FORMOSA DAN KISAHKU

Dewi Susanti / FORMOSA DAN KISAHKU / Tidak ada / tenaga kerja asing

FORMOSA DAN KISAHKU
By : Dewi Susanti
“Jangan! Jangan!” teriakku ketakutan, dua bola mata menatap dengan tajam.
“Sini kau!” teriaknya mengertak, lalu, sepasang tangan itu menarikku dari belakang.
“Aku mohon, lepaskan?” pintaku.

Sekuat tenaga aku menghindar, mencoba melarikan diri dari kejadian yang menyeramkan, tapi, semuanya sia sia. Sepasang tangan itu lebih kuat menyerang dan melumpuhkanku. Untuk kesekian kalinya, entah sudah berapa banyak, kejadian itu berulang.
___

Tidur di ruangan gelap dan berbau bukan menjadi masalah bagiku, yang terpenting adalah bisa memejamkan mata dengan perasaan tenang dan aman. Setiap kali ketika aku merasa terancam, tempat ini selalu menjadi persembuyian, sudah tidak terhitung berapa banyak malam panjang yang dingin terlewatkan, semut, kecoa, tikus, dan nyamuk seperti sudah bersahabat denganku. “Aaah,” …. desihku dalam hati.

Siapa yang tidak tertarik mempunyai uang banyak dan rumah yang bagus, aku adalah salah satunya. Panggilanku Mirna, sekarang berumur 20 tahun, aku lahir di desa, orangtuaku hanya buruh tani di sawah milik orang, walaupun bukan orang kaya, tapi aku mempunyai cita cita, agar kelak bisa menggangkat derajatku dan keluarga.

Mendengar cerita orang, menjadi buruh migran indonesia ( BMI) menyenangkan, membuat harapanku melambung tinggi, hanya dengan 3 tahun saja sudah bisa membeli rumah dan membawa uang untuk modal usaha. Sungguh cerita itu membuat jiwaku bergelora.

Menjadi BMI bukanlah impianku, tapi nasib yang memaksa, keadaan ekonomi keluarga yang serba kekurangan, membuatku memutuskan untuk bekerja ke luar negeri, menjadi Pahlawan Devisa demi masa depan dan keluarga tercinta.

Hanya dengan berbekal tamatan SD aku memberanikan diri, dan pilihanku jatuh di Taiwan. “mungkin teman bertanya, kenapa Taiwan yang aku pilih? bukan Negara lainnya” Karena banyak tetanggaku pulang dari Taiwan sukses, dan mereka pun bercerita, tentang kehidupan di Negara yang terkenal dengan sebutan Formosa (pulau yang indah) ini menyenangkan, aku juga sempat melihat foto-foto mereka yang penuh dengan kebahagiaan.

Tidak harus menunggu lama, akhirnya harapanku terwujud, atas bantuan Mba Leni, tetangga desa di rumah yang terkenal dengan sebutan Agensi.
“tapi aku hanya Tamatan SD Mba, memang bisa jika aku ingin bekerja di luar negeri?” ucapku polos penuh harap.
“Bisa! Tentu saja bisa, aku akan bantu, kamu tenang saja” jawabnya memberiku harapan.
***
Saat harapan menjadi malapetaka

Mataku berbinang-binar saat Mba Leni memberitahu kalau semuanya sudah siap. hatiku bahagia mendengar ucapannya, serta membayangkan sebentar lagi akan memegang uang yang banyak, bisa membeli apa saja dan bisa membahagiakan keluarga.
Tidak lama berselang, hanya butuh waktu 2 bulan, semua keinginanku untuk bisa menjadi BMI akhirnya terlaksana, Mba Leni benar benar pintar mengurus semua dokumen pemberangkatanku.
“Itu pesawatmu, aku hanya bisa mengantarmu sampai disini” kalimat terakhir Mba Leni

Dengan hati dag … dig … dug, aku menumpangi pesawat Eva Air yaitu sebuah maskapai penerbangan antara Jakarta – Taipei, sebelum meninggalkan negeri tercinta, terlebih dahulu aku berpamitan dengan ibu dan ke 3 adikku, yang saat itu ikut mengantarkanku ke bandara.
Air mata yang tertahan akhirnya tertumpah, jatuh membasahi pipi, saat aku melepaskan gengaman tangan Ibu, tangannya yang biasa hangat, berubah menjadi dingin, mungkin beliau tidak rela melepas kepergianku.

