阿信,你的真愛 Cinta sejatimu Ashin

 2016 Babak penyisihan 印尼文初選  

📜 阿信,你的真愛 Cinta sejatimu Ashin

👤 Enda Asnia

 

Ketika tahu, apa yang kamu mau tidak akan terwujud. Apakah kamu akan tetap berjalan pada jalan yang tak memiliki ujung?

Langit senja itu telah menghilang, tertelan gelap malam. Akan tetapi aku masih tetap terpasung pada bayang yang tak tentu.
Cinta, beribu cerita yang tak habis di bahas. Memiliki makna namun sulit diterka.

“Acen, aku mencintaimu dan ingin bersamamu. Akan tetapi aku tidak boleh mencintaimu,” katamu kala itu. Masih terekam jelas dalam ingatanku.
“Lupakanlah aku, carilah seseorang yang bisa membuatmu bahagia. Kamu masih muda, jangan sakiti dirimu dengan sesuatu harapan yang tak pasti,” katamu lagi yang hingga kini belum bisa kupahami maksudnya.
Akupun … Mulai lelah menerka.

Sejak perpisahan itu tak pernah lagi kamu memberi kabar padaku. Bayangmu hilang bersama rona senja yang berganti. Entah sampai kini aku tak pernah mengerti bagaimana gelas cinta kita bisa retak dan pecah.

***
Sinar matahari pagi begitu cerah, meski dingin tetap menyelimuti hari. Namun cuaca cerah ini berganti kelabu di hatiku.

“Acen, kamu bisa ke rumah sakit sekarang? Keadaan Keke mulai memburuk,” suara telepon di sebrang sana.

“Tunggu apa lagi, cepat siap-siap. Aku akan menggantarmu ke stasiun,” perintah Ayi padaku, setelah aku ceritakan keadaan Keke.

Ayi adalah sebutan bibi dalam bahasa Taiwan yang tak lain adalah majikanku. Ini adalah kontrak kedua kalinya aku di Taiwan. Karena yang pertama, Akong yang aku rawat meninggal. Tugasku adalah menjaga suami Ayi yang menderita penyakit Parkinson. Mereka sangat baik padaku. Meski tinggal di pelosok tapi pola pikir mereka begitu terbuka. Cara pandang berpikirnya begitu luas. Mengerti akan kegundahan yang aku alami. Bahkan dia memberiku izin libur untuk 3 hari. Betapa aku terharu dan hanya bisa mengucapkan terima kasih yang tak terhingga padanya.

Jika biasanya perjalanan antara Stasiun Tianzhong ke Stasiun Taichung membutuhkan waktu sekitar 1 jam dengan kereta lambat. Tapi tidak untuk kali ini. Kereta seakan terasa tidak bergerak. Padahal kereta yang kutumpangi kali ini kereta Exspres dan hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit saja. Apa mungkin karena kegundahan hatiku saja.
Tunggu aku, Ke. Ingat janjimu, batinku.

Di China Medical University Hospital, nampak keluarga Keke tengah menunggu dengan wajah penuh kekhawatiran. Mama Keke menyambutku dengan pelukan harunya. Sedang Keke entah apa yang terjadi di dalam ruang gawat darurat itu.

“Kadaannya sudah agak membaik, tapi masih lemas. Biarkan dulu istirahat sampai menunggu hasil tesnya keluar,” kata dokter ketika keluar ruangan.

“Adakah yang bernama Acen di sini?” tanya dokter kembali. Akupun maju.
“Ada baiknya nona yang menjaganya, nampaknya Chen Siensen menunggu anda. Nama andalah yang sering disebut dalam ketidaksadarannya,” Kata dokter itu padaku seraya meninggalkan kami. Setelah kami jawab dengan anggukan dan terima kasih.

Malam ini aku yang akan menjaganya hingga tiga hari ke depan. Hatiku kelu menatapnya tampak lesu dengan selang infus dan berapa peralatan medis di sampingnya. Kuusap lembut kepalanya.

“Ke, bangun aku rindu,” kubisikan dengan lembut di telingannya. Yaa, dialah lelaki yang selalu aku rindukan. Yang telah mencuri hatiku 4 tahun silam. Ketika kontrak kerjaku yang pertama kali di taiwan. Dia adalah cucu dari kakek yang aku rawat kala itu.

