麗美阿嬤 Ama Limay

 2016 Babak penyisihan 印尼文初選  

📜 麗美阿嬤 Ama Limay

👤 Rahayu Wulansari

 

Namanya Limay, umur 92 tahun.
Di usianya yang sudah di ambang batas, ia masih sehat dan segar jika sedang mengomel. Namun ketika akan berjalan, makan, mandi atau ke WC, ia sudah tak mampu lagi, sudah tak bertenaga. Pantas rasanya julukan ‘Mak Lampir’ kuanugerahkan untuknya. Julukan yang diberikan oleh kami, para pekerja Indonesia di Taiwan, untuk majikan-majikan yang cerewet. Sama seperti Ama yang kurawat. Pagi, siang, sore, malam, yang dilakukannya hanya mengomel. Sepertinya semua pekerjaanku tak pernah benar di matanya.
Begitu pula pagi ini. Seperti biasa, aku memasak sarapan untuk Limay yang seringnya kusapa dengan sebutan Ama. Kali ini ia ingin makan bubur dengan steam telur beserta abon. Setelah siap saji, kudorong kursi rodanya ke meja makan. Perlahan-lahan Ama kusuapi. Belum sampai bubur itu masuk ke dalam mulutnya, omelannya sudah keluar duluan.
“Kamu masak bubur kental sekali, seperti nasi saja! Mana bisa aku menelannya?”
“Maaf, Ama. Lain kali aku tambah air,” jawabku mengalah.
Ini baru soal bubur yang diprotes, belum yang lain-lain. Pernah juga cara berjalanku saat mendorong kursi roda, ia jadikan bahan omelan. Padahal itu karena aku ingin berhati-hati saja.
“Hei! Cepat sedikit jalannya! Apa orang Indonesia cara berjalannya seperti ini? Lamban!” ucapnya ketus.
Ya, Tuhan! Andai aku tidak takut dosa, sudah kudorong dengan cepat dan kubiarkan kursi rodanya menggelinding bebas di jalanan menurun.
*****

Namaku Imah, umur 29 tahun.
Aku bekerja di Taiwan sudah enam bulan dengan job merawat Ama. Tinggal hanya berdua dengan Ama di apartemen. Ketiga anak laki-laki Ama adalah orang-orang super sibuk. Mereka memasrahkan segala urusan dan kebutuhan Ama ke tanganku.
“Imah, tolong jaga Ibu saya baik-baik. Memang dia agak cerewet, tapi sebenarnya hatinya baik. Jangan diambil hati semua perkataannya. Kamu kerja di Taiwan kuncinya sabar,” kata salah seorang majikanku suatu hari. Saat itu ia mendapat jatah untuk menjenguk ibunya.
Aku hanya mengangguk-angguk tanda mengerti. Andai aku bisa lancar berbicara dalam bahasa mandarin, pasti sudah kutangkis perkataan tuanku yang mengatakan Ama berhati baik. Baik hati apanya? Ia ingin membunuhku hampir di setiap jam dalam sehari. Membunuh pelan-pelan dengan segala kecerewetan dan omelan.
“Imah, garuk punggungku! Rasanya gatal sekali. Ini gara-gara terong yang kamu masak kemarin!”
“Bukankah Ama yang memintaku masak terong?”
“Mana mungkin! Aku sudah lama tidak makan terong, bikin kulit gatal.”
“Tapi kenapa masakan terong kemarin dihabiskan?”
“Sudah terlanjur dimasak mau gimana lagi? Dibuang sayang, belinya pakai uang. Sekarang musim panas, terong mahal.”
Duh, aduh! Selain tua dan cerewet, Ama juga mulai pikun. Padahal kemarin dia yang menyuruhku memasak terong, sekarang aku pula yang kena semprot. Mak, Imah tak betah hidup sama Mak Lampir! Imah pingin pulang…!
****