Penerbangan jauh selama kurang lebih 3 jam akhirnya mendarat, pesawat besar telah membawaku sampai di Taiwan. Negara gemerlap yang penuh dengan lampu penerangan membuat indah saat mata memandang.

“Alhamdulillah, akhirnya sampai juga” gumamku dalam hati.
“Mba Namanya Mirna ya?” suara seorang wanita mengagetkanku.
Matanya indah dengan bulu mata memanjang dan bibirnya merona, aku sempat berpikir itu adalah majikanku, ternyata bukan.
“iya”
“Mba ikut saya, saya mau antar kamu ke majikan ” ucapnya menyuruhku untuk mengikutinya.

Lalu, mobil berwarna hitam membawaku pergi jauh, dan, berhenti di sebuah rumah yang sangat megah. Pandanganku tertuju pada bangunan yang mirip seperti Istana.

Wanita itu namanya Any, ia adalah egensiku di Taiwan, itu yang kudengar saat ia memperkenalkan diri waktu di bandara, kemudian, kami berdua pun masuk ke istana, selang beberapa menit keluar seorang perempuan paruh baya, menyambut kami dengan tutur bahasa yang kurang kumengerti.

“ini adalah majikan kamu, Namanya Nyonya Wang, ia tinggal bersama suami dan 2 orang anak laki-lakinya, kamu di sini bekerja menjaga Ama, dia ibu nya Nyonya Wang.” ucap Mba Leni menjelaskan tentang jobku.
“Mba aku takut, aku tidak mengerti bahasa mereka, hanya sedikit yang aku bisa” ujarku tidak percaya diri.

Ini pertama kalinya aku merasa tidak percaya diri dan takut, aku tidak pernah membayangkan pergi ke luar negeri dengan Bahasa yang kurang memahami,

“Harusnya seorang BMI yang ingin bekerja ke luar negeri itu bukan hanya mengutamakan tenaga untuk bekerja, tetapi, dia juga harus memiliki kepandaian dalam berbicara bahasa negara tempat ia akan bekerja”

“kenapa pihak ejensi dengan begitu mudah memberangkatkan para TKI, lalu, bagaimana dengan nasibku di negara orang yang hanya berbekal tenaga? kenapa Mba Leni tidak memberitahuku kalau bahasa itu adalah nomer 1” gumahku dalam Hati.
****
Saat impian tidak seperti harapan

Kenyataan menjadi seorang BMI ternyata jauh dari harapan, tidak pernah terbayangkan semua menjadi seperti ini.

“Sini Mirna!” teriak nyonya dengan nada tinggi.
“Iya, Nyonya” sahutku pelan
“Kamu ini bagaimana, kenapa bajuku jadi jelek begini?!” tukasnya penuh kebencian, seraya melemparkan baju yang telah robek ke arahku.
“Maaf Nyonya, ini bukan aku yang melakukannya” ucapku membela diri, walaupun pada kenyataannya, bukan aku yang melakukan.
“Kalau bukan kamu lalu siapa lagi, kamu kan yang mencuci baju ini?” suaranya bergelegar bagaikan petir kala hujan badai.

Jantungku berdetak kencang, tubuhku gemetar ketakutan, dengan sadisnya tangan nyonya menarik rambutku, … perih! itu yang aku rasa, bukan 1 atau 2 kali nyonya memperlakukanku seperti ini

Terkadang, sempat terlintas di benakku untuk menyerah dan pulang, membebaskan diri secara instan, namun hati kecilku selalu berkata “sabar” teringat Ibu selalu berpesan, untuk bersabar dalam menjalani hidup.

