Siapakah Khimar?

Erma / Siapakah Khimar? / Tidak ada / tenaga kerja asing

Aku tiba di Taiwan tahun 2014 lalu. Ini adalah kontrak pertamaku. Baju yang kubawa tak banyak. Hanya beberapa kaos favorit, celana pensil, dan obat-obatan. Saat itu rambutku sangat pendek. Banyak yang mengira bahwa aku adalah laki-laki. Tak sedikit pula yang memanggilku dengan sebutan ‘Mas’.

“Kerja di pabrik mana, Mas? Ganteng-ganteng kayak gini kok mau sih jadi kuli di negara orang?” tanyanya. Kita bertemu setelah turun dari pesawat. Dan alangkah terkejutnya pria itu ketika mendengar suaraku.

“Maaf, saya perempuan.” jawabku supaya ia tak menganggapku laki-laki.
“Ha? Perempuan toh! Maaf, Mbak.” ucapnya. Lantas kami pun berpisah untuk meneruskan perjalanan masing-masing.

Aku mendapat job di daerah Hualien, Taiwan bagian timur. Menjaga kakek yang masih sehat adalah rejeki dan jodoh. Aku merasa klop banget dengan mereka. Kita hampir mempunyai kesamaan. Nyonya Ye Su Lan memiliki rambut pendek dan postur tubuhnya tinggi sepertiku. Sedangkan kakek adalah pensiunan guru SMA yang sangat menyukai dunia tulis menulis atau literasi. Sama, aku juga suka menulis. Bercerita tentang dunia dan khayalku.

Satu bulan, aku sudah memiliki teman sekufu. Namun aku tak pandai bersolek seperti mereka. Rupaku yang menyerupai kulit sawo matang tanpa taburan kosmetik ini, sering kali dijadikan bahan ledekan. Mereka bilang, jika aku tak merias diri akan terlihat tampan dan apabila terpoles sedikit bedak, pasti cantik menawan. Hahaha, lucu juga mereka.

Di rumah tingkat dua ini, ada sesuatu yang membuatku terpesona. Kak Lee Reen, dia anak kedua nyonya. Tampan, tinggi, putih, dan berhidung mancung. Baju-bajunya sungguh kece badai. Hari ini ia memakai kaos hitam bergaris putih dilengkapi tulisan mandirin di bagian punggung. Wuih, sungguh keren. Aku jatuh cinta!

Inginku segera bertanya, dimanakah ia membeli kaos itu? Ah, tapi hari ini aku tidak punya banyak waktu. Kakek memintaku untuk menemaninya pergi ke taman. Baiklah, nanti malam aku akan berbicara padanya.

Di sepanjang jalan, aku melihat sebuah distro yang menjual pakaian pria. Wuih, hatiku kembali bergetar tak karuan. Rupanya aku benar-benar kasmaran. Kakiku memaksa untuk kesana, namun tanganku dipegang kakek untuk terus menuntunnya menuju taman.

Jalan-jalan sore seperti ini ternyata menyenangkan juga. Banyak anak Indonesia yang kujumpai. Sering kita saling bertegur sapa menanyakan kabar, bertukar cerita, bahkan bagi-bagi makanan. Kebanyakan dari mereka mendapat job menjaga nenek yang sudah lumpuh. Aku salut, mereka bekerja dengan semangat dan tak mengeluh. Terkadang aku malu dengan diriku sendiri. Pekerjaanku tak begitu berat, namun aku sering tak bersyukur.

Usai mengobrol dengan kawan-kawanku, kakek mengajak duduk di kursi dekat lapangan sepak bola.

“Wati, apa kau tahu mengapa sore ini aku ingin kesini?” tanya Kakek.
“Tidak, Kek. Memangnya kenapa?” ucapku.
“Disini banyak anak sekolah yang bermain sepak bola dan basket. Aku rindu murid-muridku.” jawabnya.