Anganku jauh menerawang. Teringat masa dimana pertama kali aku bekerja di keluarga Chen di daerah Taicung. Tugasku merawat Kakek lumpuh dan istrinya yang sudah tua tapi masih sehat. Keluarga Chen juga sangat baik padaku. Bahkan Nenek ingin menjodohkan aku dengan cucunya. Di keluarga itulah benih-benih cinta antara cucu kakek yang biasa kupangil Keke tumbuh dengan subur hingga kini. Dia bernama Chen Ming Shin biasa dipanggil Ashin oleh keluarganya. Keke adalah lelaki dewasa yang mapan, pekerja keras dan penuh kasih sayang. Tanpa kusadari telah mencuri hatiku. Apalagi keluarga besarnya begitu mendukung penuh hubungan kami. Hari-hari begitu indah bersamanya. Hinga sesuatu hal yang merubah semuanya. Merenggut semua senyum dan kebahagian kami. Ketika dokter memvonis ada kangker yang bersarang di livernya. Sejak saat itu hubungan kami terasa hambar. Pernikahan yang sempat kami rencanakan pun menguap entah kemana. Hingga dia memaksaku untuk melepasnya.
Karena dia merasa tak pantas untukku.
Aku mengerti, meski dia ingin menjauhkanku. Tapi aku sudah berjanji untuk menunggunya hingga sembuh.

***
Manusia hanya berencana takdir Tuhanlah yang menentukannya.
Keadaan Keke dari hari ke hari semakin memburuk. Karena alasan itulah kelurga besarnya ingin aku yang merawatnya. Apa lagi aku juga tidak tega meninggalkanya.
Dia membutuhkanku meski tak pernah mengatakannya.
Dengan melalui proses panjang, akhirnya aku bisa pindah. Tentu saja karena pengertian Bibi yang baik hati itu aku bisa pindah.

***
“Kesehatan Ashin, semakin membaik sejak kamu berada di dekatnya, Acen.” kata Dokter Huang
“Karena aku juga bahagia berada di dekatnya,” jawabku.

Sudah 3 bulan ini aku merawatnya. Selama itu pula keluar masuk rumah sakit sudah menjadi biasa. Tak pernah kumelihat lelah di wajahnya. Meski aku tahu raganya mulai rapuh. Dia selalu bersemangat menjalankan serangkaian pengobatan. Kemoterapi yang menyakitkan pun dilaluinya dengan senyuman.
Beruntung sekali Dokter yang merawat Keke adalah teman baik Keke. Meski kadang aku merasa aneh dengan perhatian Dokter Huang pada Keke, yang menurutku sedikit berlebih.
Hampir setiap hari, pagi sebelum masuk kerja dan sore ketika hendak pulang. Menyempatkan diri melihat Keke atau sekedar mengantarku membeli makanan kesukaan Keke, yang tidak didapati di sekitar Rumah Sakit.
Hari sabtu atau minggu juga datang membesuk. Aneh.

“Ke, kenapa aku merasa perhatian Dokter Huang padamu agak lebih dibanding pasien lain?” tanyaku, ketika kami menikmati sarapan di taman sekitar Rumah Sakit.

“Biasa saja Dokter Huang memang ramah dan baik pada siapa saja. Apa lagi aku adalah teman baik yang sudah lama tidak bertemu,” jawab Keke dengan enteng.

“Kenapa? Bukankah dia juga sangat baik padamu?”

“Sama juga, hanya aneh saja atau jangan-jangan … kalian memiliki hubungan yang spesial?” Tanyaku sambil merekatkan dua jari telunjukku.

“Hey! aku masih normal, Nona,” jawab Keke sambil menjitak kepalaku lalu terkekeh. Lantas Keke bilang Dokter Huang adalah sahabat lama yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Tidak disangka dia adalah dokter spesialis kangker di Rumah sakit ini.

***

“Nak, Lihatlah semua teman sebayamu sudah berkeluarga. Sudah cukup kamu bekerja di negeri orang. Pulanglah dan segera menikah,” pesan ibu dia via telepon. itulah sebait pesan yang selalu dan hampir selalu di ulang.

Aku tidak menyalahkan Ibu tentang keinginannya. Karena memang semua teman seusiaku sudah menikah. Ibu hanya cemas aku dicap perawan tua yang tidak laku diusiaku yang sudah 27 tahun ini. Memang begitulah mitos di kampungku. Mungkin aku disini tidak mendengar cibiran tetangga. Tapi tidak dengan Ibu yang setiap hari berinteraksi dengan mereka. Tidak ada orang tua yang rela anak gadisnya dicela.
Aku mengerti kecemasan mereka tapi …

“Telepon dari ibumu, kan? Pasti Ibumu menyuruhmu pulang dan menikah?” Tanya Keke membuyarkan lamunanku. Aku hanya menggeleng.

