擔心將淚水用完的咖啡 TENTANG KOPI YANG TAKUT KEHABISAN AIR MATA

 2016 Babak penyisihan 印尼文初選  

📜 擔心將淚水用完的咖啡 TENTANG KOPI YANG TAKUT KEHABISAN AIR MATA

👤 Keyzia Chan

 

Hari ke-28

Gadis itu berdiri membelakangi kaca besar yang menempel pada dinding kamar mandi. Cukup lama ia mengamati punggung yang dipenuhi luka memar—biru menghitam tersebut. Ada luka baru, luka mulai sembuh, juga ada luka lama yang masih meninggalkan bekas. Gadis itu melingkarkan tangannya, bermaksud meraba punggungnya, tetapi gerakannya terhenti ketika rasa sakit menyerang tangan kanannya. Ia meringis-ringis menahan nyeri. Ketika dirasai ada yang mengintip di sudut mata, cepat-cepat gadis itu menengadahkan kepala, “Jangan menangis. Semua baik-baik saja,” lirih ia berkata.

Menyadari bahwa ini bukan kamar mandi pribadinya, dan seperti yang sudah-sudah, sewaktu ia mandi sering terjadi hal tak terduga—gadis itu gegas membasuh diri. Tangan kirinya memutar kran, pada saat bersamaan, pintu kamar mandi digedor. Gadis berkulit kuning itu terkesiap. Jantungnya terasa merosot ke lutut, dan lututnya gemetaran kini.

Pintu terus digedor. Wajah gadis itu semakin pucat. Bibirnya tampak bergerak-gerak–serampangan merapalkan doa-doa yang telah dihapalnya semenjak TK. Entah doa apa yang dirapalkan waktu itu. Bisa jadi, dari bibir tipisnya mengalir doa sebelum makan. Siapa tahu, dalam keadaan panik, bukankah manusia sering melakukan kesalahan?

*

Tanpa sepatah kata, ibu meninggalkan obrolan. Punggung ibu menghilang di balik pintu kamarnya. Gadis itu mengalihkan pandangannya ke bapak. Seolah-olah meminta penjelasan atas sikap ibu. Bapak menghela napas kasar. Menyandarkan punggung, mengangkat kedua tangannya, menaruhnya di belakang kepala. Matanya menatap langit-langit. Siapa pun yang melihat bahasa tubuh laki-laki paruh baya, berkulit cokelat gelap tersebut, bisa menyimpulkan betapa keruh pikirannya.

Hidup memang tidak selalu berjalan linier. Berbuat baik bukan seperti perkara jual beli, yakni kita akan mendapatkan sesuatu atas sejumlah uang yang telah dikeluarkan. Adalah perihal sertifikat rumah yang dipinjam adik kandung bapak, demi mengajukan pinjaman ke bank—dalam rangka mengembangkan usaha pribadinya. Tanpa prasangka buruk terhadap saudaranya, dilepas juga sertifikat itu, nihil perjanjian tertulis.

Mula-mula, angsuran pokok beserta bunganya, berjalan lancar. Menginjak bulan ke tujuh, delapan, dan seterusnya, angsuran bank tidak dibayar. Berkali-kali penagih datang ke rumah bapak.

“Jadi kapan Ibu akan membayarnya!” Hardik depkolektor berkaos ketat hitam, yang otot lengannya besar-besar. Sementara itu, temannya, yang bertampang lebih seram, memamerkan senjata api—mengusap-usapnya. Seolah-olah benda itu bisa mendatangkan jin setelah diusap tiga kali.

Laki-laki bertampang seram itu dengan kedua tangannya, mengacungkan senjata apinya. Sengaja menakuti. Kepalanya sedikit miring, dan mata kirinya menyipit. Meskipun ia tidak duduk berhadapan dengan ibu, dan senjata itu juga tidak diacungkan ke arah ibu, tetap saja wanita yang wajahnya mulai dipenuhi kerutan tersebut, luar biasa takut sampai terkencing-kencing.

Begitu bedebahnya sang paman yang melarikan diri setelah berjanji akan membereskan tanggungannya.

“Kita berpacu dengan waktu, Pak. Saya tidak berani membayangkan penagih hutang itu datang setiap saat,” kejar gadis itu.

Bapak mendesah. Mengusap wajahnya sebelum akhirnya mencoba memberi penjelasan pada putri sulungnya. Berikutnya, rangkaian kata yang mengalir dari mulut bapak, menjelma berupa potongan adegan-adegan seperti dalam film. Gambaran tentang penyiksaan yang diterima beberapa pahlawan devisa, tentang gaji yang tidak diberikan, tidak memiliki kebebasan beribadah, tidak mendapat libur, sikap tak peduli agensi terhadap nasib pekerja, lengkap.

“Jujur saja, saya jeri mendengarnya, Pak, tetapi lebih jeri lagi jika saya hanya menjadi penonton di saat seperti ini.” Penolakan orangtuanya atas permintaan izinnya ke luar negeri, dipatahkan oleh niat yang sungguh.

*
Hari ke-114

Tak ada es krim, baju baru, apa lagi gadget paling mutakhir. Ia tetap setia dengan tujuannya datang ke Formosa. Baginya, tak ada yang perlu dirayakan saat ini meskipun hasil jerih payahnya sudah berada di tangan, dan sejumlah teman yang ia kenal dari rutinitasnya membuang sampah itu, keranjingan memamerkan barang mahal yang dibeli, putri sulung Suwandi itu tak tergiur. Lagi pula, percuma jika iri pada teman-temannya. Mereka juga orang susah. Jika hidupnya sudah mapan, tidak mungkin rela menjadi buruh migran—notabene orang suruhan yang kadang tidak berhak atas dirinya sendiri, kopi membatin.