Aku menghubungi agency hari ini. Aku sudah benar-benar tak kuat menghadapi kecerewetan Mak Lampir. Hari ini saja berulang kali aku kena semprot. Namun kejadian yang paling membekas ialah saat aku membersihkan kamar mandi.
“Imah, kamu di kamar mandi lama sekali sedang apa? Woy, suara airnya deras sekali seperti itu. Kau kira bayar air itu murah, hah?”
Itu yang pertama. Astaga, serba salah jadiya. Membersihkan kamar mandi butuh air, bukan?
Dan omelan yang kedua saat aku mengepel lantai. Tak sengaja gagang pel menyentuh kaki kursi dan menimbulkan suara yang lumayan keras. Langsung Ama berteriak, “Imah! Kamu ngepel hati-hati sedikit! Ini kursi belinya di Cina, di Taiwan tak ada kursi sebagus ini! Dasar sembrono!”
Kalau dua kali kena semprot dalam sehari, mungkin aku masih bisa tahan untuk tidak menghubungi agency. Namu puncak kesabaranku hilang saat Ama menyuruhku membereskan almari pakaiannya. Aku tak berani menyentuh apa-apa kalau bukan dia yang menyuruh.
“Tolong sekalian ambilkan bungkusan warna hijau di dalam almari bagian atas!”
“Bungkusan apa? Tidak ada di sini,” sahutku seraya mencari-cari bungkusan yang ia maksud.
“Tidak mungkin! Berpuluh-puluh tahun barang itu kusimpan di sana, tidak mungkin hilang jika tidak ada orang yang mengambilnya!”
“Tapi benar, Ama, tidak ada barang apapun di tumpukan pakaian paling atas.”
“Di bawah pakaianku, coba kau cari lagi. Dari dahulu tak pernah berpindah. Itu warisan dari Ibuku. Kamu pasti mencurinya! Di rumah ini cuma kamu yang bebas keluar masuk semua tempat.”
Aku terkejut sekaligus emosi. Ini sudah keterlaluan. “Aku mencuri apa, Ama? Bahkan barang yang Ama maksud pun aku tidak tahu!”
Akhirnya aku menangis. Aku tak kuat akan perlakuan Ama kali ini. Sakit hatiku dituduh mencuri. Permasalahan ini tidak selesai begitu saja. Ama memaksaku untuk menelepon anaknya yang ada di Taicung. Dan ia pun mengadu.
Saat agency datang beberapa jam kemudian, aku masih menangis. Kali ini memang kusengaja, biar agency melihat langsung perlakuan Ama terhadapku. Jadi, aku punya alasan yang kuat untuk minta berhenti dan dicarikan majikan baru.
Sebenarnya permasalahannya sudah selesai beberapa waktu sebelum agency datang, karena anak Ama yang akhirnya datang sudah menemukan barang yang dimaksud. Ternyata barang itu disimpan di dalam laci, tempat yang tidak boleh kusentuh saat pencarian. Ketika kutanya sebenarnya apa warisan yang dimaksud Ama, aku terkejut bukan main. Ternyata hanya tiga biji koin Cina kuno!
“Laushi,[*] aku minta ganti majikan,” kataku sambil terisak. “Aku tak mau berlama-lama lagi di rumah ini. Kalau tidak bisa ganti majikan maka, aku akan pulang saja!”
Sakit hatiku benar-benar sudah mencapai puncak. Aku tak peduli meski masih dalam masa potong gaji. Aku tak tahan lagi mengurus perempuan tua itu. Mak Lampir yang sangat menyebalkan!
Namun permintaanku tak digubris agency, “Kamu bekerja di Taiwan harus sabar. Namanya orang tua memang suka lupa menaruh barang.”
Yang kuterima dari pengaduanku akan perlakuan Ama hanya nasehat panjang lebar. Kesimpulannya, aku tak bisa pergi begitu saja dari sini. Uuuh!