“Acen, menurutmu bagaimana dengan dokter Huang?” Tanya Keke kemudian.
“Baik hati dan ramah, kenapa?”
Keke menatapku lama, lantas menggeleng.
“Penuh tanda tanya,” dengusku kesal dan dia hanya tersenyum.

***
“Aku tahu waktuku tak akan lama lagi. Aku titipkan dia padamu, buatlah dia bahagia.” Kata Keke kepada Dokter Huang pada suatu malam, yang aku dengar tanpa sengaja.

“Hey, apa yang kalian katakan? Kalian pikir aku seonggok barang yang bisa di pindah kesana-kemari!” Kataku nanar menghujam ke arah mereka. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan sebelum kedatanganku. Tapi kata tadi sungguh sangat menyakitiku. Bagaimana bisa dia menyerahkanku pada orang lain.

“Acen, ini demi kebaikanmu,” kata Keke mencoba menjelaskan

Aku tak peduli dan berlari meninggalkan mereka dengan kecewa yang merajuk dada.

“Acen …!” teriak mereka.

Aku berlari menuju taman di sebrang jalan tak jauh dari Rumah sakit. Klakson mobil yang nyaring tak sedikitpun aku pedulikan. Karena aku begitu saja menyebrang jalan.
Di bangku kecil berwarna coklat yang terletak di tenggah-tengah taman kecil itu, kuluapkan kekesalanku.
Antara marah dan khawatir menjadi satu.
Bagaimana bisa mereka membohongiku, tentang keadaan Keke yang sebenarnya.
Pantas saja selama ini aku merasa seolah Keke sengaja mendekatkan aku dengan Dokter Huang.

“Untukmu,” kata Dokter Huang yang tanpa kusadari kedatangannya, sembari menyodorkan segelas minuman.

“Di luar dingin, kenapa memilih duduk disini?” kali ini melepas jaket dan menyelimutkan ke punggungku.
Aku hanya diam membisu.

“kamu pasti terkejut dengan apa yang kami bicarakan tadi?”

“Kalau boleh berkata jujur, sebenarnya aku sejak lama sudah menaruh hati padamu, bahkan sebelum aku bertemu denganmu. Aneh bukan? Tapi ini adalah kenyataan.”

“Lalu,” jawabku datar.

Aneh saja, bukankah tidak ada yang cacat dengan Dokter Huang. Dia seorang dokter muda yang sukses ramah dan tampan pula. Dengan apa yang dia punya kurasa tidak sulit untuk mendapatkan wanita idaman yang selevel dengannya. Bagaimana mungkin dia bisa jatuh hati dengan diriku yang hanya seorang pembantu.
Atau jangan-jangan dia bukan lelaki normal, semacam Gay mungkin. Hinga dia memilihku hanya untuk menutupi kelainannya itu.
Ah! Entah.

Nada panggilan ponsel milik Dokter Huang membelah kesunyian.
“Baik, aku akan segera datang,” jawab Dokter Huang setelah mengangkatnya.

“Acen, kondisi Ashin menurun lagi. Ada yang tidak beres dengan pernafasannya,” kata Dokter Huang seraya menarik tangganku lantas berlari menuju Rumah sakit.
Aku berlari dengan gemetar.
Sesampainya di depan kamar Keke. Dokter Huang melesat masuk ke dalam, sedang langkahku tertahan oleh suster yang tak mengizinkan aku untuk masuk.

“Ke, jangan sampai terjadi apa-apa padamu. Aku janji aku akan menuruti apa yang kamu mau,” lirihku dalam hati.

Tuhan, jika cinta adalah anugrah, dengan cintaMu anugerahkanlah kesembuhan untuknya.

***
Ini adalah hari kedua setelah Keke tidak sadarkan diri, sejak malam itu. Pagi itu, ketika aku kelelahan dan tertidur di samping ranjangnya. Sentuhan lembut di kepalaku membangunkanku.
“Ke, terima kasih telah bangun,” kataku sembari menekan bel untuk memanggil dokter.
Meski hanya tersenyum aku tahu dia hendak berkata dia baik-baik saja.

Sejak sadar dari komanya Keadaan Keke mulai melemah. Mulai susah untuk bicara dan menelan makanan meski itu hanya berbentuk cairan. Kata dokter kangker itu telah menjalar ke paru-paru dan menghambat pernafasannya.
Tapi senyumnya tetap selalu ada. Seolah menunjukkan pada orang-orang yang menyanyanginya untuk tidak khawatir.
Aku jadi ingat kata-kata Dokter Huang kemarin. Jika kemungkinan Keke untuk sembuh sangat tipis. Tubuhnya benar-benar telah melemah.