Sampah sudah dibuang. Melangkah pulang. Tiba-tiba ia teringat kembali percakapannya dengan staf kantor agensi, “Jangan sekali-kali berani mengarang cerita palsu!” Jawaban tidak menyenangkan itu masuk ke telinganya ketika Kopi mengadukan perilaku brutal pasiennya.

“Niat kerja nggak sih! Dikit-dikit ngadu. Kami butuh bukti. Kalau memang benar ada kekerasan, tolong direkam.” Gagang telpon dibanting, nada tuttt…, mengikuti.

Pernyataan itu, semakin menggerus batinnya. Ia butuh HP yang meskipun bukan jenis HP pintar, yang penting disertai fitur kamera. Di sisi lain, ia bersikeras tidak akan memakai uangnya, kecuali untuk melunasi hutang sebesar tujuh puluh enam juta, seratus empat puluh ribu rupiah, dalam jangka waktu kurang dari dua tahun. Atau kedua orangtuanya terpaksa keluar dari rumahnya sendiri.

“Piii…, tumben buru-buru balik.” Mbak Lusi berlari kecil mengejar gadis bernama lengkap Khofifah Suwandi. “Uh, matamu…. Hemmm, habis nangis, ‘kan?” lanjut Mbak Lusi menyelidik.

Kopi mengibaskan tangannya di udara. “Menangis! Buat apa?” Kopi memutar-mutar bola matanya berusaha mengalihkan perhatian. “Jika menangis bisa menyelesaikan masalah—mendatangkan banyak uang, aku akan melakukannya. Menangis sampai air mataku habis.”

Mbak Lusi tersenyum gemas sambil memencet hidung lancip gadis itu.

“Tapi, Mbak….”

“Ya. Tapi apa?” Mbak Lusi bertanya sambil menyodorkan kantong plastik berisi sambal terasi.

“Kalau air mataku habis, bagaimana jika darah yang keluar dari sudut mataku? Terus dan terus. Aku takut darah itu menenggelamkanku. Menenggelamkan kota ini, menenggelamkan….”

“Sudah jangan ngawur!” Mbak lusi meraih tangan gadis itu. Menggenggamnya erat. Kopi mengaduh tertahan. Di bawah pendar lampu jalan, terlihat jelas, tangan kananannya membengkak. Ada bekas gigitan tertinggal di sana. Secepat kilat Kopi menarik tangannya.

“Eng…, aku masuk dulu, Mbak. Terima kasih sambelnya ya.” Kopi gegas berlari menuju apartemen. Wanita berkulit putih, dan sedikit kelebihan lemak pada beberapa bagian tubuhnya itu, masih mematung di sana kendati punggung Kopi sudah menghilang di balik pintu.

Kopi terengah-engah setelah berlari menaiki anak tangga menuju lantai empat. Keringatnya meleleh, dan beberapa helai anak rambut menempel di keningnya. Kopi sengaja menghindar, dan tidak mau mendengar kembali usulan kacau temannya—kabur dari majikan.

*

Seperti kebiasaan orang yang baru pertama menapakkan kaki di tempat asing, mata bulatnya, menyapu penjuru ruangan yang tidak begitu luas. Ruang tamu sekaligus tempat menonton TV layar datar ditempelkan di dinding, meja makan juga berada di ruang yang sama, tanpa sekat. Tidak ada benda-benda antik, atau pajangan lain di ruangan itu, sehingga tidak perlu mengeluarkan tenaga ekstra demi membersihkannya. Ia bersorak dalam hati.

Pukul 8 pagi, dan ia bersiap menemani ape olah raga. Kadang-kadang, Kopi mendapati keakraban pekerja dengan pasien yang dirawatnya. Pernah juga ia melihat seorang nenek menyuapkan makanan ke perawatnya. Atau perawat yang berjalan menggamit tangan pasiennya dengan hati-hati. Kopi berinisiatif melakukan hal serupa. Diraihnya tangan ape. Begitu jemari kecilnya menggenggam lembut, tiba-tiba laki-laki tua itu meremasnya sekuat tenaga. Seketika itu juga Kopi menarik tangannya, lalu mengibas-ngibaskan, meniup, mengibaskan. Tulangnya tidak sampai patah, tetapi sumpah, ia kesakitan.

Pohon-pohon berjajar di tepi jalan, daunnya rimbun memayungi. Sesekali dedaunan itu saling bergesek berisik, ditiup angin. Mendadak, mata bulatnya berbinar. Tanpa sadar, Kopi berseru-seru seperti anak kecil kegirangan, ”WAAAH! Lihat, Ape, ada TUPAI!” Tangannya menunjuk-nunjuk.

Sementara itu, tiga ekor tupai tersebut tetap sibuk memungut biji-bijian di tepi jalan, dan tidak peduli ada yang mendekati. Betapa hal itu menunjukkan bahwa selama ini keberadaan tupai-tupai tersebut, tidak pernah terusik.

Ah, kontras sekali dengan Indonesianya. Ia bahkan tidak pernah melihat tupai. Padahal Kopi tinggal di desa. Apa lagi, akhir-akhir ini, banyak manusia mengalami kemunduran dalam berperilaku. Menangkap monyet, musang, kadang-kadang juga kucing, anjing disembelih, dimakan. Hal itu mengingatkannya akan zaman prasejarah. Masa berburu dan mengumpulkan makanan yang terjadi pada zaman Paleolhitikum atau zaman batu tua. Bedanya, pada masa itu manusia purba mengandalkan alam, dan menangkap binatang demi mempertahankan kehidupan. Lalu bagaimana memaknai tingkah laku manusia modern, berburu hewan-hewan yang dagingnya tidak laik untuk dimakan, bukankah itu menegaskan bahwa sebagian manusia memang mengalami kemunduran berperilaku. Dan tragisnya mereka seolah bangga dengan perbuatannya. Mengunggah foto-foto ke sosial media. Oh, ya ampun.

