沖繩海灘上的曙光 KEJORA DI PANTAI OKINAWA

 2016 Babak penyisihan 印尼文初選  

📜 沖繩海灘上的曙光 KEJORA DI PANTAI OKINAWA

👤 Diaz Ibrahim

 

Salim terus mengeluh, ketika jatah makan siangnya hanya berupa stim ikan hasil tangkapan kemarin. “Stim ikan lagi, stim ikan lagi. Kapan kita masak daging putih hewan dari darat?” Gerutunya. “Harga ikan lebih mahal dari ayam, loh. Lim.” Timpal Furqon, meledek teman kerjanya itu. Salim yang terbiasa dengan masakan Indonesia yaitu ikan digoreng dengan minyak banyak sampai kering dan rasanya gurih. Sementara tekstur ikan yang masak dengan cara distim membuat rasa ikannya lembek, tidak cocok dengan lidahnya.

Sementara aku ada di antara candaan mereka, di atas goyangan ombak, di tengah suara bisingnya mesin, dan di antara kerasnya suara deburan ombak. Masih ada dua kawan seperjuanganku lagi, yang dari Indonesia juga. Mereka adalah Wahyu dan Ilmi. Sementara sisanya ada 5 orang lainnya berasal dari Filipina. Kami semua adalah ABK (anak buah kapal). Ilmi merupakan salah satu nelayan di laut Pantura Eretan Indramayu. Tidak heran sejak kedatangannya lima bulan yang lalu, ia belum sekalipun mengalami mabuk laut seperti Wahyu dan Furqon, yang sampai saat ini, terkadang masih saja mabuk ketika guncangan ombak besar menggoyang perut mereka.

“Besok kita akan ke darat, apa yang akan kau lakukan?” Tanya Ilmi padaku. “Aku mau ke pasar dulu, cari oleh-oleh buat anak dan istriku.” Jawabku semangat. Menyambut kepulanganku minggu depan, sungguh sangat membuatku tidak sabar. Senyum istriku, Dewi. Kian kerap masuk dianganku. Galuh, putra semata wayang kami yang selama ini pertumbuhannya hanya bisa aku lihat dari layar ponsel saja. Aku ingin sekali memeluknya, menciumnya dan membopongnya di pundakku, kemudian memutar-mutarkannya di udara.

“Kalau begitu kita bareng ya, Kang.Tapi sebelum itu aku mau minta tolong lagi seperti biasa pijatin aku dulu ya, Kang. Pinggangku sakit dari kemarin.” Tambah Ilmi lagi.
“Baiklah nanti akan aku pijat.”
“Beruntungnya aku punya teman kerja tukang pijat .” Candanya yang membuatku tertawa geli.
Sepertinya dia juga tidak mau melewatkan kesempatan menghirup udara segar daratan setelah 4 hari kami hanya memghirup aroma lautan. Dan lagi majikan kami Tuan Lee, selalu memberikan bonusnya pada semua ABK setiap kali kita mendarat.

Kapal sebentar lagi merapat ke pelabuhan. Kota Kaosiung mulai tampak jelas. Aku segera meraih ponselku. Berlari kecil menuju haluan. Barisan sinyal yang dari tadi timbul tenggelam. Kini dua baris berdiri diam di tepi layar ponselku. Ada 8 pesan, dan 10 panggilan tak terjawab yang masuk di aplikasi line-ku. Dari istriku. Aku tersenyum kecil ketika kubuka pesan yang salah satunya berupa vidio Galuh yang sedang belajar membaca. “Aku merindukan kalian,” balasku.
***

Aku dan keempat temanku menuju pasar malam di daerah Zoying tidak jauh dari tempat tinggal kami. Kelima anak Filipina itu sudah kami ajak tapi mereka menolak halus. Salim, Furqon, Wahyu dan Ilmi mereka sepakat berkaraoke dahulu di toko Indonesia. Aku menolak ajakan mereka. Masih banyak barang pesanan Galuh yang belum aku beli. Ini adalah kesempatan terakhirku berbelanja. Tidak ada waktu lagi. Jadwal penerbanganku ke Indonesia sudah di depan mata.

Malam sudah larut tapi mes tempat tinggal kami masih sepi. Tidak ada anak Filipina dan keempat teman senegaraku juga belum pulang. Padahal besok pagi-pagi sekali kita sudah melaut lagi. Diantara mereka memang akulah yang paling tua dan sudah berkeluarga, aku sering sekali menolak ajakan mereka yang memintaku minum alkohol bersama.
“Mungkin mereka minum-minum lagi.” Tebakku. Akupun tak menunggu dan merebahkan punggungku di atas matras. Tepat jam 11 malam, aku mendengar suara mereka pulang. Aku terbangun. Dan benar saja, Ilmi dan Salim mereka mabuk berat. Furqon dan Wahyu mereka berdua yang tidak mabuk membawa teman kerjanya itu pulang.