Ah, jangan dianggap serius perasaan kakek. Aku selalu siap kok menjadi muridnya. Apa yang ia kerjakan di pagi hari selalu kuikuti. Senam ala orang Cina, jurus tonjok menonjok, serta berdiri dengan satu kaki. Di rumah pun aku tetap menjadi seorang murid. Lansia berumur 96 tahun itu juga mengajariku menulis mandarin dan cara membaca. Jadi kupikir, kakek tidak akan sampai galau berkelanjutan akibat rindu dengan anak didiknya.

Lama menikmati suasana sore hari, kakek mengajak pulang. Dengan kilat aku beranjak dari kursi lalu meninggalkan taman. Mataku kembali genit melihat sesutu yang dari tadi membuatku jatuh cinta. Kuajak kakek berjalan pelan. Distro itu sungguh menarik perhatian.

“Heeemmmm, keren!” gumamku.
“Kau kenapa, Wati? Matamu sejak tadi berkeliaran menyapu seluruh isi toko baju itu.” ucap Kakek.
“Hehehe, kau memperhatikanku ya, Kek?” jawabku terkekeh.
“Jangan tergoda dengan nikmat dunia.” pungkasnya.

Jlep!
Ucapan kakek seperti peluru yang menghujam jantungku. Garam asam yang kumakan memang belum seberapa dibanding pengalaman hidupnya. Mungkin benar kata kakek, aku tak boleh terlena. Apalagi hanya karena fashion yang tak ada matinya. Mau sampai kapan aku seperti ini? Tapi jika kutinggalkan, aku takut kehilangan kawan-kawanku. Mereka sangat modis dan mengikuti trend. Aku tak mau dijauhi karena penampilan yang udik, norak, dan kampungan.

Sampai rumah, aku menyiapkan air hangat di bak mandi untuk kakek. Ia masih sehat dan bisa mandi sendiri. Setelah itu, kubantu nyonya memasak untuk makan malam.

“Wati, kesini sebentar!” tiba-tiba Kak Lee Reen memanggilku dari lantai dua. Aku bergegas meluncur dan menghadapnya.

“Ada apa, Kak?” tanyaku.
“Aku punya teman kuliah asal Indonesia. Ia banyak bercerita tentang ibadah kalian.” terangnya.
“Lalu?” tanyaku.
“Apa menurutmu tak ada yang salah dengan dirimu?” ia kembali bertanya.
“Maksudmu apa? Tak ada yang salah dengan diriku. Aku sudah bersyukur kalian memberiku waktu untuk beribadah sesuai agamaku.” jawabku.
“Apa kau tak ingin merubah penampilanmu? Jangan tergoda oleh nikmat dunia!” pungkasnya dan pergi menuju ke ruang makan.

Memangnya apa yang salah dengan diriku? Aku tak pernah macam-macam, penampilanku juga wajar. Hari ini sudah dua orang yang menyentil godaan dunia. Tapi aku sama sekali tidak peka.

Makan malam telah siap. Aku duduk di samping kakek dan nyonya menikmati mie kuah rasa sapi serta sayur bayam sebagai pelengkap. Oh iya, mungkin ini saat yang tepat untuk menyatakan sesuatu pada kakak.

“Kak, aku mau ngomong.” kataku.
“Apa? Katakan!” jawabnya.
“Aku suka sama kaos yang kau pakai tadi pagi. Belinya dimana?” tanyaku.
“Kau ini tanya apa? Teman kuliahku selalu berbicara tentang khimar padaku. Tapi mengapa engkau berbeda, Wati!” tanyanya sedikit heran.
“Khimar? Siapa dia? Apa hubungannya denganku!” ucapku tak paham.

Ia diam tak melanjutkan pembahasan. Usai makan, aku langsung mencuci mangkuk lalu mandi. Masih ada sisa dua jam untuk mengantarkan waktu pada pukul sembilan malam. Kak Lee Reen terlihat sibuk dengan tugas kuliahnya, kakek dan nyonya menonton tv, aku sendiri bingung mau ngapain.

Oh, aku tahu. Kupikir tak ada salahnya jika aku bertanya pada nyonya dimana kakak membeli baju itu.