Aktivitas jalan-jalan setiap pagi dan sore, amat membosankan. Bagaimana tidak, ape hampir tak pernah bicara. Lagi pula jika berbicara, suaranya persis robot, atau alien-alien di film. Beberapa tahun lalu, ape menjalani operasi akibat kanker larynx atau kanker pita suara. Hal ini imbas dari kebiasaannya merokok. Nyonya bilang, dalam sehari, ape bisa menghabiskan empat bungkus rokok. Dan hal itu diimbangi dengan kegemarannya mengonsumsi alkohol. Hasilnya, satu lubang cukup lebar menganga—menghiasi leher laki-laki 76 tahun itu. Dari lubang tersebut, ape bernapas. Kadang-kadang, jika berdahak, dahaknya tertinggal di bibir lubang.

Matahari mulai tidak ramah ketika mereka pulang dari olah raga. Melihat gedung apartemen sudah di depan mata, Kopi senang, tentu saja. Sayangnya, tidak begitu dengan ape. Berkali-kali menepis tangan gadis itu, saat ia mencoba menghentikan langkahnya.

“Ape… a…!” Kopi menarik tangan ape sedikit kencang, sebab apartemen sudah tertinggal cukup jauh. Reaksi ape di luar dugaan. Ia mengayunkan tongkatnya, lalu bertubi-tubi memukuli gadis itu. Seperti anak anjing, Kopi kaing-kaing minta tolong. Ape kian membabi buta. Sakit? Jangan ditanya. Lebih sakit lagi, ketika beberapa pasang mata yang mendapati kejadian itu, mematung. Menikmati pertunjukan.

“Jangan lakukan itu!” Suara nyonya, entah dari mana asalnya, Kopi tidak berani mengangkat wajah, dan masih membungkuk dengan posisi tangan melindungi kepala.

“Kamu tidak apa-apa?” nyonya bertanya khawatir.

“Seperti yang Nyonya lihat.” Pemilik mata bulat itu mengerjap lemah.

“Maaf ya.” Ucap tulus majikan perempuan—kemudian ia membawa ape pulang. Kopi mengekor mereka dengan lesu. Kunci pintu dibuka oleh nyonya. Takut-takut, Kopi memapah ape. Mendudukkannya di kursi ruang tamu. Wajah gadis itu tampak basah. Cucuran keringat, dan air mata…, ah air mata yang mati-matian ia tahan supaya tidak jatuh itu, hari ini berontak dan meluncur di atas pipi tirusnya.

Ruang tamu hening, hanya terdengar deru baling-baling kipas angin berputar. Kopi berjongkok di depan ape. Seperti biasa, ia dengan cekatan membantu ape membuka sepatu. Sebelah kiri sudah terlepas. Kopi menaruh sepatu itu, pandangannya turut jatuh ke sana. Sementara, mata ape berkilat-kilat menatapnya tak suka. Entah apa yang mendorongnya berbuat seperti itu. Dengan masih terbungkus sepatu, kaki kanannya menendang Kopi. Sialnya, hari ini ape mengenakan sepatu kulit, alasnya lebih keras dari sepatu olah raga yang dipakai biasanya.

Kopi terjengkang hebat. Beruntung kepalanya tidak membentur dinding yang dibelakanginya. Ia memiringkan tubuhnya ke kiri—amat pelan, dan meringkuk, lalu tidak bergerak lagi. Nyonya memekik dan gelas berisi air putih, terjun bebas dari tangannya.

*

Hari ke-180

Tidak dipungkiri, Kopi menyimpan rasa sebal pada laki-laki tua. Hatinya sakit mendapat perlakukan buruk, lebih-lebih badannya. Ia tidak betah di rumah ini, tetapi bagaimanapun juga gadis itu butuh duit. Setiap orangtuanya menanyakan kabar, terbata-bata Kopi menjawab, semua baik-baik saja. Dan kembali berbohong dengan berkata, ia amat betah di sana. Entahlah, dosa atas kebohongan semacam ini, bagaimana malaikat mencatatnya.

Dan sebanding lurus dengan rasa sebal yang terselip di hati perawatnya, peringai ape kian tak terkendali. Pukulan demi pukulan, teriakan, suara benda jatuh atau sengaja dibanting, tidak asing lagi di apartemen itu. Dan Kopi akan bertahan, kecuali jika ia sanggup melihat orangtuanya angkat kaki dari rumahnya sendiri.

Siang memberentang. Aroma musim panas ditandai dengan merdunya nyanyian serangga penghuni pohon-pohon besar yang berada di sekitar apartemen. Suara nyaring, dan cukup panjang itu berasal dari tonggeret, atau kinjeng, atau garengpung. Serangga seukuran 11 kali lebih besar dari pada lalat itu, hanya bertahan hidup selama 3 sampai 6 hari. Yang jantan mati setelah perkawinan—betina menyusul kemudian setelah bertelur. Sungguh waktu yang amat singkat jika dibanding dengan pertapaannya selama 17 tahun menjadi larva dalam tanah.

Seluruh penghuni rumah istirahat, dan Kopi duduk di lantai dapur, sibuk membolak-balik majalah bekas. Pada rubrik kesehatan, terdapat artikel yang mengulas tentang alzheimer. Kopi tenggelam dalam tulisan itu. Ia mengangkat wajah begitu selesai membaca. Kopi mengetuk-ngetuk permukaan majalah dengan telunjuk. Alisnya saling bertaut. Terpikirkan olehnya, tentang ciri-ciri, gejala awal, dan seluruh tindak tanduk ape, persis yang tertulis di majalah tersebut.