“Bersabarlah saat menghadapi rintangan, sebab, tidak ada kesuksesan tanpa kesabaran, karena kesabaran adalah obat terbaik dari segala kesulitan”.

***
Saat Kesabaran membunuhku pelan pelan.

Memangku akui, sekarang aku memegang uang banyak, dari jerih payahku bekerja di rumah ini, uang itu adalah hasil mengumpulkan selama 5 bulan, semuanya didapat dengan kesabaran, namun, kesabaran aku semakin lama semakin di uji.
“Sini, Mir, bantu aku, jam tanganku hilang?” perintah takeke, ia adalah anak pertama dari Nyonya Wang.

Dengan alasan kehilangan jam tangan dia menyuruhku, untuk masuk ke kamar, dan, aku pun menurutinya, tapi, bukan jam tangan yang ingin ia cari. Dia menginginkan tubuhku.
“Jangan! Takeke. Jangan! kasihani saya, sebentar lagi Nyonya datang,” ucapku mengiba.

Kata kataku tidak di dengar sedikitpun oleh nya, seperti orang kerasukan ia menerkam tubuhku, aku berusaha menghindar dan berlari ke luar kamar, tetapi, tangan kuatnya lebih dulu menarik tubuhku sampai terjatuh.

teng … teng … teng ….

Jam dinding rumah menunjukan angka 10 pagi, seperti orang linglung, dengan rambut acak acakan dan baju yang robek aku keluar kamar.
Sedih dan kecewa perasaan itu berkecamuk di dada, kesucianku telah terengut paksa olehnya, selama 20 tahun tidak ada orang yang berani menyentuh tubuhku, tapi sekarang, aku sudah tidak suci lagi, air mata pun bercucuran membasahi pipi, menyesali keputusanku untuk menjadi seorang BMI.

Malam menjelang, di langit terlihat suram, bintang dan bulan tertutup oleh kabut hitam, sepertinya cuaca mendung, mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Di dalam kamar aku duduk meringkuk di bawah ranjang, meratapi kejadian buruk itu.
“Mirna, aku haus” suara nenek mengagetkanku. Beliau adalah Ibu dari Nyonya Wang, nenek yang aku jaga
“baik”

Perlahanku langkahkan kaki menuju dapur, mengambil air minum, dan sesampainya aku di sana, terlihat Ekeke, ia adalah anak ke 2 dari Majikan tengah mengambil gelas.
“Kamu belum tidur?” tanya Ekeke sambil menatapku
“eh, .. ” jawabku spontan.

Aku tidak mengira ia akan bertanya, karena ia biasanya orang yang paling cuek jika berpapasan denganku. Jangan kan untuk bertanya, menoleh ke arahku pun, ia tidak pernah, tapi, malam ini aku rasakan berbeda.

Satu gelas air putih sudah ada di tangan, aku pun kembali ke kamar, dan tiba tiba sepasang tangan itu menghadang, membuat gelas yang ada di gengaman terjatuh dan pecah. Craaaak ….
“Diam!” gertak takeke sambil membungkam mulutku.
“Tolong!, jangan sentuh aku lagi” ucapku dengan nada keras.
“Diam kau! Kamu dengar yah, jangan pernah bicara pada siapapun, awas kalau bicara, tahu akibatnya!” ucapnya mengancam.