“Nyonya, baju yang dipakai Kak Lee Reen belinya dimana?” tanyaku.
“Apa yang membuatmu terus menanyakan hal itu, Wati? Apa kau selalu tergoda jika melihat pakaian pria yang menurutmu keren?” tanya Nyonya.
“Iya. Aku selalu jatuh cinta dan terobsesi untuk memilikinya. Apa itu salah?” aku kembali bertanya.
“Jangan tergoda dengan nikmat dunia!” pungkas Nyonya.

Jlep! Kalimat itu lagi. Aku heran, kenapa ya mereka selalu memberi jawaban serupa? Padahal baju yang kuinginkan sangat sopan, keren, dan modis. Tapi mengapa mereka seakan tak mengijinkanku untuk mendapatkannya?

“Sudah-sudah, waktunya tidur. Wati, jangan lupa kunci pintu gerbang!” perintah Nyonya.
“Baik.” segera kulaksanakan tugas terakhirku hari ini dan langsung istirahat.

***

Hari terus berlanjut. Musim-musim pun ikut berganti. Kegiatanku yang tidak begitu padat membuatku cepat merasa bosan, apalagi musim dingin seperti ini. Aku ingin libur seperti teman-temanku, tapi aku terkurung. Aku tak bisa menjelajahi Taiwan. Seperti apa eloknya? Bagaimana rasanya menikmati hujan salju di Yang Ming Shan? Sakit kah? Menyenangkan kah? Dingin kah? Aku tak tahu itu semua.

Tapi tak apalah, hari ini aku akan bermain salju di dalam kulkas. Membersihkan freezeer dari bunga es yg membeku. Ya, disana aku akan memperoleh gumpalan es yang unik, lalu kutaruh diatas telapak tangan.Terakhir, selfie bersamanya dan kusimpan dalam ponselku. Nanti jika sudah ada waktu luang, aku pasti mempostingnya di dinding facebook dan kububuhi caption tentunya.

“Hei kawan, lihatlah! Aku juga menemukan segumpal salju dari daerahku. Ya, inilah kembang es dari freezeer kulkas milik majikanku. Hahaha!” seperti itu kira-kira. Memang konyol, tapi itulah aku. Dengan begitu, hatiku sudah merasa senang dan kembali bersemangat untuk bekerja.

Suatu hari, aku diberi baju bekas oleh nyonya. Masih terlihat bagus dan aku suka. Hem kotak-kotak berwana merah dan hitam, serta beberapa helai kaos. Kalian tahu tidak, baju itu pernah dipakai siapa? Ya, siapa lagi kalau bukan si kakak. Nyonya mempunyai dua anak laki-laki. Keduanya memiliki sifat yang berbeda. Tapi kalau masalah pakaian, jangan ditanya lagi. Selera mereka sama, apalagi kedatangan aku. Wuih, kita sudah seperti tiga serangkai. Klop lah!

Meski begitu, aku tahu takaranku. Batasan-batasan seorang pembantu dengan majikan serta keluarganya tak pernah kulupakan. Aku bekerja juga tidak seenak jidatku sendiri.

Tepat pada hari minggu yang lalu, nyonya menyuruhku potong rambut. Tapi diisisi lain, ada bisikan dalam batinku untuk tetap membiarkan rambutku panjang. Aku perempuan, tapi banyak orang yang mengira bahwa aku seorang pria. Sempat berpikir tentang jati diri, tapi aku lebih nyaman berpenampilan tomboy seperti ini.

***

Entah pada bulan apa, aku lupa. Yang jelas akhir-akhir ini banyak postingan di facebook tentang ilustrasi bencana besar, siksa neraka, bahkan ilustrasi kehancuran dunia. Awalnya aku hanya mengabaikan video tersebut. Tapi semakin kesini, kok hatiku jadi gelisah, perasaanku tak enak. Aku ketakutan.

Malamnya, kami menonton tv bersama. Ada sebuah berita yang menayangkan tentang bumi pasti akan hancur. Lalu kakek bertanya padaku.

“Wati, kau percaya jika bumi akan hancur?” tanyanya.
“Percaya, Kek.” jawabku.
“Apa kau takut?” ia kembali bertanya.
“Takut lah, Kek.” ucapku.
“Hahaha, mana mungkin bumi akan hancur.” jawabnya terkekeh.