Mula-mula, ape tidak ingat telah meninggalkan barang bawaannya di suatu tempat, pergi ke luar rumah diam-diam sewaktu nyonya sedang mandi. Ape pergi tanpa tujuan dan lupa arah jalan pulang. Asal kalian tahu, ini kisah nyata, jadi tentang lupa jalan pulang itu bukan kata-kata yang dicomot dari lirik lagu. Kembali pada cerita, pelan tetapi pasti, memori otak suaminya hilang, ungkap nyonya waktu itu.

Dan artikel tersebut juga menyinggung tentang kebiasaan buruk perokok dan pecandu alkohol yang memiliki potensi besar menderita pikun dini. Kopi mendekap majalah kusut tersebut. Beruntung, artikel itu juga membeberkan bagaimana cara memperlakukan penderita alzheimer.

“Ape… a…, aku punya es krim untukmu.” Tersenyum. Kopi semangat sekali pagi itu. Ape yang masih berbaring, mengerjap-ngerjap. Ekspresi tak biasa.

“Es krim?” Ape balik bertanya dengan suara robot. Kopi mengangguk meyakinkan.
“Tapi Ape harus mencuci muka lebih dulu. Oh, jangan lupa menggosok gigi. Bukan hanya es krim o…, aku juga punya sebungkus kuaci untuk Ape.”

Ape amat tertarik dengan tawaran itu. Disibaknya selimut yang membungkus badannya yang besar, lalu mengenakan sendal, dan ia melangkah ringan mengekor perawatnya menuju kamar mandi.

Puluhan pagi sebelumnya, biasanya Kopi butuh waktu lebih dari satu jam hanya untuk menyuruh ape melakukan hal itu, beranjak dari tempat tidur, ke kamar mandi, lalu sarapan. Ya, satu jam lebih. Dan cukup menguras emosinya, memang—sampai-sampai setengah gelas susu dan selembar roti tawar yang masuk ke perut beberapa saat lalu, menguap dengan buru-buru. Ape susah dikendalikan.

Kopi terus mencari tahu tentang hal apa saja yang disukai ape. Makanan kegemaran, benda, kebiasaan-kebiasaan yang dilakukankannya sebelum ingatannya dibabat habis oleh alzheimer. Apa saja akan dilakukan gadis itu. Supaya ia nyaman bekerja dengan majikan sama sampai akhir kontrak. Menghadapi kekerasan dengan kelembutan. Lebih-lebih, ia berjanji pada dirinya, harus pandai menjaga emosi, setelah tahu bahwa hal itu mempengaruhi psikis pasien. Kini, Kopi benar-benar memahami bahwa ape tak lebih dari seonggok benda atau patung, atau mayat hidup dengan sisa-sisa kejayaan menjadi manusia.

Laiknya musim yang tidak serta-merta berubah, ape juga demikian. Masih suka memukul orang dengan sembarangan. Hanya saja frekuensinya sedikit menjarang. Rasa takut dan was-was dalam hati gadis itu perlahan berkurang. Keakraban di antara keduanya terjalin. Sosok ape mengingatkan Kopi pada almarhum kakeknya. Wajah bulat, pembawaannya manis. Badannya tinggi besar. Dan tidak pelit. Bedanya, tentu saja kulit ape jauh lebih terang.

“Ape… a…! Istirahat dulu, duduk di sini.” Memukul-mukul tempat kosong di sebalahnya. Dan laki laki tua itu menuruti. Rasa sebal yang terselip di hati, kemarin, luntur bersama senyum dan tabiat ape yang sedikit lunak.

*

Hari ke-210

Sembelit adalah hal yang biasa dialami lansia. Bukan tanpa sebab, tentu saja. Beberapa di antara pemicunya, karena terlalu sering mengonsumsi obat anti depresi, juga obat-obat yang banyak mengandung aluminium. Dan nyonya, keranjingan sekali memberi obat sembelit pada suaminya.

“Kenapa tidak dikasi air rebusan kejibeling aja sih.” Menggerutu saat nyonya memberika beberapa butir obat sembelit, lebih banyak dari biasanya.

Bell pintu berbunyi. Padahal, si empunya rumah sedang tidak tertarik menerima tamu. Dengan malas nyonya berjalan menuju pintu. Sementara itu, dua penghuni rumah lainnya berada dalam kamar mandi. Perang. Ape berak di atas tempat tidur, tadi. Bau menyengat menguar ke penjuru kamar.

Tidak ada cara lembut dalam situasi seperti ini. Dan dapat dipastikan, mata sipit laki-laki tua itu, kembali berkilat-kilat tak ramah karena dipaksa bangkit dari tempat tidur. Ape menyambar gagang shower dengan mata berkilat-kilat—ketika gadis itu menahan lengannya. Ape yang menolak dimandikan, menghantamkan benda itu ke kening Kopi—menjerit sejadinya.

“Apa yang terjadi?” Tamu berbadan tambun itu bertanya bingung ketika mendengar jeritan dan suara gaduh di rumah ini. Nyonya tak bisa menjelaskan. Meremas jemari. Menelangkupkan kedua tangan ke wajahnya yang selalu murung.

Sebenarnya ia tidak sabar menunggu. Tetapi demi melihat keadaan anak buahnya, Tuan Yang rela tinggal beberapa saat.

Tersuruk-suruk, Kopi keluar menemui agensinya. Badan kecil dibalut baju yang 99% basah, pipi sedikit menonjol, rambut dikucir kuda tampak kumal, kening sebelah kiri sedikit menyembul dengan permukaan kulit memerah, berdiri di hadapannya. Sementara, bagian tubuh yang terbuka, seperti kaki dan lengan, penuh bekas luka, memar di beberapa tempat.