“Kenapa kalian biarkan mereka mabuk? Sebentar lagi kita akan melaut. Bagaimana kalau bos tau? Lagi pula bisa bahaya melaut dalam keadaan mabuk!” Jelasku pada Furqon dan Wahyu.
“Sudah kami larang, Kang. Tapi, mereka memaksa.” Balas Wahyu. “Tapi kami tadi sudah beli obat penghilang mabuk, Kang. Seperti biasa.” Ucap Wahyu lagi. Tidak lama kemudian anak-anak Filipina tiba. Kedatangan mereka pun membawa aroma alkohol yang lumayan menyengat pula. Aku melihat salah satu di antara mereka, ada yang terluka di bagian wajahnya. Terlihat seperti luka pukulan. Namun ku urungkan bertanya. Karena seperti awal kesepakatan kami, tidak ikut campur masalah masing-masing. Ini cara kami menjaga hubungan baik sesama rekan kerja antar negara.
Pukul dua pagi kami sudah di atas kapal. Beruntung Ilmi dan Salim sudah lebih baik. Dan anak Filipina mereka yang mukanya lebam itu, kulihat ditutupi dengan menggunakan masker. Bos tidak tahu anak buahnya masih sedikit mabuk. Kami memang beruntung punya bos yang baik hati. Bos tidak saja selalu memberikan kami bonus. Tapi dia juga tidak banyak aturan sehingga kami semua pun sangat menghargainya.

Kapal trol penangkap ikan tuna ini semakin jauh melaju dan terus jauh meninggalkan pelabuhan Kaosiung. Disusul semakin jauh sinyal yang ada di layar ponselku. Kini hiburanku adalah bintang-bintang di langit sana, ikan-ikan besar yang kami tangkap dan teman-temanku. Kami yang menggantungkan nasib pada lautan ini. Harus, menghadapi ombak besar, melawan dinginnya suhu malam di tengah lautan. Dan menghadapi resiko bahaya kapanpun. Kami saling menjaga dan saling bercanda mengisi kerinduan akan keluarga kami masing-masing. Pekerjaanku adalah menarik jaring, sebenarnya ringan karena hanya bekerja ketika tombol tanda mengangkat jaring berbunyi. Tapi dengan ini, aku harus siap 24 jam, karena kapan saja tombol itu bisa berbunyi yang artinya jaring harus diangkat karena penuh berisi ikan.

***

Aku masuk ke kamarku karena tugasku mengangkat jaring sudah selesai. Butuh waktu beberapa jam lagi untuk mengangkat jaring berikutnya. Kubaringkan badanku yang sedikit merasakan ngilu di bagian pinggang. Akupun terlelap.

“Brukkk …. Brukk …” Seseorang menggedor pintu kamarku dengan keras. Itu seperti suara Ilmi. Aku buka, dan benar saja.
“Ada apa, Mi?” Tanyaku, tapi ia tidak menjawab. Ia segera , menarik lenganku. “Cepat keluar dari kamar, Kang!” Aku yang masih setengah sadar karena masih larut dalam kantuk, segera menyadari tempat yang aku pijak ini sedikit miring. Kami berlari ke geladak utama.

Mereka sudah berkumpul di geladak utama. Bos, kapten kami itu . Dia menyuruh kami menggunakan pelampung. Sinyal bahaya sudah dia kirimkan. Dan bantuan segera datang jelasnya panjang lebar. “Ada masalah pada mesin.” Imbuhnya lagi.
Aku tertegun. Lututku gemetar. Tangisan Furqon yang keras makin membuatku gemetar. Anak-anak Filipina yang berbadan kekar-lekar itu pun semua panik, mereka menangis sembari merapal kata-kata yang enatah aku tidak tau artinya. Aku raih ponselku, dengan tangan, gemetar, meski kutahu itu sia-sia. Tapi, aku berharap keajaiban itu ada. Aku menulis pesan pada kontak istriku. “Ayah mencintai kalian.” Aku teringat senyum Galuh, paras cantik istriku, dan baju-baju yang aku beli kemarin di pasar untuk mereka.