Berbeda keyakinan, berbeda pula pemikiran kita. Kakek tak percaya jika suatu saat alam semesta akan binasa. Menurutnya, berita di televisi hanya hoax saja. Tak sampai disitu obrolan kami, masih ada seumbruk celotehan dari kakak tentang Khimar. Aku penasaran. Seperti apakah Khimar? Cantik kah? Pandai kah? Bagiku, perempuan tersebut adalah orang spesial di mata kakak. Karena hampir setiap bertemu denganku, ia selalu membahasnya.

Kakak bilang bahwa Khimar itu sangat cantik, sopan, dan tidak pernah terbuka dalam urusan pakaian. Wah, pasti ia adalah wanita muslim yang taat. Hebatnya lagi, cewe tersebut bisa memikat hati anak majikanku yang tampannya tidak ketulungan ini. Uhuy, sepertinya si Lee Reen sedang jatuh cinta dengan Khimar.

Lima hari lagi aku menerima gaji. Kali ini aku akan membelanjakan separuh uangku untuk pergi ke distro. Disana terdapat beragam model pakaian pria, aku pasti hanyut dibuainya. Tapi tenang kawan, membeli satu baju saja sudah cukup buatku. Meski banyak pilihan yang melambai-lambai, tapi pikiranku tetap normal. Aku tidak akan boros.

***

Yes! Akhirnya nyonya memberiku gaji tepat waktu. Kebetulan kakak juga ada di rumah. Aku akan memintanya untuk memberi saran, seperti apa model baju terbaru minggu ini dan bagaimana memilih motif yang tidak pasaran.

“Kak, motif kaos cowok yang bagus seperti apa? Aku mau ke distro.” kataku.
“Tidak perlu ke distro. Besok aku akan memberimu hadiah yang cocok untuk kau pakai.” jawabnya.
“Wah, yang benar? Ok, baiklah. Aku menunggu hadiah darimu saja kalau begitu.” ucapku senang.

Kak Lee Reen memang baik dan perhatian. Dulu, pertama kali ia tahu kalau aku suka menulis, ia langsung memberiku hadiah berupa buku. Saat aku mencoba mengirimkan cerpen di salah satu majalah berbahasa Indonesia di Taiwan, ia juga memberiku semangat dan dukungan. Kalau teringat hal itu, aku jadi sedih. Bukan tanpa alasan mengapa aku sedih, hanya saja aku terharu. Keluarga ini benar-benar tak mengganggapku seperti pembantu. Bahkan, kedua anak nyonya pernah bilang bahwa aku adalah adik perempuannya yang harus dijaga.

Sesingkat pagi menjelma siang, esok pun datang. Aku sudah tak sabar menerima kado dari kakak. Sebelum ia berangkat ke kampus, cowo tinggi itu menitipkan kotak bingkisan kepada mamanya.

“Pagi, Wati. Ada titipan dari Lee Reen. Ia tak bisa memberikan langsung kepadamu. Ada kuliah pagi di kampusnya, jadi ia harus berangkat pagi-pagi.” beritahu Nyonya.
“Isinya apa, Nyonya?” tanyaku penasaran.
“Nanti kau juga tahu sendiri.” jawabnya.

Kotak bingkisan itu terbalut kertas berwarna merah maroon dan hitam, seperti warna kesukaan. Tapi, apakah isinya juga sesuai harapanku? Entahlah. Pagi ini aku harus ke taman mengajak kakek olah raga. Sebaiknya, kusimpan dulu kado cantik itu.

Setelah kakek mencuci muka, kami pun berangkat olahraga. Hari ini ia memakai kaos oblong berwarna kuning, celana kungfu hitam, sepatu merk Fila kesukaannya, dan memakai topi berwarna putih. Sungguh tampan! Semua teman kakek menyapa dengan ramah.

“Hai, selamat pagi.” sapa teman Kakek.
“Pagi.” jawab kami.
“Wah, kau sungguh hebat. Pagi-pagi sudah datang. Semangat ya!” pungkas laki-laki itu.

Kakek hanya tersenyum. Ia terlihat bahagia jika ada orang yang memujinya. Pujian merupakan penyemangat hidup bagi kakek. Namun ia tetap rendah hati. Lansia mantan guru itu selalu membalas dengan pujian pula.