Wajah Tuan Yang memerah. Ingin segera meminta penjelasan dari si empunya rumah. Wanita tua berwajah murung, terbata-bata menjelaskan. Berkali-kali Tuan Yang menghela napas kasar. Kedatangannya perihal pengembalian pajak—ia justru mendapati kenyataan menyedihkan.

“Ini tidak benar. Dia bisa mati. Seharusnya suami Anda dibawa ke rumah jompo, Nyonya. Ini membahayakan anak buah saya. Dan kamu, Kopi, kenapa tidak melapor?”

“Sudah. Waktu itu. Tapi laporan saya…. Wanita yang bekerja di kantor Anda meminta bukti. Dan saya tidak punya HP berkamera.”

Tuan Yang bersungut-sungut, dan bermaksud membawa pergi anak buahnya saat itu juga. Akan tetapi, dengan kesepakatan-kesepakatan, serta mempertimbangkan banyak hal, ia melunak. Dan meminta Kopi lebih hati-hati. Tuan Yang meninggalkan nomer telpon pada anak buahnya.

*

Hari ke-270

Ketika langit tampak kuning kemerahan, siapa yang tidak terpesona? Begitu memesonanya senja sehingga benar-benar digemari pengarang. Dalam tulisannya, mereka hampir tidak pernah lupa memboyong senja. Tetapi Kopi merasa senja benar-benar aneh, karena senja dan matahari berada di belahan langit utara setiap sore tiba.

8 bulan lebih, dan belum hapal arah mata angin. Tidak terlalu penting baginya. Tak ada yang lebih menyenangkan dari pada menerima gaji utuh, dan bonus $3000 NT setiap bulan. Wanita berwajah murung itu, jarang berbicara, tetapi ketika suami memukuli gadis itu di depan matanya, ia sedih. Sering memeluk dan meminta maaf pada Kopi. Ape masih sama, kadang memukul, kadang manis. Pelan-pelan rasa sayang dengan penghuni keluarga ini, tumbuh sebagai pengobat rindu dengan orangtuanya.

Pagi itu, di hari ke-300. Wanita berambut pendek, tanpa riasan di wajah, mengenakan blus selutut, tersenyum menyenangkan, berdiri di depan pintu. Ragu-ragu Kopi mempersilakan masuk. Nyonya bergabung dengan mereka, di ruang tamu. Kopi berjalan ke dapur, merebus daun teh atas permintaan nyonya.

“Kopi, kemari sebentar,” nyonya memerintah. “Eng…, ini Nyonya Yang, istri dari agensimu. Nyonya Yang akan membawamu pergi dari rumah ini. Hari ini juga.”

Jika diperbolehkan, Kopi ingin berteriak sekerasnya dan berkata, “KALIAN TIDAK BERHAK MEBAWAKU PERGI SETELAH BANYAK HAL YANG AKU LAKUKAN DEMI BISA BERTAHAN!”

Nanar Kopi menatap majikannya. Mendung itu kian pekat memayungi, sehingga wajah murung nyonya mulai basah oleh titik hujan air mata. Nyonya mengangguk, seolah-olah berkata, “Turuti agensimu.”
Suara langkah kaki diseret, kian mendekat. Ape berdiri menghampiri Kopi si gadis yang biasa dipukulnya. Menepuk punggung gadis itu. Sedikit ganjil. Tidak biasanya ape begitu. Reflek, Kopi memeluk laki-laki tua yang sempat membuatnya sebal.

“Anak baik jangan menangis. Nanti air matamu habis,” ape dengan suara robotnya menasihati.

Nyonya Yang bangkit. Lalu menyodorkan amplop cokelat. “Ini untukmu, dari Tuan Yang. Berkemaslah, dua jam lagi aku akan menjemputmu. Majikanmu yang baru sudah menunggu.”

Kopi masih bingung. Semua begitu mendadak. Membuatnya syok, tentu. Amplop itu diintipnya ketika ia berkemas di kamar. Uang. Mulutnya terbuka lebar demi melihat uang yang jumlahnya lebih dari cukup untuk mengambil sertifikat itu.

SELESAI


📜 擔心將淚水用完的咖啡 TENTANG KOPI YANG TAKUT KEHABISAN AIR MATA

👤 Keyzia Chan

 

28

女孩背對著廁所的大鏡子。她細細觀察自己佈滿瘀青的背好長一段時間。上頭有新傷,開始癒合的傷,還有留下疤痕的舊傷。她用手指在身上畫圓,試圖撫摸她的背。這時,她的動作停下來了,疼痛感開始蔓延到她的右手。女孩皺著眉頭忍痛,她的眼角敏銳察覺有人在偷看時,她趕緊抬起頭,輕聲對自己說「不要哭,一切都會好的。」

這不是她的專屬浴室,跟往常一樣,她洗澡時,會發生一些意想不到的事情。女孩趕緊沖洗身體。當她用左手轉動水龍頭時,有人重重敲打浴室的門。這個黃皮膚的女孩倒吸一口氣,她的心臟好像掉到膝蓋,此時她的膝蓋正害怕的顫抖。那人不斷敲門,女孩的臉變得更加蒼白。她的嘴唇顫抖著,唸出幼稚園時所背誦的經文。也不清楚她唸的究竟是什麼經文,或許薄薄的嘴唇唸的是飯前經文。誰知道呢,在恐慌的情況下,人們都會出差錯不是嗎?

