KAIN ABU ABU DARI IBU

Cikal Kessy / KAIN ABU ABU DARI IBU / Arya Syarief, Erna Sulistyowati / tenaga kerja asing

Siang itu 12 Juni 2003 dengan langkah gontai ku tinggalkan halaman sekolah, perasaanku gundah gulana aku tengah memikirkan sesuatu yang menurutku ternilai berat. Antara melanjutkan pendidikan atau bekerja meski hanya berbekal ijazah SLTP. ” Mak sebenarnya aku ingin sekolah aku ingin jadi Polwan tapi mak, bagaimana dengan biayanya sedangkan untuk makan sehari-hari saja kita masih susah ” desahku dalam hati sambil menyeka air mata. Seminggu berlalu sejak kelulusan itu aku sudah mempersiapkan surat-surat untuk melamar kerja tanpa sepengetahuan orang tua, hingga di suatu sore sepulang dari rumah Pak Lik aku melihat sesuatu yang terbungkus koran di atas kasur lusuhku perlahan ku buka bungkusan itu ternyata kain warna biru seragam untuk adikku yang akan mendaftar ke SLTP, tak terasa airmataku menetes sebab cita-citaku untuk menjadi Polwan hanyalah cerita. ” Ini kain siapa mbak ? tanya adikku sembari menyodorkan kain warna Abu-abu kepadaku . Mataku terbelalak secepat kilat aku menyambarnya dan berlari keluar mencari Emak, ” Mak, ini kain untuk siapa mak ? tanyaku pada emak yang sedang asyik ngobrol dengan Bapak.
” Untukmu katanya pengen sekolah SMA lanjutkan pendidikanmu Ndhuk soal biaya biarkan Bapak dan Emak yang memikirkan, kamu ga usah daftar jadi buruh di Pabrik Bratasena ” ucap emak sambil menatapku dengan tersenyum.
” Sekolah yang benar, jangan bolos dan jangan pacaran sekolah harus serius jangan main main kasihan orang tua yang mencarikan biaya ” ucap Bapak sembari menyeruput Kopi Hitam.
Airmataku mengalir tak dapat ku tahan lagi Emak terima kasih kan ku rawat baik-baik hadiah terindah darimu ini, aku akan sekolah dengan serius Mak tak akan ku sia-siakan kesempatan ini Mak, janjiku dalam hati. Tak terasa tiga tahun berlalu dengan cepat selama tiga tahun pula aku tak pernah meminta pada emak untuk mengganti seragam abu-abuku dengan yang baru. Meski lusuh aku tetap mengenakannya hingga hari kelulusan itu. Tradisi coret-coret yang sudah turun temurun pun ikut kami rayakan, aku berlari sejauh mungkin menjauhi teman-temanku karena aku tak ingin seragam Abu-abu pemberian Emak ikut tercoret. Empat Belas tahun telah berlalu sejak pertama kali kain abu-abu itu di berikan emak kepadaku aku masih tetap menyimpan rapi di kamarku sebagai hadiah terindah.
“Jie-jie wo xiang he sui ” ucap Mei-mei yang kujaga sambil menarik jilbab yang kukenakan seketika aku tersentak dari lamunan.
” Hao ” jawabku sambil beranjak mengambilkan air minum untuknya.
Emak terima kasih atas kasih sayangmu, biar waktu berlalu tak kan terbiar kasih untukmu.