“Apa kau yakin dia akan membuatku bahagia, Ke?”
Keke menatapku lalu tersenyum dan mengangguk. Aku mengerti.

Aku hanya terdiam entah apa yang aku katakan lagi agar menenangkan hatinya. Pantaskah aku untuk Dokter Huang? Apakah mungkin aku menikah dengan orang lain sedang hatiku hanya terlukis namamu, Ke.

“Apakah kamu tahu, meski raganya lelah dia tetap mengkhawatirkanmu. Dia hanya ingin kamu bahagia dengan atau tidak adanya dia disisimu.” Kata Mama Keke yang sejak kemarin bersamaku menjaga Keke.
Pergilah beli sarapan, dari semalam kamu tidak makan. Ashin bisa sedih kalau kamu sakit. Ada aku disini kamu tak perlu khawatir. Oh yaa, ini untukmu dari Ashin. Aku lupa memberikan padamu waktu itu,” Sembari menyerahkan sepucuk surat berwarna merah muda padaku.

Setelah mengucapkan terimakasih pada Mama. Aku beranjak keluar dengan kemelut di hati.
Aku benar-benar berada di posisi yang sangat sulit, keadaan Keke yang terus memburuk, kontrak kerjaku yang hampir habis. Keluargaku di indonesia yang selalu memintaku pulang dan menikah.
Entah apa yang harus aku lakukan?
Haruskah aku egois dengan keinginnan ini. Sedang aku tahu harapanku dengan Keke sangat tipis. Meski aku yakin keajaiban itu pasti ada. Lalu apakah aku harus menerima ajakan Dokter Huang untuk menikah. sedang tidak ada namanya di hatiku. Bagaimana aku mengarungi bahterah rumah tangga tanpa cinta?

Aku berdiri cukup lama di seberang jalan depan rumah sakit. Mengamati aktifitas orang-orang dan lalu lalang kendaraan. Sedikit menenangkanku. Apalagi melihat Kakek dan Nenek bergandengan tangan. Mungin mereka sedang olahraga pagi. Aku kagum dengan mereka, sangat romantis.
Coba kalau di daerah sekitarku, pasti sudah jadi bahan tertawaan.
“Sudah tua masih seperti ABG pacaran saja. Kemana-mana bergandengan tangan.” Lalu bersama mereka tertawa terbahak-bahak.

“Sepagi ini melamun, sudah sarapan?” sapa Dokter Huang yang sedikit membuatku terperanjat. Sepagi ini Dokter Huang sudah datang, apa karena tahu Keke sudah sadar. Mungkin Mama sudah meneleponnya tadi.

“Bolehkah aku bertanya suatu hal padamu?”
“Boleh, tanya saja,”
“Kenapa kau sangat baik kepada Keke?”

Dokter Huang menghela nafas panjang, lalu menceritakan awal mula bertemu Keke.

“Jika bukan karena Ashin aku tidak akan menjadi seperti ini.” jawabnya.

Ternyata Dokter Huang adalah yatim piatu. Hinga dari kecil dia sudah biasa mandiri, bekerja sambil belajar. Menjadi kuli bangunan pun dia lakukan demi untuk biaya sekolah. Di tempat kerja itulah dia bertemu Keke. Yang kala itu menjabat sebagai mandor di sebuah proyek daerah Taipei. Ketika itu Dokter Huang Membutuhkan biaya untuk pendaftaran masuk universitas kedokteran yang sangat banyak.

“Aku tetap ingat ketika Ashin memberiku segebok uang. dia menyuruhku untuk tetap sekolah mengejar cita-cita agar kelak bisa membantu sesama.”

Aku tidak heran, Keke memang seorang yang berhati lembut dan dermawan. Aku sering melihatnya memasukkan uang lebihan belanja di kotak peduli yang tersedia hampir di seluruh pusat belanjaan ataupun di rumah makan. Dia juga seorang donatur tetap di sebuah panti asuhan.
“Menolong orang tidak harus banyak, meski hanya 1 Nt bisa meringgankan beban banyak orang,” katanya kala itu. Aku sangat bangga padanya.

“Kamu tahu, Ashin banyak bercerita tentang dirimu. Aku juga tahu kamu adalah dunia terindah baginya. Karenamu dia mampu bertahan hingga sekarang. Achen, Tidakkah kamu mau memenuhi harapan terakhirnya. Mungkin aku tidak sebaik Ashin, tapi aku akan berusaha menjadi yang terbaik untuk membuatmu bahagia.” katanya tiba-tiba.
Aku terhenyak, mencoba mencerna setiap kata yang membuatku binggung.