“Tuhan … Kau akan mempertemukan kami sebentar lagi bukan? Aku sudah menggenggam tiket peswat yang menuju ke anak istriku. Tolong, Tuhan … jangan kau buatkan aku tiket meujuMu sekarang. Beri aku kesempatan untuk hidup, Tuhan!” Doaku dalam hati.
Langit masih gelap. Ombak yang sering menggoyang kami itu tidak muncul. Air laut begitu tenang, seperti sengaja menunggu detik-detik kapal yang kami naiki ini karam. Sementara kapten sibuk dengan telepon daruratnya. Ia hampir membanting alat satu-satunya penghubung kami dengan bantuan itu. Ilmi yang sejak kecil tumbuh dan besar di lautan. Dia dengan berani mengajak kita untuk menceburkan diri ke air laut yang dinginnya mencapai minusan derajat itu.
“Jika tidak segera lompat, kita akan tenggelam bersama kapal. Ayo lompat, bantuan sebentar lagi datang!” Ajak Ilmi. Kapten terdiam. Wahyu celingukan ke sekelilingnya mencari jawaban. Aku paham Wahyu sama denganku, jika semua memutuskan lompat ke laut akupun ikut mereka.

Haluan semakin tenggelam dan buritan terus mengangkat badannya naik kepermukaan. Kami masih tidak bergeming, diam di tempat seolah tidak ada arah untuk melangkah. Namun Tiba-tiba Ilmi mendorongku bersama dengannya melompat ke air laut. Tidak lama Wahyu melompat disusul Kapten dan anak-anak Filipina lainnya.
Furqon pingsan melihat kami melompat ke laut dan Salim menjerit meminta bantuan kami. Badanku seperti ditusuk balokan es, dingin air laut menjalar keseluruh aliran darahku. Kami tidak mungkin bisa kembali ke kapal dan menyelamatkan Furqon. Tapi, lagi-lagi aku dibuat kagum dengan Ilmi, dia berenang dan naik ke atas kapal kembali dan memberikan bantuan pernapasan pada Furqon. Aku melihat ketiganya lompat dari badan kapal yang sebentar lagi karam. Karena tidak sanggup menahan dingin, mataku sudah semakin buram, samar aku melihat Ilmi memegang Furqon. Kami semua bertumpu pada ban karet. Dan setelah itu semuanya gelap bagiku.

***

Kejora itu aku lihat kembali di langit yang sangat asing bagiku. Aku mendengar jeritan dan teriakan suara yang aku tak mengerti artinya. Sedikit aku menoleh, aku berada di atas tandu darurat. Selang infus menancap di tanganku, selimut tebal melilit badanku. Dan aku dikelilingi petugas bermata sipit. Aroma laut masih aku hirup. Deburan ombak masih samar aku dengar.

“Kau sudah sadar! Namamu siapa?” Tanya seorang laki-laki dalam bahasa mandarin. Aku tidak bisa menjawab karena lemas.
“Kau dari kapal Taiwan kan? Kami petugas pantai Okinawa, kebetulan sedang berpatroli dan menerima sinyal darurat dari kapal kalian.Kami menyelamatkan kalian, hanya satu yang tidak tertolong itu karena selain mengalami hipotermia dia juga ada luka di kakinya. ” Ucap petugas itu lagi. Tapi aku masih tetap tidak bisa menjawab. Aku terus melirik bungkusan besar tidak jauh dari tanduku itu. “Itukah jenazah diantara kami yang tidak selamat?” Tanyaku dalam hati.

Aku melihat Fuqon yang juga diatas tandu dan langsung di bawa ke dalam ambulan. Salim, Kapten, dan anak-anak Filipin. Lalu aku berdua dengan Wahyu dibawa dalam mobil yang sama. “Lalu di mana Ilmi? Itu kau kah, Ilmi … Bagiamana aku membayar hutang nyawa ini padamu nanti?”
Tamat


📜 沖繩海灘上的曙光 KEJORA DI PANTAI OKINAWA

👤 Diaz Ibrahim

 

薩利姆總是抱怨,午餐又是前天他所捕獲的蒸魚。「蒸魚、蒸魚,又是蒸魚。我們到底什麼時候才能吃到陸地上的白肉?」他繼續發著牢騷。

「利姆,魚肉可是比雞肉還貴耶」,同事福爾根故意逗他。習慣印尼飲食的薩利姆,喜歡吃用大量的油把魚炸得又乾又酥脆的魚肉,軟軟糊糊的清蒸魚實在不合他的胃口。

就這樣,我夾在他們的玩笑話;海浪的搖籃;吵雜的機器聲;海浪拍打的高音中。在船上,我們還有兩位來自印尼共同打拼的朋友─瓦由、伊爾米。剩下五位是來自菲律賓的夥伴,我們全都是船員。伊爾米本來就在Panture Eretan Indramayu當漁夫。自從五個月前加入我們一次也沒像瓦由和福爾根一樣狼狽暈船。直到現在,當大浪攪動瓦由和福爾根的肚子時,兩個人還是會暈