*****
Meskipun aku sudah terbukti tak bersalah dalam peristiwa tiga koin Cina kuno tempo hari, Mak Lampir itu tetap tak merubah pandangan dan perlakuannya. Masih saja aku dianggap salah. Semua yang aku kerjakan tak lepas dari kritikan dan omelannya.
Saat di taman Da’an, tempat Ama biasa berjemur, aku bisa bertemu banyak teman Indonesia. Ngobrol meskipun hanya sebentar, sudah biasa kami lakukan. Selain melepas suntuk, kami juga bisa bergosip dan bertukar info. Entah soal majikan masing-masing, tentang organisasi para BMI Indonesia di Taiwan, atau sekedar ngobrol tentang artis Indonesia yang akan manggung di Taiwan
Ama untuk urusan satu ini tak begitu ambil pusing. Mungkin karena kami ngobrol dalam bahasa Indonesia, jadi dia tidak mengerti hingga alpa mengomel.
“Bener nantinya enak?” tanyaku pada Ranti. Ia mengaku sudah lama bekerja di Taiwan.
“Menurut yang sudah menjalani, katanya sih begitu. Kita bisa bebas ganti majikan kapan saja. Malah lebih dihargai, gaji juga lebih gede,” Ranti menjelaskan dengan menggebu-gebu.
“Tapi aku takut. Kalau nantinya ketangkap gimana?”
“Asal punya uang 30.000 NT buat bayar denda, bisa langsung pulang. Lagian nggak usah keluar rumah, pasti nggak ketangkep,” terang Ranti.
“Terus kalau nggak cocok sama majikan meski baru seminggu misalnya, bagaimana?” cecarku. Sepertinya aku sudah mulai tertarik dengan info dari Ranti.
“Agen siap mencarikan pekerjaan. Pokoknya jangan takut nganggur!”
“Ya deh, nanti kupikir-pikir dulu.”
“Semua terserah kamu, kalau kamu betah hidup tiga tahun bersama Mak Lampir-mu ini, ya mending jangan kabur.”
Begitulah percakapanku dengan Ranti, teman sesama BMI di Taiwan. Memikirkan kecerewetan Ama dan semua perlakuannya, timbul niat untuk kabur saja. Kalau aku bertahan di tempat ini, mungkin pulang ke Indonesia nanti aku sudah dalam keadaan depresi.
Malam itu kumantapkan sudah, aku akan kabur saja. Setelah kupastikan keadaan aman, kusempatkan menengok Ama sebentar di kamarnya. Perempuan tua itu tampak tertidur lelap di ranjang. Ah, tiba-tiba muncul perasaan ragu di hati. Keriput di wajahnya yang damai saat tidur membuatku merasa iba. Andai nanti ia bangun tapi tak mendapati aku ada di sini, akan bagaimana nasibnya? Apa akan jatuh karena berjalan pun ia sudah tak mampu? Atau akan berteriak-teriak minta tolong? Bagaimana jika tak ada yang mendengarnya? Bayangan Ama sedang ketakutan membuatku benar-benar ragu. Akhirnya kuurungkan niat kabur kali ini. Mungkin memang aku harus bersabar menghadapi semua ini.
*****
Kesehatan Ama makin lama makin menurun. Tapi omelan khasnya tak sedikitpun ada penurunan, tetap keras dan cadas. Kalau sehari saja dia tidak protes, aku jadi merasa aneh sendiri. Itulah yang terjadi akhir-akhir ini. Ama berubah jadi pendiam. Ia tidak komentar, marah ataupun berteriak-teriak seperti hari biasa.
Pagi itu Ama mengeluh sakit perut. Dan aku mengabari semua majikanku tentang keadaan Ama. Mereka menyuruhku untuk membawa ke Rumah Sakit. Tumben sekali Mak Lampir bisa sakit, atau karena sudah dekat waktunya? Hatiku masih sempat berkomentar nakal.