“Beri aku waktu untuk berfikir,” jawabku.

“Tapi Ashin tidak bisa menunggu, sisa waktunya tidak akan lama lagi.” Sergahnya.
Aku diam dengan tangis tertahan. Sesungguhnya aku sangat tahu tentang hal itu tapi aku selalu membohongi diriku sendiri. Kalau Keke baik-baik saja. Aku yakin dia akan sembuh.

***
Setiap yang bernyawa pasti akan mengalami mati. Dan pada akhirnya takdir Tuhanlah yang menentukan.
Keke telah pergi dengan senyum kedamaian.
Senyum yang akan terus tertinggal dan tak akan pernah aku lupakan. Seperti cintanya yang akan selalu hidup di hatiku. Dan aku akan bahagia dengan hanya mengenangnya.
Dokter Huang memang baik tapi cinta tidak semudah itu berpindah. Biarlah menjadi takdir Tuhan siapa jodoh yang akan menjadi pasanganku kelak.

“Maafkan aku yang tidak bisa menerimamu sebagai pengganti Keke. Kamu harus bahagia seperti pesan Keke pada kita. Selamat tinggal.”

Sebait pesan kukirim untuk Dokter Huang. Bagaimana pun juga tidak adil rasanya, jika aku pergi tanpa pamit. Setidaknya aku sudah memberi kabar meski hanya sebait kata.
Semoga kau temukan cinta yang lebih indah, Doa tulusku untuk Dokter Huang.

Sekarang aku sudah duduk di kabin pesawat Eva Airlines yang akan membawaku pulang ke negara asalku, Indonesia.
“Achen selalu tersenyumlah dan jangan menangis untukku. Berjanjilah padaku untuk selalu hidup bahagia.”
Isi surat dari Keke yang diberikan Ibunya ketika di rumah sakit dulu. Aku baru berani membukanya sekarang.
Sungguh saat ini yang aku inginkan hanyalah pulang. Aku ingin melepaskan segala sesak di dada. Ada mereka keluargaku yang selalu menunggu dan mendoakanku setiap waktu. Bersama mereka aku yakin akan lebih baik.
Aku rindu peluk ibu.

***
Di sebuah bangku kayu panjang berwarna putih, yang dikelilingi berbagai macam bunga. Dimana aku mengamati rona senja yang menakjubkan.

“Acen, kamu harus selalu bahagia?” kata Keke seraya mengusap lembut kepalaku.

“Aku pasti bahagia, Ke,” jawabku menatapnya. Terlukis senyum indah di wajahnya yang lebih muda dan bercahaya.

“Mbak, ayok kita turun. Pesawat sudah mendarat,” ajak teman yang duduk di sebelahku.

Aku terhenyak, ternyata hanya mimpi. “Terima kasih telah menemuiku meski hanya dalam mimpi. Terima kasih telah mengajariku tentang cinta sejati itu apa. Semoga kau bahagia di surga Tuhanmu. Aku pasti akan bahagia, ” doaku dalam hati.

Segera kubuka sabuk pengaman dan mengambil barang bawaan di bagasi atas. Dengan mantap berjalan keluar.
Ibu, aku pulang.
Changhua, Erl Sui


📜 阿信,你的真愛 Cinta sejatimu Ashin

👤 Enda Asnia

 

當你知道,想要的終將不會實現,是否會繼續往沒有出口的路前行夜晚吞噬了黃昏的天空,而我還被關在佈滿陰影的監牢

愛,數千個說也說不完的故事,有意義但難以捉摸

「阿岑,我愛妳也想和妳在一起,可是我不能愛妳。」當時的你這麼開口這句話仍在我的腦海
「忘了我吧,找一個可以讓妳幸福的人。妳還年輕,不要期待一個沒有結果的感情辜負自己」我至今仍然無法了解這句話背後的意義。

從那時起開始對無止盡的猜測感到疲憊。那次分離後,再也沒有你的消息。你的身影隨夕陽西下而消。至今,我仍然不知道當時我們的愛如何裂。雖然冷空氣籠罩,早晨的陽光還是如此眼。即使是晴天,在我心裡卻蒙上一層陰影

「阿岑,妳現在可以來醫院一趟嗎?哥哥的病情惡化。」電話中的聲音如此說道。
「還在等什麼?快準備,我送妳去車站。」阿姨聽到哥哥的狀況後,命令著。

阿姨,是對我雇主的台語稱呼,這是我在台灣第二次簽約。因為第一個我照顧的阿公已過世,目前我的責任,是照顧阿姨患有帕金森氏病的丈夫。他們對我很好。雖然住的地方很偏僻,但思想開放。他們很寬容,了解我目前煩惱的問題。他們還允許我請了三天深受感動的我,只能用無數感激表達謝意。

