Nia的小世界 Dunia Kecil Nia

 2016 Babak penyisihan 印尼文初選  

📜 Nia的小世界 Dunia Kecil Nia

👤 Tsalatsa Anna

 

Dunia tidak selamanya malam, akan datang pagi setelahnya. Itu hukum alam yang tak terbantahkan. Dan juga hidup, tak selamanya ada di bawah, roda kehidupan tetap berputar hingga ada saatnya kita berada di atas. Berjuang adalah kunci utama menjalani hidup. Tekad Nia sudah bulat untuk mengadu nasib ke Taiwan mengais rezeki. Jika bukan karena perceraian itu manalah mungkin dia tega meninggalkan putri semata wayangnya yang masih balita. Tak ada ijazah yang bisa diandalkan untuk melamar pekerjaan di Indonesia. Masih terngiang di telinga nasihat ayah sehari sebelum keberangkatannya.

“Bekerjalah dengan niat ibadah, jujur dan ikhlas sebagai modal serta ingatlah selalu pada Tuhan. Agar semua lancar dan berkah” Ayahnya berucap seraya mengelus ubun-ubun dengan tangan kasarnya

“Baik Ayah, akan kuingat selalu nasihatmu, doakan selalu semoga segalanya dipermudah” jawabnya sambil memalingkan wajah, tak sanggup dia pandang mata ayah yang mulai berembun.

Beliau seperti tak tega melepaskan kepergian anak sulungnya merantau jauh ke negeri yang mungkin hanya beliau kenal melalui siaran berita di layar televisi ruang keluarga.

Menjadi anak pertama dengan dua adik yang masih sekolah di tingkat lanjutan, seorang anak dan ayah yang mulai renta adalah alasan terbesarnya melangkahkan kaki di Taiwan. Tiga bulan belajar bahasa mandarin di sebuah penampungan TKW di Bekasi membuatnya semakin semangat meraih masa depan, banyak teman yang ternyata bernasib serupa dengannya menjadi cambuk bahwa dia tidak sendiri.

Akhirnya Nia bisa bekerja di daerah Chiayi, menurut kontrak dia dipekerjakan menjaga seorang nenek namun pada kenyataannya nenek yang harusnya menjadi pasien ternyata masih sehat bahkan dia masih bisa memasak buat karyawan pabrik pembuatan tempat nasi kotak. Dan Nia juga menjadi salah satu bagian dari karyawan tersebut. Salah job atau apalah namanya, yang jelas pekerjaannya adalah di pabrik pembuatan tempat nasi kotak. Awalnya Nia sempat menolak pekerjaan namun majikan orangnya baik dan dia akan memberikan gaji lebih. Akhirnya Nia menerima pekerjaan salah job tersebut.

Beruntung ada dua orang pekerja yang juga dari Indonesia di pabrik tempatnya bekerja. Ani dan Kiki mereka berdua berasal dari Jawa Timur. Bertiga berbagi kamar bersama, ada teman curhat sekedar berbagi cerita. Ani orang yang sangat dewasa dan kalem. Nasibnya tak jauh beda dengan Nia. Seorang janda dengan dua orang anak yang masih kecil. Sedang Kiki dia perempuan hebat yang gigih. Yatim piatu yang dibesarkan oleh neneknya, berjuang di sini agar kelak saat dia kembali pulang bisa meneruskan impiannya yang tertunda, menjadi seorang perawat. Tapi kedua temannya itu tinggal hitungan bulan lagi akan kembali pulang karena kontrak kerja yang hampir habis. Di tempat itu ada seorang pekerja asli Taiwan, mereka memanggilnya Tsai gege. Kata Ani Tsai gege usianya yang sudah tiga puluh delapan tahun tapi belum menikah, wajar bagi orang Taiwan terlambat menikah. Tidak seperti di Indonesia yang baru dua puluhan belum menikah pasti akan menjadi gunjingan para tetangga. Sepanjang pengetahuan Nia Tsai gege orang yang baik, murah senyum dan suka menolong. Tak lupa pula dia selalu rajin mengingatkan mereka jika waktunya tiba untuk beribadah.

Bulan berlalu tak terasa satu persatu temannya harus pulang ke Indonesia. Tinggal Nia sendiri. Boss tak menambah karyawan lagi, usahanya mengalami kesulitan keuangan.
Dan akhirnya pabrik majikannya harus gulung tikar. Nia diPHK tanpa pesangon. Namun Tsai gege berbicara pada majikan agar mau memberikan pesangon. Sungguh Nia sangat berterimakasih padanya. Lalu Nia pindah kerja di daerah Yongkang, Tainan menjaga seorang nenek yang terkena stroke. Nenek sudah tidak bisa berjalan, dan harus menggunakan kursi roda. Sedih harus berpisah dengan seorang sahabat yang baik seperti Tsai Gege.

Nenek yang Nia jaga sangat rewel dan keras kepala. Entah apapun yang dilakukannya selalu salah di mata nenek. Yang harus Nia lakukan hanyalah bersabar menghadapi tingkah nenek yang kadang sangat kelewatan. Bagi Nia selama nenek tak main tangan Nia akan tetap bertahan. Tiada batu karang yang terkikis karena ombak, Nia percaya segala sikapnya suatu saat akan membuat Nenek berubah walaupun entah sampai kapan. Jika Nia sedih ingin rasanya dia pulang ke Indonesia melepaskan segala rindu pada keluarga terutama anak semata wayangnya yang kini sedang lucu-lucunya.