Pertanyaanku terjawab. Dokter memintaku menghubungi majikan dan kulakukan tanpa banyak bertanya lagi. Tak berapa lama mereka sampai di Rumah Sakit dan langsung menemui dokter yang menangani Ama. Beberapa menit berlalu, majikanku keluar dari ruangan dokter.
“Imah, Ama zhi diao le.”
“Zhen de ma?”
“Sh a.”
Aku kaget. Bingung. Tak tahu apakah harus menangis sedih atau gembira mendengar kabar ini. Yang jelas hatiku mendadak beteriak, Yes, penderitaanku selesai!
****
Hari-hari persemayaman jasad Ama membuatku sibuk. Selama 10 hari aku membantu para tetangga memasak untuk biksu-biksu yang mendoakan jasad Ama. Meskipun melelahkan, aku senang melakukannya. Karena kini aku sudah terlepas dari kecerewetan Ama dan bisa segera ganti majikan. Aku berharap semoga majikanku yang baru nanti lebih baik perlakuannya terhadapku.
Sepuluh hari berlalu. Siang itu agency beserta penerjemah datang ke rumah majikan. Kemungkinan akan menjemputku untuk dibawa ke rumah majikan yang baru. Tapi ternyata tidak. Kejadian selanjutnyalah yang membuat aku malu dan kelu tak bisa berkata-kata.
“Imah, ada satu pesan Ama sebelum meninggal,” kata majikanku. Dan ia melanjutkan keterangannya dengan panjang serta cepat.
Karena aku tidak begitu mengerti bahasa yang mereka gunakan, maka aku diam saja. Sampai penerjemah menerjemahkannya untukku.
“Imah, kamu sangat beruntung. Ama ternyata sayang sekali padamu. Sebelum meninggal, dia menulis surat wasiat tentang pembagian harta warisan. Dan kamu termasuk di dalamnya. Ama memberimu sejumlah uang dan satu set perhiasan. Kata majikanmu semoga bermanfaat. Jadi kamu tak perlu lagi ganti majikan. Kamu bisa pulang Indonesia. Warisan dari Ama ini bisa kau gunakan untuk membuka usaha di kampung dan juga membeli rumah,” penerjemahku menguraikan panjang lebar.
Aku terkesiap, melongo tak percaya pada apa yang kudengar. Mataku tak berkedip saat menatap para majikanku, anak-anak Ama. Mereka semua mengangguk membenarkan. Kutelan ludah dengan susah payah. Dan akhirnya aku tergugu di tempat duduk.
Beberapa hari yang lalu aku sempat bergembira karena telah terlepas dari Ama, bahkan lega atas kematiannya. Tapi sekarang, tiba-tiba saja aku merasa sedih dan sangat malu. Ingin rasanya aku berlari mencari wajah keriput itu dan bersimpuh meminta maaf. Selama ini aku selalu menggerutu dalam hati dan berpikiran buruk tentangnya. Sekarang baru aku sadar, ternyata benar kata majikanku, meski Ama cerewet tetapi hatinya baik.
“Bagaimana, Imah, kamu tidak keberatan menerima pemberian Ama, bukan? Bagi Ama, kamu sangat berarti. Bayangkan jika tak ada kamu, siapa yang akan mengurus Ama? Jadi kamu layak mendapatkan tanda ungkapan terimakasih dari Ama,” jelas penerjemahku lagi. Dan kalimat itu membuatku kian sulit menahan air mata.
“Xie Xie Ni,” ucapku lirih. Kepalaku menunduk teramat dalam, hatiku juga.
Kuusap air mataku yang membanjir dengan punggung tangan, Ama, maafkan Imah, dan terima kasih. Semoga kau mendengar di alam sana.