如果平時從田中車站到台中車站,搭乘慢車大概需要一個多小時,但這次並非如此,感覺火車無動靜,就算這次搭的火車是快速車只需要三十分鐘也一樣。是否因為我的煩惱呢?等我吧,哥。記得你的約定,我心裡說著。

在中國醫藥大學醫院,看到哥哥的家人焦慮等待。哥哥的媽媽感動地抱著我,哥在急診室的狀況,還不知道結果

「狀況有變好,但身體還是虛弱,實驗結果出來前先讓他休息吧。」剛走出急診室的醫生說道。
「有沒有人叫阿岑?」醫生問,我站了出來。
「有位小姐照顧也好,陳先生好像在等妳,他昏迷時反複念著妳的名字。」醫生一邊走、一邊向我們說道。我們點頭並表示感謝作為答覆。

今晚到後天,我都會照顧他,看著他身上連著點滴以及各種醫療器材讓我感到心,我輕摸著他的頭。

「哥,醒來吧,我想你。」我在他耳邊輕輕說。是的,他是我一直念著的男人。四年前奪走我心的男人。我在台灣簽第一份工作合約時,哥是我以前照護者的孫子。我的責任,就是照顧行動不便的阿公以及年紀已大但身體仍然很健康的妻子。陳家對我非常好,奶奶想撮合我和她的孫子,在這個家庭種下我與哥哥的愛情種子,至今依然茁壯。他的名字是陳明信,家人稱呼他阿信,哥哥是個性格篤定、認真,又充滿著愛的男人。不僅無意中,奪走了我的心,加上這個大家庭如此支持我們兩個人之間的關係,所以跟他度過的每一天都如此美麗。直到發生一件改變一切的事,奪走了我們所有笑容、快樂。當醫生宣布他的肝癌那一刻起,我們之間的感情變冷淡。規劃的婚不知道耽擱到哪了。至今,他仍然強迫我放下他,因為他認為他配不上我。

他想要我遠離他的心情,我懂。但在我心裡已經做了等他痊癒的承諾。

***

人類只能規劃,上帝的安排才是關鍵。

哥哥的狀況一日接著一日惡化。因為如此,他的家人希望我繼續照顧他,而我也捨不得離開。他需要我,雖然他不曾開口經過漫長的過程,我終於可以搬過來。當然是因為貼心的阿姨,讓我能夠順利搬

***

「自從妳待在阿信身邊,他的狀況變得更好了,阿岑。」黃醫生說。
「我在他身邊也很快樂。」我回答。

照顧他,已過了三個月。這段期間,進出醫院已經成為習慣。我從來沒在他的臉上看到一絲疲倦。雖然,我知道他的身體越來越虛弱他一直都很樂意接受化療,他帶著笑容經歷痛苦的化療。幸運的,照顧哥哥的醫生是他的好朋友。雖然,有時我覺得奇怪,因為黃醫生對哥哥的關懷對我來說有點太多。幾乎每一天早上上班前還有下午下班前。他都會來探望哥哥,或是帶我去買哥哥喜歡的食物,即使這些食物不在醫院附近。禮拜六、禮拜天,他也會來探望,真奇怪。

「哥,為什麼我覺得黃醫生對你的關比其他病人還要多?」當我們在醫院附近公園吃著早餐時,我問哥哥。
「還好吧,黃醫生本來就對每個人很友善,很好。更何況我們是很久沒見的好朋友。」哥哥毫無疑慮地回答。
「怎麼了?他對妳也很好?」
「一樣阿,只是覺得奇怪,還是…你們之間有什麼特別的關係?」我把兩根食指靠在一起問。
「小姐!」哥哥輕打我的頭,嘴裡傳來微微笑聲。哥哥接著解釋,黃醫生是他多年未見的好朋友,他也沒想到黃醫生現在竟然是醫院裡的癌症專科醫師。

***

「孩子,看看跟妳同齡的朋友們,都已經結婚成家,在國外討生活已經夠了,趕快回來結婚吧。」媽媽在電話裡叮嚀著,這句話反覆被提起

我不責怪媽媽的催促。的確,跟我同年齡層的朋友們都已經結婚了,媽媽擔心,二十七歲這把年紀,會被大認為是老處女,銷不出去。在我的家鄉,的確有這種觀念。雖然我在這裡不會聽到鄰居八卦,但是每天與他們相處的媽媽不是如此。天底下沒有父母親忍心看著自己的孩子被別人說閒話。我可以理解他們的擔心,但是…