Satu-satunya teman tempatnya berbagi cerita adalah Tsai gege. Sekarang dia bekerja di Kaohsiung. Meski bicaranya masih belepotan namun Tsai gege dengan sabar mengajarinya. Tsai gege juga menjadi tempat curhat yang menyenangkan. Berbicara padanya tentang apa saja, tentang rindunya pada anak dan ayahnya, tentang pekerjaannya, tentang mengapa neneknya sangat cerewet dan sering marah-marah, bahkan kadang tentang hujan mengapa akhir-akhir ini sering datang setiap hari.

Tentang nenek yang cerewet terkadang membuat Nia hanya bisa bersabar sesuai saran Tsai gege. Seperti hari minggu itu. Ya Tuhan, ucap Nia dalam hati, maunya apa lagi sih nenek? Nia benar-benar dibuatnya senewen sepagi itu. Bubur ketela yang dia masak sama sekali tak disentuhnya. Nenek minta sarapan mandao, padahal semalam dia sendiri yang berpesan agar Nia membuatkan bubur ketela kesukaannya. Dasar nenek pikun, ucapnya dalam hati . Mami, sebutan untuk laupan niang hanya tersenyum melihat ulah Ibunya lalu memberi uang NTS 100 dan menyuruhnya pergi ke toko sarapan pagi untuk membeli mandao.

“Nia, maaf merepotkanmu, tolong belikan mandao 2 buah buat Nai-nai ya, sisanya bisa kau pakai untuk beli buat sarapanmu. Hari ini saya masuk kerja” Mami pun berlalu dari hadapannya. Dengan langkah gontai terpaksa Nia turuti kemauan Nenek, ini hari minggu waktunya libur, tapi Nia? Ah, baginya libur adalah mimpi belaka. Selama setahun kerja di sini jangankan bisa libur, pergi membuang sampah saja dibatasi waktunya. Seperti hidup dalam penjara saja. Nia berjalan menyusuri jalan kecil di samping apartement, indahnya bunga-bunga di sepanjang jalan tak membuat hatinya berwarna, semua sama saja, kelam. Setelah membeli mandao dia segera bergegas pulang, namun langkahnya terhenti saat dia mendengar suara seorang wanita yang memanggilnya.

“Nia…” Nia refleks memalingkan wajah mencari sumber suara itu.

Tampak oleh Nia seorang wanita keluar dari sebuah Altis abu-abu, celana pendek yang memperlihatkan kaki yang terbalut stocking, T shirt merah dengan dada rendah, rambut panjang pirang dan kaca mata hitam yang besar. Nia tak mengenali wanita itu. Tapi wanita tersebut berlari kecil kearahnya.

“Nia, ya ampun aku panggil diam saja” Dia memulai pembicaraan.

“Maaf, mba siapa ya?” katanya agak ragu.

“Woalah, ini aku, masa kamu gak kenal sama aku?” Wanita di depannya membuka kaca mata hitamnya.

“Ya Tuhan, Atun! Sumpah aku hampir tak mengenalimu, kamu jadi cantik sekali” Nia kaget melihat perubahan Atun, dia dulu juga bekerja di tempat ini tapi karena terbujuk rayuan temannya dia memutuskan kabur. Dan kini dia kembali dengan perubahan yang begitu mencolok. sampai Nia tak mengenalinya lagi.

“Eh, mau kemana ? bukannya sekarang kamu ada di Kaohsiung?” Lanjut Nia heran.

“Aku mau liburan, itu diantar sama Gege”

“Siapa Gege?” Tanyanya lugu.

“Pacarku” Jawabnya cepat.

“Mau liburan kemana?” Nia bertanya lagi.

“Ke Museum Chimei” jawab Atun.

“Eh, kamu dari mana?” Atun mengalihkan pembicaraan.

“Ya ampun lupa! aku sedang ditunggu sama Nenek. Aduh pasti dia ngomel nih karena aku kelamaan” Nia panik.

“Kamu kok betah banget sih di sini, mau gak kerja bareng aku? gajinya NTS 28.000 tiap bulan. Liburnya sebulan 2 kali” Atun merayu Nia

“Takut ah, ntar ketangkep” Nia menjawab ragu.

“Gak usah takut, buktinya aku hampir setahun kabur baik-baik saja, tenang saja tempatnya aman. Di pabrik roti tepat kami bekerja semua terjamin” Atun membujuk Nia lagi.

“Nih nomerku simpan, kalau kau mau pindah cepat hubungi aku”Atun berlalu menuju mobil sedan itu. Nia dalam hati begitu bimbang, melihat Atun sekarang rasanya sangat menyenangkan. Bisa libur, gaji besar pula sungguh menggiurkan dari pada bekerja di tempatnya sekarang. Perbedaannya seperti langit dan bumi. Nia memercepat langkah kaki menuju apartement yang paling ujung di kompleks ini. Tepat seperti dugaannya, baru saja Nia membuka pintu, mulut nenek berkicau merdu memekakkan telinga.