「我們明天就要登陸了,你想做什麼?」伊爾米問。
「我打算先到市場,找找看有什麼禮物可以買給我的老婆和小孩。」我興奮的回答。

我已迫不及待迎接下週的返鄉時間。我多麼想念那經常出現在我的夢裡,臉上總是帶著微笑的老婆─黛維;還有我可愛的兒子─嘎魯。一直以來只能從手機螢幕看到他的成長過程。我超想抱抱他、親親他,把他拎上我的肩膀,然後在空中轉圈。

「那樣的話我們一起走,好嗎?但在那之前請跟往常一樣,幫我接摩一下,好不好?我的腰從昨天痛到現在。」伊爾米說。
「好吧,等等幫你按摩。」
「我很幸運能夠有一位懂按摩的朋友。」他的話逗得我哈哈大笑

他似乎跟我一樣,也不想錯過呼吸陸地上的新鮮空氣,在海上四天,我們只能吸到海洋的味道。不過我們的老闆,李先生人很好,時常在靠岸的時候發放獎金給每一位船員。船再過不久就要進港,高雄市的市景也越來越清楚。我立刻抓手機,小跑到船頭。看著載浮載沉的訊號,有兩個定格出現在手機螢幕邊緣。一連上訊號,立刻收到八封訊息、十個未接來電出現在我的line都來自我的老婆。我看著螢幕笑看了臉,打開其中一封訊息,裡面是嘎魯正在學習閱讀的影片。

「我好想你們」我回。

我和四位朋友,到了離我們住處不遠的左營夜市。雖然我們邀了那五位菲律賓同事但被婉拒。薩利姆、福爾根、瓦由和伊爾米決定先到印尼店唱卡拉OK。這次換我婉拒他們的邀約,我還有很多想為嘎嚕買的東西還沒買,這是我最後一次買東西的機會。眼看就快沒時間了,我回印尼的航班近在眼前。

夜已深,我們所住的宿舍仍然很安靜。菲律賓船員和我那四位同鄉還沒回來,明天一早還得出海捕魚呢。話說回來,我在他們之中年紀最長也已成家,這也難怪為什麼我經常拒絕一起喝酒的邀約。

「他們很可能又在喝了。」我猜,我決定不等他們回來,逕自躺到床上。直到晚上十一點,我聽到他們回來的聲音醒了過來,如我所料,伊爾米和薩利姆喝茫了,沒有喝醉的福爾根和瓦由帶他們回家。
「你們怎麼讓他們喝到爛醉?我們等一下就要出海。要是老闆知道怎麼辦?醉醺醺出海是很危險的!」我對著福爾根和瓦由說。
「哥,我們有阻止呀,但是他們堅持我們也沒辦法。」瓦由回我。「但我們跟平時一樣,有買解酒藥。」沒多久,菲律賓船員也回來了,他們身上也帶著相當剌鼻的酒精味。我看到其中一人臉上受傷,看起來好像被打了,但我沒問。因為我們一開始就說好,不要干涉彼此的問題,這是我們保持彼此不同國籍,同事之間良好關係的相處之道

凌晨兩點,我們紛紛上船,幸好伊爾米和薩利姆狀況比較好了。那位臉上腫腫的菲律賓船員,我看他用口罩將臉遮起來。老闆沒查覺到他的船員還有一些醉意。我們很幸運有一好心的老闆,不但常常分紅給我們,也沒有給我們定很多規定,所以我們都非常尊重他。

這艘捕鮪魚船,漸漸離高雄港,離港口越來越遠。手機的訊號,也跟著船的行駛慢慢消失。現在我的娛樂就是天上的星星、捕的大魚和我的朋友。依賴海洋維生的我們,必須面臨巨大的浪潮,抵禦夜間驟降的溫度,還有任何時候都可能遭受危險的可能但是我們互相照顧,彼此開玩笑填補對家人的思念。

我的工作是收網,其實是相當輕鬆的工作,只需要按收網的按鈕。但也因為這,我必須24小時待命,當裝置發出聲音,表示收網的時間到,我就得按下按鈕這樣網內就會裝滿魚。完成收網工作,我走回自己的房間,距離下一次收網還有好幾個小時,我渾身痠痛的躺下很快睡著了。

「碰…碰…」 忽然有人急促的敲門,聽起來像是伊爾米。打開門,果然是他。
「伊爾米,有什麼事嗎?」我問他但他沒有回答。他立馬拉著我的胳膊。「哥,快離開房間!」我還在半睡半醒,意識還沒完全醒,沒有察覺到我站立的地方有一點傾斜,二話不說我們趕緊跑到主甲板上。