「妳媽媽的電話吧?媽媽是不是叫妳趕快回去結婚?」哥哥的問題,把我從小世界拉回來,我搖了搖頭。
「阿岑,妳覺得黃醫生如何?」哥哥又問道。
「好心又友善,怎麼這樣問?」哥哥深深望著我,搖了頭。
「搞神祕。」我生氣的嘆了口氣,而哥哥上只掛了個微笑。

***

「我知道我時間不多了。我把她交給妳,讓她幸福吧。」有一晚,哥哥這樣告訴黃醫生,我不小心聽到了。
「你們在說什麼? 我不是可以搬來搬去的物品!」我昏了頭似的,用我的母語喝斥他們。雖然我不知道之前他們究竟說了什麼,可是那句話深深傷害了我。他怎麼可以把我交給了別人呢?
「阿岑,這是為了妳好,」哥哥試著解釋。不管,我帶著極度失望的心跑離他們。
「阿岑…!」他們喊道。朝離醫院不遠的公園跑著,即使汽車傳來刺耳的喇叭聲我也不理睬。我就這樣過了路。

在那座位於在公園正中央的棕色椅子,我放任自己的悲傷宣洩憤怒與擔心融為一體。他們竟然隱瞞哥哥的狀況,欺騙了我。難怪我覺得這段期間哥哥試著拉近我與黃醫生的距離。

「給妳。」我沒發現到黃醫生的來臨,他拿著一杯飲料對我說
「外面這麼冷,為什麼坐在這裡?」他脫下了外套,將它在我身上。我一句話也不說,繼續保持沉默
「妳一定是被我們的話題給嚇到了吧?」
坦白對妳說,很久以前我就對妳有意思了,甚至見到妳之前就有這種感覺,奇怪吧?但這是事實。」
「然後呢。」我毫無表情的回答。

我只是覺得奇怪,黃醫生身上並沒有缺什麼。他也是個成功、友善、又帥的年輕醫生。以他的條件,我相信對他來說,找到與他匹配的女人並不困難,怎麼可能喜歡上只是幫傭的我。還是他不是一般的男人,同性戀那種。所以他找我來掩蓋關係哎!不知道。

黃醫生的手機鈴聲,打斷了我們之間的沉默

「好,我馬上到。」黃醫生接到電話後回答。
「阿岑,阿信的狀況又惡化。他的呼吸管道問題。」黃醫生說道,拉著我的手往醫院奔跑。發著抖奔跑。到了哥哥的房門前。黃醫生立即進入房,而我被護士擋
「哥,不要讓任何事情發生在你身上。我答應你,你要什麼我都答應。」我在心裡哭求著。上帝,如果愛是祢賜給的恩典,請他痊癒吧。

***

從那晚算起,這是哥哥不省人事的第二天。那一早,我因為太累在他床邊睡著了。哥輕輕撫摸我的頭,喚醒了我

「哥,謝謝你醒來了。」我對他說,按著呼叫醫生的按鈴。雖然只是笑著,但我知道他想表達他沒事。

從昏迷中醒來後,哥哥越來越虛弱無論說話,還是食物,就算是液體的食物都很困難。醫生說癌症已經影響了他的肺還有呼吸管道。但他依然保持笑容,像是對身邊關心他的人說不要擔心。我想起了黃醫生昨天的話,哥哥痊癒的機率渺小,他的身體真的很虛弱。

「你確定他能讓我幸福嗎,哥?」哥哥望著我,微笑著,點了頭。我懂了。我只能保持安靜,因為自己也不知道可以說什麼讓他放心。我配得上黃醫生嗎?我能嫁給其他人,但我心裡仍然畫著你的名字嗎,哥?

「妳知道嗎,雖然阿信身體衰弱,但是他仍然擔心著妳。只想讓幸福,即使他不在妳身邊。」從跟著我一起照顧的媽媽說道。
「去買早餐吧,從昨天晚上到現在妳都沒吃東西。阿信看到妳生病會傷心。有我在這裡不用擔心。對了,這是給妳的信,我上次忘了拿給妳。」她遞了一封粉紅色信給我。我跟媽媽說聲謝謝,帶著打結的心離開房間。

我的處境真的很艱難,哥哥病情惡化,我的工作合約即將到期,而印尼的家人一直想要我回家結婚。我該怎麼辦才好呢?我是否自私的追求這個願望?雖然我也知道,我和哥哥在一起的願望如此渺小,即使我相信奇蹟的存在。然後,我是否接受黃醫生的求婚,就算心中沒有愛這個名詞的存在,我要如何在無愛的狀況下建立我的家庭?在醫院對面的那條路一會兒。觀察著人來人往的活動和車輛這麼做讓我平靜了一點。尤其看到牽著手的爺爺、奶奶,或是在做早操的老人家。我羨慕起他們,好浪漫。在我家鄉,會被嘲笑吧?