Aku pun mengangguk tanda setuju, memilih diam. Tetapi, kediamanku membuat kelakuan seperti binatangnya terus berulang, aku tidak tahan, dan malam harinya aku memutuskan untuk Kabur dari rumah.
****
Pulau yang indah, Negara impian, semua hanya Angan bagiku, saat kenyataan jauh seperti yang aku harapkan, angin yang dingin dan malam yang gelap, hanya dengan penerangan lampu kecil di taman, aku duduk di bawah pohon, keputusanku memilih kabur ternyata bukanlah keputusan yang tepat.
“Nona, kamu sedang apa” tanya seorang pria ke arahku.
“Tuan, bisa kah aku meminjam hp mu” ucapku dengan nada terbatah batah,

Walaupun sudah genap setengah tahun, tapi aku masih belum mahir berbicara, lalu, pria itu menyodorkan telepon selularnya, dan kemudian aku keluarkan selembar kertas kartu nama dari saku celana.
Nada telepon pun tersambung. tut …. tut … tut.

“Halo, apa kabar, ini dengan siapa yah, bisa saya bantu” suara Mba Any di seberang sana.
“Halo Mba, ini aku, Mirna” jawabku gugup
“kamu dimana, aku jemput!” tegasnya singkat.
“Ini aku dimana?, jangankan untuk membaca papan jalan dengan tulisan KANZI (sebutan untuk tulisan mandarin), mendengar orang berbicara saja, kadang aku salah”
“Tuan bisakah anda memberitahu padanya, ini dimana dan tempat apa?” tanyaku.
“Hshincu. ….. ” ia mengucapkan sederet kalimat yang aku sendiri tidak mengerti, cuma 1 kata yang kupaham artinya, yaitu Hshincu.

Mobil mewah berwarna hitam tiba tiba berhenti pas di hadapanku, lalu, keluar seorang gadis cantik menghampiri, senyumnya mengembang saat melihatku.
“Mba ayuk masuk, cepetan!”
“iya” jawabku sambil belari menghampiri Mba Any

Mobil mewah Mba Any melaju dengan sangat cepat, membawaku pergi jauh meninggalkan rumah Nyonya Wang, dan kemudian mobil itu berhenti di sebuah Hotel, kami pun bermalam disana, menunggu pagi, dan melepaskan malam yang panjang.
____

Selember kertas putih bertuliskan Kanji berada di hadapanku, perempuan cantik yang bernama Any yang menyodorkannya kepadaku.

“Kamu tanda tangan disini” ucapnya dengan jarinya menunjuk ke arah bawah kertas, dengan perasaan gugup dan gemetar, aku mengikuti perintahnya.
“Bentar lagi, Majikan baru kamu datang”
“ini surat apa ya Non?” tanyaku penasaran
“ini Job kamu yang baru” jawabnya singkat.

Tanpa basa basi lagi, ia pun menyuruhku untuk tetap duduk di lobi hotel, menunggu majikan baru datang. Tak lama kemudian, sepasang Suami Istri datang menghampiri, ia melepas senyum ke arahku, dalam benakku melintas sebuah pertanyaan

“apakah ini majikanku yang baru” gumamku
Mba Any kemudian berbincang panjang lebar dengannya, menggunakan bahasa yang tidak aku mengerti. Dan, sebelum pergi ia berkata padaku.
“Mirna, ini Majikan baru kamu, harus nurut yah!, jangan pernah mencoba kabur lagi!, kabur itu engga enak” ucap nya dengan nada tinggi.
“Nama kamu Mirna?” tanyanya, dan ku balas dengan anggukan kepala.
“Kamu ikut saya, kerja di tempat saya!”

Perasaan tiba tiba berubah menjadi tidak nyaman, ketika aku melihat sebuah rumah besar dengan banyak Kendaraan Parkir di depan halaman.
“Ini Tempat apa?” tanyaku penasaran, tapi pertanyaanku tidak dihiraukan, ia terus menyuruhku untuk terus masuk.
“Khuai Tien (cepetan)!” perintahnya dengan nada meninggi.

Berjuta pertanyaan menyelimutiku, dan rasa penasaran makin bertambah, ketika di dalam aku melihat banyak orang, dan ruang yang gelap hanya diterangi beberapa lampu yang bergantian saat menyala.