大家全部在主甲板集合,船長請我們穿上救生衣,他已經發出求救信號,救護人員馬上就會到。「發動機出了問題。」他說。

聽到這些話,我驚呆了,雙腿都在發抖,身旁越哭越大聲的福爾根,使我抖得更厲害。強壯結實的菲律賓船員也很恐慌,他們邊哭邊念一連串我聽不懂的話語。我伸手抓了我的手機,用顫抖的手,寫下訊息給我的老婆,就算我知道毫無作用,心裏還是希望奇蹟的發生。

「爸爸愛你們。」 我想起嘎魯的微笑,老婆漂亮的臉蛋,還有昨晚在市場買給他們的衣服。
「神呀…祢不是就快讓我們相見了嗎?我已經拿著機票去見我的妻小了。拜託祢…請別在這個時候,將機票的目地的改成去見祢啊,請神再給我活下去的機會!」我在心裡祈禱著。

天空仍是一片漆黑。不再出現搖晃我們的海浪。海水是如此的平靜,似乎刻意保持平穩,等待船隻每分每秒慢慢往下沉。船長還在弄他的緊急電話,但是他差一點弄壞我們唯一向外聯繫的工具。由於伊爾米從小就生長在海上,他勇敢的邀我們跳下零度以下的冰冷大海。

「如果沒有馬上跳的話,我們會跟船一起沉下去。快跳,求援很快就到!」 聽見伊爾米說,船長沉默了。瓦由環顧四周試圖尋找其他逃生的方法。我知道,瓦由跟我一樣,如果大家跳的話,我們就會跟著跳。

船頭往下沉,相對船尾越往上浮即使如此我們還是站在原地,一動也不動,彷彿無處可逃。突然間,伊爾米從後面推著我,兩人一起跳下海裡。不久後,瓦由和船長也紛紛跳下海,菲律賓的船員也跟著跳。福爾根看我們跳下去之後,在船上暈了過去,薩利姆大聲的吶喊,請我們回頭幫忙。但是我的身體就像被冰棒刺進,冰冷的海水流竄在血管裡面而無能為力。我們不可能回到船上救福爾根,就在這個時候,我被伊爾米的舉動深深感動,他獨自游回船上幫福爾根做人工呼吸。最後,我看他們三個人一起從快沉下去的船隻一躍而下。無法抵禦寒冷的我,視線越來越模糊,在微弱的視線裡,我看到伊爾米扶著福爾根,我們全部依靠在橡膠胎上,之後我的眼前一片黑暗。

再次看到清晨曙光,我感到非常陌生。耳邊聽到尖叫聲和一堆完全聽不懂的吶喊。抬頭一看,我在一個緊急帳篷的擔架上。手上插著點滴,身上裹著厚厚的毛毯。我身邊被一群小眼人們圍繞著,還能聞到海的味道,也隱隱約約聽到海浪的拍打聲。

「你醒了!你叫什麼名字?」一位先生用中文問,但我因為太虛弱而無法答。
「你來自台灣嗎?我們是沖繩海巡署,收到船隻緊急信號時,我們正好在附近巡邏,趕緊過來救了你們,可惜有一位朋友因為低溫加上腿部受傷而無法獲救。」即使聽見那位職員的說明,我還是遲遲無法回應。看到不遠處有一個大包裹,「難道裏頭會是沒有獲救的遺體嗎?」。

我看到了福爾根坐在擔架上,準備送往救護車。薩利姆、船長與菲律賓移工也都在車上我和瓦由坐在同一輛車。

「伊爾米在那裡?剛剛那個是你嗎?伊爾米,我該如何償還這筆命債呀?」

結束


Comment  Sangat menyentuh, bagaimana suasana kehidupan ABK dirinci penulis, informati, latar terasa hidup sehingga pembaca terbawa arus suasana di kalangan ABK. Tema yang masih langka, saya beri nilai kurang sedikit dari karya Justto Lasoo.  很感人,作者詳細的描述船員的生活,很生動的故事背景讓讀者感受到船員的生活。鮮少被應用的主題,我給比「海浪之歌」作品低一點點的分數。

Comment  ︳His theme of story and language is good. Just not processed properly.  他的故事主題和語言是不錯的,只是沒有正確處理。

Comment  ︳Bahasa Indonesia baik. Tema menarik. Ada kejutan yang bagus di dalam cerita.  很好的印尼語、有趣的主題。故事內有好的驚喜。