「都已經那麼老了,還年輕人談戀愛,去哪裡都牽手。」相信他們會笑成一團
早就在放空,吃早餐了嗎?」黃醫生招呼讓我吃驚。這麼早黃醫生就來了,是因為知道哥哥醒來了嗎?可能媽媽剛剛打了電話給他。
「我可以問你一個問題嗎?」
「可以啊,問吧。」
「為什麼你對哥哥這麼好?」黃醫生嘆了很長的氣,開始敘述當初如何認識哥哥。
「如果不是因為阿信,今天的我不是這樣。」他回答。

原來黃醫生是個孤兒。所以從小就習慣獨立,半工半讀長大。建築工人也曾經是他為了繳交學費而做的工作。那時候,他遇到了哥哥,當時主導台北其中一個建設案的哥哥。當時黃醫生,需要一大筆錢來繳交醫學院的入學費。

「我深深記得,阿信當時給我一疊鈔票,叫我繼續念書、追求夢想,未來才能幫助更多人。」我不覺得稀奇,因為哥哥本來就是個溫柔又慈善的人。我發現,他時常會把買東西剩下的錢,投入各地的超市、餐廳設立的公益箱。他也是一家孤兒院的固定捐款者。

「幫助別人不用多,就算是一塊錢也能幫助很多人減輕負擔。」他當初如此我說,我以他為
「妳知道嗎?阿信常常提到妳。我知道妳是他最美麗的世界。因為妳,他才能堅持到現在。阿岑,妳不想實現他最後的願望嗎?我雖然沒有阿信好,但我會努力做最好,讓妳幸福。」他突然說道。我吃驚地試著消化剛剛聽到,令我頭昏的句子。

「給我時間思考。」我回答。
「可是阿信不能等,他剩下的時間不多了。」不知覺中更大聲了。

我忍住眼淚,保持靜。事實上我很清楚,但我依然一直欺騙著自己─哥哥沒事,我相信他會痊癒。

***

每一個生命,終將面臨死亡。最後,還是上帝決定了一切。

哥哥帶著平靜的笑容離開了。我絕對不會忘記哥哥的笑容,他的愛將永遠在我心中,我在緬懷他時,找到何謂幸福。黃醫生的確很好,但愛不是這麼簡單就能換手。讓上帝決定我生命中的另一半吧。

「對不起,我無法接受你來替代哥哥的存在。你要哥哥說的願望一樣,幸福、快樂啊。再見。」我寄了一則訊息給黃醫生。再怎麼說,如果不說一句就離開,對他很不公平。至少我有告知他,雖然只是短短的句子。希望你找到更美麗的愛情,我為黃醫生祈禱著。現在,我坐著將把我帶回祖國的長榮航空,印度尼西亞。

「阿岑,微笑吧,不要為我而流淚。答應我,要一直快樂過生活。」是哥哥的媽媽之前在醫院遞給我的信。直到現在,才找到開的勇氣。真的,我現在只想回家。我想要放下所有悶在心裡煩惱。在家鄉,有一直等待並未我祈禱的家人,跟他們在一起,我信會更好。我想念媽媽的擁抱。

***

在一座白色長椅,四周被各種的花兒圍繞著,我欣賞著黃昏令人讚的美麗。

「阿岑,要一直快樂喔。」哥哥撫摸著我的頭說道。
「我一定會快樂的,哥。」我望著他回答。在他更年輕,發亮的臉有著美麗的微笑。
Mbak[1],下飛機吧,飛機降落了。」坐在我隔壁的朋友說。
我嚇了一跳,原來是一場夢。「謝謝你來找我,雖然只是一場夢。謝謝你教了我什麼真愛。希望你在你的天堂過得快樂,我一定會快樂。」我在心裡祈禱著。

我解開了安帶,拿下上的行李。踏出穩定的腳步。

媽媽,我回來了。

彰化,Erl Sui

[1] 爪哇文,小姐的意思


Comment  This story is not too good, but her language is passable. This story is popular story, not is literary work.  這個故事不是太好,但她的語言尚可。這是個受歡迎的故事,但不是文學作品。