不發一語的母親沒有參與這場對話。母親的背影消失在門後。女孩只好把她的目光轉向父親。彷彿希望從母親的態度中,得到父親的解釋為此,父親深深的嘆了一口氣,靠在椅背上,舉起雙手放在腦後。他的眼睛盯著天花板,任何人看到這位中年男子表達的肢體語言,可以推斷出他有多煩惱啊。

生命不可能一直順遂。行善不像做買賣,可以按照付出的代價,得到相當價值的東西。這是關於將家裡的地契借給父親親弟弟,為了拓展他的個人事業而向銀行貸款的事。完全信任親兄弟的父親,就這樣借出家中地契,沒有留下白紙黑字。起初,分期付款的本金及其利息償還速度都很正常。邁入第七、八個月以後叔叔不再繳款。銀行好幾次到父親家裡討債。

「所以妳打算什麼時候還債!」擁有大臂肌肉、穿黑色緊身衣的討債人員,大聲的喝斥。長得更險惡的另一位,亮出槍枝並搓著它,彷彿搓它個三次就可以叫出神燈。那一臉險惡的男子,故意舉起槍威嚇全家。他的頭微微傾斜,瞇著左眼。就算他沒有坐在母親正對面,也沒有把槍舉向母親,但這位臉上佈滿皺紋的女人,早已嚇到尿褲子。可惡的叔叔,答應負責逃跑了。

「我們要跟時間賽跑呀⋯爸。我不敢想像討債者隨時都會上門來。」女孩說。父親嘆了口氣。搓了把臉,試著向他的長女說。接著,猶如電影般的情節,從父親口中宣洩完整描述幾位外匯英雄的慘狀,他們往往拿不到薪水、沒有宗教自由、沒有休假日、面對仲介公司的冷漠…等。

「說實話,爸,我聽得很害怕,但是我更害怕剛剛那樣的清況,只能當旁觀者。」這番話搖動了父母拒絕出國的請求,他們被女孩的堅持打敗了。

114

沒有冰淇淋、新衣或任何現代的電子產品。她仍然堅持來到寶島的目的。對她而言,目前沒有什麼好慶祝的,就算辛苦的豐收在手上。但從平時倒垃圾所認識的朋友可以知道,任誰都喜歡炫耀自己買來的貴重物品,但這位蘇完棣的長女一點也不動心。而且,她也知道,羨慕也沒有用,她們都是甘苦人,如果生活穩定的話,根本不願意當移工,被使喚有時不能擁有自己的權益,咖啡心裡這樣想著。

丟完垃圾,走回家的路上,突然想起她先前跟移民署人員的對話:「請不要捏造故事!」當她通報病人暴力行為時,這個不悅耳的回應,竄進咖啡耳裡。 

「妳到底想不想工作呀?動不動就通報。我們需要證據。如果真的有暴力行為,麻煩妳錄下來。」掛斷電話後嘟嘟聲隋之而來。剛剛的聲明,像是在割她的心。她需要手機,就算不是智慧型手機也好,但還是需要內鍵相機。另一方面,她堅持不想買,因為薪水只能用來還七千六百萬印尼盾和一億四千萬印尼盾兩筆債務,需要在兩年內還清,不然的話她的父母就必須離開自己的家。

「偪…怎麼那麼快回來?」露西姐小跑步,迎接全名為哥偪巴蘇完棣的女孩。
「咦,妳的眼睛,剛哭
是不是?」露西姐試探的問。咖啡揮了揮手
「哭?為什麼要哭?」咖啡翻
了翻白眼,試圖轉移注意力。
「如果哭能解決問題,可以帶來金錢,那我一定哭到眼淚用完為止。」
露西姐被逗笑了,捏了捏她的鼻子。
是,姐…」
「嗯,是怎麼樣?」露西姐邊問邊遞給我一個裝有蝦醬辣椒醬的塑膠袋。
「如果眼淚用完了,眼角流血該怎麼辦?我怕血會將我淹沒,淹沒這城市,淹沒…」
「別再亂說了!」露西姐抓住女孩的手,緊緊的握住。咖啡發出低沉的呻吟聲。即使在昏暗的路燈下,仍將她的傷看得很清楚,的右手腫起來了,上面還有咬痕。咖啡立刻收回她的手。
「呃…姐,我先進去了。謝謝妳的辣椒醬。」咖啡匆匆跑回公寓裡。那位有著白皙皮膚,身上有多餘脂肪的女人定格在那邊,就算咖啡消失在門後。

氣喘吁吁的咖啡,連跑帶爬上了四樓。汗水像融化般一直流,幾頭髮黏在她的額頭上。咖啡故意避開,只為了不想再次聽到朋友的餿建議逃跑。跟一般剛踏入新環境的人一樣,咖啡的眼睛掃視那間不是很寬的空間。客廳裡有在牆壁上的平面電視,飯桌也放在同一個空間,中間完全沒有隔間。那個空間內沒有古董或是其他擺設品,所以不需要花很多時間清潔,她的心裡暗暗開心

早上八點準備陪阿伯去做運動。有時,咖啡會看到看護與病人之間的友好關係。有一次,她看到一位奶奶在餵她的看護,或是看護小心翼翼地牽著她的病人走路。咖啡打算做同樣的事,她拉著阿伯的手,用她的小手溫柔牽著老人家,但是那個老人突然用力握緊她的手。咖啡立刻收回,手掌在空中甩一甩、吹一吹,再甩一甩。她的骨頭沒有斷,但是她發誓,那樣真的很痛。

樹木在路旁排成一排,綠葉幫忙遮陽。有時候樹葉在風中婆娑起舞。突然間,她圓圓的眼睛閃閃發光,咖啡高興大叫像孩子一樣,「哇!阿伯看,有松鼠!」她伸出手指著

有三隻松鼠正忙著撿路邊的豆子,完全不理會靠近的人。這件事情意味,牠們在這裡從來沒有被打擾過。哇,這種情形跟印尼完全相反。就算住在鄉下,咖啡也從來沒有看過松。最近很多人的道德都退步了。他們抓猴子、狸貓、甚至貓、狗殺來吃,這讓她想起史前時代。一個狩獵和採集食物的舊石器時代。不同的是,早期人類依賴大自然和捕捉動物維持生命,那麼,該如何定義現代人的行為?他們狩獵一些不適合吃的肉,這不是說明了,部分人類正在發生行為退步的情形可悲的是,他們為自己的行為感到驕傲,還把照片貼在社群上。噢,我的天啊。