Selepas makan siang, Nia segera meraih ponselnya. Dihubungi nomer yang tadi pagi dikasih sama Atun.

“Atun, setelah kupikir-pikir aku mau ikut kerja sama kamu saja deh, di sini setiap hari makan hati melulu” ujarnya.

“Benar kau mau ikut denganku Nia?” Atun bertanya pasti.

“Iya” Jawabnya mantap.

“Kalau begitu sabtu depan pagi hari aku akan menjemputmu di depan 7-11” Dia berkata, lebih tepatnya memberi instruksi.

“Baik, jemput aku ya? terus baju-bajuku bagaimana?” tanya Nia ragu.

“Gak perlu khawatir, di sana juga banyak baju-baju. Pokoknya beres” Ujarnya seperti menenangkan Nia Nia merasa mendapat angin segar saat musim panas mendera. Pengabdiannya di sini hanya dihargai dengan lembaran dolar dan hak-hak lainnya serasa terabaikan. Dan kinilah saatnya Nia akan meninggalkan penjara ini, seminggu lagi Nia akan segera pergi meninggalkan Nenek. Hatinya bahagia tak terkira. Minggu ini anggaplah minggu terakhir penderitaannya. terserah Nenek itu mau bicara apa, mau ngomel apa pun Nia akan terima karena minggu depan dia akan minggat dari sini.

Seminggu berlalu, Nia sudah mantap hendak kabur. Malam telah larut, di samping ranjang telah disiapkan tas ransel yang berisi dua potong pakaian, dompet dan charger Hp. Nia tak dapat memejamkan mata. Dia hanya berharap agar pagi segera datang menyambut kebebasannya. Betapa ingin dia segera meninggalkan tempat itu. Nia melihat Nenek tertidur pulas di kamar sebelah kamarnya. Ada rasa iba yang menelusup dalam hati, Nenek yang dimasa tuanya seharusnya mendapat limpahan cinta dari anak-anaknya, namun karena kesibukan mereka di luar kota sehingga membuat mereka jarang datang mengunjungi Nenek. Hanya Mami, laupan niang yaitu anak bungsunya yang setiap minggu selalu datang menjenguk Nenek. Ah, bodoh amat Nia mengurusi mereka toh mereka juga tak mau tahu urusannya.

Nia merasa baru saja tidur tiga jam. Ketika kepalanya terasa pusing karena guncangan kecil, kesadarnnya belum sepenuhnya terkumpul namun guncangan terasa semakin kuat. Gempa! Nia meraih ponsel di atas meja samping ranjangnya, 03.57 segera dia sadar lalu menuju ke kamar nenek. Nia berusaha membangunkan nenek yang masih terlelap.

“Nai-nai ada gempa, cepat bangun” Nia sangat panik lalu menyiapkan kursi roda. Dilihatnya beberapa barang jatuh dari atas meja dan menjerit saat televisi pun ikut jatuh dan layarnya pecah. Nenek terbangun ketakutan. Dia gugup dan gemertar. Nia membantunya bangun dan menaikannya ke kursi roda yang sudah dia siapkan. Secepat mungkin dia harus keluar dari rumah.

“Nai-nai jangan takut” Nia memeluk nenek dan menyambar jaket yang tergantung di balik pintu. Nia mengambil kunci untuk membuka pintu tapi karena panik kunci itu jatuh. Bergegas Nia membungkuk hendak mengambil kunci namun dilihatnya lemari kayu di samping nenek roboh. Secepat kilat Nia mendorong kursi roda maju dan celakanya lemari tersebut jatuh menimpa punggung Nia.

“Nai-nai kau tidak apa-apa kan? Kita harus segera keluar dari sini” terdengar Nia merintih kesakitan.

“Nia, kamu tidak apa-apa. Terimakasih menyelamatkanku. Aku takut sekali, gempanya begitu besar” ujar nenek gemetar. Nia memeluknya dari belakang karena berusaha melindungi nenek dari lemari yang roboh.

“Nai-nai tidak usah takut, ada aku di sini”

Nia sekuat tenaga menyingkirkan lemari itu lalu dia terduduk di samping kursi roda. Nia bersyukur karena lemari itu terganjal tembok sehingga tidak berakibat fatal. Lampu tiba-tiba padam. Ruangan menjadi gelap, Nia meraba-raba lantai berusaha menemukan kunci rumah. Ya Tuhan Nia ingin sekali menangis karena ketakutan. Baru kali pertama Nia mengalami gempa yang begitu hebat. Nenek hanya bisa memanggil nama Nia. Nia sebisa mungkin menenangkan nenek. Meskipun sebenarnya dia takut jika terjadi gempa susulan.

“Sebentar Nai, aku cari dulu kunci rumah lalu kita bisa keluar” ucapnya sedikit terisak.

Dalam gelap akhirnya Nia menemukan kunci dan berhasil membuka pintu. Bergegas Nia mendorong kursi roda keluar rumah. Di luar ternyata sudah banyak orang yang sama panik dengannya. Banyak petugas pemadam kebakaran tampak berlarian. Menurut penuturan tetangga bahkan sebuah apartemen yang tak jauh dari rumah nenek sampai roboh. Nia bergidik ngeri membayangkannya. Pagi buta dihari sabtu, 6 Februari, dua hari menjelang perayaan tahun baru sebuah gempa berkekuatan 6,4 sekala richter melanda distrik Meinong, Kaohsiung. Namun distrik Yongkang, Tainan di mana Nia tinggal menjadi tempat yang terparah akibat gempa tersebut.