Catatan:
-Laushi (guru) beberapa BMI memanggil agency atau penerjemah dengan sebutan guru.
-Ama zhi diao le (Ama sudah meninggal)
-Zhen de ma? (Benarkah?)
-Sh (Ya)
-Xie Xie Ni (Terimakasih)


📜 麗美阿嬤 Ama Limay

👤 Rahayu Wulansari

 

她的名字叫麗美,高齡九十二歲。以她這樣的年紀,嘮叨時依然活力十足,精神不錯。但是,當需要走路、吃飯、洗澡或上廁所的時候,她就無能為力了。感覺她很適合我偷偷取的綽號「黑山老妖」。這綽號,時常被我們這些移工賜給囉嗦的雇主。就如我照顧的阿嬤一樣,不管是早上、中午、下午還是晚上,她的工作就只有對我嘮叨。在她眼裡,好像不管我做什麼都不對。就像今天早上,跟往常一樣,我為我稱呼為阿嬤的麗美做早餐。這次她想吃清粥加蛋和肉鬆。早餐準備,我推她的輪椅到餐桌前之後慢慢餵她。但粥還沒到嘴裡她就開始抱怨。

「妳煮的粥太稠了,跟飯一樣耶!你叫我怎麼吞得下去?」
「對不起,阿嬤。下一次我會多加一點水」我將就回答。這只是一小部份事蹟,還有很多不合理的事。有一次,連我推輪椅的方式也被念,我只是稍微不小心而已。
「嘿!妳可以走快一點嗎?你們印尼人都這樣走路嗎?很慢耶!」她對著我兇巴巴的說。我的天呀!要是我是不怕孽,我老早將輪椅推得飛快,然後在下坡道時讓輪椅自由滑下去了。

我的名字叫衣瑪,二十九歲。我在台灣工作已經六個月我的工作是照顧阿嬤。與阿嬤兩個人住在公寓。阿嬤的三個兒子超級忙碌,他們將所有照顧阿嬤的責任交到我手上。

「衣瑪,請妳照顧好我的媽媽。她是有點囉嗦而已,但其實她的心很善良。她的話請別全部放在心上。妳在台灣工作,最要緊的是要有耐心。」有一天,其中一位雇主這樣對我說,當時剛好輪到他來探望他媽媽。我只能點點頭表示了解,要是我的中文流利一點,我一定會這樣回雇主,「阿嬤哪裡善良了每晚差點把我殺了,用無止盡的囉嗦和嘮叨,慢慢地殺我。」

「衣瑪,幫我抓背!背很癢,一定是昨天煮的茄子害的!」
「不是阿嬤要我煮茄子的嗎?」
「不可能!我已經很久沒吃茄子了,身體會癢!」
「那為什麼昨天煮的茄子,妳全吃光了呢?
「都煮好了能怎麼樣? 丟掉可惜,那可是用錢買的。現在是夏天,茄子很貴耶。」哎呀!老了怎麼還這麼囉嗦?現在阿嬤開始老人痴呆了,昨天是她叫我煮茄子的,現在反來罵我。媽,衣瑪無法跟黑山老妖一起生活!衣瑪想回家…。

我今天聯絡仲介。因為我實在無法面對黑山老妖的嘮叨今天,我就被罵好幾回,其中最讓我受不了的是洗廁所的事情。

「衣瑪,妳在廁所那麼久做什麼?哇,水的聲音那麼大,妳以為水費很便宜是不是呀?」我心想,我的天呀,那要我怎麼辦才好?洗廁所需要用水,不是嗎?這是第一件事。第二,是當我拖地,一不小心拖把碰到椅角,發出了很大的聲音。阿嬤大聲的叫,「衣瑪,拖地小心一點!這是中國買回來的椅子,台灣沒有這麼好的椅子!真是笨手笨腳!」。

如果一天被罵兩次,我可能可以忍耐,不至於打電話給仲介。但是當阿嬤叫我整理她的衣櫃時,我失去所有耐心。平時,要是沒有她的囑咐,我根本不敢碰她的衣櫃。

順便幫我拿一下,衣櫃裡面上方有個綠色包裹!」
「什麼包裹?這裡東西什麼也沒有呀?」我遍尋不著阿嬤口中的包裹
「不可能!那東西我幾十年前就放在那邊了,如果沒有人拿的話,不可能不見!」
「是真的呀,阿嬤!衣上沒有任何東西。」
在我的衣服下面,妳再仔細找找看。從以前到現在我都沒有動過它。那是我媽媽的遺物。如果不見,那一定是妳偷了!這個房子裡,只有妳可以自由出入聽到這句話,我感到很驚訝也很生氣。這真是太過份了。「阿嬤,我偷什麼?我連阿嬤說的東西是什麼東西我都不知道!」