“Kau juga hebat, kawan. Badanmu sangat sehat. Semangat ya!” jawab Kakek.

Usai jalan-jalan di taman, kami langsung pulang lalu sarapan. Setelah perut terasa kenyang, aku mulai menyibukkan diri dengan berbagai macam pekerjaan seperti, bersih-bersih rumah, belanja sayur, dan memasak.

“Khimar memang terlihat sangat cantik!” tiba-tiba terdengar suara Kak Lee Shin.
“Wah, Kakak sudah tahu Khimar ya? Seperti apa orangnya?” tanyaku penasaran.

Kakak pertama hanya tersenyum. Aduh, jangan sampai mereka berdua jatuh cintan dengan perempuan yang sama. Baju saja seleranya selevel, apalagi masalah asmara!

Usai mengerjakan tugas di pagi hari, aku menuju kamar. Kalian pasti tahu apa yang akan kulakukan. Membuka kado? Ya, benar. Aku sudah penasaran dengan isi kado dari kakak kedua. Tanpa menunggu lama, kubuka bingkisan tersebut.

“Lhoh! Apa-apaan ini!” ucapku lirih.
Aku bergegas kembali menemui kakak pertama di ruang tamu, siapa tahu ia mengerti maksud adiknya. Tapi sial, ia sedang berbincang-bincang dengan temannya melalui telepon. Baiklah, akan kutunggu kepulangan si tampan.

Jam makan siang hampir tiba, sebentar lagi orang yang kutunggu pasti muncul.
Mbreeem!!!
Terdengar suara motor memasuki garasi. Bagus! Ia sudah pulang.

“Wati, apa isi kado itu?” suara Kak Lee Shin membuyarkan lamunanku.
“Aku tak tahu.” jawabku sekenanya.
“Itulah khimar! Khimar yang kumaksud kemarin bukanlah orang, tapi kerudung itu. Aku tahu dari teman kuliahku. Ia selalu bercerita tentang ketaatan seorang wanita yang memakai baju longgar, dilengkapi hijab yang menutupi dada. Lalu, aku minta tolong padanya untuk membelikan khimar itu.” kata Kak Lee Reen yang ternyata suda ada di belakangku.

“Lalu maksudmu apa, Kak?” tanyaku. Aku tidak suka isi kado itu! Harapanku, ia memberi kaos model baru seperti miliknya. Bukan kayak gini!

“Wati, kau ini muslim. Taati perintah agamamu! Jangan karena tinggal di Taiwan, kau jadi mengikuti budaya kami! Tak selamanya kau berada disini, jadi kuharap, jangan terpengaruh oleh keadaan. ” tutur Kak Lee Reen.
“Tapi, Kak?” kataku.
“Sudahlah, pakai saja! Aku tahu kewajiban kalian. Jadi buat apa kau taat aturan kerja disini tapi tak mentaati perintah agamamu! Kita sekeluarga tak mau menanggung dosa.” ketusnya.
“Tahu darimana mengenai kewajiban itu?” tanyaku kesal.
“Temanku yang bercerita!” pungkasnya.

Sial, aku tersudut! Kak Lee Reen benar-benar tahu banyak tentang keyakinanku. Mulai saat itu, keluarga kakek menyuruhku memakai khimar, kerudung lebar yang menutupi dada. Kain itu jika kupakai seperti mengenakan mukena. Apakah tak merepotkan? Sepertinya aku harus menyediakan karet gelang untuk mengikat sebagian kainnya. Tapi, aku masih ingin berpenampilan kece dengan mengenakan kaos dan topi kesukaanku. Duh, aku jadi galau.

Seminggu terbiasa dengan kerudung jumbo, banyak tetangga yang ketakutan. Mereka yang biasanya menyapa, kini malah buru-buru pergi. Mengetahui tetangganya yang ketakutan, kakek dan nyonya menjelaskan kepada mereka, bahwa ini adalah agama dan kewajibanku. Bersyukur, akhirnya mereka mengerti dan memperlakukanku seperti sedia kala.