每天早晨和下午的散步時間其實很無聊。怎麼說呢,因為阿伯幾乎都不開口說話。而且他講話真的很像機器人或是電影裡面的外星人。幾年前,阿伯因為聲帶癌動過手術,這是他愛抽煙的後果。太太說,一天內阿伯會抽掉四包煙。再加上他愛喝酒的習慣,結果身體開了一個很大的洞,在他七十六歲那年,在他的頸部。從此,阿伯從那個洞呼吸。有時候如果有痰,痰還會卡在洞口。

當他們運動完要回家時,太陽開始不友善了。眼看公寓就在眼,咖啡的心情當然很愉快。可惜的是阿伯可沒這樣想。好幾次他拍打那個女孩的手,試圖停她的腳步。

「阿伯…啊!」咖啡有點力地拉著阿伯的手,因為離公寓還有一段距離。阿伯的反應出乎人預料。他開始拐杖,不斷的打那個女孩。像個小狗一樣,咖啡唉唉的喊救命。沒想到,阿伯變本加厲的打。痛嗎?不用問了。更痛的是,好幾雙眼睛看到這樣的事情發生,卻只是站著享受表演。

「不要打了!」太太的聲音不知從那裡來,咖啡不敢抬起頭,還在用彎曲的雙手保護她的頭。
「妳沒事吧?」太太擔心的問道。
「就像太太看到的。」有著一雙圓眼睛的主人虛弱的回。
「對不起。」女雇主真誠的說著,然後帶阿伯回家。咖啡無精打采的跟在他們後面,太太把門打開。懷著膽怯的心,咖啡扶起阿伯讓他坐在客廳的椅子上。女孩的臉濕了。臉上盡是汗水、淚水啊,過去她拼命忍住的眼淚,今天在她消瘦的臉頰流下

沉默的客廳裡,只有旋轉中的螺旋槳風扇的風聲。咖啡蹲在阿伯面前。像往常一樣,熟練地幫阿伯解開鞋帶。脫了左腳的鞋子,咖啡將鞋子放下,她的視線也跟著落在那裡。當時,不知道為什麼阿伯瞪著她,用還穿著鞋子的右腳踢了咖啡。

不幸的是,他今天穿的是皮鞋,底部比他經常穿的運動鞋還要硬。咖啡倒下了,還好頭部沒撞到牆。她往左邊倒下蜷曲身體後就不動了。太太尖叫著,白開水從她手中落下。

180

毫無疑問,咖啡心裏非常厭惡老人家。受到不好的對待讓她的心很痛,更不用說她身上受的傷。她完全不想住在這裡,但無論如何,這個小女生需要錢。每當家人問狀況時,她只能說一切都很好。她還得接著撒謊,說她住得很習慣。不曉得這種謊言,天使會如何紀錄?跟他的看護對他心懷不滿一樣,阿伯的行為越來越不受控制。接連的家暴,尖叫聲,東西掉下來或是被摔的聲音四起,已經是公寓內的家常便飯了。咖啡仍然堅持著,除非她有辦法眼睜睜看她的父母搬出自己家。

這是個迷人的中午,夏天的美好,生活大樹的昆蟲甜美歌聲中傳唱。又長又響亮的聲音來自蟬,這比蒼蠅大十一倍的昆蟲,只能活三到六天。雄性交配後就死亡,雌性產卵之後也隨之死去。時間真的相當的短,如果拿來跟蟬的幼蟲所隱居的十七年相比的話。所有人都在休息,咖啡坐在廚房地板上,翻翻覆覆的翻開舊雜誌。在健康專欄上,有一則關於阿兹海默病的報導。咖啡沉醉在那篇文章裡。讀完後,她抬起頭來,用食指拍拍雜誌面。她挑起眉毛,想阿伯的徵失智症的初期特徵和阿伯的所有行為,跟雜誌裡所寫的一模一樣。

剛開始,阿伯不記得放東西的位置,太太洗澡時還會偷偷的走出門。阿伯沒有目的性的出門而且還不知道回家的方向。特別跟你們說明,「忘了回家的路」這句話不是從歌詞抄下,這是真實的故事。回到故事,太太曾經說過,雖然緩慢但可以確定的先生的記憶會消失。那篇文章也提到,抽煙與飲酒習慣的人,有更高的可能性得到失智症。咖啡抱著那本皺巴巴的雜誌。幸運的,那文章也透露如何應對老年癡呆症的患者。

「阿伯啊…我有冰淇淋要給你。」微笑的咖啡一早就很有精神。躺著的阿伯,眨了眨眼睛,這是很不尋常的表現。
「冰淇淋?」阿伯用他的機器人聲音問,咖啡點點頭說服他。
「但是阿伯需要先洗臉,還有不要忘了刷牙。不只是冰淇淋喔,我還有一包瓜子給阿伯。」

阿伯對這個交易很感興趣。他掀起包住他大大身體的毛毯,穿拖鞋,輕步的跟隨看護走向廁所。之前的幾十個早晨,咖啡需要一個小時以上的時間,說服阿伯做同一樣的動作:起床,上廁所再吃早餐。沒錯,一個多小時,阿伯真的難以控制。