我終於哭了,我實在受不了阿嬤這次的對待。被指控偷竊真的了我的心。整件事情沒告一段落,阿嬤甚至逼我打電話給她住在台中的兒子,就在我的眼前抱怨不實的指控。幾個小時後,當仲介來的時候我還在哭。我是故意哭給仲介看,因為我要讓仲介看到,阿嬤是如何對待我。這樣的話,我就有個強而有力的理由離職和找新雇主。

其實問題在仲介來之前,就已經落幕,因為阿嬤的兒子來了,也終於找到阿嬤口中的包裹。原來她收到抽屜裡,一個我從來沒碰過的東西。當我問阿嬤包裹裡到底是什麼遺物時,我感到非常的驚訝,竟然只是三枚古代錢

「老師,我想換雇主」我一邊抽泣一邊說。「我不想待在這房子。如果不能換雇主的話,我想回家!」當時,我的傷心已到達頂點,不在乎還在被扣薪水的階段就想離開。我受不了這個老女人了,討厭的黑山老妖!但是仲介根本不理會我的請求,他只說「妳在台灣工作需要忍耐。老人嘛,難免都會忘了放東西的位置。」

我投訴阿嬤所作所為,得到的只是長長的開導。結論是,我不能就這樣離開這裡。喔!雖然三枚古代錢的事件,被證明是清白的,黑山老妖沒有改變她對我的看法。她還是認為我有錯。我做的任何事情都不斷的被批評和嘮叨。

大安公園是阿嬤經常做日光浴的地方,在那邊,我會遇見很多印尼朋友。雖然彼此只是簡單的聊天,但我們還是樂在其中。除了解悶以外,我們也會聊聊八卦和交換訊息。不管是聊各雇主的事情,或是聊在台印尼移工組織,或只是聊來台灣表演的印尼歌星。阿嬤對這此事沒什麼意見。可能因為我們用印尼語聊天,她聽不懂,所以忘了嘮叨。

這樣好嗎?」我問蘭蒂,她說她已經在台灣工作很久了,沒問題
很多做過的人都說都很好。我們可以自由的更換雇主,反而更受到珍惜,薪水又高」蘭蒂很熱情的解釋著。
「但是我怕,萬一被抓到怎麼辦?」
妳怕什麼?只要三萬塊罰款就可以直接回家。而且工作又不用出門,肯定不會被抓」蘭蒂解釋。
「那如果跟新的雇主合不來,就算只工作一個禮拜,那怎麼辦?」我繼續問,雖然很緊張,但是我好像對蘭蒂所說的話感興趣
「仲介會幫妳找工作。總之不怕會閒著!」
「好吧,讓我先想想。」
「一切取決於妳,如果妳受得了跟黑山老妖三年都待在一起,那就別逃跑。」那是我和同為在台印尼移工蘭蒂的談話。想到阿嬤無止盡的囉嗦和她的所作所為,想著想著我也想逃跑了。如果再繼續待在這個地方,我可能會得憂鬱症回印尼

當晚我已想好,我要逃跑。當我看一切準備妥當,我先去阿嬤的房間,探望她一下。那位老女人在她的床上睡得很香。突然間,我猶豫了,看著她安祥臉上的皺紋,讓我感到有點可憐。要是當她醒過來,發現我不見了,她會怎麼? 會不會因為太慌張而跌倒?因為她已經無法走路了,要是她跌倒後喊救命呀,萬一沒人聽到怎麼辦?一想到阿嬤臉上害怕的神情真的讓我很猶豫。最後,我取消這次的逃跑行動。或許,我該做的不是換工作,而是多點耐心面對這一切。阿嬤的健康每況愈下,但是嘮叨的程度絲毫沒有下降,一樣又大聲又硬。如果她一天沒有批評我,反而覺得奇怪。不過近來,阿嬤變得好安靜。她沒有跟平時一樣對我嘮叨、生氣或大喊。