“aduh oon banget, namanya juga orang udik, tidak tahu, jika itu bola lampu diskotik” gumamku.
“Kamu mulai sekarang kerja disini, melayani dan menemani tamu minum!” seru salah seorang pelayan memerintahku
“Pelayan? Minuman?” Aduh emaaak aku tidak mau!, dalam hatiku mengumpat.
“jam kerja kamu dari Jam 7 malam sampai Jam 7 pagi. Ok” serunya lagi.
****
Saat kebenaran mulai terungkap.

Malam kian larut, suara musik bergema menulikan pendengaranku, tidak terasa sudah satu Bulan telah berlalu, dan perlahan lahan kebenaran pun mulai terungkap, ketika salah satu dari pelayan itu berbicara dengan pelayan yang lain.
“Oh, … Itu Anak baru?” tanya dari salah satu pelayan yang aku sebut A.
“Iya,… Baru datang seminggu yang lalu, masih hangat!” jawab dari salah satu pelayan yang aku sebut B, ucapannya seketika menembak jantungku. Dor …

Ternyata. baru aku sadari, nona yang aku panggil dengan sebutan Mba Any itu, dia telah menjualku. Berbagai cara aku lakukan agar bisa keluar dari tempat Kotor ini. Setiap hari, berlumurkan dengan dosa dan maksiat, para lelaki hidung belang pemburu nafsu berkeliaran, dan, minuman berakhohol.

“Ya Allah ampuni aku” rintihku perih.
“Jangan panggil Aku dengan sebutan wanita penghibur, karena aku bukan seperti itu!”

Menyeset hati, dan tidak terima sebutan itu menempel di tubuh, setiap kali para pria hidung belang memanggilku
“Mirna, bangun!” teriak seorang perempuan yang biasa di sebut Mucikari itu sambil mengedor pintu kamarku, berulang kali, teriakan nya semakin keras, tapi, aku tidak menghiraukan nya.

Selang beberapa jam pintu pun terdobrak oleh seseorang, aku terkejut saat melihat raut wajah nya, seperti aku pernah melihat, tapi, dimana? dan ternyata, ia adalah Takeke anak pertama Nyonya Wang, Majikanku dulu.

“Ternyata kamu disini, sudah lama aku mencari jejakmu” umpatnya sinis.
“Ayo bangun, ikut bersamaku, kau sudah aku beli dari perempuan itu, sekarang kamu bebas”

Kata kata Takeke membuat aku melebarkan mata, kaget! Seakan tidak percaya jika aku telah bebas, dan, aku merasa senang karena bisa keluar dari tempat hina ini.
“demi keamananmu, ikut aku, akan kubawa kau ke tempat yang aman, sembari mengurus semua dokumen untuk kepulanganmu ke Indonesia” ucapnya mendinginkan pikiranku yang kalut.
“Terima kasih’sahutku senang.

Lalu, ia membawaku ke sebuah daerah terpencil di Pegunungan tea milik dari Nyonya Wang, sesampainya di Kebun tea, terlihat Sepasang suami istri keluar menyambut kedatangan kami. mereka adalah penjaga yang di tugaskan oleh Nyonya Wang untuk menunggu Kebun.

Aku berpikir Takeke sudah berubah, ternyata salah, ia sengaja menyekapku di tempat ini, agar ia bisa melampiaskan nafsunya., hampir setiap minggu datang kesini, terkadang juga membawa teman temannya. Dan gilanya! Ia menyuruhku untuk melayani semua orang.

Hanya tempat gelap dan berbau inilah yang selalu menjadi pelarianku untuk bersembunyi, setiap kali mendengar suara deruh mobil, dengan cepat aku berlari ke sini, tuhan sayang padaku karena menyediakan tempat ini untuk aku menyelamatkan diri.