Seorang tetangga menghampiri Nia dan Nai-nai. Menanyakan keadaan dan mengantarkanya ke posko keselamatan di balai desa untuk di data. Pagi jam setengah enam laopan niang datang, langsung memeluk nenek dan Nia. Menanyakan keadaan, dengan gemetar Nia menceritakan kronologis kejadian yang barusan mereka alami. Berkali-kali laopan niang mengucapkan terimakasih dan terharu atas pengorbanan Nia untuk keselamatan nenek. Dan saat itu Nia melihat sinar ketulusan kasih nenek, Nia benar jika nenek suatu saat akan terbuka atas kehadiran Nia. Bahwa Nia memang menjaganya dengan segenap keikhlasan.

“Nia, maafkan Nai-nai yang sering memarahimu. Sekarang Nai-nai sadar kalau kamu ternyata berbeda dari perawat yang dulu. Selama ini Nai-nai sering memarahimu. Maafkan Nai-nai Nia, dan terimakasih, jika bukan karenamu, mungkin sekarang Nai-nai sudah mati” Mata Nia mengembun, lalu meluruhlah bulir air mata kebahagiaan. Hanya pelukan hangat di pagi yang dingin itu sebagai jawaban, jawaban tentang apa itu arti ikhlas, tanggung jawab dan cinta.

Nia masih terbaring di ranjang rumah sakit, perban membalut pangkal lengan belakang. Beruntunglah hanya luka ringan.

Hanya sendi di pangkal lengan sebelah kanan yang sedikit bergeser. Tidak ada cederan yang serius. Laopan niang membolehkannya beristirahat sampai keadaan membaik. Dia sendiri yang membereskan rumah Nai-nai. Sore itu laopan niang datang membezuk Nia di rumah sakit. Dia membawakan buah dan sup udon.

“Nia ini ponselmu, cepat hubungi keluargamu di Indonesia biar mereka tidak khawatir. Dan tadi aku melihat ada beberapa telpon masuk tapi aku tak berani mengangkatnya. Mungkin teman atau saudaramu” Laopan niang menyerahkan ponsel warna hitam itu ke tangan Nia.

Setelah itu laopan niang pamit karena masih ada pekerjaan. Nia membuka ponsel dan dia kaget melihat banyaknya panggilan tak terjawab dari Tsai gege. Lalu Nia pun menelponnya.

“Tsai gege, aku tak apa-apa. Hanya cidera ringan saja. Sekarang aku di rumah sakit Cheng Kung”

“Aku sangat mengkhawatirkanmu, berkali kutelpon tak juga kau angkat. Ya Tuhan hampir gila aku dibuatnya. Syukurlah kau baik-baik saja. Sekarang juga aku kesitu, ohya di lantai berapa kau di rawat?” Terdengar suara panik di ujung sana.

Dua jam kemudian Tsai gege datang ada yang berubah dari penampilannya. Dia semakin tampan, dan yang lebih mengagetkan adalah pengakuannya jika dia sudah setengah tahun menjadi mualaf. Sungguh berita yang sangat membuat Nia teharu dan bangga. Tsai gege mengatakan alasannya menjadi mualaf karena dia menemukan kedamaian ketika dia melihat seorang temannya yang lebih dulu menjadi mualaf, dan alasan kedua karena dia mencintai Nia. Alasan kedua ini membuat Nia bingung dan salah tingkah. Sedemikian kuatkan cinta Tsai gege padanya hingga dia rela berubah haluan dalam keyakinan.

“Karena mencintaimu dan menikahimu adalah tujuanku, dan jalan yang harus kulalui adalah dengan sejalan denganmu, Nia” ucapnya lembut sambil memandang tulus ke dalam dua telaga bening di wajahnya. “Aku akan ikut pulang bersamamu ke Indonesia, kita menikah dan kita ke Taiwan lagi” lanjutnya.

“Tapi…” Nia gugup dan bingung jawaban apa yang harus dia berikan. Pernyataan ini sangat mengejutkan. Meski Nia dalam hati juga bahagia. “Sejak kapan kau menyukaiku?” Tanya Nia lugu.

“Sejak aku melihatmu makan siang pertama kali di pabrik dan kau sangat lucu karena tak bisa memakai sumpit” Tsai gege tertawa. Nia juga tersenyum, wajahnya bersemu merah karena malu.

“Beri aku waktu untuk memikirkan hal ini. Ini bukan hal sepele. Aku harus mengatakan pada Ayah, aku juga sudah punya anak dari mantan suamiku dulu” Nia berkata lirih.

“Aku tahu, katakan pada Ayahmu bahwa Aku berjanji akan melindungi dan menjagamu” Tsai gege berkata mantap.

Nia melihat sinar kesungguhan di mata teduhnya. Bahwa lelaki yang di depannya ini janjinya bisa Nia pegang. Nia percaya itu, sinar ketulusan yang sama yang dia lihat dalam mata ayahnya.