當天早上,阿嬤說肚子痛,我趕緊告知雇主阿嬤的情形。他們請我帶阿嬤去醫院。這個黑山老妖也會生病,或許她的時間快到了也說不定?那時,我內心還這樣調皮的想著。不久後,我的問題得到了答案。醫生請我通知雇主過來,我沒多問就照做了。沒多久,他們一到醫院就馬上去見阿嬤的主治醫師。沒幾分鐘,我的雇主走出診療室,他對我說:

「衣瑪,阿嬤死掉了。」
「真的嗎?」
「啥?」

一時之間,我嚇呆了,心裡也很混亂。聽到這個消息真不知道該傷心的哭還是開心的笑但我很清楚,我的心突然大聲的說「Yes,我的痛苦結束了!」

舉辦阿嬤葬禮那幾天,我非常的忙。這十天內,我必須協助鄰居煮給幫阿嬤念經的和尚們吃。雖然工作很累,但是我很樂意幫忙。因為現在我終於可以從嘮叨中解脫,也可以馬上換雇主了,我希望我的新雇主可以好好對待我。十天過去了。下午仲介和翻譯一同來到雇主家。我本來以為接我到新雇主家,但不是。接下來發生的事情,讓我羞愧不已,我無言對。

「衣瑪,阿嬤臨走前有留一則訊息給妳」我的雇主這樣對我說,後來他說了一段又長又快的解釋,因為不太了解他們所說的話,我只能保持安靜,直到翻譯人員幫我翻譯。
「衣瑪,妳好幸運,阿嬤其實很疼妳,臨走之前她寫了分配財產的遺書,妳有在裡面。阿嬤給妳一些錢還有一套首飾,雇主說希望對妳有幫助,所以妳不需要換雇主了,現在就可以回印尼,妳可以用阿嬤的遺產來做生意和買房子。」翻譯清楚的解釋給我聽。當場愣住了,一臉目瞪口呆,不敢相信耳朵所聽到的一切。我眼睛一眨也不眨的看著阿嬤的孩子們,我的雇主們。他們全部點頭附議。我艱難的吞下口水,坐在座位上。

幾天前,我還因為可以跟阿嬤分開而感到高興,甚至因為她的死而鬆了一口氣。但是現在,我突然覺得很傷心也很慚愧。我很想尋找那張滿是皺紋的臉,向她跪下道歉。這段時間,我一直在心裡抱怨,甚至有不好的想法。現在我才曉得,原來雇主說的對,阿嬤雖然嘮叨,其實阿嬤心腸很好。

「怎麼樣,衣瑪,妳可以接受阿嬤的贈與吧?對阿嬤來說,妳非常重要。想想看,如果沒有妳,誰來照顧阿嬤?所以妳值得收到這份阿嬤對妳的答謝」翻譯再次解釋,這些話讓我的眼淚奪眶
「謝謝妳」我小小聲的回答。我的頭低得不能再低,我的心也是。

我用手背擦拭充滿淚水的眼睛,阿嬤,請原諒衣瑪,還有謝謝妳,希望妳在另一個世界能夠聽到我的感謝


Comment 1  Tema yang sudah lumrah diangkat BMI, hubungan antara majikan lansia dengan perawatnya. Tetapi bahasanya apik dengan rasa nuansa yang terasa, sehingga pembaca ikut larut dalam alur kisah inspiratif ini. Bagus! 常被印尼移工拿來寫的主題,看護與年長雇主的關係。但流暢的語法將感情描述得很細緻,讀者也將沈溺在這個鼓舞人心的故事中。讚!

Comment 2  The storytelling style is quite good. As well as the content of the story. But less able to optimize the language.  講故事的風格相當不錯,故事內容也是。但是不太能夠將語言最佳化。

Comment3  Bahasa Indonesia baik. Tema baik, penceritaan baik. Point khusus untuk kejutan di akhir cerita.  很好的印尼語,好的主題。故事講得不錯,故事結尾還有一個特別的驚喜。 

Comments are closed.