
“Bekerja disana.”
Peter berpikir kembali selama beberapa detik dan segera saja teringat akan janjinya.
“Aku harus pergi, Ma. Soalnya banyak hal yang perlu diurus.”
Kenapa kalian mengorbankan masa tua Mama hanya untuk pekerjaan kalian?
Mark memandang Mama, ia merasa tertuduh dan disudutkan. Emosi semakin menguasainya.
Dulu Mama meninggalkan karier hanya ingin mengurus kalian, dan sekarang nyatanya kalian lebih mencintai pekerjaan kalian. Beberapa orang terlahir sebagai Ibu yang baik, seperti lebah yang hendak menghisap setangkai sari bunga tanpa rasa.

Peter dan Mark menertawai hal itu,
**
Karena itu, pintu sempit telah membawa Mama tepat keruangan penuh boneka-boneka yang dipapah, disuapin, dimandikan dan masing-masing diterangi cahaya usang dari sudut bola matanya. Dan begitu juga setelah itu, Mama berteman dengan imajinasinya. Tak ada solusi, dan bagian lain dari dirinya telah merayap pergi sampai menemukan lubang untuk menunggu mereka yang telah mengasingkannya.
Mama mulai membuka jendela dan menatap sekeliling rimbunan pohon yang mendayu-dayu dengan tatapan kosong seketika bergumam;
“Aku sudah berada dijalan yang mereka inginkan, dirumah ini, tentang boneka-boneka hidup yang terus mengangguk-angguk.”
…..

One thought on “Setangkai tak rasa

發表迴響

你的電子郵件位址並不會被公開。 必要欄位標記為 *