Sepulang dari rumah sakit Nia merasa lebih baik, benar-benar pengalaman yang mengharukan. Setelah perayaan imlek laopan niang membawa Nia dan nenek jalan-jalan ke A Li Shan. Mereka menginap di Villa, pergi ke perkebunan teh dan jalan-jalan di hutan melihat pohon-pohon tua yang besar. Nenek pun begitu menikmati liburan itu. Nia telah melupakan masalah kabur yang telah terencana. Nia tahu pasti Atun sangat kecewa karena Nia tidak bisa dihubungi, Nia sengaja mematikan ponselnya.

Sebulan berlalu Nia mencoba menghubungi nomer Atun, namun nomer itu sudah tidak aktif. Mungkin Atun marah begitu pikir Nia. Sore itu Nia berjalan-jalan dengan Nenek, saat di taman bertemu teman-teman yang datang bersama pasien-pasien yang mereka jaga. Canda tawa menghiasi sore yang cerah. Nenek tampak bahagia bertemu teman-temannya. Lalu Laili salah satu dari teman Nia tiba-tiba berbicara hal yang mengejutkan.

“Kalian ingat sama Atun gak? yang dulu jaga anak cacat itu. Kata temanku dia ketangkep sama Pak Dhe” Pak Dhe adalah julukan kami buat para polisi Taiwan.

Nia terkejut “Ketangkap? Kok bisa? Beberapa waktu lalu aku bertemu dia, katanya tempat kerjanya aman”

“Ya elah Nia, namanya juga apes. Katanya sih ketangkap lagi di diskotik” Ujar Laili lagi.

“Astaghfirullah haladzim” Kata mereka bersamaan.

“Bukannya dia bekerja di toko roti?” Tanya Ningsih.

“Iya, katanya dia ngaku kerja di toko roti” Nia pun semakin heran.

“Kerja di toko roti tapi ketangkap di diskotik, aneh ya?” Nur sedikit bergumam. Lalu mereka terdiam, larut dalam pikiran masing-masing. Ya Tuhan, Nia ingat pagi itu saat gempa melanda kota ini. Mungkin ini rencana terbaik Tuhan. Nia paham, jika saja hari itu baik-baik saja dan Nia berhasil kabur mungkin kini Nia pun sudah berada di balik jeruji penjara.

Tiga tahun berlalu sekedipan mata, Nia pun akan pulang ke Indonesia bersama lelaki yang nantinya akan menjadi calon imamnya kelak. Inilah buah dari pohon kesabaran yang dia tanam. Bahwa segala sesuatu akan indah pada waktunya.

Hsinchu, 3 Mei 2016.


📜 Nia的小世界 Dunia Kecil Nia

👤 Tsalatsa Anna

 

黑暗之後,必會出現曙光。那是永恆不變的自然律,生活也是如此,不會一直處在低谷,生命之輪不斷轉動,有時候我們也會處在高峰。戰鬥,是生活必備的主要關鍵。Nia下定決心到台灣掙錢。如果不是因為那場失敗的婚姻,她怎麼捨得與可愛的小嬰兒分開?她學歷不高,沒有畢業證書使她在印尼找工作時遭受阻礙。記得來台灣之前父親三番兩次叮嚀她。

工作時要無時無刻遵循妳的信仰,秉持誠實和大方並且要記得真主阿拉,但願所有事情順利,充滿祝福。父親邊說邊以他粗糙的手掌,摸Nia的頭。
「是的,父親,我會永遠記得您的忠告,有您的祝福,我相信一切都會順順利利。」她背對著回答父親,不忍看著父親眼眶裡流下的眼淚。

父親的捨不得不是沒有原因,讓大女兒到一個終生沒去過,唯有在電視看到的陌生國家工作。Nia排行老大,下面有兩個妹還在念書,年幼的女兒和逐漸變老的父親,是她來台灣工作最大的動力。在Bekasi的女性勞工庇護所,整整學習三個月中文,讓她對自己更有信心迎接未來。她也知道,外面有很多像自己那樣努力的同仁,這讓她領悟,其實自己不是一個人。

Nia終於來到台灣,被分配到嘉義工作,合約書上寫著她的工作內容是照顧奶奶,但實際上她要照顧的奶奶身體健康得很,甚至可以煮飯給工廠員工。而Nia也是這裡其中一個員工。不知道是分配錯誤還是出了什麼差錯,最終她還是留在這家飯盒工廠。

剛開始,Nia拒絕接受這份工作,但因為雇主態度非常好且答應她會加薪,Nia才決定答應留下來,值得慶幸的是,那裡有兩位同仁也是來自印尼。分別是Ani和Kiki,她們倆來自東爪哇。三人住在同一房間,有能夠聊心事的同仁真好!Ani是個成熟又安靜的女孩,她與Nia可說是同病相憐,擁有兩個孩子的寡婦。

而Kiki呢,她是個厲害又堅強的女孩,是奶奶一手帶大的孤兒。她在這裡努力工作,是為了繼續追逐她沉寂已久的夢想─當一名護士。可惜的是,這兩位同仁在台灣的合約只剩下兩個月。除了他們倆,工廠有一位台灣人特別友善,她們都叫他蔡哥哥。Ani說,蔡哥哥年紀將近三十八但未婚,這現象對台灣人來說正常。不像在印尼,若二十幾歲還沒結婚,一定會被人在背後指指點點。以Nia目前對他的認識,她覺得蔡哥哥人不錯,面總帶笑容及樂意幫忙的人。他也會常常提醒她們膜拜時間到了,並叫她們去膜拜。