Dalam kesendirian, aku teringat kembali berita di televisi tentang kehancuran bumi. Semakin hari ada rasa takut yang menyelimuti. Bagaimana jika kiamat tiba-tiba datang sedangkan aku masih dalam kelalaian? Bukankah keluarga kakek sudah mengijinkan untuk mentaati agamaku? Kenapa aku tetap keras kepala menuruti egoku?

Aku kembali kepada-Nya. Pelan-pelan kutinggalakan obsesiku untuk tampil keren di mata manusia. Khimar dari kakak merupakan hidayah yang tak kuduga sebelumnya. Khimar yang kukira seorang wanita cantik ternyata ia adalah sehelai kain panjang dan lebar untuk melindungi kecantikan wanita sesungguhnya.

Dulu, ketika aku melihat perempuan yang memakai baju dan kerudung besar, selalu kuanggap remeh. Mereka terlihat kampungan dan tidak gaul. Tapi sekarang, aku salut. Mereka tidak ada yang sempurna, tapi mereka berusaha taat kepada Sang Pencipta. Apalagi musim panas akan segera tiba, pasti terasa melelahkan. Taat memang berat, namun akan terasa ringan jika mengingat akhirat.

Ada yang membuatku sedih saat khimar disalahkan. Ketika seseorang berhijab lalu melakukan kesalahan, banyak yang bilang lebih baik tak usah berhijab jika masih berbuat maksiat. Stop! Jangan pernah berbicara seperti itu. Hijab dan akhlak merupakan dua hal yang sangat berbeda.

Berjilbab adalah perintah Allah, wajib untuk wanita muslim yang telah baligh tanpa memandang akhlak baik atau buruk. Sedangkan akhlak merupakan budi pekerti yang tergantung pada pribadi masing-masing. Jadi, jika ada seorang wanita berjilbab melakukan dosa atau pelanggaran, itu bukan karena jilbabnya, namun karena akhlaknya. Yang berjilbab belum tentu berakhlak mulia, tapi yang berakhlak mulia pasti berjilbab!

Aku sudah sadar jika apa yang kulakukan dulu adalah salah. Menjadi perempuan tomboy memang memiliki nilai tersendiri di mata manusia, tapi tidak di mata Allah. Bodohnya lagi aku tertipu oleh nikmat duniawi hingga melupakan Dia yang menciptakan seluruh isi dunia. Selalu resah memikirkan model baju keluaran terbaru, tapi tak resah memikirkan sebanyak apa dosaku.

Kini, aku dan khimar telah menyatu. Seperti tulang rusuk yang dipertemukan. Setiap hari bekerja dengan kerudung besar, ternyata tidak membuatku kerepotan. Aku masih bisa melakukan aktifitas meski berhijab.

“Kamu sungguh cantik dengan khimar itu.” ucap Kakek kepadaku..Aku hanya tersenyum.

Khimar telah membawaku pada perubahan yang besar. Sikapku yang dulu seperti anak laki-laki, sekarang berubah menjadi lemah lembut dan tidak ceplas-ceplos. Yang biasanya tidak malu berbicara dengan kakak, sekarang mau menyapa saja sudah sungkan.

Keluarga kakek sangat hebat. Aku tak pernah mengira jika mereka sepeduli itu. Pengetahuannya yang luas tentang budaya Indonesia, membuatku semakin betah tinggal bersama mereka. Mengapa? Karena aku tidak perlu menjelaskan lagi mengapa aku puasa, sholat, dan merayakan idul fitri. Nyonya selalu menanyakan kapan waktu puasaku? Jatuh pada tanggal berapa hari raya umat islam? Ia lah yang selalu perhatian. Bahkan, tak jarang wanita tinggi itu membuatkanku makanan untuk sahur.

Aku tidak menyesal dulu pernah tomboy, tapi aku akan menyesal jika saat ini aku belum berubah. Kesempatan datang setiap hari, namun kita terkadang suka mengulur-ulur waktu dan akhirnya tidak jadi memperbaiki diri. Semoga hijrahku diterima oleh Allah dan aku akan berusaha istiqomah bersama khimar-khimar terbaruku.

Selesai.