咖啡繼續了解阿伯所喜歡的事物,所喜歡的食物、東西和習慣。女孩願意做任何可以讓她在合約結束前,舒服跟雇主相處的事情,以柔克剛。更進一步,她告訴自己,要善於保持情緒,因為知道這件事影響病人的情緒。如今,咖啡真的了解到,阿伯不過是雕像或是一具人類榮耀的殘存亡靈。猶如季節更迭變化,阿伯也是如此。還是喜歡亂打人,只是次數越來越少,女孩心裡的恐懼和焦慮逐漸減少,兩個人的友好關係,就這樣建立起來。阿伯的身影,讓女孩想起過世的爺爺。兩個人有著圓圓的臉蛋、很慈祥,高大的身體而且還不會小氣,不同的是阿伯的膚色比較白。

「阿伯…先休息啦,在這裡坐下。」女孩拍拍旁邊的空位,老人家也順著她的意思坐下。昨日的厭惡被微笑融化,阿伯的性格也放軟了。

210

便秘是老年人常有的事,有很多原因會導致便秘,其中,太常食用抗憂鬱藥物和含鋁的藥物也有關。還有太太常常給先生吃便秘藥。「為什麼不給他喝假馬鞭草煮的水就好?」太太邊抱怨,邊給先生便秘藥,比平常還要多。門鈴響了。實際上,目前房子的主人不太想接客。太太懶懶的走向門。同時,屋裡另外兩個人正在廁所打仗,阿伯剛剛大便在床上,惡臭飄蕩到房間的每個角落。

現場沒有溫和的氣氛可言可以確定的是,那雙老男人的小眼睛,又開始像閃電一般銳利、不友善,因為被要求起床,阿伯帶著閃電般的眼神抓住蓮蓬頭,為了拒絕洗澡,便將蓮蓬頭打在咖啡的額頭上,尖叫聲就這樣發出來了。

「發生什麼事?」 聽到屋裡的吵鬧聲時,身型臃腫先生好奇的問。太太無法解釋,只是揉捏雙手,然後將雙手蓋住經常面露哀愁的臉。其實男子已經不想等了,但為了到他的員工,他願意再多等一會兒。

拖著腳的咖啡,從浴室走出來見她的仲介。瘦小的身軀有百分之九十九濕,臉頰有點凸出,綁起的馬尾看來很凌亂,額頭左邊有點紅腫,狼狽的站在他的面前。同時,手臂和腿部有著多處瘀青,全身傷痕累累。楊先生的臉色漲紅。他想要立刻得到房子主人的解釋。苦著臉的老女人吞吞吐吐的說明,楊先生一邊聽一邊嘆氣。他本來是為了退稅的事情來,沒想到居然遇到可悲的現實。

「這樣不對。她會死的。太太,妳應該帶妳的先生到老人院。這樣對我的人很危險。還有妳,咖啡,妳為什麼都沒通報?」
「之前有呀,但…你辦公室工作的女生說需要證據。我沒有可以拍照的手機。」楊先生聽了很鬱悶,當下就接走。但是,經過協調和考量很多事情,他的姿態放軟了。他請咖啡小心一點,楊先生也將電話號碼留下來。

270

當天空是紅黃色,誰能不著迷呢?就是因為黃昏如此讓人著迷,才那麼受作家的青睞。在他們的作品裡面,他們幾乎不會忘記提到暮色的美麗。但是咖啡覺得很奇怪,因為暮色的黃昏,時出現在天空的北部。雖然八個多月以來,還沒熟悉方向。對她來說不重要。沒有可以比每個月領到全薪外加紅利三千元來得更加開心。雖然苦著臉的女人很少講話,但是當她先生打女孩時,她會感到很傷心,常常抱著咖啡跟她說對不起。阿伯也是一樣,有時候打人,有時又很好。慢慢的,咖啡開始有點喜歡這一家人,在他們身上,獲得思念雙親的療癒。

300

那天早上,臉上沒化妝留著短髮的女人,穿著一件長度及膝的裝,笑得讓人很舒服的站在門邊。咖啡有點猶豫,還是請她進來,太太也在客廳加入談話,咖啡照太太的吩咐到廚房煮茶葉。

「咖啡,請過來一下。」太太命令著。
「呃,這位是楊太太,妳仲介的太太,楊太太今天要帶妳離開這裡。」。

如果可以的話,咖啡真的很想大喊:你們沒有權利帶我離開這裡,因為我為了留下來,做了那麼多努力!

咖啡瞪著她的雇主,烏雲已籠罩在此,苦著臉的太太開始難過的落下眼淚雨,太太點點頭,彷彿在說「聽妳仲介說的話吧。」拖腳的腳步聲越走越近。阿伯站在他經常打的女孩面前,拍拍她的肩膀。這回與往常不同,咖啡幾乎是反射性動作,抱住眼前這個曾經令很厭煩的老人。

「好孩子別哭,的眼淚會被用光的。」阿伯用他的機器人聲音勸。

楊太太起身,然後遞一個棕色信封給咖啡。「這是楊先生給的。快收拾行李,過兩個小時我來接你。妳的新雇主在等妳了。」咖啡仍然很困惑,這一切來得太突然,帶給她巨大的衝擊。打包時,她偷看了信封一眼,是錢。她的嘴張得大大的看著,超過拿回地契的數目。


Comment  Banyak cerita tentang pekerjaan berat yang tak tertanggungkan terdengar, namun sedikit yang bisa menuturkannya dengan apik tanpa kesan rapuh, sok tabah atau merendahkan pihak lain. Ini adalah salah satu dari sedikit cerita itu. Penulis berhasil bertututr dengan manis dan enak dibaca.  很多故事一味著描述工作辛苦到不行,但很少可以清晰的描述,而且帶著堅韌的意志,沒有裝出來的堅強或醜化他人。這是那簡短故事的一部份。作者成功表達甜蜜感,很好讀。

 

 

Comments are closed.