日復一日,不知不覺同仁們一一回印尼了,只剩下Nia一個人。老闆沒打算增加員工,尤其在公司正面臨經濟危機的時候

最終,這家工廠還是不敵大環境,不得不關閉。Nia被解僱沒有得到任何遣散費。這時候,蔡哥哥挺身與老闆談判,表示一定要把遣散費給Nia,對此Nia真的很感謝他。之後Nia便遷移到台南康區照顧中風的奶奶。奶奶無法走路只能靠輪椅移動,Nia為要與像蔡哥哥這麼好的人分開而難過Nia所照顧的奶奶非常挑剔和固執。不管她做任何事情,在奶奶的眼裡都是錯的。Nia唯一能做的就是忍耐,忍耐奶奶對她所有的惡劣態度,有時候甚至過分的行為。對Nia來說,只要奶奶不動手都無所謂。相信堅固的礁石必定經過大風大浪的考驗而變堅強的,所以Nia相信只要她對奶奶好,有一天奶奶一定會改變對她的態度,雖然不曉得這天什麼時候到來

每當Nia傷心難過的時候,則想要回去印尼發洩對家人的思念尤其對她可愛女兒。

Nia在台灣唯一能分享心事的人只有蔡哥哥,但是蔡哥哥在高雄工作。就算Nia的中文不是很流利,但蔡哥哥還是很有耐心的教她。蔡哥哥成為Nia分享生活點滴的人,所有事情都跟他傾訴包含她對女兒和父親的思念、目前的工作,討論奶奶為什麼那麼囉嗦和那麼愛生氣,甚至連最近的下雨彼此也會談得很開心。對於奶奶的囉嗦個性,Nia聽從蔡哥哥勸導,忍耐對待。

就拿上禮拜天來說。天啊,Nia忍不住在心裡吶喊,奶奶到底想要什麼?那早上Nia真的對奶奶氣在頭上。她煮的芋頭粥奶奶一口都不吃卻說她想要吃饅頭,但明明昨晚她自己說今天想要吃最愛的芋頭粥。唉!真是癡呆老人症狀發作。「媽咪」是Nia對老闆娘的暱稱,也是奶奶的女兒,對此只能笑一笑,然後遞給Nia一百元叫去早餐店買饅頭。

Nia,不好意思,麻煩妳幫我買兩個饅頭給奶奶。剩下的錢妳拿來買自己的早餐吧,今天我得上班,先走了說完媽咪便離開了

Nia踩著蹣跚的步伐出。今天是星期天,是假日,但對她來說假日只是一場美夢。在這裡工作期間將近一年,不要說假期,連丟垃圾時間也被限制,就像活在監獄裡一樣。Nia往公寓巷子裡走,沿路盛開的花朵也不能讓悶悶不樂的Nia開心起來,在她看來全都一樣,世界黑白無色買完了饅頭她趕緊回家,半路上突然從背後傳出一陣女聲,讓她停下腳步

Nia…。Nia轉頭尋找聲音來源。一位女子身著短褲搭配絲襪襯托她長腿,身穿低胸的紅色T-shirt,留著一頭金色長髮,戴上時髦墨鏡一時間Nia認不出那個女生是誰,但那女生筆直的走向她。
「Nia,我一直叫妳都不理我。」迎面而來的女子開口招呼
「不好意思,妳是哪一位?」 Nia猶豫的問。
「哇塞,妳不認識我了嗎?」這位女子摘下墨鏡。
「天啊,Atun!我發誓我真的認不出妳了,妳變得好漂亮。」Nia看到Atun的變化嚇一跳,Atun之前也在這附近工作,後來因為朋友的邀約決定逃許久未見的她,以一百八十度的變化出現在眼前,差點讓Nia認不出她了。

妳要去哪裡?妳現在不是在高雄工作嗎?Nia好奇的問。
「我要去度假,那位哥哥載我去。」
「那位哥哥是?」我問道。
「是我的男朋友。」她迅速回答。
「妳要去哪裡度假?」Nia問。
「去奇美博物館,對了,妳要去哪裡?」Atun試著轉移話題。
「啊!我忘了!奶奶在等我。如果我出去太久的話,我一定會被她唸。」Nia內心慌張不安。
「妳怎麼可以在這裡待那麼久,要不要到我工作的地方去?月薪兩萬八千元,而且每個月有兩天假期。」Atun誘惑Nia加入逃跑行列
「我不敢,我怕被抓到。」Nia猶豫
「不用怕,妳看我都工作快一年了,還是過得好好的,妳放心,那裡很安全。我們工作的地方全都有保障,所以不用擔心。」Atun一直引誘Nia不放。
這是我的電話號碼,妳先留著,如果妳改變想法,記得隨時與我聯絡。Atun走回車裡。Nia開始猶豫,她看Atun過得很好也很開心,重點是相較於現在的工作,她那裡有假期且薪水也高,有如天壤地別的差異。Nia加快腳步公寓,就如她原先預料到,Nia一打開門,奶奶便開始唸她。