Cuaca buruk melada hampir sebagian tempat di Formosa, termasuk di Kebun tea, suara gemuru petir bergema, angin dan hujan deras pun terjadi, tapi. tidak menyulutkan niatku untuk berlari ke tempat ini, sesaat setelah aku mendengarkan suara klakson mobil.

“Pak, bolehkan bermalam disini, aku habis mengantar teman dekat daerah sini, sekalian aku mampir menjenguk bapak dan ibu” suara merdu sayup sayup kudengar, itu suara siapa? aku benar benar penasaran, lalu, aku memutuskan keluar dari tempat bersembuyian dan ternyata, pemilik suara itu adalah Ekeke. Anak bontot dari Nyonya Wang.

Tatap matanya tajam penuh dengan tanda tanya, tertuju padaku, ini ke 2 kalinya ia menatapku seperti itu.
“Mirna, kog Kamu bisa ada disini?” tanya Ekeke penasaran.
“Iya” jawabku datar.

Atas kebaikan Bapak dan Ibu penjaga Kebun tea, akhirnya kami bisa berbincang, aku menjelaskan semua peristiwa yang sudah terjadi dari A sampai Z, aku melihat raut wajah angkuh, yang selalu cuek saat berhadapan dengan ku berubah menjadi hangat.

“aku terharu, kamu wanita yang hebat dengan Kesabaran luar biasa” ucapannya membuatku melambung tinggi ke langkit 7.
“Hehe,” … selama di Formosa baru pertama kali ini aku tertawa lepas tanpa beban.
“Terima kasih”
“Aku akan membantu semua dokumen kepulanganmu ke tanah air, maafkan atas semua kesalahan Takeke, mama yang selalu menghina dan menyiksamu, juga maafkan aku karena terlambat menyelamatkanmu, kamu wanita hebat yang pertama kutemui”ucapnya sambil melepar senyum manis ke arahku
“eeh” sahutku spontan

Aku tidak pernah menyangka, ia bisa mengucapkan kalimat semanis itu, yang mampu membuatku merasa menjadi wanita sesungguhnya.
Waktu terus berputar, dan hari berganti dengan sangat cepat, tidak terasa saat yang di nanti akhirnya tiba, hari kepulanganku ke negeri tercinta. Atas semua kebaikan hati seorang pria yang membuatku lepas dari semua luka, dan aku seperti memiliki sebuah impian baru.

“Ekeke adalah orang yang sangat baik, andaiku mengenalnya jauh lebih awal, andaikan aku tidak memilih kabur dan andaikan saja kakaknya tidak menodaiku? gerutuku dalam hati
“aah, …. “ sesalku dalam hati

Keperluan kepulanganku Ekeke sudah mempersiapkan semuanya, ia juga memberikan sejumlah uang, dan, sebelum aku pergi meninggalkan Formosa, ia mengucapkan satu kalimat yang membuat jantungku melaju cepat, kaget, bahagia, dan sedih.
“我爱你 (wo ai ni) “ ucapnya membuatku lemas.

Satu kalimat yang tidak pernahku duga akan keluar dari bibirnya, wajah putih dengan tatapan mata teduh, senyum manis merekah dibibirnya. “Ekeke, kamu tampan sekali” gumamku dalam hati.

Dengan langkah kaki terasa berat, aku meninggalkan Formosa, sikap hangat Ekeke membuatku ingin tetap tinggal, berada di sampingnya membuatku merasa aman. Tapi. Sudah waktunya aku untuk pulang, kembali ke kampung halaman.

Selamat Tinggal Formosa, sampai jumpa Ekeke. Aku pasti akan merindukanmu, kau sudah merubah pandanganku tentang Formosa yang menakutkan menjadi menyenangkan.

“Terima kasih Ekeke, wo ai ni” ucapku lirih sambil melambaikan kedua tangan meninggalkan Formosa, dan orang yang sudah mengambil hatiku.

Taipei, 26 Mei 2016
*** TAMAT****