吃完午餐,Nia拿著手機,撥打Atun給她的手機號碼。

Atun,我想好了,我決定跟妳一起工作,不用每天受委屈她說道。
「妳真的要跟我一起工作?」Atun再次問道。
「沒錯。」她肯定的回答。
「那下星期六早上我在7-11前面接妳。」她吩咐我。
「好的,我在那裡等。但我的衣服要怎麼處理?」Nia猶豫的回答
「不用擔心,那裡有很多衣服可以給妳穿。全都安排好。」她對Nia說道,Nia感覺到炎熱的天氣中吹起涼風,渾身涼快舒暢

在這裡的工作期間,她覺得,自己得到的只是一筆紙鈔,其他的福利被忽略。因此,Nia決定要離開這監獄。再一個禮拜就要離開奶奶,她心裡開心得很。這禮拜就算是她最後的痛苦週。隨便奶奶對她說什麼、要罵她什麼都無所謂,因為下星期就可以擺脫這一切了。

一個星期過去,Nia準備要離開這個家了。夜深人靜,她準備的背包就放在床邊,裡面有兩件衣服、錢包及手機充電器,Nia興奮得闔不上眼。她只希望早上趕快到來,這樣,她就可以迎接久違的自由。她多麼希望可以趕快離開這個地方啊!Nia走到隔壁房望著睡得很熟的奶奶。心裡突然覺得同情奶奶,因為奶奶的晚年應該得到孩子們的愛與呵護才對,但因為他們各自都很忙,而且都住在外地導致他們都很少回來看奶奶。只有Mami也就是老闆娘,奶奶最小女兒,她每個禮拜都會回來看她。唉!算了,想那麼多也改變不了什麼,她用心照顧奶奶但相反的,他們一點都不在乎Nia的感受。

Nia感覺自己只淺淺三個小時,突然覺得頭有點暈,她還沒完全清醒但感覺那震盪越來越大。地震!Nia拿起放在床邊桌子上的手機,一看,凌晨三點五十七分,她立刻衝到奶奶房間裡,試圖叫醒睡熟的奶奶。

「奶奶有地震,快醒來!」Nia恐慌推著奶奶的輪椅來。桌子上的東西一個一個掉下,電視大力砸下,螢幕破碎時Nia嚇得大聲喊著奶奶,心裡非常害怕。奶奶醒來時也嚇了一跳,更是緊張得全身發抖。Nia連忙扶她起身,坐上已準備好的輪椅上面,準備趕緊出家門

奶奶別怕!」Nia用力抱著奶奶,並拿起掛在門後的外套。正當Nia拿著鑰匙開門時,因為太緊張鑰匙便掉下來。Nia快要撿起鑰匙時,突然瞥見奶奶旁邊的衣櫃要掉下壓到奶奶。Nia趕緊推走奶奶輪椅,不幸的是那衣櫃反倒壓到Nia身上

「奶奶妳沒事吧?我們要趕緊從這裡出去。」Nia邊忍著痛邊說
「Nia,妳沒事嗎?謝謝妳救了我。我很害怕,剛剛地震真的搖很大力。」奶奶發抖著說。Nia站起身從背後抱著她,保護奶奶不要被衣櫃壓到。

「奶奶妳不用怕,有我在這裡。」Nia盡全力推開衣櫃,推完便坐在輪椅旁邊。Nia很感激因為那衣櫃倒下時被牆壁擋住,所以沒有任何嚴重意外發生。忽然之間,停電了,家裡一片漆黑,Nia摸著地板尋找家裡鑰匙。這時害怕得想放聲大哭。這是她第一次到地震而且是這麼大的地震。奶奶不停喊著Nia的名字,Nia也不斷安慰奶奶,但她心裡非常害怕餘震發生

「再一下下,奶奶,我正在找家裡鑰匙我們才能出去。」Nia邊哭邊回答。

終於,Nia在黑暗中順利找到鑰匙且成功和奶奶出去。Nia趕緊從家裡推著奶奶出門。已經很多人在外頭站著大家一樣恐慌,現場許多消防員走來走去。鄰居說奶奶住的公寓不遠之處,整排房子都倒塌,Nia完全不敢想像那幅場景。星期六早晨,二月六日,再兩天就過春節了,而這場6.4級的大地震,震央位於高雄美濃區。但台南區,Nia所住的地區地震影響最嚴重的地方。

一位鄰居走近Nia和奶奶。主動詢問她們的狀況並且把她們送到村莊安全區做登記。早上五點半,老闆娘連忙趕來大力抱住奶奶和Nia,詢問狀況如何,Nia發抖敘述她們剛所經歷的事情。老闆娘不停得感謝Nia為奶奶的安全所做的一切,而且感到十分感動。這時候Nia完全感受到奶奶的愛和誠意,Nia之前所的一點都沒錯,有一天奶奶一定會全然接受自己的存在,領悟Nia是全心全意地照顧她。

Nia,請原諒奶奶之前常罵妳。現在奶奶發現妳與之前看護不一樣。這段期間奶奶一直對妳發脾氣,奶奶對不起妳,Nia,也謝謝妳,如果不是妳,奶奶現在應該就死在裡面了。Nia聽到十分感動,開心的淚水從眼角流出來。奶奶的擁抱,溫暖了寒冷的早晨,這擁抱也成為Nia這期間對奶奶付出真誠、責任和愛的答案。

現在的Nia還躺在醫院床上,繃帶包著她後臂部。幸好只是小傷。只是右手臂骨頭稍微錯位。沒有嚴重的傷口。老闆娘允許她休息一段時間直到身體康復。所以打掃奶奶的家由老闆娘自己用。那天下午老闆娘來醫院看Nia,貼心的帶了水果和烏龍湯麵。

Nia這妳的手機,快通知妳在印尼的家人,讓他們知道妳平安無事。我剛看到好多通電話打過來但我不敢接。可能是妳朋友或親戚。」老闆娘把那黑色手機遞給Nia手上。不久老闆娘有事便先走了。Nia開著她手機看而感到驚訝,蔡哥哥打了很多通電話給她,Nia便趕緊回電

「蔡哥哥,我沒事,只是小傷而已,現在在成功醫院。」
「我很擔心妳,我一直打給妳妳都不接,我幾乎快瘋掉了。幸好妳沒事。現在我過去找妳,對了,妳住在醫院幾樓?」蔡哥哥擔心問道。 

兩小時後,蔡哥哥以截然不同的打扮來到醫院。他越來越帥,更讓人驚訝的是他成為回教徒已經有半年時間。真是件讓Nia感動和驕傲的事情。蔡哥哥說他決定當回教徒的原因是因為他覺得從中找到心裡的平靜,尤其當他看到比他早一步當回教徒的一位朋友,更加讓他肯定要成為回教徒,而他的第二個理由,因為他愛Nia。第二個理由讓Nia有點困惑與尷尬。難道蔡哥哥對Nia的愛真的這麼強悍,能夠讓他願意變成一個有信仰的人嗎?

愛妳和娶妳是我信教的主要原因,唯有這樣,我才能和妳一起走下去不是嗎Nia?他邊說邊以真誠眼神望著Nia紅潤的臉。「我跟妳一起回去印尼,在那裡完成婚禮,再回來台灣。」他繼續說。
「可是…」Nia緊張和疑惑,不知道該做何回應。雖然Nia感到開心,問題實在太突然了。「你從什麼時候喜歡我的?」Nia單純的問。
「自從我第一次看到妳吃午餐,覺得妳很可愛,因為那時妳還不會用筷子。」看著蔡哥哥笑開了臉,Nia也跟著笑了,下一秒害羞得漲紅了臉
給我時間思考這問題。這不是件小事,我得先告訴父親,而且我跟前丈夫還有一個孩子。」Nia低沈聲音說道。
「我知道,請妳跟妳父親轉答,我答應他一定會好好保護妳、照顧妳。」蔡哥哥肯定的說道。

Nia從他眼裡看到一片真誠。相信站在她眼前的男人,他篤定的諾言。Nia相信這點,因為他的眼神與父親真誠的眼,一模一樣。

從醫院回來後,Nia感覺到有比較好了一些,真是一場值得紀念的經驗。過完年,老闆娘帶Nia和奶奶到阿里山去走走。她們住在別墅裡還到茶園及森林欣賞大自然的美。奶奶也非常享受這段假期,Nia早將已逃跑計畫拋之腦後Nia知道,Atun一定因為無法連繫上她,而對她非常失望,因為Nia總是故意把手機關機。

一個月前Nia試圖聯絡Atun,但那號碼已經打不通。Nia直覺的想,Atun可能生她的氣。直到那天下午,Nia與奶奶外出走走的時候,在公園遇到同仁和他們照顧的爺爺、奶奶。突然Nia朋友,Laili,說了一個讓人吃驚的事。

「妳們記得Atun嗎?上次照顧殘疾兒童的女人。聽我朋友說她被叔叔抓到了。
「叔叔」是我們為警察先生取的暱稱。聽到這,Nia嚇一跳。「被抓到?怎麼會?前陣子我才剛遇到她,她說她工作的地方很安全。」
「Nia,這就所謂的倒霉吧。聽說是在夜店被抓到的。」Laili繼續說。
「天啊!」她們不約而同的說。
「不是聽說在麵包店工作嗎?」Ningsih問。
「在麵包店工作但卻在夜店被抓到,也太詭異了吧?」Nur回答。每個人都安靜了,沉浸各自的思緒裡。天啊,Nia還記得那天早晨發生的大地震。或許,這是老天爺最好的安排。如果當天Nia成功逃跑,可能現在人也在監獄裡了。

轉眼間三年過去,Nia與未婚夫一起回印尼。這是她以耐心灌溉的果實。她相信,每件事都會在對的時間點,成為美好句點。

新竹,2016年5月3日


Comment  Issue tentang enaknya menjadi pekerja ilegal yang bergaji lebih tinggi memang selalu bisa menarik perhatian pekerja-pekerja yang tak kuat mental menghadapi pekerjaan berat yang menjadi tanggungjawabnya. Cerita ini contoh kecilnya. Susunan bahasa yang dipakai penulis cukup baik, sehingga cerita ini bisa diikuti alurnya dengan enak.  非法勞工擁有比較高薪的傳言經常吸引無法面對責任內繁重工作的移工。這個故事只是簡單的例子。作者將故事描述得很好,所以可以很輕鬆的享受劇情。